Ada beberapa dalil mengenai hal ini, akan tetapi sebelum saya beberkan hadisnya, kita harus memahami kaidahnya dulu yaitu perintah membaca Al Quran itu mutlak (baik tempat, kondisi, dan waktu) dan kalau mau melarangnya harus dengan dalil. Misalnya Al-Qur`an itu haram dibaca di kakus atau ketika berhadats besar. Itu semua dengan dalil. (lebih…)
Blog
-
Membaca Qur`an Di Pequburan
Ada beberapa dalil mengenai hal ini, akan tetapi sebelum saya beberkan hadisnya, kita harus memahami kaidahnya dulu yaitu perintah membaca Al Quran itu mutlak (baik tempat, kondisi, dan waktu) dan kalau mau melarangnya harus dengan dalil. Misalnya Al-Qur`an itu haram dibaca di kakus atau ketika berhadats besar. Itu semua dengan dalil.
Adapun bolehnya membaca Al-Qur`an di pekuburan, berikut haditsnya:
?? ??? ??? ??? ???? ????? ??? : ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ???? : « ??? ??? ?????? ??? ?????? ? ?????????? ?? ??? ???? ? ?????????? ??? ???? ?????? ?????? ? ???? ????? ?????? ????? ?????? ?? ???? » . ????? ???????? ???????? ?? ??? ??????? ? ??????? ??? ??? ??? ?????? ?? ?????? ? ??? ?????? « ?????? ?????? » ????? ?? « ????? ??????
Dari ibni ‘umar : saya mendengar rasulallah berkata : jika seseorang diantara kalian meninggal, maka jangan ditahan ( diinapkan ). dan cepatlah dimakamkan. bacakanlah di quburnya surat fatihah diatas kepalanya, dan dikedua kakinya dg akhir surat baqarah ( ayat qur’an yang biasa dipakai tahlil ). ditakhrij oleh thabrany dan baihaqi dalam bab sya’bul iman, dan isnadnya hasan sebagamana dikatakan oleh al-hafidz dalam fathnya ( nbama kitab : fathul mughits ). dan dalam satu riwayat dg : bifatihatil baqarah sebagai pengganti dari fatihatilkitab
?? ???? ??? ?????? ?? ?????? ?? ???????????? ? ?? ???? ??? : ??? ?? ??? – ???????????? ??? ???? – : ?? ??????? ! ??? ??? ???? ??????????? ? ???? ????????? ?? ???? ??? : ??? ???? ? ???? ??? ???? ???? ? ?? ????? ????? ?????? ????? – ?? ????? ????? ????? – ? ?? ???? ??? ???? ?????? ?????? ???????? ? ???? ???????? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ????? ??? . ????? ???????? ?? ?????? ?????? ? ??? ??????? : ?????? ??????? » .
Diriwaytkan oleh ‘abdurrahman bin ‘ala bin lajlaj dari ayahnya : berkata padaku ayahnya lajlaj abu khalid : hai anakku, jika aku mati, maka kuburkanlah, dan jika engkau meletakkanku di liang kubur, maka katakanlah : bismillah wa’ala millati rasulillah, kemudian letakanlah padaku debu ( dari bacaan itu ). Dan kemudian bacakanlah diatas kepalaku dg fatihatil baqarah dan akhirannya ( sebagaimana hadis diatas ). Karena saya mendengar rasulullah SAW mengatakan hal itu. [Ditakhrij oleh thabrani dalam mu’jam kabirnya. Berkata al haitsami : rijalnya tsiqqah.]
