Blog

  • Download Tema MR untuk Nokia 6500

    Habib MunzirDi bawah ini ada tema untuk telepon genggam Nokia 6600 yang berwallpaper foto Habib Munzir dan screensaver serta background menunya adalah gambar Habib Umar Al-Hafizh. Tulisannya berwarana hijau. Tema ini juga dilengkapi ringtone berupa intro dari “Ya Rasulallah Salamun ‘Alayk”, sedangkan sms ringtonenya adalah perintah untuk bersholawat.

    Tema ini, insya Allah, juga akan saya buatkan bagi merk dan type lain, tergantung pada request dari pengunjung dan kemampuan saya. Bagi Anda yang mau request, silahkan beritahu kami merk dan type telepon genggam Anda di kolom komentar.

    Download Gratis Tema Majelis Rasulullah untuk Nokia 6500

  • Lucifer dan Yesus

    Yesus yang akan kita bicarakan di sini bukanlah Isa Al-Masih dalam pandangan Islam, tetapi Yesus dalam pandangan Kristian. Begitu pula dengan Lucifer. Lucifer di sini juga bukan Iblis dalam pandangan Islam yang berasal dari bangsa jin, tetapi dalam pandangan Kristian yang dianggap ‘malaikat yang terjatuh’.

    Seperti telah pernah kami bahas dalam artikel-artikel kami sebelumnya bahwa ajaran gnostik telah dimasukkan ke dalam Alkitab, sekarang kita juga akan membahas kembali mengenai hal semacam itu.

    Dalam bahasa latin, kata “Lucifer” berarti Pembawa Terang. Luci atau lux berarti cahaya atau terang, dan ferre berarti membawa. Kata “Lucifer” merupakan sebuah nama untuk Bintang Fajar atau Bintang Timur (Venus ketika muncul di waktu fajar). Lucifer juga digunakan Alkitab untuk menamai tokoh yang melawan YHWH, yang kemudian dikenal sebagai Iblis atau Setan.

    Lucifer merupakan salah satu anggota dari para malaikat tinggi yang biasa disebut sebagai ‘para allah’. Lucifer, dalam gnostikisme tidak dianggap sebagai musuh Bapa, tetapi musuh YHWH. Lucifer, sebagai Pembawa Terang, juga sering dilambangkan dengan Matahari, api, dan sebagainya. Seperti kita ketahui, banyak peradaban kuno yang menghadirkan tuhan mereka dalam bentuk matahari seperti Mesir Kuno dan Romawi Kuno. Banyak juga yang menghadirkan tuhan mereka dalam bentuk api seperti Persia Kuno atau Majus.

    Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. [Kejadian 1: 1-4]

    Kaum Gnostik yang telah mengubah Alkitab memaksudkan terang itu sebagai Lucifer, malaikat pembawa terang. Sedangkan gelap, yang pertama kali ada sebelum ada terang, itulah YHWH. Jadi, YHWH bukanlah Tuhan Yang Mahatinggi. YHWH bukanlah Tuhan Yang menciptakan alam semesta. YHWH dan Lucifer berfungsi sebagai penyeimbang. Namun YHWH ingin menguasai terang. Karena YHWH adalah yang pertama ada sebelum segala ciptaan, maka mudah sekali bagi YHWH untuk mengelabui para malaikat lainnya yang ada kemudian, termasuk Lucifer.

    Dalam gnostikisme, manusia tidak diciptakan oleh Ellohim, tetapi dijadikan oleh YHWH. YHWH ingin agar dunia dikuasai olehnya melalui manusia yang dibentuknya dari tanah liat. Kemudian manusia ini akan menguasai segala hewan darat, hewan air, unggas, dan segala tumbuhan, yang tadinya dikelola oleh Lucifer bersama para malaikatnya.

    Ketika dia mengetahui keinginan YHWH untuk menciptakan manusia, Lucifer tidak senang dan iri kepada manusia. Namun Lucifer tidak berani melawan YHWH yang dia sangka sebagai Tuhan Yang Mahatinggi.

