Penulis: adminSN

  • Embriologi dalam Al-Qur`an

    Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging(mudhghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (QS. Al-Mu`minuun 23: 12-14)

    Kata `alaqah memiliki 3 arti, yaitu lintah atau sesuatu yg menghisap darah, sesuatu yang menggantung, segumpal darah. Ketiga arti ini menurut Prof. Keith Moar ternyata sesuai dengan tahapan pertumbuhan embrio.

    Lintah

    Menurut Prof Keith Moar (Pakar Embriologi kristen terbaik diwaktunya) selain mirip lintah, embrio juga berperilaku seperti lintah yaitu mengisap darah ibunya.
    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image003.jpg

    Sesuatu yang Menggantung

    Ini embrio berumur sekitar 15 hari.
    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image004.jpg
    Kita dapat melihat, pada gambar di atas, penggantungan dari suatu embrio sepanjang tahapan alaqah di dalam kandungan ibu.

    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image005.jpg
    Pada photomicrograph ini, kita dapat lihat penggantungan dari suatu embrio (yang ditandai B) sepanjang tahapan alaqah (pada usia sekitar 15 hari) di dalam kandungan ibu. Ukuran embrio sesungguhnya adalah sekitar 0.6 mm.

    Segumpal Darah

    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image006.jpg
    Gambar dari sistem cardiovasculer primitif di dalam suatu embrio sepanjang tahapan alaqah. Penampilan eksternal embrio dan kantungnya itu serupa dengan segumpal darah, dalam kaitan dengan kehadiran sejumlah darah yang besar yang hadir di embrio itu.

    Tahapan Mudhghah

    Mudhghoh berarti segumpal daging, sesuatu yang dapat dikunyah. Jika kita mengambil sepotong permen karet (gum) dan mengunyahnya dalam mulut kita dan kemudian membandingkannya dengan suatu embrio pada tahapan mudghah, kita akan menyimpulkan bahwa embrio pada tahapan mudghah mempunyai penampilan dari sesuatu yang dikunyah. Ini dikarenakan somites di belakang embrio yang kurang lebih menyerupai bekas gigi pada sesuatu yang dikunyah.
    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image007.jpg
    http://www.famousmuslims.com/human%20embryonic_files/image008.jpg

    Prof Keith Moar berkata, “Pasti Nabi Muhammad SAW mengetahui ini dari Pencipta manusia…. Kita tahu embriologi berkembang baru2 ini… Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an ini turun 1400 tahun yang lalu…”

    (famousmuslims.com)

  • Air Keluar dari Sela Jari-Jari

    Ketika Rasulullah SAW berhijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “Wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya, “Bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”

    (lebih…)

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    (lebih…)

  • Air Keluar dari Sela Jari-Jari

    Ketika Rasulullah SAW berhijrah bersama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, berkatalah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq “Wahai Rasulullah, jika orang kafir itu melihat kaki mereka, mereka akan melihat kaki kita..”. Maka Rasul saw menjawabnya, “Bagaimana pendapatmu hubungan dua orang, yang ketiganya adalah Allah..?”

    Demikian hebatnya Rasul saw, dengan tenang dan sejuknya jiwa beliau di dalam keadaan yang demikian bahaya seraya berkata, “Bagaimana pendapat kalian, kalau seandainya ada dua orang, yang ketiganya adalah Allah…”. Makna dari firman Allah ‘Dia bersama kalian dimanapun kalian berada’.

    Demikian hakikat iman yang harus kita pahami dan kita dalami dari kemuliaan kebersamaan bersama Allah dalam segala hal, di dalam kesulitan , di dalam musibah, dalam keni’matan, jangan lepaskan cahaya ilahi dari dalam jiwa.
    Sungguh Nabi kita Muhammad saw tiada henti-hentinya menuntun pada kemuliaan dan menjadi lambang dari Rahmat Allah SWT.

    Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul saw sedang dihadapkan kepadanya hidangan makanan, maka makanan itu bertasbih. Terdengar tasbihnya oleh para sahabat. Kita memahami bahwa seluruh benda dan makhluk itu bertasbih kepada Allah. Akan tetapi, Allah jadikan makanan itu bertasbih dan terdengar oleh para sahabah ketika makanan itu dihadapkan kepada Nabi Muhammad saw. Hal ini menunjukan kemuliaan yang demikian dasyatnya dari manusia yang paling dimuliakan Allah dengan cahaya tuntunan ilahi, Nabi Muhammad saw.

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika para sahabah dalam kehausan, Rasul saw meletakkan bejana, lantas keluarlah air dari jari-jari beliau, lantas beliau bersabda, “Kemari.. datangilah, kunjungilah keberkahan yang dilimpahi di air suci ini dan keberkahan dari Allah.” Beliau sendiri yang mengatakan “Kemari…, datanglah kepada air suci yang diberkahi.” Dari mana? Air yang keluar dari jari-jari beliau saw. Hal-hal seperti ini, saudara-saudariku, mestilah kita kenali. Kenalilah sejarah Nabi kita Muhammad saw.

  • Ni’mati Surga Dalam Sujudmu

    Rasulullah saw sangat mencintai sujud. Beliau saw ini adalah orang yang sangat menyukai sujud. Sehingga diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bertanya para sahabah kepada Sayyidatuna Aisyah, “Bagaimana sujudnya Rasul?” Beliau menjawab, “Rasul saw ketika bersujud, lamanya sepanjang 50 ayat.” Jika bacaan orang yang lancar bacaan Alqurannya 100 ayat itu kira-kira setengah jam, maka 50 ayat ini kira-kira 15 menit dalam 1 kali sujud.

    Demikianlah jiwa yang turut bersujud. Barangkali berbeda dengan kita. Jiwa kita ingin bersujud tapi tubuh kita menolak. Hati kita ingin sujud kalau perlu walau hanya 5-6 menit, tetapi tubuh kita menolak untuk lama-lama bersujud. Kenapa?? Karena tubuh kita ini kurang dipenuhi cahaya sujud. Jika tubuh kita dipenuhi cahaya sujud, dia tidak akan merasa lelah dalam bersujud. Ketika kita terlepas dari keni’matan sujud, maka ingin rasanya sujud dan segera selesai. Sedangkan Rasul saw telah bersabda, demikian diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, “Derajat hamba yang paling dekat kepada Allah adalah saat dia sedang bersujud, inilah yang sedekat-dekatnya hamba kepada Allah dan inilah yang paling sulit bisa dini’mati.”

    Ketika Sayyidina Tsauban ra ditanya oleh para sahabat “Apa amal yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau tidak menjawab. Ditanyakan kedua kali, beliau tidak menjawab. Ditanyakan ketiga kali, baru dia menjawab, “Aku telah bertanya pertanyaan ini kepada Rasul dan beliau menjawab, ‘Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah banyak bersujud kepada Allah.’ Itulah perbuataan yang dicintai Allah.”

    Sayyidina Rabi’iah bin Ka’ab ra, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika diriwayatkan oleh Imam bin Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi syarah shahih bukhari, ketika Rabi’ah bin Ka’ab ini meminta kepada Rasul “Kuminta padamu yaa Rasulullah, agar aku bisa bersamamu wahai Rasul!” Maka Rasul saw menjawab “Bila kau ingin dekat denganku di surga dan menemaniku di surga maka perbanyaklah sujud.”

    Kita telah mendengar nama-nama mulia semacam Imam Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang digelari Assajjad karena dia sujud 1000 kali setiap malamnya, melakukan shalat 500 rakaat di dalam tahajjudnya.

    Berkata Al Hafizh Al Imam ibnu Hajar Atsqalani menukil ucapan Imam Nawawi di dalam syarah Nawawi Shahih Muslim, bahwa ketika ditimbang antara lamanya berdiri atau banyaknya sujud maka banyaknya sujud lebih mulia dari lamanya berdiri di saat shalat. Demikianlah yang diperbuat oleh para sahabat. Mereka memperbanyak sujudnya.

    Guruku, Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah mengajak kita untuk memuliakan hari-hari kita dan malam-malam kita dengan memperbanyak sujud dan pula jangan lupakan diri dan jiwa kita. Ketika diri kita bersujud, ingat jiwa kita agar bersujud pula kepada Allah. Ketika jiwa telah bersujud pada Allah, maka ia akan meni’mati kehidupan ini bagaikan surga. Ia seakan sudah sampai ke dalam keni’matan surga sebelum ia wafat karena telah meni’mati indahnya kedekatan kehadirat Rabb.

    Ketika seseorang telah memahami dan merasakan indahnya dzikrullah, indahnya mengingat nama Allah, indahnya mensucikan nama Allah, ia akan merasakan keni’matan yang lebih dari seluruh keni’matan yang ada di muka bumi. Dia akan lupa dengan surga dan segala isinya. Dia akan lupa dengan neraka dan segala ancamannya. Karena ia telah meni’mati keni’matan yang terluhur dan tertinggi, yaitu kemuliaan khusyuk di dalam kemuliaan cahaya sujud. Bukankah telah bersabda Nabi kita Muhammad saw “Sungguh Allah telah mengharamkan api neraka dari membakar anggota sujud.” Menunjukan ibadah sujud ini ibadah yang sangat mulia dan dia dirangkai didalam shalat.

    Rasul telah bersabda “Wahai Allah, jadikan hal yang paling kucintai adalah shalat.” Ketahuilah, ketika meledak dari kerinduan kepada Allah, beliau melampiaskannya dengan memperbanyak shalat, dengan melakukan sujud dan rukuk.

    Warisilah kemuliaan sujud ini. Jadikan hari-hari kita dalam kemulian sujud. Ingatlah saat-saat di mana kita kita semua kelak akan sendiri di alam barzakh. Ribuan tahun menanti keputusan Allah, menanti sidang akbar.

    Beruntunglah mereka yang wafat di dalam barzakhnya sebagai orang yang merindukan Allah dan anggota sujudnya menyaksikan bahwa ia banyak bersujud.

    Yaa Rahman Yaa Rahim… kami mengadukan keadaan kami yang demikian jauh dari kemuliaan sujud. Rabbiy kepada siapa kami meminta kalau bukan kepada yang Maha memiliki kelezatan sujud? Tumpahkan atas kami kemuliaan ini. Curahkan atas kami kebahagiaan di dalam kemuliaan sujud. Rabbiy, yaa Rahman yaa Rahim… kami berdoa kehadiratMu agar Kau limpahkan atas kami keberkahaan dalam kehidupan dan di dalam sakaratul maut dan di alam barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Limpahi atas kami kebahagiaan dunia wal akhirah. Amin

  • Jaminan Rasulullah SAW Terhadap Ahlus Sunnah

    Limpahan puji kehadirat Allah swt Yang Maha menurunkan rahmatNya setiap waktu dan kejap. Sepanjang zaman, alam semesta menyaksikan kedermawanan Allah Yang Mahamemelihara setiap hamba-hambaNya dengan kasih sayang yang melebihi segenap kasih sayang, kasih sayang tunggal dari Rabbul a’lamin yang telah berfirman, “Wa Huwa ma’akum ayna maa kuntum……” Dia, Allah, bersama kalian dimanapun kalian berada. Sejauh manapun langkah seorang hamba, ia tetap bersama Allah dengan kebersamaan yang tidak akan pernah berpisah, selalu bersama Rabbul a’lamin. Sebelum mereka lahir ke muka bumi, mereka di alam rahim sendiri, belum ada yang mengenal wajahnya, belum pula ia mengenal apapun. Namun Allah telah bersamanya dan memeliharanya hingga ia datang ke permukaan bumi dengan izin Allah untuk hidup diatas bumiNya. Kemudian ia akan wafat, diturunkan oleh tangan-tangan sahabat dan kekasihnya ke dalam kubur dan ditinggalkan oleh semua keluarga dan kekasihnya, sendiri, dan tanah pun dibenam dan ditutupkan. Setelah itu, ia dalam kesendirian, ia bersama Allah. (lebih…)

  • Jaminan Rasulullah SAW Terhadap Ahlus Sunnah

    Limpahan puji kehadirat Allah swt Yang Maha menurunkan rahmatNya setiap waktu dan kejap. Sepanjang zaman, alam semesta menyaksikan kedermawanan Allah Yang Mahamemelihara setiap hamba-hambaNya dengan kasih sayang yang melebihi segenap kasih sayang, kasih sayang tunggal dari Rabbul a’lamin yang telah berfirman, “Wa Huwa ma’akum ayna maa kuntum……” Dia, Allah, bersama kalian dimanapun kalian berada. Sejauh manapun langkah seorang hamba, ia tetap bersama Allah dengan kebersamaan yang tidak akan pernah berpisah, selalu bersama Rabbul a’lamin. Sebelum mereka lahir ke muka bumi, mereka di alam rahim sendiri, belum ada yang mengenal wajahnya, belum pula ia mengenal apapun. Namun Allah telah bersamanya dan memeliharanya hingga ia datang ke permukaan bumi dengan izin Allah untuk hidup diatas bumiNya. Kemudian ia akan wafat, diturunkan oleh tangan-tangan sahabat dan kekasihnya ke dalam kubur dan ditinggalkan oleh semua keluarga dan kekasihnya, sendiri, dan tanah pun dibenam dan ditutupkan. Setelah itu, ia dalam kesendirian, ia bersama Allah.

    Sungguh Allah swt selalu bersama hamba-hambaNya dalam kehidupan dan dalam kematian. Dan Dialah yang paling dekat kepada. Tetapi, kedekatan kepada Allah sering dibatasi dengan tirai dosa. Ketika tirai dosa itu menutup, maka walaupun tidak jauh antara kita dengan Allah, tetapi terasa lebih jauh dari perjalanan ribuan tahun karena tertutup dengan tirai dosa, walaupun ia sangat dekat dengan Allah.
    Seperti orang yang duduk di sebelah dinding, disebelah dinding satunya adalah temannya. Hampir saja ia berdampingan, hanya dibatasi dinding saja. Ia sangat dekat dan tidak ada yang lebih dekat dengannya selain temannya. Tapi ia terbatasi dan tidak akan pernah bersatu bersama.
    Demikianlah tirai yang menghalangi sebagian hamba-hamba Allah dengan Allah. Akan tetapi tirai yang demikian hebatnya itu, yang bila telah menutup maka seakan-akan kita jauh dari Allah dengan jarak ribuan tahun ini, akan tersingkap dan terbuka dengan taubat dan inabah. Ketika jiwa kita memanggil nama Allah, ingin dekat kepadaNya, ketika tidak ingin menyembah kepada Ilah selain-Nya, meminta dan mengemis, maka hilanglah jarak penghalang antara dia dengan Allah. Jadilah ia orang yang mendapatkan kedekatan dengan Allah.

    Akan datang suatu masa kita akan dikuburkan dan selesai. Disaat itu ia sendiri bukan satu dua hari, bukan satu dua tahun, mungkin ribuan tahun dalam kesendirian. Ketika kita tidak bisa berbicara pada siapapun, tidak bisa pula berbuat apa-apa, hanya pasrah akan ketentua Allah. Tidak bisa berbuat apapun selain pasrah kepada ketentuan Ilahi, bukan satu dua tahun, tetapi ribuan tahun. Di dalam kegelapan barzakh, dalam keadaan sendiri, apa yang mereka perbuat? Hanya menanti dan menunggu saja, itu saja yang mereka perbuat. Menunggu…menunggu…menunggu sidang akbar.
    Berbahagialah mereka yang di masa hidupnya dipenuhi dengan berlian-berlian ibadah. Sehingga perhiasan mulia itu menemaninya pula di alam barzakh, di dalam penantiannya akan sidang akbar.

    Merugilah mereka yang wafat dalam keadaan miskin akan ibadah. Maka ribuan tahun di dalam kegelapan. Ribuan tahun dalam rintihan. Ribuan tahun dalam penyesalan. Ribuan tahun sendiri, sendiri, tidak ada teman, tidak ada musuh. Tidak ada kekasih, tidak siapa pun menemani. Demikian keadaan setiap manusia yang wafat. Demikian keadaan kita kelak. Akan tetapi, ketika seorang hamba didalam iman, maka amal ibadahnya akan menemaninya. Barangkali lebih dari itu, ruhnya berkumpul bersama Shiddiqqin, nanti saat-saat perjumpaan sidang akbar dg Allah.

    Beruntung orang-orang yang wafat dalam kerinduan kepada Allah. Ia wafat dalam kedaan rindu kepada Allah. Maka ia menunggu ribuan tahun dalam barzakh dalam kerinduan. Sehingga ia dibangkitkan di Yaumil Qiyamah bersama orang oaring yang rindu kepada Allah. Betapa indah ketika perjumpaan antara Allah dan dirinya tang telah ribuan tahun menanti perjumpaan dengan Allah. Sedangkan Allah telah menjelaskan kepada Sang Nabi, dan sang Nabi menjelaskan kepada kita ‘Man ahabba liqa’allah, ahabballahu liqa’ah…’ barang siapa yang rindu perjumpaan dengan Allah maka Allah rindu berjumpa dengannya.

    Demikian Tuntunan Ilahi agar kita mencapai kebahagiaan yang kekal di dunia, di barzakh dan di Yaumil Qiyamah. Demikian beruntungnya orang-orang yang mengikuti Sang Nabi saw. Beliau telah menjelaskan kepada kita bahwa tidak akan ada habis-habisnya kaum dari kelompok umatku (dari kalangan ulama dan fuqaha) yang membela kebenaran yang terus di dalam kesucian, yang terus mengajak kepada kemuliaan hidup, mengajak kepada meninggalkan perpecahan dan permusuhan, mengajak kepada akhlak mulia, mengajak kepada hal-hal yang luhur sampai mereka berjumpa dengan Allah tetap mereka terlihat dengan jelasnya. Maka berkata Sayyidina Abdullah bin Mas’ud, “Sungguh, berpadulah kalian bersama jamaah. Sungguh, Allah tidak akan menjadikan kelompok terbesar pada ummat Muhammad dalam kesesatan.” Demikian berkata Sayyidina Abdullah bin Mas’ud ra. Tidak akan terjadi kelompok terbesar ummat Nabi Muhammad SAW dalam kesesatan.

    Oleh sebab itu, Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menukil tentang riwayat Ibn Mas’ud ini, yang dimaksud di dalam hadits ini bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan terus bersabar. Rasul menjamin bahwa kelompok mulia ini akan terus ada dari sejak zaman Sang Nabi saw terus sampai hari kebangkitan, walau di sana-sini bermunculan kaum pengingkar. Alhamdulillah. Juga penjelas dari hadits ini adalah ucapan Sayyidina Abdullah bin Mas’ud ra bahwa Allah tidak akan menjadikan jamaah ummat Nabi Muhammad saw di dalam kesesatan. Mereka yang dalam kesesatan adalah yang memisahkan diri sedikit-sedikit.

    Demikian saudara-saudaraku, jangan sampai kita tergoyang dengan pemahaman-pemahaman baru yang keluar dari 4 Madzhab besar Ahlussunnah wal Jamaah. Karena telah dikatakan oleh Sayyidina Abdullah bin Mas’ud ra bahwa ummat Nabi Muhammad saw yang merupakan jamaah yang terbesar tidak akan berkumpul di dalam kesesatan.

    Jadi, tidak benar tuduhan perkumpulan baru yang mengatakan bahwa ummat muslimin sekarang ini kebanyakan di dalam kesesatan. Karena ummat dalam 4 Madzhab besar ini telah dijamin kebenarannya dengan Sabda Nabi Muhammad saw, tidak akan habis-habisnya kelompok dari ummatku akan terus zhahir, akan terus eksis sampai mereka berjumpa dengan Allah SWT. Hadist ini menenangkan kita.

    Alhamdulillah, Rasul SAW telah menjamin, bahwa kelompok itu pasti terus ada dan terlihat. Jadi jangan tertipu kalau ada yang bilang ini sesat, itu batil, ini bid’ah terhadap ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal itu munculnya baru. Justru Rasul SAW telah berkata mereka, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetap ada dan tidak sirna. Inilah kelompok terbesar dari kaum Muslimin.

  • Sabar Sesaat

    Pandanglah segala sesuatu dengan tenang. Jangan dengan emosi atau pun terburu-buru (isti’jal). Sabarlah barang sejenak. Agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika Anda terburu-buru dalam memandang sesuatu, Anda bisa salah tangkap. Ingatlah, isti’jal itu dari syaithon. Sikap tergesa-gesa dapat berakhir penyesalan.

    (lebih…)

  • Sabar Sesaat

    Pandanglah segala sesuatu dengan tenang. Jangan dengan emosi atau pun terburu-buru (isti’jal). Sabarlah barang sejenak. Agar dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Jika Anda terburu-buru dalam memandang sesuatu, Anda bisa salah tangkap. Ingatlah, isti’jal itu dari syaithon. Sikap tergesa-gesa dapat berakhir penyesalan.

    Anda boleh saja bersegera dalam kebaikan. Tetapi bukan terburu-buru. Bersegera itu berbeda dengan terburu-buru. Misalnya Anda membaca suatu artikel yang ‘memprovokasi’ Anda untuk mengomentarinya. Sebaiknya Anda jangan terburu-buru mengomentarinya. Anda harus pahami dulu isi artikel itu dengan baik. Kemudian fikirkan, apakah Anda memang perlu untuk mengomentarinya? Jika ya, fikirkan tentang apa yang harus Anda komentari. Lalu fikirkan, bagaimana bunyi komentar yang tepat? Jika Anda telah yakin, bersegeralah. Jika niat Anda baik, insya Allah, semua akan baik-baik saja. Tetapi jika Anda emosi dan isti’jal. Siap-siaplah menghadapi segala kemungkinan buruk yang sering menimpa mereka yang ceroboh.

    Begitu juga dalam kehidupan ini. Sering kita tergesa-gesa dalam bertindak. Akhirnya kita menyesal atas ketergesa-gesaan itu. Sayangnya, walau sering menyesal, kita jarang belajar dan berlatih untuk memperbaiki diri.

    Kita jarang mengingat Allah dan memohon pertolongan-Nya agar membimbing kita. Sungguh beruntung mereka yang dibimbing Allah di jalan yang lurus. Maka mohonlah pertolongan-Nya dengan sholat.

    Sering dalam shalat, kita tidak khusyu ketika membaca Al-Fatihah. Kita jarang bisa bersabar untuk tidak memikirkan yang lain dalam shalat yang hanya beberapa menit. Di luar shalat, kita juga jarang mengingat-Nya. Lalu bagaimana hati kita bisa peka menerima ‘sinyal sms’ dari Allah yang dikirimkan setiap saat? Hati kita perlu diservis supaya recivernya kembali normal.

    Hati yang banyak berdzikir akan peka terhadap bimbingan Allah. Dia akan dapat bersabar dalam segala hal. Tidak reaktif terhadap segala permasalahan, tetapi proaktif dalam menghadapi segala hal.

    Shalat akan menjadi pelatihan yang efektif jika kita berusaha untuk benar-benar mendirikannya, dan bukan sekedar mengerjakannya. Shalat akan berdampak pada jiwa dan raga kita. Semakin bagus sholat kita, semakin besar perbaikan yang terjadi. Memang mendirikan sholat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas sholat kita. Sehingga jadilah kita sebagai pribadi-pribadi sukses. Sukses di dunia, sukses di akhirat. Hayya ‘alash-sholah, hayya ‘alal-falah.

    hotarticle.org

  • Siapakah yang Dikorbankan Nabi Ibrahim?

    Telah sampai riwayat -di dalam Al-Qur’anul-Karim- pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh,” berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as. Tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari. Pendapat yang kedua di dalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya.

    (lebih…)