Penulis: adminSN

  • Laa Takhof wa Laa Tahzan

    Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. [QS. Al-Baqarah: 38]

    Allah telah mengirim Nabi Adam ke bumi untuk menjadi khalifah-Nya. Namun Allah berjanji akan memberi petunjuk melalui malikat-Nya agar Adam dan keturunannya dapat menjalankan tugas mereka sebagai hamba dan khalifah Allah dengan sukses dan meraih kemenangan. (lebih…)

  • Laa Takhof wa Laa Tahzan

    Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. [QS. Al-Baqarah: 38]

    Allah telah mengirim Nabi Adam ke bumi untuk menjadi khalifah-Nya. Namun Allah berjanji akan memberi petunjuk melalui malikat-Nya agar Adam dan keturunannya dapat menjalankan tugas mereka sebagai hamba dan khalifah Allah dengan sukses dan meraih kemenangan.

    Kebahagiaan

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Baqarah: 277]

    Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Ali Imran: 170]

    Mario Teguh, seorang motivator terkenal, merumuskan kebahagiaan sebagai tidak adanya ketidak-bahagiaan. Apa yang beliau maksud dengan ketidak-bahagiaan? Ketidak-bahagiaan yang beliau maksud adalah keadaan di mana hadir rasa khawatir dan atau rasa takut.

    Al-Khauf, ketakutan dan kekhawatiran, merupakan penghalang bagi seseorang dari mengambil tindakan. Ketakutan yang berlebihan akan mengalahkan keyaqinan seseorang untuk sukses. Bahkan al-khauf yang tidak pada tempatnya dapat membuat seseorang lupa kepada janji-janji Allah. Bahkan boleh dikatakan meragukan janji-janji Allah.

    Misalnya seseorang enggan berbagi dengan sesama karena takut menjadi miskin. Maka Allah berfirman dalam hal ini:

    Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 268]

    Setan sering membisikkan ke dalam hati orang-orang yang ingin bersedekah dengan berkata, “Janganlah kau sedekahkan hartamu, nanti kau akan menjadi miskin!” Tetapi Allah menguatkan kita dan berfirman, “Sedekahkanlah, maka Aku mengampunimu dan memberimu karunia yang luas.”

    Begitulah sikap orang-orang beriman. Mereka selalu melihat segala hal dari sisi positif. Mereka menjadikan bantahan terhadap mereka sebagai penguat pendirian mereka. Semakin mereka dibantah, semakin kuat pendirian mereka.

    (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Al-Wakil.” [QS. Ali Imran: 173]

    Orang beriman yang penuh keyaqinan kepada Allah tidak akan takut atau pun gentar menghadapi perang-kejiwaan yang dilontarkan kepada mereka. Justeru mereka bertambah yaqin kepada Allah dan semakin menyerahkan diri mereka untuk diatur oleh Allah, Rasul-Nya dan pemimpin mereka yang sah.

    Menggapai Kebahagiaan

    Setiap hari kita mendengarkan adzan setidaknya sebanyak lima kali. Dalam adzan ada lafazh “Hayya ‘alal falah”. Al-Falah dapat berarti kemenangan, kesuksesan, kebahagiaan, kejayaan, keberhasilan, dsb. Bagaimana menggapainya?

    Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [QS. Al-‘Ashr]

    Merugilah manusia yang telah diberikan waktu dan kehidupan, namun tidak memanfaatkannya di jalan kebaikan dan kebenaran. Hanya orang-orang yang mengisi kehidupannya dalam optimisme, beramal shalih, bekerja dan berusaha dengan baik dan benar, kemudian saling menguatkan, saling memotivasi kepada jalan kebenaran serta memotivasi untuk tetap sabar dan setia pada kebaikan, itulah yang menggapai kebahagiaan haqiqi. Kebahagiaan yang lebih besar dari sekedar materi dunia dan seisinya. Karena orang yang tetap sabar dalam kebaikan akan memperoleh tidak hanya materi atau pun dunia dan segala isinya, tetapi juga nilai-nilai, hal-hal immateril, segala apa yang terkandung dalam jiwa yang luhur, serta menjadi dekat dengan Allah. Orang yang setia kepada kebaikan haqiqi akan menjadi kekasih Allah SubhanaHu wa Ta’ala. Inilah kebahagian seajti yang abadi.

    Tauladan

    (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah: 7]

    Di dunia ini begitu banyak manusia dengan segala macam sifat dan keadaannya. Di antara mereka ada yang sukses dan disukai banyak orang, namun juga ada yang rusak, menjadi sampah masyarakat, dan dibenci banyak orang. Lihatlah kedua type itu!

    Jika Anda bertemu dengan orang sukses, katakanlah, “Dia orang sukses, dan saya akan menjadi seperti dia jika saya mengikuti langkah-langkah yang ditempuhnya.”

    Jika Anda bertemu dengan orang gagal, katakanlah pada diri Anda, “Dia orang yang gagal, dan saya akan menjadi seperti dia jika saya mengikuti langkah-langkah yang ditempuhnya.”

    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Yunus: 62]

    Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisa`: 69]

    Petunjuk Itu

    Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Al-Baqarah: 1-5]

    Al-Qur’an adalah kitab yang lebih hebat dari Science of Getting Rich, Seven Habits, dan buku-buku yang sejenis. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan kesuksesan dunia, tetapi kesuksesan dunia dan akhirat. Tinggal Anda mau mengikutinya atau tidak.

    Ikuti Petunjuk Itu!

    Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-An’am: 48]

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-A’raf: 35]

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

    Semakin kita mengikuti langkah-langkah mereka, semakin kebiasaan mereka juga menjadi kebiasaan kita, maka semakin kita menjadi dekat dengan Allah. Juga semakin keputusan dan perbuatan kita menjadi tepat sesuai yang disukai serta diridhoi Allah. Pada saat itu, apa yang kita fikirkan, kita ucapkan, dan kita perbuat akan semakin memancarkan citra Ilahi.

    Dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah SAW telah bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman : “Barangsiapa yang memusuhi wali-wali-Ku, sesungguhnya Aku menyatakan perang ke atasnya. Dan tidaklah seorang hamba itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Ku cintai melainkan dengan apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Berterusanlah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan mengerjakan (amalan-amalan) nawafil (sunnah) hinggalah Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dengannya ia melihat dan tangannya yang dengannya ia memegang dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengurniakannya dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.” (HQR. Imam Al-Bukhari)

    Wakilkan Kepada Allah

    Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. [QS. Al-Baqarah: 286]

    (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [QS. Al-Baqarah: 112]

    Jika Anda khawatir tidak dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada Anda, atau Anda khawatir akan gagal dalam suatu hal, maka hilangkan kekhawatiran itu. Kerjakan saja apa yang mampu Anda kerjakan, lalu serahkan apa yang tidak mampu Anda kerjakan kepada Allah. Berusaha itu urusan kita, sedangkan hasil itu urusan Allah. Kerjakan urusan kita, dan biarkan Allah mengurus urusan-Nya. Jika kita berusaha dan menyerahkan diri kepada Allah, maka tidak ada kekhawatiran dalam diri kita dan tidak pula kesedihan. Karena kita yaqin bahwa kita telah berusaha sebaik mungkin yang kita mampu. Dan kita akan siap menerima segala ketentuan dari Allah Yang Mahakuasa. Dan Allah akan memberi kita balasan atas usaha baik kita, apakah di dunia ini maupun di akhirat kelak.

    Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. [QS. Al-Mu`min: 44]

    Istiqomah

    Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. [QS. Al-Ahqaf: 3]

    Sesungguhnya Al-Qur`an itu mengajarkan banyak kebaikan dan memastikan pengikutnya yang istiqomah untuk sukses dunia dan akhirat. Mario Teguh sering menggunakan istilah ‘setia kepada kebaikan’ sebagai ganti istilah ‘istiqomah’. Karena istiqomah dalam Islam tentu saja bukan teguh di dalam kesesatan, tetapi teguh dalam mengikuti kebaikan-kebaikan yang diajarkan Al-Qur`an. Teguh dalam mengikuti langkah-langkah para Nabi, para wali, para shiddiqiin (orang-orang benar), shalihin (orang-orang shalih), dan syuhada (orang-orang yang mati dalam membela dan mempertahankan ajaran kebaikan, yaitu Islam).

    Mari Pelajari dan Amalkan!

    Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [QS. Fathir: 29]

    Marilah kita mengkaji Al-Qur`an dan Al-Hadits! Yaqinlah bahwa Al-Islam adalah ajaran yang sempurna! Selamatlah manusia yang mengamalkannya dengan keimanan kepada Allah; selamat di dunia, juga di akhirat. Tidak ada alasan yang masuk aqal untuk meninggalkan ajaran ini.

    Marilah kita berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasul! Sungguh, Rasulullah telah menyuruh kita untuk memegang Al-Qur`an dengan erat melalui perkataannya, “Gigitlah Al-Qur`an dengan gigi gerahammu.” Dan bersabarlah dalam berjalan menuju Allah. Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam menuju Allah, maka Allah tunjukkan jalan-Nya yang lurus. Maka janganlah kita berputus asa.

    (Ya’qub berkata: ) “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [QS. Yusuf: 87]

    ><><><><><><><
    Saksikan Mario Teguh di O Channel
    Setiap Kamis pukul 21:00, Sabtu pukul 20:00, dan Ahad pukul 13:00
    Lalu perhatikan betapa sesuainya ajaran Islam dengan apa yang diajarkan oleh para motivator di abad ini.
    Allah telah menyuruh kita untuk memperhatikan dan menggunakan aqal-fikiran kita. Maka perhatikanlah, dan temukanlah bukti-bukti kebenaran Islam.

  • Jangan Lemah Hatimu!

    Saudara-saudariku, janganlah lemah hatimu menghadapi kaum puritan dan non-Muslim! Tindakan Anda meluruskan para penyempal adalah baik. Allah menyertai Anda sekalian. Ketahuilah bahwa kita memang perlu meluruskan dan menyadarkan mereka, serta berusaha menyelamatkan mereka dari firqah (sempalan) yang membawa mereka ke neraka.

    Diantara firqah yang ghuluw (ekstrim) itu adalah Salafy. Salafy bukan hanya menyempal dari Al-Jama’ah. Saat ini, salafy juga membawa pengikutnya kepada perpecahan di antara mereka. Salafy ada yang pro khawarij, ada yang pro IM. Ada yang pro Luqman (Semarang), ada yang pro Abduh ZA. Di antara aktivis Hizbut Tahrir juga ada yang membuat kelompok lagi bernama Al-Muhajirun dengan pemikiran yang agak berbeda dari Hizbut Tahrir.

    (lebih…)

  • Masjid, Maulid, dan Tahlilan

    Lokasi Membangun Masjid

    Dalam kitab Iqtidho-ush Shirothol Mustaqim Mukholafata Ash-habil Jahim, yang diterjemahkan Abu Fudhail dengan judul Jalan Islam Versus Jalan Setan (selanjutnya JIVJS), diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan pada Oktober 2001, halaman 175-176, Ibnu Taymiyah mengutip riwayat Imam Ahmad dari Sayidina Ali ra, berkata: “Beliau SAW tidak suka shalat di negeri Babilon dan negeri yang telah dimusnahkan (melalui adzab)”. (lebih…)

  • Jangan Lemah Hatimu!

    Saudara-saudariku, janganlah lemah hatimu menghadapi kaum puritan dan non-Muslim! Tindakan Anda meluruskan para penyempal adalah baik. Allah menyertai Anda sekalian. Ketahuilah bahwa kita memang perlu meluruskan dan menyadarkan mereka, serta berusaha menyelamatkan mereka dari firqah (sempalan) yang membawa mereka ke neraka.

    Diantara firqah yang ghuluw (ekstrim) itu adalah Salafy. Salafy bukan hanya menyempal dari Al-Jama’ah. Saat ini, salafy juga membawa pengikutnya kepada perpecahan di antara mereka. Salafy ada yang pro khawarij, ada yang pro IM. Ada yang pro Luqman (Semarang), ada yang pro Abduh ZA. Di antara aktivis Hizbut Tahrir juga ada yang membuat kelompok lagi bernama Al-Muhajirun dengan pemikiran yang agak berbeda dari Hizbut Tahrir.

    Dengan demikian, maka jelaslah bahwa firqah-firqah ini tidak bisa disebut sebagai firqatun najiyah, kelompok yang selamat. Karena kelompok yang selamat ini tidak menamakan diri mereka dan tidak pula memiliki sifat kecuali dengan nama dan sifat yang digambarkan Rasulullah SAAW.

    Kelompok yang selamat ini adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Siapa itu Ahlus Sunnah? Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAAW dan para shahabat beliau SAAW. Sedangkan Al-Jama’ah adalah kelompok yang terbesar dari kaum Muslimin. Maka tidak bisa disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka yang membentuk kelompok-kelompok kecil dan membid’ahkan apa-apa yang memang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAAW dan para shahabatnya.

    Maka kuatkan hati Anda, dan mohonlah pertolongan Allah dalam menghadapi kaum muda yang lemah aqal itu! Mereka memang pandai membaca Al-Qur’an dan bahkan menghafalnya. Namun Al-Qur’an itu hanya di lisan mereka dan tak sampai masuk kecuali sebatas ke kerongkongan mereka.

    Kuatkan pula hati Anda dalam menghadapi non-Muslim yang coba menafsirkan Al-Qur`an dan hadits semau mereka. Sabarlah dalam menghadapi ocehan-ocehan mereka. Ingat, tidak semua ocehan mereka perlu ditanggapi. Jangan menghabiskan energi Anda untuk menanggapi mereka. Perbanyaklah doa, untuk kita, untuk saudara-saudara kita yang menyempal, dan untuk mereka yang mengingkari atau menyekutukan Allah Yang Mahaesa. Ya Allah, berikanlah kami hidayah akan jalan lurus. Aamiin.

  • Masjid, Maulid, dan Tahlilan

    Lokasi Membangun Masjid

    Dalam kitab Iqtidho-ush Shirothol Mustaqim Mukholafata Ash-habil Jahim, yang diterjemahkan Abu Fudhail dengan judul Jalan Islam Versus Jalan Setan (selanjutnya JIVJS), diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan pada Oktober 2001, halaman 175-176, Ibnu Taymiyah mengutip riwayat Imam Ahmad dari Sayidina Ali ra, berkata: “Beliau SAW tidak suka shalat di negeri Babilon dan negeri yang telah dimusnahkan (melalui adzab)”.

    Maka jelaslah, menurut Ibnu Taymiyah, membangun Masjid di tempat yang pernah turun siksa padanya merupakan perbuatan bid’ah. Dan masuk ke dalam Masjid yang dibangun dengan bid’ah adalah haram. Sama hukumnya dengan Masjid Dhiror.

    Namun membangun Masjid di tempat yang dulunya pernah terjadi ma’siat tetapi tidak sampai turun adzab adalah dibolehkan. Misalnya mengubah Gereja menjadi Masjid. Bahkan Masjid Nabawi dibangun di atas tanah bekas kuburan orang musyrik.

    Bentuk Masjid

    Bentuk Masjid yang dibangun Rasulullah SAAW pada awalnya berbeda dengan Masjid yang dibangun saat ini. Lantainya tidak menggunakan marmer atau pun karpet. Atapnya juga tidak berkubah. Bentuk Masjid berkembang hingga menjadi bentuknya yang sekarang ini setelah bersentuhan dengan kebiasaan bangsa ajam (non-Arab).

    Adab Memasuki Masjid

    Dalam JIVJS halaman 333, Ibnu Taymiyah berkata: “Allah juga memerintahkan kita untuk shalat mengenakan sandal, untuk membedakan diri kita dari orang-orang Yahudi.”

    Ummat nabi Musa hanya boleh sholat di dalam Baitullah. Dan mereka harus melepaskan terompah mereka sebelum masuk ke Bait Allah. Sedangkan ummat nabi Muhammad boleh sholat di mana saja, namun ada tempat-tempat tertentu yang makruh bahkan haram shalat di situ. Dan Nabi telah shalat dengan mengenakan terompahnya. Sedangkan beliau adalah uswatun hasanah.

    Perayaan

    Merayakan merupakan perbuatan mengistimewakan suatu peristiwa. Peristiwa yang biasa dirayakan itu antara lain adalah peristiwa proklamasi kemerdekaan, berdirinya suatu partai (milad partai), kelahiran seseorang, pernikahan, dsb. Semua itu umum dirayakan orang. Adapun peristiwa istimewa dalam suatu agama juga biasa dirayakan oleh masing-masing pemeluknya pada hari raya keagamaan mereka.

    Dalam Islam juga ada hari-hari tertentu yang memiliki nilai sejarah atau pun keistimewaan. Misalnya hari Senin, hari dimana Nabi Muhammad SAAW dilahirkan. Begitu juga hari Jum’at (hari keenam), hari dimana Nabi Adam diciptakan. Tanggal 10 Muharram, hari dimana Nabi Musa diselamatkan dari Fir’aun dan tentaranya. Tanggal 1 Syawal dan 10-13 Dzul Hijjah juga umum dirayakan oleh ummat Islam tiap tahunnya.

    Dalam JIVJS halaman 335, Ibnu Taymiyah menulis, “Sesungguhnya ‘id (hari besar) yang disyari’atkan itu meliputi ibadah yang tercakup di dalamnya, yakni: shalat, dzikir, sedekah atau penyembelihan hewan. Maka terpadulah di sana antara adat/kebiasaan seperti memberikan kelonggaran dalam makan minum dan berpakaian diiringi dengan meninggalkan pekerjaan wajib (misalnya larangan puasa pada ‘idain, hari tasyriq dan hari Jum’at secara sendiri -adm.), diperbolehkannya bersuka-ria dengan beraneka ragam permainan yang diperbolehkan di hari raya dan lain-lain… Dalam hari-hari raya, disyariatkan beberapa bentuk ibadah -wajib maupun sunnah- yang tidak disyariatkan pada hari-hari lain. Pada hari-hari raya itu juga diperbolehkan atau disunnahkan bahkan diwajibkan beberapa kebiasaan yang bisa menghibur perasaan yang tidak disyariatkan di hari-hari lain. Oleh sebab itu, dilarang untuk shaum pada ‘idain (Idul Fithri dan Idul Adh-ha). Dalam Idul Fithri dikaitkan dengan ibadah lain, yakni bersedekah (zakat fithroh). Sementara dalam Idul Adh-ha dikaitkan dengan ibadah penyembelihan (udh-hiyah). Keduanya berkaitan dengan makanan.”

    Maka jelaslah bahwa melonggarkan dalam hal makanan dan minuman untuk merayakan hari istimewa merupakan hal yang dibolehkan, bahkan sunnah. Bahkan dianjurkan bagi ummat Islam untuk memasak daging setiap hari Jum’at.

    Merayakan Maulid

    Maulid telah dirayakan juga pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi. Di berbagai negeri, maulid telah dirayakan oleh mayoritas kaum Muslimin. Hingga datang suatu makhluq dari tempat timbulnya tanduk setan, Nejd. Lalu makhluq itu diikuti oleh minoritas kaum Muslimin yang menyempal dari Jama’ah yang hingga saat ini terus menimbulkan firqoh-firqoh baru yang lebih kecil.

    Diantara mereka ada yang berkata, “Apakah nabi atau pun shahabat merayakan Maulidur Rasul?”

    Maka kita jelaskan kepada mereka bahwa Nabi SAAW mengistimewakan hari lahirnya SAAW, sebagaimana beliau SAAW mengistimewakan hari diselamatkannya Nabi Musa as. Nabi berpuasa pada hari Senin sebagaimana Nabi berpuasa pada 10 Muharram, hari di mana Nabi Musa diselamatkan.

    Tentang keistimewaan hari lahir Nabi saw, terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah saw: “Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah saw menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]

    Maka merayakan dan bergembira atas lahirnya Rasul bukanlah perkara baru yang ditambah-tambahkan. Bahkan Allah menyuruh kita untuk bergembira atas karunia dari-Nya. Lahirnya Rasulullah adalah termasuk karunia terbesar bagi kita. Maka sunnahnya merayakan kelahiran Rasul tidak bisa dibantah hanya dengan perkataan ustadz-ustadz ekstrim. Agama kita bukanlah agama ‘qola ustadz’, tetapi ‘Qolallahu wa qolarrasul’. Dan tidak pernah Allah atau pun Rasul-Nya menyuruh kita untuk bersedih atas wafatnya Rasul kelak.

    Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [QS. Yunus: 58]

    Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya: 107]

    Mereka berkata, “Tetapi bentuknya berbeda dengan cara Nabi.”

    Kita jelaskan kepada mereka bahwa tidak ada aturan khusus dalam hal ini. Sehingga bentuknya bebas, selama tidak mengandung kema’siatan. Dan acara perayaan maulid tidak terpaku pada tanggal 12 Rabi`ul Awwal. Bahkan di Masjid Al-Munawar Pancoran, Jakarta Selatan, pembacaan riwayat maulidur Rasul dilakukan setiap Senin malam tiap minggunya sepanjang tahun. Karena mereka begitu gembira atas kelahiran Nabiyur Rohmah SAAW.

    Lalu tanyakan kepada mereka, “Apakah Nabi pernah membangun Masjid?” Tentu mereka membenarkan bahwa Nabi pernah membangun Masjid. Maka membangun Masjid dan merayakan maulidur Rasul adalah dua hal yang telah dilakukan Rasul.

    Tanyakan lagi kepada mereka, “Apakah bentuk Masjid yang dibangun Rasul itu seperti yang umum dibangun saat ini?” Maka mereka akan mengatakan bahwa bentuk Masjid sekarang ini berbeda dengan bentuk Masjid di zaman Rasul.

    Jelaskan kepada mereka bahwa perbedaan bentuk Masjid tersebut juga telah menyebabkan perbedaan dalam hal adab memasuki Masjid. Jika dahulu seseorang shalat dengan tetap mengenakan terompah, sekarang kita sholat dengan meletakkan terompah di luar Masjid seperti yang dilakukan Musa di lembah suci Thuwa. Lalu tanyakan kepada mereka, “Apakah membangun Masjid dengan bentuk yang sekarang dan melepaskan terompah di luar Masjid merupakan perbuatan bid’ah dholalah?” Jika mereka menjawab, “tidak,” maka jelaskan kepada mereka bahwa merayakan maulidur Rasul dengan bentuknya yang sekarang bukanlah bid’ah dholalah.

    Sepertinya, tidak mungkin mereka menyatakan bahwa melepaskan terompah di luar Masjid itu bid’ah dholalah karena menyelisihi sunnah Rasul dan meniru Yahudi. Dan tidak mungkin mereka menyatakan bahwa membangun Masjid dengan bentuknya yang sekarang adalah bid’ah dholalah dengan alasan tidak dicontohkan Rasul, meniru adat/kebiasaan non-Muslim, dan menimbulkan bid’ah lainnya. Karena, jika mereka menyatakan demikian, katakan saja kepada mereka, “Mengapa kalian tidak mengenakan saja terompah kalian di dalam Masjid? Mengapa tidak kalian hancurkan saja kubah-kubah dan lantai-lantai marmer Masjid yang kalian klaim tasyabbuh kepada bangunan non-Muslim? Mengapa kalian tetap shalat di dalamnya, sedangkan menurut kalian Masjid-Masjid sekarang dibangun atas dasar bid’ah dan bukan atas dasar taqwa?”

    Maka jelaslah bahwa merayakan maulidur Rasul dengan bentuk berkumpul di Masjid atau suatu tempat, dengan membaca shalawat, Al-Qur’an, Hadits, riwayat kelahiran Rasul SAAW bukanlah bid’ah dholalah. Berlonggar dalam hal makanan dan minuman pada perayaan Maulid bukanlah bid’ah dholalah. Menghadirinya bukanlah perbuatan bid’ah dholalah. Menabuh tabuhan dan berqoshidah/bernasyid dalam perayaan Maulid bukanlah bid’ah dholalah. Karena yang demikian itu adalah bentuk kegembiraan yang diperbolehkan dalam perayaan.

    Tahlilan

    Tahlilan yang kami maksud di sini tentulah perbuatan di mana orang-orang berkumpul di suatu tempat, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahlil, shalawat dan sebagainya yang kemudian pahalanya dihadiahkan bagi orang-orang yang sudah wafat.

    Perbuatan mengirim hadiah pahala telah dicontohkan pada zaman Rasul, shahabat dan tabi’in. Mayoritas ulama sepakat atas kebolehannya dan sampainya. Ada pun bentuknya yang berbeda, tidaklah menjadikannya sebagai perbuatan bid’ah dholalah. Karena tidak ada larangan untuk berjama’ah dalam mengirim hadiah pahala ini, dan memang tetap sampai walau yang menghadiahkan itu bukan keluarganya.

  • NII, Al-Qaida, JI

    Berikut wawancara bersama panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib terkait kerusuhan di Poso:

    Ustadz mungkin bisa sedikit cerita tentang awal konflik Poso sampai tertangkapnya DPO (daftar pencarian orang) kemarin..?

    Ustadz : Saya akan sampaikan di sini sebatas apa yang saya ketahui yaitu dari sisi pandangan ideologis tentang pemahaman yang menjadi dasar untuk kemudian orang-orang di bawah pengaruh Abu Bakr Ba’asyir ini melakukan tindakan-tindakan pengacauan di Poso.
    Kami datang di Poso pertama kali dengan bendera Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada tahun 2001, kami datang ke Poso dengan permintaan dari kaum muslimin di Poso, tokoh-tokoh muslimin di Poso yang terus menerus menghubungi kami untuk meminta kedatangan kami di sana.

    Bisa di sebutkan siapa saja dari tokoh muslimin yang menghubungi Ustadz untuk meminta Ustadz datang ke sana. (lebih…)

  • NII, Al-Qaida, JI

    Berikut wawancara bersama panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib terkait kerusuhan di Poso:

    Ustadz mungkin bisa sedikit cerita tentang awal konflik Poso sampai tertangkapnya DPO (daftar pencarian orang) kemarin..?

    Ustadz : Saya akan sampaikan di sini sebatas apa yang saya ketahui yaitu dari sisi pandangan ideologis tentang pemahaman yang menjadi dasar untuk kemudian orang-orang di bawah pengaruh Abu Bakr Ba’asyir ini melakukan tindakan-tindakan pengacauan di Poso.
    Kami datang di Poso pertama kali dengan bendera Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada tahun 2001, kami datang ke Poso dengan permintaan dari kaum muslimin di Poso, tokoh-tokoh muslimin di Poso yang terus menerus menghubungi kami untuk meminta kedatangan kami di sana.

    Bisa di sebutkan siapa saja dari tokoh muslimin yang menghubungi Ustadz untuk meminta Ustadz datang ke sana. (lebih…)

  • Surat Al-Ikhlash Memurnikan Tauhid

    Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. [QS. Al-Ikhlash]

    Asbabun Nuzul

    Dalam riwayat Abu Syaikh dari Aban dengan sanad Anas, mengatakan bahwa kaum Yahudi Khaibar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Hai Abul Qosim! Allah telah menjadikan malaikat dari cahaya hijab, Adam dari tanah liat, Iblis dari api yang menjulang, langit dari asap/kabut dan bumi dari buih air. Sekarang, coba jelaskan kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat Al-Ikhlash untuk menanggapi pertanyaan mereka.

    (lebih…)

  • Hadits Taqdir

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah saw, seorang yang benar serta dipercayai bersabda: “Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Ketika genap empat puluh hari kedua terbentuklah segumpal darah beku. Ketika genap empat puluh hari kali ketiga bertukar pula menjadi segumpal daging. Kemudian Allah SWT mengutuskan malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara yaitu ditentukan rezeki, tempo kematian, amalan serta nasibnya apakah mendapat kecelakaan atau kebahagiaan. Maha suci Allah SWT di mana tiada tuhan selainNya. Seandainya seseorang itu melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Syurga sehinggalah kehidupannya hanya tinggal sehasta dari tempo kematiannya, tetapi disebabkan ketentuan taqdir niscaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Neraka sehinggalah dia memasukinya. Begitu juga dengan mereka yang melakukan amalan ahli Neraka, tetapi disebabkan oleh ketentuan taqdir niscaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Syurga sehinggalah dia memasukinya. [HR. Bukhori dan Muslim]

    (lebih…)