Mungkin pertanyaannya bukanlah ‘perlukah?’ atau ‘untuk apa?’, melainkan ‘mengapa seseorang ingin melihat Tuhan?’. Ada banyak alasan. Diantaranya, jika Anda mencintai sesuatu atau seseorang, tentu Anda ingin melihat, berjumpa dan selalu berada di sisinya. (lebih…)
Kategori: Aqidah
-
Perlukah Melihat Tuhan?
Mungkin pertanyaannya bukanlah ‘perlukah?’ atau ‘untuk apa?’, melainkan ‘mengapa seseorang ingin melihat Tuhan?’. Ada banyak alasan. Diantaranya, jika Anda mencintai sesuatu atau seseorang, tentu Anda ingin melihat, berjumpa dan selalu berada di sisinya. Begitu juga dengan orang-orang Mu’min, mereka sangat ingin berjumpa dengan Allah. Siapa yang ingin berjumpa dengan Allah, maka ia pasti berjumpa dengan Allah. Siapakah yang ingin berjumpa dengan Allah? Mereka yang dalam beribadah kepada-Nya tidak pernah menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun jua.
Mungkin ada yang bertanya: “Bukankah keinginan melihat Allah merupakan keinginan untuk percaya? Dan jika tidak melihat Allah maka ia tidak mau percaya kepada Allah?” Keinginan melihat tidak selamanya karena tidak percaya. Banyak contohnya dalam Al-Qur’an.
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [QS. Al-Baqarah: 259]
Nabi Uzair tidak mungkin ragu akan kekuasaan Allah. Namun beliau berfikir, bagaimana kiranya gambaran kekuasaan Allah dalam menghidupkan sesuatu.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. [QS. Al-Baqarah: 260]
Dalam ayat di atas dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim meminta untuk diperlihatkan tentang kemampuan Allah dalam menghidupkan orang mati. Allah Mahatahu bahwa Nabi Ibrahim bukannya ragu. Allah bertanya kepada Nabi Ibrahim agar kita dapat mengambil pelajaran dari dialog tersebut. Diantaranya dapat kita pahami bahwa keinginan melihat Allah atau keinginan untuk melihat bukti eksistensi Allah atau pun keinginan untuk melihat Kemahakuasaan Allah tidak selalu terbit dari hati yang ragu atau pun tidak percaya. Adakalanya keinginan seperti itu terbit dari hati yang yaqin.
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. (QS. Al-A’roof: 143)
Nabi Musa sendiri sangat ingin melihat Allah. Apakah Nabi Musa orang yang tidak yaqin? Tidak mungkin. Lihat pembahasannya dalam Robbi Arinii Anzhur Ilayka
Bukankah Dibutuhkan Jarak untuk Bisa Melihat?
Sebenarnya tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Dalam hadits dikatakan bahwa ketika Mi’raj, Nabi telah berjumpa/melihat Allah. Padahal Nabi adalah yang paling ‘dekat’ dengan Allah. Bahkan ahli kalam berkata bahwa siapa yang menyangka Muhammad itu jauh dari Tuhannya, maka ia telah benar-benar kufur.
Ketika Anda bermimpi, Anda dapat melihat benda yang ‘jauh’ dan yang ‘dekat’. Padahal semua benda yang Anda anggap mempunyai jarak itu ternyata ada dalam kepala Anda sendiri. Semua benda itu ternyata tidak mempunyai jarak. Tetapi Anda dapat melihatnya. Ternyata tidak selalu dibutuhkan jarak untuk bisa melihat. Jarak, ruang dan waktu hanyalah persepsi. Saya senang sekali menonton semua film The Matrix. Karena di dalamnya terdapat banyak ilustrasi yang mempermudah saya untuk memahami haqiqat dari beberapa hal. Silahkan Anda membaca tulisan Kenyataan Dunia Nyata yang kami ambil dari karya Harun Yahya. Wallahu a’lam.