    Pada perkembangannya, Lucifer melihat keganjilan dari YHWH. Lucifer melihat YHWH meminta korban bakaran dan juga darah yang harus dicipratkan ke sekeliling mezbah. Jika benar bahwa YHWH itu Tuhan Yang Mahatinggi, mengapa dia menginginkan makanan manusia dan darah ternak?

    Lucifer juga melihat banyak keganjilan lainnya dari YHWH. Maka, setelah berusaha keras, ia pun berhasil menemui malaikat Gabriel dan menceritakan segala kecurigaannya. Mereka berdiskusi hingga 21 hari lamanya. Akhirnya Gabriel percaya dengan penuturan Lucifer dan bersama-sama mencari Tuhan Yang Mahatinggi. Namun mereka tak kunjung menemukan Tuhan Yang Mahatinggi. Singkat cerita, Lucifer sadar bahwa dia adalah terang dan YHWH adalah gelap. Mereka saling berlawanan dan menyeimbangkan. Maka tidak boleh sampai terjadi bahwa yang satu meniadakan yang lain. Namun Lucifer ingin menyeimbangkan keadaan supaya jangan sampai YHWH menguasai sendiri. Jika itu terjadi, maka dunia menjadi tidak seimbang dalam kegelapan dan akhirnya hancur. Itulah yang disebut kiamat.

    Lucifer tidak dapat berdiam diri. Dia teringat dengan perkataan YHWH bahwa kelak akan lahir seorang putera dari seorang wanita muda yang diberi nama Imanuel. Maka ia pun menemui Gabriel dan mengemukakan rencananya untuk menjadi manusia melalui wanita muda tersebut. Maka mereka berdua menjalankan rencana tersebut untuk menjadikan Lucifer sebagai terang dunia. Agar YHWH tidak menguasai dunia dengan kegelapan.

    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. [Yohanes 1:1-5]

    Pada mulanya, ketika gelap menguasai alam raya, Tuhan berfirman hingga jadilah terang. Terang yang Tuhan jadikan dengan firman itu hidup bersama para allah, terang itu adalah salah satu allah juga yang membawahi beberapa malaikat. Terang itu bercahaya dalam gelap, dan gelap tak dapat menguasainya. Kemudian dia menjadi terang manusia. Lucifer si Pembawa Terang tak dapat dikuasai YHWH dan telah menjadi manusia. Maka orang-orang Israel, kesayangan YHWH, berusaha untuk membunuh dia. Namun para pengikut Pembawa Terang terus mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia. Dan hingga kini, lambang matahari akan mudah ditemukan di St. Peter Square, pada bangunan Gereja Vatikan, pada pakaian Paus dan atributnya serta pada tongkat yang biasa dipegangnya. Bahkan lambang salib juga diambil dari lambang sinar matahari atau dari Bintang Timur atau Bintang Fajar. Maka jelaslah bahwa Kristen bukanlah ajaran Nabi Isa, tetapi ajaran gnostik dan bidat yang bersumber pada pengkultusan Lucifer yang dianggap sebagai Pembawa Terang, si Bintang Timur, Bintang Fajar.

    Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” [Matius 2:1-2]

    Menurut Paulus dan sebagian Kristiani, mereka mengatakan bahwa Allah itu misteri, misteri itu adalah Yesus. Itulah Kristen yang menyembah allah yang tidak dikenal (karena misterius berarti tidak dikenal). Sedangkan Ilah yang disembah para Nabi adalah Ilah yang dikenal. Sebagian Kristiani juga sangat mendukung Israel sebagai ummat pilihan Tuhan. Padahal Israel saat ini sangat dikenal erat hubungannya dengan Freemason, suatu organisasi satanis yang sangat mengerikan. Akankah Tuhan Pencipta alam semesta tetap memilih bangsa sadis seperti Israel saat ini sebagai ummat pilihan? Memang benar bahwa bani Israel pernah menjadi ummat pilihan. Tetapi bani Israel telah sering membunuh para Nabi. Maka Tuhan berfirman kepada ummat Muhammad bahwa ummat Muhammad adalah sebaik-baik ummat, karena mereka meneruskan misi para Nabi untuk mengajak kepada Tauhid dan meninggalkan penyembahan kepada yang selain Allah Yang Esa.

