Blog

  • Zorro and The New World Order

    The Legend of Zorro (2005) was an interesting film. I’m shocked when I see Orbis Unum symbol. Orbis Unum? E Pluribus Unum? A serpent circling the globe? I think that was a masonic symbol. It looks like a masonic serpent symbolic.

    Ular Symbolic

    As McGivens (Nick Chinlund) and his men travel to Maderas Cove to pick up the shipment, they pause for water near where Father Quintero is conducting a lesson with the schoolchildren. Joaquin (Adrian Alonso) crawls under the wagon and journeys with McGivens to their destination. Soon after they arrive, Joaquin is caught, but fortunately Zorro (Antonio Banderas) arrives and rescues him. Joaquin shows Zorro a bar of soap that he swiped from the shipment. Zorro is shocked to see that the shipment was just a load of soap. What can McGivens and Armand do with soap?

    The bar of soap is marked with the name Orbis Unum and a symbol of a serpent circling the globe. Fray Felipe learns that Orbis Unum is Latin for One World, which is the name of the Knights of Aragon, an ancient religious sect that formed after the Crusades. A prophecy from 1000 years ago reads “There shall be a land in the west of great power that shall rise to threaten the serpent. Only by turning the power onto itself shall the serpent survive.” Fray Felipe and Alejandro conclude that the prophecy means the United States and that Orbis Unum is going to destroy the United States. But… with soap?

    It isn’t a common soap, but an explosive soap. I think, Orbis Unum is E Pluribus Unum which mean “Out of Many, One”. It was a Masonic motto that adopted by USA. Masonics want to rule the world. They will not destroy USA in real life, I think. Through USA, Masonics rule the world. Through USA, they build Novus Ordo Seclorum (New World Order).

    Knights of Aragon…. I think, they are Knights Templar that formed after the Crusades. Aragon is an autonomous community of Spain. Located in northeastern Spain, the region comprises three provinces from north to south: Huesca, Zaragoza, and Teruel. Its capital is Zaragoza (also called Saragossa in English). There is Masonic temple in Aragon and Catalonia.

    So, The Legend of Zorro is one of films that campaigns Masonic Symbols. Although the scenario is rather stange (destroy USA?), but Masonics always have many plan to rule the world and make it into One World. But they will fail as long as Muslims are still fighting against them.

    (hotarticle.org)

  • Zorro dan New World Order

    The Legend of Zorro (2005) merupakan film yang menarik. Saya terkejut ketika saya melihat simbol Orbis Unum. Orbis Unum? E Pluribus Unum? Ular yang membelit globe? Saya rasa itu simbol Masonic. Lambang itu terlihat seperti lambang ular naga simbolis milik Freemason.

    Ular Symbolic

    Ketika McGivens (Nick Chinlund) dan orang-orangnya pergi ke Maderas Cove untuk mengirim barang, mereka berhenti sebentar untuk meminum air di dekat tempat Bapa Quintero menyelenggarakan pelajaran dengan murid-muridnya. Joaquin (Adrian Alonso) menyelinap di bawah kereta kuda dan melakukan perjalanan dengan McGivens ke tujuan mereka. Segera setelah mereka tiba, Joaquin tertangkap, tetapi Zorro (Antonio Banderas) datang dan menyelamatkan dia. Joaquin menunjukkan sabun yang ia curi dari McGivens kepada Zorro. Zorro terkejut melihat bahwa kiriman itu hanya bermuatan sabun. Apa yang dapat McGivens dan Armand lakukan dengan sabun?

    Sabun itu ditandai dengan nama Orbis Unum dan simbol ular membelit globe. Fray Felipe mempelajari bahwa Orbis Unum adalah bahasa Latin untuk Satu Dunia, yang mana merupakan sebutan untuk Knights of Aragon, sebuah sekte agama kuno yang dibentuk setelah Perang Salib. Nubuatan dari 1000 tahun lalu dibacanya, “Akan ada sebuah negeri di sebelah barat yang besar yang akan bangkit mengancam ular. Hanya dengan memutar kekuatan tersebut kepada dirinya sendiri ular itu akan bertahan.” Fray Felipe dan Alejandro (Antonio Banderas) menyimpulkan bahwa nubuatan itu berarti bahwa negeri di barat adalah Amerika Serikat, dan Orbis Unum akan menghancurkan Amerika Serikat. Tetapi… dengan sabun?

    Ini bukan sabun biasa, tetapi sabun yang dapat meledak. Saya rasa, Orbis Unum itu maksudnya E Pluribus Unum yang berarti “Dari yang Banyak, Satu”. Itu merupakan moto Masonic yang diadopsi oleh Amerika Serikat. Para Masonic ingin menguasai dunia. Mereka tidak akan menghancurkan AS dalam kehidupan nyata, saya rasa. Melalui Amerika Serikat, para Masonic menguasai dunia. Melalui Amerika Serikat, mereka membangun Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru).

    Knights of Aragon …. saya rasa, mereka adalah Knights Templar yang dibentuk setelah Perang Salib. Aragon adalah sebuah komunitas otonomi di Spanyol. Terletak di timur laut Spanyol, yang terdiri dari tiga wilayah provinsi dari utara ke selatan: Huesca, Zaragoza, dan Teruel. Ibukotanya adalah Zaragoza (juga disebut Saragossa dalam bahasa Inggris). Kuil Masonic juga ada di Aragon dan Catalonia.

    Jadi, The Legend of Zorro adalah salah satu film yang mengkampanyekan simbol-simbol Masonic. Meskipun skenarionya agak aneh (menghancurkan USA?), tetapi para Masonic memang selalu memiliki banyak rencana untuk memerintah dunia dan membuatnya menjadi Satu Dunia. Tetapi mereka akan gagal selama Muslim masih berjuang menghadapi mereka.

    (hotarticle.org)

  • Sistem Ketuhanan Melawan Sistem Atheisme

    Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa… Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. [QS. Al-Baqoroh: 275, 276, 278]

    Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. [Keluaran 22:25]

    Bagi Kristiani, sebelum membaca tulisan ini, padamkan dulu api permusahan di hati Anda terhadap Muslim. Bacalah tulisan ini dengan hati yang tenang dan fikiran yang positif tanpa kecurigaan ataupun fikiran negatif.

    Kita semua tentu ingin menyelamatkan perekonomian Indonesia agar tak ikut terseret Amerika dan Eropa yang tengah runtuh akibat sistem ekonomi Iblis. Sistem perekonomian, bagaimanapun juga lahir dari ideologi tertentu. Sistem ekonomi sosialis lahir dari sosialisme, sedangkan sistem ekonomi kapitalis lahir dari ideologi kapitalisme. Kedua sistem tersebut berpijak kepada landasan yang sama, yaitu atheisme.

    Kaum sekular Amerika menciptakan kapitalisme, sedangkan kaum sekular Eropa menciptakan sosialisme. Keduanya menganggap bahwa Tuhan hanya ada di rumah ibadah. Tuhan tak perlu mengatur urusan manusia di luar rumah ibadah. Sehingga mereka menciptakan sistem tanpa melihat kepada hukum Tuhan. Mereka menganut sistem Ketuhanan di rumah ibadah. Namun di luar rumah ibadah, mereka adalah atheis. Maka tak heran jika sistem yang mereka buat itu bertentangan dengan hukum Tuhan yang terus-menerus menimbulkan ketidak-adilan. Dan akhirnya menyebabkan petaka bagi mereka yang menganut sistem tersebut.