-
Robbi Arinii Anzhur Ilayka
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’roof: 143) (lebih…)
-
Robbi Arinii Anzhur Ilayka
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri (tajalli) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS. Al-A’roof: 143)
“Tidak akan melihat Aku,” merupakan pernyataan Allah, bahwa bagaimana pun juga, mata-kepala yang berbentuk bundar dan terletak pada rongga mata dengan daya lihatnya, tidak akan bisa melihat Tuhan. Tetapi tidak berarti menutup kemungkinan untuk melihat Allah dengan mata-bathin. Bila mata-hati itu dianugerahi oleh Allah berupa nur-Nya (nurul bashiroh), dan terdapat pancaran dan nyala pandangan bathin (syi’a-ul bashiroh) yang kemudian menguasai pandangan mata-kepala, maka pada kondisi itulah dimungkinkan terjadinya melihat Allah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Banyak orang-orang Sufi berkata: ‘Aku melihat Allah.’ Diceritakan orang tentang ucapan Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq ketika beliau ditanya: ‘Apakah Anda melihat Allah?’ Ja’far menjawab: ‘Aku melihat Allah kemudian aku menyembah-Nya.’ Kemudian ditanyakan lagi: ‘Bagaimana Anda melihat-Nya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak mungkin mata-kepala dapat melihat-Nya dengan keterbatasannya. Tetapi mata hati yang Haqqul Yaqin dapat melihat Allah.’”
Imam Al-Qurthuby berkata dalam Al-Jami’ul-Ahkamul-Qur’an, “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata-hati) adalah dapat diterima aqal. Kalau sekiranya tidak bisa, tentulah permintaan Musa as untuk bisa melihat Allah adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang jaiz dan apa yang mustahil pada Allah. Bahkan jika Nabi Musa tidak meminta, hal ini (melihat Allah) adalah bisa terjadi dan bukan mustahil.”
Tajalli menurut pendapat Shufi adalah Allah menampakkan Diri-Nya sendiri tanpa adanya yang selain dari-Nya, dengan segala Shifat Kesempurnaan-Nya. Tajalli Allah pada gunung menunjukkan bahwa Allah bisa saja (jaiz) bertajalli (menampakkan Diri-Nya) kepada benda apa pun juga, lebih-lebih kepada para Rasul, para Nabi dan para waliyullah atau kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Ketika makhluq mengalami tajalli Allah pada dirinya, maka ia tidak lagi melihat dan tidak lagi mengetahui eksistensi/wujud apa pun, kecuali Allah. Saat itu ia benar-benar menyaksikan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah. Bahkan dia tidak menyadari, tidak merasakan, tidak mengetahui eksistensi dirinya sendiri. Dirinya telah sirna (fana), yang benar-benar wujud saat itu hanyalah Allah. Segala sesuatu telah sirna dan tetap kekal (baqa) Wujud Allah. Tidak ada yang maujud, kecuali Allah. Maka wajarlah jika dari orang yang sedang dalam kondisi seperti ini keluar kata-kata seperti “Anal-Haqq” (Akulah Al-Haqq), atau “Laa ilaaha illaa Ana” (Tiada ilah kecuali Aku). Ingat, kalimat Tauhid juga bermakna tiada yang wujud dengan sebenar-benarnya wujud, kecuali Allah.
Namun demikian, tajalli dan pembahasannya tidak bisa menggambarkan kondisi tersebut hingga 100%. Hal ini merupakan masalah pengalaman, bukan sesuatu yang bisa dipelajari. Menjelaskan tajalli itu seperti menjelaskan rasa manis. Ia hanya bisa difahami dengan benar oleh mereka yang pernah mengalaminya. Tajalli memang bukan untuk difahami, tetapi dialami. Cara untuk membersihkan jiwa itulah yang perlu kita pelajari, fahami, dan kita amalkan. Dengan mengamalkan apa yang telah kita pelajari dan kita fahami, maka Allah akan mengajarkan kita sesuatu yang belum kita pelajari atau belum kita fahami hingga kita memahami hal tersebut. Amalkan apa yang telah Anda ketahui, maka Allah akan mengajarkan Anda apa yang belum Anda ketahui.