    Jika ada seorang pemilik kebun, dia mempercayakan kepada para pekerja untuk mengelola kebun itu. Lalu diutuslah anak pemilik kebun untuk mengambil bagian dari hasil kebun itu. Namun para pekerja itu malah membunuhnya. Kira-kira apa yang akan dilakukan si pemilik kebun? Akan tetapkah ia biarkan para pekerja itu untuk mengusahakan kebunnya, atau ia serahkan kepada orang lain untuk dikelola?

  • Majelis Rasulullah yang Mengagumkan

    Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Kita pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah.

    Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet. (lebih…)

  • Majelis Rasulullah yang Mengagumkan

    Majelis Rasulullah memulai da’wahnya pada tahun 1998. Kita pernah mendengar istilah mantan HT, mantan JT, mantan PKS, mantan Salafy, dsb. Namun Alhamdulillah, belum ada yang berkata bahwa dirinya adalah mantan Majelis Rasulullah.

    Mengapa mereka begitu betahnya 10 tahun bersama majelis ta’lim yang kerjanya cuma menabuh hadroh tiap malam? Bukannya berkurang, anggota Majelis Rasulullah semakin bertambah banyak, baik yang hadir di majelis fisik maupun secara virtual melalui internet.

    Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena mengagumkan seperti ini. Faktor utamanya tentulah adanya keridhoan Allah atas majelis ini. Bukti keridhoan Allah itu terbentang sepanjang perjalanan da’wah Majelis Rasulullah.

    Percobaan Pembunuhan

    Sudah beberapa kali Habib Munzir mengalami percobaan pembunuhan. Pernah mobil beliau dikejar-kejar dan ditabrak hingga keluar dari badan jalan. Alhamdulillah beliau selamat. Namun komplotan penabrak itu menghentikan mobil mereka dan keluar menghampiri mobil Habib Munzir. Maka terjadilah kejar-kejaran. Alhamdulillah Habib Munzir dan aktivis MR dapat selamat. Di lain waktu peristiwa seperti itu berulang.

    Pernah juga beliau diracun dalam suatu perjamuan. Rupanya ada yang telah menyabotase hidangan bagi beliau. Beliau masuk rumah sakit. Alhamdulillah Habib Munzir selamat dari racun berbahaya itu.

    Awan Berbentuk Lafazh Allah

    Pada hari Kamis, 20 Maret 2008, Majelis Rasulullah SAW mengadakan acara perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW di lapangan parkir Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Acara itu dihadiri juga oleh KH. Ma’ruf Amin (selaku Ketua MUI), dan perwakilan dari beberapa partai yang sengaja diundang oleh Majelis Rasulullah SAW.

    Seperti biasa, Habib Munzir membawakan taushiyah-taushiyah yang menyentuh hati. Namun kali ini taushiyah beliau lebih terasa di jiwa setiap hadhirin. Beliau mengisahkan kembali bagaimana sosok Rasulullah SAW sesungguhnya. Bagaimana budi pekerti Rasulullah SAW yang tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut. Artinya beliau SAW lebih sering lapar. Bukan karena beliau miskin. Jika beliau mau, beliau bisa menjadikan makanan satu piring cukup untuk mengenyangkan beliau dan keluarganya untuk selama-lamanya. Namun beliau ingin menjadi orang yang pertama kali merasakan lapar sebelum ummatnya merasakan lapar, dan menjadi orang yang terakhir kenyang setelah ummatnya kenyang.

