Pada bulan September tanggal 11 tahun 2001, menara kembar World Trade Center diserang oleh sekelompok teroris. Diduga bahwa pelaku teror itu adalah dari kalangan Muslim. Tetapi laporan-laporan media massa Amerika banyak yang membantah dugaan tersebut. Berikut kutipan-kutipan tentang 5 orang Israel yang merekam peristiwa WTC dengan suka cita. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang mengarahkan pada dugaan bahwa Zionis itulah yang telah melakukan penyerangan melalui agen Mossad. Dan hampir semua orang Israel yang bekerja di WTC itu telah mengetahuinya, sehingga hampir semua orang Israel tersebut selamat, kecuali 1 orang menurut salah satu sumber.
The New York Times melaporkan pada hari Kamis bahwa sekelompok orang terdiri dari 5 pria telah menyiapkan video kamera ditujukan pada Menara Kembar sebelum serangan pada hari Selasa, dan telah dilihat saling memberi selamat setelah serangan tersebut satu sama lain. [1]
Polisi menerima panggilan dari beberapa warga New Jersey yang marah yang mengklaim bahwa ada laki-laki “timur tengah” dengan van putih yang membuat rekaman video peristiwa WTC itu dengan sukacita dan juga mengolok-olok. [2]
“Mereka sepertiny bahagia, Anda tahu … Mereka tidak terlihat terkejut,” kata seorang saksi. [3]
Mereka terlihat oleh warga New Jersey pada 11 September tengah membuat kesenangan/kelucuan dari World Trade Center dan reruntuhannya serta memoto diri mereka di depan reruntuhan. [4]
Saksi melihat mereka melompat kegirangan di Liberty State Park setelah tubrukan pertama [5]. Kemudian, saksi lain melihat mereka merayakan di atap Weehawken. [6]
“Sepertinya mereka terkait dengan kasus ini. Seakan terlihat bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi.” [7]
Bagaimana Mereka Tahu Akan Terjadi Peristiwa Tersebut Sehingga Mereka Sengaja Mendokumentasikannya?
Tidak perlu Sherlock Holmes untuk menghubungkan titik-titik agen Mossad Israel yang menari, inilah skenario yang paling logis:
1. “Pemandu sorak” Israel merayakan keberhasilan serangan 9-11.
2. Salah satu dari mereka kemudian menelpon 911 dan melaporkan bahwa ada orang Palestina pembuat bom di van putih menghadap terowongan Holland Tunnel. (Mereka berharap bahwa mereka terlihat seperti orang Palestina).
3. Setelah itu, mereka meluncur ke jembatan George Washington, di mana mereka meninggalkan van mereka yang berisi bom waktu dan kabur. (Hal ini untuk memperkuat tuduhan bahwa pelaku serangan WTC dan peledakan van putih adalah orang Palestina)
4. Tetapi polisi bertindak dengan bijak dan proaktif dengan menutup semua jembatan dan terowongan, tidak hanya Holland Tunnel. Hal ini secara tidak sengaja menggagalkan permainan tersebut dan tertangkaplah 5 orang Israel tadi karena rencana mereka sendiri.
5. Untuk menutupi hal ini, Departemen Kehakiman AS kemudian menangkap sekitar 1000 imigran Arab dengan alasan pelanggaran imigrasi. Sehingga orang Israel yang tertangkap tersebut menjadi tidak kentara karena pemerintah dan media kemudian mengklaim bahwa 5 orang Israel tersebut ditangkap hanya karena persoalan imigrasi seperti orang Arab lainnya.
6. Setelah beberapa bulan, FBI dan Departemen Kehakiman dapat berangsur-angsur menepiskan agen FBI lokal dan membebaskan orang Israel tersebut dengan diam-diam.
Osama bin Laden langsung disalahkan untuk serangan 9/11 walaupun dia sebelumnya tidak mempunyai catatan melakukan sesuatu pada skala seperti itu. Segera setelah Penerbangan 11 menabrak World Trade Center 1, Direktur CIA George Tenet berkata “Anda tahu, pada semua ini terdapat sidik jari bin Laden.” [7]
Dilaporkan oleh New York Times dan The Jerusalem Post bahwa 4000 orang Israel selamat dari peristiwa WTC tersebut. Bagaimana bisa 4000 orang tersebut tahu bahwa akan terjadi peristiwa tersebut dan memilih untuk tidak masuk kantor dengan berbagai alasan?
Berikut ini merupakan terjemahan salah satu bab dari buku Terrorism Illuminati oleh David Livingstone. Saya tidak katakan bahwa ini seratus persen benar. Tetapi cukup menarik untuk dibagi dan didiskusikan. Terjemahan ini saya ambil dari akhirzaman.info. Walau judul babnya “The Salafi”, namun sebenarnya Jamaluddin Al-Afghani lebih cenderung kepada Mu’tazilah.
Jamaluddin al Afghani
Pada awal tahun 1800-an, sebuah kelompok misionaris yang ditunjuk oleh gabungan gerakan Universitas Oxford, Gereja Anglikan dan Kings College of London University, yang berada di bawah Scottish Rite Freemasonry, sebagai bagian dari persekongkolan untuk membantu mengembangkan pembentukkan okult persaudaraan di dunia Islam, yang berdedikasi kepada penggunaan terorisme atas nama Illuminati di kota London [ 1 ]
Pimpinan promotor the Oxford Movement adalah Perdana Menteri Benjamin Disraeli, Lord Palmerston dari the Palladian Rite, dan Edward Bullwer-Lytton, pimpinan dari sebuah cabang aliran Rosicrucian yang dikembangkan dari the Asiatic Brethren. The Oxford Movement juga didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak tokoh kantor perdana menteri serta para pembantunya. Lytton, pimpinan dari sebuah cabang aliran Rosicrucian yang dikembangkan dari the Asiatic Brethren. The Oxford Movement juga didukung oleh Jesuit. Juga terlibat keluarga Kerajaan Inggris, dan banyak tokoh kantor perdana menteri serta para pembantunya.
Benjamin Disraeli adalah seorang Grand Master Freemasonry, juga Knight of the Order of the Garter. Adalah di dalam bukunya Coningsby ia mengakui, melalui seorang karakter bernama Sidonia, untuk memerankan temannya Lionel de Rothschild, bahwa , “dunia diperintah oleh orang-orang yang sangat berbeda dari apa yang dibayangkan oleh mereka yang bukan berada di belakang layar”. Sebagai pengaruh dari perkumpulan-perkumpulan rahasia, Disraeli juga berkata dalam sebuah debat Parlemen sbb:
Adalah sia-sia untuk menyangkal … sebagian besar Eropa – keseluruhan Italia dan Perancis, dan sebagian besar Jerman, tidak perlu menyebutlan negara-negara lain – adalah tertutup dengan sebuah jaringan dari perkumpulan rahasia, seperti permukaan bumi yang sekarang tertutup dengan jala-jalan kereta api. Dan apakah tujuan mereka?. Mereka tidak berusaha menyembunyikan dirinya. Mereka tidak menghendaki pemerintahan yang konstitusional. Mereka tidak menginginkan melakukan perbaikan lembaga, mereka juga tidak mau dewan provinsi maupun catatan hasil suara ; mereka hanya ingin mengakhiri gereja kristen. … [ 2 ]
Benjamin Disraeli
Bulwer-Lytton adalah the Grand Patron of the Societas Rosicruciana di Anglia (SRIA), didirikan pada tahun 1865 oleh Robert Wentworth Little, dan berdasarkan atas the Asiatic Brethren. Banyak anggota the Asiatic Brethren., atau Fratres Lucis, menjadi anggota sebuah loji Masonik Jerman yang disebut L’Aurore Naissante, atau “the Nascent Dawn”, didirikan di Frankfurt-on-Main pada tahun 1807. Di loji inilah dimana Lord Bulwer Lytton diinisiasi. [ 3 ] Bulwer-Lytton, yang menjabat senagai kepala Britain’s Colonial Office dan India Office, juga anggota penganut the cult of Isis and Osiris. Dia menulis the Last Days of Pompeii, dan The Coming Race, atau Zanoni, dimana dia membentuk yayasan untuk kemudian diusulkan untuk rasist Nazi. Dia menjadi pendiri the Pre-Raphaelite Brotherhood of John Ruskin, the Metaphysical Society of Bertrand Russell, dan perkumpulan okult seperti the Golden Dawn of Aldous Huxley, dan the Theosophical Society of Madame Blavatsky.
Di Mesir, gerakan Oxford memusatkan perhatiannya dalam membentuk sebuah “reformasi” gerakan Islam, dikenal sebagai Salafi, untuk mengabdi kepada Illuminati dalam rangka memproteksi kepentingan mereka yang semakin meningkat di Terusan Suez, yang kemudian akan menjadi penting untuk pengapalan minyak ke Eropa dan ke seluruh dunia. Pada tahun 1856, Ferdinand de Lesseps memperoleh konsesi dari Said Pasha, seorang raja muda Mesir, yang memberikan kewenangan mendirikan sebuah perusahaan untuk tujuan pembangunan sebuah terusan terbuka untuk kapal laut seluruh bangsa di dunia. Terusan tersebut mempunyai dampak kuat yang menimbulkan perubahan terhadap perdagangan dunia, memainkan perang penting dalam meningkatkan penetrasi Eropa dan kolonisasi Afrika.
Pada tahun 1875, hutang pengganti Said Pasha, Ismail Pasha meningkat, memaksanya menjual saham Terusan kepada Inggris. Dengan demikian, pemerintah Inggris, di bawah Benyamin Disraeli, dibiayai oleh temannya, Lionel Rothschild, mencapai hampir setengah keseluruhan jumlah saham dalam Perusahaan Terusan Suez, dan meskipun bukan merupakan kepentingan terbesar, hanya sebagai tujuan praktis untuk mengontrol kepentingannya. Sebuah komisi penyelidikan terhadap kelemahan keuangan Ismail pada tahun 1878, dipimpin oleh Evelyn Baring, First Earl of Cromer, dan yang lainnya, telah memaksa raja muda untuk menyerahkan tanah milik bangsanya, untuk tetap berada di bawah pengawasan Inggris dan Perancis, dan menerima posisi berdaulat sesuai dengan UUD. Orang-orang Mesir yang marah bersatu diseputar Ahmed Urabi, sebuah kerusuhan yang akhirnya memberikan sebuah alasan kepada Inggris untuk bergerak dalam rangka “melindungi” Terusan Suez, diikuti oleh invasi resmi dan pendudukan yang menjadikan Mesir sebuah koloni
Agen provokator kerusuhan melawan Ismail diorganisir oleh gerakan Jamal ud Din al Afghani, pendiri apa yang disebut gerakan “pembaharuan” Salafi dalam Islam. Melalui seorang Afghani inilah misi Inggris bertindak, namun tidak hanya menggulingkan pemerintahan Mesir, tetapi juga menyebarkan pengaruh okult di seluruh wilayah Timur Tengah.
Edward G. Brown berpakaian seperti orang Persia
Selama 40 tahun karirnya sebagai seorang agen intelijen Inggris, Jamal ud al Afghani dibimbing oleh dua orang Inggris yang memahami soal-soal Islam dan spesialis cult, yaitu Wilfred Scawen Blunt dan Edward G. Browne. [ 4 ] E. G. Browne adalah seorang Orientalis terkemuka Inggris abad ke-19, dan anggoata diantara para anak didiknya – protégés – di Universitas Cambridge, departemen Orientalis, Harry “Abdullah” St. John B. Philby, seorang spesialis intelijen Inggris di belakang gerakan Wahhabi. Wilfred S. Blunt, anggota lainnya dari the British Orientalist school, diberikan tanggungjawab oleh the Scottish Rite Masons untuk mengorganisir loji-loji di Persia dan di Timur Tengah. Al Afghani merupakan agen utama [ 5 ]
Sedikit sekali diketahui mengenai asal-usul Jamal ud Din al Afghani. Walaupun sebutan “Afghani”, dipakai dibelakang namanya yang dengan mana ia dikenal, namun terdapat beberapa laporan bahwa ia adalah seorang Yahudi.[ 6 ] Pada sisi lain, beberapa sarjana percaya bahwa dia bukan seorang Afghan, akan tetapi seorang Syi’ah Iran. Dan meskipun menyandang sebagai seorang pembaharu ortodoks Islam, al Afghani juga bertindak sebagai juru dakwah kepercayaan Bahai, proyek pertama dari the Oxford Movement, sebuah kepercayaan yang akan menjadi jantung agenda satu agama dunia – one-world-religion – Illuminati.
