Demi bintang ketika turun (di waktu fajar), kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) [QS. An-Najm: 1-4]
Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. [QS. Al-Waqi’ah: 75]
Sebagian mufassir menafsirkan “An-Najm” (bintang) dalam ayat-ayat di atas sebagai Al-Qur`an. Dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Nabi Muhammad. “An-Najmu idzaa Hawaa” dapat bermakna “Demi Al-Qur`an ketika diturunkan,” atau “Demi Nabi Muhammad ketika diutus”. Kita semua tahu bahwa bintang itu ‘terbenam’ atau ‘turun’ ketika fajar. Dan Nabi Muhammad pun lahir ketika fajar.
Adapun “Mawaqi’in Nujuum” dapat bermakna “Tempat diturunkannya ayat-ayat Al-Qur`an” atau tempat awal Nabi Muhammad mengajarkan risalah-risalahnya, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua kota ini adalah kota suci yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal.
Mengapa Al-Qur`an atau Nabi Muhammad dikiaskan dengan “Bintang”? Karena, jika kita tengah berjalan di malam yang gelap gulita, baik itu di darat mau pun di laut, dan kita tidak tahu arah selatan atau pun utara, tidak tahu barat mau pun timur, maka yang kita butuhkan adalah petunjuk dari letak bintang-bintang.
Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl: 16]
Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. [QS. Al-An’am: 97]
Al-Qur`an dan Nabi Muhammad adalah bintang yang kita butuhkan ketika kita tengah berada dalam zhulumat, kegelapan hati, ketika kita tak tahu lagi mana jalan yang lurus. Ketika kita tengah diliputi oleh kezhaliman dan kegelapan dosa, yang kita butuhkan adalah petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur`an dan sunnah beliau SAW. Jalan beliau SAW adalah jalan yang lurus.
Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus. [QS. Yaa Siin: 3-4]
Maka barangsiapa mengikuti thoriqotun Nabi, jalannya sang Nabi, sunnah sang Nabi, maka dia berada pada jalan yang lurus, jalan yang selamat. Inilah jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Adapun mereka yang menolak dan menafi’kan sunnah sang Nabi, maka mereka adalah orang-orang yang tak ingin masuk ke dalam surga. Barangsiapa tak ingin masuk surga, maka dia tak dapat berjumpa dengan Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang dalam kelembutan-Nya yang agung. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mengikuti sunnah sang Nabi dan terhindar dari sunnah-sunnah ummat-ummat terdahulu yang dimurkai Allah dan sesat.
Ya Allah, ya Rohman, ya Rohim, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orangtua kami. Aamiin.
Tinggalkan Balasan