Kategori: Aqidah

  • TAWASSUL

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. [QS. Al-Maidah: 35]

    Tawassul berarti mengambil perantara. Bertawassul dalam berdoa berarti kita mengambil sesuatu sebagai perantara dalam memohon kepada Allah. Seseorang yang bertawassul tidaklah menggunakan perantara ini, kecuali disebabkan kecintaannya kepada perantara itu dan keyaqinannya bahwa Allah mencintai perantara itu. Dan orang yang bertawassul berkeyaqinan bahwa yang mengabulkan do’a, yang memberi manfaat dan menghilangkan mudharat adalah Allah, bukan orang yang dijadikan perantara tersebut. Sekiranya orang yang bertawassul menganggap bahwa yang menghilangkan mudharat atau mendatangkan manfaat itu adalah orang yang dijadikan perantara tersebut, maka ia telah melakukan syirik.

    (lebih…)

  • ADZAB DUNIA MEMANG ALAMIAH

    Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. [QS. Maryam: 89-93]

    Sebagian manusia menganggap gempa bumi, tsunami, banjir besar, angin puyuh, dsb hanya sebagai gejala alam semata, dan bukannya adzab atau teguran dari Allah. Karena memang adzab di dunia itu bersifat alamiah. Coba sebutkan adzab yang datang kepada kaum terdahulu dan para pemimpin mereka! Pastilah Anda dapati bahwa kebanyakan adzab dan teguran yang datang kepada mereka merupakan gejala alamiah seperti gempa bumi, angin puyuh, nyamuk, belalang, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Karena Alam ini selalu geram melihat manusia-manusia durhaka. Jika tidak ditahan oleh Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, tentulah langit ini telah runtuh sejak manusia berkata bahwa Allah mempunyai putera. Tanpa seizin Allah, langit tidak berani untuk meruntuhkan dirinya di atas manusia. Tetapi pada saatnya nanti Allah mengizinkan langit dan apa yang ada padanya untuk runtuh menimpa manusia.

    Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh. [QS. Al-Insyiqaq: 1-5]

    Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya? Dan Dia menahan (benda-benda) langit (agar tidak) jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia.[QS. Al-Hajj: 65]

    Adzab yang menimpa sebagian kaum itu adalah disebabkan Allah mengidzinkan alam untuk melakukan yang demikian. Alam hanya patuh kepada perintah dan peridzinan dari Allah. Alam tidak berani menimpakan keburukan kepada manusia tanpa idzin dari Allah. Bahkan peristiwa kiamat yang sangat alamiah itu pun adalah atas idzin dari Allah. Jika di akhir zaman nanti banyak bintang ataupun meteor besar yang menghujani bumi ini, hal itu adalah dengan idzin Allah. Memang peristiwa yang sangat alamiah. Tetapi alam tidak melakukan itu, melainkan dengan idzin dari Allah Yang Mahapengasih kepada manusia.

    Jadi, jangan melihat kejadian-kejadian di alam ini sebagai peristiwa alamiah semata. Jika Anda pernah mempelajari Kitab Shifat Dua Puluh yang disusun oleh Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya, maka Anda dapati di sana: “Maka patut bagi mu`min mu’taqad bahwa ia ingat kepada Allah Ta’ala pada tiap-tiap yang maujud adanya… Maka patut bagi mu`min mu’taqad bahwa ia melihat Perbuatan Allah Ta’ala jua atas tiap-tiap suatu kejadian.”

  • ISLAM X

    Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. [QS. Al-Maidah: 3]

    Islam adalah agama wahyu yang dapat diterima oleh aqal fikiran manusia. Dia lahir dari wahyu yang diturunkan Allah kepada para Nabi-Nya. Lalu Allah menamai agama itu dengan nama ‘Islam’.

    Tetapi kemudian sebagian manusia mencoba untuk menjadi Tuhan. Dia mengerahkan segenap fikirannya untuk melahirkan suatu sistem baru yang katanya mirip dengan sistem Islam, yang kemudian diberi nama depan ‘Islam’, dan nama belakangnya terserah kepada ‘Bapak’ yang melahirkan sistem itu. Sebut saja Islam Liberal, Islam Hadhari, dsb. Bahkan ada lagi yang mencoba membubuhi nama Islam di belakang nama sistem yang dilahirkan manusia, yaitu Demokrasi Islam atau pun Demokrasi Islami. Padahal kita tahu bahwa segala ajaran dari Allah tidak boleh dikotori dengan pendapat manusia yang didasari oleh hawa nafsu mereka. Sistem Islam sungguh bertolak belakang dengan sistem manusia yang destruktif.

    Islam Liberal

    Liberal memiliki pengertian kebebasan, bebas dari hukum Tuhan. Sebutkan satu negara liberal yang menggunakan hukum Tuhan! Pasti Anda tidak bisa menyebutkan, walau hanya satu saja. Sedangkan Islam memiliki makna tunduk patuh kepada Allah.

    Bisakah kedua sistem yang bertolak belakang ini disatukan? Tentu tidak! Islam Liberal hanyalah moto untuk menjadikan setiap muslim agar mengaku Islam dengan lisannya, tetapi mengaku liberal dalam kesehariannya. Islam Liberal hanyalah suatu program kerja untuk menjadikan ummat Islam ini sebagai manusia-manusia munafiq.