    Kisah demi kisah terus mengundang tangis dari jiwa-jiwa yang mencintai Muhammad Rasulullah SAW. Jiwa-jiwa yang dimabuk rindu itu terus melayang ke langit tertinggi. Cahaya-cahaya indah terpancar dari dada mereka hingga menembus ke ‘Arasy.

    Awan tipis berkumpul untuk menjawab kegundahan Habib Munzir ketika beliau berbisik dalam hati, “Kasihan jama’ah. Mereka duduk di bawah terik Matahari.” Cuaca terik berubah menjadi sejuk dan berangin sepoy-sepoy, seakan alam menyambut para tamu Rasulullah SAW.

    Ketika Habib Munzir mengisahkan akhir-akhir riwayat Rasulullah SAW, beberapa jama’ah melihat awan-awan kecil berkumpul. Perlahan, mereka membentuk lafazh ‘ALLAH’ dalam huruf Arab, lengkap dengan tanda bacanya (harokat).

    Ketika Habib Munzir mengajak jama’ah melafazhkan Asma Allah sebanyak 300 kali, awan itu telah terbentuk dengan jelasnya. Sebagian jama’ah yang tidak mengetahui perihal awan itu terus berdzikir sambil menunduk dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka asyik dalam melafazhkan Asma Allah. Jama’ah lainnya dan para pengunjung Monas yang melihat awan itu juga berdzikir sambil memandang tanda keridhoan Allah atas perkumpulan kami hari itu.

    Selepas berdzikir, awan itu pun mulai terhapus. Namun tetap membekaskan kekaguman di hati jama’ah dan pengunjung Monas yang menyaksikannya.

    Sembuh dari Kanker Otak

    Pada akhir Agustus 2008, Habib Munzir diketahui menderita kanker otak. Dokter di RSCM telah angkat tangan. Namun beliau menghubungi Habib Umar Al-Hafizh, minta untuk didoakan. Alhamdulillah, kanker otak pun hilang seketika. Habib Umar juga menyampaikan, bahwa setelah itu, da’wah Majelis Rasulullah akan bertambah luas dengan cepat.

    Da’wah Lembut yang Melembutkan

    Pernah Habib Munzir berbicara keras dalam suatu majelis. Maka sepulangnya dari majelis, Rasulullah datang menjumpai beliau (saya lupa, apakah dalam mimpi atau dalam jaga). Rasul berkata bahwa mereka adalah ummat Rasulullah, maka jangan lagi bicara keras terhadap mereka. Sejak saat itu, beliau berusaha untuk bicara penuh kelembutan. Da’wah lembut beliau semakin melembutkan hati jama’ah. Maka bertobatlah sejumlah preman, pezina, pengguna narkoba dan bergabung dalam cahaya kemulyaan setelah mendengarkan ceramah beliau yang terus memanggil hati-hati yang kelam akibat dosa-dosa yang menumpuk.

    Bahkan pada tanggal 25 Desember 2007, beberapa Kristiani mendatangi rumah beliau untuk menyatakan ke-Islaman mereka. Hal ini terjadi tepat setelah tanggal 24 Desember 2007 malam, MR melafazhkan “Yaa Allahu” sebanyak 1000 kali untuk meredam kemurkaan Allah dari perkataan fitnah yang menyatakan bahwa Allah mempunyai putera.

    Kelembutan hati Habib Munzir yang sering berjumpa Rasulullah baik dalam tidur maupun ketika terjaga telah mampu menembus kekerasan hati jama’ah dan melembutkan hati mereka. Maka semakin mereka merasakan manisnya khusyu, manisnya taubat, manisnya menyebut Asma Allah, manisnya sujud, manisnya ibadah, manisnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, manisnya rindu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan manisnya kedekatan dengan Allah.

