Kategori: Ibadah dan Hukum

  • Kapan dan Dimana Kita Berdoa

    Berdoa, seperti halnya dzikir, adalah suatu ibadah yang tidak dibatasi tempat dan waktunya. Kita boleh saja berdo’a di tempat tidur, ketika akan masuk ke kamar kecil, di jalan, di sekolah, di kantor, di Masjid, di pagi hari, di sore hari, di siang hari, di malam hari, ketika dalam kesulitan, ketika dalam kelapangan, di mana pun dan kapan pun. Anda boleh berdoa setiap selesai mendirikan shalat. Anda juga boleh berdoa pada tanggal berapa pun, pada hari apa pun. (lebih…)

  • PENGARUH DZIKIR PADA KEHIDUPAN

    Majelis-majelis dzikir mempunyai pengaruh yang besar di dalam kehidupan manusia, pengaruh terhadap hati manusia, pengaruh terhadap bathin manusia. Majelis-majelis dzikir berpengaruh terhadap seseorang dalam urusan lahir dan bathin, dalam urusan dunia dan akhirat. Walau pun seseorang sibuk dalam memenuhi kebutuhan duniawinya, akan tetapi perlu diketahui bahwasanya dzikir kepada Allah SWT merupakan salah satu usaha di dalam memperbaiki kehidupan kita, baik yang lahir maupun yang bathin. (lebih…)

  • Kemana Perginya Si Babi?

    Berkat kemajuan teknologi, kehidupan manusia semakin praktis. Misalnya, teknologi pangan terapan mampu menciptakan bahan pangan yang praktis, mudah, dan enak dengan berbagai variasinya. Namun, untuk mendapatkannya, kadang–kadang diperlukan bahan penolong yang memiliki sifat khusus. Untuk membuat tekstur gel misalnya, diperlukan bahan tambahan berupa gelatin. (lebih…)

  • Rukun Shalat

    Hadits 1
    Sebagaimana yang diambil dari hadits Rasul saw yang diriwayatkan oleh Aby Hurairoh ra sengguhnya Rasullulah saw berkata : “ Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat maka berwudhulah dengan sempurna, kemudian menghadap kiblat, kemudian engkau bertakbir kemudian bacalah yang termudah bagimu dari AlQur’an, kemudian engkau berrukuk hingga tuma’ninah dalam berukuk kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal), kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut, kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) hingga engkau bertuma’ninah dalam dudukmu kemudian engkau sujud kedua kalinya hingga bertuma’ninah dalam sujut, kemudian lakukanlah seperti yang tadi diseluruh shalatmu” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
    dalam Riwayat Muslim Rasullulah saw berkata : “Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu”

    Hadits 2
    Riwayat An Ibn Umar ra Rasulullah saw berkata : “ketika duduk untuk berTasyahud menaruh tangan kiri diatas lutut sebelah kiri dan tangan kanannya diatas lutut sebelah kanan, dan memajukan jari telunjuk, dalam Riwayat Muslim (mengumpulkan semua jarinya dan menunjuk dengan jari yang setelah jari jempol).

    Hadits 3
    Riwayat An Aby Mashud ra shabat Basyir bin Syaid “Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu, kemudian Rasul saw terdiam lalu Rasulullah saw menjawab “ katakanlah, Allahumma Shali’alla Muhammadin wa’alla ali Muhammad kama shalaita ala Ibrahimma…” sampai dengan akhir shalawat Ibrahimiyah. (HR. Muslim). (Ditambahkan oleh Ibn khuzaimah bagaimana kami bershalawat atasmu jika kami dalam shalat).

    Hadits 4
    Sabda Rasulullah saw “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR.Imam Bukhari dan Muslim) dan dari Wail bin Hujr ra “aku shalat bersama Rasul saw dan beliau salam awal sebelah kanan (Assalamu’alaikum warohmatullahhi wabarokatu) dan salam akhir sebelah kiri (Assalamu’alaikum warohmatullahhi wabarokatu)”.( HR. Abu daut dengan sanad sahih )

    Rukun shalat ada 17

    1. Niat,
    sebagaimana hadits 1 diatas “Apabila engkau berdiri untuk melakukan shalat,,,” dan Hadits Rasul saw “sesungguhnya amal itu dengan niat”

