Kategori: Ibadah dan Hukum

  • HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT

    Siapa beramal tanpa ilmu, maka amalnya itu tertolak. [Al-Hadits]

    Banyak ummat Islam yang tidak mengisi hari-harinya dengan menuntut ilmu. Padahal menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Ilmu yang wajib dipelajari antara lain adalah ilmu mengenai ibadah-ibadah fardhu. Tanpa mengetahui ilmunya, khawatir ibadah kita akan menjadi batal tanpa kita ketahui. Dan kita tidak bisa berkata dengan enteng, “Allah memaafkan kesalahan orang yang tidak tahu.” Perkataan seperti ini biasa keluar dari orang yang malas menuntut ilmu. Padahal, sekali lagi menuntut ilmu itu wajib bagi muslimin dan muslimah. Jika ia enggan menuntut ilmu, yang kemudian menyebabkan amalnya batal, maka ketidak-tahuan yang seperti itu adalah tidak bisa dimaafkan. Hal ini disebabkan ketidak-tahuannya bukan karena belum sampainya ilu, melainkan karena enggan menuntut ilmu. Maka dari itu, ilmu mengenai ibadah fardhu itu wajib dipelajari.

    Diantara ilmu yang patut diperhatikan oleh ummat Islam adalah mengenai hal-hal yang membatalkan shalat. Sebab shalat adalah amal ibadah utama di dalam Islam. Jangan sampai seseorang itu batal shalatnya, tetapi ia tidak sadar bahwa shalatnya telah batal, sehingga ia pun tidak tergerak untuk mengulangi shalatnya, atau menggantinya (mengqadhanya).

    Shalat itu menjadi batal dan hilang maksud-tujuannya disebabkan melakukan perbuatan-perbuatan berikut:

    1. Makan dan minum dengan sengaja. Maka tidak sah seseorang yang shalat sambil memakan permen, misalnya.

    2. Berkata-kata dengan sengaja dan bukan untuk kepentingan shalat.
    Berkata-kata dengan sengaja maksudnya adalah seseorang sengaja berbicara kepada manusia atau berkata-kata yang bukan termasuk rukun shalat dan bukan pula termasuk sunnah shalat. Adapun berkata-kata yang pada lahirnya tampak seperti kepentingan shalat, tetapi dikatakan dalam bahasa selain bahasa Arab, maka hal ini juga bisa membatalkan shalat. Seseorang yang mengingatkan imam dengan bahasa selain Arab, atau ia berdoa dalam shalat dengan bahasa selain Arab, maka shalatnya telah rusak. Adapun berbicara untuk kepentingan shalat, misalnya seseorang membaca tasbih guna mengingatkan imam akan kesalahannya, maka hal ini tidaklah membatalkan shalat. Di luar tasbih pengingat itu, maka haruslah dihindari. Maka tidaklah batal otang yang bertasbih dengan niat mengingatkan imam, walau ini termasuk berbicara kepada manusia, tetapi ini termasuk untuk kepentingan shalat.

    3. Banyak bergerak dengan sengaja.
    Banyak bergerak di sini maksudnya adalah banyak bergerak dengan sengaja yang bukan rukun shalat atau pun sunnah shalat. Tetapi ada perbedaan dalam mendefinisikan kata ‘banyak’. Ada yang mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ‘banyak bergerak’ di sini ialah jika seseorang melakukannya dengan berturut-turut hingga tampak seperti orang yang sedang tidak shalat saja. Imam Nawawi berkata: “Para shahabat sepakat bahwa bergerak banyak yang membatalkan itu ialah jika berturut-turut. Jadi kalau berantara, maka tidak membatalkan; seperti melangkah selangkah kemudian berhenti sebentar, lalu melangkah lagi selangkah atau dua langkah. Seandainya ini diulang-ulang walau pun sampai seratus langkah atau lebih, maka tidak apa-apa. Adapun gerakkan enteng seperti menggerakkan jari untuk menghitung tasbih atau disebabkan gatal dan sebagainya, hal itu tidaklah membatalkan walaupun dilakukan berturut-turut, dan hukumnya hanya makruh saja. Dan Syafi’i telah menegaskan bahwa seseorang yang menghitung-hitung bacaan ayat dengan cara menggenggamkan tangan, tidaklah membatalkan, hanya sebaiknya hal itu ditinggalkan (makruh).”