    Habib Munzir tidak hanya mengajarkan ilmu syari’ah yang memenuhi aqal mereka. Tetapi ilmu syari’ah yang memenuhi hati mereka. Dari situlah terbit rasa kehambaan dan bukan adu ilmu. Dari situlah terbit rasa sayang dan bukan benci kepada sesama Muslim. Semakin sering mereka menziarohi Habib Munzir, semakin kuat cahaya kemulyaan itu mempengaruhi mereka. Malam demi malam, bagian-bagian hati mereka terobati. Bertambah kuat kesabaran mereka, bertambah redup kemurkaan mereka. Bertambah kuat kelembutan mereka, bertambah redup kekerasan mereka. Bertambah kuat tawadhu mereka, bertambah redup arogansi mereka.

    Ilmu yang Bersambung

    Ilmu yang diajarkan oleh Habib Munzir adalah ilmu-ilmu yang didapatnya secara bersambung dari guru-gurunya dari tabi’it tabi’in dari tabi’in dari shahabat dari Rasulullah dari malaikat Jibril dari Allah. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah. Ikatan dalam keridhoan inilah salah satu hal yang menyebabkan mereka betah di Majelis Rasulullah. Wallahu a’lam.

  • KPI: Hentikan Ekspos Sosok Banci

    Komisi Penyiaran Indonesia mengingatkan semua stasiun televisi agar tidak menayangkan acara yang menampilkan sosok kebanci-bancian dengan lawakan yang cenderung berbau porno. Hal ini perlu dilakukan untuk menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah Ramadhan. Sebelumnya imbauan itu juga telag disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). (lebih…)

  • KPI: Hentikan Ekspos Sosok Banci

    Komisi Penyiaran Indonesia mengingatkan semua stasiun televisi agar tidak menayangkan acara yang menampilkan sosok kebanci-bancian dengan lawakan yang cenderung berbau porno. Hal ini perlu dilakukan untuk menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah Ramadhan. Sebelumnya imbauan itu juga telag disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    “KPI dan MUI memberi peringatan kepada stasiun televisi untuk tidak menayangkan tayangan kebanci-bancian. Seperti reality show, komedi dan lawakan konyol yang biasa ditayangkan itu, ” kata Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja, di Jakarta, Senin (1/9).

    Sasa menambahkan, KPI dan MUI khawatir jika tayangan seperti itu terus dieksploitasi maka akan mempengaruhi anak-anak.

    “Bahkan dalam agama Islam, banci kan sebenarnya tidak boleh dan MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai itu, ” ucapnya.

    Jika hal ini tidak mendapat respon positif, lanjut Sasa, KPI akan menjatuhkan sanksi administratif sampai ke pencabutan izin siaran terhadap stasiun televisi tersebut.

    Terkait model kebancian-bancian ini, KPI akan membuat dan mengeluarkan surat peringatan kepada semua stasiun televisi, untuk tidak menampilkan atau membuat tayangan dengan model kebancian-bancian.

    Sebelumnya, Sasa mengatakan bahwa hampir disemua stasiun televisi mempunyai tayangan-tayangan dengan model seperti itu. Padahal, tayangan-tayangan dengan model kebancian merupakan bentuk dari pelecehan terhadap kelompok tertentu dan itu melanggar aturan dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI.

    Sementara itu, Pengamat pendidikan Arif Rahman mengatakan, gangguan seks pada komunitas tertentu (banci) yang ditiru sebagai gaya dalam beberapa tayangan televisi bukanlah untuk dieksploitir. Banci itu merupakan gangguan atau penyakit yang harus ditolong.

    “Tayangan-tayangan dengan model kebanci-bancian ini harus dihilangkan dari wajah televisi kita, pasalnya ini akan membuat banyak peniruan-peniruan khususnya pada anak-anak,” jelas Arif. (novel)

  • MP3 Maulid Adh-Dhiyaul Lami’

    Kitab Maulid Adh-Dhiyaul Lami’ merupakan Kitab yang disusun oleh Al-Musnid Al-Habib Umar bin Muhammad Al-Hafizh. Inilah Kitab Maulid mutakhir yang penyusunnya masih dapat kita jumpai untuk dimintai ijazahnya. Atau bisa juga kita minta ijazahnya melalui murid-murid beliau, seperti Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, Al-Habib Jindan bin Novel dan Al-Habib Ahmad bin Novel.

