Penulis: adminSN

  • SEL YANG PATUH

    Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? [QS. Adz-Dzariyat: 20-21]  Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi ini berthawaf mengelilingi pusat tata surya, yaitu matahari. Dan matahari berthawaf mengelilingi pusat galaksi di Bima Sakti. Begitu pula setiap neutron dan proton dari setiap zat. Begitu juga sel-sel pada setiap makhluq hidup, termasuk sel-sel pada tubuh kita, mereka beribadah kepada Pencipta mereka dengan cara yang telah Allah tentukan bagi mereka.

    Tentu saja, keteraturan dan keberlangsungan hidup sel-sel itu juga dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan kita. Dengan beribadah kepada Allah, maka sel-sel itu akan mendapatkan energi positif untuk tetap hidup dan teratur. Namun perbuatan ma`siat akan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel kita sesuai dengan sistem yang telah Allah ciptakan pada alam semesta, yang kita sebut dengan Sunnatullah. Semakin sering kita berbuat ma`siat, semakin banyak kerusakan pada sel-sel di tubuh kita. Hingga akhirnya menimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan. Sungguh, pada tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Itulah qolbu. Qolbu manusia itu seperti cermin. Jika ia sering dibersihkan, maka ia akan cemerlang. Jika jarang dibersihkan, maka ia akan berkarat, hingga akhirnya rusak dan tak berguna. Dosa itulah yang akan menjadi titik hitam pada hati. Setiap berbuat dosa, maka timbullah titik hitam pada hati. Semakin sering berbuat dosa, dan tidak dibersihkan, maka hati akan tertutup oleh noda hitam yang pekat.

    Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menjadi karat yang menutupi hati mereka. [QS. Al-Muthaffifin: 14]

    Namun demikian, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh ma`siat. Ada juga penyakit yang ditimbulkan oleh rusaknya sel-sel yang melakukan bunuh diri atas perintah Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya yang Dia sayangi. Sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi Muhammad saaw bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian para syuhada, dst. Perintah bunuh diri ini juga telah Allah perintahkan pada sebagian sel ketika kita masih dikandung oleh ibu kita. Dengan bunuh dirinya sel-sel itu dan kemudian mereka memisahkan dirinya, maka terbentuklah tubuh kita dengan sempurna. Contohnya, sel-sel yang terdapat antara jari-jari kita dahulu ketika dalam kandungan. Dengan membunuh dirinya dan memisahkan diri, terbentuklah jari-jari kita dengan sempurna. Maka tidaklah mengherankan jika Allah juga memerintahkan sel-sel kita untuk bunuh diri ketika kita telah lahir di dunia ini.

    Bunuh dirinya sel-sel itu juga merupakan bentuk kasih-sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berdosa. Dengan demikian, maka hamba tersebut akan berguguran dosanya disebabkan rasa sakit yang dideritanya. Dan juga dapat menyebabkan keinsyafan pada hamba tersebut.

    Dari Abu Said Al-Khudry ra katanya: Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap musibah yang di timpa ke atas orang-orang mu`min berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa dan kesedihan, maka hal yang demikian merupakan penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad]

    Dari Aisyah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: “Setiap muslim yang tersusuk duri atau lebih dari itu misalnya, maka karenanya dicatatkan satu derajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, Malik]

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Aku menemui Rasulullah saw ketika baginda dalam keadaan tidak sehat. Aku menggosok baginda dengan tanganku. Aku katakan kepada baginda: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar tidak sehat. Rasulullah saw bersabda: “Memanglah, apa yang aku alami sekarang ini adalah sama seperti yang di alami oleh dua orang di antara kamu.” Aku berkata: Kalau begitu engkau beroleh dua pahala sekaligus. Rasulullah saw bersabda: “Benar.” Kemudian Rasulullah saw bersabda lagi: “Setiap muslim yang ditimpa musibah atau sakit dan sebagainya, maka Allah akan mengampunkan kesalahan-kesalahan dari sakitnya, sebagaimana daun yang gugur dari pohonnya.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Ad-Darimi]

    Bahkan para ulama kita dulu malah bertanya-tanya memeriksa dirinya apabila dia tidak ditimpa suatu kesulitan selama empat puluh hari berturut-turut. Mereka khawatir kalau-kalau Allah sudah tidak lagi peduli dengan keadaan dan perbuatan mereka.

    Sungguh berbeda dengan kita yang begitu gembira jika terus-menerus berada dalam kesenangan yang melalaikan, dan mengeluh ketika datang suatu musibah. Jarang kita insyaf akan kesalahan-kesalahan kita ketika musibah melanda. Jarang kita berfikir bahwa sakit yang kita alami sebenarnya adalah teguran dari Allah. Maka ketahuilah, bahwa sakit itu bisa disebabkan oleh adanya sel-sel kita yang rusak akibat kema`siatan kita. Wallahu a’lam.

  • PUASA DAN TAQWA

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 183]

    Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun). [QS. Al-Baqarah: 1-5]

    Menjadi seorang muttaqin adalah suatu hal yang selalu diidam-idamkan setiap muslim. Sebab, kesudahan/akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam surat Al-Baqarah ayat kelima dijelaskan bahwa muttaqin itu adalah orang yang beruntung. Begitu juga dalam surat Al-Qashash Allah Berfirman:

    Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Al-Qashash: 83]

    Pada bulan Ramadhan, Allah Mendidik hamba-hambaNya untuk menjadi muttaqin. Sehingga setelah keluar dari bulan Ramadhan, mereka menjadi muflihun sepanjang tahun. Dan ketika bertemu dengan Ramadhan kembali, mereka akan dididik kembali agar bertambah ketaqwaan mereka.