Edward Scawen-Blunt
Pada tahun 1645, keluarga Afghani mendaftarkan dia pada sebuah madrasah (sekolah Islam) di kota suci Najaf, sekarang Iraq. Disana, Afghani diinisiasi menjadi anggota “the mysteries” oleh pengikut Sheikh Ahmad Ahsai. Sheikh Zeyn ud Din Ahmad Ahsai adalah pendiri the Shaikhi school. Setelah meninggal, Ahsai digantikan oleh Seyyed Mohammad Rashti, yang memperkenalkan sebuah gagasan “perfect Shiah – Shi’ah yang Sempurna, disebut Bab, artinya “pintu gerbang”, yang akan datang. Pada tahun 1844, Mirza Mohammad Ali mengklaim sebagai Bab yang dijanjikan, dan mendirikan Babiisme, diantara para pengikutnya adalah Afghani, yang juga mempunyai hubungan keluarga tertentu.. [ 7 ]
Salah seorang pengikut Bab, Mirza Hoseyn Ali Nuri, mengumumkan bahwa dia adalah merupakan penjelmaan dari the “One greater than Himself”, yang telah diprediksikan oleh Bab, dengan diberikan gelar Baha Ullah, artinya dalam bahasa Arab “Kemuliaan Tuhan – Glory of God”. Baha Ullah merupakan keturunan dari penguasa Mazandaran, sebuah provinsi di sebelah utara Iran, berbatasan dengan Laut Kaspia di utara. Mereka adalah dinasti Ismailiah, yang melakukan perkawinan silamg dengan keturunan keluarga Bostanai, Exilarch (salah satu garis keturunan para penguasa komunitas Yahudi di Babilonia kira-kira abd ke-2 sampai abad ke-11 M)pada abad ke-7 M. [ 8 ] Menunjuk kepada dirinya sendiri, Baha Ullah menyatakan, “The Most Great Law is come – Hukum Paling Agung sudah datang”, dan Kemolekan Masa Lalu memerintah di atas singgasana Daud – and the Ancient Beauty ruleth upon the throne of David. – Jadi izinkanlah Penaku berbicara mengenai sejarah abad masa lalu – Thus hath My Pen spoken that which the histories of bygone ages have related.”
Bahaullah
Baha Ullah pendiri kepercayaan Bahai, yang mencampurankan beberapa agama menjadi satu , yaitu dari Islam, Kristen, Zoroaster dan Yahudi, namun mengklaim menggantikan semua agama dalam “sebuah kepercayaan dunia”. Prinsip-prinsip dasar ajaran Bahai adalah persatuan semua agama dan persatuan umat manusia. Bahai percaya bahwa semua pendiri agama-agama besar dunia merupakan penjelmaan Tuhan dan agen-agen rencana progresif tuhan untuk pendidikan ras manusia. Karena itu menurut Bahai, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan, agama-agama besar dunia mengajarkan kebenaran yang serupa.
Meskipun demikian, kepercayaan Bahai dengan cepat mereka tidak disukai di Persia karena ajarannya yang ekstrim. Pada tahun 1852, seorang pemimpin Bahai ditahan karena usaha pembunuhan Shah Persia, setelah gerakannya ditindas, dan banyak dari para pengikutnya dibuang ke Baghdad dan Istambul. Sepanjang kurun waktu ini, sebagaimana dilaporkan oleh Robert Dreyfuss, pimpinan Bahai tetap memelihara hubungan dekat, baik dengan Scottish Rite Freemasonry dan berbagai macam gerakan yang telah mulai menyebar di seluruh India, Kekaisaran Ottoman, Rusia dan bahkan Afrika. [9]
Baha Ullah
Al Afghani ternyata berasal dari Asadabad, sebuah kota di Persia, dekat dengan Hamadan, sebuah wilayah pemukiman Ismaili. Seperti Ismaili sebelum Afghani, ia yakin bahwa agama perlu untuk rakyat jelata, sambil mengamankan kebenaran atheisme untuk elit. Menurut Nikki R. Keddie, dalam studinya mengenai Afghani, “Banyak doktrin-doktrin esoterik Ismaili permulaan abad disajikan dengan mutu interpretasi yang berbeda dari naskah-naskah yang sama, mengikat rakyat jelata dan elit dalam sebuah rencana yang sama, jadi Jamal ud Din mempraktekan pengajaran dengan tingkat berbeda yang dapat menyatukan elit yang rasionalis dan mengikat rakyat jelata yang religious masuk ke dalam gerakan politik yang sama.[ 10 ]
Beberapa orang dari mereka yang menyaksikan Afghani mengajar dan menegaskan mengenai penyimpangannya dari ajaran ortodoks. Di anatara mereka adalah Lutfi Juma, menceriterakannya bahwa, “kepercyaannya bukan Islam yang benar meskipun dia menyampaikan ajaran Islam, dan Saya tidak bisa menilai mengenai kepercayaan para pengikutnya” Dan yang lainnya, Dr. Shibli Shumayyil, seorang pengagum Afghani, menulis bahwa ketika ia mendengar Afghani menulis sebuah tratise – buku yang membahas dengan mendalam – yang menentang “pengikut-pengikut fahan materialis” ia memberikan komentar, ” Saya terkagum-kagum, karena Saya tahu dia sebelumnya bukanlah seorang yang religius. Adalah sulit bagi Saya setelah pengalaman secara pribadi dengan dia untuk langsung memberikan penilaian mengenai apa yang Saya dengar, dan mengenai dia setelah itu, tetapi Saya lebih cenderung berpikir bahwa ia bukanlah seorang yang beriman” [ 11 ]
Disamping Afghani memperoleh banyak ilmu filsafat Islam, terutama sekali mengenai Persia, termasuk Avicenna, Nasir ud Din Tusi, dan yang lainnya, dan Sufisme. Bukti-bukti menjelaskan bahwa dia menguasai karya-karya tersebut, tetapi juga ia memperlihatkan tertarik kepada subyek-subyek okult, seperti rahasia-rahasia alfabet, kombinasi huruf, alkemi (ilmu kimia abad pertengahan) dan subyek-subyek Kabbalah lainnya. Juga Afghani memperlihatkan ketertarikannya kepada ilmu mistik, dari jenis Neoplatonic, sebuah tratise dua belas halaman mengenai Gnostikisme yang dicatat dengan tulisan tangannya.
Banyak kontroversi terhadap kegiatan Afghani selama periode tahun 1858-1865. Namun, menurut seorang biografer, Salim al Anhuri, seorang penulis yang kemudian mengenalnya di Mesir, yang pertama Afghani melakukan perjalanan di luar Iran adalah ke India. Dia pernah tinggal di sana, ia melanjutkan, disitulah Afghani memperoleh kecenderungan bid’ahnya. Dia mempelajari bidang agama yang ada kaitannya, tukas Anhuri, menjurus kepada ateisme dan panteisme. dengan His studies in religion, relates Anhuri, led into atheism and pantheism. Pada dasarnya Afghani percaya kepada filsafat yang berhubungan dengan Lurianic Kabbalah, mengenai evolusi alamiah dari alam semesta, dimana kemajuan intelektual manusia merupakan bagiannya. Sebagaimana dijelaskan Anhuri, Afghani percaya bahwa:
Manusia mulai dengan mengatakan bahwa setelah mati ia akan dipindahkan ke dalam kehidupan abadi, dan bahwa kayu atau batu yang akan membimbingnya kepada tempat tertinggi jika dia memperlihatkan catatan untuk hal itu serta memperlihatkan ketaatan terhadapnya, dan dari peribadatan seperti ini timbul pembebasan dari kepahitan pikiran mengenai sebuah kematian tanpa adanya kehidupan setelahnya. Dan nampak kepada Afghani bahwa api lebih kuat dan lebih besar dalam manfaat dan kerugian, maka dia berbalik kepadanya. Kemudian dia melihat bahwa awan lebih baik daripada api dan lebih kuat, maka dia melekatkan dirinya dan menggantungkan diri kepada mereka. Hubungan dari mata rantai ini, ditempa oleh dua alat khayal dan hawa nafsu bersama-sama dengan insting dan sifat alami manusia, diteruskan untuk meningkatkan sampai manusia memuncak dalam keadaan yang paling tinggi. Hasil daripada hukum alam adalah reaksi yang membawa kepada pembuktian bahwa semuanya yang di atas adalah pembicaraan tidak beralasan yang bermula dari hawa nafsu, dan bahwa itu tidak mempunyai kebenaran dan tidak ada definisi. [ 12 ]
Pada tahun 1866 Afghani muncul di Qandahar, Afghanistan, kurang dari dua dekade setelah usaha Inggris gagal, bekerjasama dengan Aga Khan. Dan menurut sebuah laporan, dari seorang Afghanistan di dalam pemerintahan lokal Afghanistan, Afghani adalah:
… benar-benar ahli dalam bidang sejarah dan geografi, berbicara bahasa Arab dan Turki dengan fasih, berbicara bahasa Persia seperti orang Iran. Nampaknya ia tidak mengikuti agama tertentu. Cara hidupnya lebih menyerupai orang Eropa daripada seorang Muslim. [ 13 ]
Pada akhir tahun 1866, Afghani menjadi penasihat rahasia Azam, penguasa Afghanistan. Seorang asing bisa menduduki posisi penting dengan cepat menjadi perhatian ceritera masa kini. Beberapa sarjana berspekulasi bahwa Afghani, kemudian menyebut dirinya sendiri “Istanbuli”, ia, atau dirinya adalah seorang agen Rusia yang mampu mendapatkan dukungan uang dan politik untuk Azam dari Rusia untuk melawan Inggris, yang menyebabkan kekuasaannya berakhir. Ketika Azam menyerahkan singasananya kepada salah satu saingannya, Shir Ali, dia mencurigai Afghani, dan mengusir dari wilayahnya dalam bulan Nopember 1868.
Selama tinggal di Afghanistan, Afghani tetap memelihara hubungannya dengan Bahai, Freemasonry Inggris, dan beberapa Sufi yang berbasis di India, dimana ia juga bertemu dengan Muslim Nizari. Menurut laporan intelijen Inggris waktu itu, , selama ia melakukan perjalanan ke India, Afghani menggunakan nama Jamal ud Din Effendi. Kemudian mengunjungi Aga Khan, pimpinan Ismaili. Disamping sebagai seorang Syekh Sufi ordo Mawlavi, atau Mevlevi, yang sangat terpengaruh mistik Iran dan puisi abad ke-13, Jalal ud Din ar Rumi juga sebagai juru dakwah kepercayaan Bahai, yang konon dikirim langsung dalam misi tersebut oleh Baha Ullah sendiri..
Salah satu laporan yang dicatat tahun 1891, dari seorang muslim India yang tidak disebutkan namanya, bertindak sebagai seorang agen Inggris, yang berpura-pura menjadi pengikut Bahai dalam rangka mengumpulkan informasi yang lebih banyak, menyatakan sbb:
Berikut ini adalah isi pernyataan yang dibuat oleh seorang yang jelas mengetahui betul, seperti keadaan sebenarnya atas kehadiran Saiyid Jamal-ud-din di India, yang digambarkan oleh informan sebagai seorang Persia, namun ybs menyebut dirinya sendiri sebagai seorang Turki dari Konstantinopel.
Di kota pantai Akka (Acre?) tinggal seorang yang bernama Husen Ali, seorang Turki, yang menyebut dirinya sebagai Baha-ullah Effendi alias Jamal Mubarik (the Bless Beauty). Orang ini menyatakan bahwa semua agama adalah jelek, dan mengatakan bahwa dia sendiri adalah Tuhan. Dia memurtadkan sejumlah orang memeluk agama Bahai dan mengumpulkannya di Baghdad. Kira-kira empat tahun lalu mereka memberontak melawan Shah, tetapi mereka ditindas dan secara perlahan-lahan keluar dari Persia pindah ke Turki di Asia. Baha-ullah sekarang berada dalam pengawasan di Akka, disebut “Az Maksud” [Ar Maqud, sebuah istilah umum diantara penganut Bahai Iran untuk menyebut Tanah Suci] oleh orang-orang murtad.. Agen-agen Balla-ullah pergi ke seluruh dunia dan berusaha keras untuk meyakinkan semua orang bahwa mereka sedang dikunjungi oleh utusan-utusan Tuhan., dan pengikutnya akan menjadi penguasa-penguasa di muka bumi. Anak laki-laki Baha-ullah, Muhammad Ali, berkunjung ke Bombay dalam rangka misi ini, dan kemudian kembali ke Akka. Para agennya ditugaskan dimana-mana, Saiyid Jamal-ud-din termasuk salah seorang dari agennya.
