Penulis: adminSN

  • KARLA*

    Aku dibesarkan dari keluarga Katholik yang taat. Perjalananku menemukan Islam kurang lebih terjadi selama 20 tahun. Dimulai ketika umurku 12 tahun. Ketika itu masih belajar di sebuah sekolah theologi. Di situ kami diajari agama dan ketuhanan. Ada agama Kristen, Yahudi, Islam, Hindu dan Budha. Aku ingat, betapa besar kekagumanku terhadap Islam kala itu. Yang aku tahu, seorang Muslim itu bukanlah munafiq seperti yang selama ini aku ketahui dalam Kristen.

    Ketika SMU, aku mengikuti program TV bernuansa Islam. Aku terbuai dan tertambat untuk terus mengikuti pembicaraan dan wawancara-wawancara tentang banyak hal berkaitan dengan ke-Islaman. Aku benar-benar menjadi orang yang ketagihan. Aku sudah tidak ingat lagi di saluran mana program TV itu, tapi yang jelas, biasanya ditayangkan pada setiap Jum’at. Melalui saluran TV itu saya mengenal kata ‘Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapengampun’. Aku tahu dan sangat percaya itu. Dalam hati aku berkata, “Ya Tuhan, mungkinkah aku menjadi Muslimah?”

    Sayang, aku tidak tahu di mana tempat yang membicarakan tentang Islam berada. Selain itu, aku masih diliputi rasa kekhawatiran terhadap keluargaku. Apa jadinya bila tahu aku begini.

    Tahun 1991, ketika duta besar Arab Saudi menggelar pameran, inilah kesempatanku untuk mencari tahu tentang banyak hal mengenai Islam. Sekitar bulan Februari, aku pergi ke Islamic Centre. Di depan imam, aku kemudian mengucapkan syahadat yang kedua, setelah pertama kali aku ucapkan sendiri di depan TV 10 tahun yang lalu. Sejak saat itulah, aku kemudian belajar shalat dan membaca Al-Qur`an. Ini benar-benar pengalaman yang sungguh mengagumkan.

    Bulan Oktober 2001 lalu, aku resmi menggunakan hijab (jilbab) sebagaimana layaknya seorang Muslimah. Satu hal yang pertama kali aku lakukan sejak aku berkerudung adalah kampanye ‘jilbab’. Pernah satu kali di kantorku aku menempel poster dengan tulisan ‘Solidaritas Jilbab’.

    Ketika itu banyak orang bertanya, “Apakah kamu dari golongan mereka?”

    “Ya,” jawabku.

    Banyak orang heran, bagaimana aku bisa masuk Islam. Sebab, bagi banyak orang di sini, tidaklah mungkin orang kulit putih atau dengan rambut pirang mau memeluk Islam. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Bagaimana mungkin, orang terdidik seperti kamu bisa masuk Islam?”

    Dia mengira orang Islam itu seperti yang diberitakan di media-media. Lalu saya jelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur`an banyak memberikan hak kepada perempuan jauh dibanding yang tercatat dalam Alkitab. Itulah gambaranku menjadi seorang Muslimah. Aku kini telah memilih, “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya.”

    * Wartawati, seorang profesional

    (Sumber: www.islamtoday.com)

  • Aminah As-Silmi*

    Suatu kali aku diminta mengisi ceramah di kelas teater. Hampir saja aku pingsan, sebab kelas itu ternyata dipenuhi oleh anak-anak Arab atau sering dijuluki ‘joki unta’. Buat saya, mereka adalah makhluq kotor yang menjijikan. Maka cepat saja aku mendorong pintu dan memutuskan pulang. Sampai di rumah, suamiku malah menyuruhku balik lagi.
    Maka aku sampaikan kepada mereka, bahwa mereka akan masuk neraka abadi jika tidak menerima Yesus Sang Juruselamat. Mereka diam saja. Kujelaskan sekali lagi, sesungguhnya Yesus itu selalu sayang padanya. Aku bahkan mengatakan, Al-Qur`an itu tidak benar dan agama Islam adalah agama yang salah dan Muhammad adalah Tuhan palsu.**
    Tapi, salah seorang diantara mereka justeru memberiku Al-Qur`an dan beberapa buku tentang Islam. Karena penasaran, aku membacanya. Makin lama kian penasaran, hingga tak terasa aku telah melahap 15 buku, termasuk buku hadits Shahih Muslim.
    Sejak saat itu, aku mulai mengalami persoalan keluarga. Terutama dengan suamiku, sebab ada banyak perubahan pada diriku. Dia mengira aku telah berselingkuh dengan pria lain, lalu mengusirku dari rumah. Aku pindah ke apartemen dengan anakku yang menghormati keputusanku mempelajari Islam.
    Suatu hari, aku kedatangan seorang pria ditemani tiga orang berjubah putih. Aku sangat terkejut ketika salah seorang di antara mereka mengatakan telah mengerti bahwa aku ingin masuk Islam. Secara cepat aku menjawab, “Aku seorang Kristen dan tak ingin menjadi seorang Muslim.”
    Mereka tetap bersabar, dan tidak kelihatan bodoh seperti banyak ditulis media. Dia bertanya, apakah saya meyakini hanya ada satu Tuhan. “Ya,” kataku.
    Dia bertanya lagi, apakah aku mempercayai Muhammad sebagai Rasul? Aku menjawab, “Ya.” Dia kemudian mengatakan, sesungguhnya aku telah menjadi seorang Muslim.
    “Bukan, aku adalah orang Kristen,” kataku membalas.
    Pada suatu siang di bulan Mei, aku memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadah.
    Saat pertama masuk Islam, aku merasa telah terjadi perubahan dalam hidupku. Aku dan suami banyak mengalami masalah serius, hingga kemudian berakhir dalam sebuah perceraian di pengadilan.
    Sejak aku memilih Islam, hampir semua keluargaku, ibuku, semuanya memusuhiku. Termasuk saudaraku yang ahli kesehatan mental. Dia bahkan mengatakan bahwa aku telah mengalami gangguan mental dan harus berobat. Ayahku mengancam akan membunuhku. Aku harus pula kehilangan pekerjaan hanya karena aku telah menggunakan hijab (jilbab). Kini lengkaplah sudah, aku hidup tanpa suami, keluarga, pekerjaan. Semua teman-temanku bahkan telah berubah arah.
    Beberapa tahun kemudian, Allah memberiku rahmat luar biasa. Orang-orang yang kucintai itu kembali padaku. Entah bagaimana prosesnya, mereka mengikuti agama yang kuanut. Termasuk anakku yang sering kupanggil Whittney, juga telah menyatakan memilih jalan Islam dan mengucapkan syahadah. Aku semakin yakin, Allah SWT memang Mahapenyayang.

    * Wartawati, aktivis gereja dan feminis radikal.
    ** Sebagian orang Kristen, karena kurang informasi atau salah informasi, mengira bahwa ummat Islam menyembah Muhammad sebagai Tuhan. Hal ini juga yang ada dalam fikiran Cat Stevens sebelum ia masuk Islam dan merubah namanya menjadi Yusuf Islam.

    (Sumber: www.islamtoday.com)

  • TAMU ABRAHAM

    Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah. [Kejadian 18:1-2]

    Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, hal ini tidak bisa dipahami secara harfiah. Tuhan memperlihatkan bukti-bukti eksistensi-Nya, ini baru bisa dimengerti. Siapakah tiga orang itu? Tentu saja malaikat yang datang untuk mengabarkan berita gembira dan berita menakutkan. Apakah tiga orang itu Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus? Itu adalah konyol. Jika ketiganya dapat dilihat Abraham, lalu mengapa dikatakan bahwa Tuhan itu tidak dikenal dan belum pernah ada yang melihatnya, dan agar dikenal, maka Dia mengirim Yesus untuk memperkenalkan Tuhan kepada dunia? Bukankah Abraham telah melihat dan mengenal Tuhan? Jelaslah bahwa Tuhan itu dapat ‘dikenal’ dan ‘dilihat’ dengan melihat dan memikirkan ciptaan-Nya.

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [QS. Ali Imran (3): 190-191]

    Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Salaman” (Selamat). Ibrahim menjawab: “Salamun” (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut.” Dan istrinya (Sarah) berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum (karena gembira). Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub. [QS. Hud (11): 69-71]

    Jadi jelaslah bahwa yang menemui Abraham itu adalah malaikat-malaikat utusan Tuhan, dan bukanlah mereka itu Tuhan.

    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-An’am (6): 103]

    * Bandingkan dengan Kejadian 18: 6-15. Di situ dikatakan bahwa Sarai tertawa. Betapa tidak sopannya.

  • Malaikat TUHAN

    Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. [Kejadian 16:7]
    Orang Kristen percaya bahwa yang menjumpai Hajar, isteri Nabi Ibrahim as, adalah Tuhan. Maka mereka menulis kata ‘malaikat’ dengan mengkapitalisasi huruf ‘m’ menjadi ‘Malaikat’. Dan ini mereka jadikan dalil bahwa Tuhan itu dapat dilihat manusia di dunia ini jika berbentuk malaikat. Padahal yang datang menemui Hajar itu bukanlah Tuhan, tetapi malaikat Tuhan, dengan huruf ‘m’ kecil. Kapitalisasi adalah berdasarkan asumsi bahwa yang dilihat Hajar itu adalah Tuhan. Mengapa mereka berasumsi bahwa yang dilihat itu adalah Tuhan? Sebab dalam Kej. 16:13 ditulis: Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”Tetapi dalam Terjemahan Lama ayat itu ditulis: Maka dipanggil Hagar akan nama Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu: Allah Penilik; karena kata Hagar: Sungguhkah aku melihat Tuhan di sini, yang telah menilik akan daku?Ayat ini tidak bisa dijadikan dasar trinitas begitu saja. Sebab kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain.

    1. Yang menemui Hajar adalah malaikat Tuhan yang menyampaikan firman Tuhan. Maka Hajar tidak peduli kepada yang menyampaikan firman itu. Tetapi dia ‘memandang’ kepada Tuhan yang telah berfirman kepadanya melalui malaikat-Nya.

    2. Melihat Tuhan di dunia tidak bisa diartikan secara harfiah begitu saja. Ketika Anda melihat rumah ibadah yang sedang dibangun oleh para tukang bangunan, lalu Anda berkata, “Tuhan sedang membangun rumah-Nya.” Apakah ini berarti bahwa para tukang bangunan itu adalah Tuhan? Apakah Tuhan memang membutuhkan rumah untuk tinggal? Tentu saja tidak. Tetapi Anda yakin bahwa Tuhan telah membangun bait-Nya melalui para tukang bangunan, dimana dalam bait itulah kelak Tuhan diagungkan. Ketika Anda melihat suatu keajaiban alam, misalnya ketika Anda melihat ada seorang dokter telah berhasil menyembuhkan orang yang sakit kanker kronis. Lalu Anda berkata, “Aku telah melihat Tuhan.” Apakah dokter itu adalah Tuhan? Tidak yang Anda lihat di sini bukanlah Tuhan, tetapi Anda telah ‘melihat’ Kekuasaan Tuhan.

    3. Tuhan tidak mungkin dilihat di dunia ini dalam pengertian umum. Sebab alam dunia ini memang diciptakan Tuhan dalam keadaan fana. Mana mungkin dunia yang fana ini dapat menampung Dia Yang Kekal.

    Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. [1 Raj. 8:27]

    Maka jelaslah bahwa Tuhan tidak mungkin dpat ditampung dunia, baik berupa malaikat ataupun berupa anak manusia.

    Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? [Bilangan 23:19]

  • KESAKSIAN TUHAN

    Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. [1Yoh.5:7-8]

    Ayat ini adalah ayat kebanggan ummat Kristen Tritunggal. Akan tetapi, justeru ayat ini adalah yang paling lemah. Jika Anda mau memperhatikan tanda kurung [ ] yang terdapat dalam ayat itu, maka Anda akan mengerti bahwa kata-kata dalam kurung itu adalah kata-kata yang diragukan keotentikannya. Dan jika Anda mau memperhatikan kata ‘satu’ yang ada dalam ayat itu, maka Anda akan bertanya-tanya, apa maksud dari kata ‘satu’? Apakah satu substansi, satu tujuan, atau satu kesaksian? Sebab ayat ini berbicara tentang kesaksian. Jadi satu kesaksian adalah lebih tepat. Coba bandingkan ayat dalam Terjemahan Baru itu dengan versi-versi lainnya di bawah ini:

    Terjemahan Lama (TL): Karena tiga yang menjadi saksi di surga, yaitu Bapa dan Firman dan Rohulkudus, maka ketiga-Nya itu menjadi satu; dan ada tiga menjadi saksi di bumi, yaitu Roh dan air dan darah, maka ketiganya itu menjadi satu tujuan.

    Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): Ada tiga saksi: *Ada tiga saksi: Dalam beberapa naskah ada tambahan: Saksi-saksi yang di surga ialah Bapa, Sabda dan Roh Allah –ketiga-tiganya merupakan satu. Saksi-saksi yang di bumi ialah: …* Roh Allah, air dan darah– ketiga-tiganya memberikan kesaksian yang sama.

    King James Version (KJV): For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one. And there are three that bear witness in earth, the Spirit, and the water, and the blood: and these three agree in one.

    Today’s English Version (TEV): There are three witnesses: the Spirit, the water, and the blood; and all three give the same testimony.

    Contemporary English Version (CEV): In fact, there are three who tell about it. They are the Spirit, the water, and the blood, and they all agree.

    Jadi, tiga di dalam satu di sini bukanlah tiga oknum dalam satu Ketuhanan, melainkan tiga pribadi yang berbeda dalam satu kesaksian yang sama, dalam satu kesepakatan, seiya-sekata; bukan satu substansi, bukan satu ketuhanan, atau apa pun berkenaan doktrin trinitas. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan doktrin trinitas. Tetapi bagaikan Darwin, mereka memanipulasi ayat ini untuk mendukung konsep Trinitas. Bahkan dalam TEV dan CEV kita tidak menemukan oknum-oknum Tritunggal (Bapa, Firman, dan Roh Kudus)

    Coba bandingkan dengan ayat Al-Qur`an berikut ini: “Allah menyatakan kesaksian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran: 18]

    Bahkan Dr. C.I. Scofield, D.D. dengan didukung oleh delapan orang D. D. (Doktor Ilmu Teologi) lainnya memberikan opini dalam bentuk catatan kaki tentang ayat ini: “Secara umum disetujui bahwa ayat ini telah disisipi dan bukanlah naskah yang sah.”

  • Bapa Di Dalam Aku

    Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. [Yohanes 17:21-22]

    Ayat ini juga menggambarkan seakan-akan Yesus dan Allah adalah satu substansi. Tetapi coba perhatikan lagi kata-kata yang kami garis bawahi. Adakah orang-orang Israel itu diharapkan menjadi satu substansi? Tidak, akan tetapi supaya mereka menjadi satu ‘ikatan’, seiya-sekata, saling menjaga, satu tujuan, satu kesaksian bahwa Allah itulah yang telah mengutus Yesus. Jika satu di sini diartikan satu substansi, maka bukan tritunggal lagi namanya, tetapi ‘banyak di dalam satu’. Sebab murid-murid Yesus juga ikut ambil bagian dalam persekutuan tersebut. Lalu apa sebenarnya arti dari A di dalam B, dan B di dalam A? Ini adalah suatu kiasan yang mempunyai beberapa makna.

    1. Ketika seseorang berkata, “Aku di dalam kamu dan kamu di dalam aku.” Ini bisa berarti bahwa aku adalah kamu, dan kamu adalah aku; siapa yang menyakiti kamu berarti telah menyakiti aku, siapa yang telah menghina aku berarti telah menghina kamu; penderitaanmu adalah penderitaanku, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dari Nu’man bin Basyir ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih-sayang dan saling cinta-mencintai adalah seperti satu tubuh. Bila salah satu anggotanya kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal] Rasulullah pernah berkata dalam Baiat Aqabah kedua: “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.” Apakah hal ini berarti bahwa Rasulullah satu substansi dengan para shahabat dari kabilah khazraj? Tentu saja tidak, akan tetapi ‘senasib dan sepenanggungan’.

    2. Ketika Yesus berkata, “Agar mereka juga di dalam kita.” Ini dapat berarti bahwa Yesus berharap agar mereka bersaksi bahwa Allah itu adalah Esa, dan bahwa Yesus adalah hamba dan utusan Allah. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” [Yohanes 17:3] Lihatlah bagaimana Allah itu bukan Yesus. Allah adalah Ilah Yang Esa, dan Isa al-Masih adalah utusan-Nya. Tiada Ilah yang benar kecuali Allah, dan Isa al-Masih adalah utusan Allah. Itu adalah kalimat syahadah (kalimat kesaksian) pada saat itu. Dan jika kita lihat ayat selanjutnya, yaitu:

    Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. [Yoh. 17:23]

    Maka di sini dapat terlihat bahwa Yesus berharap agar Allah mengasihi mereka seperti Allah mengasihi Yesus. Lalu bagaimana Kasih Allah terhadap Yesus? Kasih-Nya terhadap Yesus adalah seperti kasih seorang bapak kepada anaknya yang semata wayang. Dalam Yoh. 1:14 Alkitab Terjemahan Lama tertulis:

    Maka Firman itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita (dan kami sudah memandang kemuliaan-Nya, seperti kemuliaan anak tunggal seorang bapak), penuh dengan anugerah dan kebenaran.

    Jadi kata-kata dalam ayat-ayat seperti ini adalah penuh dengan kiasan. Untuk dapat memahaminya, kita perlu memahami budaya, gaya bahasa, dan ilmu-ilmu yang berkembang pada masa itu.

  • ALLAH JAMAK?

    Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” [Kejadian 1:26]

    Allah menyebut Diri-Nya dengan Kita/Kami dalam banyak ayat di dalam Alkitab dan juga dalam Al-Qur`an. Akan tetapi, tidak seorang pun berkata bahwa Al-Qur`an mengajarkan trinitas. Justeru Al-Qur`an mengatakan bahwa Allah itu Esa, Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Menggunakan ayat-ayat seperti ini sebagai dasar trinitas adalah tidak dapat diterima sama sekali.

    (lebih…)

  • POSTUR TUBUH DAN RAMBUT

    Berdasarkan beberapa hadits, kita dapat mengetahui bahwa tubuh Rasulullah saaw itu tidak terlalu tinggi dan tidak pendek. Beliau bertubuh tegak dan berbahu bidang. Rambutnya ikal bergelombang, panjang hingga ke bahu dan sampingnya sampai ke daun telinga. Beliau menyisir rambutnya ke belakang terlebih dahulu, baru kemudian membaginya ke kanan dan ke kiri.

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra katanya:

    Bentuk tubuh Rasulullah saaw tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Baginda tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam. Rambut baginda tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus (melainkan ikal). (HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad ibnu Hanbal, Malik)

    Diriwayatkan dari Qatadah ra katanya:

    Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik, bagaimanakah keadaan rambut Rasulullah saaw. Anas bin Malik menjawab: Rambutnya ikal, tidak keriting dan tidak lurus, kemudian terurai sehingga sampai ke bahu baginda. (HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad ibnu Hanbal, Malik)

    Diriwayatkan dari Al-Bara’ bin ‘Azib ra katanya:

    Rasulullah saaw adalah seorang laki-laki yang berbadan segak, berbahu lebar dan berambut panjang sehingga menjuntai ke cuping telinga. Baginda memakai pakaian yang berwarna merah. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang elok, seelok Nabi saaw. (HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad ibnu Hanbal)

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra katanya:

    Kebiasaan Ahli Kitab ialah menyisir rambutnya ke belakang. Kebiasaan orang-orang musyrik ialah menyisir rambutnya menjadi dua belahan. Rasulullah saw suka menyesuaikan dengan Ahli Kitab pada perkara yang tidak diperintahkan. Rasulullah saw menyisir rambutnya ke belakang, kemudian barulah baginda membaginya menjadi dua belahan. (HR. Bukhori, Muslim, An-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad ibnu Hanbal)

  • MENGAJAK KEPADA TAUHID

    “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3) : 110)

    Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, dengan jiwa-raga kalian, dan dengan ucapan-ucapan kalian. [HR. Ahmad]
    Ayat di atas adalah salah satu ayat kitab suci Al-Qur’an yang paling sering dipakai untuk menerangkan beberapa hal. Saya telah mendengar lusinan ceramah yang membawakan setengah pertama dari ayat tersebut, berhenti pada kata “Allah” diikuti dengan penjelasan yang berbeda.

    Berdasarkan pengalaman, belum pernah saya mendengar sebuah penjelasan dari setengah berikutnya ayat ini, dan juga tidak seorang komentator Qur’an pun telah berkata sesuatu tentangnya. Setengah pertama dari ayat tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan atau memperingatkan penyimpangan sesuai dengan penyimpangan yang dilakukan. Mereka tampaknya terlalu puas hanya dengan setengah pertama ayat tersebut.

    Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa kita perlu ‘mengusik’ orang-orang Yahudi dan Kristen?” dapat ditemukan dalam setengah yang berikutnya dari kutipan Al-Qur’an di atas,

    “Sekiranya Ahli Kitab (maksudnya Yahudi dan Kristen) beriman (terhadap kitab suci Al-Qur’an) tentulah itu lebih baik bagi mereka (dengan kata lain, juga baik untuk kamu, umat Islam) di antara mereka (yaitu Yahudi dan Kristen) ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3): 110)

    Pada awalnya, dalam ayat yang memperkenalkan risalah ini, Allah menganugerahkan kepada umat kemuliaan, hak-hak istimewa dan status yang tinggi, menjadi “Orang-orang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia”. Kemuliaan dan status yang tinggi ini berarti membebankan kepada kita tugas dan tanggung jawab agar tidak mementingkan diri sendiri serta membagi status yang mulia ini dengan umat manusia lainnya.

    Ahli kitab -Yahudi dan Kristen- adalah sasaran pertama kita, karena mereka telah dipersiapkan untuk menerima pesan ini. Selain itu, banyak Nabi telah menyampaikan pesan ini kepada mereka. Mereka tidak mengingkari kitab suci yang dibawa oleh nabi-nabi tersebut dan membanggakan wahyu Taurat, Zabur dan Injil dari masing-masing Nabinya. Karena itu mereka adalah umat yang paling tepat dan paling siap menerima Islam. Mereka seharusnya yang paling utama menyampaikan keinginan mereka terhadap keinginan Allah dalam Islam -sebuah wahyu yang terakhir telah ada dan dikonfirmasikan kepada mereka: Tetapi mereka jugalah yang pertama menolaknya: mengapa menolak? Apa pertimbangan mereka?

    Namun demikian, tidak semua mereka telah sesat, Allah meyakinkan kita bahwa di antara kaum Yahudi dan Kristen terdapat sebagian yang beriman dengan tulus, “Tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

    Dan sebenarnya pada awal ayat telah dijelaskan bahwa ummat ini menjadi ummat terbaik hanya kalau mereka mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah. Apa yang lebih ma’ruf daripada mengajak kepada kalimat Tauhid? Apa yang lebih munkar daripada perkataan kekafiran dan kesyirikan? Bahkan segala kebaikan ini terdapat pada satu kalimat, yaitu Laa ilaaha illallaah. Tidak ada ilah haqiqi yang pantas disembah kecuali Allah.

    Sungguh, semua manusia akan binasa disebabkan kekafiran mereka, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, kemudian mereka beristiqomah di Jalan Lurus. Jalan Lurus adalah jalan yang ditapaki oleh para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, para shalihin (QS. An-Nisa: 69). Mereka itulah orang-orang yang mendapat keni’matan dari Allah (QS. Al-Fatihah: 7). Mereka itulah yang berada dalam bimbingan Tuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah: 1-5).

  • UMMAT MUHAMMAD RASULULLAH SAAW

    Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut… Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. [QS. 19: 68-71]

    Orang-orang Kristen yang culas mengklaim bahwa dua ayat di atas adalah bukti bahwa ummat Nabi Muhammad SAAW akan pasti masuk neraka. Benarkah? Tentu saja tidak. Itu adalah tipu muslihat. Dan tidaklah ditipu, kecuali diri mereka sendiri. Perhatikan ayat-ayat itu dengan benar dan lengkap.

    Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka. Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [QS. 19: 66-72]

    Perhatikan dengan benar! Di ayat 66 dikatakan ‘manusia’. Dalam Al-Qur`an, Allah menyebut ummat Muhammad Rasulullah SAAW dengan “orang beriman”, “mu’min”, dsb. Istilah ‘manusia’, biasanya digunakan untuk menyebut orang-orang yang belum beriman. Jadi dalam ayat 68, kata ‘mereka’ menunjuk kepada ‘manusia’, orang-orang yang belum beriman. Kemudian dalam ayat 71, Allah menjelaskan bahwa seluruh jin dan manusia, yang beriman mau pun yang kafir, pastilah mereka harus meniti jembatan Jalan Lurus. Barangsiapa yang di dunia ini mereka berada di Jalan Lurus, yaitu mengesakan Allah* dan tidak berkata ‘tiga’, maka Allah selamatkan mereka hingga bisa melewati jembatan itu. Sedangkan orang yang zhalim, orang yang tidak berada di Jalan Lurus, orang yang berkata bahwa Tuhan itu tiga, maka ketika meniti Jalan Lurus, dia pun akan keluar jalur. Sebab ketika di dunia, mereka tidak berada di atas Jalan Lurus, maka di akhirat pun, mereka tidak bisa berada di Jalan Lurus. Maka mereka inilah yang jatuh dari jembatan yang di bawahnya itu terdapat neraka. Sedangkan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, pasti diselamatkan Allah.

    Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. [QS. 3:51]

    * Lihat Juga Yohanes 17:3