Sabda Rasulullah saw :
“Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada-Nya pada tiap harinya lebih dari tujuh puluh kali” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Limpahan Puji ke Hadirat Allah, Maha Raja Alam Semesta, Maha Agung dan Maha Luhur, Maha Abadi dan Maha Sempurna, Maha Memuliakan hamba-hamba-Nya dengan tuntunan para Nabi dan Rasul Nya. Allah, Nama yang paling berhak diagungkan dari semua Nama. Nama yang mengawali segala kesucian dalam kehidupan. Nama Termulia dan Kekal Abadi. Barang siapa yang menyebut Nama-Nya (Allah Swt), semakin dekat ke hadirat Allah, berjatuhanlah dosa-dosanya, terbukalah bagi kehidupannya pintu kedekatan kehadirat Allah Jalla wa ‘Alaa. Termuliakanlah hamba-hamba-Nya yang ingin dekat kepada Allah.
Hadirin-hadirat, sambutan yang hangat dari Maha Raja Langit dan Bumi (Allah Swt) terhadap hamba-hamba-Nya. Mereka yang ingin dekat kepada Allah, walaupun mereka pendosa, walaupun mereka pezina, walaupun mereka pembuat dosa-dosa besar, tidak tertutup pintu Rabbul Alamin bagi mereka yang ingin dekat kepada Allah. Demikianlah Sang Maha Pemurah dan Sang Maha Dermawan yang membuka pintu-Nya bagi semua yang berbuat kesalahan untuk kembali dekat dan dicintai serta dimuliakan. Demikianlah sambutan hangat dari Yang Maha Baik dan Maha Dermawan, Allah Jalla wa ‘Alaa (Jalla wa ‘Alaa = Maha Megah dan Maha Luhur).
Demikianlah hadirin hadirat, Dialah (Allah Swt) Yang Paling Indah, yang seluruh keindahan di alam semesta bersumber dari keindahan Allah. Yang cahaya matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang diambil dari Cahaya Keindahan Allah. Jika kita memahami Allah itu Maha Indah, Maha Mengawali keindahan di alam, maka ketika kita mengingat Allah, dekat kepada Allah, mencintai Allah, maka Allah akan membenahi kehidupan kita semakin indah dan kita akan menemui keindahan yang abadi.
Kehidupan dunia selalu ada hal-hal yang tidak mengenakkan kita, karena memang Allah ciptakan demikian. “Kalau Kami jadikan dunia itu seluruhnya indah,” kata Allah “mereka tidak akan mau meninggalkan dunia.”
[Q.S. Asy-Syuuraa: 27]
Memang Allah jadikan kehidupan dunia itu ada hal-hal yang mengecewakan. Supaya apa? Supaya mereka memahami bahwa kehidupan dunia hanya sementara, akan muncul kehidupan yang kekal dan abadi.
Oleh sebab itulah hadirin hadirat, dibangkitkan para Nabi dan Rasul sampai Nabi yang membawa rahmat dan kesempurnaan akhlaq, dialah Sayyidina Muhammad SAW. “Aku dibangkitkan untuk menyempurnakan kesempurnaan akhlaq,” didukung oleh hadits Shahih riwayat Bukhari, “Manusia yang terbaik adalah yang paling baik akhlaqnya.” Maka jika budi pekerti kita perbaiki untuk semakin baik, pada teman, pada ayah dan ibu, pada saudara, pada kerabat, pada tetangga, pada masyarakat, pada Muslim, pada non-Muslim bahkan pada musuh, itu namanya mewarisi indahnya akhlaq Nabiyuna Muhammad SAW yang berakhlaq kepada seluruh makhluk Allah. Berakhlaq kepada siapapun, bahkan kepada hewan dan makanan. Sampai makanan pun beliau tidak mau kecuali berbuat budi pekerti yang indah.
Pada makanan (beliau) tidak mau mencaci. Bila suka, maka dimakan. Bila tidak suka, maka dibiarkan. Beliau (Nabi SAW) tidak mau mencaci makanan. Padahal makanan ini, hadirin hadirat, bukan manusia. Tetapi demikianlah sempurnanya akhlaq yang dikatakan oleh Allah SWT :
“Sungguh engkau (wahai Muhammad) memiliki akhlak yang agung.” [Q.S. Al-Qalam: 4]
Oleh sebab itu, sambungkan jiwa kita kepada kesempurnaan akhlaq. Sulit rasanya kita membenahi akhlaq kita. Pintu-pintu kesucian di dalam jiwa, bukalah! Apa itu pintu-pintu kesucian? Mengingat Allah, mengingat Yang Maha Suci, menyebut Yang Maha Suci, mengagungkan Allah, merindukan Allah. Inilah yang akan membenahi jiwa kita dari segala sifat yang tidak baik.
Hadirin hadirat, bisa dibuktikan, ketika engkau mengingat perjumpaan dengan Allah, muncul kerinduan kepada Yang Maha Indah. Ketika engkau asyik dalam mengingat Allah itu, setelah itu berhenti, di hatimu tidak akan ada benci pada siapapun, di hatimu tidak ada permusuhan, tidak ada sombong, tidak ada riya, tidak ada penyakit lagi. Sirna!! Kemana? Hilang karena munculnya Cahaya Allah di dalam jiwa. Tetapi ketika cahaya itu pudar, muncul lagi sifat-sifat buruk. Maka perbanyaklah dzikrullah, terutama melewati keadaan zaman yang semakin hari semakin berat. Semakin dibutuhkan jiwa yang suci dengan Nama Allah SWT. Allah SWT tidak pernah mengecewakan hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat. Mereka selalu diterima oleh Allah SWT.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul SAW bercerita tentang seseorang dari Bani Israil, dari umat sebelumnya yang belum pernah berbuat amal shalih seumur hidupnya. Sudah sampai sakaratul mautnya dekat, sudah punya anak dan istri, baru sadar. Maka apa yang diperbuatnya? Menyesal! Mau taubat sudah tidak berdaya, sudah sakit parah. Ia panggil anaknya dan istrinya, “Anakku, istriku, kalau aku wafat jangan dikafani, jangan dimandikan namun bakar. Setengah tubuhku buang di daratan dan setengahnya buang di lautan.” Bertanya istri dan anaknya, “Kenapa Ayah?” Sang Ayah menjawab, “Tubuhku ini tidak pantas dikafani, penuh dosa, tidak pantas dimakamkan sebagaimana orang yang beriman. Malu aku kalau seandainya tubuh penuh dosa dan kotor ini diperlakukan seperti jenazah orang mu’min.”
Hal seperti ini hadirin, bukan untuk diikuti, karena ini syariah sebelum kita. Sesudah zaman Nabi SAW, semua jenazah Muslim hendaknya dikafani dan dimakamkan layaknya seorang Muslim. Hanya saja hal ini adalah hikmah.
Maka diikutilah oleh anak dan istrinya wasiat sang ayah. Setelah wafat, ruhnya dipanggil oleh Allah. Allah SWT bertanya, “Wahai hamba-Ku, kenapa kau berbuat demikian?” Hamba ini menjawab, “Ya Rabb, tubuh ini penuh dosa. Aku ingin taubat, belum sempat untuk beramal shalih. Aku menyesal atas seluruh kesalahanku, aku telah salah berbuat kepada-Mu, tubuh ini rasanya tidak pantas diperbuat seperti tubuh orang yang beriman.” Allah bertanya lagi, “Lalu kenapa kau hancurkan tubuhmu dengan cara seperti itu? Kau wasiatkan seperti itu?” Hamba itu menjawab, “Karena aku takut pada-Mu, Wahai Allah! Aku risau mengecewakan Perasaan-Mu dan memancing Kemurkaan-Mu.”
Maka Rasul SAW berkata, “Allah mengampuni orang itu.” Kenapa? Masih sempat taubat disaat-saat akhir sakaratul maut dengan penyeselan penuh keinsyafan. Demikian Rabbul Alamin memanjakan hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat. Sudah di akhir masih dimuliakan oleh Allah SWT. Bagaimana kalau yang masih segar bugar? Bagaimana kalau yang masih baik? Bagaimana kalau yang masih sehat wal afiah? Tentunya lebih agung lagi sambutan Ilahi untuk mereka. Lebih hangat lagi kasih-sayang Allah dan keberkahan yang akan mereka lewati dalam sisa kehidupannya. Karena sisa kehidupannya terbuka bagi mereka Pintu Rahmat yang lebih luas, keberkahan yang lebih luas, cinta Allah lebih besar membuat hari-harinya semakin indah. (Maka beruntunglah mereka yang masih muda namun banyak beribadah. Karena mereka akan disambut dengan lebih hangat oleh Allah, bahkan termasuk golongan yang dinaungi Allah pada hari qiamah)
Hadirin hadirat, kita bertanya barangkali ada diantara kita, “Saya tidak banyak berbuat dosa-dosa besar, apakah perlu taubat dan istighfar?” Hadits yang baru saja kita baca, sabda Rasulullah saw. Siapa beliau? Nabi SAW adalah orang yang tidak pernah berbuat dosa (ma’shum), tidak ada dosa besar tidak ada dosa kecil.