Dia datang ke Kailaspur dan tinggal selama 10 hari bersama saya. Dia menceriterakan semua mengenai Baha-ullah kepada saya dan misinya, dan mengusulkan untuk menunjuk saya menjadi agennya, dan mengajak saya pergi ke Bombay untuk bertemu dengan Muhammad Ali. Saya menyetujuinya untuk menjadi murid Baha-ullah dalam rangka menemukan mengapa in order to discover mengapa Saiyid Jamal-ud-din datang ke India. Saya setuju menjadi agennya untuk alasan yang sama, dan dia sekarang sering menulis surat kepada saya. Saya tidak menyimpan surat-suratnya, namun bisa di dapat bila diinginkan. Sekarang dia berada di Farukhabad, dan Saya percaya bahwa dia sudah memurtadkan sejumlah orang-orang yang kemudian mengikuti Bahai di India. Dia mempunyai banyak uang dan memnelanjakannya dengan sesuak hatinya, berpergian naik kereta api dengan kelas utama. Di Bombay ada seorang bernama Agha Saiyid Mirza [Afnan], seorang pedagang dari Shiraz, yang memberi dia uang yang banyak. [ 14 ]
… Pada tanggal 21 September 1891, informan yang sama menulis surat langsung kepada Jenderal Supdt., Departmen T. dan D. [Pengawasan Umum, Departemen Thagi dan Dakaiti, bertanggungjawab memonitor para penjahat dan pembuat kerusuhan – General Superintendent, Thagi and Dakaiti Department, responsible for monitoring criminals and trouble-makers], sebagai berikut: “Orang bernama Saiyid Jamal-ud-din Shah bukan ‘Rumi,’ dia seorang yang berasal dari Astrabad Mazinderan di Persia, dan namanya adalah Mirza Muhammad Ali. Dia bukan pengikut ajaran Muhammad [Muslim] tetapi seorang “Babi,” dan kantor pusatnya di Akka, Palestine. [ 15 ]
Kemudian Afghani muncul di Istanbul pada tahun 1870, dibawa ke sana oleh Ali Pasha, seorang Freemason, dan Grand Vizier selama lima kali semasa Sultan Abdul Majid dan Sultan Abdul Aziz berkuasa. Afghani sangat tidak disukai oleh para alim ulama karena pandangan-pandangan bid’ahnya, oleh karena itu Hasan Fahmi, seorang sarjana terkemuka pada waktu itu, dan Syekh al-Islam dari Kekaisaran Ottoman, menyampaikan sebuah Fatwa yang mengumumkan bahwa Afghani seorang kafir, dan kemudian dia diusir dari Turki.
Pada tahun 1871 Afghani pergi ke Kairo, disponsori oleh Perdana Menteri Mustafa Riad Pasha, yang pernah bertemu dengan Afghan di Istanbul, dan menempatkannya dalam pekerjaan dengan gaji yang besar, dan menunjuknya menduduki jabatan yang bergengsi di Universitas Islam Al Azhar. Pada mulanya, Afghani tetap secara ketat ortodoks, tetapi pada tahun 1878, dia pindah ke perkampungan Yahudi di Kairo, dimana di sana ia mulai membuka organisasi politik. Kemudian Afghani mengumumkan pembentukkan the Arab Masonic Society. Meskipun kepada umum diketahui sebagai Islam ortodoks, para anggota lingkaran dalam Afghani menunjukkan dengan jelas ketaatannya kepada Gnostisisme Ismailia. Afghani menyebut kepada persaudaraan Masoniknya sebagai ikhwan al saffa wa khullan al wafa, yang sengaja mereferensi kepada persaudaraan Ismailia yang menggunakan nama yang sama pada abad-ke-10.[ 16 ]
Dengan bantuan Riad Pasha dan Kedutaan Besar Inggris, Afghani mereorganisasi the Scottish Rite dan Grand Orient lodges of Freemasonry, dan mulai mengorganisir disekitar dia sebuah jaringan terdiri dari beberapa negara Islam, terutama sekali Syria, Turki, dan Persia. [ 17 ] Setelah beberapa tahun kemudian gerakan Afghani memikat pengikutnya, dari kalangan penulis muda dan aktivis, diantaranya adalah Mohammed Abduh, yang sudah menjadi pimpinan apa yang sering dianggap sebagai gerakan “modernis” dalam Islam, dengan kata lain dikenal sebagai Salafi, dan Sad Pasha Zaghlul, yang mengaku dirinya seorang Freemason, serta pendiri Wafd, Partai Nasionalis Mesir. [ 18 ]
The Hermetic Brotherhood of Luxor
Madame Helena Petrovna Blavatsky
Afghani mengakui sebagai seorang representasi dari sebuah perkumpulan rahasia misterius Egyptian quasi-Masonic, seperti yang diduga mewakili pengajaran peninggalan Sabiin yang masih dipertahankan dari the Grand Lodge of the Ismailis of Cairo, yang menjadi dikenal diantara pengilut okult Barat sebagai the Hermetic Brotherhood of Luxor (H.B. of L.), juga ternyata juga yang mulanya dipengaruhi dibelakang pembentukkan Samuel Honis’ Rite of Mizraim.
Salah seorang teman Afghani yang paling dekat adalah James Sanua. Sanua dilahirkan di Kairo dari keluarga yang berhubungan erat dengan keluarga Yahudi Italia yang berasal dari Yahudi Sephardic. Sanua dibesarkan sebagai Yahudi oleh ayahnya, yang lahir di Italia, dan kemudian menjadi penasihat penting bagi keluarga kerajaan Mesir. Sebagai tambahan sebagai seorang yang dibesarkan dilingkugan keluarga Yahudi, dan menguasai delapan bahasa asing, Sanua begitu menguasai dengan baik Qur’an dan adat-istiadat Islam yang mendapatkan untuk dirinya gelar “sheikh”, sebuah faktor yang menjurus kepada desas-desus mengenai kepindahan agamanya kepada Islam.
Semasa mudanya Sanua belajar di Italia, disana ia berkenalan dengan gagasan Giuseppe Mazzini. Ketika ia kembali ke Cairo, dia dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya mengajarkan ajaran Mazzini. Sanua juga bertanggungjawab atas pendirian yayasan teater Mesir Modern, yang mempelopori industri perfilman. Namun demikian, peranannya mengundang kecurigaan di mata pihak berwenang Mesir. Dan ketika ia mengetahui adanya persekongkolan untuk meracuninya, ia terbang ke Perancis, di sana dia lebih menyukai dikenal sebagai Abu Naddara. Di Paris, Sanua mendirikan sebuah jurnal yang didedikasikan terhadap prinsip, yang utamanya kepada Bahai, mengenai sebuah one-world-religion – satu-agama-dunia, seringkali menyajikan tulisan-tulisan Afghani.
Pacar Sanua, Lydia Pashkov adalah wanita asal Rusia dan nekerja sebagai wartawan di harian Le Figaro di Paris. Melalui hubungan dengan mereka, Afghani menjadi bersahabat dengan direktur kantor pusat regional Illuminati di bagian selatan Lebanon, seperti Sheik Medjuel el-Mezrab, yang menikah dengan seorang Inggris who married British dilettante,- pencinta kesenian untuk hiburan – Jane Digby, dan Lydia Pashkov. Antara tahun 1870 dan 1875, nampaknya Illuminati memulai sebuah proyek yang meniru the Italian Carbonari di seluruh negara di Timur Tengah. [ 19 ]
Baik Sanua maupun Lydia Pashkov adalah juga temannya Helena P. Blavatksy yang suka melakukan perjalanan bersama-sama. yang pada tahun 1856, Mazzini diinisiasi ke dalam the Carbonari. Helena P. Blavatsky, medium dan mistis yang terkenal, adalah the godmother dari kebangkitan okult dalam akhir abad ke-19. Setelah menulis karya-karya yang monumental seperti Isis Unveiled, dan The Secret Doctrine, the Theosophical Society dibentuk pada tahun 1875, untuk menyebarkan ajarannya ke seluruh dunia. Dalam The Theosophical Society terdapat anggota Freemasonry, yaitu Henry Steel Olcott dan George H. Felt yang ditunjuk kemudian sebagai presiden dan wakil-presiden. Diantara angota-anggota paling awal termasuk juga Albert Pike. Menurut Manly P. Hall, seorang ahli sejarah terkemuka Masonic, menjelaskan:
The Secret Doctrine dan Isis Unveiled merupakan hadiah dari Madame Blavatsky untuk umat manusia, dan kepada mereka yang visinya dapat menembus awan ancaman malapetaka yang sudah diambang pintu, adalah tidak berlebihan untuk menyatakan bahwa tulisan-tulisan ini merupakan bacaan paling penting yang dikontribusikan kepada dunia modern. Tidak akan bisa mereka dibandingkan dengan buku-buku yang lain, dapatkah cahaya matahari dibandingkan dengan lampu glowworm – ulat yang berkelap-kelip. The Secret Doctrine adalah jelmaan kemuliaan dari sebuah kitab suci. [ 20 ]
Blavatsky mengklaim menerima tanzil dari “Secret Chiefs”, atau ruh “Ascended Masters”, yang membantu umat manusia untuk meningkatkan dirinya menjadi sebuah ras yang super. Pada awalnya Blavatsky memberikan nama kepada para Masternya,seperti “Tuitit Bey”, “Serapis Bey”, dan “Hilarion”, yang nama-nama tersebut diakui milik the “Brotherhood of Luxor”. Menurut Joscelyn Godwin, dalam The Theosophical Enlightenment, jika kita menginterpretasikan the “Brotherhood of Luxor” sebagai sekelompok kecil penganut okult dimana Blavatsky bergabung dengan mereka di Mesir, maka kita dapat menganggap bahwa Jamal ad-Din al Afghani merupakan salah seorang daripada anggotanya.. [21 ]
Meskipun tidak terdapat bukti langsung bahwa Blavatsky telah bertemu dengan Afghani, menurut K. Paul Johnson, dalam The Masters Revealed, kenyataan akan menunjukkan terjadinya kontak. Tidak hanya Afghani yang akrab dengan teman-temannya Sanua dan Pashkov, tetapi dia dengan Blavatsky, kedua-duanya berada di India antara tahun 1857 dan 1858, demikian juga kedunya berada di Tbilisi dalam pertengan 60-an, dan keduanya berada di Cairo pada tahun 1871. Lagi-lagi Afghani meninggalkan Mesir menuju ke India pada akhir tahun 1879, dimana pada tahun yang sama Blavatsky dan Olcott tiba di sana. Setelah meninggalkan India pada akhir tahun 1882, Afghani tinggal di Paris sepanjang tahun 1884, dimana Blavatsky pada tahun itu menghabiskan waktunya di sana.
Melalui Jamal ud Din al Afghani, Blavatsky memperoleh doktrin-doktrin sentral, derivasi dari Ismailisme, yang kemudian dia menghubungi komunitas okult Barat. Sebagaimana Johnson menjelaskan, dalam tulisan Blavatsky, The Eastern Gupta Vidy dan the Kabbalah, dia mengklaim the “real Kabbalah” ditemukan di dalam buku the Chaldean Book of Numbers. Meskipun buku tersebut tidak diketahui oleh para sarjana, Blavatsky sering mengutip buku ini di dalam buku besarnya, Isis Unveiled dan The Secret Doctrine. Dia mengklaim telah menerimanya dari seorang “Sufi dari Persia”, dan sebagaimana juga dijelaskan oleh K. Paul Johnson, Afghani hampir bisa dipastikan sebagai sumbernya.
Menurut Johnson, sebuah struktur penting dalam doktrin Blavatsky hanya dapat menunjuk kepada satu sumber, yang juga berhubungan dengan gagasan pengikut okult lainnya, Gurdjieff: Ismaili Gnosticism. The Chaldean Book of Numbers mengajarkan sebuah kosmologi tujuh lapis mirip dengan elektrik mistikisme Ismaili.
…adalah merupakan petunjuk penting yang menunjuk kepada gnosisi Ismaili sebagai sebuah sumber penting baik bagi Blavatsky maupun Gurdjieff. Henri Corbin’s dalam Cyclical Time and Ismaili Gnosis menjelaskan sebuah doktrin proses evolusi kosmik tujuh lipat, diulang kembali di dalam sebuah skema sejarah tujuh lipat, paralel dengan sebuah tujuh lipats jalan inisiasi untuk adept-ahli individu. Ini sepadan sekali dengan surat-surat Mahatma [dari Blavatsky] yang mengajarkan bahwa “tingkatan seorang Adept-ahli diinisiasi dengan lambang tujuh tahap dimana ia menemukan rahasia dari prinsip-prinsip tujuh lipat secara alami dan manusia membangunkan kekuatan-kekuatan yang tidak aktif.” Doktrin Kehidupan kembali – Resurrection – membutuhkan arti yang spesifik dalam gnosis Ismaili yang menghubungkannya kepada pengajaran Blavatsky. Setiap prinsip-prinsip tujuh dari individu adalah “dibangkitkan” dari pengaruh prinsip berikutnya yang lebih tinggi. HPB tujuh lipat menguraikan prinsip-prinsip manusia yang disuguhkan juga secara bervariasi seperti Chaldean, Tibet, dan Chaldeo-Tibet. Tetapi faktanya analogi sejarahnya yang terdekat adalah Ismaili. [ 22 ]
John Yarker
Ajaran Blavatsky juga mempengaruhi penentuan sebuah perkumpulan rahasia terkemuka yang dikenal sebagai the Golden Dawn, yang muncul ke luar karena kontak Afghani dengan pimpinan Egyptian Rite Freemasonry. Setelah bergerak di dalam tanah selama beberapa waktu, sampai tahun 1848, the “Year of Revolutions”, the Egyptian Rite of Freemasonry kemudian dihidupkan kembali kegiatannya di Paris dan pada tahun 1856 juga didirikan di Mesir, Amerika, Romania dan negara-negara lainnya. Pada tahun 1872, ketika the Egyptian Rite yang dikenal sebagai the Ancient and Primitive Rite, the Grand Mastership dari ordo ini dijabat oleh John Yarker, yang dilimpahkan kepadanya oleh Marconis de Negre. Yarker juga akrab dengan Blavatsky, bertemu di Inggris tahun 1878, dan menemuinya untuk merundingkan dengan Blavatsky mengenai sebuah inisiasi Masonic, meskipun terdapat upaya-upaya menyalahkan keterlibatannya dalam Freemasonry.
Di Paris, Yarker bertemu dengan Pascal Beverly Randolph, seorang okultis Africa-Amerika yang mengadakan perjalanan ke Mesir, dimana dia where he was supposedly initiated by a secret priestess of the Ismaili Muslims. Paschal Randolph was a noted medium, healer, occultist and author of his day, and also counted among his personal friends Bulwer-Lytton. Randolph’s Brotherhood of Eulis claimed descent from the Rosicrucian Order, by charter of the “Supreme Grand Lodge of France”, and taught spiritual healing, western occultism and principals of race regeneration through forms of sex magic. Through Randolph, Yarker passed on the tradition of the Hermetic Brotherhood of Luxor, that was reborn as the Hermitic Brotherhood of Light, a continuation of the Frates Lucis, or Asiatic Brethren.
Max Theon
Pada tahun 1873, Carl Kellner, seorang rekan Randolph, salah seorang dari para pengikut okult yang berhubungan dengan Freemasonry Mesir, yang melakukan perjalanan ke Cairo pada waktu kegiatan al Afghani. Di Mesir untuk pertama kali bertemu dengan seorang muda misterius, menyandang nama Aia Aziz, juga dikenal sebagai Max Theon. Sebenarnya, Max Theon adalah anak dari pemimpin terakhir sekte Frankist, Rabbi Bimstein dari Warsawa, Polandia.
Max Theon melakukan perjalanan kemana-mana, dan di Cairo bekerja dengan Blavatsky, juga menjadi seorang murid Paulos Metamon, seorang “tukang sihir Coptic”. Paulos Metamon juga merupakan “Master” Blavatsky pertama, yang bertemu di Asia Minor pada tahun 1848, kemudian bertemu lagi di Cairo pada tahun 1870, dialah yang memperkenalkan Blavatsky kepada the Hermetic Brotherhood of Light. Yang menarik adalah, kosmologi tujuh lipat Ismailisme ternyat sudah terbiasa bagi Theon dan Blavatsky. Pada tahun 1873, Metamon menyerahkan the Grand Mastership kepada Aziz, yang menggunakan nama Max Theon, kemudian pindah ke Inggris untuk menyebarluaskan ordo yang sama.
Adalah Carl Kellner dan Thoedore Reuss, anggota lainnya dari Bulwer-Lyttons’ Societas Rosicruciana di Anglia, yang menggabungkan ritus Egyptian Rite Freemasonry, yang diizinkan kepada Reuss oleh John Yarker untuk membawa rahasia orang dalam dari the Hermetic Brotherhood of Luxor. Mengenai Kellner, Reuss menulis:
Selama melakukan perjalanannya yang sering dan ekstensif di Eropa, Amerika dan Timur Jauh, Bro. Kellner melakukan kontak dengan sebuah organisasi yang disebut The Hermetic Brotherhood of Light. Dorongan yang dia peroleh melalui hubungannya dengan wadah ini, juga kenyataan-kenyataan yang tidak bisa disebutkan disini, hingga menyebabkan Bro. Kellner’s berkeinginan untuk mendirikan sejenis Academia Masonica yang akan memungkinkan saudara seiman yang sedang mencari-cari dapat mengenal semua tingkat dan sistem Masonic yang ada. Pada tahun 1895 Bro. Kellner mendiskusikan secara panjang lebar dengan Bro. Reuss di Berlin mengenai bagaimana gagasan ini dapat direalisasikan.. Sewaktu dalam pembicaraan dengan Bro. Reuss ia tidak menyetujui usul mengenai nama Academia Masonica dengan memberikan alasan -alasan termasuk dokumentasi, menyarankan untuk memakai nama Oriental Templars. Namun pada waktu itu, yakni pada tahun 1895 perundingan-perundingan ini tidak membawa hasil yang positif karena Bro. Reuss kemudian disibukkan dengan menggiatkan kembali Ordo Illuminati dan Bro. Kellner tidak bersimpati terhadap organisasi ini atau terhadap orang-orang yang aktif di dalamnya bersama-sama dengan Bro. Kellner. [ 23 ]
Aleister Crowley
Adalah John Yarker yang diduga menyiapkan sebuah piagam untuk mendirikan the Ordo Templi Orientis, atau O.T.O., yang dipengaruhi oleh Reuss, yang berusaha untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi dari the Ancient Mysteries, the Knights Templars, the Freemasons, Rosicrucians dan the Illuminati. Ordo Templi Orientis berarti “Order of Eastern Templars”, yang mengacu kepada the Johannite myth dari Sabian atau pengaruh Ismaili. Lingkaran dalam okult the O.T.O. akan di atur paralel dengan tingkat tertinggi dari Egyptian Rite Masonry, dan doktrin-doktrin esoterik Rosicrucian dari the H.B. of L.
Ketua O.T.O., Reuss, kemudian digantikan oleh Aleister Crowley yang terkenal karena kejahatannya. Aleister Crowley menyandang gelar tingkat ke-33 Mason dari the Scottish Rite, juga seorang anggota dari the Isis-Urania Temple of Hermetic Students of the Golden Dawn. Disingkat menjadi The Golden Dawn, ordo ini didirikan pada tahun 1888, oleh Bulwer-Lytton, seorang Masons dan anggota dari the Societas Rosicruciana di Anglia. Kult Isis ini dibentuk sekitar tahun 1877 yang diorganisir berdasarkan naskah Isis Unveiled karya Helena Blavatsky. Anggota-anggota The Order of the Golden Dawn diantaranya termasuk William Butler Yeats, Maude Gonne, istri Oscar Wilde, dan Arthur Edward Waite. The Golden Dawn pada waktu itu dipimpin oleh McGreggor Mathers, yang melacak spiritual leluhur ordonya sampai kepada ordo the Rosicrucians, dan dari sana, melalui Kabbalah sampai ke Mesir Kuno. Dan sewaktu di Mesir pada tahun 1904, dimana Crowley melakukan kontak dengan wujud makhluk bernama Aiwass, yang mendiktekan kepadanya untuk isi bukunya yang kemudian diberi judul Book of the Law, berisi a.l. semboyan terkenal dari okultisme modern, “Do what thou wilt shall be the whole of the Law.”
The Salafi
Muhammad Abduh
Setelah Afghani meninggalkan Mesir, muridnya, Mohammed Abduh, dengan alasan yang tidak dapat dijelaskan ditunjuk sebagai the chief editor publikasi resmi pemerintah Mesir yang dikontrol Inggris, the Journal Officiel. Bekerja dibawah Abduh seorang temannya anggota Freemason, Saad Zaghul, yang kemudian mendirikan Partai Nasionalis Wafd. Pada tahun 1883, Abduh bergabung dengan Afghani di Paris, dan kemudian pergi ke London, di sana ia mengajar di Oxford dan Cambridge, serta berkonsultasi dengan pejabat-pejabat Inggris mengenai krisis di Sudan melawan Mahdi.
Di Paris dan London, Abduh membantu Afghani dalam mengatur jurnal berbahasa Perancis dan bahasa Arab di Paris, yang disebut Al Urwah al Wutsqa, atau the “Indissoluble Bond”, juga sebuah nama organisasi rahasia yang dia dirikan pada tahun 1883. Diantara anggota-anggota Afghani di Paris adalah orang-orang Mesir, Turki, India, Siria, Afrika Utara dan banyak juga mereka yang beragama Kristen serta Yahudi, dan Bahai Persia, yang diusir dari Timur Tengah.
Ketika Perancis menekan Al-Urwah al-Wutsqa, Abduh mengadakan perjalanan ke seluruh negara-negara Arab selama beberapa tahun, dibawah berbagai penyamaran, terutama di Tunis, Beirut, dan Siria. Di setiap kota, dia mencoba merekrut orang-orang untuk menjadi anggota perkumpulan rahasia fundamentalisme Afghani. [ 24 ]
Seperti gurunya, Abduh bergabung dengan gerakan Bahai yang sudah berupaya dengan hati-hati dalam menyebarkan kepercayaannya ke Mesir. Bahai mulai didirikan di Alexandria dan Cairo pada tahun 1860. Abduh bertemu dengan Abdul Baha ketika dia mengajar di Beirut, dan keduanya mulai bercengkrama dengan sangat bersahabat, dan keduanya menyetujui falsafah sebuah agama dunia – one-world-religion philosophy. [ 25 ] Memuji keutamaan Abdul Baha dalam ilmu agama dan diplomasi, Abduh mengatakannya bahwa “[dia] lebih dari itu. Sesungguhnya ia seorang besar, dialah orangnya yang patut mendapatkan nama kehormatan yang diterapkan kepadanya.”[26]
Abduh dikenal dengan pandangan reformasinya mengenai Islam. Akan tetapi, dalam How We Defended Orabi, A.M. Broadbent menyatakan bahwa, “Sheikh Abdu bukan seorang fanatik yang berbahaya atau seorang yang beragama dengan antusias, dia termasuk orang yang paling luas pemikirannya dalam Islam, berpegang kepada sebuah keyakinan politik serupa dengan republikanisme murni, dan seorang Master of a Masonic Lodge yang bersemangat.” [ 27 ] Seperti pengikut Ismaili sebelumnya, dia akan meningkatkan murid-muridnya secara progresif masuk jauh ke dalam derajat bid’ah. Kepada initiates yang lebih tinggi, dia akan mengungkapkan doktrin-doktrin the Scottish Rite dan falsafah one-world government – satu-agama-dunia. Meskipun demikian, kepada mereka yang Abduh anggap lebih bersedia, dia akan memperkenalkannya sebagai seorang pejabat intelijen Inggris dari London. [ 28 ]
Dari tahun 1888, sampai dengan kematiannya pada tahun 1905, Abduh secara tetap berkunjung ke rumah kediaman dan kantor Lord Cromer. Pada tahun 1892, dia ditunjuk untuk melaksanakan administrasi Komite Mesjid dan Universitas Al Azhar, lembaga pendidikan Islam paling bergengsi, dan universitas tertua di dunia. Dari jabatan tersebut dan karena reputasi Al Azhar, dia mengatur keseluruhan sistem Islam di Mesir dan banyak dari dunia Islam juga.
