Kategori: Fikrah

  • Mencintai Tuhan

    Kalimat utama, ajaran utama yang diajarkan Nabi Muhammad dan para Nabi sebelum beliau adalah “Laa Ilaha Illallaah”. Tidak ada seorang Nabi pun diutus, kecuali membawa kalimat, ajaran dan hukum utama ini.

    Seorang Kristiani yang alim tentu paham bahwa hukum utama yang dibawa para Nabi adalah “Dia itu Ilah kita, Dia itu Esa. Cintailah Dia, Ilahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwa-ragamu.”

    Ilah memang dapat berarti Al-Ma’bud (Yang disembah) dan juga Al-Mahbub (Yang dicintai). Tetapi bukan hanya itu, Ilah juga berarti Yang dimintai, yang dipatuhi, dsb. Maka “Laa Ilaaha Illallah” dapat berarti tidak ada yang layak disembah dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dicintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dimintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dipatuhi dengan haq kecuali Allah, dsb.

    Adapun rasa sayang kepada makhluq itu muncul, hendaknya karena cinta kita kepada Allah, bukan karena nafsu. Nabi mengajarkan kita agar kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Bukan bermaksud egois, tetapi kita juga perlu mencintai diri kita dengan benar. Kita perlu juga menjaga diri kita dari kebinasaan. Dari situ kita belajar tentang bagaimana orang lain ingin diperlakukan oleh kita. Kristiani tentu setuju bahwa hal ini adalah hukum kedua.

    Para pemuka agama mana pun tidak ingin bahwa ummatnya melakukan hal keji, hal yang tidak kudus. Pendeta mana yang suka jika ummatnya mendengar desahan wanita penggoda? Biksu mana yang suka jika ummatnya melihat goyangan erotis wanita nakal? Maka sungguh memalukan jika sampai ada orang yang dianggap pemuka agama namun berada satu barisan dengan para wanita penjaja erotisme komersial dalam menjegal RUU APP. Jika sampai ada, maka dikhawatirkan bahwa hatinya telah buta sehingga tak dapat melihat Tuhan Yang Mahanyata. Lalu bagaimana seseorang dapat mencintai Tuhan Yang tak dapat ia lihat dengan hatinya?

    Para penebar kebinasaan seperti pemilik bar, night club, penjual vcd phorno, dsb tentu tak senang dengan undang-undang yang membahayakan bisnis mereka. Dengan dalih persatuan dan nasionalisme mereka menggerakkan massa untuk menentang pengesahan UU APP. Padahal mereka ini tengah mengusung budaya barat yang dapat menghancurkan bangsa demi kantong pribadi. RUU APP hadir justeru demi kepentingan nasional. Mereka berkata bahwa RUU APP masih perlu direvisi. Katakanlah mereka benar, tetapi bukan berarti UU APP harus ditolak. Sahkan saja dulu menjadi UU, jalankan, dan revisi seperlunya agar lebih baik. Jangan termakan ocehan-ocehan sok pintar dari orang-orang egois yang suka mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan pribadi.

    Tidak benar bahwa akan ada perpecahan bila RUU APP ini disahkan. Itu hanya akal-akalan pengusaha busuk saja. Mereka tidak mau industri erotisme mereka hancur gara-gara peraturan yang melindungi bangsa ini dari usaha-usaha kotor mereka. Coba lihat Uganda yang menganggap bahwa rok mini adalah musuh masyarakat. Kenapa? Karena rok mini memang budaya barat yang menurunkan martabat wanita dan dapat merusak generasi muda. Rok mini bukanlah budaya kita. Jadi, untuk apa memperjuangkan rok mini?

    Apakah Anda rela jika para remaja Bali menjadi rusak demi keuntungan segelintir orang? Apakah Anda rela jika lebih dari 50% pelajar puteri menjadi rusak moralnya karena ulah pelajar putera yang kerasukan setan erotisme selepas menonton VCD phorno atau majalah cabul yang bisa didapat dengan mudah?