(Ditulis oleh Jogja Jongen)
-
Menyentuh Farji Membatalkan Wudhu
Farji adalah kemaluan. Menyentuh farji membatalkan wudhu, dalil-dalilnya antara lain:
pertama :
Dari bushrah bin shafwan berkata : berkata rasulullah SAW : barang siapa yang memegang dzakarnya maka tidak ada shalat baginya sehingga berwudhu ( diriwayatkan oleh khamsah dan dishahihkan oleh tirmidzi. berkata bukhari : ini adalah sanad yang paling shahih
Kedua :
Dari bushrah : saya mendengar rasulullah SAW berkata : berwudhulah orang yang memegang dzakarnya ( diriwayatkan oleh ahmad dan nasai )
ketiga :
diriwayatkan oleh umi habibah : saya mendengar rasulallah SAW berkata : barang siapa yang memegang alat kelaimnnya maka berwudhulah
berkata syekh ‘athiyah shaqar :Atas dasar ketiga hadis diatas, berkata jama’ah shahabat dan tabi’in dg batalnya wudhu karena memegang farji, itu jika memegangya tanpa perantara sebagaimana hadis yang diriwayatkan ahmad dan ibn hibban serta hakim dan di shahihkan oleh keduanya :
Barang siapa yang memegang dzakarnya dg tanpa penghalanag, maka wajib baginya untuk wudhu
Perincian pendapat Ulama :
Pendapat yang mengatakan bathalnya wudhu dg menyentuh dzakar/farji :
1) Madzhab maliki berkata : orang2 yang berwudhu jika menyentuh dzakar/farjinya maka menjadi bathal wudhunya. adapun jika menyentuh dzakar/farji orang lain, maka tidak ada masalah dg wudhunya. Dan disyaratkan memegangnya harus dg bagian dalam telapak tangan, sehingga jika memegang dg punggung telapak tangan, tidak ada masalah dg wudhunya.menurut madzhab maliki juga tidak batal menyentuh farji istrinya, juga menyentuh lubang dubur walaupun memasukkan tangannya ke dalam dubur
2) Menurut madzhab syafi’i : menyentuh dzakar/farji membatalkan wudhu entah itu dzakar sendiri atau milik orang lain. sebagaimana dari madzhab maliki, imam syafi’i juga mensyaratkan menyentuhnya dg bagian dalam telapak tangan, sehingga jika menyentuh dg punggung telapak tangan, tidak membatalkan wudhu. Perbedaanya adalah imam syafi’i tidak membedakan dzakar sendiri atau orang lain, serta tidak membedakan apakah orangnya sudah mati/belum. sehingga dari madzhab syafi’i, menyentuh dzakar/farji itu mutlak membatalkan wudhu tanpa ada perinciannya.
3) dari madzhab ahmad bin hanbal :hampir sama seperti madzhab syafi’iah. bedanya untuk perempuan, jika madzhab syafi’i mutlak membatalkan wudhu dg memegangnya permpuan pada farjinya, sedangkan menurut hanabilah ( hanbali ), tidak membatalkan jika tanpa memasukkan jari kedalam farji
Pendapat yang mengatakan tidak batal :
Yaitu dari madzhab hanafiah
berkata Ulama hanafiah dalam menguatkan pendapatnya :
Nabi SAW ditanya tentang laki-laki yang menyentuh dzakarnya : apakah wajib wudhu ? berkata rasulullah SAW : itu adalah bagian dari kamu. diriwayatkan oleh ahmad dan dishahihkan oleh ‘umar. berkata syekh ‘athiyah shaqar : menurut saya hadis ini lebih bisa dijadikan hujah dari hadis busrah. serta dishahihkan oleh ibnu hibban
Oleh karena itu madzhab hanafi menganggap bahwa tidak batal wudhunya jika menyentuh dzakar.Tarjih
Ulama hanafiah menjawab hadis yang dibawakan oleh jumhur ( syafi’iah, malikiah, dan hanabilah ) bahwa hadis yang yang dibawakan oleh jumhur adalah wudhu secara bahasa, yang artinya membasuh kedua telapak tangan
Adapun jumhur menjawab dalil ulama hanafiah, bahwa hadis yang dibawakan oleh ulama hanafiah didha’ifkan oleh imam syafi’i, dan oleh abu hatim serta abu zur’ah dan daruquthni serta baihaqi lalu oleh ibnu al-jauzi. Oleh ibnu hibban dan ulama yang lain, hujjah yang dibawa oleh ulama hanafiah dianggap mansukh. mereka ( ibnu hibban dan ulama yang lain ) berkata : yang termasuk dalam rawi hadis yang dibawakan oleh ulama hanafiah adalah thalaq bin ‘ali, yang ternyata juga meriwayatkan hadis :
Barang siapa yang menyentuh farjinya, maka berwudhulah.sehingga ditafsiri : pertama thalaq bin ‘ali mendengar hadis bahwa nabi mengatakan tidak batal, tapi kemudian mendengar lagi nabi mengatakan batalnya menyentuh dzakar/farji. oleh karena itu hadis yang dijadikan oleh ulama hanafiah sebenarnya sudah mansukh.
melihat dari keterangan diatas, maka pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur karena kejelasan dilalah hadisnya.
