Kategori: Menanggapi Kristen

  • Sejarah Tritunggal

    Selama bertahun-tahun, ada banyak tentangan terhadap gagasan yang makin berkembang bahwa Yesus adalah Allah. Dalam upaya untuk mengakhiri pertikaian itu, penguasa Roma Konstantin memanggil semua uskup ke Nicea. Yang hadir kira-kira 300, sebagian kecil dari jumlah keseluruhan.

    Konstantin bukan seorang Kristen. Menurut dugaan, ia belakangan ditobatkan, tetapi baru dibaptis pada waktu sedang terbaring sekarat. Mengenai dirinya, Henry Chadwick mengatakan dalam The Early Church: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan;… pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin… Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen.”

    (lebih…)

  • YOHANES 1:1 (Logos)

    Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. [Yohanes 1:1 TB2]

    Ummat Kristen Trinitarian percaya bahwa yang dimaksud ‘Firman’ adalah Yesus. Padahal kamus mana pun tidak pernah mengartikan Firman sebagai Yesus.

    Firman/Logos/Kalimah itu mempunyai makna yang cukup luas. Logos/Kalam dapat berarti ungkapan atau ekspresi, alasan (Kis 10:29), perintah (QS. 2:124; Gal. 5:14; Kej. 2:16), ketetapan (QS. 3:64; Kel. 12:24), perkataan (Rm. 15:18; QS. 4:46; QS. 5:13), berbicara (QS. 4:164; Kel. 19:9; QS. 7:143), menjawab (Kel. 19:19), rencana, janji/perjanjian (QS. 6:34; QS. 7:137), pesan (Luk. 4:32), kitab (QS. 7:158), berita, pengakuan, kesaksian, pengajaran, dsb. Logika berasal dari kata logos ini. Tetapi tidak ada dalam kamus yang mengatakan bahwa Logos bermakna Yesus.

    Maka ayat di atas hendaknya tidak diartikan: “Pada mulanya ada Yesus.” Akan tetapi: “Pada mulanya ada Firman.” Dan firman di sini bisa berarti rencana atau perintah Allah untuk menciptakan sesuatu yang Dia kehendaki. Jika kita melihat Kitab Kejadian pasal 1, kita akan melihat bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya: Jadilah. Begitu juga jika kita melihat di dalam Al-Quran, dikatakan di dalamnya bahwa jika Allah berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka cukuplah Dia berkata: Jadilah.

    Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. [Kejadian 1:3]

    Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. [QS. Ya Sin (36): 82]

    Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah (seorang manusia)”, maka jadilah dia (seorang manusia). [QS. Ali Imran (3): 59]

    Dalam Perjanjian Lama, kita dapat melihat bahwa bangsa Yahudi terbiasa dengan gagasan ‘Firman Tuhan’ yang mengacu pada Tindakan dan Kebijaksanaan-Nya. Penting untuk dicatat bahwa Yahudi menganut Ketuhanan Yang Mahaesa, dan tidak percaya akan “Allah Tritunggal.” Mereka terbiasa dengan idiom dari bahasa mereka sendiri, dan memahami bahwa kebijaksanaan dan kuasa Tuhan diwujudkan dengan ‘Firman’.

    Jika Anda seorang pelukis, pematung, atau pujangga, Anda akan mengekspresikan/mengungkapkan diri Anda melalui lukisan, patung, atau syair. Melalui lukisan, patung, atau syair, orang lain akan dapat mengenal siapa diri Anda sebenarnya. Begitulah Allah, melalui kalimah-Nya berupa alam semesta, para Nabi, juga kitab-kitab-Nya telah memperkenalkan Diri-Nya kepada kita.

    Murid-murid Yesus pernah bertanya kepada Yesus, “Bagaimana Allah itu?” Yesus menjawab, “Jika kamu telah melihat aku, berarti kamu telah melihat Allah.”

    Para shahabat Nabi Muhammad juga pernah bertanya, “Bagaimana Allah itu?” Nabi Muhammad pun menjawab, “Jika kamu telah melihat aku, maka kamu telah melihat Allah.” Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi bersabda, “Janganlah kamu memikirkan Allah, karena kamu tidak akan snggup, akan tetapi fikirkanlah ciptaan-Nya.” Ya, ciptaan-Nya, kalimah-Nya yang tidak tertulis.
    Logo/Kalam adalah ungkapan Tuhan, dan adalah Komunikasi Diri-Nya, sama halnya sebuah “kata” adalah suatu ungkapan yang keluar dari pemikiran seseorang. Ungkapan Tuhan yang keluar ini sekarang telah wujud pada Hamba-Nya, dan dengan begitu, maka dengan sempurna dapat dimengerti mengapa Yesus disebut “Logos/ Kalimah.” Yesus adalah suatu ungkapan yang keluar dari kebijaksanaan, tujuan dan rencana Allah. Karena alasan yang sama, kita menyebut wahyu sebagai “suatu firman dari Tuhan” dan Alkitab atau pun Al-Quran adalah “Firman Allah.”

