Kategori: Fikrah

  • Hadits Mengenai Khawarij

    Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

    Kaum khawarij itu juga membaca Al-Qur’an. Namun bacaan mereka tidak sampai tertanam di hati dengan benar. Sehingga yang mereka ikuti itu bukanlah Al-Qur’an berdasarkan pemahaman yang benar. Bahkan mereka itu mengikuti penafsiran berdasarkan nafsu mereka dan ustadz-ustadz mereka.

    Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]

    Mereka merasa bahwa mereka adalah manusia terbaik. Hal ini dapat kita lihat pada sikap mereka yang enggan bermadzhab. Padahal para ulama hadits pun bermadzhab kepada salah satu imam dari 4 imam madzhab. Mereka bukan saja merasa sebagai manusia terbaik di zamannya. Bahkan mereka merasa sebagai manusia yang lebih hebat dari para ulama hadits sebelum mereka. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka sama dengan 4 imam madzhab. Sehingga mereka merasa tidak perlu bermadzhab. Mereka merasa pantas untuk berijtihad.

    Bahkan pendahulu mereka telah merasa lebih baik dari Nabi dengan berkata, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil!” Coba Anda renungkan! Siapakah manusia yang paling tinggi taqwanya? Sedangkan adil adalah salah satu bagian dari taqwa. Manusia paling bertaqwa itu tentu saja Nabi Muhammad Imamul Anbiya wa Sayyidul Mursalin, uswatun hasanah ‘ala khuluqil azhim. Adakah manusia yang lebih adil dari Rasul SAW?

    Mereka telah menimbulkan masalah yang cukup serius. Mereka telah melakukan pembunuhan terhadap Muslimin yang bertentangan dengan mereka. Melakukan pemboman yang menyebabkan korban nyawa dan luka parah dari kaum Muslimin. Mereka telah menghalalkan darah ummat Islam tanpa alasan yang haq. Mereka telah melakukan tindakan-tindakan yang dapat membatalkan ke-Islaman mereka. Mereka keluar dari Islam, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka keluar jauh dari Islam. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Memerangi mereka dalam diskusi merupakan ibadah. Membunuh mereka di medan perang ada pahalanya di akhirat kelak.

    Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Ali yang menjadi utusan di Yaman, mengirimkan emas yang belum diproses kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda membahagikannya kepada empat atau beberapa orang iaitu al-Aqra’ bin Haabis, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin Ulasah al-Amiri, kemudian kepada seorang dari Bani Kilab iaitu Zaid al-Khair At-Tha’ie, juga kepada seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Engkau memberikannya kepada pemimpin-pemimpin Najd, tetapi meninggalkan kami iaitu tidak memberikannya kepada kami? Rasulullah s.a.w bersabda: Aku lakukannya untuk memujuk hati mereka. Setelah itu datang seorang lelaki yang berjanggut tebal dan menonjol rahangnya. Manakala kedua matanya cengkung dan dahinya pula menonjol keluar. Kepalanya juga botak iaitu kesan cukur. Dia berkata: Takutilah Allah, wahai Muhammad! Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa lagi yang lebih taat kepada Allah kiranya aku menderhakaiNya? Tidakkah Dia mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan engkau tidak mempercayaiku? Lalu lelaki itu beredar. Seorang di antara orang ramai meminta izin untuk membunuh lelaki tersebut. Tetapi Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara kaumku ini, ada orang-orang yang membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka mampu membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala hidup. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik]

    Hadis Sahl bin Hunaif r.a: Diriwayatkan daripada Yusair bin Amr katanya: Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif: Adakah engkau pernah mendengar Nabi s.a.w menceritakan tentang Khawarij? Sahl menjawab: Aku mendengarnya sambil menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Suatu golongan membaca al-Quran dengan lidah mereka, tetapi tidak sampai ke otak mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad]

  • Bumi Mengelilingi Matahari

    Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih mudah (secara matematika) & lebih elegan (secara filosofis) bahwa Matahari berada di pusat, sementara Bumi & planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Semua punya penjelasan yang memuaskan, secara teori untuk mengatakan hal itu.

    Sampai sekarang, pelajaran SMU fisika pun memberikan penjelasan yang jelas & memuaskan, bahwa memang demikian adanya. Massa matahari yang jauh lebih besar daripada planet-planet membuat planet-planet harus tunduk pada ikatan gravitasi Matahari, sehingga planet-planet tersebut bergerak mengitari Matahari sebagai pusat. Demikian dari hukum Gravitasi Newton.

    Perumusan matematikanya secara gamblang dan jelas dijelaskan oleh perumusan Kepler, hanya karena Matahari yang menjadi pusat sistem.

    Kalau memang begitu adanya dan tidak percaya, bagaimana membuktikannya? Gampang, terbang saja jauh-jauh dari sistem tata surya ke arah kutub, dan lihatlah bagaimana Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Tentu saja ini adalah pernyataan yang bersikap humor. Tapi ini memang menjadi pertanyaan penting, bagaimana membuktikannya?

    Bapak-bapak yang telah disebutkan tadi, tentu saja mempunyai pendapat yang berlaku sebagai hipotesa, dan harus bisa dibuktikan melalui pembuktian yang teramati/eksperimentasi. Apabila eksperimen berkesesuaian dengan hipotesa, maka hipotesa diterima dan itu menjadi teori. Bukankah demikian?

    Baik, sekarang bagaimana membuktikannya? Satu-satunya cara membuktikan fenomena langit adalah melalui ilmu astronomi, yaitu ketika pengamatan dilakukan pada benda-benda langit lalu memberikan penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenarnya terjadi disana.

