Kategori: Aqidah

  • Karena Muhammad

    Kalau bukan karena Muhammad Rasulullah, tidaklah Allah ciptakan segala sesuatu. Muhammad Rasulullah telah diciptakan sebelum segala sesuatu, dan segala sesuatu diciptakan dari tetesan Nur Muhammad yang terang benderang. Kemudian namanya dituliskan di samping Nama Allah di gerbang surga. Hanya Nama Muhammad yang dituliskan bersama Asma Allah. Laa ilaaha illallah, Al-Malik Al-Haqq Al-Mubin, Muhammad Rasulullah Ash-Shadiq Al-Wa’di Al-Amin. Setiap manusia tidak bisa dianggap beriman kalau belum mencintai Allah dan Muhammad Rasulullah SAW. Telah banyak peristiwa terjadi dengan nama Muhammad. Telah banyak hal tidak terjadi demi Muhammad. Rahmat diluaskan kepada alam semesta melalui Muhammad Rasulullah, dan mushibah di angkat demi Muhammad Rasulullah SAW.

    Nabi Adam as telah melanggar satu larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga. Maka beliau diampuni karena menyebut nama Muhammad dalam do’anya.

    Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]

    Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [QS. Al-Baqarah: 89]

    Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang Yahudi sebelum Nabi Muhammad lahir, yang mereka bertawassul dengan Nabi akhir zaman agar dimenangkan terhadap orang-orang non-Yahudi. Akan tetapi ketika Nabi tersebut telah dibangkitkan, mereka ingkar kepadanya. Yahudi tahu betul bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar Nabi yang dijanjikan. Mereka bertawassul dengan Nabi Muhammad untuk mendapatkan kemenangan. Orang-orang Yahudi tidak menghendaki ummat Islam bertawassul dengan Nabi Muhammad. Maka orang-orang Yahudi menyusupkan ajaran kepada ummat Islam bahwa bertawassul dengan Nabi Muhammad adalah bid’ah dholalah.

    Dengan Nabi Muhammad, seorang buta telah disembuhkan matanya. Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi dan mengadukan perihal matanya yang buta. Lalu Rasulullah menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdo’a dengan mengatakan, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafa’at kepadaku, dan berilah aku syafa’at (pertolongan) di dalamnya.” Laki-laki itu kemudian melakukannya, maka ia sembuh. (HR. Ahmad, hadits shahih)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Pada suatu hari Rasulullah saw dibawakan dengan seketul daging, lalu diberikan daging paha tersebut kepada baginda yang sememangnya baginda sangat sukai. Baginda menggigitnya sekali lalu bersabda: Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Tahukah kamu apa sebabnya? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian pada satu kawasan yang luas. Ada penyeru yang memperdengarkan kepada mereka dan ada penglihatan yang mengawasi setiap orang dari mereka. Jarak matahari begitu dekat sehingga manusia pada ketika itu berada pada kemuncak kesusahan dan kepayahan yang amat dahsyat, mereka tidak berkuasa untuk menanggung keadaan tersebut. Sebahagian daripada mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Tidakkah kamu tahu apa yang sedang kamu alami. Tidakkah kamu rasai kepayahan yang telah menimpa kamu? Tidakkah kamu mempunyai pandangan sesiapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kamu?

    Maka setengah dari mereka mengusulkan agar menemui Nabi Adam as. Maka mereka menemui Nabi Adam as lalu berkata: Wahai Adam! Engkau adalah bapa manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan roh ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para Malaikat supaya sujud kepadamu. Mintakankah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami? Nabi Adam as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu, aku dicegah mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakaiNya. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Nuh as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Nuh as lalu berkata: Wahai Nuh! Engkau adalah Rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Beliau berkata kepada mereka: Pada hari ini, Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Ibrahim as.

    Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim as lalu berkata: Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Ibrahim as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Beliau menyebut pembohongan-pembohongannya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada orang lain. Pergilah kamu kepada Nabi Musa as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Musa as lalu berkata: Wahai Musa! Engkau adalah Utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalahNya dan KalamNya, melebihi manusia lain. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Musa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku membunuh orang padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Isa as.

