Penulis: adminSN

  • PEMBOIKOTAN TERHADAP RASUL

    Abu Thalib dan Hamzah yang mengetahui rencana kafir Quraisy terhadap Rasulullah dan kaum muslimin segera menemui Rasulullah saaw. Abu Thalib menyuruh Rasulullah agar segera bersiap-siap untuk menyelamatkan diri. Beliau juga telah memberitahu kaum muslimin agar segera menyelamatkan diri mereka. Sebagian sahabat berhijrah ke Habasyah, sebagian lagi berlindung bersama Rasulullah di syi’ib (perkampungan kecil yang dijepit oleh bukit-bukit) Bani Abdul Muthalib, di sana ada benteng yang bisa digunakan untuk berlindung.
    Mengetahui sikap Bani Abdul Muthalib yang membela Nabi saaw dan para pengikutnya, kaum musyrikin Quraisy semakin marah. Maka para pemimpin dari beberapa suku Quraisy bersepakat untuk mengucilkan orang-orang yang ada di syi’ib tersebut. Kesepakatan ini mereka tuangkan dalam sebuah piagam dan digantung di Ka’bah. Poin-poin dalam piagam itu antara lain:
    1. Tidak mengadakan hubungan dengan para pembela Muhammad.
    2. Tidak mengadakan jual beli dengan mereka.
    3. Tidak melakukan pernikahan dengan para pengikut Muhammad.
    Setelah kesepakatan itu dibuat, kaum kafir Quraisy memperketat pengepungan terhadap kaum muslimin. Bantuan makanan yang dikirim dari luar syi’ib mereka sita. Mereka melarang siapa saja yang ingin memberi bantuan kepada kaum muslimin. Maka habislah persediaan makanan kaum muslimin sehingga menimbulkan kelaparan untuk waktu yang cukup panjang. Bantuan makanan yang berhasil sampai ke syi’ib hanya dalam jumlah kecil. Mereka tidak dapat keluar dari syi’ib kecuali pada musim-musim hajji dan umrah. Namun harga bahan makanan akan dinaikkan harganya bagi kaum muslimin yang ingin membeli bahan makanan. Sehingga mereka tidak bisa membeli banyak.
    Suatu hari, ketika masa pemboikotan memasuki tahun ketiga, Hakim bin Hizam bin Khuwailid membawa bahan makanan ke tempat pengucilan. Akan tetapi dia dicegah oleh Abu Jahl. Abu Jahl bertanya kepada Hakim, “Apa isi dalam karung itu hai Hakim, dan hendak kau bawa ke mana?” Hakim menjawab, “Aku membawa sekarung terigu untuk aku berikan kepada bibiku, Khadijah, yang sedang sakit.” Abu jahl berkata, “Hai Hakim, apa kau tidak tahu aturan yang berlaku saat ini? Lebih baik kau bawa pulang kembali tepung terigu itu atau akan kami sita!” Hakim menolak dan berkata, “Tidak bisa! Bila tidak aku berikan, penyakit bibi Khadijah akan semakin parah.”
    Alhamdulillah Abul Bakhtari bin Hisyam lewat di tempat itu. Mengetahui kejadian itu, Abul Bakhtari berkata, “Hai Abu Jahl, apa urusanmu? Dia mempunyai makanan yang ia berikan kepada bibinya. Biarkan dia!” Abu Jahl tidak mau mengikuti perkataan Abul Bakhtari. Maka Abul Bakhtari mencabut pedangnya dan memukul Abu Jahl hingga berdarah. Lalu Abul Bakhtari menyuruh Hakim agar segera memberikan bahan makanan kepada Khadijah.
    Setelah kejadian itu, Abul Bakhtari menemui tokoh-tokoh Bani Qushayy, yaitu Hisyam bin Amr bin al-Harits, Zuhair bin Umayyah, Muth’im bin ‘Adiy dan Zam’ah bin al-Aswad. Abul Bakhtari berkata, Aku sudah tidak tahan membiarkan mereka dalam kondisi menderita dan sengsara. Apa salah mereka?” Para tokoh Bani Qushayy itu sependapat dengan Abul Bakhtari, mereka berkata, “Ya, kami juga merasa demikian. Kami pun sudah membicarakan hal ini. Selama ini kita telah menyengsarakan orang-orang yang tidak bersalah. Kita harus membatalkan perjanjian ini.”
    Maka para tokoh Bani Qushayy itu pun menemui orang-orang yang sedang mengepung syi’ib Bani Abdul Muthalib. Zuhair bin Umayyah berkata, “Orang-orang Makkah, patutkah kalau kita makan kenyang, berpakaian bagus, serta bersenang-senang, sedangkan orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib binasa karena menderita kesengsaraan dan kelaparan? Demi Allah aku tidak akan tinggal diam selama piagam itu belum hancur!”
    Abu Jahl angkat bicara, “Hai Zuhair, kau bicara ngawur, piagam itu tidak akan hancur!”
    Zam’ah bin al-Aswad berkata, “Demi Allah, kaulah yang suka ngawur. Sejak piagam itu ditulis, aku merasa tidak rela!”
    Abul Bakhtari pun berkata, “Zam’ah benar. Kami memang tidak rela dan tidak menyetujui apa yang tertulis dalam piagam itu!”
    Abu Jahal terdesak. Dalam keadaan itu, keluarlah Abu Thalib dari syi’ib menemui orang-orang Quraisy dan berkata, “Hai penduduk Makkah, kemenakanku memberitahukan kepadaku bahwa atas kehendak Allah, piagam kalian telah hancur dimakan rayap. Tak ada yang tersisa kecuali tulisan yang menyebut Asma Allah! Silahkan kalian lihat. Jika apa yang dikatakannya benar, kalian harus sadar bahwa kalian telah berbuat zhalim terhadap kami. Dan telah memutuskan hubungan kekerabatan dengan kami. Kalau apa yang dikatakannya itu bohong, kami tahu bahwa kalianlah yang berada di atas kebenaran dan kami di atas kebathilan. Aku yakin bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu benar. Dan jika yang dikatakannya itu bohong, saya bersedia menyerahkan Muhammad kepada kalian.”
    Mereka kemudian segera ke Ka’bah untuk melihat piagam itu. Setibanya disana, terkejutlah mereka. Seperti yang dikatakan Rasulullah saaw, piagam itu telah dimakan rayap, kecuali tulisan Asma Allah. Maka kaum kafir Quraisy pun menghentikan pemboikotan itu.