Beliau saw bersabda “Wallahi, inniy la astaghfirullah wa atubu ilaihi fil yaumi, aktsar min sab’in marrah.” Sungguh demi Allah, aku (Nabi saw) beristighfar kepada Allah mohon ampunan dosa setiap hari dan bertaubat setiap hari lebih dari 70X.
Ini manusia yang paling sempurna akhlaqnya kepada Allah SWT. Beliau (Nabi SAW) tidak pernah berbuat dosa tapi ingin berada di kelompok orang-orang yang bertaubat. Kenapa? Karena Firman Allah SWT, “Allah itu mencintai orang-orang yang bertaubat dan Allah SWT mencintai orang yang suka mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) Dengan istighfar dan taubat, itulah puncak kesucian antara makhluk dan Al-Khaliq.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
(Sabda Nabi SAW: ) Allah itu Indah dan Menyukai yang indah-indah, dan juga tidak menerima terkecuali yang indah. Apa maksudnya? Allah itu menyukai yang indah. Apa yang indah di Mata Allah? Tidak ada yang lebih indah daripada tuntunan Nabiyyuna Muhammad SAW. Tuntunan kebenaran inilah yang indah di sisi Allah. Allah itu Maha Indah, menyukai yang indah-indah dan tidak mau terima kecuali yang indah. Maksudnya apa? Allah tidak mau terima kalau ajaran daripada mereka yang di luar daripada ajaran Allah. Mereka yang mengaku Nabi, mereka yang mengaku Tuhan lain, hal seperti itu tidak diterima. Indah di mata manusia namun tidak indah di Mata Allah. Yang indah di Mata Allah adalah yang diajarkan oleh Allah SWT.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, diriwayatkan (dalam Mukasyifatul Quluub oleh Hujjatul Islam Al-Imam Ghazali) tentang indahnya seseorang yang bertaubat kepada Allah SWT. Ketika seorang maju ke hadapan Allah, lantas diputuskan baginya neraka karena dosanya lebih banyak daripada pahalanya. Ia harus kembali kepada tempat para pendosa, disucikan dahulu melewati pencucian yaitu api neraka. Kalau ia mempunyai pahala berarti ia seorang muslim. Harus lewat neraka dulu baru bisa sampai ke surga. Sampai di pintu neraka, sehelai bulu matanya menjerit kepada Allah, “Ya Rabb, aku ini pernah terbasahi air mata taubat dari hamba ini. Kau sudah janjikan kepada Nabi-Mu (Nabi saw) bahwa Kau tidak akan mengadzab mata yang menangis taubat kepada-Mu. Saat mengingat-Mu, aku ini terkena basahan air matanya, aku tidak mau masuk neraka,” kata sehelai bulu matanya. Maka Allah SWT menyelamatkan bulu mata dari tubuhnya, selamat ia dari api neraka. (Bukan hanya bulu matanya, tetapi orang itu yang diselamatkan. Ini adalah majaz, seperti “Si fulan belum kelihatan batang hidungnya”)
Maka berkatalah Jibril as “Fulan bin fulan ini selamat karena sehelai bulu matanya yang berdoa kepada Allah.” Kita lihat, sehelai bulu mata bisa berdoa, kalau bukan kehendak Allah, tidak bisa! Allah ingin menyelamatkan hamba itu maka berdoalah sehelai bulu matanya dengan izin Allah.
Hadits ini diperkuat riwayat Shahih Bukhari “Satu kelompok yang tidak akan disiksa oleh Allah adalah orang yang ketika mengingat Allah, mengalirlah air matanya.” Orang seperti ini dinaungi (dilindungi) oleh Allah di hari tidak ada naungan (perlindungan), selain naungan (perlindungan) Allah.