    Maka mereka pun pergi menemui Nabi Isa as lalu berkata: Wahai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia semasa engkau masih dalam buaian. Engkau adalah kalimahNya yang Dia sampaikan kepada Mariam dan roh dariNya. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Isa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Aku bukanlah orang yang layak dimintai pertolongan. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Muhammad saw.

    Maka mereka telah mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad! Engkau adalah Utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang terdahulu dan yang terkemudian. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami?

    Akupun berangkat. Sesampainya di bawah Arasy, aku merebahkan diri bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagiNya dan sanjungan kepadaNya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian difirmankan: Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Mintalah, engkau pasti diberi. Berikanlah syafaat, syafaatmu diterima. Aku mengangkat kepala sambil berkata: Wahai Tuhanku. Umatku, umatku. Maka Allah berfirman: Wahai Muhammad. Masukkanlah umat-umatmu yang tidak harus dihisab ke dalam Syurga melalui pintu sebelah kanan di antara pintu-pintu Syurga. Mereka juga boleh masuk bersama orang lain yaitu ahli Syurga yang bukan termasuk golongan di atas dari pintu-pintu lain. Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad Sesungguhnya jarak antara dua pintu Syurga itu, sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar sebuah Kota di Bahrain atau sama dengan jarak antara Mekah dan Busyra dekat Damsyik. [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal]

    Lihatlah, ketika para nabi berkata, “Selamatkan diriku, selamatkan diriku,” Muhammad Rasulullah SAAW tetap ingat kepada ummatnya dan berkata, “Selamatkan ummatku, selamatkan ummatku!” Dan lihatlah bahwa Muhammad Rasulullah adalah Tuan/Lord/Sayid. Dia itulah Jurusyafaat. Dia itulah Sang Penolong yang akan menolong manusia di hari berbangkit. Di tangan Nabi Muhammad itulah diserahkan Kerajaan Tuhan. Pada Muhammad Rasulullah SAW Allah berkenan.

    (hotarticle.org)

  • Ilmu Tauhid dan Tashawwuf

    Ilmu Tauhid lebih berbicara tentang apa itu iman. Sedangkan Tashawwuf lebih menekankan bagaimana caranya agar dapat merasakan manisnya iman. Tashawwuf lebih kepada dzauq atau perasaan rohaniah. Ketika ditanya tentang ihsan, Nabi menjelaskan bahwa ihsan adalah merasa seakan-akan melihat Allah atau setidaknya merasa dilihat oleh Allah.

    Bayangkan ada seorang pemuda berandal sedang duduk di pangkalan ojek bersama teman-temannya sambil bermain judi. Lalu datanglah orangtua dari pemuda tadi menghampiri dan memperhatikan tingkah laku anaknya itu. Namun si pemuda berandal tetap saja meneruskan permainan itu. Padahal dia melihat ayahnya yang sedang bermuka garang. Namun ia seperti tidak melihat saja. Walau dia tahu bahwa ayahnya memandangnya dg mata sangar, si pemuda tetap santai berjudi seakan tidak diperhatikan ayahnya. (lebih…)

  • Mencintai dan Iman

    Rasa cinta merupakan rasa suka yang sangat besar. Sedangkan mencintai merupakan suatu perbuatan aktif seseorang terhadap yang dicintainya yang timbul dari rasa cinta. Termasuk dalam ‘mencintai’ adalah merindukan, berkorban, patuh, melindungi, memberi, menerima perlakuan yang dicintai dengan rela, berusaha memahami keinginan yang dicintai dan berusaha menyenangkannya. Itu baru sebagian dari makna mencintai. (lebih…)

  • Ayat Tasybih

    Mengenai ayat mutasyabih yg sebenarnya para Imam dan Muhadditsin selalu berusaha menghindari untuk membahasnya, namun justru sangat digandrungi oleh sebagian kelompok muslimin sesat masa kini, mereka selalu mencoba menusuk kepada jantung tauhid yang sedikit saja salah memahami maka akan terjatuh dalam jurang kemusyrikan, seperti membahas bahwa Allah ada dilangit, mempunyai tangan, wajah dll yang hanya membuat kerancuan dalam kesucian Tauhid ilahi pada benak muslimin, akan tetapi karena semaraknya masalah ini diangkat ke permukaan, maka perlu kita perjelas mengenai ayat-ayat dan hadits tersebut.

