Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda.

    “Tetapi aku bukan Masonic yang ingin mengkampanyekan lambang-lambang Masonic,” ujar Bishri. Amir berkata, “Aku tahu. Tetapi jika kau tetap mengenakan kaos ini, lalu banyak pemuda mencontohmu, bagaimana?” Lalu mereka berdebat cukup panjang, hingga akhirnya Bishri memusuhi Amir.

    Amir sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin kekeliruan Bishri. Karena Amir memang sahabat yang baik. Namun Bishri menganggap bahwa tindakan Amir memberitahukan kekeliruan Bishri adalah tindakan yang memicu perdebatan dan merusak persahabatan mereka. Padahal perdebatan yang menyebabkan kerusakan persahabatan itu tidak perlu terjadi jika Bishri tidak keras kepala dan angkuh terhadap Amir.

    Bishri merasa bahwa dia telah dianggap sesat oleh Amir. Padahal Amir hanya menganggap Bishri keliru karena setelah tahu bahwa lambang pada kaosnya tidak layak dikenakan Bishri, Bishri tetap bersikeras bahwa kaos itu tetap layak dipakai. Bahkan Bishri menganggap bahwa Amir telah ‘memvonis kafir’ terhadap Bishri. Padahal tidak demikian. Bishri memang terlalu berlebihan dalam memandang tindakan Amir.

    Haruskah Amir membiarkan kekeliruan Bishri demi persahabatan mereka? Sahabat macam apa yang membiarkan kekeliruan sahabatnya?

    Saudara macam apakah Amir jika dia membiarkan kekeliruan saudara seiman? Pantaskah ia membiarkan Bishri demi persatuan? Persatuan macam apa? Al-Jama’ah itu cuma satu. Mereka yang berjalan pada jalan yang dilalui oleh Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung itulah yang disebut Al-Jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang di dalamnya berkumpul Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung.

    Saat ini, kita mengenal banyak kelompok pergerakan Islam yang mayoritas anggotanya adalah kaum muda. Dalam masing-masing kelompok pergerakan itu tentu ada kegiatan ta’lim. Namun jarang sekali pembina-pembina ta’lim itu yang sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah. Tidak jarang ilmu-ilmu yang diajarkan di dalamnya merupakan ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

    Sayangnya, setiap ulama atau murid dari ulama shahih itu menjelaskan kekeliruan mereka, hal ini dianggap sebagai memecah belah, ‘memvonis sesat’, bahkan ‘takfir’. Betapa teganya mereka menuduh demikian terhadap para pewaris Nabi. Lidah para ulama shahih ini telah bersambung kepada lidah Rasulullah SAW, dan mereka menuduh para pemilik lidah mulya ini sedemikian rupa. Sampai hatikah mereka menuduh seperti itu kepada Rasulullah SAW dengan cara menuduh para pewarisnya sebagai pemecah-belah ummat, sebagai ‘ulama takfir’ dan sebagainya?

    Berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”

    Berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad.” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Wahai para penuduh ulama-ulama shahih, tunjukkan sanad kalian jika benar bahwa kalian adalah para pewaris Nabi!

  • Membangun Generasi Ulama

    Maha Suci Allah Jalla Wa Alla Yang Maha Membuka segenap kebahagiaan dunia dan akhirat, Yang didambakan dari segala apa-apa yang diinginkan berupa anugerah. Maha Memiliki segala apa-apa yang didambakan oleh hamba hamba-Nya. Maha Menyimpan segala hal yang indah yang disiapkan bagi hamba-hamba-Nya. Matahari Kebahagiaan Yang tiada pernah terbenam. Matahari Pengampunan Yang tiada pernah padam pengampunan-Nya. Kasih-Sayang Yang kekal dan abadi melebihi segenap kasih-sayang makhlup-Nya. Maha Membuka segenap rahmat dan kesejahteraan dengan doa dan munajat. Maha Mengundang hamba-hamba-Nya kepada kebahagiaan, pengampunan, kemuliaan, keluhuran dengan doa-doa dan pendekatan ke hadirat-Nya. (lebih…)

  • Saat Diri Merasa Gundah

    Kegiatan yang banyak dan mengasyikkan, bahkan aktivitas da’wah, yang bagi sebagian orang adalah menyenangkan, terkadang dapat membuat hati tidak khusyu. Tanpa disadari, kita kehilangan rasa kehambaan ketika berda’wah dan dalam melakukan kegiatan lainnya. Datang riya dan ujub tanpa dapat kita hadang. Lalu rusaklah amal-amal kita. Yang tersisa adalah puing-puing yang berserakan di hati.

    Hati yang berantakan inilah yang menimbulkan kegundahan dan waswas serta ketidak-khusyuan. Hati disibukkan dengan memikirkan dan membayangkan berbagai aktivitas. Namun kosong dari mengingat Allah. Kosong dari kekhusyuan. Yang ada hanyalah kesenangan duniawi, riya, ujub, dan keburukan lain yang muncul tanpa kita sadari. (lebih…)

  • Proaktif dan Reaktif

    Sikap proaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap dirinya, atau tidak dalam mencari keadilan atas sikap orang lain terhadap dirinya. Adapun sikap reaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang merupakan aksi balasan atas aksi orang lain kepadanya.

    Sikap reaktif, selama tidak melampaui batas keadilan yang Allah tentukan adalah dibolehkan. Namun seorang mu’min akan lebih memilih sikap proaktif. Misalnya ada seseorang memukul orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Adalah dibolehkan bagi orang yang dipukul untuk membalas dengan balasan yang kurang lebih sama. Selama tidak melampaui batas keadilan. Namun ketika seorang mu’min dipukul, ia akan lebih memilih untuk memaafkan dari pada membalas pukulan itu. (lebih…)

  • Taushiah Habib Munzir, 28 Juli 2008

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
    Limpahan puji kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maha Menguasai jiwa dan Maha Menguasai alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, alam yang dirasakan dan alam yang tidak dirasakan. Maha Menguasai seluruh apa yang ada di alam semesta sebelum kita tercipta, setelah kita ada dan setelah kita tiada. Dia Allah tetap Maha Tunggal dan Maha Abadi dan Maha Ada, menguasai seluruh kehidupan, Maha Melimpahkan Rahmat dan Pengampunan yang tiada henti-hentinya ditumpahkan pada hamba-hamba-Nya, Jalla wa alla.Maha Suci Allah Swt, yang barangsiapa mengingatnya maka terang benderanglah jiwanya dengan cahaya Allah, yang dengan itu ia akan terbimbing selalu kepada keluhuran, kepada kemuliaan, kepada kesucian dan tercabut dari segala sifat-sifat yang hina, sifat-sifat yang tidak baik akan tersingkir dengan terang-benderang cahaya keindahan Allah di dalam jiwanya. (lebih…)

  • Ucapan Mempengaruhi Jiwa dan Partikel

    Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh,

    Hamdan li Robbin Khosshona bi Muhammadin

    Wa anqodznaa bi dzulmatiljahli waddayaajiri

    Alhamdulillahilladzii hadaanaa bi ‘abdihilmukhtaari man da’aanaa ilaihi bil idzni waqod naadaanaa labbaika yaa man dallanaa wa hadaanaa

    Shollallahu wa sallama wa baarok’alaih

    Alhamdulillahilladzi jam’anaa fi hadzalmahdhor, Limpahan puji kehadirat Allah, dengan terpanggilnya jiwa untuk menyebut nama Allah, limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, yang selalu mengizinkan bibir pendosa untuk terus menyebut nama Allah, mengizinkan jiwa yang penuh kegelapan dan kesalahan untuk memanggil namanya, untuk meminta pengampunan, dan pengampunannya adalah gerbang terluas di alam semesta, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, melebihi semua pemilik sifat kasih sayang, Allah, Allah SWT Maha mendahului hajat dan kebutuhan hambanya untuk melewati kehidupan, sebelum hambanya meminta (lebih…)

  • Membangun Generasi Ulama

    Maha Suci Allah Jalla Wa Alla Yang Maha Membuka segenap kebahagiaan dunia dan akhirat, Yang didambakan dari segala apa-apa yang diinginkan berupa anugerah. Maha Memiliki segala apa-apa yang didambakan oleh hamba hamba-Nya. Maha Menyimpan segala hal yang indah yang disiapkan bagi hamba-hamba-Nya. Matahari Kebahagiaan Yang tiada pernah terbenam. Matahari Pengampunan Yang tiada pernah padam pengampunan-Nya. Kasih-Sayang Yang kekal dan abadi melebihi segenap kasih-sayang makhlup-Nya. Maha Membuka segenap rahmat dan kesejahteraan dengan doa dan munajat. Maha Mengundang hamba-hamba-Nya kepada kebahagiaan, pengampunan, kemuliaan, keluhuran dengan doa-doa dan pendekatan ke hadirat-Nya.

    Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Allah SWT telah menyampaikan kepada kita rahasia kebahagiaan yaitu dengan doa-doa dan munajat kita serta pengikutan (ittiba) kita kepada Sayyidina Muhammad SAW. Allah SWT mengajarkan doa, mengajarkan munajat, doa dan munajat yang tiada taranya. Doa dan permintaan yang tidak akan bisa dikabulkan terkecuali oleh Allah SWT. Allah SWT mengajarkan doa-doa yang mengenalkan kita betapa kasih-sayang dan indahnya Allah.

    Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa. Wahai Allah jangan Engkau murka dan jangan Engkau tulis jika kami lupa dan kami berbuat salah. Demikian indahnya doa dan keindahan bagi yang dikabulkannya. Betapa mudahnya cobaan ini, betapa indahnya, laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, jangan Kau tulis, jangan Kau perberat, jangan Kau bebani dan maafkanlah jika kami lupa dan kami salah. Ini doa yang mengajarkan adalah Allah. Allah Swt ingin memberimu maaf dari dosa yang kau lupa dan yang kau tidak lupa. Maka diajarkan-Nya doa-doa kepada kita agar Allah tidak lagi mempermasalahkan dosa-dosa kita. Allah SWT mengajarkan gemuruh munajat di dalam jiwa ini untuk membuka kebahagiaan.

    Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, robbanaa wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa.

    Kulihat si fulan musibahnya berat. Kulihat si fulan cobaannya dahsyat. Wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa. Jangan bebani kami dengan beban yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
    Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfirlanaa, maafkanlah kami, ampunilah kami. Fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin, tolonglah kami untuk menghadapi orang-orang yang kuffar, dari kejahatan mereka, dari tipuan mereka.

    Demikian indahnya seorang mu’min diajarkan oleh Allah SWT untuk selalu mengadukan keadaannya bahkan dosa-dosanya kepada Allah SWT. Seindah-indah tempat pengaduan segala hal dan tidak akan bisa menghapus dosa kecuali Allah SWT. Allah SWT mengundang kita dan mengenalkan Dzat-Nya dan mengenalkan betapa lemahnya kita di hadapan Allah SWT. Manusia itu tidak tahu apa yang akan dikerjakannya esok hari, apa yang akan datang padanya esok dan bagaimana keadaan esok harinya, apa yang akan ia perbuat esok, ia tidak tahu. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah SWT.

    Seandainya kita melihat, ini manusia esok akan begini atau akan begitu. Orang itu melihat betapa lemahnya dia. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak tahu akan wafat dimana. Entah di barat, entah di timur , entah di darat, entah di laut.

    Demikian hadirin-hadirat. Allah mengingatkan betapa lemahnya kita di hadirat-Nya. Maha Suci Allah SWT Yang Maha Luhur, Yang Membukakan kepada kita gerbang-gerbang doa dan munajat untuk mencapai keluhuran, untuk mencapai kebahagiaan, untuk mencapai kemuliaan, untuk mencapai keindahan, untuk mencapai keridhoan dan kedekatan ke hadirat-Nya.

    Dan itulah seindah-indahnya anugerah, itulah semulia-mulia anugerah setelah seluruh kenikmatan dunia akan berakhir dan setelah itulah, hadirin-hadirat, kita memahami betapa agungnya sujud, betapa berharganya kalimat “Subhaana rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Betapa mulianya langkah langkah menuju Masjid dan majelis dzikir. Setelah kita selesai hidup di muka bumi dan diturunkan tubuh kita ke dalam qubur dan ditinggalkan oleh semua kekasih dan teman, baru kita memahami, ternyata kekasih yang haqiqi adalah Allah SWT. Allah Yang Maha Tidak Meninggalkan semua yang mencintai-Nya. Semua kekasih meninggalkan kekasihnya di qubur dan tiada mau menemani kekasihnya di alam qubur.

    Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Semakin dalam ilmu dan pemahaman kita tentang Allah Swt dan agama ini, semakin indah dan sempurna hari-hari kita. Sebaliknya, semakin sirna hal-hal ini dari kita, semakin hancur kehidupan kita. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dekat waktunya nanti, waktunya hari kiamat, jika sudah dekat akan datang masa munculnya kejahilan”. Apa ini kejahilan? Kejahilan bukan hanya ketidak-tahuan tapi yang tidak tahu merasa tahu, yang tidak tahu tapi tidak mau diberi tahu. Ini yang disebut “jahl”.

    Kalau seandainya tidak paham saja, tidak sampai ke derajat jahl. Tetapi jahl adalah yang tidak tahu namun tidak mau diberi tahu . Jika seandainya ia diberi pengetahuan ia tetap menolak. Ini yang akan muncul nanti kata Rasulullah SAW di akhir zaman. Dan ilmu semakin sirna, syari’atul muthahharoh (syariat yang suci) semakin sirna. Dan di saat itulah, hadirin hadirat, banyak terjadi permusuhan, peperangan, pembunuhan.

    Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan makna dari hadits ini adalah tandzir (peringatan) dari Rasul SAW untuk menjaga generasi ulama. Yang dimaksud munculnya kejahilan dan maksud terhapusnya ilmu adalah wafatnya para ulama. Ketika para ulama diwafatkan oleh Allah SWT dan generasi muda tidak ada yang meneruskan perjuangannya maka terjadilah hal-hal seperti ini.

    Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh kebahagiaan bagi satu lingkungan masyarakat adalah yang masih mempunyai ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi dan penuntun mereka kepada keluhuran. Sebagaimana Rasul SAW bersabda, “Allah tidak mencabut ilmu dari dada yang memiliki ilmu itu, tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama”, ini diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. Kenapa? Karena Muslimin Muslimat tidak lagi menginginkan munculnya generasi ulama. Dengan wafatnya ulama, sirnalah ilmu sampai tidak lagi tersisa seorang ulama dalam satu lingkungan masyarakat. Maka mereka mengambil guru-guru berupa orang yang tidak mengerti syariah, lantas mereka itu ditanya lalu menjawab dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. (HR Shahih Bukhari)

    Hadirin-hadirat, hadits ini adalah tandzir (peringatan) untuk membangkitkan generasi ulama. Sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi, Rasul Saw bersabda “Sungguh orang yang paling mulia menginjak permukaan bumi adalah para ulama, mereka itu jika agama ini terkotori dan tercela, mereka itulah yang membenahinya”. Bahwa ketika seorang mu’allim, seorang guru mengajarkan kepada seorang anak mengucap “Bismillahirrahmanirrahim” saja sampai anak itu bisa mengucapkannya, maka Allah Swt mencatatkan bagi sang pengajar pengampunan, bagi sang anak pengampunan dan bagi ayah-ibunya pengampunan. Demikian rahasia pengampunan dan rahmat ilahi yang dimunculkan dengan keberadaan ulama.

    Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Hingga semakin sirnanya ulama ini, mulailah muncul kegelapan dan ketidakpahaman dan muncullah aliran-aliran yang sesat, muncullah tuntunan-tuntunan yang keluar dari syari’atul muthahharoh (syariah yang suci).