    4. Sengaja meninggalkan rukun atau syarat tanpa udzur.
    Maka tidak sah orang yang meninggalkan thuma`ninah dalam ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujud. Thuma`ninah ialah tenang/tidak bergerak sementara waktu setelah stabil atau mentapnya posisi anggota tubuh, yang jangka waktunya oleh ulama diperkirakan sekurang-kurangnya selama membaca satu kali tasbih. Dan tidak sah seseorang yang shalat fardhu dengan cara duduk padahal dia tidak memiliki udzur. Adapun pada shalat sunnah, tidak mengapa jika seseorang melakukan sambil duduk walau ia tidak memiliki udzur. Hanya saja nilainya adalah setengah dari shalat dengan berdiri.

    5. Tertawa dalam shalat.
    Berkata Imam An-Nawawi: “Pendapat ini dimaksudkan jika tertawa itu sampai keluar dengan jelas dua buah huruf.” Adapun tersenyum itu tidak mengapa.

  • Shodaqoh dan Kesyukuran

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (qs. Ibrahim: 7)

    Seseorang yang bershodaqoh tentu merasa bahwa Allah telah memberi dirinya rizqi yang banyak, cukup untuk dirinya, keluarga dan dapat dibagi untuk orang lain yang membutuhkan. Seakan dia berkata, “Terimakasih wahai Allah! Sungguh Engkau telah memberi aku rizqi yang banyak hingga aku bisa bershodaqoh.”

    Adapun orang yang bakhil tentu merasa bahwa rizqi yang Allah beri adalah terlalu sedikit untuk dibagi. Ini adalah bukti atas pengingkarannya (kekufurannya) terhadap rizqi dan ni’mat yang Allah beri. Seakan dia berkata, “Ya Allah! Rizqi dariMu ini sangat sedikit untuk dibagi dengan orang lain.”

    Maka orang yang bershadaqoh itu adalah orang yang bersyukur dan akan mendapatkan tambahan ni’mat dari Allah di dunia dan akhirat. Adapun orang yang bakhil lagi kufur, maka Allah mengancamnya dengan siksaan.

    Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Al-Lail: 5-7)

    Sebaliknya, jika kita bakhil, maka Allah akan menyiapkan bagi kita jalan yang sukar. Sukar di sini tidak selalu sukar penghidupan. Bisa saja ekonominya mapan, tetapi kita mudah sekali berbuat ma’siat dengan fasilitas yang disediakan itu. Sedangkan ma’siat itu akan menjadi jalan yang sukar bagi kita di akhirat. Bahkan sukarnya akibat ma’siat itu dapat dirasakan juga di dunia dengan adanya berbagai mushibah seperti anak yang durhaka, sakit yang berat, dlsb.

    Adapun mereka yang senang bersyukur dengan cara bershodaqoh, maka bagi mereka ada kemudahan kepada jalan yang mudah. Mudah di dunia dan juga di akhirat. Mudah beribadah, punya lingkungan yang baik, keluarga yang baik, dijaga dari mushibah, dlsb.

    Manfaat & Bentuk Shodaqoh

    Manfaat dari bershodaqoh ini dapat dirasakan di dunia dan juga di akhirat. Allah berjanji akan mencukupkan penghidupan seseorang yang bershodaqoh setiap hari. Dan Nabi telah mengajarkan kita agar bershodaqoh setiap hari di dunia ini. Orang yang bershodaqoh akan diampuni dosa-dosanya dan dilindungi dari api neraka.

    Wahai bani Adam, berinfaqlah (di jalan-Ku), niscaya Aku menafkahimu. (Hadits Qudsi)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Pada setiap hari yang terbit padanya matahari terdapat sedekah di setiap sendi manusia. Seterusnya baginda bersabda: Berlaku adil di antara dua orang manusia adalah sedekah, membantu seseorang naik ke atas binatang tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas belakang binatang tunggangannya juga adalah sedekah. Rasulullah s.a.w bersabda lagi: Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju sembahyang adalah sedekah dan membuang sesuatu yang berbahaya di jalan adalah sedekah (HR. Bukhori, Muslim)

    Jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan sebuah kurma. (Al-Hadits)

    Bershodaqah bisa dengan apa saja. Dengan sebuah kurma, sepotong roti, uang seribu rupiah, menunjukkan jalan, membantu seseorang mengangkat barang, memungut/menyingkirkan duri dari jalanan, bahkan menafkahi anak dan istri.

    Diriwayatkan daripada Abu Mas’ud al-Badri r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya seorang muslim itu apabila memberikan nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala darinya, maka nafkahnya itu dianggap sebagai sedekah. (HR. Bukhori, Muslim)

    Ingatlah bahwa “Kullu ma’rufin shodaqoh” setiap kebaikan itu merupakan shodaqoh.