    2. Menghadap kiblat dan berdiri dalam shalat Fardhu,
    dari susunan hadist 1 diatas bahwa hendaknya menghadap kiblat sebelum bertakbir (syarah dari Imam alwi abbas al Maliki kitab Ibanatul ahkam)

    3. Bertakbir,
    yaitu membuka shalat dalam takbirratul ikhram (pendapat terbanyak dari Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki bahwa takbiratul ikhram wajib dengan lafdz ‘Allahhu Akbar’)

    4. Membaca Alfatihah,
    para ulama sepakat Imam Syafi’I, Imam Hambali dan Imam Maliki wajibnya membaca Alfatihah disetiap rakaatnya. sebagaimana Hadits Rasulullah saw : “ Tidak sempurna shalat seseorang bila tidak membaca biummil Qur’an (Al Fatihah)” (HR. Bukhari dan Muslim)

    5. Rukuk,
    diriwayatkan oleh sahabat Rasulullah saw Ubbayd assaa’idi ra berkata : “bahwasannya melihat Rasulullah saw jika bertakbir kedua tangannya sejajar dengan bahunya, jika berukuk kedua tangannnya memegang kedua lututnya, sampai dengan akhir…..” ( HR. Imam Bukhari dan Muslim)

    6. Tuma’ninah dalam berrukuk,
    sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudian engkau berrukuk hingga tuma’ninah dalam berukuk…”

    7. I’tidal,
    sebagaimana hadits 1 diatas “… kemudian angkatlah kepalamu sampai engkau meluruskan badanmu berdiri (I’tidal)…”

    8. Tuma’ninah dalam I’tidal,
    sebagaimana hadits 1 diatas “…Hingga engkau bertuma’ninah dalam berdirimu…”

    9. Sujud pertama dan Sujud kedua,
    sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujut hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujut…” dan Hadits Rasulullah saw : “aku diperintah untuk bersujud dengan 7 anggota tubuh (atas dahi, kedua tangan, kedua lutut dan jari-jari kaki)” ( HR. Mutafaqul’alayh). Sabda Rasul saw : “Bahwa engkau sujud maka taruhlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu” (HR. Muslim)

    10. Tuma’ninah dalam sujud pertama dan tuma’ninah dalam sujud kedua, sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin bersujud hingga engkau bertuma’ninah dalam bersujud…”

    11. Duduk diantara dua sujud,
    sebagaimana hadits 1 diatas “…kemudin angkat kepalamu (duduk antara 2 sujud) …”

    12. Tuma’ninah diantara dua sujud,
    sebagaimana hadits 1 diatas “…hingga engkau bertuma’ninah dalam dudukmu…”

    13. Tasyahud akhir,
    Riwayat Muslim dari Ibn Abbas berkata Rasul saw mengajari kami tasyahud “Attahiyatul mubaarakatus shalawatutthoybatulillah…” sampai dengan akhir.

    14. Duduk diTasyahud akhir,
    sebagaimana hadits 2 diatas “ ketika duduk untuk berTasyahud…”

    15. Bershalawat kepada Rasul saw,
    sebagaimana hadits 3 diatas “ Kita diperintah untuk bershalat.. maka bagaimana kami bershalawat keatasmu…”. Imam Syafi’I berpendapat bahwa beshalawat atas Rasul saw dan keluarganya dalam shalat adalah Wajib bagi kita, sebagaimana hadits 3 diatas.

    16. Salam,
    sebagaimana hadits 4 diatas “sesungguhnya Rasulullah saw menutup shalatnya dengan salam” (HR. Imam Bukhari dan Muslim). Sebagaimana hadits 4 maka para Imam beritifak bahwa salam awal wajib bagi seorang imam atau ma’mum atau sendiri dan salam kedua sunah, dan paling sedikitnya salam (Assalamu’alaikum) dikarnakan penduduk madinah melakukannya. (Kitab Ibbanatul Ahkam: Imam Alwi bin Abbas al maliki)

    17. Tertib,
    Sebagaimana urutan rukun – rukun hadits diatas.

    www.majelisrasulullah.org

  • Kapan dan Dimana Kita Berdoa

    Berdoa, seperti halnya dzikir, adalah suatu ibadah yang tidak dibatasi tempat dan waktunya. Kita boleh saja berdo’a di tempat tidur, ketika akan masuk ke kamar kecil, di jalan, di sekolah, di kantor, di Masjid, di pagi hari, di sore hari, di siang hari, di malam hari, ketika dalam kesulitan, ketika dalam kelapangan, di mana pun dan kapan pun. Anda boleh berdoa setiap selesai mendirikan shalat. Anda juga boleh berdoa pada tanggal berapa pun, pada hari apa pun.