    Tentu tidaklah mudah memberikan bukti yang langsung bisa menjelaskan secara cespleng bahwa Bumi berputar mengitari Matahari, bukankah lebih mudah mengatakan kebalikannya? Tapi seperti yang telah disampaikan, itu akan menjadi tidak baik, tidak mudah dan tidak elegan untuk menyatakan demikian. Ternyata dari pengamatan astronomi menunjukkan bahwa memang Bumi yang mengitari Matahari. Tidak percaya?

    Bukti pertama, adalah yang ditemukan oleh James Bradley (1725). Pak Bradley menemukan adanya aberasi bintang.

    Apa itu aberasi bintang? Bayangkan kita sedang berdiri ditengah-tengah hujan, dan air hujan jatuh tepat vertikal/tegak lurus kepala kita. Kalau kita menggunakan payung, maka muka & belakang kepala kita tidak akan terciprat air bukan? Kemudian kita mulai berjalan ke depan, perlahan-lahan & semakin cepat berjalan, maka seolah-olah air hujan yang tadi jatuh tadi, malah membelok dan menciprati muka kita. Untuk menghindarinya maka kita cenderung mencondongkan payung ke muka. Sebetulnya air hujan itu tetap jatuh tegak lurus, tetapi karena kita bergerak relatif ke depan, maka efek yang terjadi adalah seolah-olah membelok dan menciprat ke muka kita.

    Demikian juga dengan fenomena aberasi bintang, sebetulnya posisi bintang selalu tetap pada suatu titik di langit, tetapi dari pengamatan astronomi, ditemukan bahwa posisi bintang mengalami pergeseran dari titik awalnya, pergeserannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bawha memang sebenarnyalah bumi yang bergerak.

    Mari kita tinjau Gb.1.
    Efek Aberasi Bintang
    Aberasi terjadi jika pengamat adalah orang yang berdiri ditengah hujan, dan arah cahaya bintang adalah arah jatuhnya air hujan. Kemudian pengamat bergerak tegak ke muka, tegak lurus arah jatuhnya hujan. S menyatakan posisi bintang, E posisi pengamat di Bumi. Arah sebenarnya bintang relatif terhadap pengamat adalah ES, jaraknya tergantung pada laju cahaya. Kemudian Bumi BERGERAK pada arah EE’ dengan arah garis merepresentasikan lajunya. Ternyata pengamatan menunjukkan bahwa bintang berada pada garis ES’ alih-alih ES, dengan SS’ paralel & sama dengan EE’. Maka posisi tampak binang bergeser dari posisi sebenarnya dengan sudut yang dibentuk antara SES’.Jika memang Bumi tidak bergerak, maka untuk setiap waktu, sudut SES’ adalah 0, tetapi ternyata sudut SES’ tidak nol. Ini adalah bukti yang pertama yang menyatakan bahwa memang Bumi bergerak.

    Bukti kedua adalah paralaks bintang. Bukti ini diukur pertama kali oleh Bessel (1838). Paralaks bisa terjadi jika posisi suatu bintang yang jauh, seolah-olah tampak ‘bergerak’ terhadap suatu bintang yang lebih dekat. (Gb.2). Fenomena ini hanya bisa terjadi, karena adanya perubahan posisi dari Bintang akibat pergerakan Bumi terhadap Matahari. Perubahan posisi ini membentuk sudut p, jika kita ambil posisi ujung-ujung saat Bumi mengitari Matahari. Sudut paralaks dinyatakan dengan (p), merupakan setengah pergeseran paralaktik bilamana bintang diamati dari dua posisi paling ekstrim.

    Paralaks Bintang

    Paralaks Bintang
    Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Ini hanya bisa dijelaskan jika Bumi mengitari Matahari, dan bukan kebalikannya.Bukti ketiga adalah adanya efek Doppler.Sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Newton, bahwa ternyata cahaya bisa dipecah menjadi komponen mejikuhibiniu, maka pengetahuan tentang cahaya bintang menjadi sumber informasi yang sahih tentang bagaimana sidik jari bintang (baca tulisan saya tentang ‘fingerprint of the star’) . Ternyata pengamatan-pengamatan astronomi menunjukkan bahwa banyak perilaku bintang menunjukkan banyak obyek-obyek langit mempunyai sidik jari yang tidak berada pada tempatnya. Bagaimana mungkin? Penjelasannya diberikan oleh Bpk. Deppler (1842), bahwa jika suatu sumber informasi ‘bergerak’ (informasi ini bisa suara, atau sumber optis), maka terjadi ‘perubahan’ informasi. Kenapa bergeraknya harus tanda petik? Ini bisa terjadi karena pergerakannya dalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumbernya yang bergerak? Demikian pada sumber cahaya, jika sumber cahaya mendekat maka gelombang cahaya yang teramati menjadi lebih biru, kebalikannya akan menjadi lebih merah. Ketika Bumi bergerak mendekati bintang, maka bintang menjadi lebih biru, dan ketika menjauhi menjadi lebih merah.Disuatu ketika, pengamatan bintang menunjukkan adanya pergeseran merah, tetapi di saat yang lain, bintang tersebut mengalami pergeseran Biru. Jadi bagaimana menjelaskannya? Ini menjadi bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa ternyata Bumi bergerak (bolak-balik – karena mengitari Matahari), mempunyai kecepatan, relatif terhadap bintang dan tidak diam saja.Dengan demikian ada tiga bukti yang mendukung bahwa memang Bumi bergerak mengitari matahari, dari aberasi (perubahan kecil pada posisi bintang karena laju Bumi), paralaks (perubahan posisi bintang karena perubahan posisi Bumi) dan efek Doppler (perubahan warna bintang karena laju Bumi).