    (lebih…)

  • Perlukah Ta’wil?

    Mayoritas salaful ummah beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat tanpa menjelaskan maknanya. Namun bukan berarti mena’wil ayat-ayat tersebut adalah terlarang. Mena’wilkan atau menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan kaidah tafsir yang telah ditetapkan adalah boleh jika diperlukan.

    Perlukah ta’wil itu saat ini? Ketika ahlul bid’ah muncul dan berkata bahwa ayat-ayat mengenai sifat-sifat Allah seperti istiwa, turun, dsb bukanlah ayat-ayat tasybih, sehingga tidak ada ta’wil bagi ayat-ayat tersebut, artinya ayat-ayat tersebut harus dimaknai secara harfiah, maka pada saat itulah ta’wil diperlukan untuk menyelamatkan aqidah kebanyakan orang. Ahlul bid’ah yang dimaksud adalah kaum mujassimah dan musyabbihah.

    (lebih…)

  • Pemikiran Asy’ariyah

    Konsep Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang berkembang hingga saat ini banyak berpijak kepada konsep yang disusun oleh Imam Al-Asy’ari atau pun Imam Al-Maturidi. Walau ada beberapa perbedaan, namun konsep mereka sangat mirip.

    (lebih…)

  • Hadits Mengenai Khawarij

    Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

    (lebih…)

  • Hadits Mengenai Khawarij

    Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w di Ja’ranah setelah kembali dari Peperangan Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak dan Rasulullah s.a.w mengambil darinya untuk dibahagikan kepada orang ramai. Lelaki yang datang itu berkata: “Wahai Muhammad! Kamu hendaklah berlaku adil.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Celakalah kamu! Siapa lagi yang lebih berlaku adil? Jika aku tidak adil. Pasti kamu yang rugi, jika aku tidak berlaku adil.” Umar bin al-Khattab r.a berkata: “Biarkan aku membunuh si munafik ini, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku berlindung dengan Allah dari kata-kata manusia bahawa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya membaca al-Quran tetapi tidak melampaui kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka menyudahi bacaan al-Quran sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan.” [HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad]

    Kaum khawarij itu juga membaca Al-Qur’an. Namun bacaan mereka tidak sampai tertanam di hati dengan benar. Sehingga yang mereka ikuti itu bukanlah Al-Qur’an berdasarkan pemahaman yang benar. Bahkan mereka itu mengikuti penafsiran berdasarkan nafsu mereka dan ustadz-ustadz mereka.

    Diriwayatkan daripada Ali r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akalnya. Mereka berkata-kata seolah-olah mereka adalah manusia yang terbaik. Mereka membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Apabila kamu bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka kerana sesungguhnya, membunuh mereka ada pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud]

    Mereka merasa bahwa mereka adalah manusia terbaik. Hal ini dapat kita lihat pada sikap mereka yang enggan bermadzhab. Padahal para ulama hadits pun bermadzhab kepada salah satu imam dari 4 imam madzhab. Mereka bukan saja merasa sebagai manusia terbaik di zamannya. Bahkan mereka merasa sebagai manusia yang lebih hebat dari para ulama hadits sebelum mereka. Mereka merasa bahwa kedudukan mereka sama dengan 4 imam madzhab. Sehingga mereka merasa tidak perlu bermadzhab. Mereka merasa pantas untuk berijtihad.

    Bahkan pendahulu mereka telah merasa lebih baik dari Nabi dengan berkata, “Wahai Muhammad, berbuatlah adil!” Coba Anda renungkan! Siapakah manusia yang paling tinggi taqwanya? Sedangkan adil adalah salah satu bagian dari taqwa. Manusia paling bertaqwa itu tentu saja Nabi Muhammad Imamul Anbiya wa Sayyidul Mursalin, uswatun hasanah ‘ala khuluqil azhim. Adakah manusia yang lebih adil dari Rasul SAW?

