Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.”
Blog
-
Kemasan Da’wah dan Ibadah
Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.” (lebih…)
-
Paulus dan Gnostikisme
Saulus dari Tarsus merupakan anggota sekte Farisi yang sering menyiksa para pengikut Yesus. Setelah Yesus diangkat ke langit, tiba-tiba Saulus atau Paulus mengaku bahwa ia telah bertemu dengan Yesus dalam penampakan (mirip Ahmad Mushadeq yang mengaku menjadi nabi setelah berlaku penampakan kepadanya). Maka mulailah ia menyebarkan ajaran tentang Kristus. Dan diantara para pengikutnya ada yang menyusun injil-injil yang dinisbatkan kepada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Namun diragukan bahwa penulis injil-injil itu adalah benar-benar Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.
Dari keempat injil, Injil menurut Markus dianggap Injil paling tua, ditulis pada 70 Masehi. Sedangkan Kristen baru dikenal pada 49 Masehi di Anthiokia. Tidak ada injil yang berasal dari masa Yesus yang bisa dijadikan rujukan. Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa telah lenyap. Tidak ada salinan atas Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Injil yang beredar sekarang hanyalah injil-injil yang telah dipengaruhi ajaran Paulus.
Kenyataan yang terlihat adalah bahwa ajaran-ajaran Paulus dan 4 injil adalah produk Gnostik. Mengenai faham Gnostik dibalik ajaran-ajaran Paulus, baiklah kita melihat uraian tokoh berbobot Graham Stanton. Stanton bukanlah tokoh asing dalam studi Perjanjian Baru, sebab ia adalah Profesor Studi Perjanjian Baru dari King’s College, University of London sejak tahun 1977. Dan pada periode tahun 1995-1996 ia dipilih sebagai Presiden Masyarakat Internasional Ahli Perjanjian Baru ‘Studiorum Novi Testamenti Societas.’ Ia mengemukakan bahwa pandangan Gnostik mempercayai:
“Dunia adalah tempat yang jahat, diciptakan oleh Tuhan yang jahat, dan yang berbeda dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar.”
Nafas gnostikisme dari surat-surat Paulus dan 4 injil dapat kita lihat dalam ayat-ayat yang kemudian dijadikan pemikiran Gereja Trinitarian. Misalnya mengenai Yesus, yang mereka anggap Kristus, yang memberitakan pengetahuan rahasia (gnosis) pada para pengikutnya. Hal ini bisa kita lihat dalam ayat-ayat seperti pada Mat. 13:11, Mrk. 4:11, Luk. 8:10, Ef. 3:4, Kol. 1:26-27, 2:2-3, 4:3, dsb.
Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” [Mat. 13:11]
Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,” [Mrk. 4:11]
Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.” [Luk. 8:10]
Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus, [Ef. 3:4]
yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! [Kol. 1:26-27]
supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. [Kol. 2:2-3]
Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. [Kol. 4:3]
Ucapan mengenai ‘Yesus yang hidup’, bagi pengikut gnostikisme adalah lambang isoteris mengenai kata-kata Yesus yang lebih bermakna bagi pengikut gnostik sebagai kunci keselamatan daripada ajaran kematian dan kebangkitan Yesus. Ucapan seperti ini dapat Anda jumpai seperti pada Mat. 16:16 dan Luk. 24:5-6.
Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” [Mat. 16:16]
Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, [Luk. 24:5-6]
Pemikiran gnostik telah dianut oleh bangsa Mesir kuno yang mempercayai bahwa Horus adalah Kristus. Peristiwa-peristiwa terpenting dalam gnostikisme semacam ini adalah peristiwa kelahiran Kristus (Christmass), masa dewasa Kristus, penyaliban Kristus, petarungan dengan maut dan kebangkitan Kristus yang berhasil mengalahkan maut. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat bangsa Mesir kuno menjadi percaya bahwa Horus adalah Kristus. Pemikiran semacam ini dapat Anda temukan pada 1Kor. 15:3-4.
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; [1Kor. 15:3-4]
Padahal kalimat seperti ini tiada tertulis dalam Perjanjian Lama. Lalu Kitab Suci yang mana yang Paulus maksudkan? Tentu saja kitab kaum gnostik. Kitab pengetahuan rahasia yang selalu didengung-dengungkan Paulus.
Baca juga:
Paulus dan Injil Gnostik -
Khulafa Ar-Rasyidin
Para pengganti Rasulullah, yang kita kenal dengan Khulafa Ar-Rasyidin, adalah contoh type-type pemimpin yang telah berhasil memimpin ummat kepada kejayaan dan kemakmuran. Sejarah mereka yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga perlulah kita pelajari. Ringkasan dari sejarah mereka dapat Anda pelajari melalui empat tulisan berikut:
KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
KHALIFAH UMAR BIN KHATHTHAB
KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB -
Ayah Bunda Nabi Di Neraka?
Ada-ada saja kelompok pemuda yang lemah aqal di zaman ini. Betapa teganya mereka berbicara yang tidak-tidak tentang ibunda dan ayahanda baginda Nabi Muhammad SAAW. Mereka berkata bahwa ayah-bunda Nabi masuk neraka. Sungguh tuduhan yang menyakiti hati sang Nabi pilihan. Untuk itu, Guru kita Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah memberikan penjelasan yang dapat Anda baca di sini.
-
KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Setelah Rasulullah SAAW wafat, kaum Muslimin mengadakan peryemuan di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka membicarakan siapa sepatutnya yang menggantikan Rasulullah SAAW dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan ummat. Setelah dimusyawarahkan, maka terpilihlah Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai Khalifah.