(Writed by Fahmie Ahmad)
-
Menyentuh Farji Membatalkan Wudhu
Farji adalah kemaluan. Menyentuh farji membatalkan wudhu, dalil-dalilnya antara lain:
pertama :
–عن بُسْرَة بنت صفوان قالت : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم ” من مس ذكره فلا يصلى حتى يتوضأ ” رواه الخمسة وصححه الترمذى، قال البخارى : هو أصح شىء فى هذا الباب .
dari bushrah bin shafwan berkata : berkata rasulullah SAW : barang siapa yang memegang dzakarnya maka tidak ada shalat baginya sehingga berwudhu ( diriwayatkan oleh khamsah dan dishahihkan oleh tirmidzi. berkata bukhari : ini adalah sanad yang paling shahih
(lebih…) -
Hadits Mengenai Khawarij
Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]
-
Hadits Mengenai Khawarij
Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]
Kaum khawarij itu juga membaca Al-Qur’an. Namun bacaan mereka tidak sampai tertanam di hati dengan benar. Sehingga yang mereka ikuti itu bukanlah Al-Qur’an berdasarkan pemahaman yang benar. Bahkan mereka itu mengikuti penafsiran berdasarkan nafsu mereka dan ustadz-ustadz mereka.
Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]
Mereka merasa bahwa mereka adalah manusia terbaik. Hal ini dapat kita lihat pada sikap mereka yang enggan bermadzhab. Padahal para ulama hadits pun bermadzhab kepada salah satu imam dari 4 imam madzhab. Mereka bukan saja merasa sebagai manusia terbaik di zamannya. Bahkan mereka merasa sebagai manusia yang lebih hebat dari para ulama hadits sebelum mereka. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka sama dengan 4 imam madzhab. Sehingga mereka merasa tidak perlu bermadzhab. Mereka merasa pantas untuk berijtihad.
Bahkan pendahulu mereka telah merasa lebih baik dari Nabi dengan berkata, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil!” Coba Anda renungkan! Siapakah manusia yang paling tinggi taqwanya? Sedangkan adil adalah salah satu bagian dari taqwa. Manusia paling bertaqwa itu tentu saja Nabi Muhammad Imamul Anbiya wa Sayyidul Mursalin, uswatun hasanah ‘ala khuluqil azhim. Adakah manusia yang lebih adil dari Rasul SAW?
Mereka telah menimbulkan masalah yang cukup serius. Mereka telah melakukan pembunuhan terhadap Muslimin yang bertentangan dengan mereka. Melakukan pemboman yang menyebabkan korban nyawa dan luka parah dari kaum Muslimin. Mereka telah menghalalkan darah ummat Islam tanpa alasan yang haq. Mereka telah melakukan tindakan-tindakan yang dapat membatalkan ke-Islaman mereka. Mereka keluar dari Islam, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka keluar jauh dari Islam. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Memerangi mereka dalam diskusi merupakan ibadah. Membunuh mereka di medan perang ada pahalanya di akhirat kelak.
Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Ali yang menjadi utusan di Yaman, mengirimkan emas yang belum diproses kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda membahagikannya kepada empat atau beberapa orang iaitu al-Aqra’ bin Haabis, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin Ulasah al-Amiri, kemudian kepada seorang dari Bani Kilab iaitu Zaid al-Khair At-Tha’ie, juga kepada seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Engkau memberikannya kepada pemimpin-pemimpin Najd, tetapi meninggalkan kami iaitu tidak memberikannya kepada kami? Rasulullah s.a.w bersabda: Aku lakukannya untuk memujuk hati mereka. Setelah itu datang seorang lelaki yang berjanggut tebal dan menonjol rahangnya. Manakala kedua matanya cengkung dan dahinya pula menonjol keluar. Kepalanya juga botak iaitu kesan cukur. Dia berkata: Takutilah Allah, wahai Muhammad! Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa lagi yang lebih taat kepada Allah kiranya aku menderhakaiNya? Tidakkah Dia mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan engkau tidak mempercayaiku? Lalu lelaki itu beredar. Seorang di antara orang ramai meminta izin untuk membunuh lelaki tersebut. Tetapi Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara kaumku ini, ada orang-orang yang membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka mampu membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala hidup. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik]
Hadis Sahl bin Hunaif r.a: Diriwayatkan daripada Yusair bin Amr katanya: Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif: Adakah engkau pernah mendengar Nabi s.a.w menceritakan tentang Khawarij? Sahl menjawab: Aku mendengarnya sambil menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Suatu golongan membaca al-Quran dengan lidah mereka, tetapi tidak sampai ke otak mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad]
-
Doa: Syukur atau Kufur
Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.