M. Rasyid Ridho
Pada tahun 1899, Lord Cromer, mengangkat Abduh sebagai Mufti Besar Mesir. Abduh sekarang kepala otoritas hukum Islam, juga sebagai the Masonic Grand Master of the United Lodge of Egypt. Lord Cromer adalah seorang anggota penting dari keluarga perbankan England’s Baring, yang menjadi kaya raya dari hasil perdagangan opium di India dan Cina. Motif Lord Cramer menjadikan Abduh sebagai yang paling berkuasa dalam semua urusan mengenai Islam adalah untuk merubah hukum Islam yang melarang bunga bank, Abduh kemudian mengupayakan sebuah penafsiran Qur’an, untuk menciptakan jalan yang diperlukan untuk memberikan kebebasan kepada bank-bank Inggris berkuasa di Mesir. Mengenai Abduh, Lord Cromer menceriterakan, “Saya curiga teman saya Abduh dalam realitasnya seorang agnostic – orang yang tidak peduli adanya Tuhan – I suspect my friend Abduh was in reality an agnostic,” dan dia mengatakan gerakan reformasi Salafi yang dipimpin Abduh, bahwa “Mereka adalah sekutu alamiah dari reformer Eropa They are the natural allies of the European reformer.” [ 29 ]
Gerakan Salafi kemudian bersekutu dengan Wahhabi dari Saudi Arabia, melalui anggota Freemason, Mohammed Rashid Rida, yang setelah kematian Afghani pada tahun 1897, dan Abduh pada tahun 1905, menjabat pemimpin Salafi, Rida menjadi anggota the Indissoluble Bond pada usia muda. Dia dipromosikan Afghani melalui perkumpulan Masonic dengan membaca Al-Urwah al Wutsqa, yang kemudian dia mengakui sangat besar pengaruhnya dalam kehidupannya. Rida tidak bertemu Afghani, tetapi pada tahun 1897, dia pergi ke Mesir untuk belajar bersama Mohammed Abduh. Meskipun Rida tidak berbagi menggagas opini mengenai gerakan Bahai, hanya karena melalui pengaruhnya saja gerakan Salafi menjadi kuat bersekutu dengan Negara Saudi Arabia.
Footnotes:
[1] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 113. [ pdf ]
[2] Hansard’s Parliamentary Debates , quoted from Paul A. Fisher, Their God is the Devil , pp. 18-19.
[3] Ruggiu, Jean-Pascal. “ Rosicrucian Alchemy and the Hermetic Order of the Golden Dawn ”.
[4] Dreyfuss, Hostage to Khomeini . p. 118.
[5] Ibid . p. 123 and 121.
[6] Ibid . p. 118.
[7] Nikki Keddie, Sayyid Jamal ad-Din “al Afghani”: A Political Biography , Berkeley, CA: University of California Press, (1927) p. 87
[8] David Hughes, Davidic Dynasty .
[9] Nikki Keddie, Sayyid Jamal ad-Din “al Afghani”: A Political Biography p. 116.
[10] Ibid . p. 87.
[11] Ibid . p. 91.
[12] Ibid .
[13] Ibid . p. 45.
[14 North West Province Special Branch, 29 August 189. quoted from Momen, Moojan, “ Jamal Effendi and the early spread of the Bahai Faith in Asia ”, Bahai Studies Review, Volume 8, 1998.
[15] (C.S.B.) Report of D.E. McCracken , dated 14 August 1897, in file Foreign: Secret E, Sept. 1898, no. 100, pp. 13-14; national archives of the government of India, New Delhi.
[16] Raafat, Samir. “ Freemasonry in Egypt: Is it still around? ” Insight Magazine, March 1, 1999.
[17] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 122.
[18] Ibid . p. 122.
[19] 1941: Iraq and the Illuminati .
[20] Manly P. Hall (33rd degree mason), “The Phoenix, An Illustrated Review of Occultism and Philosophy”, 1960 The Philosophical Research Society , p. 122
[21] p. 280
[22] The Masters Revealed , p. 146.
[23] Howe, Ellic, Theodor Reuss: Irregular Freemasonry in Germany, 1900-23, 16 February 1978; Grand Lodge of BC and Yukon, Ars Quatuor Coronatorum , ” Theodor Reuss: Irregular Freemasonry in Germany, 1900-23 “.
[24] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 136.
[25] Ibid. p. 279.
[26] Cole, Juan R. I. “ Rashid Rida on the Bahai Faith: A Utilitarian Theory of the Spread of Religions ”, Arab Studies Quarterly 5, 3 (Summer 1983): 278.
[27] Raafat, Samir. “ Freemasonry in Egypt: Is it still around? ” Insight Magazine, March 1, 1999.
[28] Dreyfuss, Hostage to Khomeini , p. 136.
[29] Goodgame, Peter. The Muslim Brotherhood: The Globalists’ Secret Weapon .
Beberapa sarjana berpendapat bahwa Baphomet merupakan kata Perancis kuno untuk Mahomet (Muhammad). Sarjana lainnya mengatakan bahwa Baphomet sebenarnya kesalahan penyebutan dari ‘Muhammad’.
Diduga bahwa Knights Templar dibubarkan karena dituduh telah mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Tentu saja dugaan ini adalah dugaan yang bodoh. Ini hanya akal-akalan saja. Jika benar bahwa Knights Templar masuk Islam atau menggabungkan ajaran Islam dengan Kristen atau terpengaruh ajaran Islam, mengapa mereka menyembah Baphomet yang katanya merupakan nama lain dari Nabi Muhammad?
Teori yang mengatakan bahwa Baphomet adalah Muhammad dan Knights Templar adalah pengikut Muhammad atau pun dipaksa mengaku sebagai pengikut Muhammad adalah teori yang konyol. Islam tidak mengajarkan ummatnya untuk menyembah Nabi Muhammad. Dan Islam tidak mengajarkan untuk meludahi salib tiga kali dan saling mencium bokong orang lain. Vatikan terlalu bodoh jika memaksa mereka untuk mengaku demikian.
Teori seperti ini hanyalah upaya untuk membersihkan nama Knights Templar. Padahal telah sangat jelas bahwa Knights Templar memang telah mengamalkan ajaran Cabbala. Cabbala merupakan ajaran Gnostik Kuno yang misterius. Mengenai Cabbala dan Ancient Mystical Order Rosae Crucis ini telah dibahas.
Selain membela Knights Templar, teori ini juga menyudutkan Gereja Katholik yang memang korup. Baik Knights Templar maupun Gereja Katholik memang sama-sama korup. Dua kubu Kabbalis ini saling menjatuhkan seperti halnya kaum Yahudi juga saling menjatuhkan. Protestan juga tak lebih baik dari Katholik. Protestan dan Katholik juga sama-sama memburu Michael Servetus dan Francis David, dua tokoh Unitarian saat itu. Jadi, jangan bangga dulu jika Anda adalah seorang Protestan. Karena Protestan juga mengagungkan hari Matahari dan tanggal 25 Desember. Jadi, ajaran Protestan juga sama Gnostiknya dengan ajaran Katholik yang percaya akan penyaliban, kematian, dan kebangkitan dari dewa yang disembahnya.
Abafihamet
Teori lain mengatakan bahwa Baphomet berasal dari kata ‘Aba Fihamet’, yang berarti ‘Bapak Kepahaman’ atau ‘Bapak Kebijaksanaan’. Seperti para Masonic, kaum Knights Templar menyebut-nyebut tentang Kebijaksanaan. Mendiang Nurcholish Majid dan RA. Kartini juga sering menyebut-nyebut tentang Kebijaksanaan, dengan mengkapitalkan huruf K, dalam tulisan-tulisan mereka yang terus mengusung liberalisme dan emansipasi ala Protokol Zionis.
Dari Kata Yunani, Baph dan Metis
Teori lain mengatakan bahwa ‘Baphomet’ merupakan derivasi dari dua kata Yunani, yaitu Baph dan Metis, yang berarti ‘Baptisan Kebijaksanaan’.
Templars dikatakan telah menyembah kepala. Salah satu teori mengatakan bahwa kepala tersebut tak lain adalah kepala Yohanes Pembaptis yang dipenggal.
Atbash Cipher untuk Kata Yunani ‘Sophia’
Atbash merupakan enkripsi sederhana alphabet Ibrani. Enkripsi ini mengganti aleph (huruf pertama) dengan tau (huruf terakhir), dan beth (huruf kedua) dengan shin (huruf sebelum tau), dst. Mudahnya, alphabetnya dibalik.
Dr. Hugh Schonfield, salah satu sarjana yang ikut bekerja dalam proyek penelitian manuskrip Laut Mati percaya bahwa kata Baphomet merupakan Atbash Chiper untuk kata Yunani ‘Sophia’ yang berarti ‘Kebijaksanaan’.
Kode Yunani untuk Kuil Sulaiman
Eliphas Levi percaya bahwa nama tersebut bisa dibalik dan dibentuk menjadi frase yang mengacu kepada Kuil Sulaiman. Kata ‘BAPHOMET’ dapat dibalik menjadi ‘TEM O H P AB’, suatu akronim untuk ‘Templi Omnivm Hominum Pacis Abbas’, yang berarti Bapa dari Kuil Kedamaian Seluruh Manusia. Kuil yang dimaksud adalah Kuil Sulaiman yang dipercaya Eliphas Levi akan membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia.
Kuil Sulaiman
Kuil yang ditemukan oleh Knights Templar dipercaya sebagai Kuil Sulaiman. Dan Zionis mengklaim bahwa kuil tersebut adalah Masjidil Aqsha. Benarkah?
Masjidil Aqsho tidaklah terletak di bukit Moria ataupun bukit Zaitun. Masjidil Aqsho terletak di lembah kudus Thuwa. Jadi, tidak benar bahwa kuil yang ditemukan itu adalah Masjidil Aqsho. Lagi pula, Nabi Sulaiman tidak mengajarkan sihir atau pun Kabbalah. Kitab yang mereka temukan adalah kitab ajaran Kabbalah yang diduga lebih banyak lagi terdapat di ruang rahasia tempat Nabi Sulaiman menyita kitab-kitab sesat tersebut.
Tak Ada Kaitannya dengan Islam
Maka jelaslah bahwa Baphomet tak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang lurus. Islam tak pernah mengagungkan domba, anak domba, sapi, anak sapi, lembu, anak lembu, kambing, atau pun anak kambing. Semua ternak itu halal untuk disembelih dan dikonsumsi bagi Muslimin. Baphomet dan segala konsep yang ada padanya hanya berkaitan dengan mereka yang mengusung liberalisme dan theosophy serta segala ajaran sesat buatan Freemason si Tukang Batu Geometrian. Anda tentu tahu bahwa ajaran yang mempercayai penyaliban, kematian dan kebangkitan dewa merupakan ajaran dari Mesir Kuno. Dan Anda tentu tahu bahwa Rosicrucian, Freemason, Illuminati dan sebagainya itu mengakar kepada Mesir Kuno. Jadi, saya rasa Anda tahu, mana ajaran Tuhan alam semesta, dan mana ajaran Iblis.
The Legend of Zorro (2005) was an interesting film. I’m shocked when I see Orbis Unum symbol. Orbis Unum? E Pluribus Unum? A serpent circling the globe? I think that was a masonic symbol. It looks like a masonic serpent symbolic.
As McGivens (Nick Chinlund) and his men travel to Maderas Cove to pick up the shipment, they pause for water near where Father Quintero is conducting a lesson with the schoolchildren. Joaquin (Adrian Alonso) crawls under the wagon and journeys with McGivens to their destination. Soon after they arrive, Joaquin is caught, but fortunately Zorro (Antonio Banderas) arrives and rescues him. Joaquin shows Zorro a bar of soap that he swiped from the shipment. Zorro is shocked to see that the shipment was just a load of soap. What can McGivens and Armand do with soap?
The bar of soap is marked with the name Orbis Unum and a symbol of a serpent circling the globe. Fray Felipe learns that Orbis Unum is Latin for One World, which is the name of the Knights of Aragon, an ancient religious sect that formed after the Crusades. A prophecy from 1000 years ago reads “There shall be a land in the west of great power that shall rise to threaten the serpent. Only by turning the power onto itself shall the serpent survive.” Fray Felipe and Alejandro conclude that the prophecy means the United States and that Orbis Unum is going to destroy the United States. But… with soap?
It isn’t a common soap, but an explosive soap. I think, Orbis Unum is E Pluribus Unum which mean “Out of Many, One”. It was a Masonic motto that adopted by USA. Masonics want to rule the world. They will not destroy USA in real life, I think. Through USA, Masonics rule the world. Through USA, they build Novus Ordo Seclorum (New World Order).
Knights of Aragon…. I think, they are Knights Templar that formed after the Crusades. Aragon is an autonomous community of Spain. Located in northeastern Spain, the region comprises three provinces from north to south: Huesca, Zaragoza, and Teruel. Its capital is Zaragoza (also called Saragossa in English). There is Masonic temple in Aragon and Catalonia.
So, The Legend of Zorro is one of films that campaigns Masonic Symbols. Although the scenario is rather stange (destroy USA?), but Masonics always have many plan to rule the world and make it into One World. But they will fail as long as Muslims are still fighting against them.
The Legend of Zorro (2005) merupakan film yang menarik. Saya terkejut ketika saya melihat simbol Orbis Unum. Orbis Unum? E Pluribus Unum? Ular yang membelit globe? Saya rasa itu simbol Masonic. Lambang itu terlihat seperti lambang ular naga simbolis milik Freemason.
Ketika McGivens (Nick Chinlund) dan orang-orangnya pergi ke Maderas Cove untuk mengirim barang, mereka berhenti sebentar untuk meminum air di dekat tempat Bapa Quintero menyelenggarakan pelajaran dengan murid-muridnya. Joaquin (Adrian Alonso) menyelinap di bawah kereta kuda dan melakukan perjalanan dengan McGivens ke tujuan mereka. Segera setelah mereka tiba, Joaquin tertangkap, tetapi Zorro (Antonio Banderas) datang dan menyelamatkan dia. Joaquin menunjukkan sabun yang ia curi dari McGivens kepada Zorro. Zorro terkejut melihat bahwa kiriman itu hanya bermuatan sabun. Apa yang dapat McGivens dan Armand lakukan dengan sabun?
Sabun itu ditandai dengan nama Orbis Unum dan simbol ular membelit globe. Fray Felipe mempelajari bahwa Orbis Unum adalah bahasa Latin untuk Satu Dunia, yang mana merupakan sebutan untuk Knights of Aragon, sebuah sekte agama kuno yang dibentuk setelah Perang Salib. Nubuatan dari 1000 tahun lalu dibacanya, “Akan ada sebuah negeri di sebelah barat yang besar yang akan bangkit mengancam ular. Hanya dengan memutar kekuatan tersebut kepada dirinya sendiri ular itu akan bertahan.” Fray Felipe dan Alejandro (Antonio Banderas) menyimpulkan bahwa nubuatan itu berarti bahwa negeri di barat adalah Amerika Serikat, dan Orbis Unum akan menghancurkan Amerika Serikat. Tetapi… dengan sabun?
Ini bukan sabun biasa, tetapi sabun yang dapat meledak. Saya rasa, Orbis Unum itu maksudnya E Pluribus Unum yang berarti “Dari yang Banyak, Satu”. Itu merupakan moto Masonic yang diadopsi oleh Amerika Serikat. Para Masonic ingin menguasai dunia. Mereka tidak akan menghancurkan AS dalam kehidupan nyata, saya rasa. Melalui Amerika Serikat, para Masonic menguasai dunia. Melalui Amerika Serikat, mereka membangun Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru).
Knights of Aragon …. saya rasa, mereka adalah Knights Templar yang dibentuk setelah Perang Salib. Aragon adalah sebuah komunitas otonomi di Spanyol. Terletak di timur laut Spanyol, yang terdiri dari tiga wilayah provinsi dari utara ke selatan: Huesca, Zaragoza, dan Teruel. Ibukotanya adalah Zaragoza (juga disebut Saragossa dalam bahasa Inggris). Kuil Masonic juga ada di Aragon dan Catalonia.
Jadi, The Legend of Zorro adalah salah satu film yang mengkampanyekan simbol-simbol Masonic. Meskipun skenarionya agak aneh (menghancurkan USA?), tetapi para Masonic memang selalu memiliki banyak rencana untuk memerintah dunia dan membuatnya menjadi Satu Dunia. Tetapi mereka akan gagal selama Muslim masih berjuang menghadapi mereka.
Pemikirannya tentang pluralisme telah ada sejak kecil. Begitu pula saat nyantri di Pondok Pesantren Darul Aitam, Curah Kalak, Jangkar, Situbondo milik ayahnya. Kemudian, saat tercatat sebagai mahasiswa Departemen Akidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Kairo.
Universitas itu, di mata Guntur, sangat ortodoks namun mengajarkan juga perbandingan agama. “Bagaimana kita mengadili Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan lain-lain. Tapi, saya sudah punya pengalaman dengan cekokan soal ini. Dan cekokan yang masuk ke otak saya belum tentu semua benar. Sejak saat itu, saya mulai berhati-hati. Saya terus mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan,” kata Guntur, Manajer Program Yayasan Jurnal Perempuan.
Menurutnya, bicara soal pluralisme dan toleransi, sebenarnya hal itu sudah tertanam dalam dirinya saat masih dalam asuhan kedua orangtuanya. Ia mengemukakan, pengalamannya selama ini melewati tiga proses.
Proses pertama adalah masa kecilnya. Ayah Guntur, KH Achmad Zaini Romli, adalah seorang kiai yang memiliki pesantren. Sedang ibunya, Hj. Sri Maria Romli memiliki kebebasan sendiri yakni tidak mengenakan jilbab.
“Saya lahir dari sebuah keluarga yang sangat terbuka. Bertetangga dengan keluarga yang beragama Kristen,” kenang Guntur.
Sebuah kenangan masih membekas. Tetangga yang beragama Kristen kerap mengundang keluarganya untuk santap malam di rumahnya. Tapi, sebelum santap malam, tetangganya ini mengantar ayam atau kambing ke rumah Guntur untuk disembelih ayahnya.
“Jadi, ini sepertinya menghilangkan kesan adanya makanan haram dalam jamuan itu. Begitu juga sebaliknya. Itu saya sadar. Ternyata pengalaman itu sangat menarik,” ujarnya.
Ketika masuk di sekolah umum, ia bergaul dengan teman-teman non–Muslim. Saat itu, seorang teman penganut Kristiani membawa buku-buku komik dari Perjanjian Lama.
Saat itu selalu membacanya sekadar sebagai pengetahuan. Saya akhirnya mulai mengenal nama Nabi Daud, Sulaiman, dan lain sebagainya. Nah, setelah ia mendengar cerita dari guru ngaji, pertanyaan-pertanyaan terus berkelebat.
Artinya, ia mulai melihat perbedaan-perbedaan. Tapi, saat itu belum muncul dalam benaknya untuk tidak membaca komik-komik itu. “Bagi saya, dasarnya hanya buku cerita sehingga perlu dibaca. Saya juga tak lalu menghakimi bahwa yang satu salah dan yang lain benar. Yang ada dalam pikiran saya adalah menikmati bacaan itu,” lanjut Guntur.
Begitu pula saat itu ia diajarkan sapaan-sapaan umum seperti Selamat Pagi, dan lain sebagainya. Toleransi antarsesama juga kian terasa. Saat Lebaran, Natal, dan Paskah misalnya.
Kalau ada guru yang beragama Kristen, murid-murid menyampaikan ucapan Selamat Natal. Begitu juga ucapan Lebaran. Ia menilai, sekolah umum merupakan kondisi yang ideal, yang bhinneka dan semua agama bisa masuk.
“Tak tak ada fanatisme dalam keluarga. Ibu saya juga tidak pakai jilbab. Jadi, kan aneh kalau bapa saya kiai tapi istrinya tidak pakai jilbab. Tapi, bapa saya ingin saya maju. Kemudian itu yang menjadi salah satu faktor saya dimasukkan di pesantren modern,” ujar Guntur.
Pada proses kedua, ia mengaku mulai diajarkan semacam doktrin. Mana doktrin Islam yang benar dan mana doktrin Islam yang salah. Kemudian, juga mulai bicara doktrin perbandingan agama.
Proses ketiga terjadi pada awal 1997. Saat itu, ia menuju Malang, Jawa Timur. Ia bermaksud menghadiri pelatihan para ustadz se–Jawa Timur. Saat itu, hadir pula Romo Manguwijaya, Pr dan KH Abdurrahman Wahid. Kedua tokoh itu menjadi pembicara. Di situlah pluralisme Guntur mulai menguat dan jelas terbentuk.
Saat studi di Universitas al-Alzhar, Kairo, ia intens mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan. Misalnya, membaca buku-buku karya pemikir-pemikir Islam progresif seperti Abu Zed, dan lain-lain. Padahal, sejumlah buku para pemikir Islam progresif itu dilarang di al-Alzhar. Guntur juga berkenalan dengan para ulama Islam, Kristen, dan Yahudi. Misalnya, Mgr Youhanna Qaltah, seorang Uskup Agung di Kairo dan Dr Millad Hanna, seorang penganut Koptik Mesir. Buku terkenal Millad Menyongsong Yang Lain, Membela Pluralisme ia terjemahkan dan diterbitkan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL).
Saat berdiskusi dengan Uskup Qaltah, Guntur menanyakan pandangan tokoh Katolik yang satu ini. Di hadapan filsuf yang belajar Islamic Studies ini, Guntur tak sungkan-sungkan menanyakan pandangan beliau tentang isu Kristenisasi. Sang Uskup juga menyampaikan, ada juga isu Islamisasi.
“Saya bilang, agama itu seperti baju yang kita kenakan sesuai selera. Kadang-kadang kita hanya mementingkan baju. Pertemuan itu, membuat saya semakin tertarik dengan tema pluralisme. Saya mulai baca buku-buku lain yang lebih arif untuk melihat keberagaman agama. Bagaimana prulaitas itu dipahami oleh karena ada persoalan politis dan benturan kepentingan,” jelas Guntur.
Di The Jakarta Post edisi 2 November 2008, Guntur berkata, “I am still optimistic about the future of religious pluralism in Indonesia despite the absence of legal and political certainty and even though the Muslim majority is keeping silent. My optimism comes from my faith that only religious pluralism will humanize human beings.” (Saya masih optimis tentang masa depan pluralisme agama di Indonesia walaupun tidak adanya kepastian hukum dan politik dan meskipun mayoritas Muslim tetap diam. Keoptimisan saya datang dari keyaqinan saya bahwa hanya pluralisme agama yang akan memanusiakan manusia.)
Sekarang Anda tahu ‘kan siapa Mohammad Guntur Romli itu? Dia adalah seorang pluralis liberalis. Dia hanya ingin menjadikan manusia sebagai binatang. Bukankah hanya binatang yang dapat bebas dengan kebebasan seperti yang diajarkan kaum liberalis? Pluralisme dan liberalisme bukan untuk memanusiakan manusia, tetapi sebaliknya, dehumanisasi.
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi Entah ingin mengulang terkenal sepeti Ulil Abshar atau tidak, tulisannya yang mengatakan Nabi Muhammad ”dibesarkan” Kristen ternyata hanya membajak.
Tulisan Mohammad Guntur Romli, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) (Kompas, 1 September 2007) menarik untuk dicermati. Setelah membaca tulisannya yang lumayan panjang itu, penulis berkesimpulan bahwa Guntur ingin menyatakan bahwa Nabi Muhammad tumbuh dan ‘dibesarkan’ oleh milieu Kristen. Artinya, lingkungan dan kaum cerdik pandai Kristen punya andil yang cukup vital terhadap pribadi dan nubuwwah (kenabian) Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tulisan tersebut ‘menarik’: perlu dicermati dan dikritisi.
Maryam dan Yesus di Ka‘bah
Mengutip Muhammad bin Abdillah al-Azraqi – dalam Akhbar Makkah – Guntur menyatakan bahwa terdapat “gambar dan arca Isa (Yesus) dan ibunya, Maryam (Maria) di Ka‘bah”. Benarkah demikian?
Sejarawan Muslim terkemuka, Ibnu Katsir (w. 774 H) membeberkan – dengan panjang lebar – situasi dan kondisi ketika Fathu Makkah dalam bukunya yang terkenal, al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang melihat patung nabi Ibrahim as. dan Maryam (Maria) di Ka‘bah. Tapi, dia tidak menyebutkan adanya arca Isa (Yesus) di sana. Ketika melihat gambar keduanya, beliau berkata, “Dan mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah (bait) yang di dalamnya terdapat gambar Ibrahim. Lalu bagaimana pula seandainya gambar ini memanah – mengundi nasib dengan anak panah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 4: 698). Justru di sini Nabi SAW tidak setuju adanya patung kedua orang yang dimuliakan itu.
Kenapa saya mengutip Ibnu Katsir? Karena beberapa buku yang dikutip oleh Guntur masih diragukan validitasnya, seperti al-Halabi dan Ibnu Jarir al-Thabari. Buku sirah Ibnu Hisyam (w. 218 H) yang paling otentik pun tidak ada menyebutkan patung Maryam dan Isa (Yesus). Yang disebutkan hanya gambar para malaikat, nabi Ibrahim as. dan yang lainnya. Nabi SAW akhirnya marah dan mengatakan, “Mereka telah menjadikan ‘syaikh’ kita mengundi nasib dengan anak panah. Ibrahim tidak ada kaitannya dengan pengundian nasib seperti itu.” Lalu beliau membaca ayat, “Ibrahim itu bukan seorang Yahudi tidak pula Kristen, melainkan orang yang hanif (lurus) dan menyerahkan diri (muslim), tidak pula seorang yang musyrik (Ali Imran: 67).” Lalu beliau menyuruh agar seluruh gambar-gambar itu diubah (dihapus). (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, tahqiq dan syarh: Musthafa al-Saqa, Ibrahim al-Abyari dan Abd al-Hafizh Syalabi, 1997, 4: 61).
Pendapat Ibnu Hisyam ini mengandung dua kemungkinan. Pertama, kata “yang lainnya” (ghairuhum), menunjukkan adanya ‘lukisan/gambar’ Maryam dan Isa (Yesus), bukan “arca” Maryam dan Yesus seperti pendapat yang di‘comot’ Guntur. Kedua, Nabi SAW tidak membiarkan gambar-gambar tersebut (para malaikat, nabi Ibrahim dan yang lainnya) menghiasi dinding Ka‘bah). Maka, gambar-gambar itu pun dihilangkan. Jadi, tidak benar jika arca – pendapat yang dikutip Guntur – tersebut baru hancur pada masa Yazid bin Muawiyah. Hal ini dikuatkan dengan fakta historis, bahwa pada masa Yazid ibn Muawiyah tidak pernah dibicarakan masalah penghancuran gambar-gambar (arca) tersebut.
Afirmasi Al-Qur’an
Al-Qur’an (Qs. Al-Ma’idah: 82), menurut Guntur, mengakui kedekatan orang Kristen dengan Muhammad. Tentu kita tidak menyangkal fakta historis ini, tapi ini perlu dilihat secara jeli dan ‘jurdil’, tidak asal afirmasi. Benar sekali bahwa Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah sebagai orang Kristen, namun Kristen yang masih mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Tapi, pengakuan Waraqah tentang kenabian Nabi SAW perlu dilihat dengan kritis. Setelah berbicara tentang sosok Jibril yang datang kepada Nabi SAW di Gua Hira’, Waraqah menyatakan: “Jika itu benar wahai Khadijah, berarti Muhammad adalah “Nabi umat ini”. Dan aku sudah tahu bahwa dia adalah seorang nabi yang ditunggu-tunggu (nabiyyun yuntazhar) oleh umat ini. Ini adalah masanya.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1988, 1: 228).
Peristiwa “Gua Hira” itulah yang disebut oleh Waraqah sebagai “Namus” alias “rahasia” yang pernah turun kepada Musa. Lalu Waraqah berikrar: “Amboi, seandainya aku ketika itu – ketika Nabi SAW dimusuhi oleh kaumnya dan dikeluarkan dari Mekah – kuat (kokoh) dan hidup ketika kaummu mengeluarkanmu.” “Apakah mereka akan mengeluarkanku?” tanya Nabi SAW. “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Seandainya umurku sampai pada masamu itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat tenagaku.” (Wa in yudrikuni yaumuka, anshuruka nashran mu’azzaran). (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 3: 6).
Di sini, Waraqah mengakui bahwa Nabi SAW adalah “nabi akhir zaman”: nabi umat ini. Jika Waraqah hidup pada masa risalah dan kenabian beliau, kemungkinan besar akan memeluk Islam.
Juga tidak benar jika Nabi SAW berjalan-jalan di pasar tujuannya adalah menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan” (Qs. Al-Furqan: 7). Ini adalah pemahaman salah Guntur terhadap ayat. Padahal maksud ayat di atas adalah penjelasan tentang sifat kemanusiaan (basyariyyah) Rasul SAW. Karena orang-orang kafir menolak bahwa “seorang nabi” tidak selayaknya melakukan hal-hal seperti manusia biasa: mencari rizki di pasar-pasar. Oleh karena itu – dalam ayat tersebut – orang-orang kafir menyangkal: “Wa qalu: ‘Ma lihadza al-rasuli ya’kulu al-tha‘ama wa yamsyi fi al-aswaq…” (Kenapa rasul ini makan makanan dan berjalan-jalan di pasar (mengais rizki) di pasar-pasar….?) Apa yang dilakukan Guntur adalah “pembajakan makna dan subtansi ayat”, dan ini sangat tidak ilmiah dan tidak sepatutnya terjadi.
Guntur kemudian menyebutkan dua pusat kekristenan: Yaman dan Syam; yang menjadi tujuan niaga kafilah Quraisy. Yaman dikuasai oleh dinasti Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monopisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monopisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah, demikian tulis Guntur. Yang ingin disampaikannya adalah: Muhammad telah terpengaruh oleh tradisi Kristen di kedua wilayah itu sejak dini.
Sejatinya, ketika Rasul SAW pergi – ketika berumur 12 tahun – ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, pendeta Buhaira justru menerangkan tentang tanda-tanda kenabian Rasul SAW. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 2: 630).
Buku-buku sirah tidak menyebutkan keterpengaruhan beliau dengan budaya (tradisi) Kristen yang ada di sana. Ibnu Hisyam sendiri menyebutkan Buhaira malah bertanya atas nama Lata dan ‘Uzza kepada Nabi SAW, kemudian beliau menolak kedua nama tuhan orang kafir Quraisy itu. Nabi sejak dini sudah membenci kedua sosok tuhan itu. Akhirnya Buhaira menuruti kata Nabi SAW dan mengganti nama Lata dan ‘Uzza dengan kata “Allah”. Setelah Nabi SAW menjawab pertanyaan Buhaira, terjadilah dialog yang cukup panjang antara dia dengan Abu Thalib: “Apa posisi anak ini bagimu?” “Dia anakku”, jawab sang paman. “Dia bukan anakmu, sepertinya bapak anak ini sudah tidak ada (wafat).” “Dia adalah anak saudaraku”, jelas Abu Thalib. “Apa yang terjadi atas ayahnya?” tanya Buhaira. Abu Thalib menjawab: “Ayahnya telah meninggal, ketika ibunya mengandung dia.” “Anda benar”, tegas Buhaira. “Bawa pulanglah anak saudaramu ke kampung halamannya. Hati-hatilah terhadap orang Yahudi. Sungguh, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yang aku ketahui, mereka akan bertindak tidak baik kepadanya. Akan terjadi peristiwa besar (sya’nun ‘azhim) kepada anak saudaramu ini. Cepatlah bawa dia pulang ke kampung halamannya”, perintah Buhaira. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 219-220). Jadi, tidak ada interaksi dan proses keterpengaruhan Nabi SAW oleh tradisi Kristen di Syam.
Peristiwa kedua adalah ketika Nabi SAW membawa dagangan Khadijah bersama Maisarah. Sesampainya di sana, beliau kemudian bersandar di bawah sebatang pohon dekat gereja seorang pendeta – namanya Nestor [Nestorius]. Kemudian pendeta itu bertanya kepada Maisarah: “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon ini?” “Dia adalah seorang laki-laki dari suku Quraisy, keluarga pengurus ‘al-Haram’ (Ka‘bah)”, jawab Maisarah. “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon ini, kecuali dia (adalah) seorang nabi”, kata Nestorius. (Ibnu Hisyam, ibid: 1: 225). Di sini pun tidak ada proses interaksi yang bisa dijadikan bukti kuat bahwa Nabi SAW terpengaruh oleh tradisi Kristen. Sedangkan ke Yaman, Nabi SAW tidak pernah dikabarkan pergi ke sana. Apalagi dikatakan bahwa beliau terpengaruh oleh tradisi Kristen yang ada di sana.
Beberapa Kritik
Pendapat Khalil Abdul Karim, penulis Marxis Mesir, yang dikutip oleh Guntur perlu dicermati dan dikritisi. Pasalnya, dia mengklaim bahwa Khalil membeberkan pendapatnya berdasarkan sumber-sumber sejarah primer, seperti al-Thabari, sirah Ibnu Ishaq, al-Ya‘qubi dan yang lainnya.
Khalil, kutip Guntur, dalam bukunya Fatrah al-Takwin fi Hayati al-Shadiq al-Amin (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) menyatakan bahwa Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas intelegensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Utsman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal.
Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh-jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Thaif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Itulah kutipan Guntur dari buku Khalil. Benarkah yang dikatakan oleh Khalil dan Guntur?!
Di sini Guntur tidak kritis dan tidak selektif dalam ‘mencomot’ pendapat Khalil. Waraqah, Utsman ibn al-Huwairits, Abdullah ibn Jahsy, Zaid ibn Amru ibn Nufail ibn Abd al-‘Uzza memprotes kebiasaan orang-orang Quraisy yang setiap tahun merayakan hari raya mereka di depan salah satu patung (berhala) mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya: “Belajarlah, sungguh kaum kalian tidak memiliki pegangan apa-apa! Mereka telah menyalahai agama moyang mereka, Ibrahim! Apa itu batu yang mereka ukir; tidak dapat mendengar dan melihat, tidak mampu mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat. Wahai kaum, carilah satu agama untuk kalian. Sungguh, kalian tidak memiliki satu pegangan. Lalu mereka berpencar di kota-kota besar untuk mencari agama yang lurus (al-hanifiyyah), agama Ibrahim. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 259-260). Fakta ini sangat menarik untuk diungkap.
Waraqah sendiri menjadi kuat kedudukannya dalam agama Kristen; Abdullah ibn Jahsy tetap dalam ketidakjelasan hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah beserta istrinya, Habibah binti Abi Sufyan. Ketika sampai di Habasyah, dia masuk Kristen; meninggalkan Islam dan mati dalam keadaan Kristen. Sedangkan Utsman ibn al-Huwairits, pergi mendatangi Kaisar, raja Romawi dan memeluk Kristen, sehingga mendapat kedudukan yang baik di Romawi. Dan Zaid ibn Amru memilih ‘tawaqquf’: tidak memeluk Yahudi juga – tidak memeluk – Kristen. (ibid: 260 & 261). Jadi, orang-orang yang disebutkan oleh Khalil pada awalnya tidak punya agama yang tetap, justru mereka sepakat untuk mencari ‘Hanifiyyah Ibrahim’. Dan tidak pernah disebutkan bahwa mereka mempengaruhi keyakinan (akidah), ritual ibadah dan tradisi agama Nabi SAW. Malah Khadijah akhirnya membenarkan wahyu yang turun kepada beliau, dan memeluk Islam. Lalu mengapa pendapat Khalil harus kontradiktif dengan pendapat Ibnu Hisyam dalam sirah, yang merupakan ‘revisi’ atas karya Ibnu Ishaq ini?!
Perlu dicatat, bahwa Tarikh al-Thabari meskipun merupakan karya yang “sarat nilai” kemungkinan banyak menampilkan riwayat-riwayat yang diragukan dan banyak memuat dokumen-dokumen yang tidak valid (watsa’iq ghair watsiqah) (Muhammad Hamidullah, Majmu‘ah al-Watsa’iq al-Siyasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khilafah al-Rasyidah, Beirut, cet. VII, 2001: 29).
Hamidullah sendiri mengakui bahwa buku al-“Kharraj” karya Abu Yusuf dan “al-Sirah al-Nabawiyyah” karya Ibnu Hisyam merupakan dua karya yang paling awal, paling hati-hati dan paling otentik. Karena al-Thabari, menurut Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, sering menyebut suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh perawi yang sangat lemah sekalipun, seperti Hisyam ibn Kalbi, Saif ibn Umar al-Tamimi, Nasr ibn Mazahim, dan lainnya. (Prof. Dr. Akrham Dhiyauddin Umari, Madinan Society at the Time of the Prophet: Its Characteristics and Organization (Masyarakat Madani: Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi), Terjemah: Mun’im A. Sirriy, GIP, 1999: 37).
Oleh karena itu, usaha Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah merupakan usaha yang sangat selektif dalam mengurai peristiwa sejarah, dibanding al-Thabari. Karya Ibnu Katsir ini, menurut Umari, merupakan satu karya agung dalam bidang sejarah dan memuat bagian tertentu yang secara khusus membahas sirah. Ibnu Katsir merupakan salah seorang imam besar yang dengan cermat meneliti teks-teks. Al-Dzahabi, Ibnu Hajar dan Ibnu Imad al-Hanbali menganggapnya sebagai ulama yang dapat dipercaya. (ibid: 58). Tapi buku ini sama sekali sekali tidak dirujuk oleh Khalil, konon lagi Guntur.
Guntur lebih suka ‘mengekor’ kepada Khalil, yang mencomot riwayat dari al-Sirah al-Halabiyyah karya Burhanuddin al-Halabi (w. 841 H). Padahal buku ini banyak memuat kisah-kisah isra’iliyyat. Burhanuddin al-Halabi tidak menyebut isnad riwayat-riwayat, dan hanya sesekali menyebut perawi akhbar. (Umari, ibid: 58-59). Buku Ansab al-Asyraf karya Ahmad ibn Yahya ibn Jabir al-Baladhuri (w. 279 H), yang dikutip Guntur, dianggap lemah oleh para ulama hadits (dha‘if). Ibnu Hajar (dalam karyanya, Lisan al-Mizan) menulis biografinya dalam bukunya tentang dhu‘afa’ ‘orang-orang lemah’. (Umari, ibid: 57).