    Tentu saja bukti-bukti ini adalah bukti-bukti ILMIAH, dimana semua pemaknaan, pemahaman dan perumusannya mempergunakan semua kaidah-kaidah ilmiah, masuk akal dan ber-bobot kebenaran ilmiah. Apakah memang demikian adanya? Seperti yang ungkapkan, sampai detik ini belum ada teknologi yang bisa membuat kita bisa terbang jauh-jauh ke luar angkasa, sedemikian jauhnya sehingga bisa melihat memang begitulah yang sebenarnya. Tetapi, pembuktian metode ilmiah selama ini cukup sahih untuk menjawab banyak ketidak-pahaman manusia tentang posisinya di alam. Dan bukti-bukti yang telah disebutkan tersebut cukup untuk menjadi landasan untuk menjawab bahwa memang Bumi mengitari Matahari; dari pengetahuan Bumi mengitari Matahari, banyak hal-hal yang telah diungkap tentang alam semesta ini, sekaligus menjadi landasan untuk mencari jawab atas banyak hal yang belum bisa dijawab pada saat ini.

    (nggieng)

    Tambahan:

    Seorang ilmuwan muslim bernama ibnu al-Shatir (1304–1375M), dalam kitabnya yang berjudul Nihayat as-Sul fi Tashih al-Usul mengagas teori heliocentris. Perlu diketahui masa hidup Ibnu Shatir adalah sebelum Copernicus (1473-1543M). Penelitian ahli sejarah menemukan bahwa karya Copernicus mirip dengan yang diperoleh oleh Ibnu Shatir sehingga muncul dugaan bahwa pemikiran Copernicus adalah hasil mencontek dari Ibnu Shatir (nahh!!).

    Akhir kata, saya katakan: Ulama adalah manusia biasa, masihkah engkau menuhankannya ??!?!?

  • Tanggapan Habib Munzir Atas Insiden Monas

    Habib MunzirKedermawanan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dengan kesejahteraan, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Dengan semakin padatnya desakan terhadap saya lewat email, forum web ini, surat, fax dll untuk memberi tanggapan dan penjelasan permasalahan apa yg diperbuat Majelis Rasulullah saw terhadap Tragedi Monas, maka dengan ini saya menyampaikan sekilas singkat saja tindakan Majelis Rasulullah saw atas hal ini, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Jumlah pengikut Ahmadiyyah di Nusantara ini tidak mencapai 250.000 personil saja, mereka sudah ada sebelum Indonesia merdeka, jumlah mereka sangat sedikit masa itu, namun yg menyebabkan perkembangan mereka bukanlah kehebatan dakwah mereka, namun penyebabnya adalah kegelapan ummat atas iman dan pemahaman akan akidah islam, Jumlah mereka tak mencapai 1% muslimin dimuka bumi, sedangkan yg mesti kita benahi bukan hanya Ahmadiyah, namun juga saudara saudara kita muslimin yg terjebak narkoba, miras, perzinahan, perjudian, kriminal, korupsi, penipuan, kemalasan melakukan hal yg fardhu, seperti meninggalkan shalat lima waktu, tidak mau puasa ramadhan, wanita muslimah yg tak mau menutup auratnya, maraknya aliran sesat seperti Lia Eden, Ahmad Mushoddiq, dan sangat banyak lagi dan diantaranya adalah ahmadiyah, penyebabnya satu saja, yaitu kerusakan iman.. (lebih…)

  • Tanggapan Habib Munzir Atas Insiden Monas

    Habib MunzirKedermawanan Nya swt semoga selalu menaungi hari hari anda dengan kesejahteraan, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Dengan semakin padatnya desakan terhadap saya lewat email, forum web ini, surat, fax dll untuk memberi tanggapan dan penjelasan permasalahan apa yg diperbuat Majelis Rasulullah saw terhadap Tragedi Monas, maka dengan ini saya menyampaikan sekilas singkat saja tindakan Majelis Rasulullah saw atas hal ini, Saudara saudariku muslimin muslimat yg kumuliakan, Jumlah pengikut Ahmadiyyah di Nusantara ini tidak mencapai 250.000 personil saja, mereka sudah ada sebelum Indonesia merdeka, jumlah mereka sangat sedikit masa itu, namun yg menyebabkan perkembangan mereka bukanlah kehebatan dakwah mereka, namun penyebabnya adalah kegelapan ummat atas iman dan pemahaman akan akidah islam, Jumlah mereka tak mencapai 1% muslimin dimuka bumi, sedangkan yg mesti kita benahi bukan hanya Ahmadiyah, namun juga saudara saudara kita muslimin yg terjebak narkoba, miras, perzinahan, perjudian, kriminal, korupsi, penipuan, kemalasan melakukan hal yg fardhu, seperti meninggalkan shalat lima waktu, tidak mau puasa ramadhan, wanita muslimah yg tak mau menutup auratnya, maraknya aliran sesat seperti Lia Eden, Ahmad Mushoddiq, dan sangat banyak lagi dan diantaranya adalah ahmadiyah, penyebabnya satu saja, yaitu kerusakan iman..

    Maka janganlah kita terpaku hanya pada Ahmadiyah satu saja yg tak mencapai 1% dari jumlah muslimin di Indonesia, sedangkan kerusakan ummat yg lain kita lupakan sedangkan jumlahnya jauh lebih banyak, merusak anak anak kita, keluarga dan sahabat kita yg terus berjatuhan pada kemurkaan Allah swt setiap detiknya, Ahmadiyyah dibubarkan atau tidak oleh pemerintah kita, itu bukan tolak ukur bagi kita, karena pembubaran itu akan bersifat semu jika akidah dan iman ummatnya tidak dibenahi, dan pembubaran itu hanya akan menutup satu golongan, yg kemudian timbul ratusan lagi aliran sesat yg membingungkan ummat, Kita jangan terpaku pada pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah atau tidak, kita muslimin muslimat berjuang membenahi anggota Ahmadiyah agar kembali kepada Al Haqq, maka pemerintah membubarkannya atau tidak, memeranginya atau tidak, kita tetap bergerak tanpa harus menunggu dahulu pemerintah yg melakukannya, Kita lihat sendiri betapa dahsyatnya kerusakan akidah muslimin, saat bangkit saudara kita mengkontra ahmadiyah, namun muslimin lainnya bangkit pula mendukung ahmadiyah dan membelanya..