Abu Ubaidah berkata mengenai Abu Bakar, “Dia adalah salah seorang dari dua orang.” Umar berkata mengenai Abu Bakar, “Abu Bakar, engkau adalah orang yang lebih disukai Rasulullah untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat.”
Ali agak terlambat dalam pembaiatan Abu Bakar disebabkan sibuk mengurus jenazah Rasul SAAW. Tidak ada keberatan dalam hati Ali untuk membai’at Abu Bakar Ash Shiddiq.
Hal-Hal Penting yang Dilakukan Abu Bakar Selama Menjadi Khalifah
1. Pemberangkatan Pasukan Usamah.
2. Memberangkatkan pasukan untuk memerangi orang-orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat.
Ketika Abu Bakar telah siap berangkat memimpin satu pasukan ke Dzil Qishshah, Ali berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Khalifah Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah SAAW pada perang Uhud: ‘Sarungkan pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu. Demi Allah, jika kaum Muslimin mengalami musibah karena kematianmu niscaya mereka tidak akan memiliki eksistensi sepeninggalmu.” Kemudian Abu Bakar kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain. Akhirnya kaum murtad berhasil ditumpas, dan ada juga yang kembali memeluk Islam. Dan semua kabilah kembali bersedia membayar zakat.3. Memberangkatkan pasukan Khalid bin Walid ke Iraq, bersama Mutsni bin Haritsah AsySyaibani yang kemudian berhasil menaklukkan banyak negeri dan kembali dengan membawa kemenangan dan barang rampasan perang.
4. Abu Bakar memberikan gagasan dan memprakarsai penyerangan negeri-negeri Romawi.
Ketika mengusulkan hal ini, Abu Bakar ra meminta pendapat Sayyidina Ali ra. Kemudian Sayyidina Ali menjawab, “Aku melihat engkau senantiasa memperoleh keberkahan, keunggulan dan pertolongan.” Ini menggambarkan bahwa tidak ada dendam atau kebencian mendalam di hati Sayyidina Ali ra terhadap Khalifah Abu Bakar ra.Abu Bakar Wafat pada tahun 13 H, malam selasa tanggal 23 Jumadil Akhir, pada usia 63 tahun. Masa khilafahnya 2 tahun 3 bulan, dan 3 hari. Ia dikubur di rumah Aisyah ra di samping kubur Rasulullah SAAW.
Wasiat Abu Bakar Tentang Khilafah Umar
Ath-Thabari, Ibnu Jauzi, dan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Abu Bakar ra khawatir kaum muslimin berselisih pendapat sepeninggal beliau dan tidak memperoleh kata sepakat. Maka Abu Bakar meminta pendapat para tokoh shahabat mengenai penggantinya kelak. Setelah mengetahui kesepakatan mereka tentang keutamaan dan kelayakan Umar ra, beliau pun keluar menemui orang banyak seraya memberitahukan bahwa ia telah mengerahkan segenap usaha untuk memilih penggantinya kelak. Kepada khalayak, Abu Bakar meminta agar mereka menunjuk Umar ra. Sebagai Khalifah sepeninggalnya. Mereka semua menjawab, “Kami dengar dan kami taat.” Jadi penunjukkan Umar ra sebagai khalifah bukanlah berdasarkan keinginan Abu Bakar semata, akan tetapi merupakan hasil dengar pendapat dan rekomendasi dari para tokoh shahabat. Jadi sekali lagi, ini merupakan hasil syura dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Adapun perkataan Abu Bakar di hadapan khalayak adalah sebagai pengumuman hasil keputusan yang sah dan harus dipatuhi oleh kaum Muslimin.
Surat Wasiat kepada Umar
Setelah mengetahui kesepakatan semua orang atas penunjukkan Umar sebagai pengganti, Abu Bakar memanggil Utsman bin ‘Affan dan mendiktekan surat wasiat dan kemudian distempel oleh Abu Bakar. Kemudian surat wasiat itu di bawa keluar oleh Utsman untuk dibacakan kepada khalayak ramai. Mereka pun membai’at Umar bin Khaththab. Peristiwa ini berlangsung pada bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.
Beberapa ‘Ibrah
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar ra. Tersebut menunjukkan sejumlah hal dan prinsip, diantaranya:
1. Pengangkatan Abu Bakar berlangsung melalui syura. Semua Ahlul Halli wal ‘Aqdi dari kalangan shahabat termasuk Ali ra ikut serta dalam pengambilan keputusan ini. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun nash Al-Qur`an atau Sunnah yang menegaskan hak Khilafah kepada seseorang sepeninggal Rasulullah SAAW.
2. Perbedaan pendapat dalam musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah adalah hal yang lumrah. Ini merupakan jaminan dari Syari’ terhadap beraneka ragam pendapat dan pandangan selama menyangkut hal yang tidak dinyatakan secara tegas dan gamblang oleh nash. Segala masalah yang didiamkan Syari’ dapat dibicarakan dalam syura dengan mengemukakan berbagai pandangan dan membahasnya secara obyektif dan jujur.
3. Nasihat Ali ra kepada Abu Bakar agar tidak ikut berangkat dalam memerangi kaum murtad adalah merupakan bukti kecintaan beliau kepada Abu Bakar ra dan juga merupakan bukti akan penerimaannya terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah.
4. Sikap tegas Abu Bakar terhadap kaum murtad merupakan bukti akan adanya hikmah Allah yang telah mengangkat orang yang sesuai untuk menghadapi tugas yang tepat (right man in the right job). Padahal saat itu Umar tidak setegas Abu Bakar mengenai kaum murtad.
