Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: Siapa yang sengaja mendustakan aku, maka bersiaplah untuk menerima azab api Neraka. (HR. Bukhori, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)
Di zaman ini telah ada orang-orang yang menyamakan antara hadits-hadits dha’if (lemah) dengan hadits-hadits maudhu` (palsu). Padahal kedua macam hadits ini adalah tidak sama posisinya. Hadits dha’if adalah benar-benar perkataan Rasulullah saaw, akan tetapi periwayatnya atau sanadnya memiliki kelemahan. Sedangkan hadits maudhu` adalah perkataan yang bukan perkataan Rasulullah saaw yang kemudian dikatakan sebagai hadits oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Dengan mengatakan hadits dho’if sebagai hadits palsu, itu sama saja dengan mengatakan perkataan Rasulullah saaw sebagai bukan perkataan Rasulullah saaw. Dengan menolak hadits dho’if, itu sama saja dengan menolak perkataan Rasulullah saaw dan mendustakannya.
Dalam amaliyah, kita memang harus mengutamakan hadits shahih setelah Al-Qur`an. Jika tidak ada, maka kita harus berpegang pada hadits hasan. Akan tetapi bukan berarti kita meninggalkan begitu saja hadits yang lemah. Selama hadits yang lemah itu tidak bertentangan dengan hadits yang kuat (shahih atau pun hasan), maka hadits lemah itu bisa dipakai untuk diamalkan. Bahkan sesekali, kita perlu mengamalkan hadits dho’if dalam rangka memelihara ilmu dan perkataan Rasulullah saaw. Karena walau bagaimana pun, hadits dho’if itu adalah perkataan Rasulullah saaw yang tidak boleh didustakan.
Untuk mengetahui dari siapakah atau dari orang bagaimanakah hadits dho’if ini diperoleh, ada baiknya Anda mengingat salah satu kisah Imam Al-Bukhori ketika mencari hadits dari seseorang di suatu daerah. Imam Al-Bukhori selalu menanyakan kepada penduduk di suatu daerah, adakah di daerah itu seseorang yang menghafal sebuah hadits Rasulullah saaw. Suatu hari dikatakan kepada beliau bahwa si fulan itu menghafal suatu hadits dari Rasulullah saaw. Si fulan itu bisa ditemui di tempat penggembalaan ternak. Maka pergilah Imam Bukhari ke tempat yang dimaksud. Diam-diam Imam Bukhori memperhatikan si fulan yang sedang menggembala ternak dari kejauhan. Lalu dilihatlah peristiwa itu, di mana si fulan mencoba menggiring ternaknya dengan menggerak-gerakkan tangannya yang tertengadah seakan ada makanan ternak padanya. Padahal di tangannya tidak ada apa-apa. Hal itu dilakukan hanya untuk mengelabui ternak tersebut agar mau menurut padanya. Melihat peristiwa itu, Imam Bukhori menganggap bahwa orang itu tidak pantas untuk meriwayatkan hadits Rasulullah, karena dia memiliki satu sifat tercela, yaitu bohong. Walau yang dibohongi itu hanyalah seekor hewan, tetapi Imam Bukhori tetap menganggapnya tidak pantas untuk meriwayatkan hadits Rasulullah saaw.
Hal tersebut menjelaskan kepada kita betapa hati-hatinya beliau dalam mengumpulkan hadits. Beliau hanya mengambil hadits dari orang-orang yang memiliki kualitas tertentu. Setelah hadits-hadits itu diambil, barulah beliau klasifikasikan hadits-hadits tersebut. Sehingga apa yang disebut hadits dho’if itu bukan berarti palsu. Hadits dho’if tetaplah hadits, perkataan Rasulullah saaw yang tidak boleh didustakan.
Diriwayatkan daripada Ali ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: Janganlah kamu mendustakan aku, karena sesungguhnya orang yang mendustakan aku akan dimasukkan ke dalam api Neraka. (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)