-
Doa: Syukur atau Kufur
Doa merupakan inti ibadah. Doa merupakan awal terjadinya kesyukuran. Syaikh Ibnu Athoillah pernah berkata bahwa beliau terkadang malu untuk berdoa dan meminta kepada Allah SWT karena merasa bahwa beliau belum mensyukuri segala ni’mat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu beliau juga takut merasa seakan-akan Allah SWT tidak memberi sebelum diminta. Namun kemudian beliau tetap berdoa, karena doa adalah perintah Allah. Sedangkan menjalankan perintah Allah SWT adalah ibadah.
Jadi maksudnya adalah orang yang berdoa itu hendaklah ingat bahwa Allah adalah Yang Memberi sebelum diminta. Hendaknya orang yang berdoa itu ingat akan segala anugerah yang telah Allah beri tanpa kita minta, padahal kita bukanlah orang yang banyak bersyukur. Sehingga muncul keyakinan bahwa Allah SWT memanglah Mahapengasih lagi Mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Kepada mereka yang tidak berdoa saja Allah telah begitu pengasih. Bagaimana lagi kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.
Sebagian manusia beribadah kepada patung atau kepada manusia seperti Firaun. Mereka meminta kepada berhala-berhala itu apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berfikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat. Sedangkan hamba-hamba Allah yang sejati hanya kepada Allah mereka menyembah dan meminta. Mereka yakin bahwa hanya Allah yang dapat memberi manfaat.
Setiap ibadah tentu ada hikmahnya. Ada orang yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang memiliki penghasilan di atas 10 juta rupiah per hari.” Lalu dia berfikir, doa merupakan kunci ataupun password untuk membuka pintu dari perbendaharaan yang telah Allah sediakan bagi kita. Jika Dia tidak memberikan apa yang kita minta hari ini, maka Ia mengakumulasi pemberian-Nya yang Dia tahan untuk diberikan di kemudian hari. Atau mungkin Dia mengkonversinya dengan yang lebih baik dan lebih berharga dari uang 10 juta rupiah pada hari itu. Lalu orang itu teringat bahwa Allah masih memberinya kehidupan pada hari itu. Sementara di tempat lain terdengar suara tangis mengiringi anggota keluarganya yang meninggal dunia.
Orang itu juga teringat bahwa Allah telah menggerakkan dia untuk ikut shalat shubuh berjama’ah. Sementara sebagian tetangganya masih terlelap dibuai mimpi. Hamba itu juga teringat akan kesehatan yang dia rasakan. Sementara sebagian manusia sedang merasakan kesakitan akibat parahnya penyakit yang dia derita, dan diperlukan uang puluhan juta rupiah untuk mengobatinya.
Lalu dia teringat akan mata pencahariannya yang mana sebagian manusia harus mencari nafkah dengan jalan yang lebih berat namun lebih sedikit hasilnya. Teringat pula ia akan segala makanan yang dia ni’mati. Sementara di tempat lain, orang-orang menderita kelaparan yang hebat.
Mengingat semua itu, bersyukurlah si hamba karena Allah telah memberinya lebih dari yang ia pinta. Dia berharap bahwa segala kebaikan itu tidak hanya dia rasakan di dunia ini, namun juga di akhirat kelak. Lalu dia memohon perlindungan Allah dari siksa neraka yang Allah siapkan bagi mereka yang mengingkari Allah Sang Pemberi ni’mat.
-
Bumi Mengelilingi Matahari
Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih mudah (secara matematika) & lebih elegan (secara filosofis) bahwa Matahari berada di pusat, sementara Bumi & planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Semua punya penjelasan yang memuaskan, secara teori untuk mengatakan hal itu.
Sampai sekarang, pelajaran SMU fisika pun memberikan penjelasan yang jelas & memuaskan, bahwa memang demikian adanya. Massa matahari yang jauh lebih besar daripada planet-planet membuat planet-planet harus tunduk pada ikatan gravitasi Matahari, sehingga planet-planet tersebut bergerak mengitari Matahari sebagai pusat. Demikian dari hukum Gravitasi Newton.
Perumusan matematikanya secara gamblang dan jelas dijelaskan oleh perumusan Kepler, hanya karena Matahari yang menjadi pusat sistem.