Wallahu a’lam.
-
Melihat Tuhan
Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. (HR. Muslim dari Umar bin Khoththob ra)
Rasulullah menegaskan bahwa seseorang yang beribadah menyembah Allah, seharusnya dapat merasakan ’seakan-akan’ (ka anna) melihat Tuhan. Dalam tata bahasa, ‘ka’ dinamakan harfut-tamtsil, menunjukkan umpama atau contoh. Sedangkan ‘anna’ adalah lit-taukid, untuk menguatkan. Maka artian yang tepat dari kata ‘ka-anna’ adalah ’seperti sungguh-sungguh’. Seorang aktor yang baik harus mampu menunjukkan permainannya seperti sungguhan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Ekspresi wajah, vokal, gerak tubuh dan lainnya harus cenderung kepada keadaan sebenarnya. (lebih…)
-
Tajrid dan Kasab
Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi. (lebih…)
-
Melihat Tuhan
Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. (HR. Muslim dari Umar bin Khoththob ra)
Rasulullah menegaskan bahwa seseorang yang beribadah menyembah Allah, seharusnya dapat merasakan ‘seakan-akan’ (ka anna) melihat Tuhan. Dalam tata bahasa, ‘ka’ dinamakan harfut-tamtsil, menunjukkan umpama atau contoh. Sedangkan ‘anna’ adalah lit-taukid, untuk menguatkan. Maka artian yang tepat dari kata ‘ka-anna’ adalah ‘seperti sungguh-sungguh’. Seorang aktor yang baik harus mampu menunjukkan permainannya seperti sungguhan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Ekspresi wajah, vokal, gerak tubuh dan lainnya harus cenderung kepada keadaan sebenarnya.
Maka setiap melakukan ibadah, terutama pada saat mendirikan sholat, bila tidak disertai perasaan ‘seperti sungguh-sungguh’ melihat Tuhan, maka ibadah itu tidak tergolong dalam ibadah yang ihsan (baik/sempurna).
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah: 45-46)
Terdapat beberapa pendapat tentang ‘melihat Tuhan’. Secara garis besar
ada 3 kelompok, yaitu:1. Dapat melihat Tuhan hanya di akhirat saja.
2. Dapat melihat Tuhan di dunia dengan mata-bathin, sedang di akhirat lebih nyata lagi.
3. Tidak dapat melihat Tuhan di dunia maupun di akhirat.Dua kelompok pertama merupakan kelompok Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa kita dapat melihat Allah di akhirat. Sedangkan kelompok ketiga adalah dari golongan Mu’tazilah.
Banyak dalil yang menyatakan bahwa kita dapat melihat Allah di akhirat, antara lain:
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita di hari Kiamat?” Maka Rasulullah menjawab: “Sulitkah kamu melihat melihat bulan di malam bulan purnama?” Para shahabat menjawab: “Tidak yaa Rasulallah.” Rasul berkata lagi: “Apakah kamu sulit melihat Matahari di waktu tanpa awan? Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan seperti itu.” (HR. Bukhori)
Ada yang memaknai hadits ini bahwa sebenarnya para shahabat telah percaya perihal melihat Tuhan di akhirat, namun mereka membayangkan bahwa mereka akan bergerombol dan berdesak-desakan untuk melihat Tuhan di akhirat. Lalu Rasul menjelaskan bahwa mereka dapat melihat Tuhan tanpa harus bergerombol dan berdesak-desakan sebagaimana orang yang memandang bulan purnama dan matahari tidak perlu berdesak-desakan.
Syaikh Ar-Rabi’ berkata bahwa beliau telah mendengar Asy-Syafi’i berkata mengenai hal melihat Tuhan ini: “Kami telah mengetahui mengenai hal melihat Tuhan ini. Sesungguhnya ada golongan yang tidak terdinding memandang kepada-Nya. Mereka tidak bergerombol melihat-Nya.”