    BERIMAN KEPADA YANG GHAIB

    Pada saat berpuasa, di suatu hari yang panas, di kala tidak ada orang lain di rumah kecuali Anda, saat di kulkas tersedia air yang segar dan juga sirup yang manis rasanya, dan di meja telah tersedia kue-kue yang manis lagi lezat, akankah Anda mengambil minuman dan makanan itu untuk membatalkan puasa sebelum waktunya? Walau tidak ada orang lain, Anda tentu percaya bahwa Allah itu Ada dan Mahamelihat.

    Jika sifat seperti ini dibawa dimana pun dan kapan pun, tentunya tidak ada tindak korupsi dan tindak kejahatan lainnya yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Nabi pernah bersabda, “Bertaqwalah kamu di mana pun kamu berada.” Salah satu sifat orang bertaqwa itu ialah percaya kepada yang ghaib.

    Pernah Sayyidina Umar melihat seorang penggembala yang sedang menggembalakan hewan ternak majikannya. Lalu Sayyidina Umar mendekatinya dan membujuknya agar menjual salah satu hewan ternak itu kepadanya dan tidak usah melaporkannya kepada pemiliknya. Tetapi penggembala itu menolaknya kecuali jika majikannya tahu dan rela untuk menjual salah satu hewan tersebut. Sayyidina Umar membujuknya hingga berkata, “Bukankah majikanmu tidak akan tahu jika hewan ternaknya berkurang satu ekor?” Lalu penggembala itu berkata, “Lalu di mana Allah?” Mendengar itu, Sayyidina Umar menjadi kagum terhadap penggembala tersebut. Penggembala ini menolak ajakan korupsi, padahal ia punya kesempatan besar untuk bisa melakukannya. Itulah ciri orang bertaqwa.

    MENDIRIKAN SHALAT

    Di bulan Ramadhan ini, jangankan shalat yang wajib, shalat tarawih yang berjumlah 20 rakaat pun dikerjakan. Jika semangat beribadah seperti ini dibawa pada sebelas bulan berikutnya, tentu berkuranglah kejahatan di muka bumi ini. Dalam surat Al-Ankabut ayat 45 dijelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Artinya setiap orang yang melaksanakan shalat itu, selain berguguran dosanya sesuai kualitas shalatnya, juga akan dapat menjadi penolong hati nurani dalam menolak ajakan nafsu dan syaithan untuk berbuat keji dan munkar.

    MEMBELANJAKAN RIZKI DI JALAN ALLAH

    Di bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk memberi makan untuk berbuka puasa. Juga diwajibkan bagi orang yang mampu untuk berzakat agar ia menunaikan zakat. Dan sesungguhnya Rasulullah saaw itu adalah manusia yang paling dermawan, dan ketika masuk bulan Ramadhan, Rasulullah saaw lebih dermawan lagi.

    Ketahuilah, bahwa orang yang bertaqwa itu senantiasa membelanjakan rizki yang dia peroleh untuk digunakan di jalan Allah. Apakah rizki itu berupa ilmu, harta, tubuh yang kuat, ataupun aqal yang cerdas. Dengan inilah seseorang dapat mencapai derajat taqwa dan memperoleh keberuntungan yang agung. Tanyakan saja kepada orang-orang yang sukses secara finansial di dunia ini, apakah mereka menjadi miskin karena berderma, atau justeru kekayaan mereka menjadi langgeng dan berkembang karena derma?

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS. Ibrahim: 7]

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui… Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat…Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 261, 265, 268]

    Jadi, jangan takut menjadi miskin jika Anda bershadaqah dan menggunakan harta di jalan Allah. Allah membalas shadaqah dengan berlipat ganda di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

    Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [QS. An-Nisa`: 40]

    Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. [QS. Al-A’raf: 156]

    Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS. Ali ‘Imran: 148]

    BERIMAN KEPADA KITABULLAH

    Di bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca Kitabullah yang pamungkas, yaitu Al-Qur`an, yang merupakan penyempurna dari Kitab-Kitab sebelumnya. Dan juga dianjurkan untuk lebih banyak merenungkan dan meresapi ajaran-ajaran Allah dalam Al-Qur`an. Sehingga timbul suatu pemikiran dan sikap serta perbuatan yang berlandaskan pada Al-Qur`an, pedoman bagi setiap muttaqin, dan penjelasan bagi seluruh manusia, baik dia beriman mau pun kafir. Dengan percaya secara total kepada Al-Qur`an dan mengamalkannya tanpa ragu, niscaya seseorang itu akan beruntung di dunia dan di akhirat.

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 2]

    (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Ali Imran: 138]

    BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

    Seseorang yang percaya kepada adanya hari akhir akan mempersiapkan bekal untuk kehidupannya di kampung akhirat. Orang yang beriman kepada hari akhir akan insyaf bahwa segala perbuatannya di dunia akan dia pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Sehingga dia akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak. Sebagaimana seseorang yang berjalan di area penuh ranjau, dia akan melangkah secara hati-hati sesuai dengan arahan orang yang mengetahui di mana tempat yang bisa dilalui secara aman.