    Demokrasi Islami

    Demokrasi memiliki makna bahaw kekuatan itu di tangan rakyat, sedangkan pemimpin hanyalah wakil rakyat yang dipilih untuk mengelola kebutuhan rakyat sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat. Sedangkan Islam memiliki makna bahwa kekuasaan itu di Tangan Alah. Adaun manusia hanyalah wakil Allah di muka bumi untuk mengelola bumi sesuai aturan dan hukum Allah.

    Islam dan Demokrasi tentu tidak bisa disatukan. Demokrasi Islami hanya istilah untuk mengecoh ummat Islam agar mereka mau menjalankan sistem Demokrasi, yang tentunya ciptaan manusia belaka. Mereka lupa bahwa kekuasaan dan hukum itu berada di Tangan Allah.

    Agama Di Sisi Allah

    Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. [QS. Ali Imran: 19]

    Jika Anda memang berani, cobalah Anda yakini ajaran-ajaran mereka itu dan amalkan. Tapi ingat bahwa suatu saat, Anda pasti mengalami kematian. Lalu Anda akan ditanya di alam barzakh, “Siapa Tuhanmu?” Bagaimana Anda bisa menjawab dengan benar jika Anda belum bertobat dari hukum dan ajaran manusia? Bagaimana Anda bisa mengaku bahwa Allah adalah Tuhan Anda, sedangkan Anda tidak menganggap Allah sebagai Tuhan Yang boleh mengatur Anda melalui ajaran Islam?

    Belum lagi ketika ditanya apa agama Anda? Apakah Anda akan bebas dari pukulan malaikat ketika Anda menjawab bahwa agama Anda adalah Islam Liberal?

    Dan ketika ditanya tentang Nabi Muhammad, dapatkah Anda menyebut nama yang mulya itu? Tentu tidak jika Anda mengikuti nabi-nabi palsu seperti Ulil Abshar Abdala, Azyumardi Azra, Dawam Rahardjo, Lia Aminuddin, Aminah Wadud, dlsb.

    Sekarang, tentu Anda tidak berani untuk mencari agama selain Islam ‘kan?

    Semoga Allah mematikan kita dalam Dinul Islam. Aamiin.

    Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. [QS. Huud: 113]

  • Memulyakan Nabi Muhammad SAAW

    (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. [QS. Al-Hijr: 72]

    Dalam surat Al-‘Ashr, Allah bersumpah dengan berfirman: “Demi masa.” Masa yang mana? Masa di mana Nabi hidup di dunia. Orang Arab biasa bersumpah dengan umur seseorang. Di sini Allah bersumpah dengan umur Nabi Muhammad SAAW untuk memulyakan beliau. Demi umur Muhammad, demi masa di mana Muhammad hidup di dunia ini, sungguh manusia itu berada dalam kehancuran, kesesatan, dan kebinasaan, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, dan berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Periode di mana Muhammad Rasulullah SAAW hidup di dunia adalah periode puncak dari kehidupan manusia dan seluruh makhluq di alam semesta. Tidak ada masa seperti itu sebelumnya dan sesudahnya. Wajarlah jika Allah begitu memulyakan makhluq yang satu ini. Di pintu surga tidak ada nama makhluq tertulis kecuali nama Muhammad Rasulullah.

    KESOMBONGAN IBLIS

    Tapi sayang seribu sayang, di zaman ini ada orang yang enggan memulyakan Nabi, bahkan menuduh yang tidak-tidak kepada orang yang memulyakan Nabi.

    Dulu Allah telah menciptakan Azazil yang hanya mau menyembah dan memulyakan Allah. Tetapi ketika Allah menciptakan Adam dan menyuruh Azazil memulyakan Adam, Azazil menolaknya. Maka berubahlah namanya menjadi Iblis.

    Allah, apabila Dia mencintai seseorang, maka ia akan mengumumkannya kepada Jibril: “Wahai Jibril, sesungguhnya aku mencintai Fulan, maka cintailah Fulan.” Maka Jibril pun mencintainya dan mengumumkannya kepada penduduk langit. Maka penduduk langit pun mencintainya dan mengumumkannya kepada penduduk bumi. Dan tidak ada makhluq yang lebih Allah cintai melainkan Muhammad Rasulullah SAAW. Lalu mengapakah kita tidak mencintai dan memulyakan beliau? Padahal tidak sempurna iman seseorang hingga dia mencintai Nabi dengan kecintaan yang melebihi kecintaannya kepada dirinya, orangtuanya, anak-anaknya, dan dunia seisinya. Nabi Muhammad SAAW adalah Sayyidunnas, Tuan manusia di dunia dan di akhirat. Nabi itu lebih pantas untuk dicintai oleh mu`min.

    Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. [QS. Al-Ahzab: 6]

    ADAT ISTIADAT SHAHABAT

    Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) terhadap suatu golongan, maka dia termasuk ke dalam golongan tersebut. Begitu pula orang yang ikut-ikutan upacara kaum Anshor ketika menyambut Rasulullah. Maka mereka adalah termasuk golongan kaum Anshor yang dimulyakan Nabi. Mengapa kita harus berdiri ketika mengucapkan “Thola’al Badru ‘alayna” sedangkan Nabinya tidak ada? Karena demikianlah kaum Anshor melakukan, dan kita adalah kaum yang ingin menyerupai mereka. Jika memang hal ini tidak bisa diterima, maka untuk apa kita bersalam kepada Nabi di dalam tahiyat akhir sedangkan Nabinya tidak ada? Sayangnya tidak sah shalat seseorang yang tidak bersalam kepada Nabi pada tahiyat akhir.

    Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [QS. Yunus: 58]

    Allah menyuruh kita untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya. Ketika kita menikah, kita disuruh untuk bergembira dan bersyukur dan merayakannya. Ketika anak kita lahir, kita disuruh untuk bergembira dan merayakannya serta bersyukur. Akan tetapi, apakah karunia dan rahmat Allah yang lebih pantas untuk disyukuri?

    Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya: 107]

    Adalah wajib untuk mensyukuri karunia dan rahmat yang terbesar ini. Rahmat yang Allah anugerahkan kepadaku dan kalian, yang dengannya aku dan kalian dapat mengenal keagungan ‘Laa ilaaha illallaah’. Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai beliau SAAW melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.

    ACARA MAULID

    Mengadakan acara pembacaan riwayat hidup Muhammad Rasulullah SAAW adalah salah satu cara kita mengungkapkan kegembiraan kita atas karunia terbesar ini. Dengan acara-acara seperti ini memuncaklah keimanan kita dengan tersambungnya sanubari kita dengan sanubari sang idola SAAW. Sebagaimana Abu Hurairah dan para shahabat berkata kepada Nabi bahwa puncak keimanan mereka adalah ketika mereka ada di dekat Nabi SAAW. Sungguh berbeda antara shalat bersama Nabi dengan sholat tidak bersama Nabi. Sungguh berbeda puasa bersama Nabi dengan puasa tidak bersama Nabi. Begitulah para shahabat, keimanan mereka memuncak ketika mereka berada di dekat Nabi. Tetapi ketika mereka kembali kepada keluarga mereka, maka menurunlah keimanan mereka.

    MENABUH TABUHAN

    Menabuh tabuhan di dalam Masjid adalah dibolehkan pada saat walimah dan hari raya. Bagaimana kalau pada saat mengadakan acara maulid Nabi? Lebih boleh lagi. Sebab kegembiraan dalam kelahiran Nabi adalah kegembiraan yang melebihi kegembiraan saat walimah atau pun hari raya idul fitri. Sebagaimana dikatakan Abbas: “Ketika engkau lahir wahai Rasulullah, terang-benderanglah timur dan barat dengan cahayamu. Dan cahaya itu masih kami rasakan hingga saat ini.” Ini dapat dilihat dalam Al-Mustadrak fii Shahihain Imam Hakim. Tidakkah Anda merasakan cahaya Rasulullah memancar di sanubari Anda? Tidakkah Anda merasakan cahaya tauhid yang dibawa Rasulullah SAAW menerangi gelapnya sanubari Anda? Dan lihatlah bagaimana Sayyidina Abbas memuji beliau SAAW. Adakah itu perbuatan syirik? Jika itu perbuatan syirik niscaya Nabi SAAW yang langsung menegurnya. Tetapi Nabi SAAW justeru malah ridho dan mendo’akan Sayyidina Abbas.

    MAKRUH MEMBUNUH KATAK

    Ketika Nabi Ibrahim di masukkan ke dalam api besar, Allah berfirman kepada api besar itu agar menjadi sejuk bagi Nabi Ibrahim. Maka sejuklah api itu terhadap Nabi Ibrahim. Tetapi seekor katak yang melihat Nabi Ibrahim di masukkan ke dalam api besar itu, ia segera melompat-lompat ke sungai dan kemudian mengantungi air dalam mulutnya dan melompat-lompat ke arah api besar itu dan menyemburnya dengan air dalam mulutnya yang tidak seberapa. Sungguh perbuatan yang sia-sia. Tetapi Allah tidak menilai demikian. Disebabkan sikap satu katak ini yang memulyakan dan mencintai Nabi Ibrahim Khalilullah, maka seluruh katak di dunia ini diharamkan untuk dibunuh, dan sebagian pendapat mengatakan makruh dengan kemakruhan yang sangat. Bagaimankah bila kita memulyakan dan mencintai Nabi SAAW? Adakah ini disebut perbuatan syirik? Justeru inilah perbuatan yang sangat diridhoi Allah.

    KISAH POHON KURMA

    Disebabkan jama’ah telah bertambah banyak, maka Sayyidina Umar membuatkan mimbar yang tinggi untuk Nabi agar jamah yang di belakang dapat melihat wajah Nabi yang menenangkan. Maka ketika Nabi menggunakannya untuk pertama kali, belum lagi Nabi berkata, terdengarlah suatu jeritan yang menyayat hati hingga membuat para shahabat ikut merasakan kesedihan si sumber jeritan. Maka Nabi turun untuk mencari sumber jeritan itu. Ternyata jeritan itu bersumber dari batang pohon kurma yang biasa Nabi gunakan untuk bersandar di kala menyampaikan pengajaran kepada para shahabat. Pohon kurma itu begitu sedihnya ketika Nabi tidak lagi bersandar kepadanya. Kerinduan dan kesedihannya diketahui oleh Allah, dan dengan izin-Nya, suara batang pohon kurma itu pun dapat di dengar oleh mereka yang hadir dalam majelis itu. Maka Nabi menawarkan kepada batang pohon kurma itu dua pilihan, tetap disandari oleh Nabi di dunia ini, atau ditumbuhkan kembali di istana Nabi di surga. Maka pohon kurma itu pun memilih untuk ditumbuhkan kembali di istana Nabi di surga, di mana saat itu tidak ada tumbuhan dunia yang ditumbuhkan kembali, kecuali batang pohon kurma itu. Setelah memilih demikian, maka pohon kurma itu pun mati dan dikubur di bawah kaki tangga pertama dari mimbar Nabi SAAW. Betapa besar ni’mat yang diperoleh pecinta Nabi Muhammad SAAW, dapat hidup bersama Sang Tuan manusia di surga. Tidakkah Anda ingin bersama beliau SAAW?