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. (QS. Al-Muthoffifin: 15)
Imam An-Nasa’i memberikan keterangan mengenai ayat ini: “Adanya hijab untuk orang kafir adalah dalil tentang tidak adanya hijab bagi orang-orang yang mendapat kemulyaan (al-abror).”
Melihat Allah di Dunia
Sebagian Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang berpendapat bahwa kita juga dapat melihat Allah di dunia mengatakan bahwa ketika Rasul SAW mi’raj, beliau benar-benar melihat Allah, sehingga Sayyidina Hasan bin Ali ra berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan hadits riwayat Muslim dari Sayyidina Ibnu ‘Abbas ra yang oleh Imam An-Nawawi disimpulkan: “Sesungguhnya rajih menurut sebagian besar Ulama bahwa Rasulullah SAW melihat Tuhannya dengan mata-kepalanya/nyata (‘ainu ra’sihi) pada malam Isra’ berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan lainnya.”
Syaik Ibnu Hajar Haitami berkata: “Bahkan sepakat kalangan Ahlus Sunnah atas terjadinya Rasulullah melihat Tuhannya di malam Mi’raj dengan mata/nyata.”
Menurut Abdul Qadir Al-Jilani dan Al-Junaid, melihat Tuhan bisa terjadi di dunia dengan pandangan mata bathin yang mendapat nur dari Allah (nurul imtinan). Berkata Syaikh Abdul Qadir: “Apabila ruhaniyah dapat menguasai basyariyah (fisik), maka mata tidak akan melihat kecuali apa yang dicerap oleh mata bathin.”
Dalam Sirojuth-Tholibin dikatakan: “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian besar Ulama Shufi mengenai kemungkinan terjadinya melihat Tuhan.”
Mungkin orang atheis menolak eksistensi Tuhan dengan berkata, “Jika Tuhan itu ada mengapa ia tidak bisa dicerap sebagaimana rasa manis dapat dicerap atau tidak bisa dirasakan adanya sebagaimana rasa senang atau rasa sedih bisa dirasakan?” Karena Tuhan hanya bisa ‘dicerap’ oleh ruh yang murni, bukan oleh mata, otak atau pun ruh seorang atheis yang penuh nafsu. Alam ini tidak dapat menampung Allah, tetapi hari seorang Mu`min dapat ‘menampung’ Allah.
Seorang atheis baru bisa membedakan bahwa alam mimpi itu tidak nyata dan alam dunia itu nyata. Sedangkan Mu`min sejati telah sanggup membedakan bahwa alam dunia tidak nyata dan Tuhan itu nyata. Orang yang telah melihat Allah dengan nyata akan menyadari bahwa alam dunia itu maya. Orang yang baru bisa melihat alam dunia, wajar saja jika dia beranggapan bahwa dunia itu nyata dan alam mimpi itu maya. Padahal alam dunia dan alam mimpi sama mayanya.
Lihat kembali perkataan Syaikh Abdul Qodir, lalu ingatlah mimpi Anda. Bukankah ketika tidur, dan hijab alam mimpi diangkat, apa yang kita lihat bukanlah gelapnya kelopak mata melainkan dunia yang penuh warna? Saat itu bukan lagi mata-fisik yang melihat. Jika ruh telah semakin bersih, ketika hijab diangkat, tidak mustahil seseorang dapat melihat Allah.
Ruh murni dapat melihat Allah. Ruh yang tengah lepas dari segala elemen ruh. Allah tidak dapat dicerap oleh elemen ruh yang padanya ditanamkan aqal, nafsu, alam dunia, alam mimpi, dan lainnya.
Ingatkah Anda ketika Musa hendak ‘bertemu’ dengan Allah di lembah qudus Thuwa? Allah berfirman, “Lepaskan kedua terompahmu, wahai Musa!” Begitulah jika seseorang hendak berjumpa dengan Allah. Dia harus memurnikan ruhnya. Aqal memang dapat mengantarkan kita ke Istana Qudsiyah. Tetapi ia tidak dapat dibawa masuk ke dalam Istana Qudsiyah. Ia harus ditanggalkan di luar Istana. Aqal dan nafsu bagai terompah yang biasa bersentuhan dengan dunia yang kotor bagai bangkai. Maka mereka tidak dapat bersentuhan dengan Yang Mahaqudus. Setelah lepas dari terompahnya dan diizinkan masuk, maka ruh murni akan dapat berjumpa dengan Al-Quddus.