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Hasyr: 18]

    ORANG YANG BERUNTUNG

    Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang berjalan di Jalan Lurus (Shirothol Mustaqim). Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu di bimbing oleh Allah. Mereka bersama-sama dengan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah berupa Jalan Lurus, yaitu para Nabi dan Rasul, shiddiqin, syuhada, dan sholihin.

    Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah: 6-7]

    Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisa`: 69]

    Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Al-Baqarah: 5]

    Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, [QS. Ya-Sin: 3-4]

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

  • Kenyataan Dunia Nyata

    Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-Ankabut: 64)

    Proses Melihat

    Perbuatan ‘melihat’ disadari dalam sebuah cara yang sangat maju. Photon-photon cahaya, berjalan dari objek, melintas melalui lensa pada bagian depan mata, dimana photon-photon cahaya itu difokuskan dan jatuh, dibalik, pada retina. Di sini, cahaya yang menimpa retina diubah ke dalam sinyal-sinyal elektris yang dikirimkan oleh neuron-neuron ke sebuah titik kecil di bagian belakang otak, yang disebut pusat penglihatan. Setelah serangkaian proses, pusat otak ini merasakan sinyal-sinyal ini sebagai imajinasi/kesan. Perbuatan melihat yang sesungguhnya terjadi pada titik kecil ini di belakang otak dalam gelap-gulita, benar-benar tersekat dari cahaya. (Harun Yahya, The Evolution Deceit, cetakan ke-7, hal.217-218)
    Jika ‘melihat’ adalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan otak sebagaimana prosesor pada komputer menafsirkan sinyal-sinyal listrik sebagai suatu gambar -dan suara-, maka apakah kita memerlukan ‘dunia luar’ untuk kita lihat? Pada komputer, kita tidak harus memerlukan ‘dunia luar’ untuk membuat suatu gambar. Sebab kita dapat merekayasa gambar tersebut pada prosesor dengan memasukkan data-data yang akan mengatur sinyal-sinyal listrik. Begitu pula otak kita. Untuk melihat, mendengar, merasakan, mengecap, mencium, kita tidak memerlukan ‘dunia luar’. Sewaktu kita bermimpi, sering kita tidak dapat membedakan antara dunia mimpi dengan dunia nyata. Kita melihat diri kita dan dunia yang kita anggap nyata lengkap dengan warna, suara, tekstur, bau dan rasa. Kita berfikir bahwa kita sedang berada di dunia nyata. Tetapi sewaktu kita terbangun, kita pun sadar bahwa dunia yang baru saja kita lihat hanyalah mimpi, artinya tidak benar-benar ada. Apa yang kita lihat dalam mimpi, hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita. Jadi hanya dengan menafsirkan sinyal-sinyal listrik tersebut, kita sudah bisa ‘melihat’. Jadi, dunia yang kita lihat sekarang hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan oleh otak kita sebagai ‘dunia nyata’.
    Jika kita melihat film The Matrix, Total Recall, kita akan dapat memahami bagaimana dunia yang terlihat nyata dapat direkayasa. Tetapi kemudian bagaimana dengan otak kita?

    Siapa yang Melihat?
    Otak kita adalah bagian dari ‘dunia nyata’. Artinya ia juga imajinasi. Jika demikian, lalu siapa yang benar-benar melihat? Ruh. Apa yang kita lihat sebagai ‘dunia nyata’ atau ‘dunia luar’ adalah kesan yang diciptakan Allah pada ruh kita. Jadi sewaktu kita terbangun dari mimpi, sesungguhnya kita sedang terbangun di alam mimpi yang lain yang kita sebut ‘alam dunia’. Mungkin diantara kita ada yang pernah berusaha bangun dari mimpinya, sewaktu ia berhasil bangun, ternyata ia pun sadar bahwa ia hanya terbangun di dunia mimpi pula. Lalu ia berusaha untuk bangun lagi, dan akhirnya ia berhasil bangun di alam dunia. Tetapi ternyata alam dunia yang kita huni saat ini juga hanyalah alam imajinasi. Imajinasi yang Allah Ciptakan pada ruh kita.