    Jika kita memahami bahwa logo/kalimah adalah ungkapan Tuhan —rencana, maksud, alasan dan kebijaksanaan Tuhan, maka jelaslah bahwa itu semua tentu saja bersamaNya “di dalam permulaan.” Alkitab mengatakan bahwa kebijak-sanaan Allah adalah “dari awal” (Amsal 8:23). Itu adalah penulisan Ibrani yang sangat umum untuk mewujudkan suatu konsep seperti kebijaksanaan. Tidak ada Yahudi masa lampau yang membaca Amsal akan berpikir bahwa kebijaksanaan Tuhan adalah pribadi yang terpisah, walaupun dilukiskan dalam salah satu ayat dalam Amsal 8:29 dan 30: “… ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku [kebijaksanaan] adalah kesayangan di sisiNya.”

    Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. [Amsal 8:23]

  • Paulus dan Gnostikisme

    Saulus dari Tarsus merupakan anggota sekte Farisi yang sering menyiksa para pengikut Yesus. Setelah Yesus diangkat ke langit, tiba-tiba Saulus atau Paulus mengaku bahwa ia telah bertemu dengan Yesus dalam penampakan (mirip Ahmad Mushadeq yang mengaku menjadi nabi setelah berlaku penampakan kepadanya). Maka mulailah ia menyebarkan ajaran tentang Kristus. Dan diantara para pengikutnya ada yang menyusun injil-injil yang dinisbatkan kepada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Namun diragukan bahwa penulis injil-injil itu adalah benar-benar Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

    Dari keempat injil, Injil menurut Markus dianggap Injil paling tua, ditulis pada 70 Masehi. Sedangkan Kristen baru dikenal pada 49 Masehi di Anthiokia. Tidak ada injil yang berasal dari masa Yesus yang bisa dijadikan rujukan. Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa telah lenyap. Tidak ada salinan atas Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Injil yang beredar sekarang hanyalah injil-injil yang telah dipengaruhi ajaran Paulus.

    Kenyataan yang terlihat adalah bahwa ajaran-ajaran Paulus dan 4 injil adalah produk Gnostik. Mengenai faham Gnostik dibalik ajaran-ajaran Paulus, baiklah kita melihat uraian tokoh berbobot Graham Stanton. Stanton bukanlah tokoh asing dalam studi Perjanjian Baru, sebab ia adalah Profesor Studi Perjanjian Baru dari King’s College, University of London sejak tahun 1977. Dan pada periode tahun 1995-1996 ia dipilih sebagai Presiden Masyarakat Internasional Ahli Perjanjian Baru ‘Studiorum Novi Testamenti Societas.’ Ia mengemukakan bahwa pandangan Gnostik mempercayai:

    “Dunia adalah tempat yang jahat, diciptakan oleh Tuhan yang jahat, dan yang berbeda dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.”

    Nafas gnostikisme dari surat-surat Paulus dan 4 injil dapat kita lihat dalam ayat-ayat yang kemudian dijadikan pemikiran Gereja Trinitarian. Misalnya mengenai Yesus, yang mereka anggap Kristus, yang memberitakan pengetahuan rahasia (gnosis) pada para pengikutnya. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat-ayat seperti pada Mat. 13:11, Mrk. 4:11, Luk. 8:10, Ef. 3:4, Kol. 1:26-27, 2:2-3, 4:3, dsb.

    Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” [Mat. 13:11]

    Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,” [Mrk. 4:11]

    Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” [Luk. 8:10]

    Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, [Ef. 3:4]

    yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! [Kol. 1:26-27]

    supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. [Kol. 2:2-3]

    Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kol. 4:3]

    Ucapan mengenai ‘Yesus yang hidup’, bagi pengikut gnostikisme adalah lambang isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut gnostik sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Ucapan seperti ini dapat Anda jumpai seperti pada Mat. 16:16 dan Luk. 24:5-6.

    Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” [Mat. 16:16]

    Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, [Luk. 24:5-6]

    Pemikiran gnostik telah dianut oleh bangsa Mesir kuno yang mempercayai bahwa Horus adalah Kristus. Peristiwa-peristiwa terpenting dalam gnostikisme semacam ini adalah peristiwa kelahiran Kristus (Christmass), masa dewasa Kristus, penyaliban Kristus, petarungan dengan maut dan kebangkitan Kristus yang berhasil mengalahkan maut. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat bangsa Mesir kuno menjadi percaya bahwa Horus adalah Kristus. Pemikiran semacam ini dapat Anda temukan pada 1Kor. 15:3-4.

    Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; [1Kor. 15:3-4]

    Padahal kalimat seperti ini tiada tertulis dalam Perjanjian Lama. Lalu Kitab Suci yang mana yang Paulus maksudkan? Tentu saja kitab kaum gnostik. Kitab pengetahuan rahasia yang selalu didengung-dengungkan Paulus.

    Baca juga:
    Paulus dan Injil Gnostik

  • Surat Al-Ikhlash Memurnikan Tauhid

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [QS. Al-Ikhlash]

    Asbabun Nuzul

    Dalam riwayat Abu Syaikh dari Aban dengan sanad Anas, mengatakan bahwa kaum Yahudi Khaibar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Hai Abul Qosim! Allah telah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah liat, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap/kabut dan bumi dari buih air. Sekarang, coba jelaskan kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat Al-Ikhlash untuk menanggapi pertanyaan mereka.

    (lebih…)

  • Tuhankah Yesus?

    Banyak sosok di dunia ini yang dianggap sebagai ilah, tuhan yang disembah. Benarkah mereka semua adalah ilah? Atau hanya ada satu Ilah yang benar? Kali ini kita kaji tentang Yesus. Apakah Yesus itu adalah ilah yang benar? Benarkah bahwa Yesus itu adalah ilah yang esa? (lebih…)

  • Paulus dan Injil Gnostik

    Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)

    Apakah Paulus menyaksikan Yesus disalib? Apakah Paulus pernah melihat wajah Yesus sebelum ia mengaku telah dipilih Yesus dalam penampakan? Paulus tidak punya pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal ini. Pengetahuan Paulus atas penyaliban Yesus adalah pengetahuan yang meragukan, karena dia sebenarnya tidak menyaksikan penyaliban Yesus. Dia tidak benar-benar tahu apakah Yesus itu benar disalib atau tidak. (lebih…)

  • Paulus vs Murid Yesus

    Paham Trinitas hanyalah salah satu paham yang berkembang di masyarakat pada abad-abad awal Masehi. Paham lain yang juga berkembang adalah paham Unitas (Tauhid) yang pada abad keempat dibela oleh Arius dan para pendukungnya. Lalu mengapa Kaisar Konstantin memilih Trinitas? Apakah karena Trinitas itu adalah kebenaran sejati? Melihat latar belakang Kaisar yang pagan, kami tidak heran jika kaisar lebih memilih Trinitas daripada Unitas. (lebih…)

  • Isa dan Adam

    Adam tercipta tanpa dilahirkan manusia manapun, tanpa persetubuhan dari manusia manapun, berarti Adam bukanlah manusia biasa. Adam manusia istimewa, tercipta tanpa ayah dan tanpa ibu, tak mempunyai silsilah. Rohnya juga berasal dari Allah (min Ruhillah). Roh Yesus juga berasal dari Allah. Roh kita juga berasal dari Allah. Kalau bukan dari Allah, lalu siapa yang menciptakan roh kita selain Allah? (lebih…)

  • Isa dan Adam

    Adam tercipta tanpa dilahirkan manusia manapun, tanpa persetubuhan dari manusia manapun, berarti Adam bukanlah manusia biasa. Adam manusia istimewa, tercipta tanpa ayah dan tanpa ibu, tak mempunyai silsilah. Rohnya juga berasal dari Allah (min Ruhillah). Roh Yesus juga berasal dari Allah. Roh kita juga berasal dari Allah. Kalau bukan dari Allah, lalu siapa yang menciptakan roh kita selain Allah?

    Penciptaan Adam tercatat jelas dalam Alkitab dan dalam Al-Qur`an:
    Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali ‘Imran: 59)

    Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku (ruuhii), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (menghormat kepada Adam sebagai wakil Allah di muka bumi). (QS. Al-Hijr: 29)

    Allah tidak meletakkan kalimat-Nya, yaitu “Jadilah!”, pada rahim siapa pun ketika menciptakan Adam, tetapi Dia langsung mengatakan kalimat itu kepada Adam. Maka jadilah Adam.

    Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan tiupan/roh dari-Nya (ruuhum minHu). Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (QS. An-Nisaa: 171)

    Anda tahu mengapa ruh disebut ruh? Ruh secara bahasa berarti tiupan, sesuatu yang ditiup, sesuatu yang berhembus, angin. Mungkin itulah sebabnya orang Kristen mengistilahkannya dengan nafas. Ruh disebut ruh karena dia dimasukkan ke dalam jasad dengan ditiupkan, dengan dihembuskan.

