Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : “Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (ajudan/pembantu) Madinah dengan bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324). (lebih…)
Kategori: Aqidah
-
Wahhabi Meracuni Pemuda
Di abad ini, muncul kelompok-kelompok pergerakan muslim yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid yang kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad mereka, sehingga tidak jarang mereka terjerumus kepada kelompok-kelompok yang beraqidah menyimpang. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpaham mirip dengan paham wahabi. (lebih…)
-
Paham Khawarij Meracuni Pemuda
Di abad ini, muncul kelompok-kelompok pergerakan muslim yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid yang kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad mereka, sehingga tidak jarang mereka terjerumus kepada kelompok-kelompok yang beraqidah menyimpang. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpaham mirip dengan paham khawarij. (lebih…)
-
Memulyakan Nabi SAAW
Allah berfirman: “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. [QS. Al-Hijr: 72]
Dalam surat Al-‘Ashr, Allah bersumpah dengan berfirman: “Demi masa.” Masa yang mana? Masa di mana Nabi hidup di dunia. Orang Arab biasa bersumpah dengan umur seseorang. Di sini Allah bersumpah dengan umur Nabi Muhammad SAAW untuk memulyakan beliau. (lebih…)
-
Penyusunan Al-Qur`an
1. Penyusunan ayat dalam Al-Qur`an.
Penyusunan ayat dalam Al Qur’an adalah dari ALLAH swt lewat Jibril yg diajarkan kpd Rasul saw. Dan ada yg berpendapat dari Ijma’ Shahabah Radhiyallahu’anhum. Namun pendapat pertama yg rajih, yang kuat. Pendapat yg pertama ini berdalilkan hadits Rasul saw : “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang, Abdullah bin Mas’ud, Salim (Ibn Ma’qil Maula Abi Hudzaifah), Mu’adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’b”. (HR Bukhari). (lebih…)
-
Situs Artikel Islami
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, saat ini telah banyak situs-situs dan blog yang berisi artikel-artikel Islami. Namun sayang, banyak juga di antara situs-situs itu yang beraliran non Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mungkin mereka menyebut diri mereka sebagai pengikut salafush sholih. Namun pemahaman dan perbuatan mereka sungguh berbeda dengan apa yang dipahami dan diamalkan para salafush shalih.
Dalam situs-situs mereka, mereka mengkafirkan ayah-bunda Rasul, membid’ahkan perayaan maulid, menyebut orang-orang yang memulyakan Nabi sebagai musyrikin atau setidaknya ahlul bid’ah. Maka situs-situs yang demikian itu haruslah diwaspadai dan ditinggalkan, sebab paham mereka itu dapat membahayakan aqidah kita.
Hotarticle.org berusaha untuk menampilkan artikel-artikel Islami yang sesuai dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka, apabila ada dalam situs ini mengandung artikel yang bertentangan dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah, silahkan tegur kami. Insya Allah, artikel itu akan segera kami hapus atau kami ubah, jika memang benar telah menyalahi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Untuk para pengunjung, silahkan menyalin dan memperbanyak artikel-artikel dalam situs ini untuk dibagi-bagikan guna mendukung da’wah Islamiyah. Mari selamatkan ummat dari kelompok-kelompok sempalan dan aliran-aliran sesat yang kian menjamur di bumi nusantara. Semoga Allah memudahkan jalan orang-orang yang berda’wah di jalan-Nya. Amin.
Baca juga:
Paham Khawarij
Paham Wahhabi -
SHAHABAT PUN BERMAULID
Dalam kitab-kitab maulid atau rawi, kita dapat menjumpai kalimat-kalimat pujian atas Rasulullah saaw yang sebenarnya dikutip dari Al-Qur`an, hadits, atau pun perkataan para shahabat.