    Tuhan menginginkan kebaikan bagi manusia, dan Dia membuatkan sistem yang menyelamatkan bagi manusia, bukan sistem yang merusak. Tak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan sistem perekonomian sekuler buatan Novus Ordo Seclorum (New World Order).

    Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [QS. Ar-Ruum: 41]

    Kita muncul ke permukaan sebagai apa yang disebut dengan penyelamat buruh dari penekanan ini, ketika kita mengusulkan kepadanya untuk mengikuti berbagai barisan perjuangan kita, seperti para sosialis, anarkis, dan komunis, yang selalu kita beri dukungan sesuai dengan apa yang disebut dengan peraturan persaudaraan, solidaritas semua manusia, dari Mason Sosial kita. Para aristokrat yang senang dengan kerja para buruh, lebih tertarik untuk melihat apakah para buruh ini mendapatkan pangan yang cukup, sehat, dan kuat. Sedangkan kita senang melihat kebalikannya, yaitu penyusutan, pembasmian orang-orang ghoyim. Kekuasaan kita ada pada kekurangan makanan dan kelemahan fisik yang kronis dari para buruh tersebut karena semua itu menandakan ia telah menjadi budak dari keinginan kita, dan ia tidak akan mendapati pada dirinya sendiri baik kekuatan atau energi yang dapat digunakan untuk melawan keinginan kita. Kelaparan menciptakan hak bagi modal/kapital untuk mengatur para buruh secara lebih pasti dibandingkan dengan hak yang diberikan kepada para aristokrat melalui kewenangan sah para raja. [Protocol of Zion 3:7]

    Semua sistem sekuler ini adalah hasil pemikiran agen-agen Freemason yang ingin merusak seluruh sendi kehidupan manusia. Setelah itu semua terjadi, para Masonic ini ingin muncul sebagai dewa penyelamat dan memalingkan manusia dari Tuhan kepada Dajjal. Namun hal itu tak akan terjadi selama kita masih mempertahankan hukum Tuhan yang ingin dihapus oleh agen Masonic yang menganggap hukum Tuhan sebagai hukum kutuk. Padahal hukum Tuhan adalah hukum keselamatan yang akan tetap lestari hingga ‘saat’ itu terjadi. Tak satu titik pun hukum Tuhan yang menyelamatkan ini dihapus hingga yaumus sa’ah.

    Nabi Muhammad diutus ketika hukum Tuhan telah hampir punah. Pada masa seperti itu, Tuhan mengirim Tuan kita dengan membawa hukum yang menyala-nyala. Hukum yang dibawanya tetap lestari hingga sekarang dan akan tetap lestari hingga ‘saat’ yang telah ditentukan.

    Berkatalah ia: “TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.” [Ulangan 33:2]

    Tuhan telah mengirim Tuan kita untuk membimbing kita dalam menghadapi serangan para pembangkang Tuhan sejak dahulu kala. Untuk menghadapi keturunan para pembunuh nabi. Untuk menghadapi para serigala.

    Masyarakat ghoyim (non-Yahudi) adalah kawanan domba dan kita adalah serigala-serigala mereka [Protocol of Zion 11:4]

    Sekali lagi, tak ada alasan untuk mempertahankan sistem perekonomian dan hukum sekuler. Sudah saatnya kita membangun negeri kita dengan sistem dari Tuhan yang dibawa oleh Tuan kita. Jangan mau diperalat oleh Zionis untuk mempertahankan sistem riba (usury). Tinggalkanlah sistem Iblis dan beralihlah kepada hukum Tuhan. Kesampingkanlah dahulu perbedaan aqidah dan doktrin ketuhanan di antara kita. Saatnya kita bahu-membahu membela apa yang ada dalam kitabmu dan kitabku, yaitu kita menggunakan sistem yang sesuai dengan hukum yang sama-sama ada dalam kitabmu dan kitabku, dan tidak lagi menggunakan sistem riba dan segala sistem turunan dari sistem Iblis yang sama-sama dilarang dalam kitabmu dan kitabku.

    (hotarticle.org)

  • Islamic Banking Escaped Crisis

    JAKARTA – INDONESIAN Vice President Jusuf Kalla on Sunday said Islamic banking had escaped the global economic crisis relatively unscathed as he took a swipe at the Western financial system.

    ‘The latest global crisis has taught us that an economic (system) which is based on unreal transactions will be easily ruined,’ he told a pre-opening conference of the fifth world Islamic economy forum.

    He said the Islamic banking and finance system had proved its strength by escaping relatively untouched by the global financial crisis.

    ‘We all know that Muslim countries with an Islamic economic system during this current (crisis) situation are relatively unaffected by serious problems,’ he added.

    Islamic banking, a booming 1.0 trillion dollar global industry that prohibits speculation and high levels of debt, has been relatively unscathed by the credit crunch.

    The rules of the sector – which incorporate principles of sharia or Islamic law – prohibit many of the risky activities which triggered the crisis that is felling economies around the world.

    Islamic law prohibits the payment and collection of interest, which is seen as a form of gambling, so highly complex instruments such as derivatives are banned.

    Transactions must be backed by real assets – not repackaged subprime, or high-risk, mortgages – and because risk is shared between the bank and the depositor there is an incentive for the institutions to ensure the deal is sound.

    The annual world Islamic economy forum will be officially opened on Monday by Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono and Malaysian Prime Minister Abdullah Ahmad Badawi.

    Organising committee chief Tanri Abeng said thousands of delegates from 30 countries would attend the four-day meetings with the main focus on food, energy and financial security amid the global economic crisis.

    (Agence France-Presse)

  • Financial Crisis Sparks Interest in Islamic Banking

    Those who devour usury will not stand except as stands one whom the Evil One by his touch hath driven to madness. That is because they say: “Trade is like usury,” but Allah hath permitted trade and forbidden usury. Those who after receiving direction from their Lord, desist, shall be pardoned for the past; their case is for Allah (to judge); but those who repeat (the offence) are Companions of the Fire; they will abide therein (forever). Allah will deprive usury of all blessing, but will give increase for deeds of charity; for He loveth not creatures ungrateful and wicked… O ye who believe! Fear Allah, and give up what remains of your demand for usury, if ye are indeed believers. [QS. Al-Baqoroh: 275, 276, 278]

    If thou lend money to any of my people that is poor by thee, thou shalt not be to him as an usurer, neither shalt thou lay upon him usury. [Exodus 22:25]

    The Abrahamic faiths prohibit collecting interest on money loaned. Interest is the excess amount of money paid (or paid in kind) on the loaned principal. This is considered exploitation. Some Islamic jurists, however, make a difference between “Interest” and “Riba” (usury).

    The main source of profit for the banks is from the interest they charge and from other ancillary services. The bank relies on their client to pay back the borrowed money with interest. As a precautionary measure the bank obtains collateral against the loan. The primary interest of the bank is to make a profit from the interest and not from reclaiming collateral.