Kalau memang begitu adanya dan tidak percaya, bagaimana membuktikannya? Gampang, terbang saja jauh-jauh dari sistem tata surya ke arah kutub, dan lihatlah bagaimana Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Tentu saja ini adalah pernyataan yang bersikap humor. Tapi ini memang menjadi pertanyaan penting, bagaimana membuktikannya?
Bapak-bapak yang telah disebutkan tadi, tentu saja mempunyai pendapat yang berlaku sebagai hipotesa, dan harus bisa dibuktikan melalui pembuktian yang teramati/eksperimentasi. Apabila eksperimen berkesesuaian dengan hipotesa, maka hipotesa diterima dan itu menjadi teori. Bukankah demikian?
Baik, sekarang bagaimana membuktikannya? Satu-satunya cara membuktikan fenomena langit adalah melalui ilmu astronomi, yaitu ketika pengamatan dilakukan pada benda-benda langit lalu memberikan penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenarnya terjadi disana.
Tentu tidaklah mudah memberikan bukti yang langsung bisa menjelaskan secara cespleng bahwa Bumi berputar mengitari Matahari, bukankah lebih mudah mengatakan kebalikannya? Tapi seperti yang telah disampaikan, itu akan menjadi tidak baik, tidak mudah dan tidak elegan untuk menyatakan demikian. Ternyata dari pengamatan astronomi menunjukkan bahwa memang Bumi yang mengitari Matahari. Tidak percaya?
Bukti pertama, adalah yang ditemukan oleh James Bradley (1725). Pak Bradley menemukan adanya aberasi bintang.
Apa itu aberasi bintang? Bayangkan kita sedang berdiri ditengah-tengah hujan, dan air hujan jatuh tepat vertikal/tegak lurus kepala kita. Kalau kita menggunakan payung, maka muka & belakang kepala kita tidak akan terciprat air bukan? Kemudian kita mulai berjalan ke depan, perlahan-lahan & semakin cepat berjalan, maka seolah-olah air hujan yang tadi jatuh tadi, malah membelok dan menciprati muka kita. Untuk menghindarinya maka kita cenderung mencondongkan payung ke muka. Sebetulnya air hujan itu tetap jatuh tegak lurus, tetapi karena kita bergerak relatif ke depan, maka efek yang terjadi adalah seolah-olah membelok dan menciprat ke muka kita.
Demikian juga dengan fenomena aberasi bintang, sebetulnya posisi bintang selalu tetap pada suatu titik di langit, tetapi dari pengamatan astronomi, ditemukan bahwa posisi bintang mengalami pergeseran dari titik awalnya, pergeserannya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bawha memang sebenarnyalah bumi yang bergerak.
Mari kita tinjau Gb.1.

Aberasi terjadi jika pengamat adalah orang yang berdiri ditengah hujan, dan arah cahaya bintang adalah arah jatuhnya air hujan. Kemudian pengamat bergerak tegak ke muka, tegak lurus arah jatuhnya hujan. S menyatakan posisi bintang, E posisi pengamat di Bumi. Arah sebenarnya bintang relatif terhadap pengamat adalah ES, jaraknya tergantung pada laju cahaya. Kemudian Bumi BERGERAK pada arah EE’ dengan arah garis merepresentasikan lajunya. Ternyata pengamatan menunjukkan bahwa bintang berada pada garis ES’ alih-alih ES, dengan SS’ paralel & sama dengan EE’. Maka posisi tampak binang bergeser dari posisi sebenarnya dengan sudut yang dibentuk antara SES’.Jika memang Bumi tidak bergerak, maka untuk setiap waktu, sudut SES’ adalah 0, tetapi ternyata sudut SES’ tidak nol. Ini adalah bukti yang pertama yang menyatakan bahwa memang Bumi bergerak.Bukti kedua adalah paralaks bintang. Bukti ini diukur pertama kali oleh Bessel (1838). Paralaks bisa terjadi jika posisi suatu bintang yang jauh, seolah-olah tampak ‘bergerak’ terhadap suatu bintang yang lebih dekat. (Gb.2). Fenomena ini hanya bisa terjadi, karena adanya perubahan posisi dari Bintang akibat pergerakan Bumi terhadap Matahari. Perubahan posisi ini membentuk sudut p, jika kita ambil posisi ujung-ujung saat Bumi mengitari Matahari. Sudut paralaks dinyatakan dengan (p), merupakan setengah pergeseran paralaktik bilamana bintang diamati dari dua posisi paling ekstrim.

