Kategori: Ibadah dan Hukum

  • Jizyah, Beratkah?

    Suatu hari Umar bin Khoththob berjalan di suatu jalan. Lalu ia melihat seorang laki-laki tua yang sedang meminta-minta. Ia berkata, “Kenapa engkau meminta-minta, wahai orang tua?”

    Orang tersebut menjawab, “Aku adalah seorang Yahudi. Dan aku meminta-minta untuk membayar jizyah.” (lebih…)

  • Shubuhku Kesiangan

    Hari ini saya bangun kesiangan. But I’m not the only one. Saya bangun dan jam di HP saya menunjukkan pukul 06.34. Lalu berfikirlah saya sambil mempersiapkan diri untuk shalat. Mana kiranya yang lebih Allah sukai, saya shalat shubuh berjama’ah ataukah saya menghadiri Majelis Rasulullah semalam.

    Mulailah saya menimbang. Sepertinya Allah lebih suka dengan kehadiran saya di Majelis Rasulullah semalam. Bukankah dengan mendekat kepada Habib Munzir, seseorang akan bertambah kekhusyuannya, meningkat ma’rifahnya, bertambah kehadiran hatinya. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semalam Jiwa Muhammad seakan memenuhi kami semua. Seakan beliau meminjam raga kami untuk bermunajat kepada Allah. Atau seakan diri kami semua lebur kepada beliau SAW dan berhadap-hadapan dengan Maharaja alam semesta. Seakan diri kami mi’raj kepada-Nya. Atau seakan diri kami sujud di hadapan-Nya di Padang Perhimpunan (Padang Mahsyar).

    Bukankah kualitas spiritual seperti itu sangat disukai Allah? Suatu kondisi dimana hamba merasakan eksistensi Sang Pencipta, dimana hamba merasakan kedekatan dengan Maharaja alam semesta, ketika hamba mengenal Robbul ‘alamin. Kualitas seperti ini belum tentu saya dapatkan jika saya shalat shubuh berjama’ah.

    Mengenai sholat shubuh kesiangan, para shahabat pun pernah kesiangan. Mereka kesiangan ketika dalam perjalanan da’wah. Bukan kesiangan akibat hura-hura ataupun pekerjaan yang melalaikan.

    Memang sebaiknya saya meraih keduanya, baik hadhir di Majelis Rasulullah maupun shalat shubuh berjama’ah. Tetapi jika harus memilih salah satu, maka hadirnya saya di Majelis Rasulullah semalam telah mengantarkan saya kepada kondisi spiritual yang diharapkan dari setiap ibadah. Memang semestinya kualitas spiritual seperti itu hendaknya ada pada kita dalam setiap ibadah bahkan dalam setiap aktivitas kita. Namun setahap demi setahap kita menuju kondisi tersebut hingga akhirnya malaikat menyalami kita di jalan dan bahkan ketika kita di pembaringan. Wallahu a’lam.

    Bagaiman menurut Anda?

  • Hajji Sosial

    Diceritakan bahwa di sebuah perkampungan terpencil ada seorang miskin yang bekerja sebagai tukang nyemir sepatu. Walaupun tukang penyemir sepatu dan miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk dapat melaksanakan ibadah haji di suatu hari.

    Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya haji yang dibuthkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah mencukupi.

    Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai perjalanan itu. Tiba-tiba di saat akan meninggalkan rumahnya terdengar kabar bahwa tetangganya terjatuh sakit dan memerlukan bantuan keuangan untuk pengobatan.

    Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga itu. Di lihatnya tetangganya tergeletak lemah, merintih menahan sakit dan berharap jika ada yang berkenan membantunya untuk meringankan bebannya itu. Diapun dengan ikhlas dan tekad karena mencari ridha Allah SWT memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.

    Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan. Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.

    Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian kalinya.

    Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya. Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq, Pencipta alam semesta.

    Sementara itu, manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an ibadah mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur diirngi tasbih dan kekhusyu’an

    Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah seorang saudagar kaya dan terpandang dari sebuah kota dekat perkampungan hamba Allah yang miskin tadi. Sang saudagar ini tertidur pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi ketemu dengan Rasulullah SAW.
    Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”

    Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.

    Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa gerangan dia dan berasal dari mana?”

    Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampugnya”.

    Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu. Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya terbangun.

    Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu. Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tadi, maka dicarinya orang itu. Ternyata dia hanyalah seorang tukang semir sepatu yang miskin.

    Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. Maka dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan perbekalan sedikit demi sedikit, hingga saat-saat pemberangkatan dan bantuannya kepada tetangganya yang membutuhkan.

    “Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.

    Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur.

    Haji Mabrur

    Di saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang sahabat: “apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar?”.

    “Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah nanti” jawabnya singkat.

    Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “dan haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali syurga”.

    Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai upaya dan pengerbonan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik) atau maqbul (diterima).

    Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.

    Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan ibadah haji? Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk membersihkan dosa-dosa masa lalu?

    Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan. Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.

    Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif. Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram karena sang haji.

    Haji Sosial

    Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun jawaban Abu Bakar R.A. di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah dalam Islam yang memiliki konsekwensi sosial yang tinggi. Betapa tidak, panggilan berhaji dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk panggilan “kemanusiaan”: Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai Ibrahim) untuk datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu (untuk berhaji) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang jinak. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).

    Ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al Qur’an, juga dipakai panggilan “kemanusiaan”: Dan bagi Allah atas manusia untuk berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al Qur’an).

    Kedua hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang terdapat dalam ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di saat musim haji, mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya dipandang dengan satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan”. Mereka tidak lagi dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya. Hanya satu kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan yang tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.

    Kesadaran nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh suburkan di saat menusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern. Dinding-dinding pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia kehilangan koneksi batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia saling menilai, bukan lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih dekat kepada penilaian hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras, suku, warna kulit, kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya. Seolah semua inilah yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak insan.

    Kemampuan menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan sesama di sekitarnya akan mudah terlacak karena ada rasa kemanusiaan yang tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai akibat dari sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi tidak menjadi penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.

    Disebutkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah berangkat ke Jum’atan sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh seorang sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah saya lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan kaum miskin masih merasakan kelaparan”.

    Beliaulah yang pernah bertanya kepada seorang sahabtnya: “Apakah engkau tidur dengan baik semalam?”. Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya tidur dengan nyenyak”. Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak nyenyak tidur dalam 3 malam ini karena khawatir akan dimintai pertanggung jawaban oleh para janda, anak yatim dan kaum miskin pada hari kiamat nanti”.

    Di suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan pengecekan langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat api yang menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya sedang memasak. Umar bertanya: “Apa yang anda sedang masak dan kenapa memasak di pertangahan malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya memasak batu-batuan untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan. Mudah-mudahan dengan melihat nyala api ini mereka tertidur sambil menunggu makanan ini siap untuk dihidangkan”.

    Sang ibu itu melanjutkan: “Saya hanyalah seorang janda yang punya banyak anak. Umar sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab membiarkan kami kelaparan seperti ini” sambil terus menerus menuduh Umar tidak bertanggung jawab tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Umar sendiri.

    Tanpa berbicara sepatah kata, airmata Umar mengalir membasahi pipi dan janggut beliau mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan). Diambilnya sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan dipikulnya sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan beliau berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat Umar memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan karung tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah engkau mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”.

    Sungguh contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan pemimpin agung. Bahwa accountability (pertanggung jawaban) bukan sekedar duniawi sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggung jawaban di Akhirat kelak.

    Bukankah masanya, di saat jutaan manusia menjerit dalam genggaman kerisauan ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang melonjak, manusia seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial. Di saat saudara-saudara sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi keluarganya di bawah kolon-kolon jembatan itu, di saat-saat para ayah bercucuran keringat tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di saat ribuan anak-anak potensi bangsa harus kehilangan kesempatan belajar karena biaya pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh hajinya sang tukang sepatu. Haji yang terbangun di atas fondasi kesadaran sosial yang tinggi dan bukannya haji yang semakin membawa kepada prilaku egoistik atas nama Tuhan dan ridhaNya. Wallahu a’lam!