    Sumber: Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa (pengasuh www.majelisrasulullah.org)

    Baca juga:
    Memuji Rasul
    Merayakan Maulidur Rasul SAAW

  • PAHAM KHAWARIJ

    Di abad ini, muncul kelompok-kelompok pergerakan muslim yang membuat para pemuda muslim tertarik untuk bergabung. Kelompok-kelompok ini memang selalu mengobarkan semangat juang para pemuda, sehingga tidak sedikit pemuda muslim yang memiliki jiwa mujahid yang kemudian bergabung. Tetapi sayangnya, ilmu pemuda itu tidak setinggi semangat jihad mereka, sehingga tidak jarang mereka terjerumus kepada kelompok-kelompok yang beraqidah menyimpang. Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpaham mirip dengan paham khawarij.

    BERHUKUM KEPADA KITABULLAH

    Di antara kelompok-kelompok itu ada yang berpandangan begitu piciknya. Bahkan mereka berani mengkafirkan orang-orang di luar jama’ah mereka. Mereka menghukum kafir, zhalim, dan fasiq kepada orang-orang yang masih berhukum kepada hukum manusia, apa pun alasannya. Mereka berpegang kepada QS. Al-Maidah ayat 44,45,47. Tetapi mereka lupa kepada ayat-ayat lain dan hadits yang menerangkan batasan-batasan dan rincian-rincian mengenai hal ini. Di antaranya:

    Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. [QS. An-Nahl: 106]

    Dari Abu Said Al-Khudry ra berkata: aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka dia hendaklah mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, yaitu kuasanya. Jika tidak mampu, hendaklah diubah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah diubah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” [HR. Bukhari (903), Muslim (70), At-Tarmidzi (2098), An-Nasa`i (4922), Abu Daud (963), Ibnu Majah (1265), Ahmad ibnu Hanbal (juz` 3 hal. 10, 20, 49)]

    Jadi berdasarkan ayat dan hadits di atas, seseorang yang tidak mengakui adanya hukum yang lebih baik dari hukum Allah, tidaklah ia bisa dihukum kafir, zhalim atau pun fasiq. Orang yang melapangkan hatinya terhadap hukum selain hukum Allah, maka orang seperti itulah yang dibicarakan dalam QS. Al-Maidah ayat 44, 45, dan 47 tersebut. Adapun orang-orang yang hatinya menolak hukum selain hukum Allah, maka mereka itu telah mengesakan Allah sebagai Al-Hakim. Mereka itu tidak bisa disebut kafir, zhalim, fasiq, atau pun musyrik. Darah mereka haram untuk dialirkan. Barangsiapa membunuh mereka tanpa alasan yang benar, maka dia haruslah dijatuhi hukum jinayat.

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Rasulullah saw bersabda: “Mencaci dan memaki orang-orang Islam adalah fasik dan memerangi mereka adalah kafir.” [HR. Bukhori (5584), Muslim (97), At-Tarmidzi (1906), An-Nasa`i (4036), Ibnu Majah (68), Ahmad ibnu Hanbal]

    BERSYAHADAH DI HADAPAN IMAM

    Ada beberapa kelompok yang meyakini bahwa orang yang belum bersyahadah di hadapan imam mereka dengan disaksikan jama’ah mereka, maka orang itu belumlah Islam. Entah berdasarkan apa mereka berfatwa seperti ini. Padahal bersyahadah di hadapan orang banyak itu adalah bagi orang yang telah keluar dari Islam di saat aqil baligh kemudian dia ingin masuk Islam. Adapun bagi orang yang belum aqil baligh atau pun orang yang sudah aqil baligh tetapi dia belum keluar dari Islam, dia tetaplah Islam dan tidak harus bersyahadah di hadapan imam atau pun kaum muslimin.

    Dari Abu Hurairah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor ternak yang melahirkan anaknya (dengan sempurna kejadian dan anggotanya), adakah kamu menganggap hidung, telinga dan lain-lain anggotanya terpotong?” [HR. Bukhori (1270), Muslim (4803), At-Tarmidzi (2064), Abu Daud (4091), Ahmad ibnu Hanbal, Malik]

    Maka jelaslah, bahwa dalam Islam tidak ada upacara semacam pembaptisan dalam Kristen, di mana orang yang belum dibaptis berarti dia belum Kristen. Di dalam Islam, setiap orang yang lahir itu adalah dalam fitrah Islam, dia tidak membawa dosa dan tidak pula dihukum kafir atau pun musyrik.

    Dari Abu Dzar ra katanya: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau menyatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya.” [HR. Bukhori (3246, 5585), Muslim (93), Ibnu Majah (2310), Ahmad ibnu Hanbal (juz` 5 hal.166)]

  • TABARRUK

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa : “Rasulullah saw bila selesai shalat subuh, datanglah beberapa Khadim (ajudan/pembantu) Madinah dengan bejana-bejana mereka yang berisi air, maka setiap kali datang kepada Rasul saw setiap bejana itu, maka Rasul saw menenggelamkan tangannya pada bejana tersebut, dan sering pula hal itu terjadi di musim dingin, maka Rasul saw tetap memasukkan jarinya pada bejana-bejana itu” (Shahih Muslim Bab : keakraban Rasul saw dan Tabarruk sahabat pada beliau saw/ hadits no.2324). (lebih…)

  • ISLAM AGAMA WAHYU

    Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma`il, ishak, Ya`qub dan anak cucunya, `Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. [QS. An-Nisa`: 163]

    Islam adalah agama wahyu, yaitu agama yang didasarkan kepada wahyu dari Allah. Agama Islam adalah agama yang didasari Al-Qur`an (wahyu dari Allah) dan Hadits Rasul (kata-kata Rasulullah yang dilandasi wahyu, lihat QS. An-Najm: 4). Sedangkan agama Kristen adalah agama yang didasari pada kata-kata manusia yang menulis kitab-kitab kemudian berkata bahwa dia menulisnya berdasarkan inspirasi dari Tuhan, tetapi yang mereka tulis itu tetap saja bukan wahyu itu sendiri. Paling tinggi apa yang mereka tulis itu adalah seperti hadits. Tetapi dilihat dari kenyataannya, apa yang mereka tulis itu bukanlah hadits, tetapi sesuatu yang mereka akui sebagai karangan manusia tetapi bersifat ilahi, padahal tidak sama sekali.

    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah: 79]

    DR. W. Graham Scroggie dari Institut Alkitab Moody, yaitu salah satu Misi Penyebaran Injil Kristen yang terkenal di dunia, menulis dalam bukunya, “Injil adalah karangan manusia, walaupun demikian ada orang yang terlalu fanatik buta -tanpa berpedoman kepada ilmu pengetahuan- menyangkal kenyataan ini. Kitab-kitab itu telah muncul melalui fikiran manusia, ditulis dalam bahasa manusia, diabadikan dengan tangan-tangan manusia dan memiliki gaya yang menunjukkan karakteristik manusia.”

    Tidak demikian dengan Al-Qur`an. Al-Qur`an memiliki gaya bahasa yang tinggi dan sulit ditandingi oleh orang Arab sekali pun. Para pengarang Alkitab telah menulis kitab-kitab mereka hanya untuk mendapatkan kedudukan di dunia yang sementara ini.

    WAHYU

    Dikatakan wahaytu dan awhaytu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.

    Wahyu dalam arti bahasa meliputi:
    1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu kepada ibu Nabi Musa dalam QS. Al-Qoshosh [28]: 7.
    2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah dalam QS. An-Nahl [16]: 68.
    3. Isyarat yang cepat melalui rumusan dan kode, seperti Zakaria dalam QS. Maryam [19]: 11.
    4. Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Lihat QS. Al-An’am [6]: 112,121.
    5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. Lihat QS. Al-Anfal [8]: 12.

    Adapun wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syara’ didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi”.

    SEPERTI SUARA LONCENG

    Terkadang wahyu turun seperti suara lonceng, dan ini adalah yang paling berat bagi Rasul. Apakah yang dimaksud dengan ‘seperti suara lonceng’? ‘Seperti suara lonceng’ tidak menunjukkan bahwa suara itu bersumber dari lonceng, sebab lonceng adalah senjata Iblis. Hanya saja wahyu itu seperti suara lonceng. Pertama, mungkin untuk menunjukkan kedahsyatannya, kemudian Nabi mengibaratkan kerasnya suara wahyu seperti suara lonceng yang paling keras. Kedua, mungkin wahyu turun dengan benar-benar menyerupai suara dencingan lonceng dan juga keras.

    Lalu bagaimana Nabi bisa memahami suara yang seperti suara lonceng? Itulah wahyu, isyarat yang cepat. Kita mungkin akan menganggap bahwa orang cina yang sedang berbicara itu sebagai orang yang sedang mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Tetapi mereka dapat mengerti. Kita yang tidak mengerti sandi Morse juga tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan seseorang melalui mesin telegraph. Tetapi mereka yang mengerti sandi Morse akan memahaminya. Wallahu a’lam.

  • HANYA ENGKAU

    Suatu pagi ada pesan singkat masuk ke telpon genggam saya, bunyinya kira-kira, “Bang, saya ada perlu nih. Boleh ga saya pinjm uang 500rb? Ba’da Idul Fitri saya lunasi deh. Klo bkn ama Abang, ama siapa lg saya minta tlg.”

    Pesan itu mengingatkan saya akan doa para nabi dan shalihin yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penolong. Di antara doa mereka yang terekam dalam Al-Qur’an adalah:

    Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya`: 87)

    Ketika berada dalam perut ikan, nabi Yunus menyeru Allah dengan penuh kesadaran bahwa tidak ada yang dapat menolongnya kecuali Allah. Tidak ada yang bisa diharapkan kecuali Allah.

    Hanya Allah yang dapat mengeluarkan kita dari gelapnya dosa. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan segala penyakit dalam diri kita, baik penyakit zhahir mau pun penyakit bathin. Hanya Allah saja yang ada ketika kita dalam keadaan terjepit.

    Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. Asy-Syu’ara: 75-82)

    Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al-Anbiya`: 83-84)

    Maka sudah semestinya jika kita hanya meminta dan bersyukur pada-Nya. Sudah semestinya jika kita menyembah dan memberi persembahan berupa amal baik kita hanya kepada Allah. Tidak sepantasnya kita meminta kepada yang selain Allah. Tidak sepantasnya kita bersyukur kepada selain Allah. Tetapi lihatlah sebagian manusia yang meminta kepada makhluq yang dianggap menguasai laut atau gunung. Lihatlah mereka yang memberikan persembahan berupa makanan yang dilarung di lautan atau dilemparkan ke dalam kawah. Apakah mereka menganggap bahwa ada penguasa lain selain Allah? Adakah yang memberi mereka rizqi selain Allah? Adakah yang dapat menyelamatkan mereka selain Allah?

    Mereka hanyalah mengikuti perkataan bapak-bapak mereka yang terdahulu, sedangkan bapak-bapak mereka bukanlah orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah. Apakah kita mesti mempertahankan adat dari orang-orang jahiliyah yang menyembah tuhan-tuhan palsu selain Allah?

    Islam turun di tanah Arab yang saat itu masih melakukan adat-adat pagan. Islam datang untuk menghapus paganisme. Maka sudah selayaknya bagi seorang Muslim untuk meninggalkan adat-adat buatan manusia yang bertentangan dengan ajaran Islam.

    Lihatlah orang-orang kristen yang telah memelihara adat dari Mesir Kuno yang menuhankan Horus! Mereka telah memaksa Nabi Isa as utk menjadi mirip dengan Horus.

  • Apakah Syiah Itu?

    Syiah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian banyak aliran-aliran sempalan dalam Islam. Sedangkan yang dimaksud dengan aliran sempalan dalam Islam adalah aliran yang ajaran-ajarannya menyempal atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau dalam bahasa agamanya disebut Ahli Bid’ah.
    Selanjutnya oleh karena aliran-aliran Syiah itu bermacam-macam, ada aliran Syiah Zaidiyah ada aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah ada aliran Syiah Ismailiyah dll, maka saat ini apabila kita menyebut kata Syiah, maka yang dimaksud adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariah yang sedang berkembang di negara kita dan berpusat di Iran atau yang sering disebut dengan Syiah Khumainiyah.
    Hal mana karena Syiah inilah yang sekarang menjadi penyebab adanya keresahan dan permusuhan serta perpecahan didalam masyarakat, sehingga mengganggu dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita.
    Tokoh-tokoh Syiah inilah yang sekarang sedang giat-giatnya menyesatkan umat Islam dari ajaran Islam yang sebenarnya.

    Syiah Menurut Bahasa

    Kata Syiah berasal dari bahasa Arab yang artinya pengikut, juga mengandung makna pendukung dan pecinta, juga dapat diartikan kelompok.
    Sebagai contoh : Syiah Muhammad artinya pengikut Muhammad atau pecinta Muhammad atau kelompok Muhammad.
    Oleh karena itu dalam arti bahasa, Muslimin bisa disebut sebagai Syiahnya Muhammad bin Abdillah SAW dan pengikut Isa bisa disebut sebagai Syiahnya Isa alaihis salam.
    Kemudian perlu diketahui bahwa di zaman Rasulullah SAW Syiah-syiah atau kelompok-kelompok yang ada sebelum Islam, semuanya dihilangkan oleh Rasulullah SAW, sehingga saat itu tidak ada lagi Syiah itu dan tidak ada Syiah ini.
    Hal mana karena Rasulullah SAW diutus untuk mempersatukan umat dan tidak diutus untuk membuat kelompok-kelompok atau syiah ini syiah itu.
    Allah berfirman :

    “ Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai (berkelompok-kelompok).”

    Tapi setelah Rasulullah SAW wafat, benih-benih perpecahan mulai ada, sehingga saat itu ada kelompok-kelompok atau syiah-syiah yang mendukung seseorang, tapi sifatnya politik.
    Misalnya sebelum Sayyidina Abu Bakar di baiat sebagai Khalifah, pada waktu itu ada satu kelompok dari orang-orang Ansor yang berusaha ingin mengangkat Saad bin Ubadah sebagai Khalifah. Tapi dengan disepakatinya Sayyidina Abu Bakar menjadi Khalifah, maka bubarlah kelompok tersebut.
    Begitu pula saat itu ada kelompok kecil yang berpendapat bahwa Sayyidina Ali lebih berhak menjadi Khalifah dengan alasan karena dekatnya hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah SAW. Tapi dengan baiatnya Sayyidina Ali kepada Khalifah Abu Bakar, maka selesailah masalah tersebut.
    Oleh karena dasarnya politik dan bukan aqidah, maka hal-hal yang demikian itu selalu terjadi, sebentar timbul dan sebentar hilang atau bubar.
    Begitu pula setelah Sayyidina Ali dibaiat sebagai Khalifah, dimana saat itu Muawiyah memberontak dari kepemimpinan Kholifah Ali, maka hal yang semacam itu timbul lagi, sehingga waktu itu ada kelompok Ali atau Syiah Ali dan ada kelompok Muawiyah atau syiah Muawiyah.
    Jadi istilah syiah pada saat itu tidak hanya dipakai untuk pengikut atau kelompok Imam Ali saja, tapi pengikut atau kelompok Muawiyah juga disebut Syiah.
    Argumentasi tersebut diperkuat dengan apa yang tertera dalam surat perjanjian atau Sohifah At-tahkim antara Imam Ali dengan Muawiyah, dimana dalam perjanjian tersebut disebutkan:

    “Ini adalah apa yang telah disepakati oleh Ali bin Abi Talib dan Muawiyah bin Abi Sufyan dan kedua Syiah mereka.” (Ushul Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah)

    Dengan demikian penyebutan kata syiah pada saat itu memang sudah ada, tetapi hanya dalam arti bahasa dan dasarnya hanya bersifat politik dan bukan landasan aqidah atau mazhab.
    Adapun aqidah para sahabat saat itu, baik Imam Ali dan kelompoknya maupun Muawiyah dan kelompoknya, mereka sama-sama mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
    Hal ini dikuatkan oleh keterangan Imam Ali, dimana dalam suratnya kepada Ahli Amsor, beliau menceritakan mengenai apa yang terjadi antara beliau (Imam Ali) dengan Ahli Syam (Muawiyah) dalam perang Siffin sbb:

    “Adapun mas’alah kita, yaitu telah terjadi pertempuran antara kami dengan ahli syam (Muawiyah dan Syiahnya). Yang jelas Tuhan kita sama, Nabi kita juga sama dan da’wah kita dalam Islam juga sama. Begitu pula Iman kami pada Allah serta keyakinan kami kepada Rasulullah, tidak melebihi iman mereka, dan iman mereka juga tidak melebihi iman kami. Masalahnya hanya satu, yaitu perselisihan kita dalam peristiwa terbunuhnya (Kholifah) Usman, sedang kami dalam peristiwa tersebut, tidak terlibat.” (Nahjul Balaghoh – 448)

    Selanjutnya, oleh karena permasalahannya hanya dalam masalah politik yang dikarenakan terbunuhnya Khalifah usman RA dan bukan dalam masalah aqidah, maka ketika Imam Ali mendengar ada dari pengikutnya yang mencaci maki Muawiyah dan kelompoknya, beliau marah dan melarang, seraya berkata:

    “ Aku tidak suka kalian menjadi pengumpat (pencaci-maki), tapi andaikata kalian tunjukkan perbuatan mereka dan kalian sebutkan keadaan mereka, maka hal yang demikian itu akan lebih diterima sebagai alasan. Selanjutnya kalian ganti cacian kalian kepada mereka dengan :
    Yaa Allah selamatkanlah darah kami dan darah mereka, serta damaikanlah kami dengan mereka
    (Nahjul Balaghoh – 323)

    Demikian pengarahan Imam Ali kepada pengikutnya dan pecintanya. Jika mencaci maki Muawiyah dan pengikutnya saja dilarang oleh Imam Ali, lalu bagaimana dengan orang-orang Syiah sekarang yang mencaci maki bahkan mengkafirkan Muawiyah dan pengikut-pengikutnya, layakkah mereka disebut sebagai pengikut Imam Ali
    Kembali kepada pengertian Syiah dalam bahasa yang dalam bahasa Arabnya disebut Syiah Lughotan, sebagaimana yang kami terangkan diatas, maka sekarang ini ada orang-orang Sunni yang beranggapan bahwa dirinya otomatis Syiah. Hal mana tidak lain dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka akan hal tersebut. Sehingga mereka tidak tahu bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah Madzhab Syiah atau aliran syiah atau lengkapnya adalah aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyyah).
    Oleh karena itu, istilah Syiah Lughotan tersebut tidak digunakan oleh orang-orang tua kita (Salafunassholeh), mereka takut masyarakat awam tidak dapat membedakan antara kata syiah dengan arti kelompok atau pengikut dengan aliran syiah atau Madzhab Syiah. Hal mana karena adanya aliran-aliran syiah yang bermacam-macam, yang kesemuanya telah ditolak dan dianggap sesat oleh Salafunassholeh.
    Selanjutnya salafunassholeh menggunakan istilah Muhibbin bagi pengikut dan pecinta Imam Ali dan keturunannya dan istilah tersebut digunakan sampai sekarang.
    Ada satu catatan yang perlu diperhatikan, oleh karena salafunassholeh tidak mau menggunakan kata Syiah dalam menyebut kata kelompok atau kata pengikut dikarenakan adanya aliran-aliran Syiah yang bermacam-macam, maka kata syiah akhirnya hanya digunakan dalam menyebut kelompok Rofidhah, yaitu orang-orang Syiah yang dikenal suka mencaci maki Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.
    Sehingga sekarang kalau ada yang menyebut kata Syiah, maka
    yang dimaksud adalah aliran atau madzhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.
    Memang dengan tidak adanya penerangan yang jelas mengenai Syiah Lughotan dan Syiah Madhhaban, maka mudah bagi orang-orang Syiah untuk mengaburkan masalah, sehingga merupakan kesempatan yang baik bagi mereka dalam usaha mereka mensyiahkan masyarakat Indonesia yang dikenal sejak dahulu sebagai pecinta keluarga Rasulullah SAW.

    Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah

    Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian banyak aliran-aliran Syiah yang satu sama lain berebut menamakan aliran Syiahnya sebagai madzhab Ahlul Bait. Dan penganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat IRAN. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang-orang di Indonesia yang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya.
    Apabila dibanding dengan aliran-aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat (GHULAH) dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini.
    Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan TAGIYAH (berdusta) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.
    Akibatnya banyak orang-orang yang beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (Islam) dan masuk Syiah.
    Karena didasari oleh Ashobiyah atau kefanatikan yang mendalam, maka aliran ini cepat menjalar dan berkembang, terutama dikalangan awam Alawiyyin (keturunan nabi Muhammad) dan Muhibbin (pecinta mereka). Sehingga bagaikan penyakit kanker yang ganas sedang berkembang didalam tubuh yang sehat, yang ratusan tahun dikenal beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
    Sebenarnya bagi orang-orang yang berpendidikan agama, wabah ini tidak sampai menggoyahkan iman mereka, tapi bagi orang-orang yang kurang pengetahuan Islamnya, mudah sekali terjangkit penyakit ini.
    Dalam situasi yang memprihatinkan ini, bangkitlah orang-orang yang merasa terpanggil untuk melawan dan memerangi aliran tersebut. Berbagai cara telah mereka tempuh, ada yang dengan jalan berceramah, ada yang dengan menulis, bahkan ada yang dengan jalan berdiskusi dan Alhamdulillah mendapat sambutan yang positif dari masyarakat dan dari pemerintah.
    Berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang penuh dengan saling hormat menghormati dan penuh dengan cinta mencintai serta penuh dengan maaf memaafkan karena berdasarkan Al Ahlaqul Karimah dan Al Afwa Indal Magdiroh (pemberian maaf disaat ia dapat membalas) serta Husnudhdhon (baik sangka), maka ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini penuh dengan caci maki dan penuh dengan fitnahan-fitnahan serta penuh dengan laknat-melaknat, karena dilandasi dengan Suudhdhon (buruk sangka) dan dendam kesumat serta kefanatikan yang tidak berdasar.
    Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan berani dan terang-terangan mencaci maki para sahabat, memfitnah istri-istri Rasulullah SAW, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rasulullah sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.
    Ajaran-ajaran Syiah yang meresahkan dan membangkitkan amarah umat Islam ini, membuat para ulama di seluruh dunia sepakat untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Ratusan judul kitab diterbitkan, berjuta kitab dicetak dengan maksud agar masyarakat mengetahui kesesatan Syiah dan waspada terhadap gerakan Syiah. Dalam menulis kitab-kitab tersebut para ulama kita itu mengambil sumber dan sandaran dari kitab-kitab Syiah (kitab-kitab rujukan Syiah), sehingga sukar sekali bagi orang-orang Syiah untuk menyanggahnya.
    Selanjutnya dengan banyaknya beredar kitab-kitab yang memuat dan memaparkan kesesatan ajaran Syiah, maka banyak orang-orang yang dahulunya terpengaruh kepada Syiah, menjadi sadar dan kembali kepada aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Hal ini tentu tidak lepas hidayah dan inayah serta taufiq dari Allah SWT. Terkecuali orang-orang yang memang bernasib buruk, yaitu orang-orang yang sudah ditakdirkan oleh Allah sebagai orang Syagi (celaka dan sengsara).
    Semoga kita dan keluarga kita digolongkan sebagai orang-orang yang Suada’ atau orang-orang yang beruntung yang diselamatkan oleh Allah dari aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah yang sesat dan menyesatkan.

    (Budhi Suci)

  • MIFTAHUL JANNAH

    Miftahul Jannah (Kunci Surga) adalah ‘Laa iaaha illallah’. Kunci sukses di dunia adalah ‘Laa ilaaha illallaah’. Kunci sukses di akhirat adalah ‘Laa ilaaha illallaah’.  Tiada yang pantas dipatuhi dengan sebenarnya, kecuali Allah. Tiada yang pantas ditha’ati dengan sebenarnya, kecuali Allah. Tiada hukum yang sempurna kecuali hukum Allah. Hal ini tergambar pada surah Al-‘Ashr.

    Untuk sukses, manusia harus menolak segala metode, kecuali metode Allah. Jika manusia masih mencampur-adukkan metode Allah dengan metode yang lain, maka ia akan binasa (khusr). Adapun metode Allah itu adalah beriman, beramal shalih, berpesan dengan kebenaran, dan berpesan dengan keshabaran.

    Apa itu iman, apa itu amal shalih, apa itu berpesan dengan kebenaran, dan apa itu berpesan dengan keshabaran? Semua itu dijelaskan dengan rinci dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits. Maka marilah kita mengkaji Al-Qur`an dan Al-Hadits.

    Yaqinlah bahwa Al-Islam adalah ajaran yang sempurna. Selamatlah manusia yang mengamalkannya dengan keimanan kepada Allah; di dunia, juga di akhirat. Tidak ada alasan yang masuk aqal untuk meninggalkan ajaran ini. Hanya manusia yang mengikuti hawa nafsunya yang mengabaikan ajaran ini. Dan mereka –jika tidak mendapat rahmat Allah- di akhirat akan diabaikan.

    Marilah kita berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasul. Sungguh, Rasulullah telah menyuruh kita untuk memegang Al-Qur`an dengan erat melalui perkataannya, “Gigitlah Al-Qur`an dengan gigi gerahammu.” Dan bersabarlah dalam berjalan menuju Allah. Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam menuju Allah, maka Allah tunjukkan jalan-Nya yang lurus. Maka janganlah kita berputus asa. Wallahu a’lam.


    ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG

    Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-Baqarah: 1-5)

    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah: 177)

     

    KITA ADALAH HAMBA DAN WAKIL ALLAH

    Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa`at bagi orang-orang yang beriman. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (Q.S. Adz-Dzariyat: 55-56)

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-Baqarah: 30)

     

    INGATLAH PENCIPTAAN  KITA

    Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali tidak; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. (Q.S. ‘Abasa: 17-23)

     

    KEMANA KITA KEMBALI?

    Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Q.S. Al Fajr: 27-30)

    Â