5. Pemilihan pengganti Abu Bakar bukanlah berdasarkan wasiat. Wasiat tanpa keridhaan kaum msulimin tidak dapat dijadikan dasar sebagai pengangkatan khalifah. Jadi sesungguhnya yang mengangkat Umar adalah kaum muslimin, bukan Abu Bakar ra. Tidak ada dalam Islam pengangkatan khalifah berdasarkan penunjukkan khalifah sebelumnya.
-
KHALIFAH UMAR BIN KHATHTHAB
Hal pertama yang dilakukannya setelah menjabat khalifah adalah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan komandan pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah. Tatkala Khalid bin Walid menanyakan perlakuan Umar terhadap dirinya, Umar ra. Menjawab, “Demi Allah Wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.”
Kemudian Umar ra. Menulis surat ke berbagai negeri dan wilayah menyatakan kepada mereka, “Sesungguhnya aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan. Tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-serangannya dan kefahsyatan benturan-benturannya.”
Damaskus, Hamsh, Ba’albak, Bashrah dan Aballah berhasil ditaklukkan pada tahun 14 H. Di bulan Ramadhan tahun 14 H Umar menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjama’ah 20 raka’at. Dan beliau berkata, “Alangkah baiknya bid’ah ini.”
Pada tahun 15 H Yordania ditaklukkan. Pada tahun ini terjadi pula perang Yarmuk dan Qadisiah. Berkata Ibnu Jarir di dalam Tarikh bahwa pada tahun 15 H Sa’ad membangun Kufah, Umar menentukan sejumlah kewajiban, membentuk Qiwan-diwan dan memberi pemberian berdasarkan senioritas dalam memasuki Islam.
Pada tahun 16 H Al-Ahwaz dan Mada`in ditaklukkan. Umar meminta pendapat para shahabat termasuk Ali ra mengenai rencana memerangi Persia dan Romawi, lalu Ali ra mengemukakan pendapatnya, “Sesungguhnya masalah ini peluang menang-kalahnya tidak banyak dan juga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkan-Nya dan tentara-Nya yang dipersiapkan-Nya dan disebarkan-Nya hingga ke tempat yang telah dicapainya…Posisi penguasa bagaikan posisi benang dalam matarantai biji tasbih, jika benang itu putus maka biji-biji tasbih itu akan berantakan dan hilang…Jadilah poros dan putarlah roda dengan bangsa Arab…”
Pada tahun ini terjadi pula perang Jalaula`. Yazdasir putra Kisra berhasil dikalahkan. Takrit berhasil ditaklukkan. Umar berangkat berperang menaklukkan Baitul Maqdis dan berkhuthbah di Al-Jabiah. Qanasrin, Haleb, Anthokiah, dan Manbaj juga berhail ditaklukkan. Pada bulan Rabi`ul Awal tahun ini Umar menulis kalender Hijriah dengan meminta pertimbangan Ali ra.
Tahun 17 H Khalifah Umar memperluas Masjid Nabawi. Kemarau panjang terjadi, penduduk melakukan shalat istisqa. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Umar keluar untuk shalat meminta hujan, ia mengenakan selendang Rasulullah SAAW. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bahwa Sayyidina Umar bin Khaththab ra ketika terjadi kemarau beliau bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthallib, Sayyidina Umar berkata, “Ya Allah kami pernah bertawassul kepada-Mu dengan Nabi kami lalu Engkau turunkan hujan. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan Ya Allah!” Lalu Anas berkata bahwa hujan pun turun kepada mereka.
Pada tahun 19 H Qisariah ditaklukkan. Pada tahun berikutnya, 20 H, Mesir dan Maroko ditundukkan. Kaisar Romai mati pada tahun ini. Khalifah Umar mengusir Yahudi dari Khaibar dan Najran.
Tahun 21 H Iskandariah dan Nahawand ditaklukkan. Tahun 22 H Adzerbaijan, Daibur, Hamdan, Tripoli Barat dan Rayyi ditaklukkan. Tahun 23 H sisa-sisa negeri Persia ditaklukkan, diantaranya Kroman, Sajistan, dan Ashbahan. Pada akhir tahun 23 H ini Umar menunaikan ibadah Hajji.
Terbunuhnya Khalifah Umar RA
Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi yang dipanggil Abu Lu`lu`ah. Pada hari Rabu, 4 Dzul Hijjah tahun 23 H, Abu Lu`lu`ah membunuh Sayyidina Umar dengan menggunakan sebilah pisau yang telah dilumuri racun. Dia menikam sayyidina Umar tiga kali sehingga roboh. Beberapa orang berusaha menangkapnya, setelah salah seorang berhasil menangkapnya dengan kain hingga Abu Lu`lu`ah tidak bisa berkutik untuk melawan, maka Abu Lu`lu`ah pun membunuh dirinya sendiri dengan pisau belati yang dibawanya. Sayyidina Umar dibawa ke rumahnya dan tabib dari Banu Mu`awiyah dipanggil untuk mengobati. Tabib itu memberi Umar susu untuk diminum, akan tetapi susu itu keluar dari luka di bawah pusar, warna susu itu tetap putih tidak berubah.
Umar Menunjuk Salah Seorang Dari Ahli Syurga
Sebagian shahabat berkata kepada Umar, Tunjuklah orang yang engkau pandang berhak menggantikanmu.” Kemudian Umar menjadikan hal ini sebagai hal yang disyurakan sepeninggalnya oleh 6 orang, yaitu Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdur Rahman bin Auf ra. Setelah melalui proses syura yang panjang, maka terpilihlah Utsman bin Affan sebagai Khalifah ketiga. Para shahabat pun membai’at Sayyidina Utsman, termasuk Ali ra.
Beberapa ‘Ibrah
1. Pemecatan Khalid bukan disebabkan kebencian atau pengkhianatan, melainkan berdasarkan ijtihad. Ketika Khalid wafat, Sayyidina Umar mengucapkan ‘Innaalillaahi wa inna ilayhi raji’un’ dengan sangat sedih, ini membuktikan bahwa Umar tidak membenci Khalid.
2. Adanya kerjasama yang bersih dan istimewa antara Umar dan Ali ra. Sayyidina Ali merupakan penasihat utama Khalifah Umar. Sayyidina Umar berkata, “Seandainya tidak ada Ali, maka celakalah Umar.”
3. Sebagaimana Abu Bakar adalah orang yang tepat di masa dan tugas yang tepat, maka begitu pula halnya dengan Umar. Ketika muslim telah kuat keyakinannya dan tunduk patuh kepada hukum Islam berkat kerja Abu Bakar, Umar diangkat menjadi khalifah, di saat mana Islam perlu disebarkan ke luar, ke seluruh bangsa di dunia. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Allah adalah Al-Hakim.
4. Pengangkatan Sayydinia Utsman sebagai khalifah adalah berdasarkan hasil syura. Dan kaum muslimin pada saat itu yang masih satu jama’ah membai’at Sayyidina Utsman tanpa berkeberatan, termasuk Sayyidina Ali ra.
-
KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
Pada tahun pertama dari khilafah Utsman, yaitu tahun 24 H, negeri Rayyi berhasil ditaklukkan. Sebelumnya negeri ini pernah ditaklukkan, namun kemudian dibatalkan. Utsman mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu’bah.
Di tahun 25 H, Utsman memecat Sa’ad bin Abi Waqqash dari jabatan gubernur Kufah dan digantikan oleh Walid bin Uqbah bin Abu Mu`ith, seorang shahabat dan saudara seibu dengan Utsman.
Pada tahun 26 H, Utsman memperluas Masjidil Haram. Pada tahun 27 H, Mu`awiyah melancarkan serangan Qubrus (Syprus) dengan membawa pasukannya menyebrangi lautan. Utsman menurunkan Amr bin ‘Ash dari jabatan gubernur Mesir dan diganti dengan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Kemudian dia menyerbu Afrika dan berhasil menaklukkannya dengan mudah. Di tahun ini pula Andalusia berhasil ditaklukkan.
Pada tahun 29 H, negeri-negeri lain berhasil ditaklukkan. Utsman memperluas Masjid Nabawi.
Pada tahun 30 H, negeri-negeri Khurasan ditaklukkan sehingga banyak terkumpul khazraj (infaq penghasilan) dan harta dari berbagai penjuru.
Pada 32 H, Abbas bin Abdul Muthalib, Abdur Rahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud dan Abu Darda’ wafat. Orang-orang yang pernah menjabat sebagai hakim negeri Syam sampai saat itu ialah Muawiyah, Abu Dzarr Al-Ghifari, dan Zaid bin Abdullah ra.
Pada tahun 33 H, Abdullah bin Mas’ud bin Abi Sarh menyerbu Habasyah. Seperti diketahui Utsman banyak mengangkat kerabatnya dari bani Umayyah untuk menduduki berbagai jabatan. Hal ini menimbulkan ketidak-senangan orang banyak terhadap Utsman. Hal inilah yang dimanfaatkan pihak Yahudi, yaitu Abdullah bin Saba` dan teman-temannya untuk membangkitkan fitnah. Orang-orang menggugat Utsman atas kebijakan-kebijakannya mengangkat para kerabatnya. Utsman mengumpulkan para gubernur dan bermusyawarah. Akhirnya Utsman memerintahkan agar menjinakkan hati para pemberontak dan pembangkang tersebut dengan memberi harta dan mengirim mereka ke medan peperangan lain dan pos-pos perbatasan.
Abdullah bin Saba` berhasil menyebarkan pemikiran menyimpang di Mesir, menghasut masyarakat untuk menentang Utsman, dan juga pengkultusan terhadap Ali. Maka bergeraklah sekitar 600 orang ke Madinah dengan kedok akan berumrah. Padahal mereka ingin menyebarkan fitnah dalam masyarakat Madinah. Tatkala mereka hampir memasuki Madinah, Utsman mengutus Ali untuk menemui mereka. Sayyidina Ali menemui mereka dan membantah segala pemikiran mereka yang menyimpang, termasuk tentang pengkultusan atas dirinya. Mereka menyesali diri seraya berkata, “Orang inikah yang kalian jadikan alasan untuk memerangi dan memprotes Khalifah?” Kemudian mereka kembali dengan membawa kegagalan.
Atas usulan Ali, maka Utsman berpidato di hadapan orang banyak pada hari Jum’at untuk meminta maaf kepada masyarakat atas kebijakannya selama ini. Kemudian Utsman menegaskan kembali bahwa ia akan memecat Marwan dan kerabatnya.
Setelah peristiwa itu, Marwan bin Hakam menemui Utsman. Dia menghamburkan kecaman dan protes. Kemudian Marwan memberitahukan kepadanya bahwa di balik pintu ada segerombolan orang. Utsman menunjuk Marwan untuk berbicara kepada mereka sesukanya. Marwan berbicara kepada mereka dengan suatu pembicaraan yang buruk sehingga merusak apa yang selama ini diperbaiki oleh Utsman.