  • Shalat adalah Anugerah

    Sebagian kita sering menganggap bahwa shalat kita merupakan persembahan ataupun hadiah dari kita untuk Allah. Anggapan itu bisa diterima. Namun, tidak salah juga jika kita menganggap bahwa shalat itu merupakan anugerah dari Allah bagi kita.

    Kita tidak mungkin bisa shalat kalau bukan dengan taufiq dari Allah. Maka sungguh beruntung orang-orang yang digerakkan Allah untuk mendirikan shalat. Allah telah mengangkat diri yang hina ini ke istana-Nya yang suci di dalam shalat.

    Kita sangat memerlukan shalat. Dengan shalat itu, kita dapat mi’raj dan mendekat kepada Allah. Tidak hanya Nabi Muhammad yang mulya saja yang dapat mi’raj kepada Allah. Allah telah memberi kita ‘tangga’ yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sepulangnya dari mi’raj kepada Allah.

    Allah memberi kita shalat sebagai ‘tangga’ karena Dia ingin supaya kita semua dapat bertemu dengan-Nya, mengungkapkan segala perkara kita kepada-Nya, mengobati kerinduan kita pada-Nya, dan bermanja-manja dalam dialog suci dengan-Nya. Ingatkah Anda bagaimana sikap Nabi Musa as ketika diajak berdialog oleh Allah di lembah Thuwa yang disucikan? Lembah itu merupakan masjid tempat Nabi Musa as bermanja-manja dihadapan Allah dengan memanjangkan dialognya.

    Ibnul Qayim menceritakan: Allah menyeru Adam dengan mengatakan, “Wahai Adam! Janganlah gelisah karena firman-Ku kepadamu: keluarlah dari surga! Surga itu Aku ciptakan untukmu. Tetapi turunlah dulu ke bumi, rendahkanlah dirimu di hadapan-Ku dan pasrahlah dalam mencintai-Ku. Apabila kerinduanmu kepada surga dan kepada-Ku bertambah, datanglah! Niscaya Aku akan memasukkanmu lagi ke dalam surga. Wahai Adam! Apakah engkau berharap bahwa Aku membuatmu kudus, suci dari dosa?”
    Kata Adam, “Benar, wahai Tuhanku!”
    Kemudian Allah berfirman, “Wahai Adam! Andai Aku membuatmu kudus, membuat anak cucumu suci dari dosa, lantas kepada siapakah Aku berikan kemurahan hati-Ku? Kepada siapakah Aku limpahkan kasih-Ku? Dan untuk siapakah ampunan-Ku? Wahai Adam! Sebuah dosa yang membuatmu menghinakan diri di hadapan Kami, lebih Kami cintai daripada sebuah ketaatan yang engkau bangga-banggakan di hadapan Kami.”

    Allah memanggil kita yang telah berlumur dosa ini untuk datang ke istana-Nya yang suci. Dengan sholat yang Allah anugerahkan kepada kita, kita dapat mi’raj dan datang menghadap-Nya untuk mendapat limpahan kasih-sayang dan ampunan dari-Nya. Setiap dosa yang telah kita perbuat itu semestinya cukup untuk memanggil kita agar pulang kepada-Nya. Dan kita akan mendapati-Nya sebagai Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.

    Jika Anda pergi ke luar negeri untuk beberapa tahun, dan Anda merasa rindu kepada orangtua Anda, tentu Anda akan mengobati kerinduan Anda dengan sering menelpon orangtua Anda. Jika kerinduan itu sudah semakin memuncak dan tidak bisa lagi diobati dengan komunikasi jarak jauh, mungkin Anda akan memutuskan untuk pulang. Demikianlah yang terjadi pada banyak ulama. Mereka mengobati kerinduan kepada Allah dengan mendirikan sholat. Namun ketika kerinduan itu tak bisa lagi diredam, tak lama kemudian, Anda akan melihat ulama shalih itu ‘pulang’ kepada Allah. Seorang murid yang peka, tentu akan gusar jika gurunya sudah mulai mengutarakan kerinduannya kepada Allah. Mereka khawatir tak lama lagi guru mereka akan ‘pulang’.

  • SHODAQOH PENYUBUR BUMI

    Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Q.S. Al-Baqarah: 276)

    Tasbih itu shadaqoh, senyum itu shodaqoh, membantu orang itu shadaqoh, menunjuki jalan itu shadaqoh, mengajarkan kebaikan itu shadaqoh, membuat pakaian itu shadaqoh, membuat makanan itu shadaqoh, menanam tumbuhan itu shadaqoh, mendamaikan itu shadaqoh, silaturahim itu shadaqoh, berda’wah itu shadaqoh, memberi itu shadaqoh, mendistribusikan itu shadaqoh, merawat itu shadaqoh, membersihkan itu shadaqoh, asal semua itu diniatkan karena Allah.