    Mari perangi industri erotisme dengan UU APP yang ditakuti pengusaha bar, pengusaha night club, pengusaha VCD dan majalah phorno, dan segala pengusaha erotisme! Jika Anda mengaku beragama dan mencintai Tuhan, tentu Anda tidak akan keberatan dengan UU APP. Jika Anda mengaku humanis dan mencintai sesama manusia, tentu Anda akan keberatan dengan budaya kebinatangan yang membinasakan rasa dan harkat kemanusiaan. Tidak ada alasan untuk menolak pengesahan UU APP, kecuali jika Anda adalah insan industri erotisme yang terkenal dengan keegoisannya.

  • Da’wah Bukan Perang Saudara

    Da’wah memang usaha mengubah dan mencegah kemungkaran serta mengajak kepada kebaikan. Itulah sebabnya da’wah juga termasuk jihad. Tetapi da’wah bukanlah perang saudara. Da’wah merupakan bernasihat kepada kebenaran dan keshabaran agar istiqomah dalam kebenaran tersebut.

    Di dunia ini banyak sekali organisasi da’wah dengan berbagai manhajnya. Mereka giat berda’wah. Namun sayangnya, ketika salah satu organisasi da’wah menasihati organisasi da’wah lainnya dengan dalil yang kuat, bahkan sering dalil itu adalah yang umum dikenal, terkadang hal itu malah dianggap penyerangan. Maka aktivis da’wah seperti ini tentulah dipertanyakan niat da’wahnya. Apakah ia berda’wah kepada Islam, ataukah kepada hizb? Apakah ia menganggap da’wah itu nasihat ataukah perang saudara?

    Jika ia menganggap da’wah itu adalah nasihat, sebagai orang yang sering berkata agar melihat isi nasihat dan tidak melihat caranya, seharusnya ia tidak berang ketika dinasihati saudaranya. Tetapi terkadang saya melihat bahwa sebagian aktivis da’wah ini begitu berang ketika organisasi da’wahnya disinggung. Bahkan keberangannya itu, terkadang, melampaui batas. Hingga dengan mudahnya menganggap aktivis da’wah lainnya sebagai munafiq, bahkan kafir.

    Hal seperti ini mungkin disebabkan mereka menanggapi perkataan saudaranya dengan emosional dan bukan dengan aqal yang sehat dan hati yang jernih. Pengendalian emosi memang sangat diperlukan aktivis da’wah. Berapa banyak orang mempermalukan dirinya sendiri karena kurang memiliki pengendalian emosi yang baik.

    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768)

    Pernah juga puteri dari guru kami diejek oleh teman-temannya yang lebih tua. Dikatakan kepada beliau bahwa ayahnya adalah pembela Ahmadiyah dan sebagainya. Mereka mengejek demikian karena Habib Munzir tidak ikut dalam mendemo Ahmadiyah dan tidak membenarkan murid-muridnya untuk berdemo. Demikianlah yang diajarkan oleh Guru Mulya Habib Umar. Maka menangislah Syarifah yang masih berusia sekitar 10 tahun itu. Dia pun mengadu kepada ibundanya. Maka sampailah hal itu ke telinga Habib Munzir. Beliau hanya menangis mengetahui puterinya diejek sedemikian rupa. Beliau siap untuk dicaci-maki, tetapi tidak demikian jika puterinya yang diejek. Namun beliau tidak berang kepada para pengejek itu. Beliau tetap menahan diri. Beliau paham bahwa para pengejek itu belum mengerti tentang ajaran Rasul yang mengajarkan agar bersabar dalam menghadapi fitnah agama. Demikianlah yang dilakukan Imam Bukhori ketika berlaku fitnah terhadap dirinya. Habib Umar pun pernah berkata di bulan Februari 2007 bahwa beliau telah melihat 2 banjir, yaitu banjir air dan banjir fitnah (munculnya berbagai aliran sesat). Namun beliau melanjutkan bahwa akan datang banjir ketiga, yaitu banjir rahmah. Diantara tanda-tandanya adalah semakin luasnya da’wah Majelis Rasulullah, hingga kelak setasiun televisi akan banyak menyiarkan acara Majelis Rasulullah SAW, runtuhnya perekonomian non-Muslim dan bangkitnya perekonomian Muslim. Maka Habib Munzir tetap tenang menghadapi munculnya berbagai aliran sesat, karena beliau yaqin bahwa banjir kedua akan segera diganti dengan datangnya banjir ketiga yang tanda-tandanya sudah semakin nyata. Beliau tidak berang menghadapi ejekan yang menyakiti puterinya. Beliau tetap menahan diri.