    Mereka telah menimbulkan masalah yang cukup serius. Mereka telah melakukan pembunuhan terhadap Muslimin yang bertentangan dengan mereka. Melakukan pemboman yang menyebabkan korban nyawa dan luka parah dari kaum Muslimin. Mereka telah menghalalkan darah ummat Islam tanpa alasan yang haq. Mereka telah melakukan tindakan-tindakan yang dapat membatalkan ke-Islaman mereka. Mereka keluar dari Islam, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka keluar jauh dari Islam. Sehingga sulit untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Memerangi mereka dalam diskusi merupakan ibadah. Membunuh mereka di medan perang ada pahalanya di akhirat kelak.

    Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Ali yang menjadi utusan di Yaman, mengirimkan emas yang belum diproses kepada Rasulullah s.a.w lalu baginda membahagikannya kepada empat atau beberapa orang iaitu al-Aqra’ bin Haabis, Uyainah bin Badr al-Fazari, Alqamah bin Ulasah al-Amiri, kemudian kepada seorang dari Bani Kilab iaitu Zaid al-Khair At-Tha’ie, juga kepada seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Engkau memberikannya kepada pemimpin-pemimpin Najd, tetapi meninggalkan kami iaitu tidak memberikannya kepada kami? Rasulullah s.a.w bersabda: Aku lakukannya untuk memujuk hati mereka. Setelah itu datang seorang lelaki yang berjanggut tebal dan menonjol rahangnya. Manakala kedua matanya cengkung dan dahinya pula menonjol keluar. Kepalanya juga botak iaitu kesan cukur. Dia berkata: Takutilah Allah, wahai Muhammad! Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa lagi yang lebih taat kepada Allah kiranya aku menderhakaiNya? Tidakkah Dia mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan engkau tidak mempercayaiku? Lalu lelaki itu beredar. Seorang di antara orang ramai meminta izin untuk membunuh lelaki tersebut. Tetapi Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya di antara kaumku ini, ada orang-orang yang membaca al-Quran tetapi tidak melepasi kerongkong mereka iaitu tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca bahkan mereka hanya sekadar membacanya sahaja. Mereka mampu membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala hidup. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. [HR. Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik]

    Hadis Sahl bin Hunaif r.a: Diriwayatkan daripada Yusair bin Amr katanya: Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif: Adakah engkau pernah mendengar Nabi s.a.w menceritakan tentang Khawarij? Sahl menjawab: Aku mendengarnya sambil menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Suatu golongan membaca al-Quran dengan lidah mereka, tetapi tidak sampai ke otak mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan. [HR. Bukhari, Muslim, Ahmad]

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Ada-ada saja kelompok pemuda yang lemah aqal di zaman ini. Betapa teganya mereka berbicara yang tidak-tidak tentang ibunda dan ayahanda baginda Nabi Muhammad SAAW. Mereka berkata bahwa ayah-bunda Nabi masuk neraka. Sungguh tuduhan yang menyakiti hati sang Nabi pilihan. Untuk itu, Guru kita Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa telah memberikan penjelasan yang dapat Anda baca di sini.

  • Ayah Bunda Nabi Di Neraka?

    Dalam banyak hadits teriwayatkan ketika ditanyakan pada nabi saw:
    “Apa yg kau perbuat untuk pamanmu abu thalib? Dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu..,” maka Rasul saw bersabda : “Dia di pantai api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yg terdalam” (Shahih Bukhari hadits no.3670, 5855, Shahih Muslim hadits no.209)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy: “Berkata Imam Baihaqi di dalam penjelasan riwayat masalah Abu Thali : ‘Tiada makna pengingkaran karena telah shahihnya riwayat ini, dan bentuknya menurutku bahwa syafaat pada kafir terhalang sebagaimana sampainya kabar yang jelas dan benar, bahwa tiada yang bisa memberi syafaaat pada kafir seorangpun, namun ini adalah makna umum bagi semua kafir, dan boleh saja ada kekhususan darinya bagi siapa yang telah dikuatkan kekhususan baginya (Rasul saw).