    Download MP3 Maulid Adh-Dhiyaul Lami’
    Download Teks Maulid Adh-Dhiyaul Lami’

  • Tajrid dan Kasab

    Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi.

    Jika meneliti Kitab Insan Kamil karya Syaikh Abdul Karim Al-Jilli, ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al-Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al-Hallaj tanpa pemahaman dan pengalaman yang benar. Al-Jilli menegaskan, “Hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan. Tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.”

    Hal lain yang dikhawatirkan adalah para pemula yang menuntut ilmu tashawwuf yang kemudian meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat membutuhkan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

    Syaikh Ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Matnul Hikam, “Hasratmu untuk tajrid, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur kasab, maka hasrat yang demikian merupakan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginan kamu untuk berkasab padahal Allah telah meletakkan kamu dalam jalur tajrid berarti turun dari semangat dan maqom yang tinggi.”

    Tajrid bisa saja terjadi dengan kehendak Allah, bukan dengan kehendak kita. Maka suatu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasauf, memaksakan dirinya untuk tajrid dan tidak berusaha untuk mencari nafkah bagi kepentingan dirinya dan keluarganya. Seorang milyarder yang memenuhi kebutuhannya dan keluarganya tanpa bekerja lagi, silahkan saja dia bertajrid secara lahir dan bathin. Bahkan jika ia tidak bertajrid untuk memfokuskan diri dalam ibadah, maka meninggalkan tajrid itu merupakan penurunan derajat. Namun orang yang Allah letakkan pada jalur kasab, jangan memaksakan diri untuk bertajrid.

    Syaikh Al-Junaid berkata bahwa orang yang meninggalkan kasab dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri. Lalu mengapa para guru sufi mengajarkan konsep tajrid jika meninggalkan kasab secara sengaja merupakan suatu dosa?

    Tajrid itu ada tajrid lahir dan tajrid bathin. Tajrid secara lahir, berarti seseorang meninggalkan kasab demi mengabdi kepada Allah. Adapun tajrid secara bathin, yaitu Anda meyaqini bahwa kasab itu tidak mendatangkan hasil apa-apa. Jadi, tajrid secara bathin adalah seseorang meninggalkan kasab sebagai sebab datangnya rizqi dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab datangnya rizqi. Secara lahir, orang itu tetap berikhtiar, karena memilih yang halal itu diperintahkan oleh Allah, maka itu adalah ibadah. Namun secara bathin, dia tidak menempatkan ikhtiar sebagai pendatang rizqi. Bathinnya telah meninggalkan kasab. Inilah tajrid bathin.

    Dalam bahasa yang ekstrim, orang yang tidak bertajrid secara bathin, berarti dia telah menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan rizqi. Orang yang bertajrid, dia meninggalkan kasab. Orang yang bertajrid secara bathin bukan berarti meningalkan kasab secara lahir. Namun dia tidak menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan hasil.

    Lebih jauh lagi, orang yang bertajrid secara bathin itu tetap makan, namun dia meyaqini bahwa yang memberi kekuatan dan kesehatan adalah Allah. Makanan hanyalah makhluq yang padanya Allah letakkan keberkahan yang menyehatkan dan menguatkan.

    Memang ada orang-orang tertentu yang Allah berikan keistimewaan hingga tidak lagi memerlukan makanan secara lahir. Dia bisa tetap kuat dan sehat dengan keberkahan dari Allah langsung tanpa mengambilnya dari makanan. Namun hal ini tidak bisa dipaksakan. Artinya tidak datang dari usaha dan kehendak kita, tetapi datang dengan kehendak dan kuasa dari Allah.

