Kategori: Aqidah

  • Apa Itu Islam?

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w berada bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki.
    Kemudian lelaki itu bertanya kepada baginda: “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?”
    Lalu baginda bersabda: “Kamu hendaklah percaya iaitu beriman kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, hari pertemuan denganNya, para Rasul dan percaya kepada Hari Kebangkitan.”

    Lelaki itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Apakah pula yang dimaksudkan dengan Islam?”
    Baginda bersabda: “Islam ialah mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan perkara lain, mendirikan sembahyang yang telah difardukan, mengeluarkan Zakat yang diwajibkan dan berpuasa pada bulan Ramadan.”

    Kemudian lelaki tersebut bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Apakah makna Ihsan?”
    Rasulullah s.a.w bersabda: “Engkau hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekiranya engkau tidak melihatNya, maka ketahuilah bahawa Dia sentiasa memerhatikanmu.”

    Lelaki tersebut bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Bilakah Hari Kiamat akan berlaku?”
    Rasulullah s.a.w bersabda: “Sememangnya orang yang bertanyakannya lebih mengetahui dariku. Walau bagaimanapun aku akan ceritakan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Apabila seseorang hamba melahirkan majikannya maka itu adalah sebahagian dari tandanya. Seterusnya apabila seorang miskin menjadi pemimpin masyarakat, itu juga sebahagian dari tandanya. Selain dari itu apabila masyarakat yang pada asalnya pengembala kambing mampu bersaing dalam menghiasi bangunan-bangunan mereka, maka itu juga dikira tanda akan berlakunya Kiamat. Hanya lima perkara itulah sahaja sebahagian dari tanda-tanda yang diketahui dan selain dari itu Allah sahaja Yang Maha Mengetahuinya. Kemudian Rasulullah s.a.w membaca Surah Luqman ayat 34 yang bermaksud: Sesungguhnya Allah lebih mengetahui bilakah akan berlaku Hari Kiamat, di samping itu Dialah juga yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim ibu yang mengandung. Tiada seorang pun yang mengetahui apakah yang akan diusahakannya pada keesokan hari iaitu samada baik atau jahat dan tiada seorang pun yang mengetahui di manakah dia akan menemui ajalnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Amat Meliputi pengetahuanNya.”

    Kemudian lelaki tersebut beredar dari situ. Rasulullah s.a.w terus bersabda kepada sahabatnya: “Sila panggil orang itu kembali.”
    Lalu para sahabat berkejar ke arah lelaki tersebut untuk memanggilnya kembali tetapi mereka dapati lelaki tersebut telah hilang.
    Lantas Rasulullah s.a.w bersabda: “Lelaki tadi ialah Jibril a.s. Kedatangannya adalah untuk mengajar manusia tentang agama mereka.” [HR. Bukhori (48), Muslim (10)]

    “Dibangun Islam itu atas lima perkara: Memberi kesaksian bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhajji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.” [HR. Bukhori dan Muslim dari Abi Abdurrahman (Abdullah) bin Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhuma]

  • Kuasa Gelap, Adakah?

    Kuasa gelap, kekuatan jahat, atau pun sihir memang ada. Ummat Islam haruslah beriman akan adanya perkara-perkara tersebut. Kemudian kita harus berhati-hati agar tidak ikut mengerjakannya dan agar kita tidak terkena sihir.

    Sihir bisa didapat seseorang melalui ritual-ritual penyembahan kepada jin, setan, atau pun Iblis. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang orang-orang Mesir Kuno yang mempelajari sihir dari para firaun. Juga dijelaskan bagaimana kekuatan sihir para penyihir bisa dikalahkan oleh Nabi Musa yang mendapat kekuatan dari Allah. (Silahkan lihat Al-A`raf ayat 115 hingga ayat 122)

    Dalam banyak hadits juga dijelaskan tentang amalan-amalan yang dapat menangkal sihir. Hadits-hadits tersebut selain menunjukkan adanya sihir, juga menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dari sihir dan membentengi diri dengan iman dan amal shalih.

