Penulis: adminSN

  • MUHAMMAD RASULULLAH MENIKAH DENGAN KHADIJAH

    Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushayy adalah seorang pedagang yang kaya dan berbudi luhur. Ketika mendengar kabar tentang kejujuran Nabi saaw dan kemulyaan akhlaqnya, Khadijah mencoba memberi amanat kepada Nabi saaw dengan membawa dagangannya ke Syam (sekarang Palestina, Syria, Lebanon dan Yordania). Khadijah menitipkan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dititipkan kepada orang lain. Dalam perjalanan dagang ini Nabi saaw ditemani Maysaroh meniagakan barang dagangan Khadijah. Dalam perjalanan dagang ini, Nabi membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya. Selama perjalanan tersebut Maysarah sangat mengagumi akhlaq dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan perilaku beliau dilaporkan oleh Maysaroh kepada Khadijah. Khadijah tertarik kepada kejujurannya dan ia takjub dengan keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Nabi saaw. Kemudian Khadijah mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Nabi saaw dengan perantaraan Nafish binti Muniyah. Nabi saaw menyetujuinya, kemudian Nabi menyampaikan hal itu kepada pamannya. Setelah itu, mereka meminang Khadijah untuk Nabi saaw dari paman Khadijah, Amr bin Asad. Ketika menikahinya, Nabi berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

    Sebelum menikah dengan Nabi saaw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan ‘Atiq bin A’idz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah Hindun bin Zurarah at-Tamimi.

  • MUHAMMAD RASULULLAH IKUT MEMBANGUN KA’BAH

    Ka’bah adalah bait yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi ‘perang berhala’ dan menghancurkan tempat-tempat peribadatan yang didirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah:
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. 2:127)
    Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. 3:96)

    Di dalam Alkitab ada terdapat demikian:
    Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. (Mazmur 84:6-7)

    Setelah itu ka’bah mengalami beberapa kali peristiwa yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Diantaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Makkah beberapa tahun sebelum pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Maka orang-orang Quraisy membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Ka’bah merupakan sisa peninggalan dari syari’at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab. Muhammad Rasulullah ikut serta mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Muhammad Rasulullah berusia 35 tahun. Muhammad Rasulullah berperan besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad ditempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Muhammad saaw, karena mereka mengenalnya sebagai al-Amin dan mencintainya. Muhammad Rasulullah membentangkan kain dan meletakkan Hajarul Aswad di atas kain itu. Masing-masing pemimpin kabilah memegang ujung-ujung kain itu dan membawanya ke dekat tempat Hajar Aswad semestinya. Lalu mereka meletakkan kain itu ke tanah. Dan Muhammad Rasulullah saaw mengangkat Hajarul Aswad dari kain itu dan meletakkan batu itu di tempatnya.

  • PERMULAAN WAHYU KEPADA RASULULLAH SAAW

    Mendekati usia 40 tahun, mulailah tumbuh pada diri Muhammad saaw kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri). Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di gua Hira. Ia menyendiri dan beribadah di gua itu selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, kadang lebih dari itu. Kemudian beliau kembali ke rumah sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’nya di gua Hira.
    Pada suatu saat ketika ber’uzlah di gua Hira, datanglah malaikat mengampiri Muhammad lalu berkata malaikat itu, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Malaikat itu lalu mendekati Muhammad dan memeluknya hingga beliau merasa lemah sekali, kemudian melepaskannya. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Malaikat itu mendekati Muhammad lagi dan memeluknya, sehingga beliau merasa tidak berdaya sma sekali, kemudian beliau dilepaskan lagi. Malaikat itu berkata lagi, “Bacalah!” Muhammad saaw menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Untuk ketiga kalinya Malaikat itu mendekati Muhammad dan mendekapnya hingga beliau saaw merasa lemas, kemudian dilepaskan kembali. Selanjutnya Malaikat itu berkata, “Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang telah Menciptakan… Menciptakan manusia dari segumpal darah… “ dst (lihat QS. Al-‘Alaq:1-5).

    Di dalam Alkitab ada terdapat demikian:
    Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak membaca dengan mengatakan, “Baiklah baca ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (Yesaya 29:12)
    (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. (QS. 7:157)

    Muhammad Rasulullah saaw segera pulang dalam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah, lalu berkata, “Selimutilah aku… selimutilah aku.” Kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?” Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya.

    Setelah menceritakan peristiwa itu, beliau saaw berkata, “Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku dari gangguan makhluk jin.”
    Siti Khadijah menjawab, “Tidak! Bergembiralah! Demi Allah, Allah sama sekali tidak akan membuat Anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran.”
    Beberapa saat kemudian Khadijah mengajak Rasulullah saaw menemui Waraqah bin Naufal, salah seorang sepupu Khadijah. Di masa jahiliyah ia memeluk agama Nasrani. Ia dapat menulis dalam huruf Ibrani, bahkan pernah menulis bagian-bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani. Ia seorang yang sudah lanjut usia dan telah kehilangan penglihatan. Kepadanya Khadijah berkata, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang hendak dikatakan oleh anak lelaki saudaramu.” Waraqah bertanya kepada Muhammad saaw, “Hai anak saudaraku, ada apa gerangan?” Rasulullah saaw kemudian menceritakan apa yang dialminya di gua Hira. Setelah mendengarkan keterangan Rasulullah saaw, Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang telah diutus Allah kepada Musa (as). Alangkah bahagianya seandainya aku masih muda perkasa! Alangkah gembiranya seandainya aku masih hidup dan dapat membelamu tatkala kamu diusir oleh kaummu!” Rasulullah saaw bertanya, “Apakah mereka akan mengusir aku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tak seorang pun yang datang membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali akan diperangi. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang kamu hadapi itu, pasti kamu kubantu sekuat tenagaku.” Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia, dan untuk beberapa waktu lamanya Rasulullah saaw tidak menerima wahyu. Menurut Baihaqi masa terhentinya wahyu itu selama 6 bulan.

    Tentang kedatangan Jibril yang kedua, Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saaw berbicara tentang terhentinya wahyu. Beliau berkata kepadaku: “Di saat aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Ketika kepala kuangkat, ternyata malaikat yan datang kepadaku di gua Hira, kulihat sedang duduk du kursi antara langit dan bumi. Aku segera pulang menemui isteriku dan kukatakan kepadanya, ‘Selimutilah aku… selimutilah aku… selimutilah aku!’ Sehubungan dengan itu Allah kemudian berfirman, “Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Adapun Rabbmu, maka agungkanlah. Dan pakaianmu, maka sucikanlah. Dan perbuatan dosa, maka jauhilah.” (lihat QS. Al-Muddatstsir: 1-5)
    Sejak itu wahyu mulai diturunkan secara kontinyu.

  • TAHAPAN DA’WAH RASULULLAH SAAW

    Da’wah Islamiyah di masa hidup Nabi Muhammad saaw sejak bi’tsah (diangkat sebagai Rasul) hingga wafatnya menempuh empat tahapan:
    1. Da’wah secara rahasia, selama 3 tahun.
    2. Da’wah secara terang-terangan dengan menggunakan lisan saja tanpa perang, berlangsung sampai hijrah.
    3. Da’wah secara terang-terangan disertai dengan memerangi orang-orang yang menyerang ummat Islam. Tahapan ini berlangsung sampai perdamaian Hudaybiyah.
    4. Da’wah secara terang-terangan dengan memerangi setiap orang yang menghalangi jalannya da’wah atau yang menghalangi orang yang ingin masuk Islam.

  • DA’WAH RASUL SECARA RAHASIA

    Muhammad Rasulullah mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Tetapi da’wah Rasul ini dilakukan secara rahasia untuk menghindari tindakan buruk orang-orang Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan paganisme. Rasulullah saaw tidak menampakkan da’wah di majlis-majlis umum orang-orang Quraisy, dan tidak melakukan da’wah kecuali kepada orang yang memiliki hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam ialah Khadijah binti Khuwailid ra, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah mantan budak dan anak angkat Rasulullah, Abu Bakar bin Abu Quhafah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam keponakan Khadijah, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan lainnya. Mereka ini bertemu dengan Rasul secara rahasia. Apabila salah seorang dari mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Makkah seraya bersembunyi dari pandangan orang-orang Quraisy.

    Ketika orang-orang yang menganut Islam lebih dari 30 laki-laki dan wanita, Rasulullah saaw memilih rumah salah seorang dari mereka, yaitu rumah Al-Arqam, sebagai tempat pertama untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Da’wah pada tahap ini menghasilkan sekitar 40 lelaki dan wanita memeluk Islam. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak dan orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.

  • DA’WAH RASUL SECARA TERANG-TERANGAN

    Kemudian secara berturut-turut manusia, wanita dan laki-laki, memeluk Islam, sehingga berita tentang Islam tersiar di Makkah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak orang kepadanya secara terang-terangan, setelah selama tiga tahun Rasulullah saaw melakukan da’wah secara tersembunyi. Allah berfirman kepada Muhammad sang Rasul:

    Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. 15:94)
    Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”. (QS. 15:89)

    Kemudian Rasulullah saaw pergi ke atas bukit Shafa lalu berseru, “Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘adi,” sehingga mereka semua berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi. Maka Rasulullah saaw berkata, “Bagaimanakah pendapatmu jika aku kabarkan bahwa di belakang gunung ini ada sepasukan kuda musuh yang datang akan menyerangmu, apakah kamu mempercayaiku? Jawab mereka, “Ya, kami belum pernah melihat kamu berdusta.” Kata Nabi, “Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih.” Kemudian Abu Lahab memprotes, “Sungguh celaka kamu sepanjang hari, hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?”
    Lalu turunlah Surat Al-Lahab:
    “Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.”
    Kemudian Rasulullah saaw turun dan melaksanakan wahyu yang berbunyi, “Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (lihat QS. 26:214). Maka beliau mengumpulkan semua keluarga dan kerabatnya lalu berkata, “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdusy Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muthalib, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak akan dapat membela kalian dihadapan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya.” (HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah)

    Da’wah Rasul saaw secara terang-terangan ini ditentang dan ditolak bangsa Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka. Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Rasulullah saaw bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberi faidah atau bahaya sama sekali. Dan bahwa turun-temurunnya nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tuhan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengikuti mereka secara taqlid buta. Firman Allah menggambarkan mereka:
    Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. 2:170)

    Ketika Rasul saaw mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta mereka terhadap nenek moyang dalam menyembah berhala, mereka menentang dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya, Abu Thalib, yang membelanya.

  • PENYIKSAAN TERHADAP PENGIKUT RASUL

    Permusuhan kaum Quraisy kepada Rasulullah saaw dan para shahabatnya semakin keras dan gencar. Rasulullah saaw sendiri mengalami berbagai macam penganiayaan.Berkata Abdullah bin Umar bin Khaththab: ketika nabi saaw sedang sujud di sekitar beberapa orang Quraisy, tiba-tiba ‘Uqbah bin Abi Mu’ith datang dan membawa kotoran binatang, lalu melemparkannya ke atas punggung Nabi saaw. Beliau tidak mengangkat kepalanya sehingga datang Fathimah ra membersihkannya dan melaknati orang yang melakukan perbuatan keji itu.

    Selain itu, Nabi saaw juga menghadapi berbagai penghinaan, ejekan dan cemoohan setiap kali beliau lewat di hadapan mereka. Ath-Thabari dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa sebagian kaum Quraisy pernah menaburkan tanah di atas kepala Rasulullah saaw ketika beliau sedang berjalan di sebuah lorong Makkah, sehingga beliau pulang ke rumah dengan kepala kotor. Kemudian salah seorang anak perempuan Rasul saaw membersihkannya sambil menangis. Tetapi Rasulullah saaw mengatakan kepadanya, “Wahai anakku, janganlah engkau menangis! Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.”

    Demikian pula halnya para shahabat. Masing-masing dari mereka telah merasakan berbagai macam penyiksaan. Bahkan di antara mereka ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya penyiksaan. Tetapi semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka. Penyiksaan-penyiksaan yang dialami oleh para shahabat ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

    Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Khabbab bin al-Arit, ia berkata: Aku datang menemui Rasulullah saaw ketika beliau sedang berteduh di Ka’bah. Kepada beliau aku berkata, “Wahai Rasulullah (saaw), apakah Anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah bagi kami? Apakah Anda tidak berdoa bagi kami?” Beliau menjawab, “Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir dari besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan itu, sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun juga selain Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak terburu-buru.”

  • RASUL BUKAN MENCARI HARTA, TAHTA, ATAU PUN WANITA

    Di dalam riwayat Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah b. Rabi’ah berkata di majlis pertemuan Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, izinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkan beberapa tawaran kepadanya, barangkali dia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukai, dan dia berhenti menyusahkan kita.” Kaum Quraisy menjawab, “Kami setuju, wahai Abul Walid. Pergi dan berdialoglah kepada Muhammad.” Kemudian ‘Utbah datang kepada Rasulullah saaw, lalu duduk di hadapan Rasul saaw dan berkata, “Wahai putera saudaraku, engkau adalah seorang dari lingkungan kami, dan engkau pun telah mengetahui kedudukan silsilah kita. Namun ternyata engkau telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabatmu dan engkau telah memecah belah kerukunan dan persatuan meeka. Sekarang dengarlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepadamu beberapa hal yang mungkin dapat engkau terima salah satunya.” Rasul menjawab, “Katakanlah hai Abul Walid, apa yang hendak kamu tawarkan.” ‘Utbah bin rabi’ah berkata, “Wahai putera saudaraku, jika dengan da’wah yang engkau lakukan itu engkau ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untukmu, sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di kalangan kami. Jika engkau menginginkan kehormatan dan kemuliaan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak memutuskan persoalan apa pun tanpa persetujuanmu. Jika engkau ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan engkau sebagai raja kami. Jika engkau tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam dirimu, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menyembuhkanmu, dan untuk itu kami tidak akan menghitung-hitung biaya yang diperlukan sampai engkau sembuh.”

    Rasulullah saaw bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikah wahai Abul Walid?” Jawab ‘Utbah, “Sudah.” Rasul saaw bersabda, “Sekarang dengarkanlah dariku.” Kemudian Rasulullah saaw membaca Surat Fushilat:
    Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)”. Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya”. Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud”.

    Ketika sampai pada ayat yang menerangkan tentang azab ini, ‘Utbah menutup mulut Nabi dengan tangannya supaya berhenti membaca karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.
    Kemudian ‘Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya wahai Abul Walid?” ‘Utbah menjawab, “Aku mendengar suatu perkataan yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkanlah Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sungguh perkataan yang aku dengar darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan. Jika apa yang dikemukakan Muhammad terjadi pada bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Dan jika Muhammad berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemulyaannya adalah kemulyaanmu juga. (Maka biarkanlah dia!)”

    Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu, wahai Abul Walid, dengan perkataannya.” ‘Utbah berkata, “Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat sesukamu.”

    Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang kaum musyrik, termasuk al-Walid bin Mughirah dan al-‘Ash bin wail, datang menemui Rasulullah saaw menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka. Ketika Rasul saaw menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan, “Bagaimana jiak Anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari secara bergantian?” Tetapi tawaran ini juga ditolak oleh Nabi saaw. Dan berkenaan dengan hal ini Allah menurunkan wahyu:
    Katakanlah (kepada mereka wahai Muhammad): “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun)

    Para pembesar Quraisy belum berputus asa membujuk Nabi saaw. Secara beramai-ramai mereka mendatangi Rasulullah saaw menawarkan kembali apa yang pernah ditawarkan oleh ‘Utbah kepada Nabi saaw. Mereka menawarkan kekuasaan, harta kekayaan, dan pengobatan.

    Kepada mereka Rasulullah saaw mengatakan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku tidak berda’wah karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabbku dan aku sampaikan nasihat kepadamu. Jika kamu menerima da’wahku, maka kebahagiaanlah bagimu di dunia dan di akhirat. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kalian.”

    Selanjutnya mereka berkata kepada Nabi saaw, “Jika Anda tidak bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya Andatelah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya dan lebih keras kehidupannya selain daripada kami. Karena itu, mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit ini dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana sungai-sungai Syam dan Iraq, dan membangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushayy bin Kilab, karena dia tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang Anda katakan. Mintalah untuk Anda kebun-kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini Anda buru. Jika Anda telah melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkan Anda. Kami akan tahu kedudukan anda di sisi Allah, dan akan mempercayai bahwa Dia mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana Anda katakan.” Jawab Rasulullah saaw, “Aku tidak akan melakukannya, aku tidak meminta hal itu kepada Allah.”

  • HIJRAHNYA SEBAGIAN SHAHABAT KE HABASYAH

    Siksaan terhadap ummat Islam semakin berat. Bahkan diantara mereka ada yang dibunuh. Maka para tokoh shahabat menemui Nabi dan meminta izin untuk hijrah dari Makkah. Maka Rasulullah saaw pun menginzinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah. Habasyah adalah negeri yang dipimpin oleh Raja Najasy (Negus). Dia adalah seorang Nashrani.
    Sebagian shahabat pun berhijrah ke Habasyah. Di antara mereka adalah Abdur rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Mus’ab bin ‘Umair, Suhail bin Baidha, Hathib bin ‘Amr, dan Abdullah bin Mas’ud.
    Mengetahui hal ini, maka kaum kafir Quraisy melakukan pengejaran. Akan tetapi mereka gagal mencegah kaum muslimin. Maka mereka bersepakat untuk mengirim Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah ke Habasyah untuk berunding dan mempengaruhi Raja Najasy agar memulangkan kaum Muslimin.
    Kedua utusan itu membawakan hadiah bagi Raja Najasy sebagai tanda persahabatan. Raja Najasy menerima mereka dengan baik. Lalu Raja Najasy menanyakan kedua utusan itu, “Apa maksud kedatangan kalian ke sini?” Lalu tusan itu berkata, “Ada beberapa orang dari negeri kami membenci agama kami dan sekarang mereka berada di negeri tuan.” Raja Najasy berkata, “Apakah yang kalian maksud adalah orang-orang Arab yang datang dan meminta perlindunganku?” Mereka menjawab, “Benar tuan.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa yang kalian kehendaki dari mereka?” Utusan itu menjawab, “Serahkan mereka kepada kami.” Raja Najasy berkata, “Tidak bisa sebelum aku mendengar argumen mereka.” Lalu Raja Najasy menyuruh prajuritnya untuk memanggil kaum muslimin itu.
    Setelah kaum muslimin itu datang, Raja Najasy bertanya kepada mereka, “Wahai kaum muslimin, kenapa kalian begitu benci dengan agama nenek moyangmu sendiri?”
    Kaum muslimin menjawab, “Mereka adalah penyembah berhala. Sesungguhnya Tuhan telah mengutus kepada kami seorang Rasul, kami beriman dan mempercayainya.”
    Raja Najasy bertanya kepada Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, “Wahai utusan dari makkah, apakah mereka budak kalian?” Mereka berdua menjawab, “Bukan yang mulya.” Raja Najasy berkata, “Kalau begitu tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.”
    Lalu keduanya kembali ke kamar yang disediakan raja bagi para tamu. Mereka mencari cara untuk menjebak kaum Muslimin.
    Keesokan harinya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah kembali menemui Raja Najasy seraya bersujud memberi hormat sebagaimana kemarin. Lalu mereka menyatakan maksudnya, “Kami masih ingin mempersoalkan para kaum muslimin itu. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati kami.” Maka raja memanggil kau muslimin. Kaum muslimin datang menghadap raja tanpa bersujud. Lalu Amr bin Ash berkata, “Lihatlah, mereka tidak bersujud wahai paduka raja.” Lalu Raja Najasy bertanya kepada kaum muslimin, “Mengapa kalian tidak bersujud?”
    Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah Yang Mahamulya dan Mahaagung.” Raja Najasy bertanya lagi, “Apa maksudmu?” Ja’far bin Abi Thalib menjawab, ”Sesungguhnya Tuhan mengutus seorang Rasul dari kalangan kami yang sudah kami kenal asal-usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula. Ia mengajak kami menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama itu kami dan nenek-moyang kami menyembahnya. Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta mengadakan hubungan keluarga dan tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan perbuatan terlarang lainnya. Ia melarang kami melakukan segala kejahatan dan menggunakan kata-kata dusta, memakan harta anak piatu atau mencemarkan wanita-wanita yang bersih. Ia minta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNya. Selanjutnya disuruhnya kami melakukan salat, zakat dan puasa. Kami turut segala yang diperintahkan Allah. Lalu yang kami sembah hanya Allah Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun juga. Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah, masyarakat kami memusuhi kami, menyiksa kami dan menghasut supaya kami meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala; supaya kami membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, mereka menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kamipun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan.”
    Amr bin Ash berkata, “Sesungguhnya mereka berbeda dengan tuan mengenai Isa bin Maryam.” Raja Najasy bertanya, “Apa pendapat Nabimu tentang Isa putera Maryam?”
    Ja’far bin Abi Thalib menjawab, “Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Perawan Maryam.”
    Lalu Raja Najasy mengambil sebatang ranting kecil dari lantai dan berkata,”Wahai para pemimpin agama, sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka mengenai Isa bin Maryam tidak lebih besar dan tidak lebih berat dari ranting ini. Salam aku ucapkan kepada kalian wahai kaum muslimin dan juga bagi nabi kalian. Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?”
    Lalu Ja’far bin Abu Thalib membacakan surat Maryam, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.”
    Raja Najasy berkata, “Sesungguhnya kata-kata ini keluar dari sumber yang sama dengan apa yang dibawa Musa.”
    Akhirnya Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah pulang ke Makkah dengan kegagalan.

  • ISLAMNYA UMAR

    Waktu itu ‘Umar bin Khaththab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara tiga puluh dan tiga puluh lima tahun. Tubuhnya kuat dan tegap, penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya foya-foya dan minum-minuman keras. Tetapi terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.
    Rasulullah sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Talib sepupunya, Abu Bakr bin Abi Quhafah dan Muslimin yang lain. Pertemuan mereka ini diketahui ‘Umar. Ia pun pergi ke tempat mereka, ia mau membunuh Rasulullah saaw. Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nu’aim berkata:
    “Umar, engkau menipu diri sendiri. Kaukira keluarga ‘Abdu Manaf. akan membiarkan kau merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak lebih baik kau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu sendiri?”
    Umar berkata, “Apa maksudmu dengan memperbaiki keluargaku? Keluargaku yang mana?” Nu’aim berkata, “Saudaramu, Fathimah dan suaminya, Sa’id bin Zaid. Keduanya telah mengikuti agama Muhammad.” Maka Umar langsung menemui mereka berdua.
    Di rumah Fathimah binti Khaththab sedang ada Khabab bin Al-Arit. Khabab sedang mengajarkan Al-Qur`an kepada Sa’id dan Fathimah. Mengetahui ada seseorang yang sedang mendekati rumahnya, Sa’id dan Fathimah segera menyembunyikan lembaran Al-Qur`an miliknya dan menyuruh Khabab agar bersembunyi.
    Umar langsung masuk ke dalam rumah itu dan berkata, “Suara apa yang aku dengar dari luar tadi?”. Karena mereka tidak mau berterus-terang, Umar membentak lagi dengan suara lantang, “Aku sudah mengetahui bahwa kalian menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!” katanya sambil menghantam Sa’id keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras.
    “Ya, kami sudah masuk Islam! Dan telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya! Sekarang berbuatlah sekehendakmu!,” kata Fathimah.
    Tetapi Umar jadi tertegun sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya itu. Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada saudarinya supaya lembaran yang mereka baca itu diberikan kepadanya.
    Fathimah berkata, “Tidak! Tak akan aku berikan kepdamu. Kau akan shahifah ini.” Umar berkata, “Jngan khawatir, aku bersumpah atas nama tuhanku, aku tidak akan merusak lembaran-lembaran itu. Aku hanya ingin membacanya. Jika telah selesai akan aku kembalikan kepadamu.”
    Fathimah berkata, “Wahai saudaraku, engkau tidak boleh menyentuhnya kecuali jika engkau telah bersuci.”
    Maka ‘Umar pun mensucikan dirinya dengan air. Setelah bersuci ia menemui Fathimah dan berkata, “Aku telah bersuci. Sekarang berikan lembaran itu, aku hanya ingin mengetahui isinya.”
    Fathimah pun menyerahkan shahifah itu kepada Umar. Maka Umar pun membaca lembaran itu:
    Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik)….
    Setelah dibacanya, wajahnya tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal sekali atas perbuatannya itu. Menggetar rasanya ia setelah membaca isi kitab itu. Ada sesuatu yang luarbiasa dan agung dirasakan, ada suatu seruan yang begitu luhur. Umar berkata, “Alangkah indah, agung dan mulyanya kalimat-kalimat ini.”
    Khabab yang sedari tadi bersembunyi, segera keluar dan berkata, “Demi Allah wahai Umar, sungguh aku berharap Allah telah memilih engkau. Kemarin aku mendengar Rasulullah saaw berdoa: ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Abil Hakim bin Hisyam (Abu Jahl) atau dengan Umar bin Khaththab.’”
    Umar berkata, “Wahai Khabab, antarkan aku untuk menemui Muhammad. Aku hendak masuk Islam dihadapannya.”
    Dengan Islamnya Umar ini kedudukan Quraisy jadi melemah. Sekali lagi mereka mengadakan pertemuan guna menentukan langkah lebih lanjut.