    (Syamsi Ali, penulis rubrik “Kabar Dari New York” di www.hidayatullah.com. Tulisan ini sudah dimuat di www.innchannels.com)

  • Cara Tidur Rasulullah

    Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdoa: Robbi qinii ‘adzaabaka yawma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Robbi, peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).” [HR. At-Tarmidzi]

    Hudzaifah ra. berkata: “Bila Rasulullah SAW berbaring di tempat tidurnya, maka beliau berdoa: Alloohumma bismika amuutu wa ahyaa (Ya Allah, dengan Asma-Mu aku mat dan aku hidup). Dan jika bangun dari tidurnya beliau berdoa: Alhamdu lillaahil-lladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilayhin-nusyuur (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan daku kembali setelah mematikan daku, dan kepada-Nya tempat kembali).” [HR. At-Tarmidzi]

    Aisyah ra. berkata: “Bila Rasulullah SAW berbaring di tempat tidurnya, beliau kumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dan dibaca pada keduanya surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas. Kemudian disapunya seluruh badan yang dapat disapunya dengan kedua tangannya. Beliau mulai dari kepalanya, mukanya dan bagian depan dari badannya. Beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali.” [HR. At-Tarmidzi]

  • Apa Itu Islam?

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w berada bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki.
    Kemudian lelaki itu bertanya kepada baginda: “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman?”
    Lalu baginda bersabda: “Kamu hendaklah percaya iaitu beriman kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, hari pertemuan denganNya, para Rasul dan percaya kepada Hari Kebangkitan.”

    Lelaki itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Apakah pula yang dimaksudkan dengan Islam?”
    Baginda bersabda: “Islam ialah mengabdikan diri kepada Allah dan tidak menyekutukanNya dengan perkara lain, mendirikan sembahyang yang telah difardukan, mengeluarkan Zakat yang diwajibkan dan berpuasa pada bulan Ramadan.”

    Kemudian lelaki tersebut bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Apakah makna Ihsan?”
    Rasulullah s.a.w bersabda: “Engkau hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, sekiranya engkau tidak melihatNya, maka ketahuilah bahawa Dia sentiasa memerhatikanmu.”

    Lelaki tersebut bertanya lagi: “Wahai Rasulullah! Bilakah Hari Kiamat akan berlaku?”
    Rasulullah s.a.w bersabda: “Sememangnya orang yang bertanyakannya lebih mengetahui dariku. Walau bagaimanapun aku akan ceritakan kepadamu mengenai tanda-tandanya. Apabila seseorang hamba melahirkan majikannya maka itu adalah sebahagian dari tandanya. Seterusnya apabila seorang miskin menjadi pemimpin masyarakat, itu juga sebahagian dari tandanya. Selain dari itu apabila masyarakat yang pada asalnya pengembala kambing mampu bersaing dalam menghiasi bangunan-bangunan mereka, maka itu juga dikira tanda akan berlakunya Kiamat. Hanya lima perkara itulah sahaja sebahagian dari tanda-tanda yang diketahui dan selain dari itu Allah sahaja Yang Maha Mengetahuinya. Kemudian Rasulullah s.a.w membaca Surah Luqman ayat 34 yang bermaksud: Sesungguhnya Allah lebih mengetahui bilakah akan berlaku Hari Kiamat, di samping itu Dialah juga yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim ibu yang mengandung. Tiada seorang pun yang mengetahui apakah yang akan diusahakannya pada keesokan hari iaitu samada baik atau jahat dan tiada seorang pun yang mengetahui di manakah dia akan menemui ajalnya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Amat Meliputi pengetahuanNya.”

    Kemudian lelaki tersebut beredar dari situ. Rasulullah s.a.w terus bersabda kepada sahabatnya: “Sila panggil orang itu kembali.”
    Lalu para sahabat berkejar ke arah lelaki tersebut untuk memanggilnya kembali tetapi mereka dapati lelaki tersebut telah hilang.
    Lantas Rasulullah s.a.w bersabda: “Lelaki tadi ialah Jibril a.s. Kedatangannya adalah untuk mengajar manusia tentang agama mereka.” [HR. Bukhori (48), Muslim (10)]

    “Dibangun Islam itu atas lima perkara: Memberi kesaksian bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhajji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.” [HR. Bukhori dan Muslim dari Abi Abdurrahman (Abdullah) bin Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhuma]

  • Kuasa Gelap, Adakah?