    Dalam shadaqoh itu ada karunia Allah bagi yang bershadaqoh dan yang menerima shadaqoh. Shodaqoh itu menerima karunia Allah dan membagi-bagikannya. Bagi yang menyalurkan/membagi-bagikan akan mendapat karunia yang lebih besar lagi.

    Allah menjadikan makanan, minuman, emas, perhiasan dan segalanya untuk diolah dan diatur oleh manusia agar bumi menjadi subur dan damai. Asalkan ada yang menyembah Allah dan kedamaian terwujud, maka bumi akan menjadi subur. Bumi adalah planet yang paling beruntung. Di planet lain mungkin ada malaikat yang bertasbih. Tetapi di bumi ada makhluq yang sebaik-baik makhluq yang bertasbih. Jika sebaik-baik makhluq ini beribadah kepada Allah dan mewujudkan kedamaian serta menjalin kasih-sayang di bumi, maka suburlah bumi. Itulah tugas manusia sebagai khalifah, menyuburkan bumi, mengaturnya, mengurusnya, mengurus alam semesta.

    Allah tidak pernah menyuruh kita mencari rizqi. Tetapi yang Allah perintahkan adalah mencari karuniaNya. Untuk mencari karuniaNya kita perlu bershodaqoh. Allah menyuburkan (menganjurkan/menyebarkan perintah agar) bershadaqoh. Dan Allah melarang manusia melakukan riba. Sebab riba itu menolak karunia Allah dan mengambil yang bukan haqnya.

    Jika kita bekerja di sebuah kantor, atau pabrik, atau di mana saja, maka niatkanlah bahwa kita bekerja dalam rangka menolong makhluq Allah, dalam rangka bershadaqoh, dalam rangka menyuburkan bumi Allah, dalam rangka mencari ridho dan karunia Allah. Jika itu yang kita niatkan, maka yang kita dapatkan adalah ridho dan karuniaNya.

  • IBADAH: DZIKIR DAN PERMOHONAN

    Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah: 5)

    Sesunguhnya, segala macam ibadah itu adalah merupakan bentuk dzikir kita kepada Allah dan juga merupakan permohonan kita kepada Allah. Allah menyuruh kita untuk memohon kepada-Nya. Bahkan Dia mengancam orang-orang yang tidak mau berdoa kepadanya. Pernahkah Anda bertemu dengan penodong yang berkata kepada Anda, “Hai, mintalah kepadaku atau kamu ku tusuk!”? Tentu Anda belum pernah. Tetapi Allah berkata kepada Anda, “Mintalah kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika kamu tidak mau meminta kepada-Ku, niscaya Aku masukkan kamu ke dalam neraka.” Mana yang Anda pilih ketika Anda diancam dengan ancaman demikian. Apakah Anda memilih untuk tidak meminta dan masuk ke dalam neraka, ataukah Anda memilih meminta dan dikabulkan? Jika saya, tentu saya memilih untuk meminta kepada Allah SWT. Sedangkan Anda, terserah, Anda mau pilih yang mana.

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Al-Mu`minun: 60)

    SHABAR DAN SHOLAT

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha: 14)

    Ibadah adalah sarana yang Allah ajarkan kepada kita untuk mengingat Allah dan mengadukan keperluan kita kepadaNya. Doa merupakan inti ibadah, sebab pada doa terdapat permohonan yang merupakan pengakuan kita akan kelemahan diri, pengakuan akan kekuasaan Allah, penyerahan diri kita kepada Allah. Tetapi janganlah permohonan itu kita jadikan sebab datangnya pemberian Allah. Hendaklah permohonan itu dijadikan sebagai perwujudan sifat ubudiyah (penghambaan) dan menegakkan hak-hak ketuhanan. Sayid Abu Hasan ra. pernah berkata, “Janganlah tujuanmu berdoa itu untuk mendapatkan apa yang menjadi hajatmu. Kalau tujuanmu demikian, maka jadilah doamu itu terhalang. Hendaklah kamu bertujuan dalam doamu itu hanya sebagai munajat kepada Tuhanmu.” Anggaplah doa dan usaha itu sebagai tanda atau alamat dari Allah akan datangnya karunia Allah; bahkan doa dan usaha itu sendiri adalah karunia dari Allah. Tidaklah kita dapat berdoa dan berusaha kecuali dengan Allah. Untuk memohon kepada Allah -selain dengan berdoa- juga dapat dilakukan dengan bershabar dan juga shalat.