Paralaks Bintang
Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Ini hanya bisa dijelaskan jika Bumi mengitari Matahari, dan bukan kebalikannya.Bukti ketiga adalah adanya efek Doppler.Sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Newton, bahwa ternyata cahaya bisa dipecah menjadi komponen mejikuhibiniu, maka pengetahuan tentang cahaya bintang menjadi sumber informasi yang sahih tentang bagaimana sidik jari bintang (baca tulisan saya tentang ‘fingerprint of the star’) . Ternyata pengamatan-pengamatan astronomi menunjukkan bahwa banyak perilaku bintang menunjukkan banyak obyek-obyek langit mempunyai sidik jari yang tidak berada pada tempatnya. Bagaimana mungkin? Penjelasannya diberikan oleh Bpk. Deppler (1842), bahwa jika suatu sumber informasi ‘bergerak’ (informasi ini bisa suara, atau sumber optis), maka terjadi ‘perubahan’ informasi. Kenapa bergeraknya harus tanda petik? Ini bisa terjadi karena pergerakannya dalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumbernya yang bergerak? Demikian pada sumber cahaya, jika sumber cahaya mendekat maka gelombang cahaya yang teramati menjadi lebih biru, kebalikannya akan menjadi lebih merah. Ketika Bumi bergerak mendekati bintang, maka bintang menjadi lebih biru, dan ketika menjauhi menjadi lebih merah.Disuatu ketika, pengamatan bintang menunjukkan adanya pergeseran merah, tetapi di saat yang lain, bintang tersebut mengalami pergeseran Biru. Jadi bagaimana menjelaskannya? Ini menjadi bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa ternyata Bumi bergerak (bolak-balik – karena mengitari Matahari), mempunyai kecepatan, relatif terhadap bintang dan tidak diam saja.Dengan demikian ada tiga bukti yang mendukung bahwa memang Bumi bergerak mengitari matahari, dari aberasi (perubahan kecil pada posisi bintang karena laju Bumi), paralaks (perubahan posisi bintang karena perubahan posisi Bumi) dan efek Doppler (perubahan warna bintang karena laju Bumi).Tentu saja bukti-bukti ini adalah bukti-bukti ILMIAH, dimana semua pemaknaan, pemahaman dan perumusannya mempergunakan semua kaidah-kaidah ilmiah, masuk akal dan ber-bobot kebenaran ilmiah. Apakah memang demikian adanya? Seperti yang ungkapkan, sampai detik ini belum ada teknologi yang bisa membuat kita bisa terbang jauh-jauh ke luar angkasa, sedemikian jauhnya sehingga bisa melihat memang begitulah yang sebenarnya. Tetapi, pembuktian metode ilmiah selama ini cukup sahih untuk menjawab banyak ketidak-pahaman manusia tentang posisinya di alam. Dan bukti-bukti yang telah disebutkan tersebut cukup untuk menjadi landasan untuk menjawab bahwa memang Bumi mengitari Matahari; dari pengetahuan Bumi mengitari Matahari, banyak hal-hal yang telah diungkap tentang alam semesta ini, sekaligus menjadi landasan untuk mencari jawab atas banyak hal yang belum bisa dijawab pada saat ini.
(nggieng)
Tambahan:
Seorang ilmuwan muslim bernama ibnu al-Shatir (1304–1375M), dalam kitabnya yang berjudul Nihayat as-Sul fi Tashih al-Usul mengagas teori heliocentris. Perlu diketahui masa hidup Ibnu Shatir adalah sebelum Copernicus (1473-1543M). Penelitian ahli sejarah menemukan bahwa karya Copernicus mirip dengan yang diperoleh oleh Ibnu Shatir sehingga muncul dugaan bahwa pemikiran Copernicus adalah hasil mencontek dari Ibnu Shatir (nahh!!).
Akhir kata, saya katakan: Ulama adalah manusia biasa, masihkah engkau menuhankannya ??!?!?
-
Dzikir Berjama’ah Secara Jahr
Fadzkuruunii Adzkurkum. (Ingatlah/berdzikirlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengingat kalian) [QS. Al-Baqoroh: 152]
Camkanlah, bahwa dengan dzikrullah itu hati menjadi tenang! [QS. Ar-Ra’d: 28]
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [QS. Al-Kahfi: 28]