Paman Nabi, Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib pernah berkata: Wahai Nabi, engkau adalah cahaya Allah SWT yang diletakkan pada sulbi Nabi Adam as, sehingga ketika Nabi Adam as turun ke muka bumi ini, engkau ikut turun ke muka bumi bersama Nabi Adam as. Lalu nabi Adam as melahirkan anaknya, dan anaknya melahirkan keturunan, sehingga engkau bersama Nabi Nuh as ketika banjir besar melanda kaumnya, sehingga engkau berada di sulbi para laki-laki mulya yang menikahi wanita-wanita suci, sehingga engkau dilahirkan oleh ibumu dengan cahaya yang terang benderang, dan sungguh hingga kini kami masih dalam naungan cahayamu.
Kalimat-kalimat pujian di atas itu akan kita dapati di dalam kitab-kitab maulid seperti dalam kitab maulid Ad-Diba’i. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa Sayyidina Abdullah bin Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi saaw bersabda: Sesungguhnya ada seorang Quraisy yang saat itu masih berwujud nur di hadapan Allah 2000 tahun sebelum penciptaan Nabi Adam as. Nur itu selalu bertasbih kepada Allah. Dan bersamaan dengan tasbihnya itu bertasbih pula para malaikat mengikutinya. Ketika Allah akan menciptakan Adam, nur itu pun diletakkan pada tanah liat asal kejadian Adam. Lalu Allah menurunkan nur itu ke muka bumi melalui punggung Nabi Adam. Dan Allah membawaku ke dalam kapal dalam tulang sulbi Nabi Nuh as, dan menjadikan aku dalam tulang sulbi Nabi Ibrahim Al-Khalil, ketika ia dilemparkan ke dalam api. Tak henti-hentinya Allah memindahkan aku dari rangkaian tulang sulbi yang suci, kepada rahim yang suci dan megah. Hingga akhirnya Allah melahirkan aku melalui kedua orangtuaku yang sama sekali tidak pernah berbuat serong.
(Jika kita melihat silsilah Yesus dalam Alkitab, tentu kita akan tercengang oleh moyang Yesus yang pernah berbuat serong, yaitu Yehuda dan Tamar.)Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa para shahabat pun terkadang berkumpul bersama Nabi saaw, dan mereka membacakan syair-syair pujian di hadapan Nabi saaw dan beliau saaw tidak melarang mereka, bahkan Rasulullah saaw mendoakan mereka sebagai tanda keridhoan beliau saaw atas perkataan mereka yang sesungguhnya tidak menyimpang dari Syari’atul Muthohharoh.
Bukan Muhammad namanya jika tidak boleh dipuji. Beliau dinamakan Muhammad, karena beliau memang pantas dipuji. Ketika kita memuji beliau saaw, sesungguhnya kita telah memuji Pencipta beliau. Jika Anda telah memuji istri dan anak Anda dengan ‘cahaya mata’, mengapa Anda enggan memuji Muhammad Rasulullah? Jika Anda telah memuji kecantikan isteri Anda, mengapa Anda tidak memuji keluhuran Muhammad Rasulullah saaw? Jika Anda mengagungkan Ka’bah sebagai qiblat Anda, mengapa Anda tidak mengagungkan Muhammad Rasulullah? Memuji dan mengagungkan Rasulullah bukanlah suatu bentuk penyembahan kepada beliau, sebagaimana ketika kita shalat menghadap Ka’bah bukanlah suatu bentuk penyembahan kepada Ka’bah.
Jika Anda beri’tiqad bahwa memuji dan mengagungkan Rasulullah itu syirik, maka jangan lagi Anda shalat menghadap Ka’bah, toh kemana pun Anda menghadap, disitu Anda dapati Wajah Allah. Dan jangan lagi Anda mencium Hajar Aswad. Jangan lagi Anda bersa’i antara Shofa dan Marwah. Jangan lagi Anda berthawaf mengelilingi Ka’bah. Karena berdasarkan i’tiqad tersebut, semua itu adalah merupakan penyembahan kepada Ka’bah, Hajar Aswad, Shofa, dan Marwah.
Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 158]
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. [QS. Al-Hajj: 30]
Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. [QS. Al-Hajj: 32]
Adakah sesuatu yang lebih terhormat dari Muhammad Rasulullah saaw di sisi Allah? Siapakah yang namanya berdampingan dengan Nama Allah di pintu surga? Siapakah nama yang disebut Nabi Adam as untuk bertawassul ketika beliau melakukan suatu kesalahan? Tidak layakkah Muhammad Rasulullah saaw untuk diagungkan oleh orang-orang yang bertaqwa? Tidak ada makhluq yang lebih layak untuk diagungkan daripada Muhammad Rasulullah saaw. Kerena beliau saaw adalah makhluq paling terhormat di sisi Allah.
Dari Umar ra. Ia berkata: Rasulullah SAAW bersabda, “Tatkala Adam melakukan kesalahan, dia berkata: “Wahai Rabbku, aku memohon kepada-Mu dengan haq Muhammad akan dosa-dosaku, agar Engkau mengampuniku.” Lalu Allah berfirman: “Wahai Adam, bagaimana kamu mengenal Muhammad sedang Aku belum menciptakannya (sebagai manusia) ?” Adam menjawab: “Wahai Rabbku, tatkala Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, maka Engkau Mengangkat kepalaku, lalu aku melihat di atas kaki-kaki arsy tertulis ‘Laa Ilaaha illallaah Muhammadur Rasuulullaah’ sehingga aku tahu bahwa Engkau tidak menambahkan ke dalam Nama-Mu kecuali makhluq yang paling Engkau cintai.” Lalu Allah Berfirman: “Benar engkau wahai Adam, sesungguhnya Muhammad adalah makhluq yang paling Aku cintai, berdoalah kepadaku dengan haq dia, maka sungguh Aku Mengampunimu. Sekiranya tidak ada Muhammad, maka Aku tidak menciptakanmu.” [HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juz 2 halaman 615, dan beliau mengatakan shahih. Juga Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Ibnu Taimiyah mengutipnya dalam kitab Al-Fatwa juz 2 halaman 150, dan beliau menggunakannya sebagai tafsir/penjelasan bagi hadits-hadits yang shahih]
Pembacaan rawi dalam perayaan-perayaan maulid bukanlah suatu perkara bid’ah, karena sebenarnya hal itu juga telah dilakukan para shahabat di hadapan Rasulullah saaw. Begitu juga dengan berdiri ketika “Asyroqol” atau pun “Thola’al”, itu bukanlah suatu bid’ah. Karena kita hanya meniru-niru shahabat. Dengan demikian, kita bisa merasakan apa yang dirasakan shahabat pada saat itu, yaitu kegembiraan yang hanya bisa dirasakan dan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dengan meniru tindakan para shahabat tersebut, kita merasa bahwa jiwa kita menyatu dengan jiwa mereka, atau jiwa kita seakan kembali ke masa ketika Rasulullah saaw tiba di Madinatun Nabi pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Pembacaan Maulid/Rawi dan segala kaifiatnya itu bagaikan pertunjukkan drama dimana kita berperan sebagai para shahabat yang sedang menyambut kekasih mereka saaw; bagaikan napak tilas kehidupan para shahabat ketika mereka hidup berdampingan dengan sang kekasih saaw. Kita memang tidak hidup sezaman dengan Rasulullah saaw, tetapi kita dapat merasakan bahwa Rasulullah saaw selalu mendampingi kehidupan kita. Spirit seperti inilah yang dicoba untuk dibangkitkan oleh ulama, yaitu kehidupan ummat yang selalu merasakan kehadiran Rasulullah saaw. Spirit yang timbul dari pancaran jiwa Muhammad Rasulullah saaw. Rasa seperti ini tidak dapat dipahami, kecuali oleh mereka yang selalu merindukan pertemuan dengan kekasih mereka, Muhammad Rasulullah saaw.
Baca juga:
Memuji Rasul
Memulyakan Nabi Muhammad SAAW
Merayakan Maulidur Rasul SAAW -
MERAYAKAN MAULIDUR RASUL SAAW
Sebagian dari kaum penyebar syubhat telah menyebut perayaan Maulidur Rasul saaw sebagai perbuatan bid’ah dholalah. Banyak sudah argumen yang mereka kemukakan. Namun semua argumen itu tidaklah berdasar pada dalil-dalil yang dapat dibenarkan kecuali oleh orang-orang yang mudah ditipu. Pada tulisan kali ini, kami mencoba mengemukakan beberapa argumen untuk menunjukkan betapa perayaan Maulidur Rasul itu adalah suatu hal yang mulia.
Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58)
Merayakan Maulid itu agak berbeda dengan merayakan Natal. Umat Kristiani merayakan Natal adalah dalam rangka menyembah dan mengkultuskan Yesus yang mereka yakini lahir pada tanggal 25 Desember. Dan mereka menjadikan tanggal 25 Desember itu sebagai hari khusus dalam merayakan kelahiran Yesus. Walau pun sebagian sarjana Alkitab telah menyatakan bahwa Yesus tidaklah lahir pada tanggal 25 Desember di musim dingin, melainkan pada bulan Ilul di musim semi atau musim kering. Bahkan mereka menjelaskan bahwa tanggal 25 Desember itu sebenarnya adalah perayaan orang Romawi untuk merayakan hari lahir dari dewa Sol Invictus.
Merayakan Maulid juga agak berbeda dengan merayakan Asyura dimana kita berpuasa sunnah pada tanggal 10 Muharram dalam rangka bersyukur dan taqarrub kepada Allah.
Merayakan Maulidur Rasul tidak hanya terpaku pada hari lahirnya Sang Cahaya (QS. Al-Maidah: 15). Maulidur Rasul dilakukan juga dalam rangka mengenang riwayat hidup Sang Juru Syafaat. Adalah benar bahwa Rasulullah saaw lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal di tahun Gajah. Namun tidak seperti perayaan lain yang terpaku pada satu hari tertentu, perayaan Maulidur Rasul saaw dapat dilakukan setiap hari. Tidak hanya pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tidak hanya di bulan Rabiul Awwal, tidak hanya di hari Senin. Bahkan setiap hari di sepanjang tahun, kita dapat merayakan Maulidur Rasul. Karena sudah semestinyalah bagi kita ummat Islam untuk bergembira setiap saat atas karunia Allah berupa lahirnya sang pembawa Syari’atul Muthohharoh. Maka perayaan Maulidur Rasul ini tidak bisa disamakan dengan perayaan Natal atau pun Milad Partai yang terpaku pada satu hari tertentu.
KEISTIMEWAAN 12 RABIUL AWAL
Walau perayaan Maulid tidak terpaku pada tanggal 12 Rabiul Awwal, namun tanggal 12 Rabiul Awwal tetaplah hari yang istimewa bagi para pecinta Rasul saaw dan Shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Karena pada tanggal 12 Rabiul Awwal itulah Sang Kekasih lahir ke dunia ini. Itulah tonggak sejarah baru dalam kehidupan manusia menuju Al-Haqq. Pada hari itu telah tumbang segala simbol kemusyrikan. Pada hari itu, api biara Majusi telah dipadamkan, jatuhlah mahkota Kisra Persia, dan Makkah diterangi cahaya gemilang.
Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal juga merupakan hari tibanya Rasulullah di Madinah. Pada hari itu, datanglah Sang Bulan Purnama dari celah-celah bukit. Maka bersyukurlah kita atas hijrahnya Rasulullah saaw dan atas selamatnya beliau tiba di Madinah. Tibanya Rasulullah di Madinah adalah fase kebangkitan selanjutnya dari da’wah ilallah. Itulah sebabnya kaum Anshor menyambut kedatangan beliau sambil berdiri dan menabuh rebana. Mereka melantunkan syair yang begitu indah, “Thola’al badru ‘alayna min tsaniyatil wada’. Wajabasy syukru ‘alayna ma da’a lillahi da’.”
Pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal pula Rasulullah saaw wafat. Pada hari itu, ummat Islam mengalami kegoncangan yang dahsyat. Lalu muncullah Ad-Da’i ilallah, Sayyidina Abu Bakar, yang membangkitkan kembali semangat kaum Muslimin dengan pidatonya yang terkenal. Pada hari itulah peristiwa agung lainnya terjadi, yaitu kebangkitan semangat Muslimin setelah diterpa ujian besar.