    Berkata sebagian mereka yang berpendapat bahwa balasan orang kafir daripada siksa adalah atas kekufurannya dan maksiatnya, maka boleh saja Allah mengurangkan sebagian dari siksa orang kafir, demi menenangkan hati sang Nabi saw pemberi syafaat, bukan karena pahala bagi orang kafir, karena pahalanya telah hapus karena kematiannya.’” (Fathul Baari Al masyhur Juz 11 hal 431).

    Perhatikan ucapan Imam : “demi menenangkan hati sang nabi saw pemberi syafaat,” lalu bagaimana lagi dengan ayah bunda Nabi saw…???

    Juga diriwayatkan bahwa Abbas bin Abdulmuttalib melihat Abu Lahab dalam mimpinya, dan Abbas bertanya padanya : “Bagaimana keadaanmu?” Abu lahab menjawab : “Di neraka, cuma diringankan siksaku setiap Senin karena aku membebaskan budakku Tsuwaibah karena gembiraku atas kelahiran Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.4813, Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13701, syi’bul iman no.281, fathul baari Almasyhur juz 11 hal 431).

    Walaupun kafir terjahat ini dibantai di alam barzakh, namun tentunya Allah berhak menambah siksanya atau menguranginya menurut kehendak Allah swt, maka Allah menguranginya setiap hari senin karena telah gembira dengan kelahiran Rasul saw dengan membebaskan budaknya.

    Walaupun mimpi tak dapat dijadikan hujjah untuk memecahkan hukum syariah, namun mimpi dapat dijadikan hujjah sebagai manakib, sejarah dan lainnya, misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, atau pun mimpi Pendeta Buhaira atas kebangkitan Rasul saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw, demikian pula mimpi Ibunda Rasul saw yang Allah ilhamkan untuk memberi beliau saw nama “Muhammad”, tentunya mustahil nama Muhammad itu datang dari bibir musyrik. Itulah mimpi yang benar.

    Maka para Imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh para Imam dan mereka tak mengingkarinya, bahkan berkata Imam Ibn Hajar dan Imam Assuyuthiy: “Perlu pertimbangan untuk memungkiri itu karena telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.”

    Karena memang shahih Bukhari adalah kitab hadits tertinggi dan terkuat dari semua kitab hadits, dan Imam Bukhari digelari Sayyidul Muhadditsin (Raja para Ahli Hadits), gelar ini dikatakan oleh Imam Muslim yang ta’jub ketika melihat Imam Bukhari dapat menjawab dengan mudah permasalahan yang tak bisa dipecahkan olehnya, maka berkata Imam Muslim: “Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Guru para Guru Ahli Hadits, wahai Raja para ahli hadits, wahai penyembuh hadits dari ilatnya..!”

    Dengan penjelasan diatas, bila Abu Thalib yang hidup di masa Nabi dapat syafaat Rasul saw hingga teringankan siksanya, dan bahkan Raja semua kafir yaitu Abu lahab bahkan mendapat keringanan siksanya karena pernah membebaskan budaknya yaitu Tsuwaibah karena gembiranya menyambut kelahiran Nabi SAW, maka bagaimana lagi ayah bunda Rasul saw, yang melahirkan Nabi saw, dan mereka tak sempat hidup di masa kebangkitan Risalah Nabi saw dan tak sempat kufur atau pun menolak ajaran Rasul saw?