    Maka sungguh keliru anggapan sebagian orang dari manhaj-manhaj sesat dan bathil. Di antara mereka ada yang melarang kita untuk berdo’a di akhir tahun dan di awal tahun. Sebagian lagi melarang kita untuk berdia pada pertengahan bulan Sya’ban. Bahkan ada juga yang melarang kita dari membaca ayat-ayat Al-Qur`an di malam Jum’at.

    Adakah mereka itu Tuhan pembuat syariat sehingga berhaq untuk melarang orang dari berdoa pada dua waktu tersebut? Adakah mereka itu Syari’ selain Allah sehingga berhaq melarang orang dari berdoa meminta kebaikan kepada Allah? Siapa mereka ini hingga berani melarang apa yang dibolehkan Allah? Siapa mereka hingga berani melarang orang yang ingin berdoa kepada Allah? Bukankah Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dan tidak melarang kita mengenai waktu dan tempatnya? Bahkan kita boleh berdoa dalam diri kita sewaktu kita berada dalam kamar kecil, tanpa menggerakkan lisan dan tanpa mengeluarkan suara. Betapa lemah aqal mereka, hingga tanpa sadar mereka telah menyekutukan Allah dengan ustadz-ustadz gadungan itu.

    Maka berdoalah Anda, kapan pun dan di mana pun Anda berada! Doa Anda itu menunjukkan bahwa Anda ingat akan eksistensi Allah Yang Mahamendengar dan Memperhatikan Anda. Jangan hiraukan kata-kata sesat yang dilontarkan oleh para pemuda yang lemah aqal itu! Semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuni surga-Nya yang tertinggi bersama Muhammad Rasulullah SAAW. Aamiin.

  • PENGARUH DZIKIR PADA KEHIDUPAN

    Majelis-majelis dzikir mempunyai pengaruh yang besar di dalam kehidupan manusia, pengaruh terhadap hati manusia, pengaruh terhadap bathin manusia. Majelis-majelis dzikir berpengaruh terhadap seseorang dalam urusan lahir dan bathin, dalam urusan dunia dan akhirat. Walau pun seseorang sibuk dalam memenuhi kebutuhan duniawinya, akan tetapi perlu diketahui bahwasanya dzikir kepada Allah SWT merupakan salah satu usaha di dalam memperbaiki kehidupan kita, baik yang lahir maupun yang bathin.

    Seperti kita ketahui bahwa kita butuh kekayaan, makanan, pakaian, dan tempat tinggal; ruh kita pun membutuhkan kekayaan, makanan, pakaian dan tempat tinggal. Apabila seseorang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan dari ruh dan bathinnya, maka kebutuhan lahirnya pun akan menjadi baik pula. Apabila dia menelantarkan kebutuhan bathinnya, maka hal itu akan berpengaruh pula kepada kebutuhan lahirnya. Sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAAW tentang pengaruh dari dzikir, bahwa sesungguhnya seseorang yang duduk di tempat sholatnya setelah shalat shubuh dan berdzikir kepada Allah SWT, hal itu lebih mempercepat dalam meraih rizqi dari pada orang yang pagi-pagi buta telah pergi mencari rizqi.

    Kemudian, orang-orang yang memperhatikan makanan hatinya berupa dzikir kepada Allah SWT, maka akan mempengaruhi mereka dalam memilih makanan bagi lahiriyah mereka. Mereka akan memilih makanan yang halal, menjauhi yang haram, menjauhi yang syubhat. Barangsiapa yang hanya memakan makanan yang halal, maka anggota tubuhnya pun akan mudah untuk taat kepada Allah SWT. Begitu juga apabila seseorang memakan makanan yang haram, maka anggota tubuhnya pun akan berbuat ma’siat kepada Allah SWT, melanggar perintah-Nya, dan mengerjakan apa yang dilarang-Nya.