    Tubuh dan Waktu
    Kita sering berfikir bahwa yang merasakan sakit, sehat, senang, dan sebagainya adalah tubuh kita. Tetapi sesungguhnya tubuh kita ini hanyalah imajinasi. Di dalam mimpi terkadang kita merasa tubuh kita merasa sakit, tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan sebagainya. Tetapi sesungguhnya tubuh kita –yang dilihat oleh teman kita- di alam dunia tetap bergerak dan tidak kenapa-kenapa. Semua yang kita rasakan di alam mimpi itu hanya terjadi pada fikiran kita, atau lebih tepatnya hanya dirasakan oleh ruh kita –yang padanya diciptakan segala hal. Sewaktu kita bermimpi, tubuh yang kita saksikan adalah tubuh imajinasi yang ada di alam mimpi. Tetapi selain kita memiliki tubuh tersebut, kita juga memiliki tubuh lain di alam dunia. Jadi pada saat itu kita ternyata memiliki dua tubuh. Hanya saja kita sedang fokus kepada tubuh yang ada di alam mimpi. Dan kita tidak peduli dengan tubuh kita yang ada di alam dunia. Begitu juga sebaliknya sewaktu kita ada di alam dunia ini kita hanya fokus dan merasakan pada tubuh yang ada di alam dunia.
    Apakah kita hanya memiliki dua tubuh? Tidak, kita memiliki banyak tubuh. Di alam dunia, alam mimpi, masa sekarang, masa lampu, masa depan, akhirat, dan masih banyak lagi. Apakah tubuh-tubuh itu sudah ada? Ya. Sewaktu kita bermimpi dan merasa hidup, apakah tubuh kita di alam dunia tidak ada? Tubuh kita di alam dunia itu ada. Tetapi kita sedang mengalami pengalaman lain, yaitu alam mimpi. Dan sekarang kita sedang mengalami alam dunia ‘saat ini’. Tetapi bukan berarti tubuh kita di alam dunia ‘di masa depan’, alam selanjutnya, ‘di masa lampau’, dan lainnya tidak ada. Semua itu ada, tetapi kita sedang fokus kepada tubuh kita di alam dunia ‘saat ini’. Hal inilah yang menyebabkan kita merasakan adanya ‘waktu’. Padahal waktu hanyalah imajinasi. Apa yang kita sebut ‘saat ini’ atau ‘sekarang’ adalah imajinasi yang kita sedang fokus padanya. Adapun ‘masa lampau’ adalah imajinasi yang kita telah pernah fokus lalu kita tafsirkan pada ‘saat ini’ sebagai kenangan. ‘Masa depan’ adalah kesan yang belum pernah kita fokus padanya. Tetapi semua itu –masa lampau, sekarang, masa depan- sudah ada. Hanya saja kita fokus kepada apa yang kita sebut ‘saat ini’.
    Jika kita melihat film pada menit ke-10, lalu kita pause. Maka apa yang ada sebelum menit ke-10 adalah masa lampau, pada menit ke-10 adalah saat ini, dan setelah menit ke-10 adalah masa depan. Semua itu sudah ada pada keping VCD, tetapi kita sedang fokus kepada menit ke-10. Jadi sesungguhnya, keabadian telah berlangsung.
    Dunia Fatamorgana

    Dunia yang saat ini kita huni, ternyata hanyalah alam imajinasi. Apa yang ada padanya hanyalah fatamorgana yang menipu. Alam dunia hanyalah mimpi. Dan bahkan semua alam yang kit rasakan adalah mimpi atau imajinasi. Tetapi diantara mimpi-mimpi itu ada mimpi yang lebih nyata dan kekal. ‘Alam dunia’ lebih nyata dari ‘alam mimpi’ dan alam akhirat lebih nyata dari alam dunia.
    Apa yang kita rasakan di alam mimpi akan hilang di alam dunia. Jika kita menggenggam sekuntum bunga di alam mimpi, apakah bunga itu akan ada dalam genggaman kita di saat terbangun? Begitu juga apa yang kita ‘genggam’ di alam dunia ini. Sewaktu kita terbangun di alam akhirat, semua itu akan sirna. Dan yang Ada serta Tidak Sirna hanyalah Allah. Jadi Wujud satu-satunya yang Haq hanyalah Allah. Inilah salah satu ma’na kalimat tauhid.
    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. (Q.S. Yunus: 24)
    Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)

    Untuk Apa Beramal?
    Kita perlu memahami bahwa walau dunia ini adalah imajinasi, tetapi hukum fisika, hukum syari’at dan lainnya jelas berbeda dengan hukum fisika dan syari’at pada mimpi. Di alam mimpi kita bisa melayang-layang di udara tanpa gravitasi bumi. Kita juga bisa meminum khamar tanpa berdosa. Kemudian kita juga sering mendengar orang-orang tua dulu ada berkata bahwa jika seseorang bermimpi ketiban bulan itu tandanya ia akan mendapat rizqi besar yang tida di duga-duga di alam dunia setelah ia terbangun. Demikian pula alam dunia, ia menjadi alamat tentang apa yang akan menimpa kita di saat kita ‘terbangun’ di alam selanjutnya. Jika orang tua dulu punya primbon untuk menafsir mimpi, maka Al-Qur`an adalah pedoman kita untuk menafsirkan mimpi dunia. Di dalam Al-Qur`an di jelaskan bahwa jika di dunia kita bertaqwa, maka sewaktu ‘terbangun’ kita akan mendapat keberuntungan (al-falah). Tetapi jika kita ‘bermimpi’ menjadi orang yang ingkar, maka sewaktu kita ‘terbangun’ kita akan mendapat kecelakaan yang besar.
    Kemudian, di dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penduduk surga dan neraka telah ditentukan. Lalu shahabat bertanya, “Kalau begitu kenapa kita tidak diam saja menunggu taqdir?” Lalu Rasulullah SAAW bersabda, “Beramallah kalian, sesungguhnya kalian dipermudah.” Jadi orang yang telah Allah tetapkan sebagai ahli surga akan Allah gerakkan untuk berbuat tha’at, adapun orang yang telah ditetapkan sebagai ahli neraka akan Allah mudahkan dalam berbuat ma’siat. Allah Mahaberkuasa lagi Mahabijaksana. Maka segala puji bagi Allah Yang telah menjadikan kita sebagai mu`min dan muslim. Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kita dari kekafiran dan kefasiqan. Segala puji bagi Allah yang telah menggerakkan kita untuk berbuat tha’at. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuatan untuk berbuat tha’at kecuali dengan Idzin, Kehendak, Kekuasaan, dan Kasih-Sayang Allah.
    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Q.S. Az-Zumar: 10)
    Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.
    (Q.S. Muhammad: 36)