Maka wajarlah jika tanggal 12 Rabiul Awwal dijadikan salah satu hari istimewa bagi kaum Muslimin. Namun untuk merayakan Maulidur Rasul sebagai rasa gembira kita atas karunia besar tersebut, kita tidak mesti hanya merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Bahkan sepatutnya kita bergembira dan merayakan Maulidur Rasul pada setiap hari di sepanjang tahun.
RASUL PUN MERAYAKAN MAULID
Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah berkata : Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw berakikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadits no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah diriwayatkan bahwa telah berakikah untuknya kakeknya Abdulmuththalib saat usia beliau saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnul-Maqashid fii ‘Amalil-Maulid”.
Rasul pun pernah ditanya tentang puasa di hari Senin. Maka beliau menjawab bahwa pada hari itulah beliau saaw dilahirkan. Maka dengan alasan itu pula kita berpuasa di hari Senin. Dan dengan alasan itu pula dibolehkan bagi kita untuk beribadah kepada Allah dalam rangka bersyukur atas lahirnya Rasulullah saaw. Maka boleh bagi kita untuk membesarkan hari lahir beliau saaw dengan ibadah apa saja, tidak hanya dengan puasa, tetapi dengan ibadah yang lainnya pun boleh.
Baca juga:
Memuji Rasul
Memulyakan Nabi Muhammad SAAW
Shahabat Pun Bermaulid -
Dalil-Dalil Tawassul
Dalam setiap permasalahan apapun suatu pendapat tanpa didukung dengan adanya dalil yang dapat memperkuat pendapatnya, maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan. Dan secara otomatis pendapat tersebut tidak mempunyai nilai yang berarti, demikian juga dengan permasalahan ini, maka para ulama yang mengatakan bahwa tawassul diperbolehkan menjelaskan dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawassul baik dari nash al-Qur’an maupun hadis, sebagai berikut:
-
YUSUF QARDHAWI DAN TAWASSUL
Yusuf Qardhawi mendefinisikan tawassul sebagai ‘Menggunakan wasilah (perantara) untuk mencapai sebuah hal. Hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah.’
Jelaslah bahwa definisi seperti itu adalah tidak benar. Sebab, dalam bertawassul, terkadang kita bertawassul dengan amal shalih kita. Jika dikatakan bahwa ‘hal tersebut tidak mungkin dicapai kecuali dengan menggunakan wasilah (yaitu amal shalih kita)’, maka jelaslah bahwa ini adalah definisi yang bathil. Mana mungkin ada sesuatu ‘yang tidak akan terwujud tanpa menggunakan amal shalih kita’? Padahal, yang benar adalah bahwa segala sesuatu itu tidak mungkin terwujud, kecuali dengan Allah. Wasilah bukanlah yang mewujudkan sesuatu itu.Kemudian Yusuf Qardhawi mengomentari ayat ke-35 dari surat Al-Ma`idah yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma`idah: 35)Yusuf Qardhawi berkata, “Wasilah dalam ayat di atas adalah jalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan hal yang dicintai dan diridhai Allah. Baik berupa ucapan, perbuatan, ataupun niat.” Dia tidak menyebut soal ‘Nabi’ dan ‘Orang-Orang Shalih’ sebagai yang juga dicintai dan diridhai Allah. Suatu pandangan yang tidak lengkap.
Lalu Yusuf Qardhawi berkata bahwa tawassul yang disepakati itu ada empat, yaitu:
1. Tawassul dengan Dzat Allah.
2. Tawassul dengan Asma dan Sifat Allah.
3. Tawassul dengan amal shalih.
4. Meminta doa kepada orang shalih.Lalu Qardhawi berkata lagi bahwa tawassul dengan Nabi Muhammad, salah seorang Nabi, atau pun orang-orang shalih adalah hal yang diperselisihkan.