    Demikian pendapat sebagian ulama bahwa ayah dan ibu Nabi SAW bebas dari kemusyrikan dan neraka, karena wafat sebelum kebangkitan Risalah, dan tak ada pula nash yg menjelaskan mereka menyembah berhala. Diantara Ulama yg berpendapat bahwa ayah bunda Nabi bukan musyrik adalah :
    Hujjatul Islam Al Imam Syafii dan sebagian besar ulama syafii, Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Qurtubi, Al Hafidh Al Imam Assakhawiy, Al hafidh Al Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi yg mengarang sebuah buku khusus tentang keselamatan ayah bunda nabi saw, Al hafidh Al Imam Ibn Syaahin, Al Hafidh Al Imam Abubakar Al baghdadiy, Al hafidh Al Imam Attabari, Al hafidh Al Imam Addaruquthniy, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Satu hal yang buruk pada jiwa para wahhabi, adalah mengumpat Nabi saw dg pembahasan ini. Naudzubillah dari jiwa busuk yang mengumpat Rasulullah saw, menuduh bunda Nabi kafir musyrik. Lalu bagaimana bila hal ini tak benar? Sungguh kekufuran akan berbalik kepada mereka.

    Saudaraku, beribu maaf, misalkan seseorang bernama Amir tak jelas apakah ayah ibunya muslim atau kafir. Lalu Zeyd menukil 100 cara untuk menjelaskan pada orang banyak bahwa ayah dan ibunya Amir adalah musyrik dan kafir. Bukankah berarti Zeyd memusuhi Amir? Bukankah ini umpatan terburuk? Bukankah jelas-jelas Zeyd mengumpat Amir? Bukankah berarti ia musuh besar Amir?

    Mereka berkata : “Kami taqlid kepada para Mujtahid.” Ketahuilah, taqlid kepada para mujtahid membutuhkan sanad, bukan taqlid kepada buku.

    Dan pendapat yang shahih dalam madzhab Syafi’i bahwa ayah bunda Nabi saw selamat karena tergolong ahlul fithrah, karena tak ada bukti bahwa mereka menyembah berhala.

    Mengenai hadits : “Ayahku dan ayahmu di Neraka” (HR. Shahih Muslim)

    Kalimat “Abiy” dalam ucapan Nabi saw diatas tak bisa diterjemahkan mutlak sebagai ayah kandung, sebagaimana firman Allah SWT : “Berkata Ya’kub ketika akan wafat kepada putra-putranya : ‘apa yg akan kalian sembah setelah wafatku nanti?’ Mereka menjawab : ‘Kami menyembah Tuhanmu, dan Tuhan ayah-ayahmu yaitu Ibrahim, dan Ismail dan Ishaq… (QS. Al-Baqarah 133)

    Jelas sudah bahwa ayah dari Ya’qub hanyalah Ishaq, sedangkan Ibrahim adalah kakeknya, dan Ismail adalah paman Ya’qub. Namun mereka mengatakan : ‘ayah-ayahmu’ namun bermakna : ‘ayahmu, kakekmu, dan pamanmu’. Karena dalam kaidah Arabiyyah sering terjadi ucapan ayah, adalah untuk paman.

    Bila siksa, keringanan dan ampunan adalah urusan Allah, dan Allah meringankan Abu lahab, dan meringankan Abu Thalib, maka lebih-lebih ayah bunda Nabi saw.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi dalam kitabnya Masalikul Hunafaa’ fi Abaway Musthofa, bahwa riwayat hadits shahih Muslim itu diriwayatkan oleh Hammad, dan ia adalah Muttaham (tertuduh), dan Imam Muslim tidak meriwayatkan hadits lain darinya kecuali ini. Dan riwayat hadits itu (ayahku dan ayahmu di neraka) adalah hadits riwayat Hammad sendiri, dan Hammad dianggap sebagai orang yang lemah hafalannya, dan ia terkelompok dalam orang yang hadits-hadistnya banyak diingkari, karena lemah hafalannya dan Imam Bukhari tidak menerima Hammad, dan tak mengeluarkan satu hadits pun darinya.