    The borrower believes that by leveraging the commodity/collateral he will make more money than interest paid to the bank. For example: If you buy a $100,000 house with a 20% downpayment, and sell the house after 2 years for $110,000, your profit is 50%. That is, on your initial downpayment of $20,000. The interest you paid on the borrowed money was the rent you would have paid if you had lived elsewhere. The transaction occurs on mutual confidence. The bank being confident of his client’s ability to make interest and principal payments on regular basis. The client being confident of making more money on his product against which he has borrowed money.

    Note, the payment of interest from one party to another is unrelated to the value of the house. You may put down 10% (instead of 20%) in order to make more profit and the bank will be willing to lend you more in the hope of receiving more interest. These type of transactions ultimately create fear, greed and corruption.

    In Islamic financing, the purchaser of the house and the “lender” both become partners in the equity of the house in proportions to their contributions say, 20% and 80% as in the above example. Here the “Islamic banker” either rents him the house till the price is paid off or sells him the house outright with an agreed-upon long term payment contract.

    Can you see the difference in both systems? In the present banking system one party gains at the expense of the other withoutdue regard to the price paid for the home. In Islamic finance, the arrangement is based on equity participation, called murabaha. The focus in this type of financing is the individual, the product and the society. Islam has no objection in creating wealth, but must be based on partnership and fairness. The Islamic Bank providing the equity to finance the house will share in the loss as well as in the profit as earlier agreed upon when the product is sold. The whole society ultimately benefits from such transactions.

    The major premise of the present “free market” banking system is to loan money on interest to any individual able to repay principal and interest. This is irrespective of whether he makes profit or loss, and irrespective of whether society is a beneficiary or not. Profit is the ultimate motive and the individual is the focus rather than goods or the society. The driving force being profit, the loaner and loaned has to create a mutual confidence, and once it takes root the fear, greed and corruption takes off–resulting in the current debacle of major institutions like Merrill Lynch, Lehman, Fannie Mae, Freddie Mac, Bear Stearns, WaMu, AIG……and others yet to follow. It seems the trend will continue in to next year indicates we as a nation are in serious financial trouble.

    In the case of businesses that require capital or that need venture capital, the Islamic system providing finances is called mudarabha. Here the bank or the individual provides the financing and the person receiving the fund provides his entrepreneurial skills. Profit or loss from the business is shared on an agreed basis.

    Arrangements regarding leasing cars are called ijara. This system is more or less same as the Western banking system and with an option to buy the leased car is called Ijara Wa Iqtiana. The recent development of “Bonds” transaction, called suku–based on equity participation–is gaining popularity in some Middle East countries. As we can see the process involved requires socially responsible investing in worthy causes and especially that would benefit the society.

    The failures of these major financial institutions have raised a big question of overhauling of the entire system. The present question is “what is next” rather than “Who is next?”

    “It’s the beginning of the end of the era of infatuation with the free market,” said Steve Fraser, author of Wall Street: America’s Dream Palace, and a historian. “It’s the end of the era where Wall Street carries high degrees of power and prestige. And it’s the end of the era of conspicuous displays of wealth. We are entering a new chapter in our history.”

    Yet the fears are much more potent. The bailout of $700 billion by the Congress means personal-debt-ridden Americans will further struggle under the burden of this added debt. They will be squeezed more. With personal debt compounding, it will lead to less consumer spending and even lower growth resulting in to perhaps more prolonged and deeper recession.

    The decline in confidence in the dollar may lead to a run on the dollar and diversification out of the dollar. This will further jeopardize the already-devastated US economy; and even the world economy.

    What is the alternative? Islamic finances started coming on its own in 1970’s and it has established itself as a distinct discipline in the USA, Europe, and other parts of the world. There are more than 200 Islamic financial institutions worldwide. Notable in USA are “LARIBA” and “GUIDANCE” that cater for residential homes.

    Many Western Banks and investment firms in USA, including Chase Manhattan, Goldman Sachs, Wellington Global Administrator, and ABC investment Services Co. have added Islamic finance divisions. The amount of wealth under Islamic finance sector, the halal banking system, is said to be over $500 billion–that is, roughly the size of Wells Fargo Bank, America’s fourth largest bank. And Hussain A. Hassan, of Deutsche Bank, predicts that Islamic finance will be the world’s fastest growing banking sector for years, based on what he calls a modest estimate of 20% annual increase in deposits.

    Frank Gaffney wrote an Op Ed in The Washington Times dated September 16, 2008, under the heading “ Wall Street, What Next?” He says, “Tragically, in the process of leaping out of the scalding subprime frying pan, Wall Street is heading directly in to a fire that promises, if anything, to be more devastating than the present disaster. Incredibly, it bears all the hallmarks of subprime with respect to a lack of transparency, a systematic failure to disclose and an utter absence of due diligence, good governance and accountability. The next “what” is called Sharia-Compliant Finance (CSF)”

    (REUTERS/Darren Staples)

  • Guntur Romli: Agama Itu Seperti Baju

    Pemikirannya tentang pluralisme telah ada sejak kecil. Begitu pula saat nyantri di Pondok Pesantren Darul Aitam, Curah Kalak, Jangkar, Situbondo milik ayahnya. Kemudian, saat tercatat sebagai mahasiswa Departemen Akidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas al-Azhar Kairo.

    Universitas itu, di mata Guntur, sangat ortodoks namun mengajarkan juga perbandingan agama. “Bagaimana kita mengadili Kitab Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan lain-lain. Tapi, saya sudah punya pengalaman dengan cekokan soal ini. Dan cekokan yang masuk ke otak saya belum tentu semua benar. Sejak saat itu, saya mulai berhati-hati. Saya terus mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan,” kata Guntur, Manajer Program Yayasan Jurnal Perempuan.

    Menurutnya, bicara soal pluralisme dan toleransi, sebenarnya hal itu sudah tertanam dalam dirinya saat masih dalam asuhan kedua orangtuanya. Ia mengemukakan, pengalamannya selama ini melewati tiga proses.

    Proses pertama adalah masa kecilnya. Ayah Guntur, KH Achmad Zaini Romli, adalah seorang kiai yang memiliki pesantren. Sedang ibunya, Hj. Sri Maria Romli memiliki kebebasan sendiri yakni tidak mengenakan jilbab.

    “Saya lahir dari sebuah keluarga yang sangat terbuka. Bertetangga dengan keluarga yang beragama Kristen,” kenang Guntur.

    Sebuah kenangan masih membekas. Tetangga yang beragama Kristen kerap mengundang keluarganya untuk santap malam di rumahnya. Tapi, sebelum santap malam, tetangganya ini mengantar ayam atau kambing ke rumah Guntur untuk disembelih ayahnya.

    “Jadi, ini sepertinya menghilangkan kesan adanya makanan haram dalam jamuan itu. Begitu juga sebaliknya. Itu saya sadar. Ternyata pengalaman itu sangat menarik,” ujarnya.

    Ketika masuk di sekolah umum, ia bergaul dengan teman-teman non–Muslim. Saat itu, seorang teman penganut Kristiani membawa buku-buku komik dari Perjanjian Lama.