  • WAFATNYA KHADIJAH DAN ABU THALIB

    Pemboikotan telah membuat kondisi fisik Khadijah melemah dan jatuh sakit. Rasulullah saaw selalu berada di samping Khadijah selama beliau sakit. Setelah beberapa hari sejak hancurnya piagam pemboikotan, wafatlah Khadijah ra di hadapan Rasulullah saaw.

    Tak lama setelah wafatnya Khadijah, kini pamannya, Abu Thalib jatuh sakit. Mengetahui akan hal ini, para tokoh Quraisy mengadakan pertemuan. Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba menemui Abu Thalib dan membujuknya. Mereka berfikir bahwa dengan kondisinya sekarang pendirian Abu Thalib akan berubah dan mau menyerahkan Muhammad Rasulullah saaw kepada mereka. Lalu mereka menemui Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, engkau telah memahami kondisi antara kami dengan keponakanmu. Panggillah dia. Ambillah dari kami untuk dia, dan ambillah dari dia untuk kami. Dia tidak menyerang kami, dan kami tidak menyerang dia. Dia membiarkan kami engan agama kami. Dan kami membiarkan dia dengan agamanya.”

    Kemudian Abu Thalib memanggil Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Muhammad, mereka menawarkan untuk memberimu sesuatu yang kau kehendaki dan meminta darimu sesuatu yang mereka kehendaki.”

    Muhammad sang Rasul pun bersabda, “Wahai paman, satu kalimat saja engkau berikan, dan bila mereka menerimanya, maka kalian akan menguasai seluruh bangsa Arab dan dan bangsa ‘ajam.”

    Abu Jahl berkata, “Baiklah, demi ayahmu, kalau perlu sepuluh kalimat.”

    Rasulullah saaw berkata, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah. Tiada tuhan yang haq kecuali Allah. Dan kalian tinggalkan apa yang kalian sembah selain Allah.”

    Para tokoh Quraisy itu menolaknya dan pergi meninggalkan Rasulullah dan Abu Thalib.

    Abu Thalib berkata kepada Rasulullah, “Demi Allah, wahai anak saudaraku, aku tak melihat bahwa engkau meminta kepada mereka sesuatu yang berlebih-lebihan!”
    Rasulullah saaw bersabda, “Kalau begitu, ucapkanlah wahai paman!”

    Abu Thalib menjawab, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku ingin sekali mengucapkan itu. Akan tetapi aku khawatir, orang-orang Quraisy akan menuduh aku bahwa aku mengucapkan itu hanya karena takut mati.”

    Suatu hari, ketika Rasulullah sedang ada suatu keperluan, Ali bin Abi Thalib datang menemui beliau saaw. Ali mengabarkan bahwa Abu Thalib telah wafat. Tak kuasa menahan kesedihannya, Rasulullah menangis terisak-isak.

    Abu Thalib adalah orang yang telah mengasuh Rasulullah sejak kecil. Abu Thalib mengasihi beliau seperti anaknya sendiri. Abu Thalib juga yang telah membela dan melindungi Rasulullah dan da’wah beliau. Bahkan Abu Thalib berseru kepada semua Bani Hasyim agar mengikuti dan membela Rasulullah saaw.

    Dengan dalil bahwa Abu Thalib telah meninggalkan sesembahan-sesembahan kaum musyrik, mengakui kebenaran apa yang di bawa Muhammad Rasulullah, mengakui kebenaran wahyu yang turun kepadanya, mengakui kebenaran tauhid, dan juga atas segala sikap Abu Thalib terhadap Rasulullah saaw; maka sebagian orang berpendapat bahwa Abu Thalib itu sebenarnya seorang muslim. Hanya saja Abu Thalib menyembunyikan keislamannya dari siapa pun, bahkan terhadap Rasulullah, agar tidak diketahui oleh kaum Quraisy. Dengan demikian kaum Quraisy tetap memandang Abu Thalib sebagai pemimpin mereka dan mematuhi kata-katanya, sehingga kelangsungan da’wah Rasulullah dapat mencapai tahap kemapanan. Pada saat itu, peran Abu Thalib pun selesai. Maka kehadiran Khadijah dan Abu Thalib dalam kehidupan Rasulullah adalah suatu hikmah dari Allah Al-Hakim, dan kepergian mereka adalah tahap pendidikan baru bagi Rasulullah saaw.