    Hendakya seseorang lebih mengutamakan pakaian bathinnya, menghiasi hatinya dengan hal-hal yang diridhoi oleh Allah SWT, dan menghiasi hatinya dengan sifat-sifat mulya. Karena Allah telah membagi-bagikan pakaian kepada manusia, dan sebaik-baik pakaian yang Allah berikan bagi seseorang adalah taqwa. Sungguh, pakaian-pakaian lahiriyah akan hancur. Namun pakaian taqwa akan tetap abadi. Sehingga orang-orang bertaqwa akan menghadap Allah SWT dengan pakaian ini, dan ia tidak telanjang di hadapan Allah SWT, dan tidak pula telanjang di hadapan manusia di Padang Mahsyar kelak. Dan pakaian seperti ini Allah bagi-bagikan di majelis-majelis ilmu, di majelis-majelis dzikir.

    (Dikutip dari ceramah Guru Mulya Al-Habib Umar bin Muhammad Al-Hafizh)

  • Membandingkan, Bersyukur, dan Berbagi

    Rasa kesyukuran yang tulus akan muncul jika Anda merasa bahagia. Kebahagiaan akan Anda rasakan jika Anda merasa lebih beruntung. Anda akan merasa lebih beruntung jika Anda membandingkan keadaan Anda dengan orang-orang yang menurut Anda kurang beruntung. (lebih…)

  • Ni’mat Islam

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran: 103) (lebih…)

  • Ni’mat Islam

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran: 103)

    Sebagian ummat Islam kurang mensyukuri ni’mat Islam. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran mereka akan besarnya ni’mat Islam. Sebagaimana ni’mat sehat hanya disadari oleh mereka yang sakit, ni’mat Islam juga lebih dirasakan oleh mereka yang sempat merasakan kehidupan sebagai non-Muslim.

    Para mualaf memaknai ke-Islaman mereka sebagai terselamatkannya mereka dari adzab yang abadi. Maka, betapa bersyukurnya mereka ketika memeluk Islam. Mereka seperti orang yang berhasil selamat dari suatu kecelakaan lalu-lintas yang merenggut nyawa semua penumpang. Atau seperti orang yang batal naik suatu pesawat, dan beberapa jam kemudian dia mendengar bahwa pesawat yang hampir ia tumpangi itu meledak, dan tidak ada satu pun penumpangnya yang hidup.

    Rasa syukur seperti inilah yang dirasakan Umar bin Khoththob. Ketika ia menyatakan ke-Islamannya kepada keluarganya, Abdullah bin Umar bin Khoththob berkata bahwa dirinya telah memeluk Islam sejak satu tahun yang lalu. Maka Umar bin Khoththob pun menjadi marah dan berkata, “Mengapa engkau menyembunyikan ke-Islamanmu dan menelantarkan ayahmu? Apakah engkau tega sekiranya aku mati dalam kekafiran? Apakah engkau meninggalkan ayahmu, wahai Ibnu Umar?”

    Namun adakah kepedulian dan kesyukuran atas Islam yang seperti ini dalam diri ummat Islam di zaman ini? Sikap kita terhadap Islam seperti sikap orang yang jarang sakit terhadap ni’mat sehat. Mereka jarang sekali bersyukur dan tidak peduli akan tindakan mereka yang mungkin bisa merusak kesehatan. Sebagian ummat Islam kurang peduli dengan ajaran Islam dan apa-apa yang dapat merusak ke-Islamannya.

    Akhil karim, mari kita syukuri ni’mat Islam dengan berda’wah! Sebarkanlah ajaran Islam ini kepada mereka yang belum atau kurang mengenal Islam, atau pun kurang peduli dengan ajaran Islam! Jika Anda pengelola situs, silahkan salin artikel kami dalam situs Anda, dan masukkan situs kami dalam daftar blogroll/link dalam situs Anda. Jika Anda menggunakan internet dari warung internet, settinglah majelisrasulullah.org atau hotarticle.org sebagai homepage Anda saat membuka IE atau firefox. Jika Anda bisa menyisihkan Rp. 5.000,- sebulan, perbanyaklah satu artikel untuk dibagikan di lingkungan RT Anda. Sungguh, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan itulah salah satu ciri orang bertaqwa.

    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

  • Masyarakat Muslim Sejati

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 208) (lebih…)