Blog

  • Download Tema MR untuk Nokia 2626

    Habib MunzirDi bawah ini ada tema untuk telepon genggam Nokia 2626 yang berwallpaper foto Habib Munzir dan screensaver serta background menunya adalah gambar Habib Umar Al-Hafizh. Tulisannya berwarana hijau. Tema ini juga dilengkapi ringtone berupa intro dari “Ya Rasulallah Salamun ‘Alayk”.

    Tema ini, insya Allah, juga akan saya buatkan bagi merk dan type lain, tergantung pada request dari pengunjung dan kemampuan saya. Bagi Anda yang mau request, silahkan beritahu kami merk dan type telepon genggam Anda di kolom komentar. (lebih…)

  • Mencintai dan Iman

    Rasa cinta merupakan rasa suka yang sangat besar. Sedangkan mencintai merupakan suatu perbuatan aktif seseorang terhadap yang dicintainya yang timbul dari rasa cinta. Termasuk dalam ‘mencintai’ adalah merindukan, berkorban, patuh, melindungi, memberi, menerima perlakuan yang dicintai dengan rela, berusaha memahami keinginan yang dicintai dan berusaha menyenangkannya. Itu baru sebagian dari makna mencintai. (lebih…)

  • Peradaban dan Aurat

    Peradaban dunia juga berkaitan dengan cara menutup aurat. Kita melihat bahwa peradaban di bawah peradaban manusia tidak mengenal pakaian dan tak mengenal aurat. Kita juga mengetahui bahwa aurat dalam peradaban pedalaman, kebanyakan hanya sebatas daerah vital saja. Mereka cukup menutupi daerah tersebut untuk dianggap sopan. Namun dalam peradaban yang lebih tinggi, orang tidak cukup menutupi daerah vital untuk dianggap sopan dan beradab. Kebanyakan orang timur menjadikan seluruh tubuhnya kecuali kepala dan lengan sebagai daerah yang perlu ditutupi. Kita dapat melihat bahwa peradaban China atau Tiongkok telah mengenal peradaban tinggi sejak lama. Bahkan Nabi pernah bersabda agar ummatnya menuntut ilmu walau hingga ke negeri China. Banyaklah Muslim yang pergi dan bahkan menetap di China sejak masa Rasulullah SAW. Orang China, baik pria maupun wanita, saat itu telah mengenakan pakaian yang panjang bahkan berlapis jubah. Dan Islam ingin mendidik ummatnya untuk lebih beradab lagi. (lebih…)

  • Tutupan dari Allah

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah berkata, “Tutup Allah itu terbagi dua, Tertutup dari berbuat ma`shiat (dosa) dan tertutup dalam perbuatan ma`shiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalan perbuatan dosa karena kuatir jatuh kedudukannya di dalam pandangan manusia, tetapi orang-orang yang khusus meminta kepada Allah supaya ditutupi dari ma`shiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dalam pandangan Allah.” (lebih…)

  • What They Said About Salafy?

    There are many opinions about salafy. But when I try to search with google with keyword ‘salafy masonic’, I find many interesting articles. You can read them on these link:

    Throughout his forty-year career as a British intelligence agent, Jamal ud al Afghani was guided by two British Islamic and cult specialists, Wilfred Scawen Blunt and Edward G. Browne.[4] E. G. Browne was Britain’s’ leading Orientalist of the nineteenth century, and numbered among his protégés at Cambridge University’s Orientalist department Harry “Abdullah” St. John B. Philby, a British intelligence specialist behind the Wahhabi movement. Wilfred S. Blunt, another member of the British Orientalist school, was given the responsibility by the Scottish Rite Masons to organize the Persian and the Middle East lodges. Al Afghani was their primary agent. (Terrorism Illuminati)

    Instead, they hold to the claim that Salafism derived from the earliest centuries of Islam, from the time of the Salaf, meaning the earliest generations, and referring to the time before the development of the Math’habs. Contrary to their claims though, while it is true that the word “Salaf” refers to these early generations, the use of the term in this manner is a modern development.

    This deceptive interpretation of history is derived from Abdul Wahhab, who appeared in the mid-18th century. According to his memoirs, a British spy by the name of Hempher, was assigned to the Middle East in order to discover ways to undermine Islam, with the aim of advancing British control over the region. His mission eventually focussed on the support of Wahhab, and backing him through the Saudi family, through whom he preached the British’s destructive message of Islam. (Terrorism Illuminati)

    Livingstone goes into detail about how the Cabalists, operating through their control of Saudi Arabia, the Bank of England and British/American Imperialism, conspired to break up the Ottoman Empire and keep the Middle East backward. He also explains how they used a variety of cults like Wahhabism (1700’s) and Salafi (1900’s), and Masonic secret societies like the Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin, 1930’s) to divide Islam, create fanatical fundamentalism and foster terror in preparation for the coming “War of Civilizations.” (Save the Males)

    The Nazis were the result of a merging of the O.T.O of Crowley and the Thule Gesselschaft of Germany. It is presumably for this reason that Hitler, when he wished to create an arm of German Intelligence in Egypt, contact a leading Salafi and Freemason, named Hasan al Banna (IM founder). (Loftus, John. “Al Qaeda Terrorists Nazi Connection“)

  • Pentingnya Sanad Ilmu

    Nabi Adam pernah belajar kepada Allah yang Berfirman, “Wahai Adam, janganlah kau dekati pohon itu!” Nabi Adam mendapatkan ilmu atau pengetahuan ini dari Allah.

    Di lain waktu, Nabi Adam diajari Iblis yang berkata, “Wahai Adam, mengapa engkau tidak memakan buah dari pohon itu. Sesungguhnya dengan memakannya, engkau akan hidup kekal.” Nabi Adam mendaaptkan ilmu seperti ini dari Iblis. (lebih…)

  • Pentingnya Sanad Ilmu

    Nabi Adam pernah belajar kepada Allah yang Berfirman, “Wahai Adam, janganlah kau dekati pohon itu!” Nabi Adam mendapatkan ilmu atau pengetahuan ini dari Allah.

    Di lain waktu, Nabi Adam diajari Iblis yang berkata, “Wahai Adam, mengapa engkau tidak memakan buah dari pohon itu. Sesungguhnya dengan memakannya, engkau akan hidup kekal.” Nabi Adam mendaaptkan ilmu seperti ini dari Iblis.

    Hati-hati terhadap slogan yang mengatakan, “Ambillah kebenaran, walau itu keluar dari mulut Iblis!” Kata-kata seperti ini pernah saya baca dari seseorang yang mengaku sebagai Muslim yang berkomentar di salah satu blog kami. Tidakkah dia belajar, bahwa Nabi Adam telah tergelincir akibat perkataan Iblis? Bagaimana suatu perkataan dapat dianggap benar, sedangkan perkataan itu bertentangan dengan perkataan yang sanadnya jelas bersambung kepada Allah?

    Maka carilah kebenaran dari Allah. Karena kebenaran itu datangnya dari Allah. Maka carilah kebenaran itu kepada orang yang telah belajar kepada guru yang sanadnya bersambung kepada para tabi’it tabi’in, kepada tabi’in, kepada shahabat, kepada Rasulullah SAW, kepada Malaikat Jibril as, kepada Allah. Dan janganlah Anda mengikut begitu saja kepada perkataan yang keluar dari mulut mereka yang sanadnya terputus dari Allah dan Rasul-Nya. Walau Anda melihat kata-kata itu begitu manisnya seperti kata-kata Iblis kepada Adam, tetapi ketuhilah, bahwa sesungguhnya kata-kata itu dapat membahayakan Anda jika keluar dari mereka yang sanadnya tidak bersambung kepada sumber kebenaran.

    Mereka mungkin terlihat begitu memukau dengan dalil-dalil. Namun pemahaman mereka terhadap dalil belum tentu sesuai dengan yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya. Mereka sering memahami dalil-dalil sesuai nafsu dan selera mereka saja. Pemahaman mereka tidaklah keluar dari lisan yang telah bersambung kepada lisan Rasulullah SAW. Lalu bagaimana mereka mau menyebut diri mereka sebagai pemegang ilmu yang shahih?

    Maka pahamilah wahai saudara-saudariku, bahwa sanad itu penting. Tidak ada ilmu yang benar tanpa sanad. Paulus telah mengklaim ini dan itu. Namun, apakah klaimnya itu keluar dari lisan yang bersambung kepada lisan Nabi Isa? Tidak ada ilmu yang benar tanpa sanad yang bersambung kepada para pembawa berita dari Allah.

    Jika gurumu berkata begini dan begitu, padahal gurumu tidak punya sanad yang bersambung kepada guru-guru shahih, maka periksalah perkataannya itu dengan engkau bandingkan kepada perkataan guru-guru shahih yang sanad mereka bersambung kepada Rasulullah SAW. Jika tidak, aku khawatir bahwa engkau akan tergelincir kepada penyimpangan.

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda. (lebih…)

  • Biarkanlah Kekeliruan Saudaramu

    Suatu hari, dua orang sahabat, Amir dan Bishri, pergi mendirikan shalat berjama’ah di Masjid. Selesai shalat berjama’ah mereka duduk-duduk di teras Masjid sambil bercengkrama. Saat itulah Amir dengan tegas melihat lambang Masonic di kaos yang dikenakan Bishri.

    Amir, sebagai sahabat yang baik tentu menanyakan kepada Bishri, “Apakah kau tahu lambang apa ini?” Bishri berkata, “Aku tidak tahu.” Amir memberitahukan Bishri bahwa itu adalah lambang yang biasa digunakan oleh freemasonry. Menggunakan kaos yang bergambar lambang seperti itu termasuk kampanye memperkenalkan lambang-lambang Masonic agar menjadi familier di kalangan anak muda.

    “Tetapi aku bukan Masonic yang ingin mengkampanyekan lambang-lambang Masonic,” ujar Bishri. Amir berkata, “Aku tahu. Tetapi jika kau tetap mengenakan kaos ini, lalu banyak pemuda mencontohmu, bagaimana?” Lalu mereka berdebat cukup panjang, hingga akhirnya Bishri memusuhi Amir.

    Amir sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin kekeliruan Bishri. Karena Amir memang sahabat yang baik. Namun Bishri menganggap bahwa tindakan Amir memberitahukan kekeliruan Bishri adalah tindakan yang memicu perdebatan dan merusak persahabatan mereka. Padahal perdebatan yang menyebabkan kerusakan persahabatan itu tidak perlu terjadi jika Bishri tidak keras kepala dan angkuh terhadap Amir.

    Bishri merasa bahwa dia telah dianggap sesat oleh Amir. Padahal Amir hanya menganggap Bishri keliru karena setelah tahu bahwa lambang pada kaosnya tidak layak dikenakan Bishri, Bishri tetap bersikeras bahwa kaos itu tetap layak dipakai. Bahkan Bishri menganggap bahwa Amir telah ‘memvonis kafir’ terhadap Bishri. Padahal tidak demikian. Bishri memang terlalu berlebihan dalam memandang tindakan Amir.

    Haruskah Amir membiarkan kekeliruan Bishri demi persahabatan mereka? Sahabat macam apa yang membiarkan kekeliruan sahabatnya?

    Saudara macam apakah Amir jika dia membiarkan kekeliruan saudara seiman? Pantaskah ia membiarkan Bishri demi persatuan? Persatuan macam apa? Al-Jama’ah itu cuma satu. Mereka yang berjalan pada jalan yang dilalui oleh Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung itulah yang disebut Al-Jama’ah. Al-Jama’ah adalah yang di dalamnya berkumpul Rasulullah, para shahabat, dan para pengikut mereka yang berpegang pada tali sanad yang bersambung.

    Saat ini, kita mengenal banyak kelompok pergerakan Islam yang mayoritas anggotanya adalah kaum muda. Dalam masing-masing kelompok pergerakan itu tentu ada kegiatan ta’lim. Namun jarang sekali pembina-pembina ta’lim itu yang sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah. Tidak jarang ilmu-ilmu yang diajarkan di dalamnya merupakan ilmu-ilmu yang tidak sesuai dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW.

    Sayangnya, setiap ulama atau murid dari ulama shahih itu menjelaskan kekeliruan mereka, hal ini dianggap sebagai memecah belah, ‘memvonis sesat’, bahkan ‘takfir’. Betapa teganya mereka menuduh demikian terhadap para pewaris Nabi. Lidah para ulama shahih ini telah bersambung kepada lidah Rasulullah SAW, dan mereka menuduh para pemilik lidah mulya ini sedemikian rupa. Sampai hatikah mereka menuduh seperti itu kepada Rasulullah SAW dengan cara menuduh para pewarisnya sebagai pemecah-belah ummat, sebagai ‘ulama takfir’ dan sebagainya?

    Berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu bakar digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”

    Berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad.” (Faizhul Qadir juz 1 hal 433)

    Wahai para penuduh ulama-ulama shahih, tunjukkan sanad kalian jika benar bahwa kalian adalah para pewaris Nabi!