    Anggapan Orang Kafir
    Orang-orang kafir menganggap bahwa dunia materi ini adalah dunia yang sesungguhnya, dan satu-satunya dunia yang ada. Pandangan seperti ini biasa kita sebut dengan materialisme. Paham ini telah berkembang sejak ribuan tahun silam, sejak manusia mulai ingkar kepada Allah. Kemudian Charles Darwin berusaha membuktikan bahwa paham materialisme itu adalah paham yang haq dan paham Wujudnya Allah adalah paham yang bathil, tidak terbukti dan takhyul belaka.
    (Orang-orang kafir berkata:) kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.
    (Q.S. Al-Mu`minun: 37)
    Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Q.S. Al-Jatsiyah: 24)

    Pembuktian Ilmiah
    Pada abad ke-20 semua pemikiran dari materialisme menjadi gugur. Para materialis beranggapan bahwa dunia tidak diciptakan. Tetapi kemudian teori Big Bang yang didasari oleh bukti ilmiah menyimpulkan: alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol.
    Dalam bahasa ilmiah, ‘ketiadaan’ diungkapkan dengan kata ‘volume nol’. Dan kaum materialis mengatakan bahwa alam dunia ini adalah nyata. Tetapi ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam dunia hanyalah sinyal-sinyal listrik yang ditafsirkan fikiran kita. Jadi ajaran Allah itulah yang Haq dan paham materialisme itulah yang bathil, tidak ilmiah, takhyul, primitif, tidak modern.

    Kesimpulan
    Berdasarkan ajaran Islam dan pembuktian ilmiah, ternyata dunia –yang di dalamnya terdapat materi- bukanlah alam nyata. Dunia hanyalah imajinasi, fatamorgana yang Allah Ciptakan pada ruh kita. Lalu bagaimana dengan ruh? Allah Yang Lebih Tahu. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpandangan kuno seperti halnya kaum materialis yang tidak percaya akan Adanya Allah.
    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
    (Q.S. Al-Hadid: 20)

    Disarikan dari tulisan-tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)
    Eternity Has Already Begun
    The Evolution Deceit
    Matter: The Other Name for Illusion
    Timelessness and the Reality of Fate
    dsb

    Rujukan dalam Al-Qur`an:
    Ali ‘Imron: 117, 185 Al An’am: 32, 70
    Al Ankabut: 64 Al Hadid: 20
    Muhammad: 36 Yunus: 24
    Al Kahfi: 45-46 Luqman: 33
    Fathir: 5 Az-Zumar: 10
    Ar-Ra’d: 26 Al-Mu`minun: 37
    Al-Jatsiyah: 24, 35

  • BAI’ATUL ‘AQABAH PERTAMA

    Pada musim hajji berikutnya, sebagaimana yang telah dijanjikan, mereka bertemu lagi dengan Rasulullah saaw di ‘Aqabah. Di tempat itulah mereka menyatakan bai’at (janji setia) kepada beliau. Mereka yang berbai’at dari suku Khazraj ada 10 orang, yaitu As’ad bin Zararah, Auf bin Al-Harits, Mu’adz bin Al-Harits, Rafi’ bin Malik bin ‘Amr, Dzarwan bin Abdi Qais, Ubadah bin Ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah, Al-Abbas bin Ubadah, ‘Uqbah bin Amir dan Quthbah bin Amir. Sedangkan dari suku ‘Aus ada 2 orang, yaitu Abul Haitsam bin At-Tayyim dan Uwain bin Sa’idah. Mereka semua berbai’at dan mengucapkan, “Kami berjanji tidak akan menyekutukan Allah dengan apa pun juga. Tidak akan berbuat zina. Tidak akan membunh anak-anak kami. Tidak akan berbuat dusta. Dan tidak akan berbuat durhaka.” (Lihat QS. 60:12)

    Setelah mereka selesai beribadah hajji, mereka pulang ke Yatsrib. Rasulullah saaw mengutus Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajar Al-Qur`an di sana.

  • BAI’ATUL ‘AQABAH KEDUA

    Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.”

    Pada musim hajji berikutnya, serombongan kaum muslimin Yatsrib pergi ke Makkah. Di tengah perjalanan, ketika masuk waktu shalat, seorang diantara mereka, yaitu Al-Barra` bin Ma’rur, salah seorang pemimpin kabilah berpendapat bahwa tidaklah patut kalau dia shalat membelakangi Ka’bah, dan dia ingin shalat menghadap ke Ka’bah. Maka yang lain pun berpendapat bahwa Rasulullah saaw selalu shalat menghadap ke Baitul Maqdis di Syam, dan mereka tidak berani menyalahi apa yang dilakukan Rasulullah saaw itu. Akan tetapi Al-Barra tetap bersikeras dengan pendapatnya itu. Maka mereka shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, sedangkan Al-Barra` shalat menghadap ke Ka’bah. Demikianlah yang terjadi sepanjang perjalanan ke Makkah.
    Setibanya di Makkah, Al-Barra` merasa gusar dengan perlakuannya tentang shalat akhir-akhir ini. Al-Barra` berkata kepada Ka’ab bin Malik, “Saudaraku, mari kita menemui Rasulullah saaw agar kita dapat menanyakan tentang apa yang kulalkukan selama perjalanan ini.” Lalu mereka berdua mencari Rasulullah. Mereka bertanya kepada seseorang yang kebetulan lewat di depannya, “Dimanakah kami bisa bertemu dengan Muhammad bin Abdullah?” Orang itu berkata, “Apakah kalian mengenal Al-Abbas bin Abdul Muthallib?” Mereka berkata, “Ya kami kenal dia. Dia sering datang ke negeri kami untuk berdagang.” Orang itu berkata lagi, “Jika kalian pergi ke Ka’bah dan melihat orang sedang bersama Al-Abbas, dia itulah Muhamad.”
    Kemudian mereka pergi ke Ka’bah dan menemui Rasulullah saaw. Ketika melihat Al-Abbas, paman Nabi saaw, mereka mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu ‘alaykum.” ‘Abbas menjawab salam mereka, “Wa ‘alaykum salam.” Rasulullah bertanya kepada Abbas bin Abdul Muthallib, “Wahai abul Fadhl, apakah engkau mengenal mereka?” Abbas menjawab, “Ya, dia adalah Al-Barra` bin Ma’rur, seorang pemimpin kabilah, dan temannya itu Ka’ab bin Malik.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah dia seorang penyair?” Abbas menjawab, “Ya, benar.”
    Lalu Al-Barra` menceritakan apa yang terjadi selama perjalanan dari Yatsrib ke Makkah, dan meminta pendapat Rasulullah. Lalu Rasulullah saaw bersabda, “Hendaklah kau bersabar dan tetap shalat menghadap ke Baitul Maqdis.”
    Seusai hajji, tepatnya pada malam tanggal 12 Dzul Hijjah, seperti yang sudah direncanakan, rombongan muslimin pergi ke ‘Aqabah untuk bertemu dengan Rasulullah saaw. Rombongan dari Yatsrib itu berjumlah 75 orang, 2 diantaranya adalah wanita, yaitu Nusaibah binti Ka’ab dan Asma` binti Amr. Mereka ingin agar Rasulullah saaw tinggal di Yatsrib.
    Setelah mereka berkumpul, tak lama kemudian datanglah Rasulullah dengan pamannya, ‘Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika itu Abbas belum masuk Islam. Al-‘Abbas berkata kepada mereka, “Saudara-saudara dari Khazraj! Posisi Muhammad di tengah-tengah kabilah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kabilah kami dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindunginya dari gangguan masyarakat kami sendiri. Dia adalah orang yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan tuan-tuan juga di Yatsrib. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindunginya dari mereka yang menentangnya, maka silakanlah tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan sajalah.”
    Setelah mendengar keterangan ‘Abbas, pihak Yatsrib menjawab: “Sudah kami dengar apa yang tuan katakan. Sekarang silakan Rasulullah bicara. Kemukakanlah apa yang tuan senangi dan disenangi Tuhan.”
    Setelah membacakan ayat-ayat Qur’an dan memberi semangat Islam, Rasulullah saaw bersabda, “Saya minta ikrar tuan-tuan akan membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan sendiri.”
    Al-Barra` bin Ma’rur menjabat tangan beliau dan berkata, “Demi Allah Yang Mengutus engkau sebagai Nabi pembawa kebenaran, engkau akan kami lindungi sebagaimana kami melindungi anak dan isteri kami sendiri! Ya Rasulullah terimalah pembai’atan kami! Demi Allah, kami orang-orang yang sudah terbiasa berperang dan mengetahui benar bagaimana menggunakan senjata. Itulah yang diwariskan kepada kami secara turun-temurun.”
    Belum selesai Al-Barra` bicara, Abul Haitsam memotong pembicaraan dan berkata, “Wahai Rasulullah, antara kami dan orang-orang Yahudi terdapat hubungan. Sekarang hubungan itu kami putus. Setelah hal itu kami lakukan, kemudian Allah berkenan memenangkan engkau, apakah engkau hendak meninggalkan kami dan kembali kepada kaummu di Makkah?”
    Rasulullah tersenyum dan menjawab, “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.”
    Lalu mereka berbai’at untuk membela Rasulullah saaw walau pun mereka harus kehabisan harta dan kehilangan jiwa-raga mereka. Mereka berkata, “Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami berada, dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah ini.”
    Setelah itu Rasulullah saaw meminta kepada mereka supaya memilih 12 orang Naqib. Lalu mereka menunjuk 9 orang Naqib dari Khazraj dan 3 Naqib dari Aus.
    Dari Khazraj adalah Abu Umamah As’ad bin Zararah, Sa’ad bin Ar-Rabi’ bin Amr, Abdullah bin Rawwahah. Rafi’ bin Malik bin Al-Ijlan, Al-Barra` bin Ma’rur, Abdullah bin Amr bin Haram, Ubadah bin Shamit, Sa’ad bin Ubadah, Al-Mudhar bin Amr.
    Sedangkan Naqib dari Aus adalah Usaid bin Hudhair dari bani Abdul Asyhal, Sa’ad bin Khaitsamah bin Al-Harits, Rifa’ah bin Abdul Mudzir bin Zubair.
    Lalu Rasulullah saaw bersabda kepada 12 Naqib, “Hendaklah kalian menjadi penanggung jawab kaumnya masing-masing sebagaimana yang dilakukan oleh para pengikut Isa bin Maryam.* Sedang aku sendiri menjadi penanggung jawab atas ummatku.”
    Setelah itu tiba-tiba mereka mendengar ada suara berteriak yang ditujukan kepada Quraisy: “Muhammad dan orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah berkumpul akan memerangi kamu!” Mendengar itu kaum muslimin yang ada di ‘Aqabah terkejut.
    Rasulullah bersabda, “Yang kalian dengar itu adalah Azb, setan bukit Aqabah. Hendaklah kalian kembali ke kemah masing-masing.”
    ‘Abbas bin ‘Ubada berkata kepada Rasulullah saaw, “Demi Allah Yang telah mengutus tuan atas dasar kebenaran, kalau sekiranya tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan pedang kami.”
    Rasulullah menjawab, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Kembalilah ke kemah tuan-tuan.” Merekapun kembali ke tempat mereka bermalam, lalu tidur.