    Kuasa gelap, kekuatan jahat, atau pun sihir memang ada. Ummat Islam haruslah beriman akan adanya perkara-perkara tersebut. Kemudian kita harus berhati-hati agar tidak ikut mengerjakannya dan agar kita tidak terkena sihir.

    Sihir bisa didapat seseorang melalui ritual-ritual penyembahan kepada jin, setan, atau pun Iblis. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan tentang orang-orang Mesir Kuno yang mempelajari sihir dari para firaun. Juga dijelaskan bagaimana kekuatan sihir para penyihir bisa dikalahkan oleh Nabi Musa yang mendapat kekuatan dari Allah. (Silahkan lihat Al-A`raf ayat 115 hingga ayat 122)

    Dalam banyak hadits juga dijelaskan tentang amalan-amalan yang dapat menangkal sihir. Hadits-hadits tersebut selain menunjukkan adanya sihir, juga menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dari sihir dan membentengi diri dengan iman dan amal shalih.

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang membaca: “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiitu, wa Huwa ‘alaa kulli syai`in qodiir” dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan. [HR. Bukhori (3050, 5926), Muslim (4857)]

    Perlu diklarifikasi juga di sini bahwa pada pekan lalu, kami bukan ketakutan atau pun panik. Tetapi kami menghimbau agar kita semua berhati-hati terhadap hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Hanya saja pemberitaan yang begitu serempak membuat sebagian orang menganggap hal tersebut sebagai sebuah ketakutan. Ketakutan tersebut sebenarnya tidak ada, hanya salah tafsir saja atas aksi pemberitaan yang begitu gencar.

    Saya maklum atas salah tafsir mereka. Saya juga bisa salah tafsir terhadap tindakan pengamanan yang tidak biasa di Gereja-Gereja beberapa hari ini. Tetapi saya rasa, mereka bukannya takut kepada aksi pemboman. Mereka hanya berhati-hati, seperti kita berhati-hati kemarin. Bukankah demikian?

  • MUI: Natal Bersama

    Perayaan Natal bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka mirip dengan merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal. Padahal perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.

    Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama. Hendaknya ummat Islam tidak mencampur-adukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT. Namun ummat Islam tetap harus menjaga kerukunan antar ummat beragama di Indonesia.

    Ummat Islam memang diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat dari agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:

    Al Qur`an surat Al-Hujurat ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan Kamu sekattan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

    Al Qur`an surat Luqman ayat 15:”Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku lah kembalimu, maka akan Ku-berikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Al Qur`an surat Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

    Namun ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan :

    Al Qur`an surat Al-Kafirun ayat 1-6:”Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”

    Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 42: “Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersatukan dengan aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikutinya dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Kita, kemudian kepada-Kulah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

    Kemudian, ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:

    Al Qur`an surat Maryam ayat 30-32: “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibumu (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 75: “Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rosul yang sesungguhnya telah lahir sebelumnya beberapa Rosul dan ibunya seorang yang sangat benar. Kedua-duanya biasa memakan makanan(sebagai manusia). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

    Al Qur`an surat Al Baqarah ayat 285 : “Rasul (Muhammad telah beriman kepada Al Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman) semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-Nya. (Mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasulnya dan mereka mengatakan : Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

    Barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu telah kafir dan musyrik, berdasarkan atas :

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 72 : “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata : Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam. Padahal Al Masih sendiri berkata : Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zhalim itu seorang penolong pun.”

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 73 : “Sesungguhnya kafir orang-orang yang mengatakan : Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih.”

    Al Qur`an surat At Taubah ayat 30 : “Orang-orang Yahudi berkata Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Al Masih itu anak Allah. Demikianlah itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah-lah mereka bagaimana mereka sampai berpaling.”