Hadirin hadirat, demikian indahnya Allah memanjakan mereka yang mengingat-Nya (Allah SWT), yang mensucikan dirinya dengan mengingat Allah hingga air matanya mengalir ketika menyebut Nama Allah SWT. Inilah yang mesti kita hidupkan kembali.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
para Imam kita yang terdahulu, mereka adalah Ahlush Sholah (orang-orang yang banyak berbuat baik), mereka banyak menangis. Tidak benar bahwa seseorang yang memiliki iman yang tegas itu tidak boleh menangis. Zaman sekarang orang berkata, “Kalau banyak menangis adalah seorang penakut atau orang yang berjiwa lemah.” Tidak juga. Siapa orang yang paling terkenal tegas di dalam Syariatul Muthaharah (Syari’atul Muthohharoh = ajaran syariah yang suci) adalah Sayyidina Umar bin Khattab ra. Terkenal paling tegas, paling ditakuti oleh para Sahabat di masanya. Tegas!! Tapi ternyata beliau itu paling banyak menangis. Hingga diriwayatkan di dalam Syi’bul Iman oleh Imam Al-Baihaqi dijelaskan bahwa, “Pada wajah Sayyidina Umar bin Khattab ra terdapat 2 garis hitam di kedua pipinya.” Garis membekas karena selalu mengeluarkan air mata tangis, ini di wajah Amirul Mu’minin Sayyiidna Umar bin Khattab ra. Menunjukkan orang yang tegas pada ummat ini bukan orang yang berjiwa keras, bukan orang yang berjiwa bengis. Tapi orang yang berjiwa rahmat bahkan sangat banyak menangis. Demikian keadaan mereka, di siang hari dalam tugas dan di malam hari dalam tangis dan munajat.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah,
sering-seringlah halalkan air matamu mengalir untuk mengingat Nama Allah dan jagalah panca indera kita semampunya. Jangan mengkhianati Sang Pemberinya (Allah Swt). Panca indera kita ini jangan dijadikan sebagai perantara atas hal-hal yang tidak disenangi oleh Sang Pemiliknya (Allah Jalla wa Alla). Ini hadirin, Majikan kita Yang Maha Tunggal, Yang Maha Abadi. Kalau kita berbuat kepada majikan kita dari kalangan manusia seperti berbuat kepada Allah, habislah kita, sudah diusirnya kita. Allah SWT memerintah, kita berpaling dari perintah-Nya di hadapan-Nya. Coba kalau majikan kita, lantas kita keluar dari perintahnya dan lantas membantahnya, bukan sekali namun terus berkali-kali. Dalam satu hari, sejak terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari, berapa kali kita menyalahi perintah Allah SWT?
Lalu apa latar belakang daripada semua ini yang diperbuat Allah? Ia (Allah SWT) tidak mencabut kenikmatan-Nya, Ia (Allah SWT) tidak mengangkat dan melemparkan kita ke dalam api neraka. Allah bersabar menanti taubat kita, menanti istighfar kita sampai detik-detik terakhir sakaratul maut kita. Allah menunggu bukan 1 atau 2 menit, berjam-jam, berhari-hari, mungkin bertahun-tahun. Demikian indahnya Yang Maha Indah (Allah Swt).
Hadirin hadirat, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul SAW duduk bersama para sahabat tercium bau yang sangat busuk. Para sahabat bertanya, “Bau apa ini? Busuk sekali,” Rasul SAW berkata, “Kalau mau tahu, inilah bau busuknya orang yang suka mengumpat orang-orang yang beriman, ini bau busuknya..” Juga riwayat lain dalam riwayat yang tsiqah, ketika Sayyidatuna Aisyah ra mengucapkan satu kalimat yang menghina salah seorang wanita lain maka berkata Rasul SAW, “Kalimatmu ini kalau ditumpahkan di lautan berubahlah warnanya dan buruk baunya.” Kenapa? karena mengumpat orang-orang yang beriman, orang-orang muslim.
Maka jagalah hati kita. Bagaimana kalau sudah terlanjur membicarakan aib orang lain? Doakan saja, Insya Allah dengan doa itu bisa menutupi kesalahan kita. Kalau ditagih nanti di hari kiamat, bisa dibalas dengan doanya. Bagaimana Rasul SAW mengajarkan? Ketika Rasul SAW berdoa, doa ini diajarkan kepada para sahabat ra. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, “Wahai Allah siapapun yang pernah aku caci, jadikan caciannya itu membuatnya semakin dekat kepada-Mu di hari kiamat.”
Hadirin, orang yang sudah kau caci, doakan. Jika tidak hafal bahasa arabnya, pakai hati kita, pakai lidah kita, kita berdoa kepada Allah SWT “Siapapun Rabbiy, yang pernah aku caci-maki sebelum ini, jadikan ia semakin dekat kepada-Mu.” Hadirin, inilah indahnya jiwa Nabiyyuna Muhammad SAW. Rasul SAW juga bersabda, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, agar kita selalu membenahi hari-hari kita dengan kalimat Laa Ilaaha illallaah.
Rasul saw bersabda, “Allah sudah haramkan api neraka untuk orang yang mengucap Laa ilaaha illallaah untuk mencari keridhoan Allah.” Kenapa? Kita sudah tahu, semua Muslim tidak menyembah selain Allah, kita tidak mengakui ada Tuhan yang layak disembah selain Allah. Akan tetapi hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, ucapan itu memperbaharui hubungan kita dengan Allah. Sebagaimana misalnya kita bicara dengan ibu kita, ini sudah tahu ini ibunda kita, bukan orang lain. Tapi kalau kita berkata, “Wahai Ibu, kau adalah ibuku, kau adalah satu-satunya ibuku, tentunya aku tidak akan mengaku orang lain sebagai ibuku kecuali engkau.” Tambah senang ibunya, padahal sudah jelas-jelas ini ibunya bukan orang lain. Tetapi ketika kalimat itu terucap, itu memancing kesenangan yang keluar dari cinta dan penghormatan. Demikian pula dan lebih dan lebih seseorang berkata “Laa ilaaha illallaah” Tiada Tuhan selain Allah. Itu didengar oleh Yang Maha Mendengar. Oleh sebab itu Allah SWT mengharamkannya dari api neraka.
Ketika Abu Hurairah ra bertanya kepada Rasul saw “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling cepat dan yang paling bahagia beruntung mendapat syafa’atmu di hari kiamat?” Rasul SAW menjawab, “Orang yang paling cepat dengan syafa’atku dan paling bahagia dengan syafa’atku adalah mereka yang mengucap Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya.” (Hatinya benar-benar mengakui dan sadar betul akan keesaan Allah, tidak berat hatinya dalam mengakui keesaan Allah). Kalimat itu membuka keridhoan Ilahi. Kalimat itu jika sering-sering diucapkan akan mengangkat jiwa kita pada puncak kemuliaan.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT memuliakan diri kita, memuliakan jiwa kita, memuliakan sanubari kita dengan kesucian Nama-Nya. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalali wal Ikram Ya Dzath thouli wal in’am, muliakan jiwa kami dan ruh kami dengan indahnya sujud, dengan indahnya munajat, dengan indahnya doa, Ya Rahman Ya Rahim muliakan jiwa kami dengan indahnya akhlaq, terangi kami dengan cahaya akhlaq Nabiyyuna Muhammad SAW, munculkan generasi-generasi yang mewarisi akhlaq Rasulullah SAW, Ya Dzal jalali wal ikram Ya Dzath thauli wal in’am. Tidak lupa kita berdoa untuk kemaslahatan muslimin-muslimat khususnya di bumi Jakarta dan sekitarnya dan juga di wilayah Irian Barat, semoga Allah SWT melimpahkan pertolongan dan hidayah kepada muslimin-muslimat di sana dan juga kepada santri-santri yang datang baru untuk ta’lim di Jakarta ini semoga Allah memberikan kepada mereka cahaya hidayah dan inayah menuntun mereka sebagai pembawa panji-panji dakwah Rasulullah SAW.