    Saudaraku Muslimin Muslimat yg kumuliakan, hentikan Demo Ahmadiyah, hentikan kekerasan atas AHmadiyah, hentikan tuntutan untuk pembubaran atas Ahmadiyah, karena dengan perbuatan saudara saudara kita yg memerangi Ahmadiyah dengan kasar dan menuntut dengan desakan keras pada pemerintah untuk pembubaran Ahmadiyah justru bukanlah membuat Ahmadiyah sirna, justru sebaliknya..!, bagaimana…?? Subhanallah…, inilah yg sangat menakutkan dan berbahaya, justru bukan Ahmadiyah nya yg tak mencapai 1% jumlah muslimin, namun justru Muslimin yg membela dan melindungi Ahmadiah berubah menjadi jutaan banyaknya…!, pendukung Ahmadiyah semakin banyak, yg mendukungnya kini bukan hanya Negara Adikuasa musuh islam, namun kini jutaan Muslimin muslimat menaruh simpatik dan iba terhadap Ahmadiyah, Mungkin sebagian muslimin yg awam kini akan memberi infak besar dan rela melindungi Ahmadiyah dari kejaran muslimin karena tak tega melihat mereka dikejar kejar dan didholimi..

    Inilah dampak yg sangat buruk dari kekerasan sebagian saudara kita muslimin, Saudara saudariku yg kumuliakan, bangkitlah.., kembalilah pada kelembutan Nabi saw, pada akhlak beliau saw, pada kesantunan beliau saw, dengan itu anggota anggota Ahmadiyah akan luntur dan kembali pada Iman dan Islam, undang dan ajak mereka ke majelis majelis taklim, ajak mereka makan bersama, undang mereka saat acara acara islami, ajak anak anak mereka hadir acara acara islami, bantu mereka yg susah, selalulah berlemah lembut pada mereka, namun tetap bahwa kita tak sefaham dengan mereka dalam masalah akidah, sungguh mereka akan mulai merasa bahwa merekalah yg salah, karena merasa beda sendiri dari muslimin lainnya, terpuruk dan membenci orang muslimin banyak, sedangkan orang orang muslim ternyata baik pada mereka, mereka akan malu sendiri dan menemukan kebenaran, Dan Ingat, bukan hanya Ahmadiyah, tapi seluruh lapisan masyarakat yg terkena ajaran sesat, seperti Lia Eden, Mushoddiq, dll, juga saudara saudara kita yg terjebak narkotika, perzinahan, perjudian, miras, dll janganlah dikasari dan dicaci maki dan dimusuhi, rangkullah mereka untuk berbaur dengan orang yg baik baik hingga mereka mengenal hal yg baik baik bersama orang yg baik dan ramah pada mereka.

    Mengenai pemerintah, maka hati hatilah, memang Negara adikuasa sangat menginginkan muslimin bisa diadu domba dengan pemerintahnya sendiri, maka tak perlu Negara musuh musuh islam itu turun tangan menghancurkan simpul simpul kekuatan islam, namun biarlah pemerintah di negeri mereka masing masing yg menghantam mereka, sehingga muslimin saling hantam dengan pemerintahan di negaranya masing masing, mereka kuffar bertepuk tangan atas kejadian ini, media terus meliput kekerasan dan anarkis beberapa gelintir para pemuda peci putih dan pakaian sunnah, namun itu membuat pakaian sunnah dibenci dan identik dengan kekerasan, bukan kedamaian.. inilah harapan besar para Negara musuh islam, agar muslimin yg awam menjadi benci pada pakaian islami, atau malu memakai pakaian islami, karena takut dituduh anarkisme.. maka setelah bulan maulid yg diberkahi Allah swt di negeri kita dengan semakin dahsyatnya gerakan perayaan maulid yg semarak dan menarik perhatian muslimin yg awam untuk memperbaiki diri dan bernaung dibawah sunnah, disaat Jakarta dan wilayah wilayah lainnya mulai terang benderang dengan muslimin yg memakai peci putih, sarung, dll, kini berubahlah mereka pada kemunduran…, semua asesoris islami didentikkan dengan kekerasan dan terorisme, selama ini ketika misalnya naik beberapa pemuda bepeci putih, berbaju putih dan berbusana islami ke sebuah Bus umum misalnya, maka masyarakat awam akan simpatik dan tenang, wah.. pasti anak baik baik, harapan bangsa, pasti dari maulidan atau pengajian, Alhamdulillah…, keberadaan mereka membuat sejuknya jiwa manusia disekitarnya, namun kini ketika naik sekelompok pemuda berbusana muslim,peci putih, baju putih, maka orang orang awam mencibir benci, atau risau dan takut, jangan jangan mau swiping, jangan jangan mau merusak, jangan jangan anggota gerakan anarkis, mereka sudah takut dan benci dengan pakaian islami.. jika masuk sekelompok anak muda dg busana muslim ke sebuah pasar atau pertokoan, maka para satpam tidak lagi merasa aman, mereka langsung curiga dan bermuka masam.. muslimin yg awam kini merasa lebih aman jika melihat orang berbusana kuffar, wanita yg bercelana pendek, pria beranting dan memakai cincin besi dihidung dan bibirnya, mereka merasa lebih aman dengan itu daripada pemuda berbusana sunnah Rasul saw.. inilah kemauan dan tujuan musuh musuh islam…

