Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • Dua Macam Obat Takabur

    Adapun mengobati sakit takabur hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi setiap individu). Sedang obatnya itu ada dua macam yaitu:

    1. Obat takabur itu dengan ilmu, yaitu ingin mengetahui dirinya dan mengetahui Tuhannya. Karena sesungguhnya jika dia mengetahui Tuhannya dengan benar-benar, maka akan mengetahui kehinaan dirinya, (lebih…)

  • Al-Muslim Akhul Muslim

    Sabda Rasulullah saw :
    “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, janganlah ia mendholimi saudaranya, dan jangan pula menyerahkannya pada musuh, dan selama ia memperhatikan kebutuhan saudaranya maka Allah swt memperhatikan kebutuhannya” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Sebaik-Baik Ucapan dan Petunjuk

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sungguh sebaik baik ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, dan seburuk buruk perkara adalah perkara yang baru” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Istighfar dan Akhlaq Nabi

    Sabda Rasulullah saw :
    “Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada-Nya pada tiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” (Shahih Bukhari) (lebih…)

  • Mencintai Tuhan

    Kalimat utama, ajaran utama yang diajarkan Nabi Muhammad dan para Nabi sebelum beliau adalah “Laa Ilaha Illallaah”. Tidak ada seorang Nabi pun diutus, kecuali membawa kalimat, ajaran dan hukum utama ini.

    Seorang Kristiani yang alim tentu paham bahwa hukum utama yang dibawa para Nabi adalah “Dia itu Ilah kita, Dia itu Esa. Cintailah Dia, Ilahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwa-ragamu.”

    Ilah memang dapat berarti Al-Ma’bud (Yang disembah) dan juga Al-Mahbub (Yang dicintai). Tetapi bukan hanya itu, Ilah juga berarti Yang dimintai, yang dipatuhi, dsb. Maka “Laa Ilaaha Illallah” dapat berarti tidak ada yang layak disembah dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dicintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dimintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dipatuhi dengan haq kecuali Allah, dsb.

    Adapun rasa sayang kepada makhluq itu muncul, hendaknya karena cinta kita kepada Allah, bukan karena nafsu. Nabi mengajarkan kita agar kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Bukan bermaksud egois, tetapi kita juga perlu mencintai diri kita dengan benar. Kita perlu juga menjaga diri kita dari kebinasaan. Dari situ kita belajar tentang bagaimana orang lain ingin diperlakukan oleh kita. Kristiani tentu setuju bahwa hal ini adalah hukum kedua.

    Para pemuka agama mana pun tidak ingin bahwa ummatnya melakukan hal keji, hal yang tidak kudus. Pendeta mana yang suka jika ummatnya mendengar desahan wanita penggoda? Biksu mana yang suka jika ummatnya melihat goyangan erotis wanita nakal? Maka sungguh memalukan jika sampai ada orang yang dianggap pemuka agama namun berada satu barisan dengan para wanita penjaja erotisme komersial dalam menjegal RUU APP. Jika sampai ada, maka dikhawatirkan bahwa hatinya telah buta sehingga tak dapat melihat Tuhan Yang Mahanyata. Lalu bagaimana seseorang dapat mencintai Tuhan Yang tak dapat ia lihat dengan hatinya?

    Para penebar kebinasaan seperti pemilik bar, night club, penjual vcd phorno, dsb tentu tak senang dengan undang-undang yang membahayakan bisnis mereka. Dengan dalih persatuan dan nasionalisme mereka menggerakkan massa untuk menentang pengesahan UU APP. Padahal mereka ini tengah mengusung budaya barat yang dapat menghancurkan bangsa demi kantong pribadi. RUU APP hadir justeru demi kepentingan nasional. Mereka berkata bahwa RUU APP masih perlu direvisi. Katakanlah mereka benar, tetapi bukan berarti UU APP harus ditolak. Sahkan saja dulu menjadi UU, jalankan, dan revisi seperlunya agar lebih baik. Jangan termakan ocehan-ocehan sok pintar dari orang-orang egois yang suka mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan pribadi.

    Tidak benar bahwa akan ada perpecahan bila RUU APP ini disahkan. Itu hanya akal-akalan pengusaha busuk saja. Mereka tidak mau industri erotisme mereka hancur gara-gara peraturan yang melindungi bangsa ini dari usaha-usaha kotor mereka. Coba lihat Uganda yang menganggap bahwa rok mini adalah musuh masyarakat. Kenapa? Karena rok mini memang budaya barat yang menurunkan martabat wanita dan dapat merusak generasi muda. Rok mini bukanlah budaya kita. Jadi, untuk apa memperjuangkan rok mini?

    Apakah Anda rela jika para remaja Bali menjadi rusak demi keuntungan segelintir orang? Apakah Anda rela jika lebih dari 50% pelajar puteri menjadi rusak moralnya karena ulah pelajar putera yang kerasukan setan erotisme selepas menonton VCD phorno atau majalah cabul yang bisa didapat dengan mudah?

    Mari perangi industri erotisme dengan UU APP yang ditakuti pengusaha bar, pengusaha night club, pengusaha VCD dan majalah phorno, dan segala pengusaha erotisme! Jika Anda mengaku beragama dan mencintai Tuhan, tentu Anda tidak akan keberatan dengan UU APP. Jika Anda mengaku humanis dan mencintai sesama manusia, tentu Anda akan keberatan dengan budaya kebinatangan yang membinasakan rasa dan harkat kemanusiaan. Tidak ada alasan untuk menolak pengesahan UU APP, kecuali jika Anda adalah insan industri erotisme yang terkenal dengan keegoisannya.

  • Ilmu Tauhid dan Tashawwuf

    Ilmu Tauhid lebih berbicara tentang apa itu iman. Sedangkan Tashawwuf lebih menekankan bagaimana caranya agar dapat merasakan manisnya iman. Tashawwuf lebih kepada dzauq atau perasaan rohaniah. Ketika ditanya tentang ihsan, Nabi menjelaskan bahwa ihsan adalah merasa seakan-akan melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat oleh Allah.

    Bayangkan ada seorang pemuda berandal sedang duduk di pangkalan ojek bersama teman-temannya sambil bermain judi. Lalu datanglah orangtua dari pemuda tadi menghampiri dan memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Namun si pemuda berandal tetap saja meneruskan permainan itu. Padahal dia melihat ayahnya yang sedang bermuka garang. Namun ia seperti tidak melihat saja. Walau dia tahu bahwa ayahnya memandangnya dg mata sangar, si pemuda tetap santai berjudi seakan tidak diperhatikan ayahnya. (lebih…)

  • Peradaban dan Aurat

    Peradaban dunia juga berkaitan dengan cara menutup aurat. Kita melihat bahwa peradaban di bawah peradaban manusia tidak mengenal pakaian dan tak mengenal aurat. Kita juga mengetahui bahwa aurat dalam peradaban pedalaman, kebanyakan hanya sebatas daerah vital saja. Mereka cukup menutupi daerah tersebut untuk dianggap sopan. Namun dalam peradaban yang lebih tinggi, orang tidak cukup menutupi daerah vital untuk dianggap sopan dan beradab. Kebanyakan orang timur menjadikan seluruh tubuhnya kecuali kepala dan lengan sebagai daerah yang perlu ditutupi. Kita dapat melihat bahwa peradaban China atau Tiongkok telah mengenal peradaban tinggi sejak lama. Bahkan Nabi pernah bersabda agar ummatnya menuntut ilmu walau hingga ke negeri China. Banyaklah Muslim yang pergi dan bahkan menetap di China sejak masa Rasulullah SAW. Orang China, baik pria maupun wanita, saat itu telah mengenakan pakaian yang panjang bahkan berlapis jubah. Dan Islam ingin mendidik ummatnya untuk lebih beradab lagi. (lebih…)

  • Pentingnya Sanad Ilmu

    Nabi Adam pernah belajar kepada Allah yang Berfirman, “Wahai Adam, janganlah kau dekati pohon itu!” Nabi Adam mendapatkan ilmu atau pengetahuan ini dari Allah.

    Di lain waktu, Nabi Adam diajari Iblis yang berkata, “Wahai Adam, mengapa engkau tidak memakan buah dari pohon itu. Sesungguhnya dengan memakannya, engkau akan hidup kekal.” Nabi Adam mendaaptkan ilmu seperti ini dari Iblis. (lebih…)

  • Pentingnya Sanad Ilmu

    Nabi Adam pernah belajar kepada Allah yang Berfirman, “Wahai Adam, janganlah kau dekati pohon itu!” Nabi Adam mendapatkan ilmu atau pengetahuan ini dari Allah.

    Di lain waktu, Nabi Adam diajari Iblis yang berkata, “Wahai Adam, mengapa engkau tidak memakan buah dari pohon itu. Sesungguhnya dengan memakannya, engkau akan hidup kekal.” Nabi Adam mendaaptkan ilmu seperti ini dari Iblis.

    Hati-hati terhadap slogan yang mengatakan, “Ambillah kebenaran, walau itu keluar dari mulut Iblis!” Kata-kata seperti ini pernah saya baca dari seseorang yang mengaku sebagai Muslim yang berkomentar di salah satu blog kami. Tidakkah dia belajar, bahwa Nabi Adam telah tergelincir akibat perkataan Iblis? Bagaimana suatu perkataan dapat dianggap benar, sedangkan perkataan itu bertentangan dengan perkataan yang sanadnya jelas bersambung kepada Allah?

    Maka carilah kebenaran dari Allah. Karena kebenaran itu datangnya dari Allah. Maka carilah kebenaran itu kepada orang yang telah belajar kepada guru yang sanadnya bersambung kepada para tabi’it tabi’in, kepada tabi’in, kepada shahabat, kepada Rasulullah SAW, kepada Malaikat Jibril as, kepada Allah. Dan janganlah Anda mengikut begitu saja kepada perkataan yang keluar dari mulut mereka yang sanadnya terputus dari Allah dan Rasul-Nya. Walau Anda melihat kata-kata itu begitu manisnya seperti kata-kata Iblis kepada Adam, tetapi ketuhilah, bahwa sesungguhnya kata-kata itu dapat membahayakan Anda jika keluar dari mereka yang sanadnya tidak bersambung kepada sumber kebenaran.

    Mereka mungkin terlihat begitu memukau dengan dalil-dalil. Namun pemahaman mereka terhadap dalil belum tentu sesuai dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Mereka sering memahami dalil-dalil sesuai nafsu dan selera mereka saja. Pemahaman mereka tidaklah keluar dari lisan yang telah bersambung kepada lisan Rasulullah SAW. Lalu bagaimana mereka mau menyebut diri mereka sebagai pemegang ilmu yang shahih?

    Maka pahamilah wahai saudara-saudariku, bahwa sanad itu penting. Tidak ada ilmu yang benar tanpa sanad. Paulus telah mengklaim ini dan itu. Namun, apakah klaimnya itu keluar dari lisan yang bersambung kepada lisan Nabi Isa? Tidak ada ilmu yang benar tanpa sanad yang bersambung kepada para pembawa berita dari Allah.

    Jika gurumu berkata begini dan begitu, padahal gurumu tidak punya sanad yang bersambung kepada guru-guru shahih, maka periksalah perkataannya itu dengan engkau bandingkan kepada perkataan guru-guru shahih yang sanad mereka bersambung kepada Rasulullah SAW. Jika tidak, aku khawatir bahwa engkau akan tergelincir kepada penyimpangan.

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda. (lebih…)