    Saat itu selalu membacanya sekadar sebagai pengetahuan. Saya akhirnya mulai mengenal nama Nabi Daud, Sulaiman, dan lain sebagainya. Nah, setelah ia mendengar cerita dari guru ngaji, pertanyaan-pertanyaan terus berkelebat.

    Artinya, ia mulai melihat perbedaan-perbedaan. Tapi, saat itu belum muncul dalam benaknya untuk tidak membaca komik-komik itu. “Bagi saya, dasarnya hanya buku cerita sehingga perlu dibaca. Saya juga tak lalu menghakimi bahwa yang satu salah dan yang lain benar. Yang ada dalam pikiran saya adalah menikmati bacaan itu,” lanjut Guntur.

    Begitu pula saat itu ia diajarkan sapaan-sapaan umum seperti Selamat Pagi, dan lain sebagainya. Toleransi antarsesama juga kian terasa. Saat Lebaran, Natal, dan Paskah misalnya.

    Kalau ada guru yang beragama Kristen, murid-murid menyampaikan ucapan Selamat Natal. Begitu juga ucapan Lebaran. Ia menilai, sekolah umum merupakan kondisi yang ideal, yang bhinneka dan semua agama bisa masuk.

    “Tak tak ada fanatisme dalam keluarga. Ibu saya juga tidak pakai jilbab. Jadi, kan aneh kalau bapa saya kiai tapi istrinya tidak pakai jilbab. Tapi, bapa saya ingin saya maju. Kemudian itu yang menjadi salah satu faktor saya dimasukkan di pesantren modern,” ujar Guntur.

    Pada proses kedua, ia mengaku mulai diajarkan semacam doktrin. Mana doktrin Islam yang benar dan mana doktrin Islam yang salah. Kemudian, juga mulai bicara doktrin perbandingan agama.

    Proses ketiga terjadi pada awal 1997. Saat itu, ia menuju Malang, Jawa Timur. Ia bermaksud menghadiri pelatihan para ustadz se–Jawa Timur. Saat itu, hadir pula Romo Manguwijaya, Pr dan KH Abdurrahman Wahid. Kedua tokoh itu menjadi pembicara. Di situlah pluralisme Guntur mulai menguat dan jelas terbentuk.

    Saat studi di Universitas al-Alzhar, Kairo, ia intens mencari informasi-informasi di luar sebagai perbandingan. Misalnya, membaca buku-buku karya pemikir-pemikir Islam progresif seperti Abu Zed, dan lain-lain. Padahal, sejumlah buku para pemikir Islam progresif itu dilarang di al-Alzhar. Guntur juga berkenalan dengan para ulama Islam, Kristen, dan Yahudi. Misalnya, Mgr Youhanna Qaltah, seorang Uskup Agung di Kairo dan Dr Millad Hanna, seorang penganut Koptik Mesir. Buku terkenal Millad Menyongsong Yang Lain, Membela Pluralisme ia terjemahkan dan diterbitkan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL).

    Saat berdiskusi dengan Uskup Qaltah, Guntur menanyakan pandangan tokoh Katolik yang satu ini. Di hadapan filsuf yang belajar Islamic Studies ini, Guntur tak sungkan-sungkan menanyakan pandangan beliau tentang isu Kristenisasi. Sang Uskup juga menyampaikan, ada juga isu Islamisasi.

    “Saya bilang, agama itu seperti baju yang kita kenakan sesuai selera. Kadang-kadang kita hanya mementingkan baju. Pertemuan itu, membuat saya semakin tertarik dengan tema pluralisme. Saya mulai baca buku-buku lain yang lebih arif untuk melihat keberagaman agama. Bagaimana prulaitas itu dipahami oleh karena ada persoalan politis dan benturan kepentingan,” jelas Guntur.

    Di The Jakarta Post edisi 2 November 2008, Guntur berkata, “I am still optimistic about the future of religious pluralism in Indonesia despite the absence of legal and political certainty and even though the Muslim majority is keeping silent. My optimism comes from my faith that only religious pluralism will humanize human beings.” (Saya masih optimis tentang masa depan pluralisme agama di Indonesia walaupun tidak adanya kepastian hukum dan politik dan meskipun mayoritas Muslim tetap diam. Keoptimisan saya datang dari keyaqinan saya bahwa hanya pluralisme agama yang akan memanusiakan manusia.)

    Sekarang Anda tahu ‘kan siapa Mohammad Guntur Romli itu? Dia adalah seorang pluralis liberalis. Dia hanya ingin menjadikan manusia sebagai binatang. Bukankah hanya binatang yang dapat bebas dengan kebebasan seperti yang diajarkan kaum liberalis? Pluralisme dan liberalisme bukan untuk memanusiakan manusia, tetapi sebaliknya, dehumanisasi.

  • Guntur dan “Pembajakan” Sirah Nabi

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi
    imageimageEntah ingin mengulang terkenal sepeti Ulil Abshar atau tidak, tulisannya yang mengatakan Nabi Muhammad ”dibesarkan” Kristen ternyata hanya membajak.

    Tulisan Mohammad Guntur Romli, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) (Kompas, 1 September 2007) menarik untuk dicermati. Setelah membaca tulisannya yang lumayan panjang itu, penulis berkesimpulan bahwa Guntur ingin menyatakan bahwa Nabi Muhammad tumbuh dan ‘dibesarkan’ oleh milieu Kristen. Artinya, lingkungan dan kaum cerdik pandai Kristen punya andil yang cukup vital terhadap pribadi dan nubuwwah (kenabian) Nabi Muhammad SAW. Tentu saja tulisan tersebut ‘menarik’: perlu dicermati dan dikritisi.

    Maryam dan Yesus di Ka‘bah
    Mengutip Muhammad bin Abdillah al-Azraqi – dalam Akhbar Makkah – Guntur menyatakan bahwa terdapat “gambar dan arca Isa (Yesus) dan ibunya, Maryam (Maria) di Ka‘bah”. Benarkah demikian?

    Sejarawan Muslim terkemuka, Ibnu Katsir (w. 774 H) membeberkan – dengan panjang lebar – situasi dan kondisi ketika Fathu Makkah dalam bukunya yang terkenal, al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang melihat patung nabi Ibrahim as. dan Maryam (Maria) di Ka‘bah. Tapi, dia tidak menyebutkan adanya arca Isa (Yesus) di sana. Ketika melihat gambar keduanya, beliau berkata, “Dan mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah (bait) yang di dalamnya terdapat gambar Ibrahim. Lalu bagaimana pula seandainya gambar ini memanah – mengundi nasib dengan anak panah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 4: 698). Justru di sini Nabi SAW tidak setuju adanya patung kedua orang yang dimuliakan itu.

    Kenapa saya mengutip Ibnu Katsir? Karena beberapa buku yang dikutip oleh Guntur masih diragukan validitasnya, seperti al-Halabi dan Ibnu Jarir al-Thabari. Buku sirah Ibnu Hisyam (w. 218 H) yang paling otentik pun tidak ada menyebutkan patung Maryam dan Isa (Yesus). Yang disebutkan hanya gambar para malaikat, nabi Ibrahim as. dan yang lainnya. Nabi SAW akhirnya marah dan mengatakan, “Mereka telah menjadikan ‘syaikh’ kita mengundi nasib dengan anak panah. Ibrahim tidak ada kaitannya dengan pengundian nasib seperti itu.” Lalu beliau membaca ayat, “Ibrahim itu bukan seorang Yahudi tidak pula Kristen, melainkan orang yang hanif (lurus) dan menyerahkan diri (muslim), tidak pula seorang yang musyrik (Ali Imran: 67).” Lalu beliau menyuruh agar seluruh gambar-gambar itu diubah (dihapus). (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, tahqiq dan syarh: Musthafa al-Saqa, Ibrahim al-Abyari dan Abd al-Hafizh Syalabi, 1997, 4: 61).