    Demikianlah kerusakan ummat semakin terjadi dan sampailah pada puncak kerusakan ummat dengan terbitnya matahari dari barat. Sebagaimana sabda Nabiyyuna Muhammad SAW di dalam riwayat Shahih Bukhari “Seburuk-buruk dan sejahat-jahat manusia adalah mereka yang masih hidup sampai saat merasakan terbitnya matahari dari barat.” Karena di saat itu tidak tersisa lagi seorang Muslim pun di muka bumi. Kesemuanya adalah mereka yang menyembah selain Allah SWT sehingga Rasul SAW bersabda yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, beliau terbangun di tengah malam seraya berseru dengan keras “Subhanallah, betapa banyaknya anugerah yang Allah turunkan di malam ini dan juga betapa banyaknya fitnah akan segera turun. Siapa yang bisa membangunkan keluargaku kesemuanya dan orang-orang dari tetanggaku untuk melakukan shalat malam. Bisa saja orang-orang yang berkecukupan di muka bumi akan terbuka dan terhinakan dari kecukupannya di yaumal qiyamah. Orang-orang yang berkecukupan di dunia akan merasakan kekurangan di yaumul qiyamah,” beliau SAW berkata demikian seraya mengalirkan airmata yang mengundang para tetangganya untuk melakukan qiyamullail.

    Demikian hadirin-hadirat, yang dimuliakan Allah. Maka dalam kesempatan ini, saya akan kembali mengulas lagi sedikit tentang bagaimana sejarah pejuang para ahlul hadits yang meneruskan hadits-hadits Rasul SAW dari para ulama. Karena hal ini telah disampaikan tetapi banyaknya sebagian hadirin masih ada yang belum mendengarnya dan sebagian saudara kita memintanya maka saya kembali memperjelaskannya. Bahwa kita semua Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengambil dalam satu sanad walaupun dalam madzhab yang berbeda. Madzhab yang ada pada Ahlussunnah wal Jama’ah yang masih ada hingga saat ini adalah 4 Madzhab besar, yaitu Madzhab Imam Malik, Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Syafi’i dan Madzhab Imam Hambali.

    Dan keempatnya ini bukan terpecah – belah sanadnya tapi merupakan satu sanad. Sanad adalah mata rantai guru atau rantai periwayat. Al Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik dan Imam Malik hidup satu zaman dengan Imam Hanafi. Dan Imam Hanafi ini adalah tabi’in bersama Imam Malik yang berguru kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Jadi keempat Imam Madzhab ini adalah satu rumpun bukannya berpecah pecah dari sanad yang berbeda. Sama rumpunnya walaupun fatwa mereka berbeda.

    Oleh sebab itu hadirin-hadirat, berbeda dengan mereka yang diluar Ahlussunnah wal Jamaah, karena rumpunnya berbeda. Entah mengambil jalur guru dari mana. Karena keempat madzhab ini berasal dari satu rumpun. Karena mengambil dari satu rumpun dari tabi’in, dari sahabat Rasul, dari Rasulullah Muhammad SAW. Dan di dalam ilmu hadits kita mengenal derajat ahli hadits yang diantaranya di sebut Al Hafidh, Hujjatul Islam, Al Hakim. Dan kita perlu menjabarkan sebagaimana diperjelas oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Nukhfathul Fiikar bi Syarah Nukhfathul Fiikar beliau menjelaskan bahwa derajat para pakar hadits terendah adalah Al Hafizh.

    Al Hafizh adalah orang yang telah menghafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya. Mereka yang sudah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya maka mereka sudah mencapai gelar Al Hafizh. Al Hafizh di dalam ilmu hadits bukan seorang yang hafal Alqur’an. Al Hafizh di dalam ilmu hadits adalah yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Padahal kalau panjang haditnya 1 baris, kalau disertakan dengan sanad dan hukum matannya bisa menjadi 2 halaman panjangnya. Mereka inilah orang-orang jenius yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjaga syari’atul muthahharoh (syari’ah yang suci). Dahulu orang tidak bisa percaya kalau ada jutaan hadits atau jutaan kalimat masuk ke dalam microchip yang kecil seperti ujung ibu jari. Di masa sekarang kita sulit percaya kalau ada orang yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. (Padahal banyak profesor yang mengatakan bahwa manusia dapat menampung data dari seluruh alam semesta ini dalam otaknya.)

    Allah SWT menjaga syariah ini dengan keberadaan mereka. Jumlah mereka bukan hanya 1 atau 2, tetapi ribuan huffazh dimasa itu, masa kejayaan para tabi’in, para tabiut tabi’in dan orang sesudahnya. Dan kita mengenal 7 nama dari periwayat hadits terbesar. Muhaddits itu banyak orangnya. Banyak ahli hadits yang mengumpulkan hadits dan mencatatnya, tetapi diantaranya terdapat 7 Imam Besar yang terkuat riwayatnya, antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Nasa’i, Al-Imam Tirmidzi, Al-Imam Ibn Majah, Al-Imam Abi Dawud, Al-Imam Muslim dan Al-Imam Bukhari. Ketujuh imam ini lebih kuat riwayatnya daripada yang lainnya. Yang lainnya masih banyak, ada Imam Daruquthni, Imam Hakim dan lainnya. Yang ketujuh ini diklasifikasikan lagi yaitu menjadi “Imam Kutubussittah” yaitu 6 Imam Besar yang tadi disebutkan terkecuali Imam Ahmad bin Hanbal.

    Imam Ahmad bin Hanbal peringkat yang nomor 7 dan yang terakhir. Ia pun tidak termasuk dalam klasifikasi 6 imam besar. Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya. Dan Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan gelar “Sayyidul Huffazh”, salah seorang dari yang paling banyak hafalan haditsnya. Ini derajat yang ketujuh, bagaimana dengan imam-imam besar yang diatas beliau?

    Dan Imam Ahmad bin Hanbal ini adalah murid Imam Syafi’i. Oleh sebab itu, hadirin – hadirat, jika masa sekarang muncul orang yang menghina, meremehkan fatwa Imam Syafi’i, hal itu semata-mata karena ia tidak mengerti siapa Imam Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai murid yang banyak, diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal dan beliau hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya.

    Ketika salah seorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia ingin menjadi muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal memberikan 1 tumpukan hadits seraya berkata, “Ini ada 10.000 hadits. Kau hafalkan dulu. Kalau sudah hafal, baru bisa jadi muridku.” Demikian syaratnya menjadi murid seorang imam besar. Seorang muhaddits besar dan orang semacam Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan menerima seorang murid terkecuali ia telah menghafal lebih dari 10.00 hadits. Maka orang tersebut menghafal hadits-hadits tersebut. Ketika ia telah mampu, ia datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal seraya berkata “Aku sudah hafal wahai imam, 10.000 hadits yang kau berikan.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Itu 10.000 hadits adalah hadits palsu, bukan hadits yang shahih, bukan pula hadits hasan bukan pula hadits dhaif derajatnya. Tettapi itu adalah hadits palsu.” Maka berkata muridnya, “Wahai imam, kau beri aku 10.000 hadits palsu?” Dan Imam Ahmad menjawab, “Itu untuk memperkuat hafalanmu”.

    Demikian hadirin hadirat cara mereka menjaga ilmu hadits, kenapa? Jika kau menghafal hadits shahih dan salah, maka kau berdosa. Kau akan menipu umat hingga akhir zaman dengan mengatakan hadits yang salah sebagai hadits shahih. Oleh sebab itu, diberi hadits palsu, kalau salah tidak berdosa. Jika kuat hafalannya, baru diberikan hadits-hadits shahih dan dimasa itu hadits tidak ditulis, tetapi dihafal. Berbeda dengan masa sekarang, di masa itu sangat sedikit sekali hadits yang ditulis. Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya, beliau hanya sempat menuliskan 20.000 hadits saja di dalam Musnadnya. Dan 980.000 hadits itu sirna dengan wafatnya beliau dan wafatnya murid-muridnya. Ada yang terjaga pada murid-muridnya. Jika murid-muridnya tiada menulisnya, maka akan sirna 980.000 hadits dari sanubari Imam Ahmad bin Hanbal (hanya 20.000 hadits yang tertulis).

    Hadirin-hadirat inilah derajat yang ketujuh, diatasnya ada lagi derajat klasifikasi 6 imam besar. Dari 6 imam besar ini diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu “Shahihain”, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim”. Dan sisanya yang 4 adalah imam lainnya yaitu Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Abi Dawud dan Imam Ibn Majah. 4 imam besar ini dikalahkan oleh mereka tertinggi yaitu Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan daripada yang tertinggi dari 7 periwayat hadits adalah Imam Bukhari dan kedua adalah Imam Muslim.