Padahal pendapat lain mengatakan bahwa yang diperselisihkan itu bukan bertawassul dengan Nabi, melainkan bertawassul dengan orang shalih itulah yang diperselisihkan. Dan lagi bukan ‘bertawassul dengan orang shalih’-nya yang diperselisihkan, sebab suatu pendapat mengatakan bahwa boleh saja kita bertawassul dengan orang shalih, asalkan orang shalih tersebut memang jelas keshalihannya. Adapun Nabi, sudah jelas keshalihannya, maka tidak ada ikhtilaf dalam hal ini. Namun mengenai keshalihan seseorang selain Nabi, kita tidak dapat memastikannya. Jadi bukan ‘tawassul dengan orang shalih’ yang diperselisihkan, tetapi keshalihan orang yang dijadikan sebagai wasilah itulah yang menjadi ikhtilaf. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa bertawassul dengan orang shalih itu sebaiknya dihindari, kecuali jika orang tersebut diyakini keshalihannya hingga akhir hayatnya. Jadi, mengkategorikan ‘tawassul dengan orang shalih’ sebagai perkara khilafiyah adalah suatu kesalah-pahaman atas aqidah yang dipegang oleh kaum salafus shalih.
Lebih lanjut, untuk menolak tawassul dengan Nabi dan orang-orang shalih, Yusuf Qardhawi berkata, “Antara Allah dan makhluq-Nya tidak terdapat penghalang. Inilah kelebihan aqidah Islam yang telah menghapus segala bentuk monopoli perantaraan Allah dan manusia yang dilakukan oleh pendeta serta pemuka agama. Aqidah tersebut telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.” Lalu dia mengutip ayat:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah: 186)Perlu diketahui bahwa orang yang bertawassul dengan Nabi itu tidak pernah meminta sesuatu kepada Nabi dalam doanya, mereka hanya berdoa, misalnya, ‘Ya Allah, demi Nabi-Mu, ampunilah aku.’ Dan doa semacam ini pernah dicontohkan Nabi Muhammad, dimana Nabi telah berdoa, “Dengan haq Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelum aku.” [HR. Imam Thabrani]
Yusuf Qardhawi, dengan komentarnya tersebut, sepertinya telah salah memahami ‘tawassul dengan Nabi’. Dalam komentaranya tersebut, dia seakan berkata bahwa kita tidak perlu perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Padahal Allah menyuruh kita untuk mencari wasilah yang mendekatkan kepada Allah. Dalam komentar itu, dia juga seakan berkata bahwa jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Dengan komentar demikian, berarti dia telah menyalahi tawassul yang disepakati. Yusuf Qardhawi berkata, “Aqidah Islam telah membuka pintu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tanpa perantara.” Jika hal ini dia maksudkan untuk menolak ‘tawassul dengan Nabi’, maka sesungguhnya hal tersebut juga telah menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Pertama, karena orang yang kita anggap shalih itu belum tentu shalih. Kedua, karena jika Anda ingin meminta, minta saja langsung kepada Allah. Mengapa harus meminta doa dari orang shalih? Bukankah Allah itu dekat?
Maka, jika dia menolak ‘tawassul dengan Nabi’ dengan komentar demikian, seharusnya dia juga menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’. Tetapi karena dia tidak menolak ‘meminta doa kepada orang shalih’, maka seharusnya dia juga menerima ‘tawassul dengan Nabi atau pun orang shalih’. Ini hanyalah salah satu contoh dari kecacatan cara berfikir Yusuf Qardhawi dan para pendukungnya, dimana mereka berfikir secara parsial.
Allah memang Mahadekat lagi Mahamendengar. Namun adalah suatu sunnah untuk berdoa dengan ‘bertawassul dengan nabi’ atau dengan meminta didoakan. Penolakan Yusuf Qardhawi terhadap ‘tawasul dengan Nabi’ adalah suatu penolakan yang lemah dan tidak sah.
Baca juga:
Tawassul (dalam situs ini)
Tawassul (dalam situs majelisrasulullah.org)
Dalil-Dalil Tawassul