    Pendapat Ibnu Hisyam ini mengandung dua kemungkinan. Pertama, kata “yang lainnya” (ghairuhum), menunjukkan adanya ‘lukisan/gambar’ Maryam dan Isa (Yesus), bukan “arca” Maryam dan Yesus seperti pendapat yang di‘comot’ Guntur. Kedua, Nabi SAW tidak membiarkan gambar-gambar tersebut (para malaikat, nabi Ibrahim dan yang lainnya) menghiasi dinding Ka‘bah). Maka, gambar-gambar itu pun dihilangkan. Jadi, tidak benar jika arca – pendapat yang dikutip Guntur – tersebut baru hancur pada masa Yazid bin Muawiyah. Hal ini dikuatkan dengan fakta historis, bahwa pada masa Yazid ibn Muawiyah tidak pernah dibicarakan masalah penghancuran gambar-gambar (arca) tersebut.

    Afirmasi Al-Qur’an
    Al-Qur’an (Qs. Al-Ma’idah: 82), menurut Guntur, mengakui kedekatan orang Kristen dengan Muhammad. Tentu kita tidak menyangkal fakta historis ini, tapi ini perlu dilihat secara jeli dan ‘jurdil’, tidak asal afirmasi. Benar sekali bahwa Waraqah bin Naufal, kakak sepupu Khadijah sebagai orang Kristen, namun Kristen yang masih mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Tapi, pengakuan Waraqah tentang kenabian Nabi SAW perlu dilihat dengan kritis. Setelah berbicara tentang sosok Jibril yang datang kepada Nabi SAW di Gua Hira’, Waraqah menyatakan: “Jika itu benar wahai Khadijah, berarti Muhammad adalah “Nabi umat ini”. Dan aku sudah tahu bahwa dia adalah seorang nabi yang ditunggu-tunggu (nabiyyun yuntazhar) oleh umat ini. Ini adalah masanya.” (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1988, 1: 228).

    Peristiwa “Gua Hira” itulah yang disebut oleh Waraqah sebagai “Namus” alias “rahasia” yang pernah turun kepada Musa. Lalu Waraqah berikrar: “Amboi, seandainya aku ketika itu – ketika Nabi SAW dimusuhi oleh kaumnya dan dikeluarkan dari Mekah – kuat (kokoh) dan hidup ketika kaummu mengeluarkanmu.” “Apakah mereka akan mengeluarkanku?” tanya Nabi SAW. “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali dimusuhi. Seandainya umurku sampai pada masamu itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat tenagaku.” (Wa in yudrikuni yaumuka, anshuruka nashran mu’azzaran). (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 3: 6).

    Di sini, Waraqah mengakui bahwa Nabi SAW adalah “nabi akhir zaman”: nabi umat ini. Jika Waraqah hidup pada masa risalah dan kenabian beliau, kemungkinan besar akan memeluk Islam.

    Juga tidak benar jika Nabi SAW berjalan-jalan di pasar tujuannya adalah menyimak dan mengamati seluruh kegiatan pasar yang berfungsi pula sebagai “festival kebudayaan” (Qs. Al-Furqan: 7). Ini adalah pemahaman salah Guntur terhadap ayat. Padahal maksud ayat di atas adalah penjelasan tentang sifat kemanusiaan (basyariyyah) Rasul SAW. Karena orang-orang kafir menolak bahwa “seorang nabi” tidak selayaknya melakukan hal-hal seperti manusia biasa: mencari rizki di pasar-pasar. Oleh karena itu – dalam ayat tersebut – orang-orang kafir menyangkal: “Wa qalu: ‘Ma lihadza al-rasuli ya’kulu al-tha‘ama wa yamsyi fi al-aswaq…” (Kenapa rasul ini makan makanan dan berjalan-jalan di pasar (mengais rizki) di pasar-pasar….?) Apa yang dilakukan Guntur adalah “pembajakan makna dan subtansi ayat”, dan ini sangat tidak ilmiah dan tidak sepatutnya terjadi.

    Guntur kemudian menyebutkan dua pusat kekristenan: Yaman dan Syam; yang menjadi tujuan niaga kafilah Quraisy. Yaman dikuasai oleh dinasti Habsyah (Etiopia) yang mengikuti aliran monopisit-koptik, sedangkan Syam diperintah oleh dinasti Ghassan yang mengikuti aliran monopisit-yakobis. Muhammad telah mengunjungi dua kawasan itu ketika masih remaja bersama kafilah pamannya, dan saat jadi buruh niaga Khadijah, demikian tulis Guntur. Yang ingin disampaikannya adalah: Muhammad telah terpengaruh oleh tradisi Kristen di kedua wilayah itu sejak dini.

    Sejatinya, ketika Rasul SAW pergi – ketika berumur 12 tahun – ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, pendeta Buhaira justru menerangkan tentang tanda-tanda kenabian Rasul SAW. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 1998, 2: 630).

    Buku-buku sirah tidak menyebutkan keterpengaruhan beliau dengan budaya (tradisi) Kristen yang ada di sana. Ibnu Hisyam sendiri menyebutkan Buhaira malah bertanya atas nama Lata dan ‘Uzza kepada Nabi SAW, kemudian beliau menolak kedua nama tuhan orang kafir Quraisy itu. Nabi sejak dini sudah membenci kedua sosok tuhan itu. Akhirnya Buhaira menuruti kata Nabi SAW dan mengganti nama Lata dan ‘Uzza dengan kata “Allah”. Setelah Nabi SAW menjawab pertanyaan Buhaira, terjadilah dialog yang cukup panjang antara dia dengan Abu Thalib: “Apa posisi anak ini bagimu?” “Dia anakku”, jawab sang paman. “Dia bukan anakmu, sepertinya bapak anak ini sudah tidak ada (wafat).” “Dia adalah anak saudaraku”, jelas Abu Thalib. “Apa yang terjadi atas ayahnya?” tanya Buhaira. Abu Thalib menjawab: “Ayahnya telah meninggal, ketika ibunya mengandung dia.” “Anda benar”, tegas Buhaira. “Bawa pulanglah anak saudaramu ke kampung halamannya. Hati-hatilah terhadap orang Yahudi. Sungguh, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yang aku ketahui, mereka akan bertindak tidak baik kepadanya. Akan terjadi peristiwa besar (sya’nun ‘azhim) kepada anak saudaramu ini. Cepatlah bawa dia pulang ke kampung halamannya”, perintah Buhaira. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 219-220). Jadi, tidak ada interaksi dan proses keterpengaruhan Nabi SAW oleh tradisi Kristen di Syam.