    Saudara saudariku yg kumuliakan, bangkitlah, bersatulah.., lupakan seluruh atribut kita, kita akan bangkit dihari kiamat dibawah satu pimpinan, yaitu Sayyidina Muhammad saw.. tidak ada panji kelompok, panji organisasi, dan panji partai, yg akan berkibar disana hanya bendera Muhammad Rasulullah saw yg akan ditegakkan, dan panji ummat ummat sebelum beliau dengan Nabinya masing masing, maka bersatulah, satukan niat, ingatlah sebidang tanah kubur kita yg sudah menanti tubuh kita dibelahan bumi ini, mereka sudah diberi kepastian bahwa fulan bin fulan akan bersemayam dibawah mereka.., ketika engkau mengingat kepastian saat saat tubuhmu diturunkan pelahan kedalam bumi, lalu kain penutup wajahmu dilepas, lalu kau dihadapkan ke kanan, wajahmu diciumkan ke tanah dinding kubur yg lembab, dan punggungmu diganjal batu bata agar kau tak lepas dari mencium dinding tanah kuburmu, lalu kayu kayu papan disusunkan satu persatu menutupmu, lalu mulailah tanah ditimbunkan padamu, diiringi tangis keluarga dan sahabat sahabatmu, lalu suasana gelap gulita…, sebagaimana sabda Nabi saw riwayat shahih Bukhari, bahwa kau akan mendengar langkah langkah para penguburmu yg berderap menjauh meninggalkan kuburmu.., inilah nasib semua manusia.., inilah akhir dari segala kehidupan, segala karya, usaha, pemikiran, pendapat, perjuangan,kekayaan, kemiskinan,kenikmatan, kesedihan, jabatan, kesibukan dan semua aktifitas yg dilakukan manusia dimuka bumi.., inilah puncak dan akhir dari semuanya.. tinggallah kau sendiri dengan Allah.., bagaimana Allah akan memperlakukan kita?, cukupkah amal amal kita?

    Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yg tak mengasihani orang, maka Allah tak mengasihaninya” (Shahih Bukhari). Maka bersatulah.. dan saling mengasihilah.. kita doakan semua saudara saudara muslim kita yg teraniaya sebab masalah ini agar diberi ksembuhan dan kesabaran, dan saudara saudara kita yg bermasalah dengan fihak yg berwajib agar segera dibebaskan, dan semoga Allah swt segera memadamkan api fitnah permusuhan antara sesame muslimin, dan agar Allah swt segera membantu kita untuk mentauhidkan mereka yg dalam kerusakan akidah, amiin… amiin..amiin.. Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu. Akhir kata, mari kita benahi iman ummat ini, maka terkikislah ahmadiyah, narkoba, perzinahan, korupsi, dan seluruh aliran sesat dan perbuatan sesat.

    Allah menumpahkan kekuatan dan kemudahan padaku dan kalian dalam perjuangan ini, amiin
    Wallahu a’lam

    (Habib Munzir Al-Musawa)

  • Kemasan Da’wah dan Ibadah

    Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.”

    (lebih…)

  • Kemasan Da’wah dan Ibadah

    Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.” (lebih…)

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Ada-ada saja kelompok pemuda yang lemah aqal di zaman ini. Betapa teganya mereka berbicara yang tidak-tidak tentang ibunda dan ayahanda baginda Nabi Muhammad SAAW. Mereka berkata bahwa ayah-bunda Nabi masuk neraka. Sungguh tuduhan yang menyakiti hati sang Nabi pilihan. Untuk itu, Guru kita Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah memberikan penjelasan yang dapat Anda baca di sini.

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Dalam banyak hadits teriwayatkan ketika ditanyakan pada nabi saw:
    “Apa yg kau perbuat untuk pamanmu abu thalib? Dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu..,” maka Rasul saw bersabda : “Dia di pantai api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yg terdalam” (Shahih Bukhari hadits no.3670, 5855, Shahih Muslim hadits no.209)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy: “Berkata Imam Baihaqi di dalam penjelasan riwayat masalah Abu Thali : ‘Tiada makna pengingkaran karena telah shahihnya riwayat ini, dan bentuknya menurutku bahwa syafaat pada kafir terhalang sebagaimana sampainya kabar yang jelas dan benar, bahwa tiada yang bisa memberi syafaaat pada kafir seorangpun, namun ini adalah makna umum bagi semua kafir, dan boleh saja ada kekhususan darinya bagi siapa yang telah dikuatkan kekhususan baginya (Rasul saw).

    Berkata sebagian mereka yang berpendapat bahwa balasan orang kafir daripada siksa adalah atas kekufurannya dan maksiatnya, maka boleh saja Allah mengurangkan sebagian dari siksa orang kafir, demi menenangkan hati sang Nabi saw pemberi syafaat, bukan karena pahala bagi orang kafir, karena pahalanya telah hapus karena kematiannya.’” (Fathul Baari Al masyhur Juz 11 hal 431).

    Perhatikan ucapan Imam : “demi menenangkan hati sang nabi saw pemberi syafaat,” lalu bagaimana lagi dengan ayah bunda Nabi saw…???

    Juga diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “Bagaimana keadaanmu?” Abu lahab menjawab : “Di neraka, cuma diringankan siksaku setiap Senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

    Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, atau pun mimpi Pendeta Buhaira atas kebangkitan Rasul saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw, demikian pula mimpi Ibunda Rasul saw yang Allah ilhamkan untuk memberi beliau saw nama “Muhammad”, tentunya mustahil nama Muhammad itu datang dari bibir musyrik. Itulah mimpi yang benar.