    * Nabi Isa as mempunyai 12 murid utama yang bertanggung jawab atas 12 suku Israel. Mereka disebut Hawariyun/Apostle. Lihat janji setia mereka dalam QS. 61:14.

  • RASULULLAH HIJRAH KE YATSRIB (MADINATUN NABI)

    Rasulullah dan para shahabat di Makkah berencana untuk hijrah ke Yatsrib. Akan tetapi Rasulullah tidak berani untuk mengambil keputusan sebelum memperoleh perintah dari Allah. Maka turunlah ayat 97 dari surat An-Nisa` yang menjelaskan tentang bolehnya berhijrah.
    Maka para shahabat pun berhijrah ke Yatsrib. Mereka berhijrah secara diam-diam agar tidak diketahui kafir Quraisy.
    Mengetahui akan hal ini, kafir Quraisy membuat rencana untuk membunuh Rasulullah sebelum beliau saaw hijrah. Mereka takut bahwa Rasulullah membangun kekuatan di Yatsrib dan menyerang Makkah.
    Rencana keji kafir Quraisy diketajui oleh Rasulullah saaw dan beliau diperintahkan oleh Allah SWT agar segera hijrah ke Yatsrib.
    Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. [QS. 29:56]
    Lalu Rasulullah memberitahukan hal ini kepada Abu Bakar agar beliau mempersiapkan keberangkatan ke Yatsrib menemani Rasulullah saaw. Betapa gembira Abu Bakar dapat menemani manusia yang paling ia cintai.
    Pada malam hari ketika pemuda-pemuda Quraisy sedang mengepung rumah baginda Rasul dan siap membunuh beliau, Rasulullah saaw berkemas-kemas untuk meninggalkan rumah. Disuruhnya Ali bin Abi Thalib ra agar menempati tempat tidur beliau saaw, supaya orang-orang Quraisy mengira bahwa beliau saaw masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga agar mengembalikan barang yang dititipkan kepada beliau saaw ke pemiliknya masing-masing. Kemudian secara diam-diam beliau pergi keluar rumah. Beliau mengambil segenggam pasir dan melemparkan/menghamburkan pasir itu ke atas kepala pemuda-pemuda Quraisy yang mengepung beliau. Maka para pemuda itu pun tertidur.
    Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. [QS. 36: 8-9]
    Dengan sembunyi-sembunyi Rasulullah perg menuju rumah Abu Bakar ra. Kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang rumah, menuju gua di bukit Tsur, sebelah selatan kota Makkah, lalu mereka sembunyi di gua itu.
    Setelah para pemuda itu mengetahui bahwa Rasulullah saaw tidak ada di rumah dan terlepas dari kepungan mereka, maka mereka menjelajahi seluruh kota untuk mencari Nabi. Akhirnya kafir Quraisy sampai juga di gua Tsur. Tetapi dengan idzin Allah, di muka gua itu terdapat sarang laba-laba berlapis-lapis, seolah-olah terjadinya beberapa minggu sebelum Nabi dan Abu Bakar pergi dari Makkah. Melihat ada sarang laba-laba yang utuh, mereka tidak curiga bahwa ada orang di dalam gua itu. Maka gagallah pengejaran mereka. Abu Bakar berkata, “Seandainya mereka melihat kaki mereka, niscaya mereka akan melihat kita.” Lalu Raulullah saaw bersabda, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita.”
    Jikalau kamu tidak menolong Muhammad maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya dari Mekah sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. 9: 40]
    Maka Rasulullah saw dan Abu Bakar bersembunyi di gua itu beberapa hari, menunggu keadaan aman. Ketika Rasulullah merasa letih dan tertidur, Abu Bakar melihat ada lubang-lubang yang kemungkinan adalah sarang ular. Maka Abu Bakar merobek-robek bajunya untuk menyumpal lubang-lubang itu. Setelah bajunya habis, masih terdapat satu lubang yang belum tertutup. Maka Abu Bakar menutupnya dengan jempol kakinya. Akan tetapi ternyata, lubang yang dia tutup dengan jempol kakinya itulah yang terdapat ularnya. Ular itu pun menggigit jempol kaki Abu Bakar yang mulya itu. Maka keluarlah peluh dari tubuh Abu Bakar mengenai Rasulullah hingga beliau saaw terjaga. Mengetahui keadaan Abu Bakar, beliau saaw langsung menghisap bisa dari jempol kaki Abu Bakar dengan mulutnya yang mulya dan mengeluarkan bisa itu. Lalu Rasulullah kembali menenangkan Abu Bakar dan memberinya semangat.
    Setelah tiga hari bersembunyi di gua itu, dan keadaan sudah dirasakan aman, maka Rasulullah saaw dan Abu Bakar baru meneruskan perjalanan menyusuri pantai Laut Merah, dan Ali bin Abi Thalib menyusul kemudian.

