Penulis: adminSN

  • Keyakinan dan Logika

    Keyakinan… dapatkah dilogikakan? Apa maksud dari ‘dilogikakan’? Diterima oleh aqal? Jika ini yang dimaksud, maka keyakinan kepada ajaran wahyu harusnya dapat diterima oleh aqal. Jika tidak dapat diterima oleh logika, kenapa Allah mengajarkan keyakinan itu melalui firman (logos)?

    (lebih…)

  • ISLAMLAH ANDA

    Islam berdasarkan bahasa berarti tunduk, patuh, berserah, menyerahkan diri, selamat, damai. Muslim, berarti orang yang Islam, orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, orang yang tunduk patuh kepada Allah, orang yang ‘bertekuk-lutut’ di hadapan Allah.

    Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah (Aslim)!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam (Aslamtu li Rabbil ‘alamin)”. [QS. Al-Baqarah: 131]

    Dalam ayat di atas dapat kita lihat bahwa “Aslim!” dapat berarti “Tunduk patuhlah!”. Jika kata “Tunduk patuh” kita ganti dengan kata “Islam” maka kalimat itu menajdi “Islamlah!”.

    Lalu Nabi Ibrahim menjawab: “Aslamtu li Rabbil ‘alamin.” Jika “Amantu” berarti “Aku beriman, aku percaya”, maka “Aslamtu” berarti “Aku berislam, aku tunduk patuh.” Dengan melihat makna kata Islam, kalimat di atas juga bisa diartikan “Aku menyerah kepada Tuhan semesta alam.”

    Sungguh menakjubkan. Kata-kata seperti ini ternyata diucapkan orang yang dianggap sebagai Yesus oleh orang Kristen ketika dia disalib.

    Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. [Lukas 23:46]

    Yahudi di kala itu biasa menyebut Tuhan semesta alam dengan sebutan “Bapa”. Maka dalam bahasa Arab menjadi “Yaa Robb!”. Sedangkan “nyawa” sepertinya bukan terjemahan yang tertutup dari kata aslinya. Kita tentu ingat bahwa bahasa Arab dan Ibrani mempunyai akar yang sama. Dalam bahasa Arab “Nafsii” dapat berarti nyawaku, jiwaku, diriku, nafsuku. Maka dalam bahasa Arab, ayat itu bisa berbunyi, “Yaa Robb, aslamtu nafsii ilaa yadayKa.” Artinya, “Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Mu (Kekuasaan-Mu)” Ini sebuah ikrar ke-Islaman yang mirip dengan ikrar ke-Islaman Nabi Ibrahim ketika Allah menyuruh beliau untuk ber-Islam. Orang yang disalib itu jelas-jelas menyerahkan diri-Nya untuk tunduk patuh kepada kekuasaan dan peraturan Allah, kepada Diinullah, kepada agama Allah. Secara singkat, kalimat itu bisa menajdi “Yaa Rabb, aslamtu nafsii ilayKa. Wahai Tuhan, aku menyerahkan diriku kepada-Mu)” Maka dengan demikian, orang itu telah meng-Islamkan dirinya kepada Tuhan alam semesta. Setelah menunjukkan ke-Islamannya di hadapan orang ramai, orang yang dianggap sebagai ‘Isa itu pun pingsan.

    Wa naadaa ‘Iisaa bishowtin ‘azhiim wa qaal: “Yaa Abaa, fii yadayka aslamtu nafsii!”

    Maka jelaslah bahwa seorang Muslim adalah orang yang tunduk kepada Allah, patuh kepada Allah, berserah diri kepada Allah. Jika Anda, wahai ahli kitab, ingin berdamai dengan Allah, maka masuklah ke dalam Islam! Allah telah menyeru Nabi Ibrahim: “Aslim!” Maka Nabi Ibrahim menyambut seruan itu: “Aslamtu li Robbil ‘alamin.” Alangkah indahnya jika Anda juga menyambut seruan Allah kepada Anda dengan kalimat yang sama. Sungguh Allah telah menyeru kalian:

    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) (Isyhaduu bi annaa muslimuun)”. [QS. Ali Imran: 64]

    ‘Isa dan murid-muridnya telah menyeru orang-orang Yahudi yang ditangan mereka terdapat Taurat. Ketika mereka tidak mau tunduk kepada Allah yang esa, maka wajarlah jika beliau dan murid-muridnya berkata: “Isyhaduu bi annaa muslimuun!” untuk menunjukkan kepada para ahli kitab bahwa ‘Isa dan murid-muridnya adalah muslim dan berlepas diri dari ajaran bathil Farisi dan Saduki.

    Begitu juga kami telah mengajak kalian, wahai yang ditangannya terdapat Alkitab, agar Anda masuk ke dalam Islam dan tunduk-patuh kepada Allah yang esa. Jika Anda menolaknya, saksikanlah oleh kalian bahwa kami adalah Muslim dan kami berlepas diri dari ajaran bathil yang kalian serukan!

    Diriwayatkan dari Abu Dzar ra katanya: Nabi SAW bersabda: “Jibril as telah mendatangi aku lalu memberitahu berita gembira, yaitu siapa yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu, niscaya dia akan dimasukkan ke dalam Syurga.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tarmidzi, Ahmad bin Hanbal]

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu niscaya akan memasuki Neraka.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra katanya: Ketika Mu’adz bin Jabal mengikuti unta Rasulullah SAW dalam satu perjalanan, Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut: “Labbayk yaa Rasulallah! (Telah kuterima panggilanmu itu wahai Rasulullah.)” Rasulullah s.a.w memanggil lagi: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW memanggil: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menyahut lagi: “Labbayk yaa Rasulallah!” Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang mengucap Dua Kalimah Syahadat yaitu: laa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan ‘abduHuu wa RasuuluH, niscaya terselamatlah dia dari api Neraka.” Kemudian Mu’adz berkata: “Bolehkah aku memberitahu perkara ini kepada orang ramai agar mereka sebarkan berita gembira ini?” Rasulullah SAW bersabda: “Kalau begitu, lakukanlah dan berserahlah kepada Allah!” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

    Kalimat di atas adalah kalimat keniscayaan, kepastian, bukan kalimat keraguan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ucapkanlah dua kalimah syahadah, maka bagi Anda surga.

  • LAA ILAAHA ILLALLAAH

    Tiada yang pantas disembah kecuali Allah
    Ia menciptakan pohon dan tumbuhan
    Ia menciptakan lebah dan burung-burung
    Ia menciptakan laut dan samudra
    Sebagian dari kemurahan-Nya
    Ia menjadikan kita khalifah di atas bumi
    Untuk mematuhi segala keputusan-Nya
    Yaa Allah kasihanilah kami,
    Bersihkanlah penyakit hati kami

    Dimuliakanlah Allah di dalam kewibawaan-Nya
    Tiada bagi kita Tuhan selain Dia
    Dialah Yang Awal sebelum keberadaan
    Dialah Yang Akhir setelah keabadian
    Kemutlakan-Nya di atas segala batas
    Wajib kepada-Nya kita bersujud
    Tuhan yang menganugerahkan kehidupan
    Dia menjadikan angin dan gelombang air
    Berkat-Nya sungguh melimpah
    Jayalah yang Ia pandu

    Ia memberikan kita siang dan malam
    Ia memberikan kita indera penglihatan
    Ia menciptakan matahari yang begitu terang
    Dan bulan yang begitu putih dan murni

    Ia menyelamatkan kita dari keadaan kita
    Ia memimpin kita ke arah cahaya
    Ia memimpin kita ke jalan lurus
    Melalui kemurahan–Nya dan kuasa-Nya

    Tuhan bumi dan langit
    Tuhan pegunungan yang begitu tinggi
    Tuhan yang menguasai siang dan malam
    Tuhan dari kegembiraan dan kesenangan

    Laa ilaaha illallaah

    Lyric The Creator

  • Keyakinan dan Logika

    Keyakinan… dapatkah dilogikakan? Apa maksud dari ‘dilogikakan’? Diterima oleh aqal? Jika ini yang dimaksud, maka keyakinan kepada ajaran wahyu harusnya dapat diterima oleh aqal. Jika tidak dapat diterima oleh logika, kenapa Allah mengajarkan keyakinan itu melalui firman (logos)?

    Firman Allah yang suci, yang belum tercemar oleh fikiran manusia, tentu mengandung keyakinan yang dapat diterima oleh logika. Bahkan dalam Alkitab dikatakan agar kita mencintai Allah dengan segenap hati, aqal, dan jiwa. Artinya, Allah tidak hanya dikenal oleh hati, tetapi juga dapat dikenal oleh aqal. Jika aqal tidak dapat mengenal Allah, bagaimana aqal dapat mencintai-Nya? Bukankah cinta itu timbul setelah adanya pengenalan?

    Jika di hadapan Anda terdapat gula merah, maka mata Anda dapat mengenalnya melalui bentuk dan warnanya. Kulit Anda dapat mengenalnya melalui teksturnya. Hidung Anda dapat mengenalnya melalui aromanya, dan lidah Anda dapat mengenalnya melalui rasanya. Setelah itu timbul rasa suka Anda kepada gula merah.

    Hati dapat mengenal ajaran yang benar dan lurus melalui caranya. Begitu juga dengan aqal, dia punya cara sendiri untuk mengenal ajaran yang lurus. Aqal kita sungguh unik.

    Sebagian orang dapat memahami apa yang ingin disampaikan pelukis melalui lukisannya, atau ekspresi seorang perupa melalui patung karyanya. Sebagian orang dapat memahami apa yang tersirat dari kata-kata tersurat seorang penulis atau pun penyair.

    2 Timotius 3:8 Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.

    Aqal budi yang jernih sanggup membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Penyidik yang cakap dan jujur akan dapat mengungkap siapa pelaku kejahatan sesungguhnya dan siapa yang sesungguhnya dijebak.

    Begitulah, aqal budi yang murni akan sanggup membedakan mana kitab suci dan mana kitab buatan manusia atau kitab yang tercemar. Logika juga dapat mengenal siapa Tuhan yang haqiqi dan siapa yang bukan tuhan. Setidaknya, aqal dapat mengenal siapa yang bukan tuhan. Sehingga aqal dapat menolak segala tuhan-tuhan palsu sampai saatnya dinyatakan kepada aqal dan hatinya akan satu-satunya Tuhan yang benar.

    Astrofisikawan terkenal, Hugh Ross menuturkan, “Jika permulaan waktu bersamaan dengan awal keberadaan alam semesta, seperti dijelaskan teorema-angkasa, maka penyebab alam semesta harus merupakan kesatuan yang berfungsi dalam suatu dimensi waktu yang sepenuhnya terpisah, dan sudah ada sebelumnya. Kesimpulan ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang Siapa Yang Tuhan dan siapa/apa yang bukan Tuhan. Rabb bukanlah alam semesta (makhluq) itu sendiri dan tidak terkandung dalam alam semesta (baik ruang maupun waktu).”

    Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu

  • Mari Bersatu!

    Rasul bersabda, “Ummatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Ditanyakan kepada beliau: “Siapakah mereka (yang satu golongan itu), wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” [HR Abu Dawud, At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami dan Al-Hakim]

    (lebih…)

  • Bid’ah

    I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.

    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. (lebih…)

  • Bid’ah

    I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.

    Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).

    Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

    II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

    Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.

    Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).

    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

    Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).

    Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?

    III. Bid’ah Dhalalah
    Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.

    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.

    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.

    Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).

    Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.

    Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.

    Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.

    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin.

    IV. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk-buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat-buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram. Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

    4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam? (Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)

  • Sejarah Wahhabi

    Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi. (lebih…)

  • MENGIKUTI SALAFUSH SHALIH?

    Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan masalah tasawwuf, maulid, talqin mayyit, ziarah dan lain-lain yang terdapat dalam kitab-kitab para ulama pendahulu wahabi. Ironisnya, sikap mereka sekarang justru bertolak belakang dengan pendapat ulama mereka sendiri. (lebih…)

  • Salafy = Anti Salafush Shalih?

    Belakangan ini kata ‘salaf’ semakin populer. Bermunculan pula kelompok yang mengusung nama salaf, salafi, salafuna, salaf shaleh dan derivatnya. Beberapa kelompok yang sebenarnya berbeda prinsip saling mengklaim bahwa dialah yang paling sempurna mengikuti jalan salaf. Runyamnya jika ternyata kelompok tersebut berbeda dengan generasi pendahulunya dalam banyak hal. Kenyataan ini tak jarang membuat ummat Islam bingung, terutama mereka yang hanya mengandalkan buku-buku terjemahan untuk memperluas wawasan keislamannya. Lalu siapa pengikut salaf sebenarnya? Apakah kelompok yang konsisten menapak jejak salaf ataukah kelompok yang hanya menggunakan nama salafi? Tulisan ini mencoba menjawab kebingungan di atas dan menguak siapa pengikut salaf sebenarnya. (lebih…)