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang membaca: “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiitu, wa Huwa ‘alaa kulli syai`in qodiir” dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan. [HR. Bukhori (3050, 5926), Muslim (4857)]

    Perlu diklarifikasi juga di sini bahwa pada pekan lalu, kami bukan ketakutan atau pun panik. Tetapi kami menghimbau agar kita semua berhati-hati terhadap hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Hanya saja pemberitaan yang begitu serempak membuat sebagian orang menganggap hal tersebut sebagai sebuah ketakutan. Ketakutan tersebut sebenarnya tidak ada, hanya salah tafsir saja atas aksi pemberitaan yang begitu gencar.

    Saya maklum atas salah tafsir mereka. Saya juga bisa salah tafsir terhadap tindakan pengamanan yang tidak biasa di Gereja-Gereja beberapa hari ini. Tetapi saya rasa, mereka bukannya takut kepada aksi pemboman. Mereka hanya berhati-hati, seperti kita berhati-hati kemarin. Bukankah demikian?

  • Paham Aliran Sesat Berkembang di Jateng

    Semarang (ANTARA News) – Perkembangan paham aliran yang dianggap menyimpang atau sesat di Jawa Tengah (Jateng) belakangan ini meningkat pesat, sehingga masyarakat perlu mewaspadai aliran tersebut.

    “Hampir semua wilayah di Jateng bermunculan pandangan mengenai aliran yang dinyatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyimpang (sesat),” kata Gubernur Jateng, Ali Mufiz, seusai acara Silaturahmi Gubernur dan Muspida Plus dengan Ulama se-Jateng di, di Semarang, Minggu.

    Menurut dia, bentuknya belum sampai pada gerakan. Namun masih sebatas lontaran pemikiran maupun wacana. Tetapi jika tidak dilakukan antisipasi bisa berpotensi pada perpecahan.

    Daerah yang memiliki potensi perkembangan pemikiran aliran sesat, antara lain Kabupaten Banyumas, Sukoharjo, Karanganyar, Pekalongan, dan Pati, katanya pada pertemuan yang dihadiri Ketua MUI Pusat K.H. Sahal Mahfudh, Kapolda Jateng Irjen Dody Sumantyawan, Ketua DPRD Murdoko, dan sejumlah ulama.

    Ia mengungkapkan, jika gejala berkembangnya pandangan baru tentang keyakinan tidak dilakukan penyikapan-penyikapan, maka bisa menjadi potensi kegelisahan di tengah masyarakat sehingga jika dibiarkan bisa mengancam iklim kondusif di Jateng.

    Menyinggung adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama berupa aksi perusakan oleh massa terhadap komunitas Ahmadiyah di Kuningan Jawa Barat yang bersamaan dengan Iduladha 1428 H, Gubernur Jateng menyatakan, hal itu merupakan fenomena yang terkait dengan konflik keyakinan dan soal kekerasan keberagamaan.

    “Kekerasan keberagaman di Jateng tidak ada, tetapi ada tanda-tandanya berupa lontaran pemikiran. Saya berharap munculnya pandangan baru tidak boleh dipandang sebagai kejahatan karena masih dalam sebatas wacana,” katanya.

    Sementara itu, Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, menyatakan bahwa dengan adanya pertemuan ini menunjukkan ada langkah yang seirama antara MUI dengan Muspida Jateng.

    “MUI berharap penyikapan terhadap adanya wacana aliran sesat dilakukan dengan cara persuasif,” katanya.

    Terkait rencana akan diadakannya acara istighasah pada tanggal 25 Desember 2007 di Kabupaten Sragen, baik Gubernur Jateng maupun MUI Jateng menghimbau, agar kegiatan itu dipertimbangkan ulang.

    Ali Mufiz mengatakan, istighasah merupakan upaya berdoa kepada Tuhan untuk meminta keselamatan, namun jika dilaksanakan berbarengan dengan perayaan Natal umat Nasrani, maka dikhawatirkan bisa menimbulkan salah tafsir.

    Pertemuan itu merekomendasikan sejumlah poin, di antaranya ulama berperan sebagai perekat, pelayan, dan panutan umat.

    “Termasuk meningkatkan amal Islami dan citra diri yang baik. Sementara bagi pemerintah, agar melakukan langkah konkrit dengan pendekatan dialogis, persuasif, dan penegakan hukum secara tegas serta adil,” katanya menambahkan. (*)

    Copyright © 2007 ANTARA
    (antara.co.id)

  • MUI: Natal Bersama

    Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka mirip dengan merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal. Padahal perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.

    Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama. Hendaknya ummat Islam tidak mencampur-adukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT. Namun ummat Islam tetap harus menjaga kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

    Ummat Islam memang diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat dari agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:

    Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

    Al Qur`an surat Luqman ayat 15:”Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

    Namun ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :

    Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”

    Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Kemudian, ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:

    Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

    Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : “Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

    Barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu telah kafir dan musyrik, berdasarkan atas :

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 : “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 : “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”

    Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 : “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”

    Pada hari kiamat nanti, Allah akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas :

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :
    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

    Dialog ini Allah beritakan dalam Al-Qur`an agar manusia mengambil pelajaran dari kesaksian Isa al-Masih akan hal ini.

    Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas :
    “Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

    Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :

    Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”

    Kaidah Ushul Fiqih:
    “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”

    Maka perayaan Natal di Indonesia, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Hendaknya ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dan dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

    (Sumber: mui.or.id)

  • Hati-Hati, Film Kristenisasi!

    Orang-orang Protestan sedang sibuk mengiklankan film ‘Sebuah Penantian’ yang akan diputar pada hari Sabtu tanggal 15 Desember 2007 pukul 16.30 – 17.30 WIB. Stasiun TV yang sudah bersedia memutar film ini adalah RCTI dan sedang diusahakan juga diputar di Trans TV dan TVRI secara serentak.

    Pemutaran film ini diprakarsai oleh Billy Graham Ministry (USA ). Film serupa pernah diputar di India dengan judul ‘My Hope India’ dan diklaim berhasil mengubah jutaan rakyat India untuk menjadi Protestan. Untuk pemutaran film ini, Billy Graham Ministry melakukan doa puasa selama sebulan dari tgl. 15 Nopember sampai dengan 15 Desember 2007. Mereka sangat ingin mengubah bangsa Indonesia untuk menjadi Protestan. Para pemain film ini antara lain Restu Sinaga, Nana Mirdad, Christine dan Mario Lawalatta. Ditayangkan mulai pukul 16.30 – 17.30, TANPA IKLAN.

    Proyek “My Hope” bertujuan untuk mengubah puluhan ribu orang di setiap negara sehingga mereka mau masuk ke dalam Protestan. Hal tersebut mereka lakukan dengan cara memberitakan Injil ke setiap negara, memfokuskan pada program-program televisi regional, dan melibatkan gereja-gereja nasional dan organisasi-organisasi Kristen dalam hal promosi, distribusi, mobilisasi, dan follow-up dari siaran program- program televisi tersebut.

    Proyek ini akan dikembangkan ke semua benua dimana setiap benua dibagi menjadi beberapa wilayah (berdasarkan bahasa/geografis/budaya, dsb.). Proyek ini telah dikembangkan di Amerika sejak Juli 2002 dan mulai beranjak menjangkau wilayah-wilayah di Eropa dan ke seluruh penjuru dunia. Mereka berharap akan tersedia 3 – 5 transmisi program televisi di setiap negara. Proyek ini akan berputar — jika program ini telah dipancarkan ke seluruh negara, maka prosesnya akan dimulai lagi ke setiap negara dengan tingkat yang lebih tinggi.

    Program-program “My Hope”, selain disesuaikan dengan budaya setempat, juga mempunyai muatan Injil yang jelas termasuk alamat kontak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Tidak ada iklan yang lewat saat program disiarkan. Radio juga akan digunakan sebagai media promosi dan follow-up dari program ini.

    Gereja-gereja nasional membentuk jaringan pendukung untuk pelaksanaan proyek ini. Komite Nasional Interdenominasi akan berfokus pada doa, perencanaan, promosi, konseling, mobilisasi pelatihan, dan follow-up.

    Program ini didistribusikan melalui jaringan TV nasional, pemancar TV lokal, dan dimanapun tempat melalui jaringan satelit, video, dsb. Program ini akan diudarakan dalam jam tayang utama di jaringan- jaringan televisi nasional.

    Jadi, hati-hatilah Anda jika menonton film yang satu ini!

  • Apakah Shirothol Mustaqim Itu Ada?

    (Isa berkata:)”Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (Ali Imran: 51)

    Jembatan di atas neraka itu memang ada. Dia akan dilalui oleh setiap jin dan manusia. Bagi mereka yang beriman dan beramal shalih, akan Allah selamatkan hingga berhasil menyebrangi neraka dan masuk ke dalam surga. Namun bagi mereka yang kafir atau pun durhaka, maka akan tersambar pengait dari api yang menarik mereka ke dalam api neraka. Allah berfirman dalam Al-Qur`an:

    Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 71-72)

    Namun titian ‘Shirothol Mustaqim’ bukanlah jembatan sembarangan. Jembatan itu dibangun oleh masing-masing jin dan manusia. Benar! Kitalah yang membangun sendiri jembatan yang akan kita lalui. Keselamatan seseorang di akhirat kelak juga tergantung pada bagaimana ia membangun ‘Shirothol Mustaqim’ (tentunya tidak terlepas dari Kasih-Sayang Allah juga, tetapi saya tidak sedang membahas hal itu di sini). Jika ia membangunnya dengan kokoh dan lebar, maka ia akan sangat mudah melaluinya. Namun jika ia membangun titian yang sangat rapuh dan kecil, lalu bagaimana ia akan menyeberanginya dengan selamat?

    Dalam beberapa ayat Al-Qur`an dijelaskan bahwa ‘Shirothol Mustaqim’ yang kokoh itu dapat kita bangun dengan mengakui Allah sebagai satu-satunya Ilah dan Rabb, kemudian kita menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Semakin murni pengakuan kita, dan semakin bagus penyembahan kita kepada Allah, maka akan semakin kokoh pula jembatan yang akan kita lalui kelak.

    Maka sesungguhnya, membangun dan berjalan di atas ‘Shirothol Mustaqim’ itu sedang kita lakukan saat ini. Siapa yang beriman dan beramal shalih, maka dia tengah berjalan di jembatan yang kokoh dan lebar. Namun, siapa yang kafir atau meninggalkan perintah Allah dan tidak bertaubat hingga akhir hayatnya, maka ia tengah membangun dan berjalan di jembatan yang rapuh dan kecil, bagaikan sehelai rambut yang dibelah tujuh.

    Marilah kita kembali kepada Allah. Marilah kita mengesakan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Sungguh tidak ada yang pantas disembah, kecuali Allah. Laa ilaaha illallaah.

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

  • Berdosakah Aku Jika Menciumnya?

    Ada-ada saja ulah kelompok-kelompok sempalan di zaman ini. “Ini bid’ah… itu bid’ah,” begitulah kata-kata yang sering mereka lontarkan. Bahkan mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu mencium Al-Qur`an, tidak pula kita diperbolehkan mencium tangan ulama. Mereka berkata, “Hal itu adalah syirik. Janganlah kamu menyembah yang selain Allah.”

    Apakah mencium tangan seseorang adalah suatu penyembahan kepada orang tersebut? Dari mana mereka bisa berkata seperti itu? Atas dasar apa? Sedangkan Allah telah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam dalam rangka menghormati Adam. Jika mencium tangan ulama adalah syirik, maka malaikat telah berbuat syirik, karena telah sujud kepada selain Allah.

    Bahkan para shahabat, apabila Rasul berwudhu, maka mereka berebut untuk dapat meminum air bekas wudhu beliau shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Jika Rasul bercukur, mereka berebut untuk mendapatkan rambut beliau SAAW. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal ingin agar dikubur bersama dengan tiga helai rambut Rasul yang beliau miliki. Para shahabat bukan hanya ingin mencium tangan Rasul, bahkan ada di antara mereka yang menelan darah bekam Rasul.

    Jika mencium tangan seseorang adalah syirik, maka para shahabat adalah musyrikin terparah yang pernah ada dalam sejarah ummat ini, dan Rasul adalah orang yang membiarkan kesyirikan terbesar itu berlangsung di depan matanya, dan Rasul membiarkan dirinya sebagai objek kesyirikan. Sungguh tidak masuk aqal tuduhan kelompok sempalan itu.

    Bagaimana mungkin mencium tangan seseorang bisa dikatakan pekerjaan syirik, sedangkan para shahabat telah melakukan yang lebih besar dari itu, dan Rasulullah membiarkannya? Maka jelaslah, tuduhan mereka membongkar kedok mereka. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang membenci sunnah Rasul. Mereka benci kepada perbuatan-perbuatan yang dicontohkan oleh para shahabat yang disetujui oleh Rasul. Mereka lebih suka mengikuti perkataan ustadz-ustadz mereka yang menyimpang daripada mengikuti Syari’ah Islam yang lurus ini.

    Mereka telah menjadikan ustadz-ustadz mereka sebagai pembuat syari’at (Syari’). Mereka telah jelas-jelas menyembah ustadz-ustadz yang menyimpang itu. Mereka selalu menggembar-gemborkan pelurusan aqidah. Padahal mereka itulah yang telah menyimpang aqidahnya.

    Mereka mungkin tidak peduli jika Anda tidak mencium Al-Qur`an setelah Anda membacanya. Mereka tidak peduli di mana Anda meletakkan Al-Qur`an Anda setelah Anda membacanya. Tetapi, apa kiranya reaksi mereka jika Anda menduduki peci atau topi mereka? Apa kiranya reaksi mereka jika Anda berani memegang dan mendorong-dorong kepala atau jidat ustadz-ustadz mereka?

    Berdosakah kita jika kita mencium Mush-haf Al-Qur`an karena kita mencintai dan menghormati Al-Qur`an? Berdosakah kita jika kita mencium tangan para ulama shalih, sedangkan mereka adalah para pewaris Nabi? Sungguh aneh kelompok-kelompok sempalan itu.

    Benarlah apa yang disabdakan Nabi tentang kelompok-kelompok sempalan itu. Mereka adalah pemuda-pemuda yang lemah aqal. Mereka mempelajari Al-Qur`an, tetapi mereka tidak memahaminya. Mereka membaca Al-Qur`an, tetapi tidak memperbaiki hatinya. Mereka keluar dari agama, seperti anak panah yang melesat dari busurnya.

    Tidakkah mereka membaca dalam Al-Qur`an bahwa Allah telah memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam? Apakah itu sujud ta’bud? Bukan, itu adalah sujud ta’zhim. Tidakkah mereka memahami akan hal ini? Betapa jahilnya.

    Wallahu a’lam.

  • ISLAM X

    Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. [QS. Al-Maidah: 3] (lebih…)

  • Islam Karangan Muhammad

    Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. (QS. Al-Furqan: 4) (lebih…)

  • ISLAM AGAMA WAHYU

    Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma`il, ishak, Ya`qub dan anak cucunya, `Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. [QS. An-Nisa`: 163] (lebih…)