Blog

  • Muhammad Abduh Sang Mujaddid?

    Taqlid merupakan tindakan mengikuti pendapat dan metode yang digunakan oleh para salafush shalih dalam agama. Sedangkan tajdid merupakan kebalikan dari taqlid. Tajdid atau pembaharuan adalah istilah yang digunakan bagi mereka yang tidak mengikat diri kepada salah satu madzhab.

    Orang yang melakukan tajdid itu umumnya lebih mendahulukan aqal dari pada wahyu. Mereka memberikan porsi peranan yang lebih besar kepada aqal daripada kepada wahyu. Mereka sering disebut juga sebagai kaum rasionalis. Mereka tidak mengenal sistem madzhab. Mereka merasa bahwa aqal mereka cukup cerdas untuk mentarjih pendapat para Imam terdahulu dan ilmu mereka cukup luas untuk memilih dalil mana yang lebih shahih dan kuat.

    Sementara orang yang bertaqlid biasanya disebut sebagai tradisionalis, karena mereka memang menjaga tradisi para ulama terdahulu yang mengenal sistem madzhab yang mempersilahkan orang kebanyakan untuk taqlid kepada ulama yang memang layak berijtihad.

    Rasionalisme dalam Islam semakin berkembang melalui Muhammad Abduh yang mengagumi Syaikh Hasan ath-Thawil yang mengajarkan kitab filsafat karangan Ibnu Sinna, logika karangan Aristoteles dan lain sebagainya.

    Muhammad Abduh sangat membenci sikap taqlid, hal ini sebenarnya mulai dia rasakan sejak menginjak al-Azhar, dimana dia mendapati terpolanya 2 pemahaman, yaitu kaum mayoritas yang penuh taqlid dan hanya mengajarkan kepada siswa-siswanya tentang pendapat-pendapat ulama terdahulu, sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaruan Islam (pola Tajdid) yang mengarah pada penalaran dan pengembangan rasa.

    Salah satu pemikiran dan keinginan dari Muhammad Abduh adalah membebaskan akal pikiran dari belenggu taqlid dengan cara memahami langsung dari sumber pokoknya : al-Qur’an. Abduh menilai bahwa kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda dan pada akhirnya malah menjauh dari tujuan diturunkannya al-Qur’an.

    Menurutnya, sebagian kitab-kitab tafsir itu sedemikian kering dan kaku karena penafsirnya hanya mengarahkan perhatian kepada pengertian kata-kata atau kedudukan kalimatnya dari segi i’rab dan penjelasan lain menyangkut segi teknis kebahasaan yang dikandung oleh redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Oleh karena itu, kitab-kitab tafsir tersebut cenderung menjadi semacam latihan praktis dalam bidang bahasa dan bukan kitab tafsir yang sesungguhnya. Muhammad Abduh berpendapat bahwa wahyu al-Qur’an menuntut pembuktian secara akal mengenai klaim-klaim yang disampaikannya. Hal ini dilatari kegemarannya pada filsafat Yunani yang menuntut kebenaran ilmiah. Sehingga banyak hadits dan peristiwa dalam Islam, yang menurutnya bertentangan dengan aqal, kemudian diingkari atau ditafsiri sesuai dengan aqalnya semata. Diantara hal yang dipersoalkan Muhammad Abduh adalah keshahihan peristiwa Isra` Mi’raj dengan ruh dan jasad. Menurutnya, hal ini tidak masuk aqal.

    Muhammad Abduh tidak menghiraukan segi-segi ma’tsur, tidak pula memperhatikan cara pentakhrijan serta sejarah yang menyangkut ayat-ayat al-Qur’an. Karenanya tidak heran bila banyak hadits-hadits yang dianggap shahih sejumlah ulama malah ditolak dan diabaikan olehnya hanya karena dianggap tidak sesuai dengan pemikiran logis atau tidak sejalan dengan redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Sebaliknya ada juga hadits atau riwayat yang oleh ulama dinilai lemah justru dikukuhkan oleh Muhammad Abduh karena kandungannya sejalan dengan pemikiran logis.

    Begitulah kaum rasionalis yang menganggap diri mereka sebagai mujaddid. Mereka mengedepankan aqal dan menjadikan Al-Qur`an sebagai mu`in (penolong) di belakang aqal mereka. Maka bohonglah mereka jika mereka berkata bahwa tidak ada Imam selain Al-Qur`an. Justeru mereka telah menjadikan aqal sebagai Imam.

    Pola rasionalisme ini kemudian dianut pula oleh Hassan Al-Banna dan kemudian oleh para pemuda yang lemah aqal namun merasa bahwa dirinya cukup cerdas untuk mentarjih dan berijtihad. Bukan hanya Hassan Al-Banna dan aktivis Ikhwanul Muslimin yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh, bahkan para pemuda Salafy pun melakukan apa yang dilakukan Muhammad Abduh. Mereka menolak untuk bertaqlid dan lebih memilih untuk berijtihad layaknya seorang ulama besar. Bahkan rasionalisme semacam inilah yang melahirkan liberalis-pluralis seperti Nur Cholis Majid (Cak Nur) dan Ulil Abshar Abdalla. Maka muncullah pertanyaan di benak kita. Benarkah gerakan mereka ini dalam rangka memurnikan agama, ataukah justeru mengotorinya? Benarkah mereka melakukan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama Islam ini kembali seperti baru munculnya dahulu seperti jika Anda membeli suatu barang, kemudian rusak, lalu Anda memperbaiknya sehingga kembali seperti baru Anda beli dahulu? Atau justeru merupakan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama baru yang agak berbeda dengan agama sebelumnya yang jika menggunakan istilah Ulil adalah re-embodiment?Jika Anda memang orang yang cerdas, harusnya Anda sadar betul akan kemana arah Muhammad Abduh dan para pengikutnya.