    Maka tenangkanlah diri kita ketika mendengar atau membaca hal-hal yang mungkin menyinggung perasaan. Jangan sampai perasaan marah menguasai aqal kita dan mengeruhkan hati kita. Semoga Allah menyiramkan keshabaran ke dalam hati kita hingga dapat menyikapi segala hal dengan lebih bijaksana. Aamiin.

  • Da’wah Bukan Perang Saudara

    Da’wah memang usaha mengubah dan mencegah kemungkaran serta mengajak kepada kebaikan. Itulah sebabnya da’wah juga termasuk jihad. Tetapi da’wah bukanlah perang saudara. Da’wah merupakan bernasihat kepada kebenaran dan keshabaran agar istiqomah dalam kebenaran tersebut.

    Di dunia ini banyak sekali organisasi da’wah dengan berbagai manhajnya. Mereka giat berda’wah. Namun sayangnya, ketika salah satu organisasi da’wah menasihati organisasi da’wah lainnya dengan dalil yang kuat, bahkan sering dalil itu adalah yang umum dikenal, terkadang hal itu malah dianggap penyerangan. Maka aktivis da’wah seperti ini tentulah dipertanyakan niat da’wahnya. Apakah ia berda’wah kepada Islam, ataukah kepada hizb? Apakah ia menganggap da’wah itu nasihat ataukah perang saudara?

    Jika ia menganggap da’wah itu adalah nasihat, sebagai orang yang sering berkata agar melihat isi nasihat dan tidak melihat caranya, seharusnya ia tidak berang ketika dinasihati saudaranya. Tetapi terkadang saya melihat bahwa sebagian aktivis da’wah ini begitu berang ketika organisasi da’wahnya disinggung. Bahkan keberangannya itu, terkadang, melampaui batas. Hingga dengan mudahnya menganggap aktivis da’wah lainnya sebagai munafiq, bahkan kafir.

    Hal seperti ini mungkin disebabkan mereka menanggapi perkataan saudaranya dengan emosional dan bukan dengan aqal yang sehat dan hati yang jernih. Pengendalian emosi memang sangat diperlukan aktivis da’wah. Berapa banyak orang mempermalukan dirinya sendiri karena kurang memiliki pengendalian emosi yang baik.

    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768)

    Pernah juga puteri dari guru kami diejek oleh teman-temannya yang lebih tua. Dikatakan kepada beliau bahwa ayahnya adalah pembela Ahmadiyah dan sebagainya. Mereka mengejek demikian karena Habib Munzir tidak ikut dalam mendemo Ahmadiyah dan tidak membenarkan murid-muridnya untuk berdemo. Demikianlah yang diajarkan oleh Guru Mulya Habib Umar. Maka menangislah Syarifah yang masih berusia sekitar 10 tahun itu. Dia pun mengadu kepada ibundanya. Maka sampailah hal itu ke telinga Habib Munzir. Beliau hanya menangis mengetahui puterinya diejek sedemikian rupa. Beliau siap untuk dicaci-maki, tetapi tidak demikian jika puterinya yang diejek. Namun beliau tidak berang kepada para pengejek itu. Beliau tetap menahan diri. Beliau paham bahwa para pengejek itu belum mengerti tentang ajaran Rasul yang mengajarkan agar bersabar dalam menghadapi fitnah agama. Demikianlah yang dilakukan Imam Bukhori ketika berlaku fitnah terhadap dirinya. Habib Umar pun pernah berkata di bulan Februari 2007 bahwa beliau telah melihat 2 banjir, yaitu banjir air dan banjir fitnah (munculnya berbagai aliran sesat). Namun beliau melanjutkan bahwa akan datang banjir ketiga, yaitu banjir rahmah. Diantara tanda-tandanya adalah semakin luasnya da’wah Majelis Rasulullah, hingga kelak setasiun televisi akan banyak menyiarkan acara Majelis Rasulullah SAW, runtuhnya perekonomian non-Muslim dan bangkitnya perekonomian Muslim. Maka Habib Munzir tetap tenang menghadapi munculnya berbagai aliran sesat, karena beliau yaqin bahwa banjir kedua akan segera diganti dengan datangnya banjir ketiga yang tanda-tandanya sudah semakin nyata. Beliau tidak berang menghadapi ejekan yang menyakiti puterinya. Beliau tetap menahan diri.

    Maka tenangkanlah diri kita ketika mendengar atau membaca hal-hal yang mungkin menyinggung perasaan. Jangan sampai perasaan marah menguasai aqal kita dan mengeruhkan hati kita. Semoga Allah menyiramkan keshabaran ke dalam hati kita hingga dapat menyikapi segala hal dengan lebih bijaksana. Aamiin.

    (hotarticle.org)

  • Ilmu Tauhid dan Tashawwuf

    Ilmu Tauhid lebih berbicara tentang apa itu iman. Sedangkan Tashawwuf lebih menekankan bagaimana caranya agar dapat merasakan manisnya iman. Tashawwuf lebih kepada dzauq atau perasaan rohaniah. Ketika ditanya tentang ihsan, Nabi menjelaskan bahwa ihsan adalah merasa seakan-akan melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat oleh Allah.

    Bayangkan ada seorang pemuda berandal sedang duduk di pangkalan ojek bersama teman-temannya sambil bermain judi. Lalu datanglah orangtua dari pemuda tadi menghampiri dan memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Namun si pemuda berandal tetap saja meneruskan permainan itu. Padahal dia melihat ayahnya yang sedang bermuka garang. Namun ia seperti tidak melihat saja. Walau dia tahu bahwa ayahnya memandangnya dg mata sangar, si pemuda tetap santai berjudi seakan tidak diperhatikan ayahnya. (lebih…)

  • Law Kaana Khairon…

    Salafy Wahhabi sering berkata bahwa jika perbuatan itu memang baik, tentu para Salafush Shalih akan mendahului kita dalam melakukannya. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan di benak kita. Ketika mereka benci melihat orang mencium tangan ulama shalih, siapa yang mendahului mereka dalam membenci hal yang demikian?

    Ingatkah Anda ketika Allah memerintahkan malaikat dan Azazil untuk sujud menghormati Nabi Adam? Apakah Azazil melakukannya? Tidak, dia membangkang dan enggan menghormati Nabi Adam yang dimulyakan Allah. Ketika Iblis diperintahkan sujud menghormat ke kubur Nabi Adam di masa Nabi Musa, ia pun membangkang. Dan kini kaum salafy membangkang dan enggan menghormati Nabi dan ulama ketika Allah memerintahkan agar menghormati dan memulyakan mereka sebagai bagian dari ketaqwaan hati. (lebih…)

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda. (lebih…)

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda.

    “Tetapi aku bukan Masonic yang ingin mengkampanyekan lambang-lambang Masonic,” ujar Bishri. Amir berkata, “Aku tahu. Tetapi jika kau tetap mengenakan kaos ini, lalu banyak pemuda mencontohmu, bagaimana?” Lalu mereka berdebat cukup panjang, hingga akhirnya Bishri memusuhi Amir.

    Amir sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin kekeliruan Bishri. Karena Amir memang sahabat yang baik. Namun Bishri menganggap bahwa tindakan Amir memberitahukan kekeliruan Bishri adalah tindakan yang memicu perdebatan dan merusak persahabatan mereka. Padahal perdebatan yang menyebabkan kerusakan persahabatan itu tidak perlu terjadi jika Bishri tidak keras kepala dan angkuh terhadap Amir.

    Bishri merasa bahwa dia telah dianggap sesat oleh Amir. Padahal Amir hanya menganggap Bishri keliru karena setelah tahu bahwa lambang pada kaosnya tidak layak dikenakan Bishri, Bishri tetap bersikeras bahwa kaos itu tetap layak dipakai. Bahkan Bishri menganggap bahwa Amir telah ‘memvonis kafir’ terhadap Bishri. Padahal tidak demikian. Bishri memang terlalu berlebihan dalam memandang tindakan Amir.

    Haruskah Amir membiarkan kekeliruan Bishri demi persahabatan mereka? Sahabat macam apa yang membiarkan kekeliruan sahabatnya?

    Saudara macam apakah Amir jika dia membiarkan kekeliruan saudara seiman? Pantaskah ia membiarkan Bishri demi persatuan? Persatuan macam apa? Al-Jama’ah itu cuma satu. Mereka yang berjalan pada jalan yang dilalui oleh Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung itulah yang disebut Al-Jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang di dalamnya berkumpul Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung.

    Saat ini, kita mengenal banyak kelompok pergerakan Islam yang mayoritas anggotanya adalah kaum muda. Dalam masing-masing kelompok pergerakan itu tentu ada kegiatan ta’lim. Namun jarang sekali pembina-pembina ta’lim itu yang sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah. Tidak jarang ilmu-ilmu yang diajarkan di dalamnya merupakan ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

    Sayangnya, setiap ulama atau murid dari ulama shahih itu menjelaskan kekeliruan mereka, hal ini dianggap sebagai memecah belah, ‘memvonis sesat’, bahkan ‘takfir’. Betapa teganya mereka menuduh demikian terhadap para pewaris Nabi. Lidah para ulama shahih ini telah bersambung kepada lidah Rasulullah SAW, dan mereka menuduh para pemilik lidah mulya ini sedemikian rupa. Sampai hatikah mereka menuduh seperti itu kepada Rasulullah SAW dengan cara menuduh para pewarisnya sebagai pemecah-belah ummat, sebagai ‘ulama takfir’ dan sebagainya?

    Berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”

    Berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad.” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Wahai para penuduh ulama-ulama shahih, tunjukkan sanad kalian jika benar bahwa kalian adalah para pewaris Nabi!

  • Majelis Rasulullah yang Mengagumkan

    Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Kita pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah.

    Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet. (lebih…)

  • Majelis Rasulullah yang Mengagumkan

    Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Kita pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah.

    Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet.

    Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena mengagumkan seperti ini. Faktor utamanya tentulah adanya keridhoan Allah atas majelis ini. Bukti keridhoan Allah itu terbentang sepanjang perjalanan da’wah Majelis Rasulullah.

    Percobaan Pembunuhan

    Sudah beberapa kali Habib Munzir mengalami percobaan pembunuhan. Pernah mobil beliau dikejar-kejar dan ditabrak hingga keluar dari badan jalan. Alhamdulillah beliau selamat. Namun komplotan penabrak itu menghentikan mobil mereka dan keluar menghampiri mobil Habib Munzir. Maka terjadilah kejar-kejaran. Alhamdulillah Habib Munzir dan aktivis MR dapat selamat. Di lain waktu peristiwa seperti itu berulang.

    Pernah juga beliau diracun dalam suatu perjamuan. Rupanya ada yang telah menyabotase hidangan bagi beliau. Beliau masuk rumah sakit. Alhamdulillah Habib Munzir selamat dari racun berbahaya itu.

    Awan Berbentuk Lafazh Allah

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

    Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

    Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.

    Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

    Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

    Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari itu.

    Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.

    Sembuh dari Kanker Otak

    Pada akhir Agustus 2008, Habib Munzir diketahui menderita kanker otak. Dokter di RSCM telah angkat tangan. Namun beliau menghubungi Habib Umar Al-Hafizh, minta untuk didoakan. Alhamdulillah, kanker otak pun hilang seketika. Habib Umar juga menyampaikan, bahwa setelah itu, da’wah Majelis Rasulullah akan bertambah luas dengan cepat.