    Dan Imam Muslim tak punya riwayat lain dari Hammad kecuali dari Tsabit ra dari riwayat ini, dan telah berbeda riwayat lain dari Muammar yang juga dari Tsabit ra dari Anas ra dengan tidak menyebut lafazh : ‘ayahku dan ayahmu di neraka,’ tetapi dikatakan padanya “Bila kau lewat di kubur orang-orang kafir, fabassyirhu binnaar”, dan riwayat ini Atsbat (lebih kuat) haytsu riwayat (dari segi riwayatnya), karena Muammar jauh lebih kuat dari Hammad, sungguh Hammad telah dijelaskan bahwa ia lemah dalam hafalannya dan pada hadits haditsnya banyak yang terkena pengingkaran.

    Berkata Al-Hafizh Al-Imam Nawawi : “Ketika khabar ahad bertentangan dengan Nash Alqur’an atau ijma’, maka wajib ditinggalkan zhohirnya” (Syarh Muhadzab Juz 4 hal 342)

    Berkata Al Hafizh Al Imam Ibn Hajar Al Atsqalaniy yang menyampaikan ucapan Al Kirmaniy bahwa yang menjadi ketentuannya adalah “Khabar Ahad adalah hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah” (Fathul Baari Almasyhur Juz 13 hal 231)

    Berkata Al hafizh Al Imam Assuyuthiy bahwa Hadits Shahih bila dihadapkan pada Hadits lain yang lebih kuat maka wajib penakwilannya dan dimajukanlah darinya dalil yang lebih kuat sebagaimana hal itu merupakan ketetapan dalam Ushul (Masaalikul Hunafa fii Abaway Mustofa hal 66)

    Berkata Imam Al Hafizh Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy bahwa hadits riwayat Muslim abii wa abaaka finnaar (ayahku dan ayahmu di neraka), dan tidak diizinkannya nabi saw untuk beristighfar bagi ibunya telah MANSUKH dengan firman Allah swt : “Dan kami tak akan menyiksa suatu kaum sebelum kami membangkitkan Rasul” (QS. Al-Isra 15). [Rujuk Masaalikul Hunafa fii Abaway Musthofa hal. 68 dan Addarajul Muniifah fii Abaway Musthofa hal. 5 yang juga oleh beliau]

    Dikeluarkan oleh Ibnu Majjah dari Ibrahim bin Sa’ad dari Zuhri dari Salim dari ayahnya yang berkata: Datanglah seorang dusun kepada Nabi SAW, dan berkata, “Yaa Rasulullah! Inna abi kaana yasilur-raha wa kaana wa kaana… fa aina huwa?” Qaala, “Finnaar.” Qaala: Fa ka-annahu wajada min dzalik. Faqaala: “Yaa rasulullah! Fa aina abuuk?” Faqaala SAW haistu marorta fi qabr kafir, fa bassyirhu binnaar, fa aslama a’rabiy ba’d. faqaala law qad kallafani rasulullah saw taba’an, ma marortu bi qabr kafir illa bassyartuhu binnar.

    Maka jelaslah bahwa Imam Muslim dan Imam Nawawi mengambil riwayat ini bukan bermaksud menuduh ayah kandung nabi saw kafir, namun sebagai penjelas bahwa paman-paman nabi saw ada banyak yang dalam kekufuran, karena menolak risalah Nabi saw, termasuk Abu Lahab. Bahkan Abu Thalib pun dalam riwayat shahih Bukhari bahwa ia di Neraka.

    Berkata Al Hafizh Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy:
    Dikatakan oleh Al Qadhiy Abu Bakar Al A’raabiy bahwa orang yang mengatakan ayah bunda Nabi di neraka, mereka (yang berkata seperti itu) di laknat oleh Allah SWT, karena Allah SWT telah berfirman : “Sungguh mereka yang menyakiti dan mengganggu Allah dan Nabi-Nya, mereka dilaknat Allah di dunia dan akhirat, dan dijanjikan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)

    Berkata Qadhiy Abu Bakar, “Tiadalah hal yg lebih menyakiti Nabi SAW ketika dikatakan bahwa ayahnya berada di neraka, dan sungguh telah bersabda Nabi saw : ‘Janganlah kalian menyakiti yang hidup karena sebab yang telah wafat.’ (Masalikul Hunafa’ hal. 75 li Imam Suyuti)