    Tidak ada kesepakatan jumhur ulama yang mengatakan bahwa Khadijah dan Abu Thalib itu mati dalam kesyirikan. Maka tahanlah lidah-lidah yang menuduh mereka berdua sebagai musyrik. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika Rasul mengajarkan kalimat tauhid di telinga Abu Thalib, kemudian Rasul mendekatkan telinganya ke mulut Abu Thalib, Rasul tidak mendengar Abu Thalib berkata-kata, hanya saja Umar bin Khaththab melihat bibir Abu Thalib bergerak-gerak. Lalu Umar berkata, “Aku melihat bibirnya bergerak wahai Rasulullah.” Tetapi Rasul berkata, “Aku tidak dengar.” Setelah mengajarkan kalimat tauhid itu, Abu Thalib tidak lagi berbicara. Ketika Rasulullah sedang di luar rumah Abu Thalib, Abu Thalib pun wafat. Wallahu a’lam

  • KEAGUNGAN MUHAMMAD RASULULLAH SAAW DI THA’IF

    Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saaw semakin bertambah ganas. Ketika beliau merasakan gangguan kaum musyrikin Quraisy bertambah hebat dan tetap menolak serta menjauhi agama Islam, beliau berpikir untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Dengan harapan itu, Muhammad saaw sang Rasul bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau saaw, pergi ke Tha’if.

    Banyak tokoh Quraisy membangun tempat peristirahatan di sana. Kabilah terbesar di Tha’if adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah saaw menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara.

    Rasulullah saaw menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan Nabi Muhammad saaw.

    Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”

    Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktiny dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”

    Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jels kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”

    Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah saaw, “Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
    Berkata mereka, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kau sebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Oh ya, kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”

    Maka Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tampaknya tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah saaw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.

    Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.

    Sesudah agak tenang, Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
    “Allahumma ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”

    Allah mengutus Jibril untuk menghampiri beliau saaw. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

    Rasulullah saaw terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, “Walau pun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” Demikianlah kelembutan hati Rasulullah saaw. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah dan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Maka betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulya ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Akan tetapi manusia di zaman ini begitu mudah menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajaran beliau saaw. Tidak tahukah mereka, bahwa setiap hari amal-amal mereka dihadapkan kepada Rasulullah? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang itu. Adakah pemimpin yang selalu memikirkan ummatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain beliau saaw?

    Tak jauh dari tempat istirahat Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah, terdapat sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan dua orang anak ‘Utbah berada di situ. Melihat keadaan Rasulullah saaw dan Zaid, mereka menyuruh budak mereka, ‘Addas, yang beragama Nashrani untuk membawakan buah anggur dari kebun itu.

    Pelayan itu segera menghampiri Rasulullah saaw dan berkata, “Makanlah anggur ini wahai tuan-tuan. Semoga dapat melepaskan dahaga kalian.” Kemudian Rasulullah saaw mengambil anggur itu sambil mengucapkan, “Bismillah.”

    Addas, demi mendengar ucapan Rasulullah saaw, merasa kagum dan berkata, “Sungguh, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini.”

    Rasulullah saaw bertanya, “Dari negara mana engkau dan apa agamamu?” ‘Addas menjawab, “Aku seorang penganut Nashrani, aku berasal dari Niniwe.”

    Rasulullah saaw berkata, “Oh, dusun tempat seorang hamba Allah yang shalih, Yunus bin Matta.”

    Addas bertanya penuh kekaguman, “Dari manakah Anda mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah saaw menjawab, “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.”

    Dengan perasaan gembira bercampur haru, Addas memeluk Rasulullah dan menciumi kening, tangan dan kaki Rasulullah saaw.

    Setelah merasa cukup beristirahat, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah beranjak pulang ke Makkah.

    Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dari Niniwe, terkadang disebut juga sebagai Dzun Nun. Penduduk Niniwe begitu ingkar dan menolak ajaran yang dibawa beliau as. Lalu beliau pergi dari negeri itu dengan menggunakan perahu. Akan tetapi di tengah laut beliau terpaksa di buang ke laut dan kemudian di makan ikan. Beliau tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Kemudian beliau dimuntahkan ikan itu ke tepi pantai dekat Niniwe. Penduduk Niniwe menyambut kedatangan beliau yang ternyata penduduk Niniwe telah bertobat dan menerima ajaran yang beliau bawa. Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 87-88 dan Ash-Shaffat ayat 139-148, dan dalam Alkitab injil Matius 12:38-41.