  • Menanti Sanad Sang Ustadz

    Dalam Bible dikatakan bahwa Petrus dan Barnabas yang merupakan murid langsung dari Yesus telah mengajarkan unitas (Tauhid). Lalu datanglah Paulus yang mengaku sebagai murid Yesus. Padahal dia tidak pernah bertemu dengan Yesus secara langsung. Dia hanya mengaku-ngaku saja bahwa ia telah melihat Yesus dalam ‘penampakan’. Lalu Paulus mengajarkan trinitas. Sebagai orang yang cerdas dan ilmiah, semestinya Kristiani lebih memilih Petrus dan Barnabas daripada Paulus. Sanad menjadi penting, karena ia menentukan siapa yang lebih punya otoritas dan layak sebagai pewaris da’wah para Nabi.

    Khawarij

    Ketika Ali dan Muawiyah setuju untuk bertahkim, sekelompok kaum kecewa dam berkata, “Mengapa kalian berhukum kepada manusia? Tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.” Sayyidina Ali berkata, “Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.” Lahirlah kaum Khawarij yang terkenal ghuluw (ekstrim) dan mudah menganggap kafir orang-orang di luar kelompoknya. Mereka membaca Al-Qur’an dan Hadits yang sama, tetapi mereka menafsirkannya secara berbeda. Karena guru mereka bukanlah guru yang bersambung sanad ilmunya kepada Rasulullah SAW. Penafsiran mereka didasarkan kepada penafsiran guru-guru mereka, yang penafsiran seperti itu tidak diajarkan Rasul dan ulama-ulama yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah SAW. Maka penafsiran dan ajaran siapa yang lebih layak kita ambil? Ajaran khawarij ataukah ajaran para pewaris Nabi? Ajaran mereka yang terputus sanadnya ataukah ajaran mereka yang bersambung sanadnya?

    Mu’tazilah

    Ketika Wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Al-Basri di Masjid Bashrah, datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Bashri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al-Bashri masih berfikir, Wasil bin Atho mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan, “Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah mu’min dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi di antara keduanya, tidak mu’min dan tidak kafir.” Kemudian Wasil menjauh memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri dan pergi ke tempat lain di lingkungan Masjid. Di sana Wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Hasan Al-Bashri berkata, “Wasil memisahkan diri (i’tazaala) dari kita.”

    Wasil mengajarkan apa-apa yang tidak diajarkan Rasul dan para pewarisnya SAW. Wasil memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri yang sanad ilmunya bersambung. Dan sebagian orang di zaman ini telah mengikutinya. Maka terputuslah sanad Wasil dan para pengikutnya dari Rasulullah SAW.

    Mana Sanadmu?

    Saat ini, banyak pemuda mengikuti ustadz-ustadz yang sanadnya tidak jelas dan pendapatnya bertentangan dengan para pewaris Nabi. Sedangkan para pewaris Nabi memahami Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul dari generasi ke generasi secara benar dan konsisten. Namun anehnya, para pemuda ini lebih percaya kepada ustadz-ustadz yang sanad gurunya tidak jelas daripada kepada para pewaris Nabi. Terkadang para pemuda ini merasa bahwa mereka orang yang cerdas yang dapat memfilter perkataan keliru sang ustadz dha’if. Jika ada ulama shahih, mengapa kita harus belajar kepada ustadz dha’if? Dengan apa kita memfilter? Dengan Al-Qur’an dan Hadits yang ditafsiri sesuai aqal manusia sok cerdas? Para pemuda ini merasa bahwa mereka telah pantas mentarjih, berijtihad, dsb. Ilmu apa yang telah mereka miliki hingga merasa pantas menjadi mujtahid? Dari mana mereka mendapat ilmu seperti itu? Dari para pewaris Nabi? Dari ulama shahih? Atau justeru dari buku-buku karangan ustadz-ustadz dha’if yang tidak jelas sanadnya? Mereka ini, jika dimintai untuk menjelaskan sanad ilmu mereka, mereka tak dapat menyebutkannya. Tetapi dengan seenaknya mereka mendha’ifkan hadits hasan. Tanpa sanad mereka bicara semaunya. Berlagak seperti mujtahid, padahal ilmunya tak seberapa.

    Salah satu di antara mereka ada yang meminta saya untuk menyebutkan sanad guru saya. Insya Allah itu mudah bagi saya. Maka saya katakan padanya bahwa jika saya bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia tidak bisa, maka dia harus bertaubat dari mengikuti Abdul Aziz bin Baz, al-Utsaimin dan kelompoknya dan ikut kepada guru kami. Jika saya tidak bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia bisa menyebutkan sanad ustadz-ustadznya yang salafy, maka saya akan ikut salafy dan meninggalkan guru saya. Tetapi jika kami sama bisa menyebutkan sanad kami masing-masing, maka silahkan masing-masing dari kami mengikuti guru-guru kami seperti semula.

    Namun hingga saat ini, dia belum muncul lagi untuk menanggapi. Jika ada temannya yang sanggup, silahkan saja. Kami nantikan sanad ustadz Anda. 🙂

  • Imam Mahdi

    Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah SWT akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku (Muhammad bin Abdullah). Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. [HR. Thabrani]

    Imam Mahdi sebenarnya adalah sebuah nama gelar sebagaimana halnya dengan gelar khalifah, amirul mukminin dan sebagainya. Imam Mahdi dapat diartikan secara bebas bermakna “Pemimpin yang telah diberi petunjuk”. Dalam bahasa Arab, kata Imam berarti “pemimpin”, sedangkan Mahdi berarti “orang yang mendapat petunjuk”. Nama Imam Mahdi sebenarnya seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, ia bernama Muhammad (seperti nama Nabi Muhammad), nama ayahnya pun sama seperti nama ayah Nabi Muhammad SAW yaitu Abdullah. Nama Imam Mahdi sama persis dengan Rasulullah SAW yaitu Muhammad bin Abdullah.

    Diantara ciri-ciri beliau adalah seperti tersebut dalam hadits:

    Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. [HR. Abu Dawud dan al-Hakim]

    Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. [HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim]

    Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya. Dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya. [HR. Muslim dan Ahmad]

    Jadi, Imam Mahdi itu bernama Muhammad bin Abdullah, termasuk ummat Nabi Muhammad, bahkan dari keturunan beliau SAW, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Dan beliau akan memimpin ummat serta memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran. Beliau memimpin ummat Islam selama 7 tahun. Maka pahamilah hal ini, wahai mereka yang tidak percaya akan adanya Imam Mahdi! Nabimu sendiri telah menyebutkan ciri-ciri fisiknya.

    Dibai’atnya Imam Mahdi

    Kemunculan Imam Mahdi bukan karena kemauan Imam Mahdi itu sendiri melainkan karena takdir Allah yang pasti berlaku. Bahkan Imam Mahdi sendiri tidak menyadari bahwa dirinya adalah Imam Mahdi melainkan setelah Allah SWT mengislahkannya (mempersiapkan dirinya) dalam suatu malam, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadits berikut:

    Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]

    Dibai’atnya Imam Mahdi akan di dahului oleh beberapa tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits berikut:

    Aisyah Ummul Mukminin RA telah berkata: Pada suatu hari tubuh Rasulullah SAW bergetar dalam tidurnya. Lalu kami bertanya, ‘Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju baitullah (Ka’bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka’bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai ke padang pasir, maka mereka ditelan bumi.’ Kemudian kami bertanya, ‘Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat bermacam-macam orang?’ Beliau menjawab, ‘Benar, di antara mereka yang ditelan bumi tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, serta ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Allah SWT akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing. [HR. Bukhary, Muslim]

    Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan bagian depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seseorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka. [HR. Muslim, Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah]

    Suatu pasukan dari umatku akan datang dari arah negeri Syam (Palestina) ke Baitullah (Ka’bah) untuk mengejar seorang laki-laki yang akan dijaga Allah dari mereka. [HR. Ahmad]

    Akan dibaiat seorang laki-laki antara makam Ibrahim dengan sudut Ka’bah. [HR. Ahmad, Abu Dawud]

    Kepemimpinan Imam Mahdi

    Dalam hadits yang disebutkan di atas Imam Mahdi akan memimpin selama 7 atau 8 atau 9 tahun. Semasa kepemimpinannya Imam Mahdi akan membawa kaum muslimin untuk memerangi kezhaliman, hinga satu demi satu kezhaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya.

    Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka Raja Kezhaliman (Dajjal) sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi beserta pengikutnya.

    Kekuasaan dan kehebatan Dajjal bukanlah lawan tanding Imam Mahdi. Oleh karena itu, sesuai dengan takdir Allah, maka Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa dari langit yang bertugas membunuh Dajjal. Imam Mahdi dan Nabi Isa akan bersama-sama memerangi Dajjal dan pengikutnya, hingga Dajjal mati ditombak oleh Nabi Isa di “pintu Lod” dalam kompleks Al-Aqsa.

    Turunnya Nabi Isa

    Dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Sudah dekat masanya turun kepada kamu Ibnu Maryam menjadi hakim yang adil, yang akan membunuh Dajal, membunuh babi, menghancurkan salib dan menghapuskan cukai kerana harta ketika itu melimpah ruah. Ketika itu nanti manusia hanya sujud kepada Allah Tuhan sekalian alam.”

    Ummu Syuraik bertanya kepaad Rasulullah s.a.w tentang hari Dajal: “Ya Rasulullah, ke mana orang-orang Arab ketika itu?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Jumlah mereka pada waktu itu terlalu sedikit. Mereka lari ke Baitul Maqdis menjumpai Imam mereka, seorang lelaki sholih (Imam Mahdi).

    Jabir bin Abdullah berkata, “Saya mendengarkan Rasulullah bersabda, ‘Umatku tidak akan berhenti berperang untuk membela yang benar hingga datang hari kiamat’. Rasulullah lalu bersabda, ‘Kemudian, turunlah Isa bin Maryam dan pemimpin mereka berkata, ‘Ke sinilah dan pimpinlah kami dalam sembahyang’, namun dia akan berkata, ‘Tidak! Sebab sebagian kalian adalah pemimpin untuk sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini’” [HR Muslim]

    Nabi Isa akan turun ketika Imam Mahdi telah siap memimpin shalat Shubuh di Masjidil Aqsha. Melihat kedatangan beliau as, Imam Mahdi mempersilahkan beliau as untuk menjadi Imam. Namun Nabi Isa as lebih suka menjadi ma`mum dari ummat Nabi Muhammad SAW.

    Abu Hurairah (ra) meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorang nabi pun antara saya dan Isa. Sesungguhnya, dia akan turun ke bumi. Maka jika kalian melihatnya, kenalilah dia. Dia adalah seorang laki-laki dengan ukuran sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Dia memakai dua baju kuning terang. Kepalanya seakan-akan ada air yang mengalir walaupun sebenarnya ia tidak basah. Dia akan berperang melawan manusia untuk membela Islam. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah. Allah akan menghapuskan semua agama di zamannya kecuali Islam. Isa akan membunuh Dajjal dan dia akan hidup di bumi selama empat puluh tahun dan kemudian dia meninggal. Kaum muslimin akan menyembahyangkan jenazahnya”. [Abu Dawud]

    Menurut Ibnu Katsir, Nabi Isa diangkat pada usia 33 tahun. Dan beliau as akan turun kembali, dan menetap di bumi selama 7 tahun lagi, lalu wafat. Sehingga Nabi Isa as tinggal di bumi selama 40 tahun lamanya, yaitu 33 tahun ditambah 7 tahun.

    Imam Mahdi dan Nabi Isa Memerangi Dajjal

    Selesai sholat, Nabi Isa as berkata kepada semua jama’ah: “Bukakan pintu itu.” Mereka membuka pintu Masjid itu. Tiba-tiba terlihatlah Dajal dan di belakangnya ada 70,000 Yahudi lengkap membawa senjata.

    Melihat Nabi Isa ada di dalam masjid itu, Dajjal tiba-tiba saja layu atau cair seperti cairnya garam disirami air. Dajjal itu lari terbirit-birit karena ketakutan. Nabi Isa bersama kaum Muslimin terus saja mengejarnya kemudian menjumpainya di Babu Luddi (Pintu Ludd). Dan di sanalah Nabi Isa as membunuh Dajjal.

    Orang-orang Yahudi pun akan dikalahkan dan dibinasakan Allah pada waktu itu. Mereka mencoba lari dan bersembunyi tetapi semua benda tempat mereka bersembunyi akan pandai berbicara dengan seizin Allah. Benda-benda dimaksud termasuklah dinding, batu, pohon, dan sebagainya. Kalau ada orang Yahudi yang bersembunyi di balik mereka, benda-benda itu akan memberitahukannya. Jika mereka bersembunyi di balik batu, maka batu pun berkata: “Wahai hamba Allah yang beriman, di sini ada orang Yahudi, bunuhlah dia.” Begitu pula jika bersembunyi di balik pohon, kecuali pohon Ghorqod, dia itu pohon Yahudi.

    Kemakmuran dan Kedamaian

    Setelah kejadian itu, bumi menjadi damai. Tidak ada lagi perang. Tidak ada saling cemburu, dengki, saling memarahi dan mengganggu antara sesama makhluk Allah. Sehingga ada anak perempuan yang bermain-main dengan harimau dan harimau itu tidak menerkamnya. Serigala akan tinggal bersama domba, dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Seluruh dunia ketika itu diliputi oleh kedamaian, keamanan dan ketenteraman. Ketika itu, tidak ada yang disembah selain Allah.

  • Mencintai Tuhan

    Kalimat utama, ajaran utama yang diajarkan Nabi Muhammad dan para Nabi sebelum beliau adalah “Laa Ilaha Illallaah”. Tidak ada seorang Nabi pun diutus, kecuali membawa kalimat, ajaran dan hukum utama ini.

    Seorang Kristiani yang alim tentu paham bahwa hukum utama yang dibawa para Nabi adalah “Dia itu Ilah kita, Dia itu Esa. Cintailah Dia, Ilahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwa-ragamu.”

    Ilah memang dapat berarti Al-Ma’bud (Yang disembah) dan juga Al-Mahbub (Yang dicintai). Tetapi bukan hanya itu, Ilah juga berarti Yang dimintai, yang dipatuhi, dsb. Maka “Laa Ilaaha Illallah” dapat berarti tidak ada yang layak disembah dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dicintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dimintai dengan haq kecuali Allah, tidak ada yang layak dipatuhi dengan haq kecuali Allah, dsb.

    Adapun rasa sayang kepada makhluq itu muncul, hendaknya karena cinta kita kepada Allah, bukan karena nafsu. Nabi mengajarkan kita agar kita mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Bukan bermaksud egois, tetapi kita juga perlu mencintai diri kita dengan benar. Kita perlu juga menjaga diri kita dari kebinasaan. Dari situ kita belajar tentang bagaimana orang lain ingin diperlakukan oleh kita. Kristiani tentu setuju bahwa hal ini adalah hukum kedua.

    Para pemuka agama mana pun tidak ingin bahwa ummatnya melakukan hal keji, hal yang tidak kudus. Pendeta mana yang suka jika ummatnya mendengar desahan wanita penggoda? Biksu mana yang suka jika ummatnya melihat goyangan erotis wanita nakal? Maka sungguh memalukan jika sampai ada orang yang dianggap pemuka agama namun berada satu barisan dengan para wanita penjaja erotisme komersial dalam menjegal RUU APP. Jika sampai ada, maka dikhawatirkan bahwa hatinya telah buta sehingga tak dapat melihat Tuhan Yang Mahanyata. Lalu bagaimana seseorang dapat mencintai Tuhan Yang tak dapat ia lihat dengan hatinya?

    Para penebar kebinasaan seperti pemilik bar, night club, penjual vcd phorno, dsb tentu tak senang dengan undang-undang yang membahayakan bisnis mereka. Dengan dalih persatuan dan nasionalisme mereka menggerakkan massa untuk menentang pengesahan UU APP. Padahal mereka ini tengah mengusung budaya barat yang dapat menghancurkan bangsa demi kantong pribadi. RUU APP hadir justeru demi kepentingan nasional. Mereka berkata bahwa RUU APP masih perlu direvisi. Katakanlah mereka benar, tetapi bukan berarti UU APP harus ditolak. Sahkan saja dulu menjadi UU, jalankan, dan revisi seperlunya agar lebih baik. Jangan termakan ocehan-ocehan sok pintar dari orang-orang egois yang suka mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan pribadi.

    Tidak benar bahwa akan ada perpecahan bila RUU APP ini disahkan. Itu hanya akal-akalan pengusaha busuk saja. Mereka tidak mau industri erotisme mereka hancur gara-gara peraturan yang melindungi bangsa ini dari usaha-usaha kotor mereka. Coba lihat Uganda yang menganggap bahwa rok mini adalah musuh masyarakat. Kenapa? Karena rok mini memang budaya barat yang menurunkan martabat wanita dan dapat merusak generasi muda. Rok mini bukanlah budaya kita. Jadi, untuk apa memperjuangkan rok mini?

    Apakah Anda rela jika para remaja Bali menjadi rusak demi keuntungan segelintir orang? Apakah Anda rela jika lebih dari 50% pelajar puteri menjadi rusak moralnya karena ulah pelajar putera yang kerasukan setan erotisme selepas menonton VCD phorno atau majalah cabul yang bisa didapat dengan mudah?

    Mari perangi industri erotisme dengan UU APP yang ditakuti pengusaha bar, pengusaha night club, pengusaha VCD dan majalah phorno, dan segala pengusaha erotisme! Jika Anda mengaku beragama dan mencintai Tuhan, tentu Anda tidak akan keberatan dengan UU APP. Jika Anda mengaku humanis dan mencintai sesama manusia, tentu Anda akan keberatan dengan budaya kebinatangan yang membinasakan rasa dan harkat kemanusiaan. Tidak ada alasan untuk menolak pengesahan UU APP, kecuali jika Anda adalah insan industri erotisme yang terkenal dengan keegoisannya.

  • Da’wah Bukan Perang Saudara

    Da’wah memang usaha mengubah dan mencegah kemungkaran serta mengajak kepada kebaikan. Itulah sebabnya da’wah juga termasuk jihad. Tetapi da’wah bukanlah perang saudara. Da’wah merupakan bernasihat kepada kebenaran dan keshabaran agar istiqomah dalam kebenaran tersebut.

    Di dunia ini banyak sekali organisasi da’wah dengan berbagai manhajnya. Mereka giat berda’wah. Namun sayangnya, ketika salah satu organisasi da’wah menasihati organisasi da’wah lainnya dengan dalil yang kuat, bahkan sering dalil itu adalah yang umum dikenal, terkadang hal itu malah dianggap penyerangan. Maka aktivis da’wah seperti ini tentulah dipertanyakan niat da’wahnya. Apakah ia berda’wah kepada Islam, ataukah kepada hizb? Apakah ia menganggap da’wah itu nasihat ataukah perang saudara?

    Jika ia menganggap da’wah itu adalah nasihat, sebagai orang yang sering berkata agar melihat isi nasihat dan tidak melihat caranya, seharusnya ia tidak berang ketika dinasihati saudaranya. Tetapi terkadang saya melihat bahwa sebagian aktivis da’wah ini begitu berang ketika organisasi da’wahnya disinggung. Bahkan keberangannya itu, terkadang, melampaui batas. Hingga dengan mudahnya menganggap aktivis da’wah lainnya sebagai munafiq, bahkan kafir.

    Hal seperti ini mungkin disebabkan mereka menanggapi perkataan saudaranya dengan emosional dan bukan dengan aqal yang sehat dan hati yang jernih. Pengendalian emosi memang sangat diperlukan aktivis da’wah. Berapa banyak orang mempermalukan dirinya sendiri karena kurang memiliki pengendalian emosi yang baik.

    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768)

    Pernah juga puteri dari guru kami diejek oleh teman-temannya yang lebih tua. Dikatakan kepada beliau bahwa ayahnya adalah pembela Ahmadiyah dan sebagainya. Mereka mengejek demikian karena Habib Munzir tidak ikut dalam mendemo Ahmadiyah dan tidak membenarkan murid-muridnya untuk berdemo. Demikianlah yang diajarkan oleh Guru Mulya Habib Umar. Maka menangislah Syarifah yang masih berusia sekitar 10 tahun itu. Dia pun mengadu kepada ibundanya. Maka sampailah hal itu ke telinga Habib Munzir. Beliau hanya menangis mengetahui puterinya diejek sedemikian rupa. Beliau siap untuk dicaci-maki, tetapi tidak demikian jika puterinya yang diejek. Namun beliau tidak berang kepada para pengejek itu. Beliau tetap menahan diri. Beliau paham bahwa para pengejek itu belum mengerti tentang ajaran Rasul yang mengajarkan agar bersabar dalam menghadapi fitnah agama. Demikianlah yang dilakukan Imam Bukhori ketika berlaku fitnah terhadap dirinya. Habib Umar pun pernah berkata di bulan Februari 2007 bahwa beliau telah melihat 2 banjir, yaitu banjir air dan banjir fitnah (munculnya berbagai aliran sesat). Namun beliau melanjutkan bahwa akan datang banjir ketiga, yaitu banjir rahmah. Diantara tanda-tandanya adalah semakin luasnya da’wah Majelis Rasulullah, hingga kelak setasiun televisi akan banyak menyiarkan acara Majelis Rasulullah SAW, runtuhnya perekonomian non-Muslim dan bangkitnya perekonomian Muslim. Maka Habib Munzir tetap tenang menghadapi munculnya berbagai aliran sesat, karena beliau yaqin bahwa banjir kedua akan segera diganti dengan datangnya banjir ketiga yang tanda-tandanya sudah semakin nyata. Beliau tidak berang menghadapi ejekan yang menyakiti puterinya. Beliau tetap menahan diri.

    Maka tenangkanlah diri kita ketika mendengar atau membaca hal-hal yang mungkin menyinggung perasaan. Jangan sampai perasaan marah menguasai aqal kita dan mengeruhkan hati kita. Semoga Allah menyiramkan keshabaran ke dalam hati kita hingga dapat menyikapi segala hal dengan lebih bijaksana. Aamiin.

  • Karena Muhammad

    Kalau bukan karena Muhammad Rasulullah, tidaklah Allah ciptakan segala sesuatu. Muhammad Rasulullah telah diciptakan sebelum segala sesuatu, dan segala sesuatu diciptakan dari tetesan Nur Muhammad yang terang benderang. Kemudian namanya dituliskan di samping Nama Allah di gerbang surga. Hanya Nama Muhammad yang dituliskan bersama Asma Allah. Laa ilaaha illallah, Al-Malik Al-Haqq Al-Mubin, Muhammad Rasulullah Ash-Shadiq Al-Wa’di Al-Amin. Setiap manusia tidak bisa dianggap beriman kalau belum mencintai Allah dan Muhammad Rasulullah SAW. Telah banyak peristiwa terjadi dengan nama Muhammad. Telah banyak hal tidak terjadi demi Muhammad. Rahmat diluaskan kepada alam semesta melalui Muhammad Rasulullah, dan mushibah di angkat demi Muhammad Rasulullah SAW.

    Nabi Adam as telah melanggar satu larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga. Maka beliau diampuni karena menyebut nama Muhammad dalam do’anya.

    Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]

    Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. Al-Baqarah: 89]

    Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang Yahudi sebelum Nabi Muhammad lahir, yang mereka bertawassul dengan Nabi akhir zaman agar dimenangkan terhadap orang-orang non-Yahudi. Akan tetapi ketika Nabi tersebut telah dibangkitkan, mereka ingkar kepadanya. Yahudi tahu betul bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar Nabi yang dijanjikan. Mereka bertawassul dengan Nabi Muhammad untuk mendapatkan kemenangan. Orang-orang Yahudi tidak menghendaki ummat Islam bertawassul dengan Nabi Muhammad. Maka orang-orang Yahudi menyusupkan ajaran kepada ummat Islam bahwa bertawassul dengan Nabi Muhammad adalah bid’ah dholalah.

    Dengan Nabi Muhammad, seorang buta telah disembuhkan matanya. Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi dan mengadukan perihal matanya yang buta. Lalu Rasulullah menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdo’a dengan mengatakan, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafa’at kepadaku, dan berilah aku syafa’at (pertolongan) di dalamnya.” Laki-laki itu kemudian melakukannya, maka ia sembuh. (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Pada suatu hari Rasulullah saw dibawakan dengan seketul daging, lalu diberikan daging paha tersebut kepada baginda yang sememangnya baginda sangat sukai. Baginda menggigitnya sekali lalu bersabda: Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Tahukah kamu apa sebabnya? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian pada satu kawasan yang luas. Ada penyeru yang memperdengarkan kepada mereka dan ada penglihatan yang mengawasi setiap orang dari mereka. Jarak matahari begitu dekat sehingga manusia pada ketika itu berada pada kemuncak kesusahan dan kepayahan yang amat dahsyat, mereka tidak berkuasa untuk menanggung keadaan tersebut. Sebahagian daripada mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Tidakkah kamu tahu apa yang sedang kamu alami. Tidakkah kamu rasai kepayahan yang telah menimpa kamu? Tidakkah kamu mempunyai pandangan sesiapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kamu?

    Maka setengah dari mereka mengusulkan agar menemui Nabi Adam as. Maka mereka menemui Nabi Adam as lalu berkata: Wahai Adam! Engkau adalah bapa manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan roh ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para Malaikat supaya sujud kepadamu. Mintakankah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami? Nabi Adam as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu, aku dicegah mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakaiNya. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Nuh as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Nuh as lalu berkata: Wahai Nuh! Engkau adalah Rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Beliau berkata kepada mereka: Pada hari ini, Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Ibrahim as.

    Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim as lalu berkata: Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Ibrahim as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Beliau menyebut pembohongan-pembohongannya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada orang lain. Pergilah kamu kepada Nabi Musa as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Musa as lalu berkata: Wahai Musa! Engkau adalah Utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalahNya dan KalamNya, melebihi manusia lain. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Musa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku membunuh orang padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Isa as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Isa as lalu berkata: Wahai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia semasa engkau masih dalam buaian. Engkau adalah kalimahNya yang Dia sampaikan kepada Mariam dan roh dariNya. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Isa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Aku bukanlah orang yang layak dimintai pertolongan. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Muhammad saw.

    Maka mereka telah mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad! Engkau adalah Utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang terdahulu dan yang terkemudian. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami?

    Akupun berangkat. Sesampainya di bawah Arasy, aku merebahkan diri bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagiNya dan sanjungan kepadaNya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian difirmankan: Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Mintalah, engkau pasti diberi. Berikanlah syafaat, syafaatmu diterima. Aku mengangkat kepala sambil berkata: Wahai Tuhanku. Umatku, umatku. Maka Allah berfirman: Wahai Muhammad. Masukkanlah umat-umatmu yang tidak harus dihisab ke dalam Syurga melalui pintu sebelah kanan di antara pintu-pintu Syurga. Mereka juga boleh masuk bersama orang lain yaitu ahli Syurga yang bukan termasuk golongan di atas dari pintu-pintu lain. Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad Sesungguhnya jarak antara dua pintu Syurga itu, sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar sebuah Kota di Bahrain atau sama dengan jarak antara Mekah dan Busyra dekat Damsyik. [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal]

    Lihatlah, ketika para nabi berkata, “Selamatkan diriku, selamatkan diriku,” Muhammad Rasulullah SAAW tetap ingat kepada ummatnya dan berkata, “Selamatkan ummatku, selamatkan ummatku!” Dan lihatlah bahwa Muhammad Rasulullah adalah Tuan/Lord/Sayid. Dia itulah Jurusyafaat. Dia itulah Sang Penolong yang akan menolong manusia di hari berbangkit. Di tangan Nabi Muhammad itulah diserahkan Kerajaan Tuhan. Pada Muhammad Rasulullah SAW Allah berkenan.

    (hotarticle.org)

  • Da’wah Bukan Perang Saudara

    Da’wah memang usaha mengubah dan mencegah kemungkaran serta mengajak kepada kebaikan. Itulah sebabnya da’wah juga termasuk jihad. Tetapi da’wah bukanlah perang saudara. Da’wah merupakan bernasihat kepada kebenaran dan keshabaran agar istiqomah dalam kebenaran tersebut.

    Di dunia ini banyak sekali organisasi da’wah dengan berbagai manhajnya. Mereka giat berda’wah. Namun sayangnya, ketika salah satu organisasi da’wah menasihati organisasi da’wah lainnya dengan dalil yang kuat, bahkan sering dalil itu adalah yang umum dikenal, terkadang hal itu malah dianggap penyerangan. Maka aktivis da’wah seperti ini tentulah dipertanyakan niat da’wahnya. Apakah ia berda’wah kepada Islam, ataukah kepada hizb? Apakah ia menganggap da’wah itu nasihat ataukah perang saudara?

    Jika ia menganggap da’wah itu adalah nasihat, sebagai orang yang sering berkata agar melihat isi nasihat dan tidak melihat caranya, seharusnya ia tidak berang ketika dinasihati saudaranya. Tetapi terkadang saya melihat bahwa sebagian aktivis da’wah ini begitu berang ketika organisasi da’wahnya disinggung. Bahkan keberangannya itu, terkadang, melampaui batas. Hingga dengan mudahnya menganggap aktivis da’wah lainnya sebagai munafiq, bahkan kafir.

    Hal seperti ini mungkin disebabkan mereka menanggapi perkataan saudaranya dengan emosional dan bukan dengan aqal yang sehat dan hati yang jernih. Pengendalian emosi memang sangat diperlukan aktivis da’wah. Berapa banyak orang mempermalukan dirinya sendiri karena kurang memiliki pengendalian emosi yang baik.

    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768)

    Pernah juga puteri dari guru kami diejek oleh teman-temannya yang lebih tua. Dikatakan kepada beliau bahwa ayahnya adalah pembela Ahmadiyah dan sebagainya. Mereka mengejek demikian karena Habib Munzir tidak ikut dalam mendemo Ahmadiyah dan tidak membenarkan murid-muridnya untuk berdemo. Demikianlah yang diajarkan oleh Guru Mulya Habib Umar. Maka menangislah Syarifah yang masih berusia sekitar 10 tahun itu. Dia pun mengadu kepada ibundanya. Maka sampailah hal itu ke telinga Habib Munzir. Beliau hanya menangis mengetahui puterinya diejek sedemikian rupa. Beliau siap untuk dicaci-maki, tetapi tidak demikian jika puterinya yang diejek. Namun beliau tidak berang kepada para pengejek itu. Beliau tetap menahan diri. Beliau paham bahwa para pengejek itu belum mengerti tentang ajaran Rasul yang mengajarkan agar bersabar dalam menghadapi fitnah agama. Demikianlah yang dilakukan Imam Bukhori ketika berlaku fitnah terhadap dirinya. Habib Umar pun pernah berkata di bulan Februari 2007 bahwa beliau telah melihat 2 banjir, yaitu banjir air dan banjir fitnah (munculnya berbagai aliran sesat). Namun beliau melanjutkan bahwa akan datang banjir ketiga, yaitu banjir rahmah. Diantara tanda-tandanya adalah semakin luasnya da’wah Majelis Rasulullah, hingga kelak setasiun televisi akan banyak menyiarkan acara Majelis Rasulullah SAW, runtuhnya perekonomian non-Muslim dan bangkitnya perekonomian Muslim. Maka Habib Munzir tetap tenang menghadapi munculnya berbagai aliran sesat, karena beliau yaqin bahwa banjir kedua akan segera diganti dengan datangnya banjir ketiga yang tanda-tandanya sudah semakin nyata. Beliau tidak berang menghadapi ejekan yang menyakiti puterinya. Beliau tetap menahan diri.

    Maka tenangkanlah diri kita ketika mendengar atau membaca hal-hal yang mungkin menyinggung perasaan. Jangan sampai perasaan marah menguasai aqal kita dan mengeruhkan hati kita. Semoga Allah menyiramkan keshabaran ke dalam hati kita hingga dapat menyikapi segala hal dengan lebih bijaksana. Aamiin.

    (hotarticle.org)

  • Ilmu Tauhid dan Tashawwuf

    Ilmu Tauhid lebih berbicara tentang apa itu iman. Sedangkan Tashawwuf lebih menekankan bagaimana caranya agar dapat merasakan manisnya iman. Tashawwuf lebih kepada dzauq atau perasaan rohaniah. Ketika ditanya tentang ihsan, Nabi menjelaskan bahwa ihsan adalah merasa seakan-akan melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat oleh Allah.

    Bayangkan ada seorang pemuda berandal sedang duduk di pangkalan ojek bersama teman-temannya sambil bermain judi. Lalu datanglah orangtua dari pemuda tadi menghampiri dan memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Namun si pemuda berandal tetap saja meneruskan permainan itu. Padahal dia melihat ayahnya yang sedang bermuka garang. Namun ia seperti tidak melihat saja. Walau dia tahu bahwa ayahnya memandangnya dg mata sangar, si pemuda tetap santai berjudi seakan tidak diperhatikan ayahnya. (lebih…)

  • Law Kaana Khairon…

    Salafy Wahhabi sering berkata bahwa jika perbuatan itu memang baik, tentu para Salafush Shalih akan mendahului kita dalam melakukannya. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan di benak kita. Ketika mereka benci melihat orang mencium tangan ulama shalih, siapa yang mendahului mereka dalam membenci hal yang demikian?

    Ingatkah Anda ketika Allah memerintahkan malaikat dan Azazil untuk sujud menghormati Nabi Adam? Apakah Azazil melakukannya? Tidak, dia membangkang dan enggan menghormati Nabi Adam yang dimulyakan Allah. Ketika Iblis diperintahkan sujud menghormat ke kubur Nabi Adam di masa Nabi Musa, ia pun membangkang. Dan kini kaum salafy membangkang dan enggan menghormati Nabi dan ulama ketika Allah memerintahkan agar menghormati dan memulyakan mereka sebagai bagian dari ketaqwaan hati. (lebih…)

  • Jurnal Habib Munzir ke Manokwari, Oktober 2008

    Kontributor: Munzir Almusawa

    ImageImageSelasa 7 Oktober 2008

    Kami, tiga personil, Munzir Almusawa, Sdr Saeful Zahri, dan Sdr Hamidi Sanusi. Selasa, 22.45 WIB kami meninggalkan Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ujung Pandang untuk pindah pesawat, kami tiba di Ujung Pandang pukul 00.45 WIB (01.45 WITA), lalu meneruskan perjalanan menuju Manokwari Irian Barat. (lebih…)