Ali segera menemui Utsman dan berkata, “Kenapa engkau meridhai Marwan sementara dia tidak menghendaki kecuali memalingkan engkau dari agama dan pikiranmu? Demi Allah, Marwan adalah orang yang tidak layak dimintai pendapat tentang agama atau dirinya sekalipun. Demi Allah, aku melihat bahwa dia akan menghadirkan kamu kemudian tidak akan mengembalikan kamu lagi. Saya tidak akan kembali setelah ini karena teguranku kepadamu.” Setelah Ali keluar, masuklah Na`ilah dan memberikan pendapatnya, dia berkata, “Bertaqwalah kepada Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Ikutilah sunnah kedua shahabatmu yang terdahulu, sebab jika engkau mentaati Marwan, niscaya dia akan membunuhmu. Marwan adalah orang yang tidak memiliki harga di sisi Allah, apalagi rasa takut dan cinta. Utuslah seseorang menemui Ali guna meminta ishlahnya, karena dia memiliki kekerabatan denganmu dan dia tidak layak ditentang.” Kemudian Utsman mengirim seseorang untuk menemui Ali, akan tetapi Ali menolak datang. Sikap ini merupakan permulaan krisis yang menyulut api fitnah dan memberikan peluang kepada tukang fitnah untuk memperbanyak kayu bakarnya dan mencapai tujuan-tujuan busuk yang mereka inginkan.
Awal Fitnah dan Pembunuhan Utsman
Penduduk Mesir datang mengadukan Ibnu Abu Sarh. Utsman mengirimkan surat berisi nasehat dan peringatan, tetapi Ibnu Abu Sarh tidak mau menerima nasihat dan peringatan tersebut dan bahkan bertindak keras terhadap orang yang mengadukannya. Maka atas usul para tokoh shahabat, digantilah Ibnu Abu Sarh dengan Muhammad bin Abu Bakar. Surat keputusan ini kemudian dibawa oleh sejumlah shahabat ke Mesir. Tetapi baru 3 hari perjalanan dari Madinah, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pemuda hitam yang mencurigakan, maka para shahabat itu menghentikan pemuda tadi. Ketika diperiksa terkadang dia mengaku sebagai pembantu Amirul Mu`minin yang diutus untuk menemui gubernur Mesir terkadang dia mengaku sebagai pembantu Marwan. Kemudian mereka mengeluarkan sebuah surat dari barang bawaannya. Surat itu berbunyi, “Jika Muhammad beserta fulan dan fulan datang kepadamu, maka bunuhlah mereka dan batalkanlah surat keputusan yang mereka bawa. Dan tetaplah engkau melakukan tugasmu sampai engkau menerima keputusanku. Aku akan menahan orang yang akan datang kepadaku mengadukan dirimu.”
Akhirnya para shahabat tersebut kembali ke Madinah dengan membawa surat tersebut dan memberitahukan hal ini kepada para tokoh shahabat. Persitiwa ini membuat Madinah gempar dan membenci Utsman. Ali segera mengumpulkan Thalhah, Zubair, Sa’ad, dan Ammar. Bersama mereka, Ali menemui Utsman dengan membawa surat, pembantu dan onta tersebut. Utsman mengakui bahwa stempel yang digunakan adalah stempel miliknya, dan onta itu adalah miliknya, dan pembantu itu adalah pembantunya. Akan tetapi surat itu bukan ia yang menulis, bukan ia yang memerintahkan untuk menulis, dia sama sekali tidak mengetahui tentang surat tersebut. Kemudian setelah diperiksa ternyata surat itu adalah tulisan Marwan. Lalu mereka meminta Utsman agar menyerahkan Marwan kepada mereka. Tetapi Utsman tidak bersedia melakukannya, padahal Marwan ada di dalam rumahnya. Akhirnya orang-orang di Madinah marah dan mengepung rumah Utsman dan tidak memberikan air kepadanya. Setelah Utsman dan keluarganya merasa kepayahan, ia menemui mereka seraya berkata, “Adakah seseorang yang sudi memberitahu Ali agar memberi air kepada kami?” Setelah mengetahui hal ini, Ali segera mengirim tiga qirbah air. Kemudian Ali mendengar desas-desus tentang adanya orang yang ingin membunuh Utsman, lalu Ali berkata, “Yang kita inginkan darinya adalah Marwan, bukan kematian Utsman.” Kemudian Ali menyuruh hasan dan Husain untuk menjaga pintu rumah Utsman. Sejumlah shahabat juga melakukan hal yang sama untuk menjaga Utsman. Ketika para pengacau menyerbu pintu rumah Utsman untuk membunuhnya, Hasan dan Husain serta para shahabat berusaha menghentikan mereka. Maka para pengacau itu akhirnya melakukan aksi kembali dengan lebih hebat dan berhasil masuk secara sembunyi-sembunyi melalui atap rumah. Mereka berhasil membunuh Khalifah Utsman bin Affan ra. Ketika mendengar ini Ali datang dengan wajah marah dan memarahi kedua anaknya.
Pembai’atan Ali dan Mencari Pembunuh Utsman
Ali keluar dari rumah Utsman dengan penuh kemarahan. Sementara itu orang-orang berlarian mendatangi Ali seraya berkata, “Ulurkan tanganmu untuk kami bai’at.” Ali menjawab, “Urusan ini bukan hak kalian, tetapi hak para pejuang Badr. Siapa yang disetujui oleh Ahli Badr, maka dialah yang berhak menjadi khalifah.” Maka semua Ahli Badr keluar dan mendatangi Ali seraya berkata, “Kami tidak melihat adanya seorang yang lebih berhak menjabat sebagai khalifah selain dirimu. Ulurkanlah tanganmu untuk kami bai’at.” Lalu mereka membai’at Ali ra. Hal ini terjadi pada pertengahan bulan Dzul Hijjah 33 H.
Setelah diselidiki ternyata pembunuhnya adalah dua orang yang masuk bersama Muhammad bin Abu Bakar. Akan tetapi Muhammad bin Abu Bakar tidak jadi membunuh Utsman ra disebabkan teringat akan bapaknya, dan ia pun bertaubat. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Kinanah, mantan budak Shafiah, dan juga dari lainnya, mereka berkata, “Utsman dibunuh oleh seorang lelaki dari Mesir.”
Beberapa ‘Ibrah
1. Utsman telah berhasil juga menaklukkan beberapa negeri, beliau juga berhasil menyatukan orang dalam bacaan dan tulisan Al-Qur`an yang terpercaya setelah berkembangnya bacaan yang dikhawatirkan dapat membingungkan orang. Beliau juga telah memperluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
2. Betapapun kritik yang dilontarkan kepada Utsman atas kebijakannya dalam memilih para gubernur dan pembantunya, kita harus menyadari bahwa kebijakan itu merupakan ijtihad pribadinya. Jadi bukan berdasarkan nafsunya, melainkan berdasarkan ijtihad. Dan para shahabat yang mengkritiknya pun dalam rangka menasihati dengan berdasar pada ijtihad pula, yang mana hal ini adalah positif dan bermanfaat.
3. Benih-benih fitnah pada akhir-akhir pemerintahan Utsman telah dimanfaatkan Abdullah bin Saba`. Abdullah bin Saba` adalah seorang agen Yahudi yang menyebarkan khurafat mengenai Ali ra. Dari sini kita mengetahui bahwa perpecahan ummat Islam menjadi dua kubu, yaitu Sunni dan Syi’i adalah merupakan buah tangan Abdullah bin Saba`.
4. Ali termasuk orang yang pertama kali membai’at Utsman. Ali juga yang telah menggagalkan rencana pemberontak dari Mesir. Ali juga yang telah memberi nasihat kepada Utsman dengan penuh keikhlashan dan kecintaan. Ali juga yang telah mengirim air ke rumah Utsman. Ali juga yang telah menyuruh Hasan dan Husain untuk menjaga rumah Utsman dari para pemberontak. Ali juga yang telah begitu marah atas pembunuhan Utsman. Dengan demikian Ali adalah pendukung Utsman yang terbaik selama khilafahnya.
-
KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
Menuntut Pembelaan untuk Utsman dan Perang Onta
Ali berusaha untuk melakukan qishash terhadap para pembunuh Utsman. Thalhah dan Zubair bersama sejumlah Shahabat berpendapat agar Ali segera menangkap para pembunuh dan melaksanakan qishash. Guna menjamin terlaksananya qishash dan menghindarkan fitnah, mereka menawarkan kepada Ali agar mendatangkan pasukan dari Bashrah dan Kufah untuk mendukungnya. Tetapi Ali meminta mereka agar menunggu sampai ia menyusun program yang baik untuk melaksanakan qishash.
Berkumpullah orang-orang yang berpendapat agar segera melaksanakan qishash di Bashrah agar dapat menjadi peringatan bagi penduduk Bashrah akan perlunya kerjasama dalam mengepung para pembunuh Utsman dan menuntut darah dari mereka. Diantara yang berpendapat demikian adalah Aisyah, Thalhah, Zubair dan sebagian besar shahabat.
Saat itu pasukan Ali berangkat ke sana guna melakukan ishlah dan menyatukan kalimat. Al-Qa’qa bin Amr sebagai utusan dari pihak Ali ra menemui Aisyah seraya berkata, “Wahai ibunda, apakah yang mendorong kedatangan ibunda ke negeri ini?” Aisyah menjawab, “Ishlah diantara manusia.” Kemudian Al-Qa’qa menemui Thalhah dan Zubair dan menanyakan hal yang sama. Keduanya menjawab, “Kami juga demikian.” Kemudian semua pihak berbicara dan berunding yang akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan ini kepada Ali. Ali pun bersyukur atas tercapainya kesepakatan tersebut.
Tetapi Abdullah bin Saba dan kawan-kawannya merencanakan untuk mengadu kedua belah pihak. Orang-orang yang melakukan konspirasi jahat ini bergerak sebelum fajar. Jumlah mereka hampir 2000 orang. Mereka melakukan serangan mendadak. Akhirnya orang-orang bangun dari tidurnya dan membawa pedang seraya berkata, “Para penduduk Kufah menyerang kita pada malam hari dan berkhianat kepada kita.“ Mereka mengira bahwa tindakan tersebut adalah rencana busuk dari Ali. Setelah mendengar berita ini Ali berkata, “Apa yang terjadi pada masyarakat?” Orang-orang yang berada di sekitarnya berteriak, “Orang-orang Bashrah menyerang kami di malam hari dan berkhianat terhadap kita.” Kemudian masing-masing pihak mengambil pedang dan baju perangnya tanpa mengetahui hakikat yang sebenarnya. Terjadilah peperangan di antara mereka. Pasukan Ali sekitar 20.000 orang, adapun pasukan Aisyah berjumlah sekitar 30.000 orang. Aisyah ikut maju dengan mengendarai onta.
Pasukan Abdullah bin Saba` tidak henti-hentinya melakukan pembunuhan dan tidak peduli terhadap penyeru dari pihak Ali yang menyerukan kepada mereka semua untuk berhenti.
Ketika kedua pihak telah menyadari dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan, maka mereka saling menahan diri dan menghentikan peperangan. Ketika pasukan Ali mendekati pasukan Thalhah dan Zubair, maka keluarlah Ali dengan menunggang baghal Rasulullah SAAW, kemudian memanggil Zubair dan berkata, “Wahai Zubair, demi Allah, apakah engkau ingat ketika Rasulullah bertanya kepadamu: ‘Wahai Zubair apakah kamu mencintai Ali?’ Lalu kamu menjawab: ‘Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku bahkan seagama denganku?’ Kemudian Nabi SAAW bersabda: ‘Wahai Zubair, demi Allah, satu saat engkau pasti akan memeranginya dan menzhaliminya.’”
Zubair menjawab, “Demi Allah, aku telah lupa akan hal itu. Tetapi sekarang aku telah teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama-lamanya.” Kemudian Zubair kembali dengan menunggang kendaraannya membelah barisan. Kemudian kedua belah pihak kembali berdamai.
Masalah Mu’awiyah dan perang Shiffin
Ali kembali ke Kufah yang telah dijadikan sebagai pusat khilafah. Sesampainya di Kufah, Ali segera mengirim Jurair bin Abdullah Al-Bajli kepada Mu’awiyah di Syam guna mengajak bergabung untuk membai’at Ali. Akan tetapi Mu’awiyah menolak kecuali jika pembunuh Utsman telah diqishash. Ali menganggap hal ini sebagai pemberontakan. Maka Ali mengirim pasukannya ke Syam pada 12 Rajab 36H. Mu’awiyah pun segera memberangkatkan pasukannya hingga kedua pasukan itu bertemu di Shiffin, di tepi sungai Eufrat. Selama dua bulan lebih kedua belah pihak saling mengirimkan utusan-utusan. Ali mengajak Mu’awiyah untuk membai’at. Dan Mu’awiyah menyerukan kepada Ali agar segera mengqishash pembunuh Utsman sebelum melakukan urusan lain. Selama perundingan itu mungkin telah terjadi beberapa pertempuran kecil.
Keadaan ini terus berlanjut hingga bulan Muharram 37 H. Lalu kedua pihak melakukan gencatan senjata selama sebulan dengan harapan dapat dicapai ishlah. Tetapi gencatan senjata berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Lalu Ali memerintahkan seorang petugas untuk mengumumkan demikian: “Wahai penduduk Syam, Amirul Mu`minin menyatakan kepada kalian bahwa aku telah memberi waktu yang cukup kepada kalian untuk kembali kepada kebenaran, tetapi kalian tetap tidak mau berhenti dari pembangkangan dan tidak mau kembali kepada kebenaran. Karena itu, kini aku kembalikan perjanjian ini kepada kalian dengan penuh kejujuran. Sesungguhnya Allah tidak mencintai para pengkhianat.”
Pada saat itulah kedua belah pihak memobilisasi pasukannya masing-masing. Terjadilah pertempuran selama 7 hari. Akhirnya Mu’awiyah dan pasukannya terdesak. Saat itulah Mu’awiyah dan Amr bin Ash berunding. Amr mengusulkan agar Mu’awiyah mengajak penduduk Iraq untuk berhukum kepada Kitab Allah. Lalu Mu’awiyah memerintahkan seorang petugas supaya mengangkat Mush-haf di ujung tombak dan menyerukan, “Ini adalah Kitab Allah diantara kami dan kalian.” Ketika pasukan Ali melihat hal ini terjadilah perselisihan diantara mereka, ada yang setuju untuk berhukum kepada Allah dan melaksanakan qishash dengan segera dan ada yang meninginkan peperangan terus berlanjut sebab menduga bahwa hal itu hanyalah tipu daya.
Maka Ali mengutus Al-Asy’ats bin Qais kepada Mu’awiyah untuk menanyakan apa sebenarnya yang dikehendakinya. Mu’awiyah menjelaskan, “Mari kita kembali kepada Kitab Allah. Kami pilih seorang wakil yang kami setujui dan kalian pilih pula seorang wakil yang kalian setujui. Kemudian kita semua menyumpah kedua wakil tersebut untuk memutuskan sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Apa pun keputusan kedua wakil tersebut wajib kita ikuti.”
Penduduk Syam memilih Amr bin Ash, sedangkan penduduk Iraq memilih Abu Musa Al-‘Asy’ari. Maka diperoleh kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata hingga ada keputusan dari kedua hakim yang akan melakukan pertemuan di Daumatul Jandal pada bulan Ramadhan 37H. Ali kembali ke Kufah. Sementara pasukan Ali terpecah. Mereka yang menganggap bahwa tahkim tersebut adalah suatu kesesatan tidak lagi menganggap Ali sebagai khalifah. Mereka berjumlah 12.000 orang dan berhimpun di Harura`. Mereka inilah yang disebut khawarij.
Pada bulan Ramadhan 37H, dua hakim melakukan pertemuan di Daumatul Jandal. Lalu kedua hakim itu, yaitu Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari, memutuskan untuk mencopot Ali dan Mu’awiyah kemudian menyerahkan urusan ini kepada syura kaum Muslimin untuk menentukan pilihan mereka sendiri.
Mereka berdua menemui khalayak dan Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk berbicara terlebih dahulu. Maka Abu Musa berkata, “Wahai manusia, setelah membahas urusan ummat ini, kami berkesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih baik dan lebih dapat mewujudkan persatuan selain dari apa yang telah aku dan Amr sepakati. Yaitu kami mencopot Ali dan Mu’awiyah.”
Setelah menyampaikan kalimatnya, Abu Musa mundur, kemudian giliran Amr untuk berbicara. Maka Amr bin Ash berbicara, “Sesungguhnya Abu Musa telah menyatakan apa yang kalian dengar. Ia telah mencopot kawannya dan aku pun telah mencopotnya sebagaimana dia. Tetapi aku mengukuhkan kawanku Mu’awiyah.” Setelah peristiwa ini orang-orang pun bubar dengan rasa kecewa dan tertipu.
Masalah Khawarij dan Terbunuhnya Ali
Setelah menolak keputusan tersebut yang merupakan rekayasa dari pihak Mu’awiyah, Ali berangkat memimpin pasukan besar ke Syam untuk memerangi mu’awiyah. Akan tetapi kaum khawarij telah melakukan kerusakan sedemikian rupa, maka Ali memerangi mereka terlebih dahulu. Akhirnya kaum khawarij dapat dikalahkan.
Berbagai situasi buruk terus menimpa Ali. Sebagian penduduk Iraq melakukan pembangkangan kepada Ali. Sementara masalah di Syam semakin meningkat.
Abdur Rahman bin Muljim seorang tokoh khawarij ingin menikah dengan Qitham. Karena ayah dan saudara Qitham terbunuh oleh pasukan Ali, maka ia mensyaratkan kepada ibnu Muljim agar membunuh Ali terlebih dahulu.
Pada malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun 40H, Abdur Rahman bin Muljim mengincar Ali di depan pintu yang biasa dilewatinya. Seperti biasa Ali keluar membangunkan orang untuk shalat shubuh, tetapi ia dikejutkan oleh Ibnu muljim yang memukul kepalanya dengan pedang sehingga darahnya mengalir di jenggotnya.
Ketika sakaratul maut, Ali tidak mengucapkan kalimat apa pun selain La ilaha illallah. Beliau wafat pada usia 60 tahun. Khilafahnya berlangsung selama 5 tahun kurang 3 bulan. Sedangkan Ibnu Muljim, pelaksanaan qishashnya dilakukan oleh Hasan ra, kemudian jasadnya dibakar dengan api.
Beberapa ‘Ibrah
1. Ali dan pihak Aisyah, Thalhah dan Zubair sama-sama sepakat bahwa pembunuh Utsman harus diqishash, akan tetapi kedua belah pihak berselisih mengenai mana urusan yang lebih dulu dilakukan. Akan tetapi kedua pihak ini kemudian melakukan perdamaian dan menyerahkan urusan ini kepada kebijakan Ali.
2. Yang memperkeruh keadaan di antara ummat Islam saat itu sebenarnya adalah konspirasi Yahudi yang didalangi oleh Abdullah bin Saba`.
3. ‘Ali merupakan khalifah yang sah setelah terbunuhnya Sayyidina Utsman, sebab orang-orang telah membai’at Ali sebagai khalifah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan. Adapun tindakan Mu’awiyah merupakan suatu pembangkangan terhadap khalifah yang sah. Akan tetapi pembangkangan mu’awiyah itu adalah berdasarkan ijtihadnya. Mu’awiyah berpendapat bahwa khilafah Ali belum sah tanpa bai’at dari Mu’awiyah dan penduduk Syam. Sebagaimana Ali pun telah mengakui akan hal itu, bahwa apa yang dilakukannya dan yang dilakukan Mu’awiyah adalah berdasarkan ijtihad masing-masing.
4. Jika kita memperhatikan sikap kaum khawarij sejak revolusi dalam rangka mendukung dan membela Ali hingga kemudian membangkang dan memusuhinya, maka mereka adalah merupakan korban ekstrimisme semata-mata. Kaum khawarij umumnya adalah orang Arab badwi yang berwatak keras. Mereka tidak terlalu paham mengenai kaidah-kaidah ilmu. Mereka menganggap tahkim kepada Abu Musa dan Amr sebagai tahkim kepada manusia. Padahal tidaklah Ali dan Mu’awiyah bertahkim melainkan kepada Kitab Allah. Akan tetapi Al-Qur`an adalah tertulis, dan yang membunyikannya adalah manusia. Maka mereka menjadikan Abu Musa dan Amr bin Ash sebagai mujtahid untuk memberi keputusan berdasarkan Al-Qur`an mengenai hal ini. Pengaruh-pengaruh ekstrimisme ini sampai sekarang masih tetap ada. Hobi mengkafirkan sesama muslim karena sebab ringan hanyalah merupakan cermin dari pola pikir ekstrim ini. Ekstrimisme ini merupakan pola pikir yang menolak ilmu dan syari’ah serta menentang segala kaidahnya. Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah saaw bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa`i, Abu Daud)
-
Pemeliharaan Al-Qur`an
Dalam sejarahnya, Al-Qur`ana dipelihara dengan sangat baik melalui cara-cara yang terbukti ampuh menjaga kemurniannya. Al-Qur`an merupakan firman Allah yang diletakkan pada lisan Nabi Muhammad dan dijaga dengan cara tradisi lisan pula. Adapun tulisan yang ada merupakan alat bantu bagi mereka yang bisa tulis baca dan telah mempelajarinya secara lisan dari Rasulullah. Namun kebanyakan orang Arab pada saat itu adalah orang yang tidak bisa baca-tulis, namun mereka kuat hafalannya. Demikianlah Allah meletakkan firman-Nya pada lisan Nabi, dan bukan pada suatu kitab yang turun dari langit dalam satu kali turun.
Mempelajari sejarah pemeliharaan Al-Qur`an adalah penting untuk membentengi diri dari serangan pemikiran kaum yang mengingkari Allah yang esa. Untuk itu, silahkan pelajari artikel berikut:
Penghafalan dan Penulisan Al-Qur`an
Pengumpulan Al-Qur’an
Pembukuan Al-Qur’an