  • KEAGUNGAN MUHAMMAD RASULULLAH SAAW DI THA’IF

    Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saaw semakin bertambah ganas. Ketika beliau merasakan gangguan kaum musyrikin Quraisy bertambah hebat dan tetap menolak serta menjauhi agama Islam, beliau berpikir untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Thai’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Dengan harapan itu, Muhammad saaw sang Rasul bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau saaw, pergi ke Tha’if.
    Banyak tokoh Quraisy membangun tempat peristirahatan di sana. Kabilah terbesar di Thai’f adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah saaw menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara.
    Rasulullah saaw menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan Nabi Muhammad saaw.
    Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”
    Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktiny dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”
    Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jels kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”
    Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah saaw, “Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
    Berkata mereka, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kau sebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Oh ya, kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”
    Maka Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tampaknya tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah saaw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.
    Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.
    Sesudah agak tenang, Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
    “Allahumma ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”
    Allah mengutus Jibril untuk menghampiri beliau saaw. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”
    Rasulullah saaw terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, “Walau pun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” Demikianlah kelembutan hati Rasulullah saaw. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah dan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Maka betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulya ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Akan tetapi manusia di zaman ini begitu mudah menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajaran beliau saaw. Tidak tahukah mereka, bahwa setiap hari amal-amal mereka dihadapkan kepada Rasulullah? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang itu. Adakah pemimpin yang selalu memikirkan ummatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain beliau saaw?
    Tak jauh dari tempat istirahat Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah, terdapat sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan dua orang anak ‘Utbah berada di situ. Melihat keadaan Rasulullah saaw dan Zaid, mereka menyuruh budak mereka, ‘Addas, yang beragama Nashrani untuk membawakan buah anggur dari kebun itu.
    Pelayan itu segera menghampiri Rasulullah saaw dan berkata, “Makanlah anggur ini wahai tuan-tuan. Semoga dapat melepaskan dahaga kalian.” Kemudian Rasulullah saaw mengambil anggur itu sambil mengucapkan, “Bismillah.”
    ‘Addas demi mendengar ucapan Rasulullah saaw merasa kagum dan berkata, “Sungguh, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini.”
    Rasulullah saaw bertanya, “Dari negara mana engkau dan apa agamamu?” ‘Addas menjawab, “Aku seorang penganut Nashrani, aku berasal dari Niniwe.”
    Rasulullah saaw berkata, “Oh, dusun tempat seorang hamba Allah yang shalih, Yunus bin Matta.”
    ‘Addas bertanya penuh kekaguman, “Dari manakah Anda mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah saaw menjawab, “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.”
    Dengan perasaan gembira bercampur haru, ‘Addas memeluk Rasulullah dan menciumi kening, tangan dan kaki Rasulullah saaw.
    Setelah merasa cukup beristirahat, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah beranjak pulang ke Makkah.
    Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dari Niniwe, terkadang disebut juga sebagai Dzun Nun. Penduduk Niniwe begitu ingkar dan menolak ajaran yang dibawa beliau as. Lalu beliau pergi dari negeri itu dengan menggunakan perahu. Akan tetapi di tengah laut beliau terpaksa di buang ke laut dan kemudian di makan ikan. Beliau tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Kemudian beliau dimuntahkan ikan itu ke tepi pantai dekat Niniwe. Penduduk Niniwe menyambut kedatangan beliau yang ternyata penduduk Niniwe telah bertobat dan menerima ajaran yang beliau bawa. Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 87-88 dan Ash-Shaffat ayat 139-148, dan dalam Alkitab injil Matius 12:38-41.