    Pada hari kiamat nanti, Allah akan menanyakan Isa, apakan dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab “Tidak” : Hal itu berdasarkan atas :

    Al Qur`an surat Al Maidah ayat 116-118 :
    “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah, Isa menjawab : Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu : sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadapa mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku, Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan Jika Engkau mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

    Dialog ini Allah beritakan dalam Al-Qur`an agar manusia mengambil pelajaran dari kesaksian Isa al-Masih akan hal ini.

    Islam mengajarkan Bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al Qur`an surat Al Ikhlas :
    “Katakanlah : Dia Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun / sesuatu pun yang setara dengan Dia.”

    Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas :

    Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”

    Kaidah Ushul Fiqih:
    “Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan).”

    Maka perayaan Natal di Indonesia, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Hendaknya ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dan dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

    (Sumber: mui.or.id)

  • Rasa Kesyukuran

    Rasa syukur akan timbul ketika kita mengingat ni’mat-ni’mat Allah. Mata yang dapat kita gunakan untuk melihat, udara yang kita hirup, lidah yang dapat mengecap rasa, merupakan ni’mat Allah yang sangat besar. Sementara sebagian orang tidak mendapat ni’mat penglihatan. Sebagian orang tergolek lemas di tempat tidur karena lumpuh. Sebagian orang ada yang menjadi bahan ejekan orang karena hilang aqal atau gila.

    Diantara ni’mat Allah yang terbesar adalah ni’mat iman dan Islam. Seorang wanita bercerita tentang saudaranya yang ahli ibadah lagi zuhud bernama Basyar al-Hafi, “Suatu malam, saudaraku datang. Ketika ia salah satu kakinya baru masuk ke dalam rumah, dia berhenti dan membiarkan kakinya yang lain tetap di luar. Dia tetap dalam keadaan tersebut hingga shubuh. Setelah ditanya tentang apa yang difikirkannya semalam, ia menjawab, ‘Aku terfikir si Basyar yang beragama Yahudi, si Basyar yang beragama Nasrani, dan si Basyar yang beragama Majusi. Lalu aku terfikir diriku sendiri, karena namaku juga Basyar. Kemudian aku berkata dalam hati: Apa sebabnya dari sekian orang yang bernama Basyar, Allah memilihku termasuk ke dalam orang yang memeluk agama Islam? Maka kurenungkan karunia Allah untukku itu. Dan aku bersyukur dan memuji Allah Yang telah menunjukiku agama Islam, menjadikanku pilihan-Nya dan memakaikan kepadaku jubah kekasih-kekasih-Nya.’”

    Lihatlah betapa besar karunia Allah yang telah kita terima. Betapa banyak rizqi yang telah Allah beri semenjak kita lahir hingga kini. Tidak patutkah kita bersyukur pada-Nya?

  • Pro-Kontra Dakwah Lewat Situs Porno di Arab

    Situs-situs porno yang telah merajalela di dunia maya membuat sejumlah dai muda di Arab kewalahan menghadapinya sehingga mengambil jalan pintas `menyusup` ke situs-situs tersebut.

    Caranya mudah. Mulanya mereka menginventarisir situs-situs porno yang banyak digemari kawula muda. Setelah itu, mereka memasukkan pesan-pesan khusus dengan judul menarik yang seolah-olah masih terkait dengan hal-hal yang berbau porno.

    Tujuan memberikan judul `tersembunyi` itu adalah untuk menarik para pengakses situs porno tersebut untuk membuka dokumen yang dikirim sejumlah dai itu sehingga bisa membaca pesan dakwah yang ada didalamnya.

    Pesan-pesan dakwah itu antara lain berisi himbauan agar takut kepada muraqabah (pantauan) Allah Yang Maha Mengetahui serta dampak buruk yang dapat menimpa para pengaksesnya.

    Pada intinya mereka mengajak para pengakses situs-situs dimaksud agar bertaubat dan meninggalkan kebiasaan buruk tersebut karena situs itu berisi seruan kepada maksiat yang dapat menjurus kepada perbuatan zina.

    Cara itulah yang dianggap beberapa dai muda di Arab untuk membantu mencegah kawula muda berhenti mengakses situs-situs “esek-esek” tersebut. Namun tidak semua ulama sependapat dengan siasat dakwah para dai muda itu.