    Peristiwa kedua adalah ketika Nabi SAW membawa dagangan Khadijah bersama Maisarah. Sesampainya di sana, beliau kemudian bersandar di bawah sebatang pohon dekat gereja seorang pendeta – namanya Nestor [Nestorius]. Kemudian pendeta itu bertanya kepada Maisarah: “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon ini?” “Dia adalah seorang laki-laki dari suku Quraisy, keluarga pengurus ‘al-Haram’ (Ka‘bah)”, jawab Maisarah. “Tidak ada seorang pun yang datang berteduh di bawah pohon ini, kecuali dia (adalah) seorang nabi”, kata Nestorius. (Ibnu Hisyam, ibid: 1: 225). Di sini pun tidak ada proses interaksi yang bisa dijadikan bukti kuat bahwa Nabi SAW terpengaruh oleh tradisi Kristen. Sedangkan ke Yaman, Nabi SAW tidak pernah dikabarkan pergi ke sana. Apalagi dikatakan bahwa beliau terpengaruh oleh tradisi Kristen yang ada di sana.

    Beberapa Kritik
    Pendapat Khalil Abdul Karim, penulis Marxis Mesir, yang dikutip oleh Guntur perlu dicermati dan dikritisi. Pasalnya, dia mengklaim bahwa Khalil membeberkan pendapatnya berdasarkan sumber-sumber sejarah primer, seperti al-Thabari, sirah Ibnu Ishaq, al-Ya‘qubi dan yang lainnya.

    Khalil, kutip Guntur, dalam bukunya Fatrah al-Takwin fi Hayati al-Shadiq al-Amin (Periode Kreatif dalam Kehidupan Muhammad) menyatakan bahwa Khadijah adalah “arsitek” kenabian yang dibantu oleh “komunitas intelegensia Kristen”. Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Qatilah, seorang rahibah, serta saudara sepupu mereka, Utsman bin al-Huwairits, yang mengikuti aliran Kekristenan Bizantium (Melkitis) hingga diangkat menjadi kardinal.

    Khadijah memiliki dua budak Kristen: Nashih yang jauh-jauh hari meminta tuannya menikah dengan Muhammad, dan Maisarah yang bertugas mengamati Muhammad dalam perniagaan ke Syam. Selain dengan anggota keluarganya, Khadijah juga membangun korespondensi dengan beberapa pendeta: Adas di Thaif, Buhaira di Bushra, Syam, dan Sirgius di Mekkah. Itulah kutipan Guntur dari buku Khalil. Benarkah yang dikatakan oleh Khalil dan Guntur?!

    Di sini Guntur tidak kritis dan tidak selektif dalam ‘mencomot’ pendapat Khalil. Waraqah, Utsman ibn al-Huwairits, Abdullah ibn Jahsy, Zaid ibn Amru ibn Nufail ibn Abd al-‘Uzza memprotes kebiasaan orang-orang Quraisy yang setiap tahun merayakan hari raya mereka di depan salah satu patung (berhala) mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya: “Belajarlah, sungguh kaum kalian tidak memiliki pegangan apa-apa! Mereka telah menyalahai agama moyang mereka, Ibrahim! Apa itu batu yang mereka ukir; tidak dapat mendengar dan melihat, tidak mampu mendatangkan bahaya dan memberikan manfaat. Wahai kaum, carilah satu agama untuk kalian. Sungguh, kalian tidak memiliki satu pegangan. Lalu mereka berpencar di kota-kota besar untuk mencari agama yang lurus (al-hanifiyyah), agama Ibrahim. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1: 259-260). Fakta ini sangat menarik untuk diungkap.

    Waraqah sendiri menjadi kuat kedudukannya dalam agama Kristen; Abdullah ibn Jahsy tetap dalam ketidakjelasan hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah beserta istrinya, Habibah binti Abi Sufyan. Ketika sampai di Habasyah, dia masuk Kristen; meninggalkan Islam dan mati dalam keadaan Kristen. Sedangkan Utsman ibn al-Huwairits, pergi mendatangi Kaisar, raja Romawi dan memeluk Kristen, sehingga mendapat kedudukan yang baik di Romawi. Dan Zaid ibn Amru memilih ‘tawaqquf’: tidak memeluk Yahudi juga – tidak memeluk – Kristen. (ibid: 260 & 261). Jadi, orang-orang yang disebutkan oleh Khalil pada awalnya tidak punya agama yang tetap, justru mereka sepakat untuk mencari ‘Hanifiyyah Ibrahim’. Dan tidak pernah disebutkan bahwa mereka mempengaruhi keyakinan (akidah), ritual ibadah dan tradisi agama Nabi SAW. Malah Khadijah akhirnya membenarkan wahyu yang turun kepada beliau, dan memeluk Islam. Lalu mengapa pendapat Khalil harus kontradiktif dengan pendapat Ibnu Hisyam dalam sirah, yang merupakan ‘revisi’ atas karya Ibnu Ishaq ini?!

    Perlu dicatat, bahwa Tarikh al-Thabari meskipun merupakan karya yang “sarat nilai” kemungkinan banyak menampilkan riwayat-riwayat yang diragukan dan banyak memuat dokumen-dokumen yang tidak valid (watsa’iq ghair watsiqah) (Muhammad Hamidullah, Majmu‘ah al-Watsa’iq al-Siyasiyyah li al-‘Ahd al-Nabawiy wa al-Khilafah al-Rasyidah, Beirut, cet. VII, 2001: 29).

    Hamidullah sendiri mengakui bahwa buku al-“Kharraj” karya Abu Yusuf dan “al-Sirah al-Nabawiyyah” karya Ibnu Hisyam merupakan dua karya yang paling awal, paling hati-hati dan paling otentik. Karena al-Thabari, menurut Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, sering menyebut suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh perawi yang sangat lemah sekalipun, seperti Hisyam ibn Kalbi, Saif ibn Umar al-Tamimi, Nasr ibn Mazahim, dan lainnya. (Prof. Dr. Akrham Dhiyauddin Umari, Madinan Society at the Time of the Prophet: Its Characteristics and Organization (Masyarakat Madani: Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi), Terjemah: Mun’im A. Sirriy, GIP, 1999: 37).

    Oleh karena itu, usaha Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah merupakan usaha yang sangat selektif dalam mengurai peristiwa sejarah, dibanding al-Thabari. Karya Ibnu Katsir ini, menurut Umari, merupakan satu karya agung dalam bidang sejarah dan memuat bagian tertentu yang secara khusus membahas sirah. Ibnu Katsir merupakan salah seorang imam besar yang dengan cermat meneliti teks-teks. Al-Dzahabi, Ibnu Hajar dan Ibnu Imad al-Hanbali menganggapnya sebagai ulama yang dapat dipercaya. (ibid: 58). Tapi buku ini sama sekali sekali tidak dirujuk oleh Khalil, konon lagi Guntur.