    Oleh sebab itu Imam Bukhari paling dipegang riwayat haditsnya, kalau sudah diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak ada lagi ahli hadits yang mempermasalahkannya. Hadits riwayat Imam Muslim masih banyak dipermasalahkan. Kalau Imam Bukhari tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Beliau adalah seorang pemuda jenius. Beliau itu bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari, beliau adalah seorang yang sangat mencintai Sayyidina Muhammad SAW.

    Imam Bukhari di dalam Tadzkiratul Huffazh dan Siyar A’lamun Nubala dijelaskan saat usianya 17 tahun beliau sudah hafal 200.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Di usia 17 tahun, seorang yang sangat jenius yaitu Imam Bukhari. Sehingga imam-imam lainnya di masa itu melihat bocah kecil ini sudah hafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits, mengungguli mereka. Diantara (yang mengaguminya) adalah Imam Muhammad bin Salam, salah seorang senior ahli hadits di masa itu. Ia berkata, “Kalau aku meriwayatkan hadits, aku tidak pernah gemetar, kecuali jika ada bocah ini,” yaitu Imam Bukhari. “Kalau ia ada disini, aku gemetar. Karena ia lebih tinggi hafalannya dariku”. Demikianlah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari.

    Derajat yang kedua adalah Imam Muslim. Al Imam Muslim suatu waktu mendapatkan permasalahan dalam hadits dan ia tidak mampu menjawabnya. Mencari jawaban tidak jumpa dan tidak ketemu. Akhirnya ia mendatangi Imam Bukhari. Dan ketika ia menyampaikan permasalah haditsnya, maka Imam Bukhari menjawabnya seperti membaca surat Al-Ikhlas, dengan gampang dan mudahnya Imam Bukahri menjawab. Demikian diriwayatkan di dalam Tadzkiratul Huffazh. Maka berkata Imam Muslim, “Ijinkan aku mencium kedua kakimu wahai raja ahli hadits!”

    Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari. Beliau lahir tahun 194 H, jauh setelah lahirnya Imam Syafi’i. Setelah Imam Syafi’i jadi Imam, barulah lahir Imam Bukhari. Oleh sebab itu, bukan levelnya kalau Imam Bukhari dibandingkan dengan Imam Syafi’i. Karena jauh sebelum Imam Bukhari lahir, Imam Syafi’i sudah jadi imam besar. Akan tetapi Imam Bukhari adalah orang tertinggi yang diakui ilmunya di dalam hadits.

    Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Imam Bukhari adalah orang yang sangat mencintai Rasul SAW seraya menulis Shahih Bukhari sebanyak kurang lebih 7000 hadits, yang beliau tulis diantara makam Rasulullah SAW dan mimbar Rasulullah SAW di Masjid Nabawiy. Beliau berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat kemudian menulis 1 hadits, dan kembali berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat dan kembali menulis hadits sampai mencapai lebih dari 7000 hadits yang sampai saat ini dikenal dengan “Shahih Bukhari”. Dan inilah Ash-hahul Kitab, kitab yang paling shahih dari semua hadits-hadits yang shahih.

    Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, ketika Imam Bukhari ditimpa banyak fitnah, maka murid-muridnya berkata, “Wahai imam, kenapa tidak kau jawab mereka yang memfitnahmu dengan fatwa-fatwamu?” Imam Bukhari menjawab, “Aku teringat hadits Rasul SAW, akan kalian lihat hal-hal yang tidak kalian sukai berupa fitnah dan permasalahan, maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa dengan aku di telaga haud.” Jika aku mendengar dan teringat hadits ini, aku tenang dan tidak perduli dengan fitnah yang datang menimpaku.

    Demikian Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari dan juga imam-imam besar lainnya. Mereka para pecinta Rasulullah SAW dan sangat memuliakan Rasul SAW. Imam Ahmad bin Hanbal diriwayatkan di dalam Tadzkiratul huffazh dan Siyar A’lamun Nubala, ketika Imam Ahmad bin Hanbal ini wafat maka jenazahnya dishalatkan lebih dari 800.000 Muslimin-Muslimat dan ia pun berwasiat pada putranya, “Jika aku wafat, aku menyimpan 3 helai rambut Rasulullah SAW. Letakkan 1 helai rambut dibibirku, yang 2 helai taruh di kedua mataku dan makamkan aku dengan itu.” Demikian cintanya Imam Ahmad bin Hanbal sehingga ia tidak ingin dikebumikan kecuali dengan terus mencium rambutnya Rasulullah SAW. Demikianlah Mahabbah, demikianlah cinta sang Imam kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian pula Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas bin Malik, seorang yang sangat mencintai Rasul SAW (Anas bin Malik adalah khadam Rasulullah SAW). Imam Malik ini kalau ditanya, maka ia berkata, “Kau mau tanya soal hadits atau soal hukum. Kalau bicara hukum, aku jawab langsung. Kalau tanya soal hadits, tunggu dulu.” Jika orang bertanya hadits, beliau berwudhu, setelah berwudhu lalu memakai minyak wangi, memakai siwaknya, memakai sipat matanya lantas memakai jubahnya baru berkata “Qaala Rasulullah Saw”. Demikian Imam Malik bin Anas bin Malik alaihi rahmatullah. Beliau adalah seorang imam di Madinah Al Munawarrah dan menjadi pemimpin para ahli hadits di zamannya seraya menulis kitab hadits yang dinamakan : Almuwaththa’ (yang menginjak). Kenapa kitab haditnya ini dinamakan kitab yang menginjak? Karena menundukkan seluruh kitab hadits di masanya, demikian Imam Malik bin Anas bin Malik.

    Hadirin – hadirat ketika generasi mereka semakin sirna, Al Imam Ibn Hajar mengklasifikasikan bahwa derajat ahli hadits yang pertama Al Hafidh yaitu yang hafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya dan diatasnya terdapat lagi Hujjatul Islam yaitu yang hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Maka kita mengenal Hujjatul Islam Al Imam Ghazali, beliau ini telah sampai derajat haditsnya melebihi 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Jika orang di masa sekarang meremehkan fatwa Imam Ghazali, hati – hati beliau itu hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Demikian juga Hujjatul Islam Al Imam Nawawi dan masih banyak lagi para perawi hadits dan para muhadditsin dari masa ke masa. Tinggallah kita di masa kini yang mesti harus terus membangun generasi para ulama.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Allah Swt terus memuliakan umat ini dari zaman ke zaman, walaupun mereka sudah semakin hari semakin kekurangan ilmu tapi mereka masih mempunyai sanad, mereka masih mempunyai pertalian guru, mereka berguru pada gurunya, gurunya berguru pada gurunya sampai kepada ahli hadits sampai kepada Rasulullah Saw.

    Demikian hadirin – hadirat hingga masa kini sangat berharga kita mencari guru yang mempunyai sanad, yang mempunyai hubungan pertalian dengan guru – guru para ahli hadits, para ahli alqur’an, para ahli fiqh dan para ahli syariatul muthaharoh sehingga ilmu kita jelas mengikuti guru yang mempunyai guru yang jelas sanadnya. Berbeda dengan orang yang sembarang m engambil guru, tidak mengetahui gurunya hanya mempunyai buku dan setelah itu fatwanya hanyalah terikat pada huruf – huruf di bukunya. Ketika dimintai pertanggungjawaban di yaumal qiyamah, ia tidak bisa membawa pertanggungjawabnnya karena sanadnya bersambung kepada hal yang terputus.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Di malam hari yang diberkahi Allah Swt ini, kita telah mendengar bagaimana Rasul Saw memberi semangat kepada kita untuk membangkitkan kembali generasi ulama, membangkitkan kembali generasi sunnah Nabi kita Muhammad Saw.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Oleh sebab itu mari kita benahi umat, kita benahi diri kita kalau seandainya kita sibuk dengan pekerjaan, niatkan keturunan kita kelak menjadi ulama, menjadi pewaris para Nabi, menjadi pejuang syariatul muthaharoh.

    (majelisrasulullah.org)

  • Proaktif dan Reaktif

    Sikap proaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap dirinya, atau tidak dalam mencari keadilan atas sikap orang lain terhadap dirinya. Adapun sikap reaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang merupakan aksi balasan atas aksi orang lain kepadanya.