    Da’wah Lembut yang Melembutkan

    Pernah Habib Munzir berbicara keras dalam suatu majelis. Maka sepulangnya dari majelis, Rasulullah datang menjumpai beliau (saya lupa, apakah dalam mimpi atau dalam jaga). Rasul berkata bahwa mereka adalah ummat Rasulullah, maka jangan lagi bicara keras terhadap mereka. Sejak saat itu, beliau berusaha untuk bicara penuh kelembutan. Da’wah lembut beliau semakin melembutkan hati jama’ah. Maka bertobatlah sejumlah preman, pezina, pengguna narkoba dan bergabung dalam cahaya kemulyaan setelah mendengarkan ceramah beliau yang terus memanggil hati-hati yang kelam akibat dosa-dosa yang menumpuk.

    Bahkan pada tanggal 25 Desember 2007, beberapa Kristiani mendatangi rumah beliau untuk menyatakan ke-Islaman mereka. Hal ini terjadi tepat setelah tanggal 24 Desember 2007 malam, MR melafazhkan “Yaa Allahu” sebanyak 1000 kali untuk meredam kemurkaan Allah dari perkataan fitnah yang menyatakan bahwa Allah mempunyai putera.

    Kelembutan hati Habib Munzir yang sering berjumpa Rasulullah baik dalam tidur maupun ketika terjaga telah mampu menembus kekerasan hati jama’ah dan melembutkan hati mereka. Maka semakin mereka merasakan manisnya khusyu, manisnya taubat, manisnya menyebut Asma Allah, manisnya sujud, manisnya ibadah, manisnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, manisnya rindu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manisnya kedekatan dengan Allah.

    Habib Munzir tidak hanya mengajarkan ilmu syari’ah yang memenuhi aqal mereka. Tetapi ilmu syari’ah yang memenuhi hati mereka. Dari situlah terbit rasa kehambaan dan bukan adu ilmu. Dari situlah terbit rasa sayang dan bukan benci kepada sesama Muslim. Semakin sering mereka menziarohi Habib Munzir, semakin kuat cahaya kemulyaan itu mempengaruhi mereka. Malam demi malam, bagian-bagian hati mereka terobati. Bertambah kuat kesabaran mereka, bertambah redup kemurkaan mereka. Bertambah kuat kelembutan mereka, bertambah redup kekerasan mereka. Bertambah kuat tawadhu mereka, bertambah redup arogansi mereka.

    Ilmu yang Bersambung

    Ilmu yang diajarkan oleh Habib Munzir adalah ilmu-ilmu yang didapatnya secara bersambung dari guru-gurunya dari tabi’it tabi’in dari tabi’in dari shahabat dari Rasulullah dari malaikat Jibril dari Allah. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Ikatan dalam keridhoan inilah salah satu hal yang menyebabkan mereka betah di Majelis Rasulullah. Wallahu a’lam.

  • Dana Dakwah

    Atas nama dakwah, sebagian anggota dewan (termasuk dari PKS) bergerak laju mencari sumber-sumber dana. Dakwah memang perlu dana, tak dipungkiri. Namun benarkah mereka demi semata-mata dakwah? Benarkah sudah ditimbang-timbang sesuai syariah? Semoga, dan tidak boleh berburuk sangka! Tetapi, yang pasti dan lebih penting, bahwa dakwah lebih membutuhkan kepada dana yang berkah, dana yang bebas dari haram dan syubhat, atau bebas dari segala keraguan dan ketidakjelasan, agar agama dan dunia terjaga. Dakwah tidak membutuhkan para penggiat yang selalu mencari rukhshah dan alasan darurat, para pelaku yang selalu membidik celah fatwa para ulama mana yang bisa ‘dimainkan’, atau mencari legitimasi ketika bertanya. Tetapi dakwah lebih membutuhkan kepada pelaku yang ikhlas, kuat, jujur, terpercaya, amanah, tidak takut celaan manusia, wara’, sensitif terhadap dosa, ingat mati, dan menggantungkan kemenangan dakwah hanya kepada Allah Ta’ala. Di tangan merekalah kemenangan hakiki akan di raih. Insya Allah. (lebih…)