    Maka para Imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh para Imam dan mereka tak mengingkarinya, bahkan berkata Imam Ibn Hajar dan Imam Assuyuthiy: “Perlu pertimbangan untuk memungkiri itu karena telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.”

    Karena memang shahih Bukhari adalah kitab hadits tertinggi dan terkuat dari semua kitab hadits, dan Imam Bukhari digelari Sayyidul Muhadditsin (Raja para Ahli Hadits), gelar ini dikatakan oleh Imam Muslim yang ta’jub ketika melihat Imam Bukhari dapat menjawab dengan mudah permasalahan yang tak bisa dipecahkan olehnya, maka berkata Imam Muslim: “Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Guru para Guru Ahli Hadits, wahai Raja para ahli hadits, wahai penyembuh hadits dari ilatnya..!”

    Dengan penjelasan diatas, bila Abu Thalib yang hidup di masa Nabi dapat syafaat Rasul saw hingga teringankan siksanya, dan bahkan Raja semua kafir yaitu Abu lahab bahkan mendapat keringanan siksanya karena pernah membebaskan budaknya yaitu Tsuwaibah karena gembiranya menyambut kelahiran Nabi SAW, maka bagaimana lagi ayah bunda Rasul saw, yang melahirkan Nabi saw, dan mereka tak sempat hidup di masa kebangkitan Risalah Nabi saw dan tak sempat kufur atau pun menolak ajaran Rasul saw?

    Demikian pendapat sebagian ulama bahwa ayah dan ibu Nabi SAW bebas dari kemusyrikan dan neraka, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka menyembah berhala. Diantara Ulama yg berpendapat bahwa ayah bunda Nabi bukan musyrik adalah :
    Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam Attabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Satu hal yang buruk pada jiwa para wahhabi, adalah mengumpat Nabi saw dg pembahasan ini. Naudzubillah dari jiwa busuk yang mengumpat Rasulullah saw, menuduh bunda Nabi kafir musyrik. Lalu bagaimana bila hal ini tak benar? Sungguh kekufuran akan berbalik kepada mereka.

    Saudaraku, beribu maaf, misalkan seseorang bernama Amir tak jelas apakah ayah ibunya muslim atau kafir. Lalu Zeyd menukil 100 cara untuk menjelaskan pada orang banyak bahwa ayah dan ibunya Amir adalah musyrik dan kafir. Bukankah berarti Zeyd memusuhi Amir? Bukankah ini umpatan terburuk? Bukankah jelas-jelas Zeyd mengumpat Amir? Bukankah berarti ia musuh besar Amir?

    Mereka berkata : “Kami taqlid kepada para Mujtahid.” Ketahuilah, taqlid kepada para mujtahid membutuhkan sanad, bukan taqlid kepada buku.

    Dan pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i bahwa ayah bunda Nabi saw selamat karena tergolong ahlul fithrah, karena tak ada bukti bahwa mereka menyembah berhala.

    Mengenai hadits : “Ayahku dan ayahmu di Neraka” (HR. Shahih Muslim)

    Kalimat “Abiy” dalam ucapan Nabi saw diatas tak bisa diterjemahkan mutlak sebagai ayah kandung, sebagaimana firman Allah SWT : “Berkata Ya’kub ketika akan wafat kepada putra-putranya : ‘apa yg akan kalian sembah setelah wafatku nanti?’ Mereka menjawab : ‘Kami menyembah Tuhanmu, dan Tuhan ayah-ayahmu yaitu Ibrahim, dan Ismail dan Ishaq… (QS. Al-Baqarah 133)

    Jelas sudah bahwa ayah dari Ya’qub hanyalah Ishaq, sedangkan Ibrahim adalah kakeknya, dan Ismail adalah paman Ya’qub. Namun mereka mengatakan : ‘ayah-ayahmu’ namun bermakna : ‘ayahmu, kakekmu, dan pamanmu’. Karena dalam kaidah Arabiyyah sering terjadi ucapan ayah, adalah untuk paman.

    Bila siksa, keringanan dan ampunan adalah urusan Allah, dan Allah meringankan Abu lahab, dan meringankan Abu Thalib, maka lebih-lebih ayah bunda Nabi saw.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi dalam kitabnya Masalikul Hunafaa’ fi Abaway Musthofa, bahwa riwayat hadits shahih Muslim itu diriwayatkan oleh Hammad, dan ia adalah Muttaham (tertuduh), dan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits lain darinya kecuali ini. Dan riwayat hadits itu (ayahku dan ayahmu di neraka) adalah hadits riwayat Hammad sendiri, dan Hammad dianggap sebagai orang yang lemah hafalannya, dan ia terkelompok dalam orang yang hadits-hadistnya banyak diingkari, karena lemah hafalannya dan Imam Bukhari tidak menerima Hammad, dan tak mengeluarkan satu hadits pun darinya.

    Dan Imam Muslim tak punya riwayat lain dari Hammad kecuali dari Tsabit ra dari riwayat ini, dan telah berbeda riwayat lain dari Muammar yang juga dari Tsabit ra dari Anas ra dengan tidak menyebut lafazh : ‘ayahku dan ayahmu di neraka,’ tetapi dikatakan padanya “Bila kau lewat di kubur orang-orang kafir, fabassyirhu binnaar”, dan riwayat ini Atsbat (lebih kuat) haytsu riwayat (dari segi riwayatnya), karena Muammar jauh lebih kuat dari Hammad, sungguh Hammad telah dijelaskan bahwa ia lemah dalam hafalannya dan pada hadits haditsnya banyak yang terkena pengingkaran.

    Berkata Al-Hafizh Al-Imam Nawawi : “Ketika khabar ahad bertentangan dengan Nash Alqur’an atau ijma’, maka wajib ditinggalkan zhohirnya” (Syarh Muhadzab Juz 4 hal 342)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy yang menyampaikan ucapan Al Kirmaniy bahwa yang menjadi ketentuannya adalah “Khabar Ahad adalah hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah” (Fathul Baari Almasyhur Juz 13 hal 231)

    Berkata Al hafizh Al Imam Assuyuthiy bahwa Hadits Shahih bila dihadapkan pada Hadits lain yang lebih kuat maka wajib penakwilannya dan dimajukanlah darinya dalil yang lebih kuat sebagaimana hal itu merupakan ketetapan dalam Ushul (Masaalikul Hunafa fii Abaway Mustofa hal 66)

    Berkata Imam Al Hafizh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy bahwa hadits riwayat Muslim abii wa abaaka finnaar (ayahku dan ayahmu di neraka), dan tidak diizinkannya nabi saw untuk beristighfar bagi ibunya telah MANSUKH dengan firman Allah swt : “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul” (QS. Al-Isra 15). [Rujuk Masaalikul Hunafa fii Abaway Musthofa hal. 68 dan Addarajul Muniifah fii Abaway Musthofa hal. 5 yang juga oleh beliau]

    Dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dari Ibrahim bin Sa’ad dari Zuhri dari Salim dari ayahnya yang berkata: Datanglah seorang dusun kepada Nabi SAW, dan berkata, “Yaa Rasulullah! Inna abi kaana yasilur-raha wa kaana wa kaana… fa aina huwa?” Qaala, “Finnaar.” Qaala: Fa ka-annahu wajada min dzalik. Faqaala: “Yaa rasulullah! Fa aina abuuk?” Faqaala SAW haistu marorta fi qabr kafir, fa bassyirhu binnaar, fa aslama a’rabiy ba’d. faqaala law qad kallafani rasulullah saw taba’an, ma marortu bi qabr kafir illa bassyartuhu binnar.

    Maka jelaslah bahwa Imam Muslim dan Imam Nawawi mengambil riwayat ini bukan bermaksud menuduh ayah kandung nabi saw kafir, namun sebagai penjelas bahwa paman-paman nabi saw ada banyak yang dalam kekufuran, karena menolak risalah Nabi saw, termasuk Abu Lahab. Bahkan Abu Thalib pun dalam riwayat shahih Bukhari bahwa ia di Neraka.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy:
    Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan ayah bunda Nabi di neraka, mereka (yang berkata seperti itu) di laknat oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah berfirman : “Sungguh mereka yang menyakiti dan mengganggu Allah dan Nabi-Nya, mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat, dan dijanjikan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

    Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tiadalah hal yg lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya berada di neraka, dan sungguh telah bersabda Nabi saw : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ hal. 75 li Imam Suyuti)

    Adakah satu ucapan Imam Nawawi yang mengatakan bahwa Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah adalah musyrik penyembah berhala? Tidak ada. Bahkan Nabi SAW sendiri menjelaskan bahwa ayah-ayahnya adalah suci, sebagaimana sabda beliau saw :
    “Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muttalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf, bin Qushay, bin Kilaab, bin Murrah, bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizaar. Tiadalah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada diantara yg terbaik dari keduanya. Maka aku lahir dari ayah ibuku dan tidaklah aku terkenai oleh ajaran jahiliyah, dan aku terlahirkan dari nikah (yang sah), tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian, dan sebaik-baik ayah nasab.” (Ditakhrij oleh Imam Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra).

    Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya Juz 2 halaman 404. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya Juz 11 halaman 76.

    Juga sabda Nabi saw : “Aku Nabi yang tak berdusta, aku adalah putra Abdul Muththalib.” (Shahih Bukhari hadits no.2709, 2719, 2772, Shahih Muslim hadits no. 1776. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim.)

    Bila Abdul Muttolib kafir, maka adakah nabi akan membanggakan kakeknya yang kafir dalam peperangan? Dan Anda lihat pula dalam hadits ini bahwa putera bermakna cucu.

    Tentunya mengenai hal ini telah jelas. Bahkan paman Nabi SAW pun disyafa’ati oleh Rasul SAW. Demikian pula Abu Lahab sebagaimana riwayat Shahih Bukhari. Dan makna ayah dalam hadits itu adalah paman.

    Demikian pula ucapan Nabi saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra di peperangan Uhud ketika Nabi saw melihat seorang kafir membakar seorang Muslim, maka Rasul saw berkata pada Sa’ad : “Panah dia, jaminan keselamatanmu adalah ayah dan ibuku!” Maka Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata dengan gembira : “Rasul saw mengumpulkan aku dengan nama ayah ibunya!” (Shahih Bukhari hadits no.3442 Bab Manaqib Zubair bin Awam. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3446 Bab Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqash. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3750 Bab Maghaziy. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3751 Bab Maghaziy)

    Jelas sudah, mustahil Rasul saw menjadikan dua orang musyrik untuk disatukan dengan Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan mustahil pula Sa’ad ra berbangga-bangga namanya digandengkan dengan dua orang musyrik.

    Kita lihat bagaimana saat-saat kelahiran Nabi saw.. :
    Berkata Utsman bin Abil Ash Ats-Tsaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantu Aminah bunda Nabi saw, ketika ibunda Nabi saw mulai saat-saat melahirkan, ia (ibu Utsman) melihat bintang-bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya. Lalu ia melihat cahaya terang-benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang-benderangnya kamar dan rumah. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

    Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang-benderang hingga pandangannya menembus dan melihat istana-istana Romawi. Inikah wanita musyrik, kafir…?