-
Tajrid dan Kasab
Ulama sufi yang termasuk dalam kelompok Ahlul Kasyaf di lingkungan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, amat mengkhawatirkan adanya orang yang baru selangkah memasuki arena Tasauf sudah berani mengukir kata dan ucapan seperti perkataan Al-Hallaj. Kadang menjadikannya bahan obrolan di kedai kopi.
Jika meneliti Kitab Insan Kamil karya Syaikh Abdul Karim Al-Jilli, ada kecenderungan kepada faham yang senada dengan Al-Hallaj, tetapi ada penekanan agar tidak semudah itu meniru-niru perkataan Al-Hallaj tanpa pemahaman dan pengalaman yang benar. Al-Jilli menegaskan, “Hamba adalah hamba, Tuhan adalah Tuhan. Tidaklah bisa hamba menjadi Tuhan dan Tuhan menjadi hamba.”
Hal lain yang dikhawatirkan adalah para pemula yang menuntut ilmu tashawwuf yang kemudian meninggalkan karya dan usaha. Padahal dirinya dan keluarganya sendiri amat membutuhkan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.
Syaikh Ibnu ‘Atho-illah berkata dalam Matnul Hikam, “Hasratmu untuk tajrid, padahal Allah masih menempatkanmu pada jalur kasab, maka hasrat yang demikian merupakan nafsu yang tersembunyi.”
Tajrid bisa saja terjadi dengan kehendak Allah, bukan dengan kehendak kita. Maka suatu kekeliruan bila ada orang yang menuntut ilmu tasauf, memaksakan dirinya untuk tajrid dan tidak berusaha untuk mencari nafkah bagi kepentingan dirinya dan keluarganya. Seorang milyarder yang memenuhi kebutuhannya dan keluarganya tanpa bekerja lagi, silahkan saja dia bertajrid secara lahir dan bathin. Bahkan jika ia tidak bertajrid untuk memfokuskan diri dalam ibadah, maka meninggalkan tajrid itu merupakan penurunan derajat. Namun orang yang Allah letakkan pada jalur kasab, jangan memaksakan diri untuk bertajrid.
Syaikh Al-Junaid berkata bahwa orang yang meninggalkan kasab dengan unsur kesengajaan adalah lebih berat dosanya dari berzinah dan mencuri. Lalu mengapa para guru sufi mengajarkan konsep tajrid jika meninggalkan kasab secara sengaja merupakan suatu dosa?
Tajrid itu ada tajrid lahir dan tajrid bathin. Tajrid secara lahir, berarti seseorang meninggalkan kasab demi mengabdi kepada Allah. Adapun tajrid secara bathin, yaitu Anda meyaqini bahwa kasab itu tidak mendatangkan hasil apa-apa. Jadi, tajrid secara bathin adalah seseorang meninggalkan kasab sebagai sebab datangnya rizqi dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab datangnya rizqi. Secara lahir, orang itu tetap berikhtiar, karena memilih yang halal itu diperintahkan oleh Allah, maka itu adalah ibadah. Namun secara bathin, dia tidak menempatkan ikhtiar sebagai pendatang rizqi. Bathinnya telah meninggalkan kasab. Inilah tajrid bathin.
Dalam bahasa yang ekstrim, orang yang tidak bertajrid secara bathin, berarti dia telah menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan rizqi. Orang yang bertajrid, dia meninggalkan kasab. Orang yang bertajrid secara bathin bukan berarti meningalkan kasab secara lahir. Namun dia tidak menjadikan usahanya sendiri sebagai tuhan yang mendatangkan hasil.