    Adakah satu ucapan Imam Nawawi yang mengatakan bahwa Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah adalah musyrik penyembah berhala? Tidak ada. Bahkan Nabi SAW sendiri menjelaskan bahwa ayah-ayahnya adalah suci, sebagaimana sabda beliau saw :
    “Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muttalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf, bin Qushay, bin Kilaab, bin Murrah, bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizaar. Tiadalah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada diantara yg terbaik dari keduanya. Maka aku lahir dari ayah ibuku dan tidaklah aku terkenai oleh ajaran jahiliyah, dan aku terlahirkan dari nikah (yang sah), tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian, dan sebaik-baik ayah nasab.” (Ditakhrij oleh Imam Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra).

    Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya Juz 2 halaman 404. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya Juz 11 halaman 76.

    Juga sabda Nabi saw : “Aku Nabi yang tak berdusta, aku adalah putra Abdul Muththalib.” (Shahih Bukhari hadits no.2709, 2719, 2772, Shahih Muslim hadits no. 1776. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim.)

    Bila Abdul Muttolib kafir, maka adakah nabi akan membanggakan kakeknya yang kafir dalam peperangan? Dan Anda lihat pula dalam hadits ini bahwa putera bermakna cucu.

    Tentunya mengenai hal ini telah jelas. Bahkan paman Nabi SAW pun disyafa’ati oleh Rasul SAW. Demikian pula Abu Lahab sebagaimana riwayat Shahih Bukhari. Dan makna ayah dalam hadits itu adalah paman.

    Demikian pula ucapan Nabi saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra di peperangan Uhud ketika Nabi saw melihat seorang kafir membakar seorang Muslim, maka Rasul saw berkata pada Sa’ad : “Panah dia, jaminan keselamatanmu adalah ayah dan ibuku!” Maka Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata dengan gembira : “Rasul saw mengumpulkan aku dengan nama ayah ibunya!” (Shahih Bukhari hadits no.3442 Bab Manaqib Zubair bin Awam. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3446 Bab Manaqib Sa’ad bin Abi Waqqash. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3750 Bab Maghaziy. Riwayat yang sama pada Shahih Bukhari hadits no. 3751 Bab Maghaziy)

    Jelas sudah, mustahil Rasul saw menjadikan dua orang musyrik untuk disatukan dengan Sa’ad bin Abi Waqqash ra, dan mustahil pula Sa’ad ra berbangga-bangga namanya digandengkan dengan dua orang musyrik.

    Kita lihat bagaimana saat-saat kelahiran Nabi saw.. :
    Berkata Utsman bin Abil Ash Ats-Tsaqafiy dari ibunya yang menjadi pembantu Aminah bunda Nabi saw, ketika ibunda Nabi saw mulai saat-saat melahirkan, ia (ibu Utsman) melihat bintang-bintang mendekat hingga ia takut berjatuhan di atas kepalanya. Lalu ia melihat cahaya terang-benderang keluar dari Bunda Nabi saw hingga membuat terang-benderangnya kamar dan rumah. (Fathul Bari Almasyhur juz 6 hal 583)

    Riwayat shahih oleh Ibn Hibban dan Hakim bahwa Ibunda Nabi saw saat melahirkan Nabi saw melihat cahaya yang terang-benderang hingga pandangannya menembus dan melihat istana-istana Romawi. Inikah wanita musyrik, kafir…?

    Sabda Nabi saw : “Bila berkata seseorang kepada saudaranya wahai kafir, maka akan terkena pada salah satu dari mereka.” (Shahih Bukhari hadits no.5754)

    Dan pembahasan ini saya tutup bagi yang membantah namun tak bisa menyebutkan sanadnya kepada para Muhaddits, karena mereka yang tak memiliki sanad kepada para Imam itu maka hujjahnya Maqtu’, sanadnya terputus, dan fatwanya tidak diakui dalam syariah Islam, maka ketika dua pendapat berselisih, yang lebih tsiqah dan kuat adalah yang mempunyai sanad kepada para Imam tersebut.

    Wallahu a’lam

    (Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa)