Aku dibesarkan dari keluarga Katholik yang taat. Perjalananku menemukan Islam kurang lebih terjadi selama 20 tahun. Dimulai ketika umurku 12 tahun. Ketika itu masih belajar di sebuah sekolah theologi. Di situ kami diajari agama dan ketuhanan. Ada agama Kristen, Yahudi, Islam, Hindu dan Budha. Aku ingat, betapa besar kekagumanku terhadap Islam kala itu. Yang aku tahu, seorang Muslim itu bukanlah munafiq seperti yang selama ini aku ketahui dalam Kristen.
Ketika SMU, aku mengikuti program TV bernuansa Islam. Aku terbuai dan tertambat untuk terus mengikuti pembicaraan dan wawancara-wawancara tentang banyak hal berkaitan dengan ke-Islaman. Aku benar-benar menjadi orang yang ketagihan. Aku sudah tidak ingat lagi di saluran mana program TV itu, tapi yang jelas, biasanya ditayangkan pada setiap Jum’at. Melalui saluran TV itu saya mengenal kata ‘Tuhan Yang Mahapengasih lagi Mahapengampun’. Aku tahu dan sangat percaya itu. Dalam hati aku berkata, “Ya Tuhan, mungkinkah aku menjadi Muslimah?â€
Sayang, aku tidak tahu di mana tempat yang membicarakan tentang Islam berada. Selain itu, aku masih diliputi rasa kekhawatiran terhadap keluargaku. Apa jadinya bila tahu aku begini.
Tahun 1991, ketika duta besar Arab Saudi menggelar pameran, inilah kesempatanku untuk mencari tahu tentang banyak hal mengenai Islam. Sekitar bulan Februari, aku pergi ke Islamic Centre. Di depan imam, aku kemudian mengucapkan syahadat yang kedua, setelah pertama kali aku ucapkan sendiri di depan TV 10 tahun yang lalu. Sejak saat itulah, aku kemudian belajar shalat dan membaca Al-Qur`an. Ini benar-benar pengalaman yang sungguh mengagumkan.
Bulan Oktober 2001 lalu, aku resmi menggunakan hijab (jilbab) sebagaimana layaknya seorang Muslimah. Satu hal yang pertama kali aku lakukan sejak aku berkerudung adalah kampanye ‘jilbab’. Pernah satu kali di kantorku aku menempel poster dengan tulisan ‘Solidaritas Jilbab’.
Ketika itu banyak orang bertanya, “Apakah kamu dari golongan mereka?â€
“Ya,†jawabku.
Banyak orang heran, bagaimana aku bisa masuk Islam. Sebab, bagi banyak orang di sini, tidaklah mungkin orang kulit putih atau dengan rambut pirang mau memeluk Islam. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, “Bagaimana mungkin, orang terdidik seperti kamu bisa masuk Islam?â€
Dia mengira orang Islam itu seperti yang diberitakan di media-media. Lalu saya jelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur`an banyak memberikan hak kepada perempuan jauh dibanding yang tercatat dalam Alkitab. Itulah gambaranku menjadi seorang Muslimah. Aku kini telah memilih, “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul-Nya.â€
* Wartawati, seorang profesional
(Sumber: www.islamtoday.com)