  • ISRA` WA MI’RAJ

    Kedukaan demi kedukaan telah menimpa beliau dengan begitu mendalam selama setahun. Maka Allah menghibur beliau saaw dengan suatu tamasya luar biasa. Tamasya luar biasa itu biasa kita kenal dengan sebutan Isra` wa Mi’raj.
    Sebelum melakukan perjalanan itu, ketika Rasulullah saaw berada di tepi Baitullah dalam keadaan separuh tidur, tiba-tiba Rasulullah saaw mendengar percakapan salah seorang dari tiga laki-laki, yaitu yang berada di tengah-tengah. Lalu mereka menghampiri beliau dan membawa beliau ke suatu tempat. Kemudian mereka membawa sebuah wadah dari emas yang berisi air Zamzam. Setelah itu dada beliau dibedah. Hati beliau dikeluarkan dan dibersihkan dengan air Zamzam, kemudian mereka meletakkannya kembali di tampat asal. Setelah itu diisi pula dengan iman dan hikmah.
    Mengenai Isra` dan Mi’raj Rasulullah saaw ada diceritakan dalam sebuah hadits yang cukup panjang. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda:
    Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari baghal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut menyentuh bumi.
    Tanpa membuang waktu, aku langsung menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai, aku keluar, secara tiba-tiba aku didatangi dengan semangkuk arak dan semangkuk susu oleh Jibril as. Aku memilih susu. Lalu Jibril as berkata, “Engkau telah memilih fitrah”. Lalu Jibril as membawaku naik ke langit. Ketika Jibril as meminta agar dibukakan pintu, kedengaran suara bertanya, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Lalu dibukakan pintu kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Adam as, beliau menyambutku serta mendoakan aku dengan kebaikan.
    Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Yusuf as ternyata dia telah dikurniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutuskan.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Idris as dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Berfirman Allah swt yang berarti, “Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darjatnya.”
    Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Harun as dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Musa as dia menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan.
    Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril as meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, “Siapakah engkau?” Dijawabnya, “Jibril.” Jibril as ditanya lagi, “Siapakah bersamamu?” Jibril as menjawab, “Muhammad.” Jibril as ditanya lagi, “Adakah dia telah diutus?” Jibril as menjawab, “Ya, dia telah diutus.” Pintu pun dibukakan kepada kami. Ketika aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari memuatkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar mereka tidak kembali lagi kepadanya.
    Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar umpama telinga gajah manakala buahnya pula sebesar tempayan. Aku dapati kesemuanya aneh-aneh. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu aku berjumpa dengan Allah. Lalu Allah swt memberikan wahyu kepadaku dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Tatakala aku turun dan bertemu Nabi Musa as, dia bertanya, “Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu?” Aku berkata, ”Shalat lima puluh waktu.” Nabi Musa as berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena ummatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan memberitahu mereka.” Aku kemudian kembali kepada Tuhan dan berkata, “Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada ummatku.” Lalu Allah swt mengurangi lima waktu shalat menjadi 45 waktu. Aku kembali kepada Nabi Musa as dan berkata, “Allah telah mengurangi lima waktu shalat dariku.” Nabi Musa as berkata, “Umatmu masih tidak mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Aku tak henti-henti berulang-alik antara Tuhan dan Nabi Musa as, sehingga Allah swt berfirman yang berarti: “Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan hanyalah lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardhu diganjarkan dengan sepuluh ganjaran. Oleh sebab itu, berarti lima waktu shalat fardhu sama dengan lima puluh shalat fardhu. Begitu juga siapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya siapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak jadi melakukannya, niscaya dicatat baginya satu kebaikan. Seandainya dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya.” Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih lagi berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan.” Baginda menyahut, “Aku terlalu banyak berulang alik kepada Tuhan, sehingga menyebabkan aku malu kepadaNya.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ahmad]
    Mungkin sebagian orang mempertanyakan, apakah Isra` Mi’raj itu dengan ruh atau dengan jasad dan ruh? Maka kami akan jelaskan sedikit mengenai itu, insya Allah. Dalam surat Al-Isra` ayat 1 Allah berfirman yang berarti:
    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [QS. 17:1]
    Dalam ayat itu dikatakan ‘hamba-Nya’. ‘Hamba’ menunjukkan kesatuan jasad dan ruh. Coba perhatikan ayat berikut:
    Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. [QS. 18:1]
    Allah menurunkan Al-Qur`an kepada ‘hamba-Nya’. Tentu saja yang dimaksud dengan ‘hamba-Nya’ di sini adalah Muhammad Rasulullah saaw di mana bersatu jasad dan ruhnya, bukan hanya ruhnya saja. Lihat juga QS. 25:1; 39:36; 53:10; 57:9; 2:23; 8:41; 38:17,41; 54:9.
    Selain itu, juga dikisahkan bahwa ketika menuju Baitul Maqdis, beliau dan rombongannya telah mengejutkan unta sebuah kafilah hingga unta itu melarikan diri. Lalu Rasulullah berhenti sebentar untuk memberi tahu mereka kemana unta itu lari. Lalu Rasulullah meneruskan perjalanannya. Maka ketika kafilah itu ditemukan di suatu tempat yang disebutkan Rasulullah, orang-orang pun bertanya kepada kafilah itu tentang apa yang mereka alami semalam. Lalu anggota kafilah itu berkata, “Benar, semalam kami melihat cahaya yang sangat menyilaukan berputar-putar mengelilingi kami, lalu memberi petunjuk ke arah larinya unta kami. Setelah kami menemukan unta kami yang lari karena terkejut oleh cahaya itu, benda bercahaya itu melesat lebih dari kecepatan anak panah yang lepas dari busurnya. Dan dalam sekejap mata, benda itu sudah berada di batas cakrawala.” Ini menunjukkan bahwa ruh Rasulullah tidak berpisah dengan jasadnya, bukan mimpi, bukan khayal.
    Peristiwa Isra` Mi’raj ini memang menggemparkan. Bahkan ada sebagian orang pada saat Rasulullah menceritakan hal ini, mereka tidak percaya kepada Rasulullah. Yang tadinya beriman kembali menjadi kafir. Yang tadinya kafir, bertambah kekafiran mereka. Akan tetapi ada juga yang hanya terguncang imannya, tidak sampai kembali kafir. Dan ada juga yang bertambah keimanannya dan langsung membenarkan apa yang beliau saaw alami, diantaranya adalah Abu Bakar. Maka sejak saat itu beliau disebut Ash-Shiddiq, yaitu yang membenarkan, sebab dialah yang selalu membenarkan segala perkataan Rasulullah saaw dengan mengatakan, “Shaddaqta ya Rasulallah! Benarlah engkau, wahai Rasulullah!”

  • ISLAMNYA KABILAH KHAZRAJ

    Rasulullah saaw terus mendatangi kabilah-kabilah Arab. Beliau berkeliling dari pemukiman satu ke pemukiman lain dan berseru mengajak mereka untuk memeluk agama Islam. Akan tetapi bila Abu Lahab melihat Rasulullah sedang berda’wah, dia selalu mendustakan Nabi saaw di depan mereka. Namun demikian beliau saaw tidak berputus asa.
    Keuletan, ketabahan dan kebijaksanaan Rasulullah saaw membuahkan hasil. Dua kabilah Arab dari Yatsrib (Madinah) memeluk agama Islam. Ketika itu di Yatsrib terdapat dua kabilah besar, yaitu Aus dan Khazraj yang sebelumnya menyembah berhala-berhala. Sedangkan tetangga mereka adalah orang-orang Yahudi yang masih tauhid. Bila terjadi bentrokan yang menyudutkan orang-orang Yahudi dari tekanan orang-orang Arab itu, orang-orang Yahudi selalu mengancam orang-orang Arab akan ada utusan Allah yang akan membela mereka.* Berkat ucapan orang-orang Yahudi itulah, orang-orang Arab Yatsrib menjadi tahu bahwa Allah akan mengutus seorang Rasul untuk menuntun manusia.
    Pada suatu musim hajji, sebagai suatu hal rutin setiap tahunnya, sebagaimana biasa Rasulullah mendatangi kabilah-kbilah Arab untuk mengajak mereka beriman kepada Allah SWT semata dan memeluk agama Islam. Secara kebetulan beliau saaw bertemu beberapa orang Yatsrib di sebuah tempat bernama ‘Aqabah. Pada wajah mereka beliau melihat tanda-tanda kebaikan.
    Rasulullah bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami sekelompok dari kabilah Khazraj.” Rasul bertanya lagi, “Apakah kalian bertetangga dengan Yahudi?” Mereka menjawab, “Ya, benar.”
    Lalu Rasulullah mengajak mereka duduk dan memperkenalkan kepada mereka tentang dirinya dan misinya sebagai Nabi. Dan beliau memperkenalkan kepada mereka tentang ajaran Islam dan mengajak mereka untuk memeluknya.
    Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Saudara-saudara, ketahuilah bahwa dia benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang kalian sering dengar beritanya dari orang-orang Yahudi. Karena itu janganlah kalian ketinggalan mengikutinya. Jangan sampai orang-orang Yahudi mendahului kita.” Setelah berunding, mereka pun menyatakan keislaman mereka di hadapan Rasulullah saaw. Mereka adalah As’ad bin Zararah dan Auf bin Al-Harits, keduanya dari bani An-Najjar; Zuraiq bin Amir bin Zuraiq dan Rafi’ bin Malik bin ‘Amr, keduanya dari bani Zuraiq; Sa’ad bin Ali bin Jasyim dari bani Salimah; dan Quthbah bin Amir bin Hudaidah dari bani Sawad. Mereka berjanji akan bertemu lagi pada tahun berikutnya. Setelah segala keperluan mereka di Makkah selesai, mereka pun kembali ke Yatsrib.
    Sesampainya di Yatsrib, mereka mengajak keluarga mereka untuk memeluk Islam. Dengan cepat hal tersebut tersiar di Yatsrib. Hingga tak satu pun rumah orang Arab di Yatsrib yang tidak membicarakan Rasulullah saaw.

    *Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. 2:89]
    Begitulah watak orang-orang Yahudi. Mereka besar di mulut, mengharap kedatangan nabi akhir zaman, padahal hati mereka tertutup terhadap kebenaran.

  • SEPERTI MUSA

    Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka seperti engkau ini. [Ulangan 18:18]

    Taurat yang merupakan bagian dari Alkitab yang dipegang umat Kristiani saat ini menjelaskan bahwa Tuhan telah mengabarkan bahwa kelak Dia akan membangkitkan (yub`ats) seorang Nabi yang seperti Musa. Siapakah Nabi yang seperti Musa itu. Setelah melihat karakter Musa, kemudian kita cocokkan dengan Nabi-Nabi setelah Musa, maka tidak ada yang lebih mirip dengan Musa, kecuali Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Apa saja persamaan antara Nabi Musa ‘alayhis salam dengan Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu? Antara lain adalah:

    1. Ayah dan Ibu

    Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Muhammad Rasulullah saaw juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad Rasulullah saaw itu seperti Musa as.

    2. Kelahiran Ajaib

    Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 “… sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus …” Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan: “… bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan menaungi engkau….” (Lukas l: 34-35).

    Kitab Suci Al-Qur’an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria: “Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?”Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah” lalu jadilah dia.”(QS. Ali Imran: 47). Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. Ketika Ahmed Deedat membandingkan versi Al-Qur’an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, dan ketika Ahmed Deedat bertanya, “Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur’an atau Injil?” Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab, “Versi Al-Qur’an.”.

    3. Menikah

    Musa dan Muhammad Rasulullah saaw menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa as.

    4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya

    Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Memang benar bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad Rasulullah saaw menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda’wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.

    Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil – “Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.” (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya, orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

    5. Kerajaan “Dunia Lain”

    Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw adalah nabi dan juga raja (khalifah). Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan untuk menerapkan suatu hukum terhadap kaumnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitujuga Muhammad Rasulullah saaw, beliau memiliki kekuasaan atas kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret kedepan Gubernur Roma (Pontius Pilatus) dan dituduh sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:

    “Jawab Yesus, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. ” (Yohanes 18: 36). Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

    6. Tak Ada Hukum Baru

    “Musa dan Muhammad Rasulullah saaw membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad Rasulullah saaw datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fall of the Roman Empire, “Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan.” Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.

    Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad Rasulullah saaw mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlyle, “Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya (minazh-zhulumati ilan-nur). Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia… ” Kenyataannya adalah Muhammad Rasulullah saaw memberikan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.

    Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

    Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan agama baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, “Mengapa kamu tidak puasa” atau “Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti”. Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah bertentangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang mendahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad Rasulullah saaw. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa.

    7. Bagaimana Mereka Pergi

    Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

    8. Surga Sebagai Tempat Kediaman

    Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut umat Kristian, Yesus beristirahat di surga. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa.

    Sumber: Ahmed Deedat dalm bukunya “The Choice

  • MUHAMMAD AL-MUSTHOFA

    Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. [Matius 12:18]
    Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia (Yesus). Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” [Matius 17: 3-5]

    Al-Musthofa berarti yang terpilih. Muhammad adalah Hamba Allah yang Dia pilih sebagai Nabi yang akan menyebarkan hukum dan ajaran Tuhan kepada seluruh bangsa. Tidak hanya kepada bangsanya sendiri, tetapi kepada seluruh bangsa. Sedangkan Yesus diutus hanya untuk menyebarkan ajaran Tuhan kepada bangsa Israel saja.

    Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” [Matius 15:24]

    Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” [Matius 10:5-6]

    Maka jelaslah bahwa Matius 12:18 dan 17: 5 sedang menjelaskan tentang penglihatan Yesus, Musa, dan Elia terhadap Muhammad Rasulullah yang nampak sosoknya di atas awan putih terang tersebut. Kemudian Allah berfirman kepada Yesus, Musa, dan Elia, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.” Hal ini akan lebih jelas lagi jika kita membuka Injil Barnabas pasal 42. Dan ayat-ayat ini juga menunjukkan bahwa Yesus itu bukanlah Allah, dan tidak ada Tuhan Tritunggal. Dalam ayat tersebut, jelas bukan Yesus yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi.” Akan tetapi Allah itulah yang telah berfirman. Dan Yesus bukanlah Allah.

    Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. Ali Imran: 81]

    Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya`: 107]
    Maka Yesus berkata, “Setiap orang yang bekerja, bekerja untuk suatu penyelesaian, dalam hal itulah ia menemukan kepuasan. Oleh sebab itu aku katakan kepadamu bahwa Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Sempurna, tiada mempunyai kebutuhan tentang kepuasan, mengingat Dia telah puas terhadap Diri-Nya. Dengan begitu kehendak untuk bekerja, Dia telah menciptakan sebelum semua benda dan roh dari Pesuruh-Nya, bagi Pesuruh itu Dia telah menetapkan untuk menciptakan keseluruhannya, agar para makhluk itu akan mendapat kegembiraan dan keselamatan dengan (petunjuk) Allah, dari mana Pesuruh-Nya akan menerima kesukaan kepada semua makhluk-Nya yang telah Dia angkat menjadi hamba-hamba-Nya. Dan hal ini terjadi demikian karena Dia telah berkehendak demikian.

    Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa setiap nabi apabila datang dan telah lahir kepada suatu bangsa, hanya pertanda dari pada rahmat Allah. Dengan demikian dakwah-dakwah mereka tidak diluaskan, kecuali kepada bangsa yang mana mereka telah diutus. Tetapi Pesuruh Allah itu, ketika dia akan datang, Allah akan memberikan kepadanya seolah-olah terang dari Tangan-Nya, akhirnya bahwa dia akan membawa keselamatan dan rahmat kepada semua bangsa di dunia ini yang mau menerima ajaran-ajarannya. Dia akan datang dengan kekuatan mengalahkan penyelewengan akidah Allah, dan akan menghancurkan penyembahan berhala, akhirnya bahwa dia akan menjadikan Iblis tercengang, karena demikian janji Allah kepada Abraham, berkata, ‘Ingatlah dalam benihmu Aku akan memberi rahmat semua bangsa di bumi ini, dan sebagaimana kamu telah memecahkan berhala berkeping-keping, o Abraham, begitu juga benihmu akan berbuat.’” [Injil Barnabas pasal 43]

    Bukankah Muhammad Al-Musthofa telah menumbangkan berhala-berhala? Bukankah kelahiran beliau telah ditandai dengan padamnya api biara Majusi? Dan para pengikutnya telah menaklukkan Kekaisaran Roma? Akan tetapi lihatlah orang-orang Kristen yang mereka menyembah Yesus sebagai berhala mereka. Inikah yang disebut Jalan Lurus? Mereka membuat patung Yesus, patung Bunda Maria, dan patung-patung lainnya serta gambar-gambar mereka yang hanyalah makhluq yang berjalan di muka bumi. Inikah Jalan Lurus?

    Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. [Keluaran 20: 4]

  • FIRMAN DALAM MULUT

    “… dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…” [Ulangan 18:18]

    Dalam ayat di atas dikatakan, “Aku aka menaruh firman-Ku dalam mulutnya,” Apakah artinya jika dikatakan, “Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?” Ketika saya meminta Anda untuk membuka Ulangan 18: 18 dan saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda? Tidak.

    Tetapi jika saya mengajari Anda sesuatu yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, dan bila saya meminta Anda untuk mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan, maka saya sedang menaruh kata-kata saya ke dalam mulut Anda.

    Dengan cara yang sama, ayat-ayat kitab suci Al-Qur’ an, firman yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad, diwahyukan.

    Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu berusia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan. Dalam gua, malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya:

    “Iqra`!” “Baca!” atau ‘nyatakan!’ atau ‘bawakan!’ Muhammad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: “Saya tak dapat membaca!”

    Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ketiga kalinya malaikat melanjutkan:

    “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketabuin,ya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

    Barulah Muhammad mengerti bahwa apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya. Ayat-ayat di atas adalah ayat-ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 dari Al-Qur’an (Al-‘Alaq).

    Kesaksian Orang-orang yang Beriman

    Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya memandanginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menjelaskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menuju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran -Al Amin- yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.

    Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatat oleh pengikutnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Ulangan 18: 18)

    Nabi yang Ummi

    Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: “Dan apabila kitab itu” (Al-kitab, Al-Qur’an – ‘pembacaan’, ‘pembawaan’) “diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca (Nabi yang ummi, Al Qur’an surat Al-A’raf ayat 158) dengan mengatakan, “Baiklah baca ini, Saya berdo’a untuk kamu” (Kalimat: “Saya berdo’a untuk kamu” tidak ada dalam naskah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma “versi Douay” dan juga dengan “versi standar yang sudah direvisi”, Revised Standard Version) “Dan ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” “Aku tidak dapat membaca!” adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang diucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan (“Baca!”).

    Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tanpa terpotong seperti pada “versi King James” atau “versi yang telah disahkan” yang lebih terkenal:

    “Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, ‘Baiklah baca ini, saya berdo’a untuk kamu’, maka ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” (Yesaya 29: 12)

    Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berbahasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda’wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah Penciptanya :

    “Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5)

    Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia membuat malu orang-orang yang berpengetahuan.

    Peringatan Penting

    Perhatikan! Bagaimana ramalan tersebut cocok sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad.

    Tuhan menganggap bahwa pemberitaan tentang Muhammad dan mengikuti Muhammad adalah penting! Dia mengalami banyak kesulitan agar peringatannya diingat. Tuhan tahu bahwa akan ada orang-orang yang dengan kepandaian berbicara, dengan senang akan mengurangi kata-katanya, sehingga dia melanjutkan Ulangan 18:18 dengan peringatan yang menakutkan, “Dan, hal tersebut akan terjadi”. “Orang yang tidak mendengarkan segala Firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Pada Injil Katholik kata-kata terakhirnya adalah -“Aku akan menjadi pembalas dendam”- Aku akan membalas untuknya – Aku akan membalasnya!)

    Apakah hal ini tidak menakutkan Anda? Tuhan Yang Maha Kuasa sedang, mengancam pembalasan dendam! Nafas kita terengah-engah jika beberapa penjahat mengancam, tidakkah Anda takut pada peringatan Tuhan?

    (Ahmed Deedat dalam The Choice)

  • DENGAN NAMAKU

    … firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu demi Nama-Ku… [Ulangan 18:19]

    Sungguh ajaib dan mena’jubkan! Pada Ulangan 18:19 kita mendapatkan pemenuhan ramalan pada diri Muhammad! Perhatikan kata-kata, “… firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu dengan nama-Ku (in My Name),” Atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? Bukalah Kitab Suci Al-Qur-‘an pada surat pertama, yaitu Al-Fatihah. Maka akan Anda dapati, “Bismillahir-Rahmair-Rahim,” yang berarti, “Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.” Dan dianjurkan kepada ummat Islam agar mereka memulai pembacaa ayat-ayat suci Al-Qur`an dengan membaca, “Bismillahir-Rahmanir-Rahim.” Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang telah Menciptakan.”

    Apa yang diinginkan ramalan tersebut? ‘… yang akan diucapkan nabi itu dengan nama-Ku…’ dan atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? ‘Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Isi ramalan tersebut terpenuhi dalam diri Muhammad Rasulullah saaw. Setiap surat dalam Al-Qur’an kecuali surat ke 9 (At-Taubah)* dimulai dengan formula: ‘Dengan meyebut Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci ini. Tetapi umat Kristen memulai: “Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus.”

    Memperhatikan Ulangan pasal18; akan jelaslah bahwa ramalan tersebut ditujukan kepada Muhammad Rasulullah saaw, dan bukannya Yesus.

    (Ahmed Deedat dalam The Choice)

    * Surat At-Taubah (surat ke-9) sangat berkaitan erat dengan surat Al-Anfal (surat ke-8) seakan-akan At-Taubah dan Al-Anfal itu seperti satu surat. Untuk mengingatkan hal itu, maka lafazh ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’ tidak diletakkan sebagai pembatas antara surat Al-Anfal dengan surat At-Taubah.