Hal penting yang harus digarisbawahi juga adalah masalah “korespondensi” Khadijah dengan para pendeta yang disebutkan oleh Khalil dan di‘taklid’ oleh Guntur. Buku-buku sirah tidak membeberkan masalah ini. Apalagi dikatakan bahwa Khadijah berkorespondensi dengan Adas – menurut Guntur seorang pendeta. Adas adalah seorang Kristen dari Ninawi sekaligus “budak” dua orang anak Rabi‘ah: ‘Utbah dan Syaibah. Ketika Nabi SAW menjelaskan bahwa nabi Yunus adalah saudaranya – dalam kenabian – Adas langsung mencium kepala beliau, kedua tangan dan kakinya. (Lihat lebih detail, Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, op. cit., 3: 147 & 148). Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah sebaliknya. Sirgius juga bukan di Mekah tempatnya. Sirgius adalah nama lain dari Buhaira, seorang rahib Yahudi, seperti yang dituturkan oleh al-Suhayli dari al-Zuhri. Dan menurut al-Mas‘udi, dia adalah dari ‘Abd al-Qais. (ibid., 2: 691).
Maka, tidak benar pendapat Guntur bahwa ketika Nabi SAW mendapat wahyu pertama, Khadijah memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai ketika itu satu persatu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah pembajakan fakta historis. Apalagi buku al-Halabiyah yang – banyak mengandung isra’iliyyat – dijadikan rujukan bahwa Khadijahlah yang menguji wahyu yang turun kepada Baginda Rasul SAW. Ini bukan saja disebut sebagai “pembodohan umat” tapi “penyelewengan” yang tidak ilmiah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak dapat dibenarkan. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.
* Penulis adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo. Penulis juga peminat studi Qur’an-Hadits dan Kristologi. Sekarang menjadi staf pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara
Hampir seluruh media massa dunia, cetak maupun elektronik, besar maupun kecil, memberitakan acara pelantikan Barrack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Change, We Believe merupakan semboyan mistis yang diteriakkan Obama ketika berkampanye. Dan dunia kini menantikan, perubahan apa yang akan dibawanya.
Namun ada banyak hal yang luput dari sorotan kebanyakan media seluruh dunia seputar inaugurasi Presiden Obama. Inilah sebagian kecil di antaranya:
Masonic Bible
Ketika mengucap sumpah menjadi Presiden AS, Obama memilih Injil yang sama yang digunakan oleh pendahulunya, Presiden Abraham Lincoln, saat dilantik pada tahun 1861 dan 1865. Padahal ketika Abraham Lincoln dilantik menjadi Presiden AS, dia menggunakan Masonic Bible. Ini berarti Obama juga mengucapkan sumpahnya di bawah naungan Masonic Bible (Injil Masonik). Injil Mason merupakan sebuah Injil yang telah diberi catatan kaki di sana-sini, bahkan melebihi ayat-ayat aslinya, yang keseluruhan catatan kakinya tersebut berpandangan Zionistik. Injil jenis ini juga memuat sejumlah ilustrasi berupa fragment sejarah kaum Yahudi, tentunya yang mendukung klaim Zionis-Yahudi atas Tanah Palestina.
Obelisk Fir’aun
Saat diambil sumpahnya, Obama—seperti semua Presiden AS ketika dilantik—berdiri di sebuah podium yang menghadap lurus ke sebuah obelisk yang menjulang tinggi. Obelisk tersebut bernama The Washington Monument.
Obelisk sendiri merupakan simbolisasi nyala api yang mengarah ke atas, ke arah pemujaan terhadap Dewa Matahari (Helios atau Ra Goddes). Matahari merupakan tuhan tertinggi kaum pagan yang tetap lestari hingga kini. Sunday merupakan hari penyembahan terhadap Dewa Matahari, di mana sekarang diwarisi oleh kalangan Kristen di dalam menunaikan kebaktiannya. Padahal Nabi Isa a.s. selalu beribadah setiap hari dan tidak mengistimewakan hari Minggu. Sebab itu, Obelisk juga dimaksudkan sebagai penyembahan terhadap Dewa Matahari.
Inaugurasi Presiden AS
Seluruh Presiden AS dilantik dan menjalankan roda pemerintahan dari Washington DC, yang ditetapkan sebagai Ibukota AS pada tahun 1790. Peletakan batu pertama Gedung Capitol dilakukan tiga tahun setelahnya. Seorang arsitek Perancis yang juga mantan tentara yang membantu Amerika menghadapi kolonialis Inggris bernama Pierre Charles L’Enfant merancang arsitektur kota ini pada 1791. L’Enfant merupakan seorang Mason seperti juga George Washington.
Struktur federal paling tua di Washington DC adalah batu pertama yang ditanam di pondasi White House pada tanggal 13 Oktober 1792. Tanggal 13 Oktober merupakan tanggal dimulainya penumpasan Templar di Perancis. Adakah peletakan batu pertama pada pondasi White House merupakan sebuah memorial bagi Templar? Wallahu’alam.
Yang jelas, setiap inaugurasi Presiden AS selalu saja dikelilingi simbol-simbol Masonik yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Obama merupakan Presiden AS ke-44 yang mewarisi ritual inaugurasi paganis seperti ini. Dan hal tersebut menandakan jika semboyan perubahan yang diusungnya sesungguhnya hanya merupakan slogan kosong, sama seperti ketika para tokoh Masonik Perancis meletuskan Revolusi Perancis di abad ke-18 dengan slogan-slogannya. Amerika di bawah Obama akan tetap menjadi Amerika yang Zionistik.
President-elect Barack Obama’s swearing-in Tuesday will incorporate several elements out of America’s Masonic past.
One-third of the signers of the Constitution, many of the Bill of Rights signers and America’s first few presidents (except for Thomas Jefferson) were Freemasons, a fraternal organization that became public in early 18th-century England.
Although it became fabulously popular in America, at one time encompassing 10 percent of the population, Pope Clement XII condemned Freemasonry in 1738 as heretical. The latest pronouncement was issued in 1983 by then-Cardinal Joseph Ratzinger – now Pope Benedict XVI – who called Masonic practices “irreconcilable” with Catholic doctrine.
Still, as the first president, George Washington had to come up with appropriate rituals for the new country. He borrowed many of them from Masonic rites he knew as “worshipful leader” of a lodge in Alexandria.
His Masonic gavel is on display at the Capitol Visitor Center. Until this inauguration, Washington’s Masonic Bible – on which he swore his obligations as a Freemason – was used for the presidential oath of office. President-elect Barack Obama will use Abraham Lincoln’s Bible.
The worshipful master administered the Masonic oaths. This was adapted to the president vowing to serve his country in an oath administered by the top justice of the Supreme Court.
I learned all this from Garrison Courtney, a 30-something government worker who gives Masonic tours of the District in his spare time. He is worshipful master at the Cincinnatus Lodge in Georgetown. Contrary to public perceptions of Masons being older white guys, current local membership is a racially and religiously mixed group of Gen-X men, he says.
They have, he adds, gotten a bad rap as a secretive organization.
“If people have questions, we will tell them,” he says. “We’re pretty open as an organization.”
Calling themselves a “spiritual organization,” Masons need only believe in a Supreme Being. Masons have grown nationally in recent years, he said, with 38 lodges in the District alone.
The late President Gerald R. Ford was the last presidential Mason.
“We actually had a Masonic procession to his casket while he was lying in state at the Capitol,” Mr. Courtney said.
The inaugural parade, he tells me, began as a Masonic procession [a parade of Masonic notables] from the still-unfinished White House to Capitol Hill, where Washington traveled on Sept. 18, 1793, to lay the cornerstone for the Capitol. Lafayette Park was the site of a makeshift Masonic lodge, in which the Scottish stonemasons – then working on the executive mansion – lived.
Washington also ensured the boundaries of the District – each 10 miles along – formed a perfect square, which symbolizes ultimate virtue in Masonry.
“The whole idea behind the building of Washington was to convey the message about the new experiment, a new way of thinking the Founding Fathers had in mind,” said Akram Elias, past grandmaster of all the District’s lodges.
Whole books have been written about the Masonic imagery on buildings around the District. Many of their cornerstones were laid with Masonic ceremonies involving oil, wine and corn.
“All five statues in front of the White House are Freemasons,” Mr. Courtney said. “Every single one of the statues on Virginia Avenue are as well. Masonry is ingrained in the city and in the American culture.”
Kasus tawuran dan kekerasan di kalangan pelajar kian hari kian meningkat. Bukannya saya membela guru yang melakukan kekerasan terhadap pelajar, namun saya melihat bahwa sebagian kasus kekerasan guru terhadap anak didiknya yang duduk di bangku sekolah menengah atas sepertinya lebih dipicu oleh perilaku pelajar itu sendiri yang memang semakin menunjukkan keliarannya.
Bagaimana emosi para guru ini tidak terpancing melihat anak didiknya lebih senang membawa samurai dari pada pulpen dan penggaris? Berapa banyak pelajar yang memperhatikan pelajaran yang diberikan gurunya? Berapa banyak pelajar yang senang membaca buku pelajaran? Berapa banyak siswa yang taat beragama?
Pertanyaan terakhir ini perlu diperhatikan oleh setiap orangtua. Apakah anak Anda termasuk anak yang taat beragama? Jika tidak, maka berhati-hatilah! Karena anak Anda lebih membutuhkan agama dari pada pelajaran sekolah. Jika anak Anda tak lagi taat beragama, saya khawatir kalau saja anak Anda akan termasuk kepada pelajar-pelajar liar yang sebenarnya tak layak disebut pelajar. Pelajar hanya menjadi status saja. Tetapi kelakuan mereka bisa lebih parah daripada preman. Karena faktanya, memang ada pelajar-pelajar yang malah membuat kelompok pemalak dan mengganggu kenyamanan penumpang bus.
Kita juga telah menyaksikan berita di tanah air mengenai banyaknya kasus perkelahian antar pelajar bahkan antar pelajar puteri. Lagi-lagi, sinetron dan film di tanah air tak bisa dicoret dari daftar faktor penyebab munculnya kasus-kasus seperti itu. Karena memang sinetron di tanah air terus memperlihatkan kekerasan dan persaingan tak sehat antar pelajar, baik pelajar putera mau pun pelajar puteri.
Faktor lainnya, tetap klasik, yaitu kurangnya ilmu dan peran orangtua dalam mendidik dan memperhatikan anak. Walau ilmu parenting Islami terus disuarakan, namun tetap tak banyak mendapat tempat di hati para orangtua.
Pada akhirnya, anaklah yang menjadi korban, korban sinetron dan kurangnya ilmu serta perhatian orangtua. Sehingga anak bergaul dan berbuat tanpa arahan agama, tanpa perhatian orangtua. Orangtua baru tersentak ketika anaknya telah terjebak pada narkoba. Orangtua baru tersadar ketika puterinya mengandung di luar nikah. Jika sudah begitu, barulah orangtua menyesal karena tak ambil peduli terhadap perkataan orangtuanya dulu tentang pentingnya agama. Aturan dan norma agama yang diajarkan orangtuanya dulu dianggapnya kolot. Akhirnya, karena ia tak mau mengajarkan apa yang dianggapnya kolot itu, ia pun membiarkan anak-anaknya bergaul tanpa aturan agama. Hasilnya, puteranya terjebak narkoba, puterinya digauli bandar narkoba hingga mengandung di luar nikah.
Cobalah lihat anak-anak Anda! Bukankah mereka adalah anak-anak yang sangat lucu ketika masih balita dulu? Bukankah Anda begitu memperhatikan mereka? Mengapa perhatian Anda menjadi berkurang ketika mereka tak lagi seimut dulu? Akibatnya mereka tumbuh menjadi musuh Anda yang nyata. Bagaimana pun juga, mereka adalah anak-anak Anda yang selalu butuh kasih-sayang, perhatian dan juga arahan yang benar. Ajaran Islam adalah panduan praktis yang Anda butuhkan dalam mendidik mereka. Ajaran Islam merupakan paket komplit yang Anda butuhkan. Ajarkan Islam yang benar kepada mereka sebelum mereka aqil balligh, maka dengan izin Allah akan Anda dapati mereka tumbuh sebagai pelipur hati Anda.