    Sikap reaktif, selama tidak melampaui batas keadilan yang Allah tentukan adalah dibolehkan. Namun seorang mu’min akan lebih memilih sikap proaktif. Misalnya ada seseorang memukul orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Adalah dibolehkan bagi orang yang dipukul untuk membalas dengan balasan yang kurang lebih sama. Selama tidak melampaui batas keadilan. Namun ketika seorang mu’min dipukul, ia akan lebih memilih untuk memaafkan dari pada membalas pukulan itu.

    Sayangnya, ada sebagian orang yang ketika direndahkan dan ditekan, ia melakukan tindakan reaktif bagaikan pegas yang ditekan ke bawah. Ketika pegas ditekan ke bawah, maka ia akan melompat ke atas sehingga melampaui tingginya sebelum ia ditekan.

    Misalkan ada seseorang berkulit hitam bagaikan Sayyidina Bilal bin Rabah. Lalu temannya berkata kepadanya seraya mengejek dan merendahkan, “Hai hitam!” Lalu orang yang berkulit hitam itu berkata dalam hatinya seraya menghibur diri, “Aku memang hitam, tetapi hatiku lebih baik darimu,” atau, “Kulitku memang hitam. Tetapi kemulyaan seseorang terletak pada ketaqwaannya,” atau yang semisalnya. Maka hal ini termasuk reaksi berlebihan. Karena ia membalas kesombongan dengan kesombongan. Ia merasa bahwa hatinya lebih baik dari orang yang menghinanya, atau merasa lebih bertaqwa.

    Adapun orang mu’min itu sadar, bahwa mungkin saja orang itu adalah orang yang dipilih Allah untuk mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah hamba, hamba yang lemah dan rendah. Jika dihina manusia saja kita menjadi sedih, lalu bagaimana pula kesedihan dan penyesalan kita ketika menghadap Allah dengan segala amal kita yang hina, dengan ketaqwaan yang rendah, dan ruh yang kotor? Inilah yang mungkin muncul dalam alam pemikiran seorang mu’min. Sehingga timbullah rasa kehambaan, tawadhu, dan kekhusyuan. Yang dia fikirkan bukanlah penilaian manusia, tetapi bagaimana keadaannya di akhirat kelak.

    Seorang mu’min yang proaktif akan menyikapi perlakuan yang sama dengan cara yang berbeda. Dia tidak membalas suatu aksi dengan aksi yang sama. Dia dapat memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitinya. Terhadap orang seperti ini, Allah malu jika tidak memaafkan kesalahan-kesalahannya. Barangsiapa suka memaafkan hamba, maka Allah lebih suka untuk memaafkan orang itu. Barangsiapa suka menolong sesamanya, maka Allah lebih suka menolongnya. Barangsiapa menyayangi yang di bumi, maka ia akan disayangi Yang di langit.

    Ketika Nabi berda’wah ke Tha’if dan mendapat penolakan serta perlakuan zhalim dari penduduk Tha’if, apakah Nabi membalas mereka? Tidak, beliau tidak membalas mereka. Padahal jika beliau mau, maka para malaikat siap membinasakan penduduk Tha’if. Namun Nabi malah mendo’akan mereka dan keturunan mereka. Suatu sikap proaktif dari Sang Nabiyur Rohmah.

    Menjelang wafatnya, Nabi mengumpulkan para shahabat dan bertanya kepada mereka, “Adakah diantara kalian yang pernah aku sakiti? Jika ada, majulah dan balaslah sekarang!” Bahkan seorang penghulu para Nabi masih memikirkan hari pembalasan. Betapa tinggi rasa kehambaan beliau. Lalu berdirilah seorang shahabat dan mengatakan bahwa cambuk Nabi SAW pernah mengenai tubuhnya, mungkin tidak sengaja. Dia ingin membalas hal itu. Lalu ramailah para shahabat yang lain melihat sikap shahabat yang satu ini. Di antara para shahabat ada yang meminta shahabat tersebut untuk mengurungkan niatnya, dan yang lainnya bersedia menggantikan Rasul untuk dicambuk. Namun shahabat tersebut bersikukuh, dan Nabi SAW pun tidak mau digantikan oleh shahabat lainnya.

    Lalu Nabi SAW menyuruh shahabat lain untuk meminta cambuk beliau kepada Sayyidah Fathimah. Setelah cambuk diberikan, shahabat tersebut meminta agar Nabi SAW membuka bajunya, karena saat terkena cambuk, shahabat tersebut dalam keadaan telanjang dada. Maka Nabi SAW pun membuka bajunya. Shahabat itu pun mendekat. Setelah cukup dekat, shahabat tadi malah menjatuhkan cambuk itu dan mencium perut Nabi SAW. Ternyata dia menggunakan peristiwa tersebut hanya sebagai alasan agar dia mendapat perhatian dari Nabi dan agar Nabi mau membuka bajunya dan mengizinkan dia mendekat dengan leluasa. Maka nyatalah kecintaan shahabat itu. Lalu Nabi bersabda bahwa shahabat tersebut telah dijamin masuk surga.

    Ternyata rasa cinta dapat membuat seseorang bersikap berbeda terhadap perkakuan yang sama. Cinta dapat menimbulkan sikap proaktif. Cinta tidak membutuhkan inputan baik untuk menghasilkan output yang baik. Cinta tidaklah pasif, tetapi aktif. Mu’min yang sejati memiliki hati yang penuh cinta kepada Allah dan Rasulnya, rasa sayang kepada sesama muslim, dan rasa kasih kepada sesama manusia dan makhluq Allah. Itulah sebabnya seorang mu’min memiliki sikap proaktif, sesuai dengan kadar iman di dadanya.

  • Taushiah Habib Munzir, 28 Juli 2008

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
    Limpahan puji kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maha Menguasai jiwa dan Maha Menguasai alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, alam yang dirasakan dan alam yang tidak dirasakan. Maha Menguasai seluruh apa yang ada di alam semesta sebelum kita tercipta, setelah kita ada dan setelah kita tiada. Dia Allah tetap Maha Tunggal dan Maha Abadi dan Maha Ada, menguasai seluruh kehidupan, Maha Melimpahkan Rahmat dan Pengampunan yang tiada henti-hentinya ditumpahkan pada hamba-hamba-Nya, Jalla wa alla.Maha Suci Allah Swt, yang barangsiapa mengingatnya maka terang benderanglah jiwanya dengan cahaya Allah, yang dengan itu ia akan terbimbing selalu kepada keluhuran, kepada kemuliaan, kepada kesucian dan tercabut dari segala sifat-sifat yang hina, sifat-sifat yang tidak baik akan tersingkir dengan terang-benderang cahaya keindahan Allah di dalam jiwanya.

    Semakin ia terangi jiwanya dengan iman dan dengan istighfar dan dengan kerinduan dan cinta kepada Allah, semakin jauh perbuatan buruk dari hari-harinya, semakin jauh musibah darinya, semakin jauh kesulitan darinya.

    Hadirin – hadirat Sang Pembawa Rahmatan Lil Alamin membawakan kepada kita semulia-mulia anugerah, seindah-indah derajat berupa kedudukan yang abadi, semulia-mulia tingkatan yaitu kedekatan kepada Yang Maha Mencipta alam semesta. Dan jabatan ini jabatan yang kekal dan abadi, inilah jabatan yang paling mulia dari semua jabatan sepanjang alam semesta dicipta, jabatan para muqorrobin, para shiddiqin dan semua orang-orang yang dekat kepada Allah, jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, jiwa yang terang-benderang dengan khusyu, jiwa yang merindukan Allah. Manusia hamba-hamba seperti inilah yang menjadi mercusuar dari rahmat illahi bagi alam sekitar.

    Kalau bukan karena pria-pria mukminin dan wanita-wanita mukminat yang kalian tidak ketahui kemuliaan mereka di sisi Allah, seandainya mereka itu tiada, akan tumpah ruah musibah dan bala di atas permukaan bumi, keberadaan jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, keberadaan muslimin – muslimat pria dan wanita yang khusyu, yang menjaga turunnya bala dan musibah di permukaan bumi. Demikian indahnya Allah memperindah keadaan alam dengan keberadaan mereka, matahari tiada akan mampu menahan musibah, tidak pula bulan, tidak pula seluruh bintang di langit, tapi keberadaan ahlul khusyu menahan musibah bagi alam sekitar. Demikian cahaya-cahaya Rabbul Alamin yang berpijar di dalam jiwa mereka.

    Para pewaris Sayyidina Muhammad, mereka yang mewarisi kemuliaan dari matahari keridhoan Allah, Nabiyyuna Muhammad Saw. Ada matahari dunia, ada matahari keridhoan Allah, semuanya ciptaan Allah, semuanya tidak tercipta sendiri, semuanya ada dengan kehendak illahi. Demikian Allah menerangi sanubari mereka dan menggiringnya kepada keluhuran dan dengan keberadaan merekalah Allah membimbing ribuan dan banyak jiwa untuk kembali kepada rahmatNya dan kepada taubat.

    Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    sampailah kita kepada seruan tertinggi dari Rabbul Alamin lewat NabiNya Muhammad Saw hingga beliau bersabda “barangsiapa yang mempunyai tiga sifat mulia ini, maka ia akan merasakan lezatnya iman”, apa itu lezatnya iman? tenangnya jiwa dalam segala keadaan, tenangnya alam semesta dengan ketenangan-Nya, tenangnya saudara dan temannya dengan keberadaan-Nya. Siapa mereka? yang mempunyai salah satu dari tiga sifat ini. Jiwanya akan merasakan lezatnya kebersamaan dengan Allah, ketika ia merasakan satu kelezatan yang membuatnya terlupa dari segala kelezatan dan kenikmatan, satu kelezatan dan keindahan dan kemanisan yang melebihi seluruh apa yang ada dari kemanisan dan keindahan itu, membuatnya lupa dari segala-galanya. Apa itu? Halawatul iman (kemanisan iman), bagaimana cara mencapainya?

    Ada 3 kelompok orang diantaranya adalah yang pertama ialah orang yang mencintai Allah dan Rasul melebihi daripada segala-galanya, cintanya Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada yang lain, orang yang seperti ini akan merasakan lezatnya iman, akan merasakan lezatnya dekat dengan Allah, akan merasakan betapa tiada berartinya seluruh warna seluruh bentuk dan sifatnya dibanding Yang Maha Agung Yang Maha Indah, Allah Swt yang tidak tercapai dengan penglihatan, tidak pula terjangkau dengan pendengaran, tidak pula tersentuh dengan sentuhan, jauh tanpa jarak dan dekat tanpa jarak, dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak yaitu Allah Swt.

    Seindah-indah Dzat yang menciptakan seluruh keindahan dan memberikan butir-butir kelezatan di dalam jiwa hamba-hamba-Nya, yang mencintai Allah melebihi segala – galanya. Allah dan Rasul, tidak ada yang lain yang lebih mereka cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.

    Sebenarnya kalau kita memahami dan mendalami rahasia kelembutan Allah, sudah pasti kita tidak akan mencintai sesuatu lebih dari Allah dan Rasul, karena Allah dan Rasul lah yang paling baik kepada kita melebihi semua yang baik kepada kita. Allah Swt sudah memberi kita segala – gala anugerah dan kita masih terus bersabar dan Dia Allah masih terus memberi, diatas itu masih tawarkan pengampunan atas dosa dan kesalahan. Inilah yang terbaik dari semua yang baik.

    “Wahai hamba-hambaKu, kau itu berbuat dosa siang dan malam dan Aku menghapus dosa. Wahai hamba-hambaKu beristighfarlah mohon pengampunan padaKu, Kuampuni dosa-dosa kalian”. Lebih dari itu Allah bukan menjanjikan pengampunan saja bagi mereka yang telah bertaubat kepadaNya, tapi Allah mengatakan, “orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu setelah mereka bertaubat dari dosa-dosanya”, apa yang Allah berikan jika mereka mau bertaubat kepada Allah? Ini anugerah yang sangat luar biasa, jarang diketahui orang. Bukan dihapus dosanya, tapi dosanya dibalik menjadi pahala, kalau ia mempunyai 10 gunung dosa maka 10 gunung dosa itu dirubah oleh Allah menjadi 10 gunung pahala. Untuk siapa? Orang yang bertaubat kepada Allah, tidak cukup minta pengampunan saja tapi ia berjanji pada Allah untuk tidak ingin kembali melakukan dosa yang pernah ia perbuat. Orang yang seperti itu, Allah ganti semua tumpukkan dosanya menjadi tumpukkan pahala seakan-akan tumpukkan gunung bara api yang akan membakarnya diganti oleh Allah menjadi gunung-gunung emas yang akan menyertainya kelak.

    Demikian Yang Maha Lembut dan Maha Baik kepada kita, berkata Allah “wahai hamba-hambaKu kalian semua ini tidak akan bisa membawa manfaat kepadaKu dan tidak akan pernah pula bisa membawa mudharat kepadaKu”. Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya mempunyai hati yang baik dan taqwa, tidak bertambah kerajaanKu sedikit pun. Wahai hamba-hambaKu, jika berkumpul kalian seluruh jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya berada di dalam hati yang jahat dan perbuatan yang buruk, tidak berkurang kerajaan-Ku sedikit pun.

    Demikian MahaRaja alam semesta Allah Swt yang dengan itu Ia menawarkan pengampunanNya atas setiap kesalahan, ditawarkan pengampunan sebelum hambaNya meminta, sebelum hambaNya tahu bahwa dirinya mempunyai kesalahan dan butuh minta maaf, Dia sudah kenalkan maafNya sebelum kita minta maaf.

    Dan Dia Allah Swt tidak cukup kita taat dan kita diberi apa-apa di dunia saja disiapkan pula kebahagiaan di yaumal qiyamah. Inilah Yang Maha Baik dan tidak akan pernah ada yang bisa memberi kita surga selain Allah. Dan Allah Swt menjadikan kebaikan pada diri makhluk-Nya satu sama lain, hewan punya kebaikan, ibunya hewan punya kebaikan pada anaknya, ayahnya hewan demikian pula manusia satu sama lain saling berkasih satu sama sama lain. Tapi Allah ciptakan yang paling baik dari semua makhluk-Nya adalah Sayyidina Muhammad Saw, karena tidak ada orang yang paling baik yang mau menolong pendosa di hari kiamat.

    Semua orang baik undur diri dari dosa, mau jadi teman, mau jadi kawan, mau jadi saudara, mau kenal asal jangan bicara dosa di dunia. Kita bisa kenal dan dekat dengan orang yang banyak dosa tapi di akhirat setelah melihat kobaran api neraka. Jika turun hamba-hamba yang dimasukkan ke dalam api neraka itu terdengar jeritan dan lolongan mereka dan api itu bergemuruh. Disaat itu hadirin – hadirat semuanya mundur untuk kenal dengan pendosa, “kau kenal dengan temanmu ini?”, “tidak kenal”, “ini Ayahmu?”, “tidak tahu”, ini Ibumu?”, “tidak tahu”, selama ia pendosa kecuali Nabi kita Muhammad Saw berkata “engkau-engkau adalah orang dari umatku, engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku”. Demikian riwayat Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari, Rasul Saw mengenali seluruh umatnya dan berkata pada umatnya, “engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku Saw”. Maka memang yang pantas dicintai adalah Allah dan Rasul, maka Rasul Saw bersabda “orang yang mempunyai kecintaan, cintanya pada Allah dan Rasul lebih dari segala-galanya,kalau ia sudah memiliki ini, ia akan merasakan kelezatan iman”.

    Yang kedua ia mencintai orang karena cintanya pada Allah, bukan karena hartanya, bukan karena syahwatnya, bukan karena keahliannya, bukan karena jabatannya, bukan karena tetangganya, tapi karena Allah. Berat sekali kalau kita fikir ini, cinta pada semua orang tidak ada tapi karena cintanya pada Allah baru bisa cinta pada semua orang. Kalau tidak ia tidak cinta, bagaimana ini penjelasannya? Penjelasannya adalah ketika orang yang ia cintai berbuat dosa, ia tidak senang dengan perbuatan itu, bukan dimusuhi tapi tidak senang dengan perbuatan itu.

    Jika seseorang tidak cinta karena Allah, maka saudaranya atau temannya atau kekasihnya atau orang yang ia cintai berbuat dosa, ya biarkan saja. Kalau orang lain yang berbuat dosa, ia protes dan kalau orang yang ia cintai, biar..biar. Nah, hal seperti ini, ia mencintainya tidak karena Allah, kalau karena Allah, ia tidak suka. Aku ingin memperbaiki orang yang aku cintai, harus kuperbaiki semampuku supaya ia tidak bertentangan dengan Allah, karena aku memilih Allah dari dia. Sekuat apapun cintaku kepadanya, aku lebih memilih Allah daripada dia. Orang yang mempunyai sifat seperti ini, ia akan merasakan lezatnya iman, lezat dan asyiknya dalam berdzikir, bermunajat memanggil nama Allah Swt.

    Yang ketiga ia tidak mau kembali kepada kesesatan sebagaimana ia sangat tidak mau masuk kedalam api neraka, jadi takutnya daripada kembali kepada kesesatan bagaikan takutnya ia masuk kedalam neraka. Beda punya perasaan takut ini, takut dihina ada batasnya, takut dipukul ada batasnya, takut dicurigai ada batasnya, takut disiksa ada batasnya tapi tidak sampai takutnya dari masuk kedalam api. Dari semua ketakutan dan kerisauannya, tentu yang paling besar adalah dimasukkan kedalam api karena sakit dan pedihnya.

    Demikian besarnya ketakutan dan kerisauannya untuk kembali kepada kesesatan, ia tidak mau kembali kepada kesesatan dalam keadaan apapun sebagaimana ia tidak mau masuk kedalam api. Orang yang mempunyai sifat ini maka ia akan merasakan lezatnya iman. Kita sekarang merenung, bagaimana dengan diriku? Rasanya dari 3 sifat ini aku sangat jauh daripadanya. Hadirin – hadirat, ada beberapa hal yang sangat memudahkan kita untuk menyampaikan kita kepada lezatnya iman. Diantaranya adalah niat yang kuat untuk mendapatkan sifat itu, mau walau belum mampu. Niat yang kuat sudah mendapatkan satu pahalaNya, walaupun belum mampu kesana, niat yang kuat membuat ia sampai kepada pahalaNya, ia akan merasakan lezatnya iman dan manisnya iman.

    Belum sampai bisa mencintai Allah dan Rasul melebihi segala-galanya, bisa mencintai manusia hanya karena Allah, bisa menghindari kesesatan lebih daripada takutnya masuk kedalam api, belum mampu tapi kuatnya niat, karena didalam riwayat Shahih Bukhari Rasul Saw bersabda, “barangsiapa yang berniat berbuat baik, Allah tuliskan satu pahalaNya, ia sudah melakukan satu pahala jika ia sudah memperbuatnya kalikan 10 kali hingga 700 kali lipat”. Keinginan besar untuk mencapai itu, walau ia belum mampu sudah memasukkannya dalam kelompok mereka, sudah lalu bagi mereka kelezatan iman. Hadirin – hadirat ini salah satunya.

    Cara yang lainnya adalah mencintai orang-orang yang sudah sampai ke derajat itu, karena apa? Karena kecintaan itu dijanjikan oleh sang Nabi Saw “seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Makin besar cintanya kepada orang yang sudah mencapai derajat itu, maka makin ia akan rasakan lezatnya iman dari rahasia cintanya kepada orang itu, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Sebagaimana ucapan Abu Dzar Ra riwayat Shahih Bukhari, “ya Rasulullah, seseorang kelompok mencintai orang lainnya tapi tidak bisa menyusul dengan hebatnya ibadah mereka, tidak mampu seperti mereka, cuma cinta kepada mereka”, Rasul Saw menjawab,“seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”.

    Alangkah indahnya hadirin – hadirat, masukki samudera kelezatan iman, masukki samudera asyiknya didalam kehidupan karena kenikmatan ini akan kita rasakan melebihi dari seluruh kenikmatan yang ada. Paling tidak kita kalau tidak bisa didawamkan sepanjang usia, Rabbiy beri kami kesempatan satu dua menit kami merasakan lezatnya iman. Dalam kehidupan kami ini paling tidak satu dua sujud kami merasakan, kami sangat dekat dengan kasih sayang dan kelembutanMu.

    Demikian hadirin – hadirat indahnya doa dan munajat, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang yang mencintai Sayyidina Muhammad Saw. Manusia yang paling indah budi pekertinya, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul Saw selalu mencari cara yang paling indah dalam bermuammalah. Ketika bertamu kepada beliau Saw beberapa orang yahudi, yahudi datang kepada Rasul, kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah “Assamu’alaikum”, kecelakaan untukmu wahai Muhammad. Beda Assalam dengan Assam, kalau tidak pakai (lam), Assam itu artinya kehinaan dan kecelakaan. Orang-orang yahudi bertamu kepada Rasul Saw, kalimatnya bukan Assalamu’alaikum tapi Assamu’alaik, kecelakaan dan kehinaan semoga terlimpah untukmu hai Muhammad.

    Rasul menjawab “Wa’alaikum”, Sayyidatina Aisyah Ra, istri Rasul Saw, Ummul Mukminin mendengar dari belakang, ini orang mendoakan kehinaan dan kecelakaan bagi Nabi, tamu datang, bukan Rasul yang datang tapi datang pada Rasul dengan ucapan seperti itu, dijawab oleh Sayyidatuna Aisyah Ra “Assamu’alaikum wa’alaikumul laknat”, kehinaan dan kecelakaan untuk kalian dan laknat untuk kalian. Rasul Saw menjawab, “ya Aisyah Allah itu lebih senang kasih sayang dalam segala hal”. Aisyah Ra berkata, “ya Rasulullah kau tidak dengar ucapan mereka?”, Rasul menjawab, “aku sudah jawab wa’alaik, juga untuk kalian, kalian mendoakan kebaikan balik kepada kalian, kalian mendoakan kejahatan balik kepada kalian sendiri”. Demikian kalimat ini, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal.

    Disinilah hadirin – hadirat, kita lihat tuntunan Nabi kita Muhammad Saw selalu di dalam kelembutan dan kasih sayang dalam segala hal bahkan dalam peperangan. Di dalam jihad fisabilillah kelembutan dijalankan oleh sang Nabi Saw, belum pernah ada peperangan selembut cara peperangan muslimin, tidak boleh memukul wajah, tidak boleh menyerang orang yang tidak bersenjata, tidak boleh memukul wanita dan anak-anak. Demikian banyaknya peraturan-peraturan di dalam islam ini disaat berperang.

    Perang itu ternyata bukanlah luapan emosi, tetapi juga menahan diri dari kemarahan dan juga berkasih sayang, sehingga Rasul Saw melarang memukul wajah, kalau senjata musuh sudah jatuh tidak boleh diserang lagi, kalau musuh mengucap syahadat tidak boleh diteruskan sampai ketika Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw telah mengangkat pedangnya ketika musuhnya telah berhasil dirobohkan dan ia diludahi wajahnya.

    Maksudnya adalah didalam hatinya sebelum aku mati dibunuh Ali bin Abi Tholib Kw, biar aku ludahi dulu wajahnya, lalu Sayyidina Ali Kw mundur dan meninggalkan orang itu. Sahabat berkata “wahai Ali sudah tinggal satu pukulan lagi”, Sayyidina Ali Kw berkata, “aku risau nanti ada tercampur emosi di dalam perbuatanku”. Ini hadirin bukan kita, tapi kalau kita barangkali bisa ada emosi tapi kalau orang semacam Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw, tarbiyah Nabi Saw dan beliau adalah babul ‘ilm, masih risau ada sebutir emosi merusak pahala jihadnya, sehingga meninggalkan orang yang meludahi wajahnya dan beliau mundur takut tercampur sedikit niat yang kurang baik yaitu emosi disaat ia melawan musuhnya.

    Ini hadirin – hadirat jelas-jelas sudah sabda Nabiyyuna Muhammad Saw, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal maka dengan itulah dakwah sang Nabi Saw berhasil dan maju sampai ke Barat dan Timur. Jika engkau itu bengis dan kasar maka orang akan pergi meninggalkanmu wahai Muhammad Saw.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul Saw bercerita diriwayatkan oleh Abdullah Ra, “aku mendengar Nabi Saw bercerita bahwa ada Nabi dari diantara para Nabi, ketika ia di dalam peperangan ia diserang sampai luka wajahnya”. Rasul Saw menceritakan ada diantara para Nabi, ketika sedang diserang oleh musuh-musuhnya terluka wajah Nabi tersebut, ia mengusap darah dari wajahnya dan berkata “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka tidak tahu”.