    Di antara ulama besar Arab yang menolak siasat dakwah seperti itu adalah Sheikh Jamal Al-Qutb yang menilai sisipan dakwah lewat situs semacam itu tidak dibenarkan dan melanggar ketentuan syariat.

    “Cara dakwah seperti ini tidak bisa diterima sama sekali karena bertentangan dengan ketentuan syariat. Cara ini sama saja dengan mencampuradukkan amal saleh dengan amal buruk,” katanya seperti dikutip laman Arabiya, Minggu (9/12).

    Menurut mantan Ketua Lembaga Fatwa Al-Azhar Mesir itu, seorang dai tidak dibenarkan pergi ke tempat-tempat “abu-abu”. “Bila polisi atau pejabat berwenang pergi merazia ke tempat prostitusi dibolehkan sedangkan dai sama dengan dokter harus melaksanakan misi di tempat yang tepat.” ujarnya.

    Sementara alasan sejumlah dai muda Arab membolehkan penyusupan ke situs dimaksud adalah analogi dengan dakwah Rasulullah yang mendatangi kaum musyrikin pada awal-awal Islam dahulu.

    Nabi Muhammad sebagai Rasul penutup, tidak segan-segan mendatangi `nadi-nadi` (tempat berkumpul) para pembesar kafir Quraish di Mekkah untuk menyampaikan ajaran Islam yang dibawanya.

    Tetapi analogi itu ditolak tegas Sheikh Jamal. “Analogi ini tidak tepat, sebab Rasulullah mendatangi kaum musyrikin untuk mengajak mereka meninggalkan kemusyrikan. Jadi syirik lain dan perzinaan lain,” katanya.

    Salah satu ulama besar Al-Azhar itu menilai bahwa tidak ada perbedaan antara situs-situs porno dengan tempat-tempat prostitusi. Meskipun bukan tempat berzina, tapi situs itu adalah ajakan dan pendahuluan dari zina.

    Sedangkan Dr. Abdullah Al-Ewadhi, guru besar ilmu jiwa dan ilmu sosial asal Kuwait mengingatkan bahwa dakwah lewat situs-situs porno tidak akan berpengaruh bagi para pengaksesnya.

    “Saya tidak mendukung cara dakwah seperti ini sebab sisi negatifnya lebih besar dari sisi positifnya. Karena tidak ada pengaruhnya sebab tayangan gambar jauh lebih melekat dalam benak pengakses dari imbauan lewat kata-kata,” katanya.

    Al-Ewadhi justru mengkhawatirkan cara tersebut akan mendatangkan sikap olok-olok dari para pengakses situs porno kepada para dai muda karena yang bersangkutan melakukan dakwah lewat situs maksiat itu.

    Cara Dakwah

    Cara penyusupan dakwah yang dilakukan kalangan dai muda itu tergolong menarik karena membuat siapa saja yang sedang mengakses situs-situs porno akan tertarik membuka pesan dakwah yang diberi judul mengiurkan.

    Sebagai contoh, sebagian dai sengaja menyusupkan pesannya dalam bentuk video dengan judul yang membuat para pengakses “deg-degan” seperti hafalaat jinsiah lifatayaan arabiyaat (pesta seks remaja Arab).

    Sebagian lagi memilih judul dari nama artis panas Arab seperti `laqathaat li Haiva Wahbi` (cuplikan dari gambar Haiva Wahbi). Begitu membuka video dimaksud maka yang keluar adalah pesan-pesan dakwah yang menyuruh para pengakses situs porno untuk bertaubat.

    Sang dai biasanya hanya mengeluarkan pesan lewat suaranya dengan muka yang disamarkan sehingga tidak dikenal oleh pengakses yang membuka video dakwah yang disusupkan itu.

    Respon para pengakses biasanya berbeda-beda. Ada yang menghujat cara dakwah seperti dan tidak sedikit pula dari mereka memang menyatakan terpengaruh dengan pesan itu sehingga berhenti mengakses situs porno.

    Terlepas dari pro kontra akan dakwah dengan cara itu, yang jelas improvisasi dakwah dewasa ini terus dituntut sejalan dengan makin hebatnya cara dan teknologi penyebaran pesan-pesan setan. (ANTARA)

  • Berdosakah Aku Jika Menciumnya?