    Sabda Nabi saw : “Bila berkata seseorang kepada saudaranya wahai kafir, maka akan terkena pada salah satu dari mereka.” (Shahih Bukhari hadits no.5754)

    Dan pembahasan ini saya tutup bagi yang membantah namun tak bisa menyebutkan sanadnya kepada para Muhaddits, karena mereka yang tak memiliki sanad kepada para Imam itu maka hujjahnya Maqtu’, sanadnya terputus, dan fatwanya tidak diakui dalam syariah Islam, maka ketika dua pendapat berselisih, yang lebih tsiqah dan kuat adalah yang mempunyai sanad kepada para Imam tersebut.

    Wallahu a’lam

    (Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

  • Jalan Islam versus Jalan Thaghut

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)

    Agama Islam melandaskan syariatnya kepada firman Allah dan sabda Rasulullah SAAW. Sabda Rasulullah SAAW yang mengandung syariat itu sendiri sebenarnya tidak keluar atas kehendak beliau sendiri, melainkan atas kehendak Allah yang telah mengutusnya. Jadi, Syari’ atau Pembuat syariat sesungguhnya adalah Allah. (lebih…)

  • Jalan Islam versus Jalan Thaghut

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256)

    Agama Islam melandaskan syariatnya kepada firman Allah dan sabda Rasulullah SAAW. Sabda Rasulullah SAAW yang mengandung syariat itu sendiri sebenarnya tidak keluar atas kehendak beliau sendiri, melainkan atas kehendak Allah yang telah mengutusnya. Jadi, Syari’ atau Pembuat syariat sesungguhnya adalah Allah.

    Namun muncul suatu kaum yang mengagung-agungkan ustadz-ustadz mereka. Seakan-akan ustadz-ustadz mereka yang telah menyempal dari jama’ah mayoritas ummat Islam itu tidak akan tersesat. Padahal jaminan keselamatan itu tidak terletak pada para penyempal, melainkan pada jama’ah mayoritas ummat Islam.

    Mereka telah menjadikan ustadz-ustadz mereka sebagai syari. Jika ustadz mereka berkata bahwa maulid itu bid’ah, maka mereka pun berkata demikian. Jika ustadz mereka berkata bahwa matahari itu mengelilingi bumi, maka mereka pun turut. Padahal apa yang dikatakan ustadz-ustadz mereka itu muncul dari kejahilan dan rusaknya cara berfikir. Maka jahil dan rusak pula orang-orang yang mengikuti ustadz-ustadz itu.

    Bagaimana tidak dikatakan rusak dan jahil, sedangkan pemikiran mereka berbeda dengan Al-Qur’an dan Hadits? Contohnya, mereka katakan bahwa merayakan maulidur Rasul itu bid’ah karena Nabi tidak pernah merayakan hari lahir beliau. Pendapat ustadz mereka itu jelas bertentangan dengan sabda Nabi yang tercantum pada hadits shahih.

    Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]

    Memuji Rasul pun mereka anggap bid’ah. Padahal beliau telah dipuji dengan berbagai pujian, sifat dan gelar, misalnya uswatun hasanah, al-amin, al-musthofa, nabiyur rohmah, ro-ufur rohim, sayidun nas, ulul azhmi, dll. Bahkan nama beliau bermakna ‘yang terpuji’.

    Apakah berlebihan jika kita menyebut Nabi sebagai ‘yang terpuji’? Nyatanya tidak. Apakah berlebihan menyandarkan sifat Allah Ro-ufur Rohim kepada Nabi? Nyatanya tidak. Bahkan Allah sendiri yang telah menyifatkan bahwa Nabi itu ‘bil-mu-minina ro-ufur rohim’. Allah juga yang telah berfirman, “Qod ja-akum minallahi nur, sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah.” Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai cahaya yang menerangi langit dan bumi, itu berarti bahwa beliau SAAW adalah matahari bagi alam semesta. Allah sendiri yang menyebut beliau SAAW sebagai cahaya di atas cahaya. Karena beliau itu lebih bercahaya dari bintang manapun. Cahaya beliau akan tetap bersinar, walau bintang-bintang telah padam.

    Namun para penyempal itu mengatakan bahwa memuji Nabi Muhammad SAAW itu merupakan sikap ghuluw. Ketahuilah bahwa yang ghuluw itu adalah mereka yang mengidolakan para penyempal ekstrim yang menghalalkan darah kaum muslimin. Jika Anda melihat sejarah mereka dengan seksama, tentu Anda akan melihat betapa ekstrimnya mereka itu.

    Tahukah Anda bagaimana Allah mengajarkan malaikat cara memulyakan Nabi Adam as? Apakah dengan menyuruh mereka agar mencium tangan Nabi Adam as? Bukan. Tetapi Allah mengajarkan para malaikat untuk memulyakan Nabi Adam as dengan menyuruh mereka agar bersujud kepada Nabi Adam as. Apakah hal itu ghuluw? Tidak. Begitulah yang Allah ajarkan. Sujud tersebut adalah lit-ta’zhim (untuk mengagungkan), bukan lit-ta’bud (untuk menyembah).

    Allah telah mengajarkan bagaimana cara memuji dan memulyakan Nabi Muhammad SAAW yang lebih mulya dibanding semua makhluq Allah. Apakah hal itu ghuluw? Ingatlah oleh Anda bahwa hanya Iblis saja yang enggan dan menolak untuk memulyakan Nabi Adam as dengan cara yang Allah ajarkan!

    Para penyempal itu menyebut kitab rawi maulid sebagai kitab bid’ah karena berlebihan dalam memuji Rasulullah SAAW. Padahal pujian yang terkandung didalamnya masih sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Saya khawatir, jangan-jangan setiap kali para penyempal itu membaca Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128 dan yang semisalnya, bukannya pahala yang mereka dapat, malah laknat dari apa yang mereka baca itu yang mereka terima.