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Semasa salah seorang daripada kamu sembahyang, sesungguhnya dia sedang memohon pertolongan dari Tuhannya. Janganlah dia meludah ke depan atau ke kanannya. Tetapi hendaklah dia meludah ke bawah telapak kaki kirinya. (HR. bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal)

    Shalat adalah do’a (permohonan, permintaan) dan dzikir. Barangsiapa yang sholat berarti ia sedang bermunajat kepada Allah. Semakin sering ia bermunajat, tentu semakin banyak dan berkah ni’mat yang Allah beri, semakin mantap iman dan Islamnya, semakin ia merasa tentram dan tenang, semakin dekat pertolongan Allah padanya. Sesungguhnya sholat itu adalah mi’rajnya orang mu`min. Memang dengan sholat manusia tidak dapat mencapai kebahagiaan, sebab sholat bukanlah tuhan. Tetapi kita dapat mencapai kebahagiaan di dalam shalat, sebab di dalam shalat, kita dapat bertemu dengan Allah. Allah itulah yang dapat memberi kebahagiaan. Mahasuci Allah Yang mengangkat (memi’rajkan) hamba-hambaNya yang hina ke istanaNya yang suci.

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al-Israa`: 1)

    Sholat adalah mi’rajnya (tangganya) orang Mu`min (Al-Hadits)

    SERUAN SUCI

    Wahai sekalian manusia, apa yang kalian cari selain Allah adalah kecil. Adapun Allah, Dia Mahabesar. Maka Dia lebih pantas untuk dicari. Maka bersaksilah bahwa tidak ada yang pantas disembah dan dicintai kecuali Allah. Sebab yang selain Allah itu sesungguhnya tidak maujud secara haqiqi. Sesuatu yang tidak maujud, tidak dapat memberi dampak pada dirimu. Dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Manusia yang mengajak kita kepada kebenaran dan kebahagiaan. Maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah tangga untuk naik ke hadirat Allah Yang Mahasuci. Shalat akan membersihkan hati, fikiran dan perbuatan kita. Dengan kebersihan hati, fikiran, dan perbuatan, marilah kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang abadi. Ingatlah wahai manusia, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, Allah Mahabesar, tiada Yang pantas disembah selain Allah.

  • HIKMAH BEBERAPA IBADAH

    SHOLAT

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha: 14)

    Amal shalih yang kita lakukan hendaknya dalam rangka mengingat Allah. Bukan untuk pamer, menzhalimi, dll. Sesungguhnya Allah telah memberikan kita banyak ni’mat. Jika kita bersyukur kepada Allah dengan sholat seribu raka’at setiap hari, belum tentu dapat mengimbangi ni’mat Allah itu. Maka tidak pantas jika kita menyombongkan diri. Sholat mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah, mensucikanNya, tawakkal, tawadhu, khusyu, serta mendekat kepadaNya. Shalat juga mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan urutan atau tahapan yang baik, tidak menunda kebaikan, sesuai dengan jadwal yang sudah diatur.

    Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisaa`: 103)

    Shalat berjama’ah mengajarkan kita tentang pentingnya sinergi. Sebab dengan berjama’ah kita akan membuat suatu amalan menjadi sempurna dengan adanya penggabungan potensi dari masing-masing pribadi. Jika kita bekerja sendiri, mungkin ada suatu hal yang kita tidak dapat melakukannya. Tetapi dengan berjama’ah, apa yang tidak dapat kita lakukan, dapat ditangani oleh orang lain.
    ZAKAT

    Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (Q.S. Ar Ruum: 38)

    Zakat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Allah yang telah menyerahkan kepada kita harta untuk kita atur pendistribusiannya, maka sudah sepantasnya kita melaksanakan amanah dari Allah itu. Allah juga melarang kita menjadi orang yang merugikan. Kita tidak boleh berbuat bathil dan zhalim.

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya orang-orang miskin dari golongan muhajirin telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: “Orang-orang kaya mendapat kedudukan yang tinggi dan nikmat-nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: “Apa itu?” Mereka menjawab: “Mereka bersembahyang sebagaimana kami sembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak dapat bersedekah, mereka memerdekakan hamba sementara kami tidak mampu memerdekakannya.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Mahukah kamu sekiranya aku ajarkan kepada kamu satu amalan yang akan dapat menyamai orang-orang yang sebelum kamu dan dapat mengatasi orang-orang yang sebelum kamu? Tiada seorang pun yang lebih baik daripada kamu melainkan mereka yang melakukan amalan sebagaimana yang kamu lakukan itu.” Mereka menjawab: “Tentu saja, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu bertasbih bertakbir dan bertahmid setiap kali setelah selesai dari sembahyang sebanyak tiga puluh tiga kali.” Setelah itu orang-orang miskin dari golongan muhajirin itu pun kembali menemui Rasulullah SAW kata mereka, “Orang-orang kaya itu telah mendengar apa yang kami lakukan hingga mereka pun melakukannya pula.” Ujar Nabi SAW, “Itu adalah karunia Allah yang diberikanNya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi)