  • RASULULLAH SAAW TIBA DI YATSRIB

    Nabi tiba di Yatsrib pada bulan Rabi’ul Awwal bersama Abu Bakar dan Ali. Di tengah perjalanan, Nabi tinggal di Kuba selama beberapa hari untuk menunggu Ali bin Abi Thalib.
    Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Ketika Rasulullah saw datang ke Yatsrib, baginda singgah di kawasan yang agak tinggi di kota itu, yaitu sebuah tempat yang bernama Bani Amru bin Auf. Baginda tinggal bersama mereka selama empat belas malam.
    Kemudian baginda menyuruh supaya memanggil pemimpin Bani Najjar. Lalu mereka pun datang membawa pedang masing-masing. Aku seolah-olah melihat Rasulullah saw di atas untanya, manakala Abu Bakar berada di belakang baginda, sementara pemimpin Bani Najjar mengelilingi baginda. Baginda membiarkan saja unta baginda itu membawanya hinggalah baginda tiba di halaman rumah milik Abu Ayyub. Rasulullah saw shalat walau di mana saja bila tiba waktu shalat, baginda shalat di dalam kawasan pemeliharaan kambing. Kemudian baginda memerintahkan supaya didirikan sebuah masjid.
    Lalu baginda menyuruh memanggil pemimpin Bani Najjar itu, mereka pun datang. Lalu baginda bersabda, “Wahai Bani Najjar! Nyatakan harga kebunmu ini kepadaku.” Lalu mereka menjawab, “Tidak! Demi Allah, kami tidak mau harganya kecuali kepada Allah.” (Maka Rasulullah membayar tempat itu sesuai harga tanah waktu itu.) Mengikut pengetahuanku, dalam kebun itu terdapat pokok kurma, kubur orang-orang Musyrikin dan runtuhan bangunan. Lantas Rasulullah saaw memerintahkan supaya memotong pokok kurma, membongkar kubur orang-orang Musyrikin dan meratakan runtuhan bangunan.
    Lalu mereka menjadikan pohon kurma tersebut sebagai arah kiblat dan sebuah batu besar sebagai bahu pintu gerbang
    Mereka melakukan pekerjaan berat itu sambil mengalunkan syair dan Rasulullah saaw ada bersama mereka. Mereka bersyair: “Ya Allah! Sesungguhnya tiada kebaikan yang terlebih baik melainkan kebaikan akhirat. Bantulah orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ahmad]
    Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Shalat satu waktu di masjidku adalah lebih utama daripada mengerjakan shalat sebanyak seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, An-Nasai]
    Dari Abu Hurairah ra katanya: Nabi saaw pernah bersabda, “Janganlah kamu bersusah payah musafir untuk shalat kecuali menuju ke tiga buah masjid yaitu masjidku ini yaitu masjid Nabawi, Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha. [HR. Bukhori, Muslim, An-Nasai]
    Demikianlah Nabi membangun negara-kota di Yatsrib yang kemudian disebut Madinatun Nabi (Kota Nabi), yang biasa kita sebut Madinah.
    Setelah itu Rasulullah meminta pendapat para shahabat, bagaimana cara memanggil kaum muslimin ketika datang waktu shalat. Sebahagian daripada mereka berkata, “Bunyikanlah loceng sebagaimana loceng orang Nasrani.” Sebahagian lagi berkata, “Bunyikanlah trompet seperti trompet orang Yahudi.” Maka Rasulullah menunda keputusannya. Beliau menyuruh mereka untuk berfikir lagi di rumah.
    Kemudian Umar dan Abdullah bin Zaid bin Tsa’labah bermimpi bertemu seseorang yang mengajarkan mereka kalimat adzan. Lalu Abdullah bin Zaid menemui Rasulullah keesokan paginya dan menceritakan perihal mimpinya. Lalu Rasulullah menyuruhnya untuk mengajarkan kalimat-kalimat itu kepada Bilal, sebab suaranya lebih nyaring dan lebih bagus. Kemudian ketika datang waktu shalat, Rasulullah menyuruh Bilal untuk adzan. Umar yang mendengar adzan itu menemui Rasulullah saaw dan berkata, “Wahai Rasulullah, inilah yang aku mimpikan semalam.”

  • PERALIHAN ARAH QIBLAT

    Pada tahun 2 Hijriyah setelah 16 bulan Nabi tiba di Madinah terjadilah peristiwa penting, yaitu arah qiblat yang tadinya ke Baitul Maqdis di Yerusalem, berubah ke Ka’bah di Makkah. (lebih…)

  • PERANG BADR AL-KUBRA

    Perang Badar terjadi pada tahun 2 Hijriah. Pasukan Makkah yang berkekuatan seribu orang dengan senjata lengkap, bergerak menuju Madinatun Nabi untuk menghancurkan masyarakat muslim Madinah. (lebih…)

  • PERANG UHUD

    Dari Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah saaw pernah bersabda, “Sesungguhnya Bukit Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita juga memang mencintainya.” [HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi] (lebih…)