Lebih jauh lagi, orang yang bertajrid secara bathin itu tetap makan, namun dia meyaqini bahwa yang memberi kekuatan dan kesehatan adalah Allah. Makanan hanyalah makhluq yang padanya Allah letakkan keberkahan yang menyehatkan dan menguatkan.
Memang ada orang-orang tertentu yang Allah berikan keistimewaan hingga tidak lagi memerlukan makanan secara lahir. Dia bisa tetap kuat dan sehat dengan keberkahan dari Allah langsung tanpa mengambilnya dari makanan. Namun hal ini tidak bisa dipaksakan. Artinya tidak datang dari usaha dan kehendak kita, tetapi datang dengan kehendak dan kuasa dari Allah.
Begitu juga ada orang-orang yang telah Allah berikan kecukupan materi tanpa berusaha lagi. Maka silahkan ia berhenti dari kasab dan masuk kepada tajrid.
Pada akhirnya, tajrid secara bathin merupakan hal yang harusnya ada pada diri kita.
-
Al-Qur`an Menjiplak Taurat
Orang-orang Kristen berusaha mengejek Islam dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an itu menjiplak Taurat. Dengan cara seperti itu, sebenarnya menunjukkan bahwa mereka kurang mengerti apa itu ajaran Tuhan. Islam memang memiliki sumber yang sama dengan ajaran yang dibawa oleh para Nabi. Sama-sama berasal dari Allah, Rabbul-‘alamin. Jadi, ucapan mereka tidak menggugurkan kebenaran Islam, justru menguatkan bahwa Islam memang berasal dari Allah. Terbukti, ada banyak persamaan antara ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan ajaran yang dibawa oleh para Nabi Allah sebelumnya. Mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa as.
Bahkan Nabi Isa selalu mengajarkan ajaran para Nabi sebelumnya. Dalam banyak pembicaraan, Nabi Isa sering mengutip perkataan Nabi Musa, Nabi Daud, Yesaya, dan Nabi-Nabi lainnya. Bahkan dengan tegas Nabi Isa menjelaskan bahwa beliau datang bukan untuk menghapus hukum Taurat, melainkan menggenapkannya dan menyempurnakan pelaksanaannya.
Justeru yang harus dipermasalahkan adalah apabila ada suatu agama yang diklaim berasal dari Tuhan, tetapi ajarannya tidak memiliki akar dan kesamaan dengan ajaran para Nabi terdahulu. Apalagi jika ternyata ajaran itu malah banyak pertentangannya dengan ajaran para Nabi terdahulu dan bahkan menghidupkan kembali kebiasaan serta symbol-symbol ajaran pagan. Suatu ajaran Rabbul-‘alamin tetapi menghidupkan ajaran musyrik dan simbol-simbol pagan? Bukankah itu aneh?
Jika ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW mirip dengan ajaran yang dibawa Nabi Musa, itu wajar, karena Nabi Musa dan Nabi Muhammad adalah Nabi Allah.
Ajaran Paulus berbeda dengan ajaran yang dibawa Nabi Musa dan Nabi Isa. Ajaran Paulus itulah yang tidak wajar. Itu menunjukkan bahwa Paulus bukanlah Nabi Allah. Paulus itulah Nabi palsu utusan Iblis. Dia mengaku sebagai domba, padahal dialah srigala.
-
Psikologi Aliran Sesat
Belakangan semua media ramai memberitakan rebaknya aliran baru al-Qiyadah al-Islamiyah yang didirikan oleh Ahmad Mushaddeq alias H. Abdul salam yang bercikal bakal di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Bogor. Dengan pola perekrutan anggota yang cukup sestimatis dan rapi, tak heran jika aliran ini mampu menjaring anggota yang cukup banyak. Angka pasti jumlah pengikutnya belum terlacak, namun dapat diasumsikan per bulan Juni 2007 sebanyak 1.349 jiwa telah rela menjadi anggota di seluruh Indonesia. Pengikutnya pun tersebar di kota-kota besar, bahkan menurut berbagai sumber, pengikut mereka di Batam adalah kalangan orang terkaya di sana. (lebih…)