    Begitu juga ada orang-orang yang telah Allah berikan kecukupan materi tanpa berusaha lagi. Maka silahkan ia berhenti dari kasab dan masuk kepada tajrid.

    Pada akhirnya, tajrid secara bathin merupakan hal yang harusnya ada pada diri kita.

  • Mengharapkan Rahmat Allah

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]

    Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan” (lebih…)

  • Mengharapkan Rahmat Allah

    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [QS. Ali Imran (3): 133]

    Syaikh Ibnu Atho`illah berkata, “Termasuk tanda-tanda bergantung/bersandar kepada amal ialah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika wujudnya dosa/kesalahan”

    Sering manusia lebih bersandar kepada amalnya daripada bersandar kepada rahmat Allah. Hal ini dapat dibuktikan, antara lain, ketika ia berbuat satu kema’siatan, ia akan mengingat-ingat amal shalihnya yang dianggap dapat menghapus dosanya. Dan dia tidak begitu ingat akan rahmat Allah. Dia tidak memohon rahmat dan ampunan Allah karena yaqin bahwa amal shalih yang telah dikerjakannya lebih banyak dari dosa-dosanya. Atau mungkin sebaliknya, dia tidak memandang kepada rahmat Allah dengan berkata, “Allah tidak mungkin mengampuni saya, karena dosa saya terlalu banyak sedangkan amal saya terlalu sedikit.” Padahal, Allah mengampuni seseorang tanpa melihat amalnya, tetapi Allah mengampuni seseorang karena rahmat-Nya.

    Memang benar bahwa kebaikan Allah selalu turun kepada kita, sedangkan keburukan kita selalu naik kepada Allah. Namun bukan berarti kita harus berputus harapan dari rahmat Allah. Justeru ketika kita menyadari bahwa tidak ada amal yang bisa kita andalkan, dan memang amal kita tidak bisa diandalkan, seharusnya muncul satu kesadaran pula bahwa hanya rahmat Allah saja yang bisa kita andalkan. Ya, hanya rahmat Allah saja satu-satunya harapan kita. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan kita.

    Terkadang manusia juga berfikir bahwa dia akan masuk surga karena amal shalihnya dan bukan karena rahmat Allah. Padahal Nabi menyatakan bahwa kita dapat masuk surga adalah karena rahmat Allah. Amal ibadah kita selama ratusan tahun tidak akan cukup untuk membayar ni’mat penglihatan kita. Bahkan sebagai tanda kesyukuran kita akan setetes ni’mat Allah pun belum cukup. Apalagi jika digunakan untuk membayar tiket ke surga. Jelaslah bahwa kita dapat beribadah karena rahmat Allah berupa iman, Islam, ilmu, kesehatan, dll. Kita dapat mensyukuri suatu ni’mat Allah dengan adanya ni’mat Allah yang lainnya. Bukankah kemampuan kita untuk beribadah dan bersyukur itu juga merupakan pemberian Allah?

    Dalam mencari nafkah pun, terkadang kita merasa bahwa rizqi itu datang dari hasil usaha kita. Bagaikan Qarun kita berkata bahwa rizqi itu tergantung pada ilmu dan usaha kita. Padahal ilmu dan usaha hanyalah cara untuk menjadikan rizqi itu halal atau haram, bukan untuk menentukan datangnya rizqi. Rizqi itu datang dari Allah. Maka mintalah kepada-Nya. Ikhtiar adalah sesuatu yang menjadikan rizqi itu halal atau haram. Ikhtiar adalah kita memilih rizqi yang halal atau yang haram. Berusaha dengan cara yang dilarang Allah berarti kita memilih yang haram. Berusaha dengan cara yang tidak dilarang Allah berarti kita memilih yang halal. Rizqi itu telah disediakan bagi kita begitu luasnya. Tinggal kita pilih, yang halal atau yang haram.