    Mahasuci Allah Yang mengangkat sebagian manusia dengan memberinya percikan sifat Al-Ghoniy, Al-Halim, dan Al-Wahhab. Sewaktu kecil, Anda sering mendapat uang untuk jajan. Tetapi adakalanya Anda diberikan uang Rp. 500,- oleh orangtua Anda sebelum sama-sama pergi ke masjid. Tujuan orangtua Anda tentu agar Anda memasukkan uang itu ke kotak amal. Atau Anda pernah mendapat tugas untuk membagikan sejumlah uang beliau kepada adik-adik Anda. Orangtua Anda telah mempercayakan Anda untuk mendistribusikan uangnya kepada yang beliau maksud. Anda sedang dididik untuk menjadi orang yang amanah. Anda sedang dididik bahwa apa yang Allah berikan kepada Anda tidak selalu untuk Anda ‘makan’; tetapi ada kalanya Allah berikan untuk dibagi-bagikan. Adapun rizqi yang memang untuk dibagi-bagikan, maka itu adalah bukan milik Anda. Tetapi Anda dipercaya untuk mendistribusikannya.
    PUASA

    Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Yusuf: 53)

    Puasa mengajarkan kita untuk dapat menahan nafsu. Nafsu adalah api dari segala macam ma’siat. Ia selalu menyuruh kita kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat Allah. Dalam beramal sholih hendaknya kita tidak mengikuti nafsu kita, tetapi hendaklah disebabkan dorongan Kasih-Sayang Allah. Jika kita mengikuti hawa nafsu kita, maka akal kita akan menjadi mati. Akibatnya kita tidak lagi dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Jangan sampai hawa nafsu membutakan mata hati kita. Barangsiapa yang di dunia ini buta, maka di akhirat pun akan buta. Dengan puasa kita telah mengurangi diri kita dari ‘memakan’ dunia. Terlalu sering memakan dunia, kita akan akrab dengan dunia. Terlalu akrab dengan dunia, kita akan cinta kepadanya. Terlalu cinta dengan dunia kita akan takut kehilangannya dan jauh dari Allah. Orang yang jauh dari Allah berarti ia tersesat.

    Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Q.S. Al-Isra`: 72)

    Puasa merupakan training bagi kita yang ingin sukses. Orang yang ingin sukses, maka pertama ia harus dapat menang atas dirinya sendiri. Puasa melatih kita untuk mengolah perasaan dan nafsu kita. Dengan kemampuan mengolah nafsu dan perasaan, maka kita akan dapat mengendalikan diri kita. Sehingga kita tidak dipengaruhi oleh orang lain, tidak dipengaruhi oleh syaithan, tidak dipengaruhi oleh pihak luar. Kitalah yang mempengaruhi dan mengendalikan diri kita sendiri. Kita menjadi apa yang sebenarnya kita inginkan. Bukan menjadi apa yang diinginkan pihak lain. Kita ingin sukses, kita ingin tenang, kita ingin bahagia, kita ingin gembira; kita yang menentukan. Orang lain tidak dapat membuat kita sedih, marah, jengkel, tegang; jika kita dapat mengendalikan diri kita untuk selalu tersenyum dan tenang. Cobalah lebarkan bibir Anda untuk tersenyum, tahan senyuman Anda. Dalam keadaan seperti itu cobalah untuk merasa sedih. Anda akan sulit untuk merasa sedih dalam keadaan seperti itu. Memang keadaan lahir dapat mempengaruhi keadaan bathin, walau tidak selamanya. Dengan kemenangan pribadi kita dapat mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri. Masalah sesungguhnya bukan berada di luar sana, tetapi di dalam diri kita sendiri. Mulailah untuk memperbaiki diri kita sendiri dan kendalikanlah diri sendiri. Andalah yang menentukan, ingin jadi apa Anda nantinya. Puasa juga mengajari kita untuk memahami keadaan orang lain (empatik). Dengan memahami keadaan orang lain, kita akan dapat memberikan solusi yang benar baginya. Solusi yang memberi keuntungan bagi Anda dan dia, setidaknya tidak ada yang kalah atau rugi. Dan berjama’ah dalam menyelesaikan sesuatu akan menambah kekuatan bagi semua orang dalam jama’ah. Dengan berjama’ah, kita akan dapat menyelesaikan banyak hal. Berjama’ah dan kebersamaan adalah cara untuk menyatukan potensi dan menutupi kekurangan. Dengan potensi di berbagai bidang, kita akan dapat menyelesaikan berbagai hal. Wallahu a’lam.