    Dalam ayat itu dikatakan ‘kalimat-Nya yang Dia letakkan’, jadi jelas bukan Allah yang diletakkan dalam rahim, tetapi ketetapan-Nya, kehendak-Nya untuk mencipta. Dia tidak butuh siapa pun ketika mencipta Adam, maka Dia juga sanggup mencipta manusia tanpa benih dari laki-laki. Misal penciptaan Isa adalah seperti penciptaan Adam. Tetapi penciptaan Adam lebih luar biasa lagi, tanpa ayah, tanpa ibu. Allah langsung berkalam: “Jadilah!”. Dengan logos Tuhan… Adam dijadikan. Tanpa benih siapa pun, tanpa rahim siapa pun. LUAR BIASA!

    Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh-Nya (ruhiH), dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As-Sajdah: 7-9)

    Lihat ayat di atas, ruh yang ditiupkan ke dalam jasad kita adalah ruhiHi, ‘Hi’ disini berarti Dia, yaitu Allah. Kenapa? Karena ruhku dan ruhmu, ruh Adam dan ruh Isa, ruh dari segala makhluq hidup adalah milik Allah. Allah adalah pemilik alam semesta, langit dan bumi, ruh dan jasad kita. Segala sesuatu adalah milik-Nya.

    Katakanlah: “Ruhul Qudus menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (muslimin)”. (QS. An-Nahl: 102)

    Silahkan Anda menyebut Isa sebagai manusia suci, karena semua nabi, semua rasul, mereka semua adalah manusia suci (saint). Namun sesuci apa pun manusia, manusia tetaplah manusia. Janganlah Anda menganggapnya sebagai Tuhan. Anggapan orang Kristen terhadap Yesus adalah anggapan yang bathil.

    Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.

    (david servetus)

  • Keyakinan dan Logika

    Keyakinan… dapatkah dilogikakan? Apa maksud dari ‘dilogikakan’? Diterima oleh aqal? Jika ini yang dimaksud, maka keyakinan kepada ajaran wahyu harusnya dapat diterima oleh aqal. Jika tidak dapat diterima oleh logika, kenapa Allah mengajarkan keyakinan itu melalui firman (logos)?

    Firman Allah yang suci, yang belum tercemar oleh fikiran manusia, tentu mengandung keyakinan yang dapat diterima oleh logika. Bahkan dalam Alkitab dikatakan agar kita mencintai Allah dengan segenap hati, aqal, dan jiwa. Artinya, Allah tidak hanya dikenal oleh hati, tetapi juga dapat dikenal oleh aqal. Jika aqal tidak dapat mengenal Allah, bagaimana aqal dapat mencintai-Nya? Bukankah cinta itu timbul setelah adanya pengenalan?

    Jika di hadapan Anda terdapat gula merah, maka mata Anda dapat mengenalnya melalui bentuk dan warnanya. Kulit Anda dapat mengenalnya melalui teksturnya. Hidung Anda dapat mengenalnya melalui aromanya, dan lidah Anda dapat mengenalnya melalui rasanya. Setelah itu timbul rasa suka Anda kepada gula merah.

    Hati dapat mengenal ajaran yang benar dan lurus melalui caranya. Begitu juga dengan aqal, dia punya cara sendiri untuk mengenal ajaran yang lurus. Aqal kita sungguh unik.

    Sebagian orang dapat memahami apa yang ingin disampaikan pelukis melalui lukisannya, atau ekspresi seorang perupa melalui patung karyanya. Sebagian orang dapat memahami apa yang tersirat dari kata-kata tersurat seorang penulis atau pun penyair.

    2 Timotius 3:8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.

    Aqal budi yang jernih sanggup membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Penyidik yang cakap dan jujur akan dapat mengungkap siapa pelaku kejahatan sesungguhnya dan siapa yang sesungguhnya dijebak.

    Begitulah, aqal budi yang murni akan sanggup membedakan mana kitab suci dan mana kitab buatan manusia atau kitab yang tercemar. Logika juga dapat mengenal siapa Tuhan yang haqiqi dan siapa yang bukan tuhan. Setidaknya, aqal dapat mengenal siapa yang bukan tuhan. Sehingga aqal dapat menolak segala tuhan-tuhan palsu sampai saatnya dinyatakan kepada aqal dan hatinya akan satu-satunya Tuhan yang benar.

    Astrofisikawan terkenal, Hugh Ross menuturkan, “Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti dijelaskan teorema-angkasa, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah, dan sudah ada sebelumnya. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Yang Tuhan dan siapa/apa yang bukan Tuhan. Rabb bukanlah alam semesta (makhluq) itu sendiri dan tidak terkandung dalam alam semesta (baik ruang maupun waktu).”

    Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu