Kategori: Fikrah

  • Ulama’ yang Menyesatkan Ummat

    “Aku heran dari (perbuatan) orang yang menjual kesesatan dengan petunjuk!
    Dan aku lebih heran dari orang yang membeli dunia dengan Agama”

    Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau da’wah dan perusuh di kalangan umat.

    Mereka tiada lain adalah para bandit-bandit da’wah, yang zhahirnya berbicara tentang agama tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo da’wah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia. (lebih…)

  • Ulama’ yang Menyesatkan Ummat

    “Aku heran dari (perbuatan) orang yang menjual kesesatan dengan petunjuk!
    Dan aku lebih heran dari orang yang membeli dunia dengan Agama”

    Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau da’wah dan perusuh di kalangan umat.

    Mereka tiada lain adalah para bandit-bandit da’wah, yang zhahirnya berbicara tentang agama tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo da’wah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia.

    Sungguh mereka adalah orang-orang yang telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw, “Di malam hari saat aku isro’, aku melihat suatu kaum di mana lidah-lidah mereka dipotong dengan guntingan dari api” – atau ia (Rasulullah) berkata, “dari besi. Aku bertanya siapa mereka wahai Jibril? Mereka adalah para khatib-khatib dari umatmu!” (H.R. Abu Ya’la dari sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhuma).

    Mereka adalah para da’i dan ulama-ulama su’ yang telah Allah beberkan keberadaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka mengatakan ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imron: 78).

    Dan Allah juga berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaithon (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

    “Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al A’raf: 175-176).

    Rasulullah saw mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya, “… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban ra).

    Adapun sahabat Umar ibnul Khaththab beliau mengistilahkan mereka dengan sebutan “al munafiq al alim”, ketika ditanya maksudnya, beliau menjawab “aliimul lisaan jaahilul qolbi!” (pandai berbicara tetapi bodoh hatinya).

    Allah swt dan rasul-Nya tetap akan menjaga agama ini dari upaya penyesatan yang dilakukan oleh para ulama dan dai-dai sesat, sehingga kita dibimbing oleh Allah untuk senantiasa bersikap antipati dari seruan dan fatwa-fatwa mereka. Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut ini agar menjauh dan tidak mengikuti fatwa-fatwa mereka:

    Pertama: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.” (Q.S. At Taubah: 34).

    Kedua: “Hai orang-orang yang beriman jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imron: 100).

    Ketiga: “… Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 49).

    Keempat: “Dan demikianlah kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap siksa Allah.” (Q.S. Ar Ra’d: 37).

    Kelima: “Kemudian kami jadikanlah kamu berada suatu syari’at dan urusan agama, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Q.S. Al Jaatsiyah: 18).

    Keenam: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al Baqoroh: 145)

  • Agen Barat dan Kaum Penyempal

    Bayangkan bahwa Anda adalah agen CIA bernama Michael yang ditugaskan untuk menyusup ke KGB. Namun Anda tidak ditugaskan untuk menyusup langsung, melainkan Anda ditugaskan merekerut seorang agen KGB yang bisa disetir demi kepentingan CIA dan Amerika.

    Michael berhasil merekerut Abramovic, seorang agen KGB. Tugas Abramovic adalah membentuk kelompok di dalam KGB yang bekerja mengkritik prosedur-prosedur KGB yang telah baku agar diubah sesuai keinginan CIA.

    Abramovic berhasil mendapatkan pengikut yang mendukung pemikirannya. Mengenai kevokalannya dalam menghina Amerika, jangan ditanya. Itu bagian dari instruksi yang diberikan Michael. Sebagai kaki-tangan CIA di KGB, adalah bodoh jika Abramovic membela Amerika. Jika demikian, mudahlah kedok Abramovic terbongkar. Menghina Amerika tak selalu menunjukkan bahwa seseorang itu adalah musuh Amerika.

    Michael juga merekerut agen KGB lainnya untuk menguatkan kedudukan Abramovic. Agen tersebut direkerut untuk dijadikan tumbal. Agen yang bodoh. Dia mati demi uang.

    Sergei, direkerut untuk mengajarkan hal yang lebih liberal dalam tubuh KGB. Sasaran empuk bagi kelompok Abramovic untuk dieliminasi. Setelah mengeliminasi kelompok Sergei, kelompok Abramovic semakin dikenal sebagai pembenci Amerika sejati. Padahal yang dibunuhnya adalah orang-orang KGB juga. Tidak ada kerugian yang ditanggung Amerika atau pun CIA.

    Sukses membuat kelompok Abramovic di KGB, Michael ditugaskan merekerut agen di Timur Tengah. Direkerutlah pemuda bernama Ibnu Kirdun. Tugasnya mengubah tatanan syari’at Islam yang telah mapan.

    Mulailah Ibnu Kirdun membuat kelompok gerakan yang mengkafirkan dan memvonis musyrik kepada mereka yang berziaroh ke makam Rasul SAW dan bertawassul di sana. Mulailah kelompok yang disebut Kirduniyah ini menjauhkan ummat Islam dari mencintai Rasul. Mencintai Rasul menjadi sekedar hiasan bibir semata tanpa boleh memuji Rasul. Memuji Rasul dianggapnya syirik. Bahkan kelompok ini telah menumpahkan banyak darah dari kaum Muslimin.

    Disaat kedok Kirduniyah ini hampir terkuak, mulailah mereka memperlihatkan kebencian mereka kepada Amerika. Tetapi tak pernah mereka digerakkan untuk menumpahkan darah tentara Amerika.

    Kelompok seperti Kirduniyah ini, memang ada pada kehidupan nyata. Kita tahu bahwa Ahmedi Nejad terlihat begitu vokal terhadap zionisme. Namun sejarah membuktikan bahwa Syi’ah itu hasil kerja agen zionis kuno, Abdullah bin Saba’.

    Adapun kelompok-kelompok lain juga telah terkuak kedok mereka. Bukan hanya dari sejarah, tetapi juga dari agenda-agenda mereka yang terus merongrong kemapanan syari’at Islam yang telah berlaku sejak masa salafush shalih. Namun para agen ini menggunakan istilah salafush shalih untuk agenda-agenda licik mereka. Mereka menghapus sistem bermadzhab yang benar. Ketika surat-surat yang menunjukkan persekongkolan antara pemimpin mereka dengan para agen Eropa terkuak, para pakar barat pun berusaha keras untuk menutup-nutupi dengan mengatakan bahwa surat-surat itu palsu.

    Di antara kelompok-kelompok itu ada yang sangat kelihatan wajah aslinya, ada pula yang tersamar dengan baik oleh kedok yang terlihat indah. Maka hindarilah mereka yang telah jelas wajah aslinya. Dan waspadalah terhadap mereka yang tersamar. Adapun mereka yang jelas wajah aslinya, sangat mudah bagi kita untuk memperingatkan masyarakat dari kelompok tersebut. Tidak sesulit memperingatkan masyarakat dari kelompok yang pandai menyamarkan diri. Mengaku ahlus sunnah, padahal mu’tazilah, khawarij, wahhabiyah. Maka dalam hal yang terakhir inilah kerja keras kami lebih ditujukan. Menguak kedok mereka hingga ke akar-akarnya itu penting, di samping menguak kekeliruan mereka dalam aqidah dan syari’ah. Namun ingat, mereka hanyalah boneka. Dalang sesungguhnya adalah Yahudi dan Nashoro. Maka penting pula menanggapi dan membuka kedok dan kekeliruan zionis dan missionaris.

  • Penghinaan Mereka Terhadap Islam

    Sebagian manusia telah menghina Islam dan Nabi Muhammad serta para pengikutnya sejak dahulu kala. Inilah di antara penghinaan mereka.

    Nabi Dianggap Tukang Sihir

    Ada saja manusia yang menganggap Nabi sebagai tukang sihir, dukun, orang gila, pengidap epilepsi, dan lain-lain hujatan mereka yang keji terhadap Nabi Muhammad. Namun anehnya, banyak diantara mereka yang menitipkan barang-barang mereka kepada orang gila ini. Banyak juga di antara mereka, pada saat ini yang kemudian lebih mengakui ketangguhan sistem perbankan syari’ah yang dibawa oleh orang gila ini. Bahkan banyak di antara mereka yang berobat dengan berbekam dan dengan mengkonsumsi habbatus sauda (nigella sativa). Bahkan di Jerman, minyak habbatus sauda telah dikenal sebagai obat yang mujarab.

    Nabi Dianggap Abtar

    Kita tahu bahwa semua putera Nabi Muhammad SAW meninggal saat masih balita. Lalu ramailah orang-orang sejak dahulu hingga saat ini yang berkata bahwa Nabi Muhammad telah abtar. Namun Nabi telah berwasiat bahwa beliau tidaklah abtar. Suatu kekhususan bagi beliau bahwa nasab beliau diteruskan oleh Sayyidah Fathimah dan Sadatina Hasan dan Husain. Kelak, dari keturunan beliau akan muncul seorang Imam yang memimpin ummat dalam menghadapi kezhaliman besar yang dilakukan oleh Dajjal dan para pengikutnya.

    Islam Dianggap Terorisme

    Islam hanya memerangi kezhaliman. Islam tidak mengajarkan ummatnya untuk memerangi kebenaran. Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk menerima perjnjian damai. Namun jika perjanjian itu telah mereka rusak, tak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri terhadap kemungkaran.

    Dalam 100 tahun terakhir, ketika ummat Islam terus dihujat, siapakah sesungguhnya yang terus mengobarkan perang dan banyak menumpahkan darah?

    Ummat Islamkah yang mengobarkan perang dunia pertama dan kedua? Ummat Islamkah yang mengobarkan perang di Palestina dan Vietnam? Siapa yang telah mombombardir Afghanistan dan Iraq? Bahkan WTC tidak diserang kecuali oleh persekutuan zionis.

    Siapa sekarang yang lebih keji? Pernahkah kita menghina Nabi Isa dan Nabi-Nabi bani Israil? Bukankah kita mengimani para nabi Allah? Mengapa mereka memusuhi kita dan begitu benci kepada Nabi Muhammad? Apakah karena beliau SAW adalah keturunan Ismail? Mereka dengki kepada keturunan Ismail? Karena mereka tahu bahwa pada keturunan Ismail itulah diberikan janji Allah? Mengapa mereka menolak keputusan Allah yang menjadikan dari bani Ismail itu nabi pamungkas? Karena mereka merasa lebih baik dan lebih berhak dari bani Ismail? Bani Israil, dari zaman ke zaman telah dikenal akan kelicikan, kesombongan, dan kedurhakaan mereka. Wajar jika Allah menyerahkan kerajaan-Nya kepada bani Ismail. Maka janganlah sekali-kali manusia mengikuti kedengkian dan keangkuhan bani Israil. Berimanlah, sesungguhnya Nabi Muhammad telah datang sebagai Nabi terakhir, Nabi yang dijanjikan. Kepada beliau diserahkan kerajaan Sorga. Batu yang dibuang olah para mason telah menjadi batu penjuru. Dan itu merupakan keputusan dari sisi Allah. Maka terimalah keputusan Allah itu. Walau keputusan itu membuatmu heran dan bertanya-tanya, namun itulah keputusan Allah Robb alam semesta.

  • Pembahasan Surat Al-Lail

    Allah Swt berfirman “wallaili idza yaghsyaa” Demi malam ketika telah gelap gulita; QS. Al-Lail : 1. Malam yang dhahir dan malam yang bathin. Malam yang dhahir adalah gelapnya sebagian permukaan bumi dan mereka di dalam kesibukan yang berbeda dari siang harinya. Namun malam yang bathin adalah kegelapan jiwa dari gelapnya kesedihan, dari gelapnya kegundahan dan kerisauan membuat cahaya yang terang – benderang pun seakan tiada karena jiwanya penuh kerisauan dan kegundahan.

    “Wannahaari idza tajallaa” Demi siang hari apabila telah terang – benderang; QS. Al-Lail : 2. Siang yang dhahir dan siang yang bathin. Siang yang dhahir adalah saat siang dimana aktifitas pada puncaknya. Masing – masing di waktu siang dan malam itu ada takdir dan khodrat Illahi yang selalu terjadi. Sedemikian banyak kenikmatan yang terjadi dan sedemikian banyak musibah terjadi. Dalam setiap musibah tersimpan penghapusan dosa dan pengangkatan derajat. Dalam kenikmatan terdapat tawaran untuk mendapat lebih lagi jika ia bersyukur dan terdapat teguran akan berubah kenikmatan itu menjadi kesusahan jika ia tidak bersyukur kepada Allah. Maha Suci Allah yang membimbing dengan kenikmatan untuk mencapai kenikmatan. Dengan kenikmatan, ia bisa menggapai kenikmatan yang lebih.

    “La insyakartum la aziidannakum wa la inkafartum inna a’dzabii lasyadiid” Maha Suci Allah yang menjadikan perbuatan syukur dalam kenikmatan membuat kenikmatan bertambah lagi, bukan berkurang. Hadirin – hadirat, demikian Allah membimbing kita untuk selalu berbuat luhur dan bersyukur. Bersyukurlah atas kenikmatanmu saat ini maka Allah akan menambahnya. Jika kita merasa banyak dari kesusahan yang menimpa kita, ingatlah dalam kesusahan kita itu masih ada banyak kenikmatan. Masih ada kenikmatan melihat, mendengar, bicara, bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal itu semua yang jika kita syukuri akan memupus dan menghapus musibah yang muncul pada kehidupan kita. Kita merasa kenikmatan kita sudah 80%, 20% kesusahan misalnya. Bagaimana supaya kesusahan ini sirna? Banyak bersyukur, maka Allah akan memupus dan mengikis kesusahan itu. Inilah janji Rabbul Alamin.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Wamaa khalaqadzdzakara wal untsa” Dan demi penciptaan pria dan wanita; QS. Al-Lail : 3. Bahwa pada setiap pria dan wanita itu kelak Allah tentukan bentuk jasadnya dan Allah tentukan ketentuan-Nya akan muncul dari pria dan wanita ketika berpasang – pasangan. Akan muncul keturunan dan keturunan. Barangkali dari 1 nama akan muncul beribu – ribu nama dari keturunannya. Dan keturunannya itu tergantung pula kepada doa ayah dan bundanya. Jika ia menaungi anak – anaknya dengan doa dan munajat maka Allah pula yang melindungi anak – anaknya dengan Kasih Sayang-Nya. Apakah ia ada di dunia atau meninggalkannya karena wafat.

    Dialah Allah Yang Maha Memelihara dan Maha Mengayomi alam semesta, Maha Mengayomi hamba –hambaNya dengan doa dan munajat mereka. Ketika mereka meminta kepada Allah penjagaan atas dirinya, penjagaan atas hartanya, penjagaan atas keluarganya, penjagaan Allah atas keturunannya, Sang Maha Mengayomi akan mengayomi berkat doa dan munajat kita. Demikian indahnya Allah, Maha Raja yang paling berhak untuk dimuliakan dan diagungkan. Namun seakan – akan Allah berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berkhidmah kepada kita. Sungguh Allah Maha Mulia. Namun Kasih Sayang dan Kelembutan-Nya seakan Allah Swt itu yang paling berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berbakti kepada kita. Karena jawabnya adalah samudera Kasih Sayang Rabbul Alamin.

    “Inna sa’yakum lasyattaa” Sungguh perbuatan kalian itu berbeda – beda; QS. Al- Lail : 4. Ada maksiat dan ada taat, ada dosa ada pahala. Setiap manusia selain Nabi dan Rasul melewati hari – harinya dalam pahala dan dosa. Mereka lepas dari sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) maka hari – harinya dilewati dengan pahala dan dosa. Dan setiap dosa itu akan pupus dengan istighfar dan taubat. Beruntunglah mereka yang banyak bertaubat dalam hari – harinya dari segala dosa – dosanya. Semoga aku dan kalian diberi kelezatan taubat hingga selalu asyik bertaubat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Fa amma man a’thaa wattaqaa; wa shaddaqa bil husnaa; fasanuyassiruhu lil yusraa; wa amma mam bakhila wastaghnaa; wakadzdzaba bil husna; fasanuyassiruhu lil ‘usra; wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” QS. Al-Lail : 5-11. Allah meneruskan firman-Nya ketika seseorang itu beriman dan bertaqwa dalam memperbanyak amalnya kepada Allah, mengikuti dosa – dosanya dengan penyesalan dan istighfar, memohon maaf kepada Rabbul Alamin. Melewati hari – harinya dengan penuh harapan kepada Allah untuk membenahi harinya lebih baik dari hari yang lalu, penuh harapan dan munajat serta memperbanyak shadaqah kepada para fuqara. Shadaqah yang ketahuan dan shadaqah yang tidak ketahuan. Shadaqah yang ketahuan sunnah dan shadaqah yang diam – diam juga sunnah

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wa shaddaqa bil husnaa” dan membenarkan semua apa yang baik yaitu yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw; QS. Al-Lail : 6. “Fasanuyassiruhu lil yusraa” perbuatan baik itu, ketaqwaannya itu, ketaatannya itu dan shadaqahnya itu adalah perbuatan baik semua; QS. Al-Lail : 7. Allah berkata “Aku akan memudahkannya kepadanya jalan yang lebih mudah”. Jalan kemudahan itu di dunia dan akhirat akan terbuka dengan semakin banyak kita beramal dan taat kepada Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita perjuangkan akan dilimpahi kemudahan jika diwarnai dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan seakan membenarkan apa – apa yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Dan beramal menurut kadar kemampuannya.

    “Wa amma mam bakhila wastaghnaa” Mereka yang kikir dan menahan diri dari banyak beramal, apakah berupa shadaqah atau berupa ibadah; QS. Al-Lail : 8. “Wakadzdzaba bil husna” Ia mendustakan apa yang dibawa oleh Sang Nabi Saw; QS. Al-Lail : 9. “Fasanuyassiruhu lil ‘usra” Kami akan mudahkan ia ke jalan yang lebih sulit; QS. Al-Lail : 10. Semakin kita berpaling dari hal – hal yang luhur maka kehidupan kita akan semakin sulit, jika sulit itu niat. Jika ia tidak dapat kesulitan di dunia maka ia dapat kesulitan di yaumul qiyamah. Hadirin – hadirat, perbuatan taat, perbuatan baik, perbuatan mulia membawa kemudahan di dunia dan puncaknya di akhirat. Dan perbuatan yang buruk akan membawa kesusahan di dunia dan puncaknya d akhirat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” Apalagi gunanya hartanya apabila ia sudah sampai ke tempat orang – orang yang dimurkai Allah; QS. Al-Lail : 11. “Inna a’laina lal hudaa; wa inna lanaa lal aakhirata wal u’laa” bahwa segala jalan petunjuk itu, adalah milik Allah dan dari Allah; QS. Al-Lail : 12-13. Sungguh milik-Ku lah semua kehidupan di dunia dan akhirat. Demikian firman Allah, milik Allah semua kehidupan dunia dan akhirat. Maka perbanyaklah doa dan munajat kepada Sang Pemilik dunia dan akhirat agar keadaanmu diperindah di dunia dan akhirat karena Dialah pemiliknya.

    “Fa andzartukum naaran taladhdhaa; layashlaahaa ilal asyqa; alladzi kaddzaba watawallaa” Maka berhati – hatilah, Ku-nasehati kalian daripada api neraka yang mengerikan dan tidak akan masuk kedalamnya kecuali orang – orang yang jahat; QS. Al-Lail : 14-16. Hadirin – hadirat, demikian indahnya Rabbul Alamin yang selalu menyampaikan ayat – ayatNya dan seruan Kelembutan-Nya kepada kita dan hindarilah perbuatan yang bukan semampunya karena Dia (Allah) Maha Indah dan selalu ingin menerima yang indah – indah. Bila kita terjebak dalam hal yang hina disisi Allah, perindahlah dengan taubat dan istighfar, niscaya Allah mengganti itu semua menjadi pahala dan keluhuran.

    Mereka yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, Ku-perbaiki dirinya dengan hal yang mulia semampunya. Allah gantikan dosa – dosa mereka menjadi pahala. Wahai Yang Maha Baik dan Maha Indah melebihi segenap kebaikan dan keindahan, terimalah segala kekurangan kami dan ketidaktaatan kami, gantikan dengan ketaatan dan keindahan kehadirat-Mu Ya Rabb.

    (Majelis Rasulullah)

  • Pertanyaan yang Harus Dihindari

    “Sungguh sebesar-besar kejahatan muslimin adalah yg bertanya tentang sesuatu yg tidak diharamkan, menjadi diharamkannya hal itu sebab pertanyaannya” (Shahih Bukhari)

    Rasul saw bersabda memberikan peringatan kepada kita untuk tidak memperbesar dan mempertanyakan hal – hal yang sudah dihalalkan. Sebagaimana sabda beliau, riwayat Shahih Bukhari yang baru saja kita baca bersama tadi.

    “Inna a’dzamalmuslimin jurman man sa-ala’an syai-in lam yuharram fahurrima min ajli mas’alatihi” sungguh dosa terbesar diantara muslim pd muslim lainnya mereka yang bertanya orang yang paling besar dosa muslim terhadap muslim lainnya yaitu yang paling jahat. Siapa? mereka adalah yang mempertanyakan sesuatu yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab ia mempertanyakannya.

    Bagaimana contohnya? Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan makna hadits ini adalah orang – orang yang terus menggali dan terus mencari tahu pertanyaan – pertanyaan mengenai hal – hal yang sudah dihalalkan oleh Allah. Muncul dari kedangkalan pemikiran, dari kesombongan terhadap dirinya dan terhadap saudara – saudaranya yang lain. Sebagaimana mempertanyakan hal – hal yang telah diperbolehkan oleh Allah.

    Contohnya: beberapa hari lagi kita memasuki bulan Rajab, ada 1 Rajab, 2 Rajab, 3 Rajab. Bagaimana hukumnya puasa di bulan Rajab?. Puasa di semua hari sunnah kecuali puasa di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Di bulan ramadhan hukumnya fardhu selain itu sunnah. Mau bulan Syawal, Jumadil Akhir, Jumadil Awwal, Rajab, kapanpun puasa itu sunnah. Muncul orang – orang di masa sekarang yang mengharamkan puasa Rajab. Lalu bagaimana dengan puasa di hari lain? Hari lain diperbolehkan sedangkan Rajab tidak boleh puasa. Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim mensyarhkan bahwa memang tidak pernah ada satu dalil yang shahih tentang puasa di bulan Rajab. Akan tetapi diriwayatkan oleh Abi Daud didalam Sunannya didalam riwayat yang shahih bahwa Rasul saw suka berpuasa di bulan haram. Bulan haram itu ada 4 yaitu Muharram, Dzulqaidah, Djulhijjah, dan Rajab. Al Imam Nawawi mengatakan, bulan Rajab salah satu dari bulan haram. Jadi puasa di bulan Rajab itu sunnah dengan dalil yang shahih. Puasa di bulan Rajab adalah hal yang sunnah yang sangat kuat dalilnya karena dijelaskan Rasul saw berpuasa di bulan haram. Maka mengingkari puasa bulan Rajab, terkena kepada hadits yang kita sebut tadi yaitu orang yang mempertanyakan dalil tentang berpuasa di bulan Rajab. Akhirnya muncul fatwa pengharaman puasa di bulan Rajab, padahal hal itu yang sunnah. Mereka itu mencari – cari hadits yang mengatakan sunnah puasa di bulan Rajab tidak ditemukan, maka mereka langsung mengharamkannya dan mengatakan puasa di bulan Rajab adalah bid’ah. Padahal Rasul saw berpuasa di bulan Rajab. Mereka tidak menemukan puasa di bulan Rajab, ada dalil shahihnya. Ternyata ada dalil shahihnya yang lebih umum dari bulan Rajab. Hadirin – hadirat, Al Imam Nawawi mengatakan hadits itu menjadi dalil sunnahnya puasa di bualn Rajab, karena tidak ada larangan puasa di bulan Rajab.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Inilah salah satu makna daripada hadits mengenai orang yang mempertanyakan suatu masalah yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab pertanyaannya itu. Hadirin – hadirat, ketika mempermasalahkan 1 masalah dari kedangkalannya memahami syari’ah membuat munculnya fatwa – fatwa baru yang keluar dari ajaran yang benar. Seperti membid’ahkan maulid, mengatakan istighatsah syirik. Hal – hal seperti ini adalah mempertanyakan dan mempermasalahkan hal yang sudah dibolehkan sampai diharamkan karena ucapannya. Hati – hati dari hal yang seperti ini. Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan bahwa bukan berarti orang tidak boleh bertanya. Karena banyak bertanya adalah hal yang sangat dilimpahi pahala yang banyak. Demi kejelasan agamanya, demi kejelasan pemahamannya terhadap ilmu, tapi memperjuangkan hal yang halal agar menjadi haram adalah terkena hadits ini.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Ketika kita tidak tahu hukum suatu hal, jangan sesekali menghukuminya apalagi mengharamkannya. Kalau belum tahu dalilnya, ya sudah saya tidak tahu dalilnya entah itu sunnah atau bid’ah. Tapi jangan segera cepat – cepat diharamkan apalagi dikatakan bid’ah dan syirik. Ternyata hal itu adalah sunnah dan diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, hanya mungkin tidak sampai ilmunya kepada kita. Muncul sebagian saudara – saudara kita yang berbuat demikian. Semoga Allah membenahi aqidah kita dengan melimpahi kemuliaan aqidah.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Muslim “Barangsiapa yang mengajarkan 1 hal yang baru selama itu berupa kebaikan didalam Islam maka baginya pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya, barangsiapa yang mengajarkan hal – hal yang baru berupa keburukan didalam Islam maka baginya dosa dan dosa bagi orang yang mengikutinya tanpa dikurangkan sedikit pun”.

    Jadi hal yang baru selama baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah telah ada dalilnya riwayat Shahih Muslim. Sebagaimana hal – hal yang baru dilakukan setelah wafatnya Sang Nabi saw dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Namun selama itu baik, hal itu telah diperintah oleh Allah sebagaimana Al Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa berkata Al Hasan pada ayat “innallah ya’murukum bil adli wal ihsan, …..(hingga akhir ayat) (QS Annahl 90)”. Al Imam Ibn Rajab menjelaskan ayat itu tidak menyisakan suatu perbuatan baik kecuali sudah diperintah oleh Allah dan tidak menyisakan satu perbuatan buruk kecuali sudah diperintah oleh Allah. Apakah sudah ada di masa Nabi atau belum ada di masa Nabi? Zaman sekarang hadirin – hadirat, tentunya kita memakai lampu, memakai karpet di masjid. Zaman dulu tidak dipakai, tapi selama itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syari’ah boleh – boleh saja. Namun menambah syari’ah hukum yang fardhu, itulah yang dinamakan kemungkaran dan bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat).

    Mengenai hadits Rasul saw yang ada “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam kitabnya Syarh Nawawi ala Shahih Muslim bahwa makna hadits ini aamuun makhshush (umum tapi ada kekhususannya). Sebagaimana firman Allah Swt “akan Ku-penuhi neraka jahannam itu dengan seluruh jin dan manusia kesemuanya”. Buktinya tidak semua yang masuk ke dalam neraka jahannam, ada yang masuk ke dalam surga. Namun Allah berkata “kesemuanya”, maksudnya ke semua yang bathil, ke semua yang dhalim, ke semua yang jahat. Demikian hadirin makna hadits tersebut juga. Dikatakan oleh Imam Nawawi “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Hal ini adalah umum tapi ada pengecualiannya, tidak semua bid’ah itu sesat. Bid’ah yang …. adalah bid’ah yang sesat karena diperjelas oleh hadits tadi. Barangsiapa yang mengajarkan hal yang baru, yang baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah Islam kita maka akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya.

    Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhu sebagaimana riwayat Shahih Bukhari bahwa di masa ia menjabat sebagai khalifah. Ia didatangi oleh Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhum. Sayyidina Umar ra mengadukan pembunuhan banyak para sahabat pada kejadian ahlul yamamah (yg terbunuh banyak para penghafal Alqur’an). Banyak sahabat yang hafal Alqur’an dibunuh, maka berkata Sayyidina Umar ra “wahai Amirul Mukminin, wahai khalifah sebaiknya Alqur’an ini kita tuliskan (jilidkan dalam satu buku)”. Karena sebelumnya belum dibukukan. Ada yang menulisnya beberapa halaman, ada yang menghafalnya. Ini kalau tidak dikumpulkan dalam 1 buku, nanti generasi setelah kita tidak bisa mengenal Alqur’an lagi karena banyak para sahabat yanghafal Alqur’an dibunuh maka segera kita bukukan sebelum lupa dari hafalan Alqur’an. Nanti orang – orang yang hafal Alqur’an wafat, habis sudah. Mumpung yang hafal Alqur’an masih banyak di masa itu. Abu Bakar Ashshiddiq berkata “kaifa af’al syaiy’ lam yaf’aluhu Rasulullah?” bagaimana aku berbuat yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?. Rasul saw tidak memerintahkan untuk membukukan Alqur’an, bagaimana aku membukukannya? Sayyidina Umar berkata “Lakinna wallahi fiihi khair” tapi dalam perbuatan itu ada kebaikan dan kebaikan sudah diperintah oleh Nabi saw. Maka Abu Bakar Asshiddiq setuju dan Alqur’an dibukukan. Selesai pada masa khalifah Sayyidina Utsman bin Affan radiyallahu anhu hingga saat ini disebut dengan “Mushaf Utsmani” dan disetujui oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw hingga diteruskan oleh beliau karamallahu wajhah hingga saat ini.

    Itu bid’ah hasanah, hal yang tidak pernah diperintah oleh Rasul saw. Maka jika hal yang baru tidak diperbolehkan maka jangan sentuh Alqur’anulkarim karena hal itu dibukukan setelah wafatnya Sang Nabi saw.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Demikian makna dari hal – hal yang baik. Jika diadakan selama tidak bertentangan dengan syari’ah maka hal itu merupakan kebaikan. Dan kebaikan itu mendapatkan pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya. Namun jika hal itu buruk maka hal itu akan membawa dosa baginya dan dosa bagi orang yang mengikutinya.

    (majelisrasulullah)

  • Ahmad Surkati, Wahhabi atau Mu’tazilah

    Sebagian pengunjung blog ini ada yang dari kalangan wahhabi dan ada yang dari kalangan mu’tazilah. Ada juga yang mengkafirkan orang-orang seperti saya dan ada juga yang mengkafirkan orang-orang PKS karena ikut kepada demokrasi. Masya Allah…. kami memang tak setuju dengan demokrasi, tetapi kami tak mengkafirkan ahlul qiblah. Di antara mereka ada yang mengaku sebagai pengikut salafy dan mengidolakan Ahmad Dahlan dan juga Ahmad Surkati. (lebih…)

  • Taubat Seorang Kartini

    Ibnu Taymiyah terlanjur dikenal sebagai mujassimah dan ajarannya yang keliru terlanjur diterima para muridnya. Padahal, di akhir hayatnya ia insyaf dari kesalahannya dan bertaubat serta kembali kepada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Muridnya yang telah ghuluw dalam kesesatan menganggap bahwa Ibnu taymiyah telah murtad dan halal darahnya. Maka Ibnu taymiyah di bunuh oleh muridnya sendiri sebelum menyebarkan ajaran Ahlus Sunnah yang sesungguhnya. (lebih…)

  • Memoirs of Mr. Hempher (7)

    After a month’s stay in London, I received a message from the Ministry ordering me to go to Iraq to see Muhammad of Najd again. As I was leaving for my mission, the secretary said to me, “Never be negligent about Muhammad of Najd! As it is understood from the reports sent by our spies up until now, Muhammad of Najd is a typical fool very convenient for the realization of our purposes. (lebih…)

  • Memoirs of Mr. Hempher (6)

    I (Hempher) stayed in Baghdad for a time. Then, receiving the message ordering me to return to London, I left. In London, I talked with the secretary and some officials of the Ministry. I told them of my activities and observations during my long mission. (lebih…)