    Al Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dinukil oleh Al Imam Ibn Hajar di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa Nabi diantara para Nabi-Nya yang diceritakan oleh Nabi Muhammad Saw itu adalah Nabi Muhammad Saw sendiri, karena apa? karena belum pernah terlukis dan teriwayatkan ada Nabi yang berbuat seperti itu terkecuali Nabi Muhammad Saw, cuma beliau tidak mau menyebutkan dirinya, disebutkan ada diantara para Nabi, padahal beliau Saw sendiri.

    Imam Ibn Hajar menukil ucapan Imam Qurthubi bahwa kejadian itu adalah disaat perang uhud, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa saat itu Rasul Saw terkena panah besi sampai menembus rahangnya dan darah mengalir, Nabi Saw menadahi darah itu jangan sampai menetes ke bumi. Para sahabat berkata, “ya Rasulullah, kita obati dulu ini yang diwajahmu, jangan fikirkan darah yang menetes”.

    Diriwayatkan oleh Imam Ibn Hajar mensyarah hadits ini, Rasul Saw berkata, “ kalau ada setetes darahku yang jatuh ke bumi, Allah akan melimpahkan bala pada mereka”. Orang yang memerangi Sang Nabi Saw, kalau sampai darah beliau Saw tumpah dari wajah ini dan menetes ke bumi, Allah turunkan bala. Nabi Saw lebih memikirkan jangan bala turun pada kaumnya dengan menjaga darah yang menetes, jangan sampai ke bumi. Lupa dengan darah dan luka yang melebar di wajahnya. Terfikir ini musuhnya nanti kena musibah oleh Allah, dijaga jangan sampai ada tetes darah yang turun, jangan sampai menyentuh bumi, jangan celaka mereka dan didoakan, “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka itu tidak tahu”. Tentu wahai Rasul, kalau mereka tahu, mereka akan menciumi kakimu dan tidak akan memerangimu.

    Demikian hadirin – hadirat indahnya budi pekerti Nabi Muhammad Saw dan perjuangan dan niat beliau. Untuk membenahi permukaan Barat dan Timur ini, tidak wafat dengan wafatnya beliau tapi terwariskan dari zaman ke zaman. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul Saw, “orang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan sampai ia menyerahkan saudaranya kepada musuh atau berkhianat kepada saudara muslimnya, jangan pula mendholiminya”. Barangsiapa yang ia perduli kepada kebutuhan saudaranya, Allah perduli kepada kebutuhannya kata Rasul Saw. Demikian indahnya hadirin – hadirat iman kita dan tuntutan Sang Nabi, selama kita memikirkan kebutuhan orang lain, Allah akan membantu kebutuhan kita.

    Disini hadirin kita terpanggil untuk membela orang-orang yang membutuhkan dari saudara kita dan tentunya yang paling berhak dibela adalah Sayyidina Muhammad Saw. Bela dakwah beliau, benahi umat ini, bisa dengan telepon, bisa dengan sms, bisa dengan ucapan, bisa dengan harta, bisa dengan apapun agar kita mengajak teman-teman, saudara-saudara kita kembali kepada taubat, kembali kepada hidayah, meninggalkan kemungkaran. Selama engkau memikirkan ini, Allah akan mementingkan hajat dan kebutuhanmu. Inilah janji Allah dan Rasul, maka barangsiapa yang perduli kepada kebutuhan dan kesulitan temannya, Allah akan perduli kepada kesulitannya dunia sampai di akhirat.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, seseorang ketika sudah habis pahalanya, ia sudah diberdirikan di atas jurang neraka, maka Allah Swt berkata kepada para malaikat, “bebaskan ia”, malaikat bertanya, “kenapa wahai Allah?, sudah tidak punya amal, dosanya banyak”, Allah menjawab, “ia dahulu ketika di muka dunia sering menolong masalah orang lain, Aku malu untuk menjatuhkannya ke dalam kehinaan karena ia selalu menolong orang lain, Aku lebih berhak menolong orang lain dan Aku menolongnya”. Ia tidak punya pahala lagi, habis oleh dosa-dosanya akan tetapi jiwa kasih sayang seperti ini, maka barangsiapa yang perduli tentang keperluan saudaranya maka Allah akan memperdulikan kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Rasul Saw bersabda, “tolong teman-temanmu yang dholim dan teman-temanmu yang didholimi”.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari para sahabat bertanya, “ya Rasulullah kami tau kalau menolong orang yang didholomi, kalau menolong orang yang dholim apa maksudnya ya Rasulullah?, ia sudah dholim lalu kami tolong dia”. Rasul Saw menjawab, “selamatkan orang-orang yang dholim agar jangan lagi berbuat dholim, tuntun mereka pada kemuliaan, tuntun mereka kepada kesucian hidup, tuntun mereka kepada kelembutan Allah Swt, selamatkan mereka orang-orang yang dholim dan orang-orang yang didholimi”. Demikian indahnya tuntunan Nabi kita Muhammad Saw.

    Hadirin – hadirat semakin kita dalami hari-hari mulia bersama tuntunan Sang Nabi, semakin indah hidup kita. Kita bermunajat kepada Allah Swt semoga Allah menerangi jiwa kita dengan kelezatan iman, dengan manisnya iman, Ya Rahman Ya Rahiim tangan – tangan penuh dosa ini terangkat kehadirat-Mu meminta dan mengemis kepada-Mu Yang Maha Luhur, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim jadikan kami orang – orang yang mencintai-Mu dan mencintai Nabi-Mu melebihi dari segala-galanya.

    Rabbiy paling tidak satu kejab dua kejab Kau rasakan pada kami kelezatan iman, Kau rasakan pada kami lezatnya menyebut Nama-Mu, Kau rasakan pada kami lezatnya kebersamaan denganMu hingga kami terlupakan dari seluruh kenikmatan dan seluruh masalah ketika kami menyebut Nama-Mu, ketika bibir ini bergetar memanggil Nama-Mu.

    Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim inilah dosa – dosa dan Kaulah Yang Maha Mengampuni, tiada yang mengampuni terkecuali Engkau dan Engkau telah berlemah lembut kepada kami, menghadirkan kami di majelis dan perkumpulan mulia ini dan siap melimpahi rahmat dan inayah kepada kami setelah kami selesai dari majelis ini ya Rabb, Wahai Nama Yang Maha Dermawan, Wahai Nama Yang Maha Pemurah, Wahai Nama Yang Maha Baik, Wahai Nama Yang Maha Menyejukkan Semua Jiwa, tenangkan jiwa kami dalam kehidupan yang sementara ini dan tenangkan hari – hari kami dan tenangkan juga malam kami sampai kami wafat, jadikan selalu ketenangan dan kesejukkan iman bersama kami.

    Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
    Fakullu jami’an Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahiim, tidak Kau biarkan Rabbiy setiap kali kami menyebut Nama-Mu terkecuali Kau semakin dekatkan kami kehadirat-Mu, kecuali Kau makin jatuhkan dosa – dosa kami, kecuali Kau perbanyak Kedermawanan Rahmat dan Anugerah.

    Fakullu Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman..Ya Rahiim..dosa – dosa kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kami mengaku bersalah, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kesalahan kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. api neraka, Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah..

    Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
    Fakullu jami’an Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Muhammadurrasulullah. Insya Allah ta’ala minal aminin. Allah Swt berfirman, “orang – orang yang beriman akan tenang jiwa mereka dengan menyebut Nama Allah”. Dengan menyebut Nama Allah akan tenanglah jiwa.

    Hadirin – hadirat esok malam Insya Allah kita berkumpul lagi di masjid ini , di dalam isra wal mi’raj Nabiyyuna Muhammad Saw dan akan membaca Allah sebanyak 1000X dan Insya Allah persiapkan malam ini hingga esok perbanyak dzikir dan doa hingga esok malam jiwa kita benar – benar terang benderang dengan cahaya keberkahan di dalam dzikrullah. Wassalallahu wassallam wabarik ‘ala Nabina Muhammadin wa’ala alihi washohbihi wassallam. Walhamdulillahirabbil’alamin.wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    (majelisrasulullah.org)

  • Doa: Syukur atau Kufur

    Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.

    (lebih…)