Ya Rahman Ya Rahim, tenangkan jiwa mereka, muliakan hari-hari mereka dan limpahkan atas mereka sakinah, juga atas Guru mereka KH. Ahmad Baihaqi, semoga dilimpahi keberkahan bersama tamu-tamu kita yang datang dari Makassar, semoga dilimpahi keberkahan untuk semua yang berjuang menegakkan da’wah Nabiyyunaa Muhammad SAW. Rabbiy, pandanglah jiwa kami, Wahai Yang Maha Bercahaya, Wahai Yang Maha Menerangi Jiwa, Wahai Yang Maha Melimpahkan Kebahagiaan, Wahai Yang Maha Menerbitkan kemakmuran,
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laa ilaaha illallaah
Laa ilaaha illallaah
Laa ilaaha illallaah
Muhammadur rasulullah
Hadirin yang saya sampaikan terakhir, malam Sabtu yang akan datang saya mohon doa karena kita akan berangkat ke Denpasar, Bali untuk mengadakan Tabligh. Sebagaimana biasa Tabligh per 3 bulan dari wilayah Klungkung, Karangasem dan lainnya akan bersatu di Denpasar, Bali. Oleh sebab itu mohon doa semoga acara sukses. Karena acara banyak juga dihadiri oleh para pimpinan dan tokoh-tokoh dari agama Hindu. Mereka hadir dan kita berdoa semoga Allah melimpahkan hidayah untuk mereka dan banyak Muslimin-Muslimat di wilayah Bali yang dikenal juga wilayah yang paling banyak permasalahannya antara Muslimin dan non-Muslim. Semoga menjadi kedamaian dan menjadi sebab terbukanya gerbang hidayah bagi kita bagi Muslimin-Muslimat di sana. Demikian dan hari Sabtu saya sudah kembali Insya Allah. Malam minggu kita kembali mengadakan Tabligh Akbar sekaligus ziarah, cuma saya mohon kepada para pemuda jangan melintasi lampu merah, dan ini sudah disampaikan pada bulan yang lalu, jangan sampai kita menutup jalan untuk masyarakat. Pertama-tama memang hanya 10, 20 namun sekarang sudah ratusan yang konvoi. Jangan sampai melanggar rambu-rambu lalu-lintas, karena kita ingin masyarakat suka pada kita. Bukannya ingin menunjukkan bahwa kita mempunyai kekuatan, sungguh bukan itu akhlaq kita. Tetapi kita ingin masyarakat yang melihat senang melihat para pemuda yang tertib. Demikian hadirin, jagan menyingkirkan orang-orang yang di jalanan untuk kita lewat, jangan begitu.. Biarkan orang-orang lewat, ambil satu jalan saja, jangan ambil dua jalan, tetapi satu jalan saja dengan tertib, itu adalah da’wah. Dan hal itu menggembirakan hati Rasulullah SAW. Kalau kita tertib, orang-orang akan senang. Ini anak-anak muda betul-betul mengikuti akhlaqnya Rasul SAW.
Ini yang kita harapkan, nanti mereka senang dan mereka ikut hadir juga, mereka mendapat hidayah juga. Kalau tidak tertib, sebaliknya, nanti orang-orang akan melihat (dan berkata) akhlaq-akhlaq yang begini akan merusak, makin banyak yang begini makin rusak negara kita. Seperti itu nanti (ucapan mereka), oleh sebab itu jaga ketertiban. Tujuan konvoi adalah memperlihatkan kepada masyarakat bahwa pemuda Muslimin-Muslimat berakhlaq mulia, berakhlaq Nabiyyuna Muhammad SAW. Dan bahwa kita di malam minggu tidak kumpul ngebut-ngebutan, tidak memenuhi diskotik dan kafe, namun kita berziarah, kita berdzikir dan bershalawat. Semoga Allah jadikan malam itu malam yang bercahaya dengan cahaya ibadah. Demikian hadirin hadirat.
Kita doakan juga para tamu kita, Wakil Ketua MPR Bapak AM Fatwa semoga dilimpahi rahmat dan keberkahan oleh Allah SWT, semoga dimuliakan dan didukung perjuangannya dan juga kedua mempelai kita yang baru saja menikah semoga dilimpahi keberkahan, juga KH. Ahmad Baihaqi dan santri-santri beliau semoga dilimpahi keberkahan oleh Allah SWT dan para tamu kita.
Wa shollallohu ‘ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.
Wassalamu ’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh.
(Ceramah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa di Masjid Al-Munawar, 27 Oktober 2008)
Tinggalkan Balasan ke Muhammad Batalkan balasan