    Amal bukanlah sandaran yang kuat. Amal itu terbit dari makhluq. Sedangkan makhluq adalah fana. Amal itu sendiri adalah makhluq. Bagaimana mungkin kita akan bersandar kepada makhluq? Bersandarlah kepada Allah yang Kekal. Tidak akan kecewa mereka yang bersandar dan bergantung kepada Allah.

    Silahkan Anda bergantung kepada orangtua Anda. Tetapi ingat, orangtua Anda akan mati. Silahkan Anda bergantung kepada perusahaan Anda. Tetapi ingat, perusahaan Anda juga dapat bangkrut. Silahkan bergantung kepada obat. Tetapi ingat, terkadang obat dapat menjadi racun. Dan memang bukan obat yang menyembuhkan penyakit. Banyak obat yang setelah diminum, ternyata tidak ada perubahan pada diri si penderita. Rizqi, kesembuhan, kesehatan, semua itu dari Allah. Begitu pula masuknya seseorang ke surga, itu merupakan rahmat dari Allah. Bukan disebabkan amal shalihnya. Tak ada manusia yang dapat menghindari ma’siat atau pun mampu berbuat tho’at, kecuali dengan rahmat Allah.

    Amal shalih yang kita kerjakan setelah berbuat ma’siat bukanlah untuk menghapus dosa. Tetapi untuk mengemis rahmat Allah. Ketika kita berbuat salah kepada seseorang. Lalu kita ingin meminta maaf darinya. Lalu dia berkata, “Berbuatlah ini dan ini..” Maka kita mengerjakannya agar dia berkenan memaafkan kita.

    Allah telah membuka lebar-lebar pintu-pintu rahmah dan maghfirah-Nya. Kita dapat memasukinya dari pintu-pintu itu. Sungguh Allah Mahapengampun, namun manusia terkadang suka menzholimi diri sendiri. Apa yang Allah katakan kepada bani Israil ketika mereka melakukan suatu kesalahan? Allah menyuruh mereka agar memasuki suatu gerbang seraya bersujud dan berkata, “Hiththoh.” Jika mereka melakukannya, niscaya Allah mengampuni mereka. Tetapi mereka menggantinya dengan ajaran yang tidak-tidak.

    Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. [QS. Al-Baqarah (2): 58-59]

    Jika kita mau mendapatkan ampunan dari Allah, sebenarnya mudah saja. Banyak ayat-ayat Alqur’an dan Hadits yang mengajarkan bagaimana cara mengharapkan ampunan dan kasih-sayang Allah. Dengan membaca Al-Qur’an, dengan shalat, dengan istighfar, dengan tasbih. Semua amal shalih sebenarnya merupakan cara untuk mengemis rahmat Allah.

    Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS. An-Nuur (24): 31]

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah (2) : 218]

    Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir (35): 29]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Apa pendapat kamu sekiranya terdapat sebatang sungai di hadapan pintu rumah salah seorang dari kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apakah masih lagi terdapat kotoran pada badannya?” Para Sahabat menjawab: “Sudah pastinya tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya.” Lalu baginda bersabda: “Begitulah perumpamaannya dengan sembahyang lima waktu. Allah menghapuskan segala kesalahan mereka.” [HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi]

    Mengemis Kasih (oleh Raihan)

    Tuhan, dulu pernah aku menagih simpati
    Kepada manusia yang alpa jua buta

    Kini terhiritlah aku di lorong gelisah
    Luka hati yang berdarah
    kini jadi kian parah

    Semalam sudah sampai ke penghujungnya
    Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu

    Tak ingin lagi ‘ku ulangi kembali
    gerak dosa yang menghiris hati

    Tuhan, dosaku menggunung tinggi
    Namun rahmat-Mu melangit luas
    Harga selautan syukurku
    hanyalah setitis ni’mat-Mu di bumi

    Tuhan, walau taubat sering ku pungkir
    Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
    Bila selangkah ku rapat pada-Mu
    Seribu langkah Kau rapat padaku