    Ada-ada saja ulah kelompok-kelompok sempalan di zaman ini. “Ini bid’ah… itu bid’ah,” begitulah kata-kata yang sering mereka lontarkan. Bahkan mereka mengatakan bahwa kita tidak perlu mencium Al-Qur`an, tidak pula kita diperbolehkan mencium tangan ulama. Mereka berkata, “Hal itu adalah syirik. Janganlah kamu menyembah yang selain Allah.”

    Apakah mencium tangan seseorang adalah suatu penyembahan kepada orang tersebut? Dari mana mereka bisa berkata seperti itu? Atas dasar apa? Sedangkan Allah telah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam dalam rangka menghormati Adam. Jika mencium tangan ulama adalah syirik, maka malaikat telah berbuat syirik, karena telah sujud kepada selain Allah.

    Bahkan para shahabat, apabila Rasul berwudhu, maka mereka berebut untuk dapat meminum air bekas wudhu beliau shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Jika Rasul bercukur, mereka berebut untuk mendapatkan rambut beliau SAAW. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal ingin agar dikubur bersama dengan tiga helai rambut Rasul yang beliau miliki. Para shahabat bukan hanya ingin mencium tangan Rasul, bahkan ada di antara mereka yang menelan darah bekam Rasul.

    Jika mencium tangan seseorang adalah syirik, maka para shahabat adalah musyrikin terparah yang pernah ada dalam sejarah ummat ini, dan Rasul adalah orang yang membiarkan kesyirikan terbesar itu berlangsung di depan matanya, dan Rasul membiarkan dirinya sebagai objek kesyirikan. Sungguh tidak masuk aqal tuduhan kelompok sempalan itu.

    Bagaimana mungkin mencium tangan seseorang bisa dikatakan pekerjaan syirik, sedangkan para shahabat telah melakukan yang lebih besar dari itu, dan Rasulullah membiarkannya? Maka jelaslah, tuduhan mereka membongkar kedok mereka. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang membenci sunnah Rasul. Mereka benci kepada perbuatan-perbuatan yang dicontohkan oleh para shahabat yang disetujui oleh Rasul. Mereka lebih suka mengikuti perkataan ustadz-ustadz mereka yang menyimpang daripada mengikuti Syari’ah Islam yang lurus ini.

    Mereka telah menjadikan ustadz-ustadz mereka sebagai pembuat syari’at (Syari’). Mereka telah jelas-jelas menyembah ustadz-ustadz yang menyimpang itu. Mereka selalu menggembar-gemborkan pelurusan aqidah. Padahal mereka itulah yang telah menyimpang aqidahnya.

    Mereka mungkin tidak peduli jika Anda tidak mencium Al-Qur`an setelah Anda membacanya. Mereka tidak peduli di mana Anda meletakkan Al-Qur`an Anda setelah Anda membacanya. Tetapi, apa kiranya reaksi mereka jika Anda menduduki peci atau topi mereka? Apa kiranya reaksi mereka jika Anda berani memegang dan mendorong-dorong kepala atau jidat ustadz-ustadz mereka?

    Berdosakah kita jika kita mencium Mush-haf Al-Qur`an karena kita mencintai dan menghormati Al-Qur`an? Berdosakah kita jika kita mencium tangan para ulama shalih, sedangkan mereka adalah para pewaris Nabi? Sungguh aneh kelompok-kelompok sempalan itu.

    Benarlah apa yang disabdakan Nabi tentang kelompok-kelompok sempalan itu. Mereka adalah pemuda-pemuda yang lemah aqal. Mereka mempelajari Al-Qur`an, tetapi mereka tidak memahaminya. Mereka membaca Al-Qur`an, tetapi tidak memperbaiki hatinya. Mereka keluar dari agama, seperti anak panah yang melesat dari busurnya.

    Tidakkah mereka membaca dalam Al-Qur`an bahwa Allah telah memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam? Apakah itu sujud ta’bud? Bukan, itu adalah sujud ta’zhim. Tidakkah mereka memahami akan hal ini? Betapa jahilnya.

    Wallahu a’lam.