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash-Shaff: 4)

    HAJJI

    Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali Imran: 97)

    Hajji mengajarkan kita untuk melakukan amal sholih secara total dengan segenap potensi dan kemampuan yang kita miliki. Selalu berusaha dengan optimal, walau amal itu berat sekalipun.
    DZIKIR

    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (QS. Al-Baqoroh: 152)

    Dzikir (ingat) kepada Allah merupakan jalan terdekat untuk menuju Allah. Dengan dzikir, kita akan selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Kita akan merasa malu untuk berbuat keburukan. Orang yang berdzikir akan bimbang untuk melakukan ma’siat. Bisa dikatakan dzikir itu adalah rem untuk mengurangi kualitas kejahatan. Jika setelah berdzikir atau di dalam dzikir kita tetap melakukan ma’siat, janganlah kita berhenti dari dzikir. Sebab ma’siat yang dilakukan tanpa adanya dzikir sedikit pun kepada Allah adalah sangat berbahaya sekali.

    Syaikh Ibnu ‘Athoi`llah pernah berkata, “Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir lebih berbahaya dari pada kelalaianmu di dalam adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai dengan kesadaran(1). Dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati. Dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju pada dzikir yang disertai adanya keghoiban dari selain yang didzikir (Allah). Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.”

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, niscaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, niscaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari kecil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sebaik-baik gubahan sesebuah syair iaitu puisi yang dibawa oleh orang-orang Arab ialah syair atau puisi Labid yang artinya: Tidakkah mengingati sesuatu selain dari Allah adalah batil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Q.S. An-Nisa`:43)

    Mabuk tidak hanya disebabkan oleh khamr, dunia juga bisa menyebabkan manusia menjadi mabuk. Dan kenyataannya, banyak manusia sholat, tetapi tidak sadar apa yang ia katakan. Sebab pada saat ia sholat, ia sedang mabuk oleh dunia.

  • PUASA DAN TAQWA

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 183]

    Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat, Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al-Muflihun). [QS. Al-Baqarah: 1-5]

    Menjadi seorang muttaqin adalah suatu hal yang selalu diidam-idamkan setiap muslim. Sebab, kesudahan/akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertaqwa (muttaqin). Dalam surat Al-Baqarah ayat kelima dijelaskan bahwa muttaqin itu adalah orang yang beruntung. Begitu juga dalam surat Al-Qashash Allah Berfirman:

    Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Al-Qashash: 83]

    Pada bulan Ramadhan, Allah Mendidik hamba-hambaNya untuk menjadi muttaqin. Sehingga setelah keluar dari bulan Ramadhan, mereka menjadi muflihun sepanjang tahun. Dan ketika bertemu dengan Ramadhan kembali, mereka akan dididik kembali agar bertambah ketaqwaan mereka.

    BERIMAN KEPADA YANG GHAIB

    Pada saat berpuasa, di suatu hari yang panas, di kala tidak ada orang lain di rumah kecuali Anda, saat di kulkas tersedia air yang segar dan juga sirup yang manis rasanya, dan di meja telah tersedia kue-kue yang manis lagi lezat, akankah Anda mengambil minuman dan makanan itu untuk membatalkan puasa sebelum waktunya? Walau tidak ada orang lain, Anda tentu percaya bahwa Allah itu Ada dan Mahamelihat.

    Jika sifat seperti ini dibawa dimana pun dan kapan pun, tentunya tidak ada tindak korupsi dan tindak kejahatan lainnya yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Nabi pernah bersabda, “Bertaqwalah kamu di mana pun kamu berada.” Salah satu sifat orang bertaqwa itu ialah percaya kepada yang ghaib.

    Pernah Sayyidina Umar melihat seorang penggembala yang sedang menggembalakan hewan ternak majikannya. Lalu Sayyidina Umar mendekatinya dan membujuknya agar menjual salah satu hewan ternak itu kepadanya dan tidak usah melaporkannya kepada pemiliknya. Tetapi penggembala itu menolaknya kecuali jika majikannya tahu dan rela untuk menjual salah satu hewan tersebut. Sayyidina Umar membujuknya hingga berkata, “Bukankah majikanmu tidak akan tahu jika hewan ternaknya berkurang satu ekor?” Lalu penggembala itu berkata, “Lalu di mana Allah?” Mendengar itu, Sayyidina Umar menjadi kagum terhadap penggembala tersebut. Penggembala ini menolak ajakan korupsi, padahal ia punya kesempatan besar untuk bisa melakukannya. Itulah ciri orang bertaqwa.

    MENDIRIKAN SHALAT

    Di bulan Ramadhan ini, jangankan shalat yang wajib, shalat tarawih yang berjumlah 20 rakaat pun dikerjakan. Jika semangat beribadah seperti ini dibawa pada sebelas bulan berikutnya, tentu berkuranglah kejahatan di muka bumi ini. Dalam surat Al-Ankabut ayat 45 dijelaskan bahwa shalat itu dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Artinya setiap orang yang melaksanakan shalat itu, selain berguguran dosanya sesuai kualitas shalatnya, juga akan dapat menjadi penolong hati nurani dalam menolak ajakan nafsu dan syaithan untuk berbuat keji dan munkar.

    MEMBELANJAKAN RIZKI DI JALAN ALLAH

    Di bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk memberi makan untuk berbuka puasa. Juga diwajibkan bagi orang yang mampu untuk berzakat agar ia menunaikan zakat. Dan sesungguhnya Rasulullah saaw itu adalah manusia yang paling dermawan, dan ketika masuk bulan Ramadhan, Rasulullah saaw lebih dermawan lagi.

    Ketahuilah, bahwa orang yang bertaqwa itu senantiasa membelanjakan rizki yang dia peroleh untuk digunakan di jalan Allah. Apakah rizki itu berupa ilmu, harta, tubuh yang kuat, ataupun aqal yang cerdas. Dengan inilah seseorang dapat mencapai derajat taqwa dan memperoleh keberuntungan yang agung. Tanyakan saja kepada orang-orang yang sukses secara finansial di dunia ini, apakah mereka menjadi miskin karena berderma, atau justeru kekayaan mereka menjadi langgeng dan berkembang karena derma?

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS. Ibrahim: 7]

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui… Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat…Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah: 261, 265, 268]

    Jadi, jangan takut menjadi miskin jika Anda bershadaqah dan menggunakan harta di jalan Allah. Allah membalas shadaqah dengan berlipat ganda di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

    Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. [QS. An-Nisa`: 40]

    Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. [QS. Al-A’raf: 156]

    Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [QS. Ali ‘Imran: 148]

    BERIMAN KEPADA KITABULLAH

    Di bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca Kitabullah yang pamungkas, yaitu Al-Qur`an, yang merupakan penyempurna dari Kitab-Kitab sebelumnya. Dan juga dianjurkan untuk lebih banyak merenungkan dan meresapi ajaran-ajaran Allah dalam Al-Qur`an. Sehingga timbul suatu pemikiran dan sikap serta perbuatan yang berlandaskan pada Al-Qur`an, pedoman bagi setiap muttaqin, dan penjelasan bagi seluruh manusia, baik dia beriman mau pun kafir. Dengan percaya secara total kepada Al-Qur`an dan mengamalkannya tanpa ragu, niscaya seseorang itu akan beruntung di dunia dan di akhirat.

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. [QS. Al-Baqarah: 2]

    (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. [QS. Ali Imran: 138]

    BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

    Seseorang yang percaya kepada adanya hari akhir akan mempersiapkan bekal untuk kehidupannya di kampung akhirat. Orang yang beriman kepada hari akhir akan insyaf bahwa segala perbuatannya di dunia akan dia pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Sehingga dia akan lebih berhati-hati lagi dalam bertindak. Sebagaimana seseorang yang berjalan di area penuh ranjau, dia akan melangkah secara hati-hati sesuai dengan arahan orang yang mengetahui di mana tempat yang bisa dilalui secara aman.

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Hasyr: 18]

    ORANG YANG BERUNTUNG

    Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang berjalan di Jalan Lurus (Shirothol Mustaqim). Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang selalu di bimbing oleh Allah. Mereka bersama-sama dengan orang-orang yang diberi ni’mat oleh Allah berupa Jalan Lurus, yaitu para Nabi dan Rasul, shiddiqin, syuhada, dan sholihin.

    Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah: 6-7]

    Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS. An-Nisa`: 69]

    Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [QS. Al-Baqarah: 5]

    Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, [QS. Ya-Sin: 3-4]

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

  • Keutamaan Shalawat

    Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. [QS. Al-Ahzab: .56] (lebih…)

  • ISTIGHFAR

    Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Qur’an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 32-33) (lebih…)

  • Dzikrullah

    Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. [Al-Ahzab: 41] (lebih…)