    Guntur lebih suka ‘mengekor’ kepada Khalil, yang mencomot riwayat dari al-Sirah al-Halabiyyah karya Burhanuddin al-Halabi (w. 841 H). Padahal buku ini banyak memuat kisah-kisah isra’iliyyat. Burhanuddin al-Halabi tidak menyebut isnad riwayat-riwayat, dan hanya sesekali menyebut perawi akhbar. (Umari, ibid: 58-59). Buku Ansab al-Asyraf karya Ahmad ibn Yahya ibn Jabir al-Baladhuri (w. 279 H), yang dikutip Guntur, dianggap lemah oleh para ulama hadits (dha‘if). Ibnu Hajar (dalam karyanya, Lisan al-Mizan) menulis biografinya dalam bukunya tentang dhu‘afa’ ‘orang-orang lemah’. (Umari, ibid: 57).

    Hal penting yang harus digarisbawahi juga adalah masalah “korespondensi” Khadijah dengan para pendeta yang disebutkan oleh Khalil dan di‘taklid’ oleh Guntur. Buku-buku sirah tidak membeberkan masalah ini. Apalagi dikatakan bahwa Khadijah berkorespondensi dengan Adas – menurut Guntur seorang pendeta. Adas adalah seorang Kristen dari Ninawi sekaligus “budak” dua orang anak Rabi‘ah: ‘Utbah dan Syaibah. Ketika Nabi SAW menjelaskan bahwa nabi Yunus adalah saudaranya – dalam kenabian – Adas langsung mencium kepala beliau, kedua tangan dan kakinya. (Lihat lebih detail, Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, op. cit., 3: 147 & 148). Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah sebaliknya. Sirgius juga bukan di Mekah tempatnya. Sirgius adalah nama lain dari Buhaira, seorang rahib Yahudi, seperti yang dituturkan oleh al-Suhayli dari al-Zuhri. Dan menurut al-Mas‘udi, dia adalah dari ‘Abd al-Qais. (ibid., 2: 691).

    Maka, tidak benar pendapat Guntur bahwa ketika Nabi SAW mendapat wahyu pertama, Khadijah memiliki inisiatif mendatangi anggota kaum cerdik pandai ketika itu satu persatu, dimulai dari Waraqah dan Sirgius di Mekah, Adas di Thaif, hingga Buhaira di Syam. Apa yang disebutkan oleh Guntur adalah pembajakan fakta historis. Apalagi buku al-Halabiyah yang – banyak mengandung isra’iliyyat – dijadikan rujukan bahwa Khadijahlah yang menguji wahyu yang turun kepada Baginda Rasul SAW. Ini bukan saja disebut sebagai “pembodohan umat” tapi “penyelewengan” yang tidak ilmiah, tidak bisa dipertanggung-jawabkan dan tidak dapat dibenarkan. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

    * Penulis adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo. Penulis juga peminat studi Qur’an-Hadits dan Kristologi. Sekarang menjadi staf pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara

    (suaramuslim.com)

  • Sirih Merah

    Sirih Merah Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah menurunkan obatnya. (HR. Bukhori dan Muslim)

    Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu, pasti akan sembuh dengan izin Allah Azza Wajalla. (HR. Muslim)

    Segala puji bagi Allah Yang telah meletakkan keberkahan pada tanaman sirih merah. Shalawat serta salam tercurah atas baginda Rasul yang mendorong ummatnya untuk mencari keberkahan pada tanam-tanaman yang mengandung keberkahan berupa obat dari Allah bagi setiap penyakit dan meyakinkan ummat bahwa bagi setiap penyakit itu ada obatnya.

    Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyem-buhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen.

    Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyem-buhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat moderen.

    Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya.

    Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman obat potensial yang sejak lama telah di-ketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, disamping itu juga memiliki nilai-nilai spritual yang tinggi. Sirih merah termasuk dalam satu elemen penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat khususnya di Jogyakarta. Tanaman ini termasuk di dalam famili Pipe-raceae dengan penampakan daun yang berwarna merah keperakkan dan mengkilap saat kena cahaya.

    Sirih merah tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas tanaman ini adalah berbatang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian ujung daun meruncing. Permukaan daun meng-kilap dan tidak merata. Yang mem-bedakan dengan sirih hijau adalah selain daunnya berwarna merah keperakan, bila daunnya disobek maka akan berlendir serta aromanya lebih wangi.

    Ramuan sirih merah telah lama dimanfaatkan oleh lingkungan kra-ton Jogyakarta sebagai tanaman obat yang beguna untuk ngadi saliro. Pada tahun 1990-an sirih merah di-fungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobis, karena penampilannya yang menarik. Permukaan daunnya merah keperakan dan mengkilap. Pada tahun-tahun terakhir ini ramai dibicarakan dan dimanfaatkan se-bagai tanaman obat. Dari beberapa pengalaman, diketahui sirih merah memiliki khasiat obat untuk berbagai penyakit. Dengan ramuan sirih merah telah banyak masyarakat yang tersembuhkan dari berbagai pe-nyakit. Oleh karena itu banyak orang yang ingin membudidayakannya.

    Aspek Budidaya

    Sirih merah dapat diperbanyak secara vegetatif dengan penyetekan atau pencangkokan karena tanaman ini tidak berbunga. Penyetekan dapat dilakukan dengan menggunakan sulur dengan panjang 20 – 30 cm. Sulur sebaiknya dipilih yang telah mengeluarkan akar dan mempunyai 2 – 3 daun atau 2 – 3 buku. Untuk mengurangi penguapan, daun di ku-rangi sebagian atau buang seluruh-nya. Sulur diambil dari tanaman yang sehat dan telah berumur lebih dari setahun. Cara perbanyakan dengan dengan setek dapat dilakukan dengan me-nyediakan media tanam berupa pasir, tanah dan kompos dengan perban-dingan 1 : 1 : 1. media tersebut di-masukkan ke dalam polibeg berdi ameter 10 cm yang bagian bawah-nya sudah dilubangin. Setek yang telah dipotong-potong direndam dalam air bersih selama lebih kurang 15 menit. Setek ditanam pada poli-beg yang telah berisi media tanam. Letakkan setek ditempat yang teduh dengan penyinaran matahari lebih kurang 60%.

    Perbanyakan dengan cara pen-cangkokan dilakukan dengan me-milih cabang yang cukup tua kira-kira 15 cm dari batang pokoknya, kemudian cabang tersebut diikat atau dibalut ijuk atau sabut kelapa yang dapat menghisap air. Pencangkokan tidak perlu mengupas kulit batang. Cangkok diusahakan selalu basah agar akarnya cepat tumbuh dan ber-kembang. Cangkok dapat dipotong dan ditanaman di polibeg apabila akar yang muncul sudah banyak. Untuk tempat menjalar dibuat ajir dari batang kayu atau bambu. Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali dalam sehari tergantung cuaca.

    Penanaman di lapangan dilaku-kan pada awal musim hujan dan sebagai tiang panjat dapat digunakan tanaman dadap dan kelor. Jarak tanam dapat digunakan 1 x 1 m, 1 x 1,5 m tergantung kondisi lahan.

    Sirih merah dapat beradaptasi de-ngan baik di setiap jenis tanah dan tidak terlalu sulit dalam pemelihara-annya. Selama ini umumnya sirih merah tumbuh tanpa pemupukan. Yang penting selama pertumbuhan-nya di lapangan adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60 – 75%.

    Penanganan Pasca Panen

    Tanaman sirih merah siap untuk dipanen minimal berumur 4 bulan, pada saat ini tanaman telah mem-punyai daun 16 – 20 lembar. Ukuran daunnya sudah optimal dan panjang-nya mencapai 15 – 20 cm. Daun yang akan dipanen harus cukup tua, bersih dan warnanya mengkilap karena pada saat itu kadar bahan aktifnya sudah tinggi. Cara pemetikan di-mulai dari daun tanaman bagian bawah menuju atas.

    Setelah dipetik, daun disortir dan direndam dalam air untuk mem-bersikan kotoran dan debu yang me-nempel, kemudian dibilas hingga bersih dan ditiriskan. Selanjutnya daun dirajang dengan pisau yang tajam, bersih dan steril, dengan lebar irisan 1 cm. Hasil rajangan dikering anginkan di atas tampah yang telah dialas kertas sampai kadar airnnya di bawah 12%, selama lebih kurang 3 – 4 hari. Rajangan daun yang telah kering dimasukkan ke dalam kan-tong plastik transparan yang kedap air, bersama-sama dimasukan silika gel untuk penyerap air, kemudian di-tutup rapat. Kemasan diberi label tanggal pengemasan selanjutnya di-simpan di tempat kering dan bersih. Dengan penyimpanan yang baik simplisia sirih merah dapat bertahan sampai 1 tahun.

    Cara penggunaan simplisia sirih merah yaitu dengan merebus se-banyak 3 – 4 potongan rajangan dengan satu gelas air sampai men-didih. Setelah mendidih, rebusan ter-sebut disaring dan didinginkan. Penggunaan sirih merah dapat dilakukan selain dalam bentuk sim-plisia juga dalam bentuk teh, serbuk, dan ekstrak kapsul.

    Pembuatan serbuk sirih merah yaitu diambil dari simplisia yang telah kering kemudian digiling dengan menggunakan grinder men-capai ukuran 40 mesh. Pengemasan dilakukan pada kantong plastik transparan dan diberi label. Sedang-kan ekstrak kapsul dibuat dari hasil serbuk yang di ekstrak dengan menggunakan etanol 70%. Ekstrak kental yang didapat ditambahkan bahan pengisi tepung beras 50% dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 400C, setelah kering dimasukkan ke dalam kapsul.

    Kandungan Kimia

    Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu, yang disebut dengan me-tabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mem-punyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. Metabolit sekunder yang diproduksi tanaman bermacam-macam seperti alkaloid, terpenoid, isoprenoid, fla-vonoid, cyanogenic, glucoside, glu-cosinolate dan non protein amino acid. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang paling banyak di produksi tanaman. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistim heterosiklik. Nenek moyang kita telah memanfaatkan alkaloid dari tanaman sebagai obat. Sampai saat ini semakin banyak alkaloid yang ditemukan dan diisolasi untuk obat moderen.

    Para ahli pengobatan tradisional telah banyak menggunakan tanaman sirih merah oleh karena mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Dari buku ”A review of natural product and plants as potensial antidiabetic” dilaporkan bahwa senyawa alko-koloid dan flavonoid memiliki ak-tivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah.

    Kandungan kimia lainnya yang terdapat di daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavi-col, kavibetol, allylprokatekol, kar-vakrol, eugenol, p-cymene, cineole, caryofelen, kadimen estragol, ter-penena, dan fenil propada. Karena banyaknya kandungan zat/senyawa kimia bermanfaat inilah, daun sirih merah memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Karvakrol bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan. Eugenol dapat di-gunakan untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan tanin dapat diguna-kan untuk mengobati sakit perut.

    Sirih Merah sebagai Tanaman Obat Multi Fungsi

    Sejak jaman nenek moyang kita dahulu tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, di samping itu sirih merah memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Sirih merah diperguna-kan sebagai salah satu bagian pen-ting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat ”ngadi saliro”. Air rebusannya yang mengandung antiseptik digunakan untuk menjaga kesehatan rongga mulut dan me-nyembuhkan penyakit keputihan ser-ta bau tak sedap.

    Penelitian terhadap tanaman sirih merah sampai saat ini masih sangat kurang terutama dalam pengembang-an sebagai bahan baku untuk bio-farmaka. Selama ini pemanfaatan sirih merah di masyarakat hanya ber-dasarkan pengalaman yang dilaku-kan secara turun temurun dari orang tua kepada anak atau saudara ter-dekat secara lisan. Di Jawa, ter-utama di Kraton Jogyakarta, tanam-an sirih merah telah dikonsumsi sejak dahulu untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Bedasarkan pengalaman suku Jawa tanaman sirih merah mempunyai manfaat me-nyembukan penyakit ambeien, ke-putihan dan obat kumur, alkaloid di dalam sirih merah inilah yang berfungsi sebagai anti mikroba.

    Selain bersifat antiseptik sirih merah juga bisa dipakai mengobati penyakit diabetes, dengan meminum air rebusan sirih merah setiap hari akan menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal. Kanker merupakan penyakit yang cukup banyak diderita orang dan sangat mematikan, dapat disembuh-kan dengan menggunakan serbuk atau rebusan dari daun sirih merah. Beberapa pengalaman di masyarakat menunjukkan bahwa sirih merah dapat menurunkan penyakit darah tinggi, selain itu juga dapat menyem-buhkan penyakit hepatitis.

    Sirih merah dalam bentuk teh herbal bisa mengobati asam urat, kencing manis, maag dan kelelahan, ini telah dilakukan oleh klinik herbal senter yang ada di Jogyakarta, di mana pasiennya yang berobat sem-buh dari diabetes karena meng-konsumsi teh herbal sirih merah. Sirih merah juga sebagai obat luar dapat memperhalus kulit.

    Secara empiris diketahui tanaman sirih merah dapat menyembuhkan penyakit batu ginjal, kolesterol, asam urat, serangan jantung, stroke, radang prostat, radang mata, masuk angin dan nyeri sendi.

    Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik, pada dosis tersebut mampu me-nurunkan kadar glukosa darah tikus sebesar 34,3%. Lebih tinggi penu-runannya dibandingkan dengan pem-berian obat anti diabetes militus komersial Daonil 3,22 mml/kg yang hanya menurunkan 27% glukosa darah tikus. Hasil uji praklinis pada tikus, dapat di pakai sebagai acuan penggunaan pada orang yang men-derita kencing manis. Saat ini sudah cukup banyak klinik herbal center yang menggunakan sirih merah sebagai ramuan atau terapi yang berkhasiat dan manjur untuk pe-nyembuhan berbagai jenis penyakit

    Penutup

    Tanaman sirih merah mempunyai banyak manfaat dalam pengobatan tradisional, mempunyai potensi me-nyembukan berbagai jenis penyakit. Banyak pengalaman bahwa meng-gunakan sirih merah dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul dapat menyembuhkan penya-kit diabetes militus, hepatitis, batu ginjal, menurunkan kolesterol, men-cegah stroke, asam urat, hipertensi, radang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Tanaman sirih merah dapat dapat beradaptasi dengan baik di setiap jenis tanah sehingga mudah dikembangkan dalam skala besar.

    (Sumber: Feri Manoi, Warta Puslitbangbun Vol.13 No. 2, Agustus 2007)

  • Obama Seorang Masonic?

    Hampir seluruh media massa dunia, cetak maupun elektronik, besar maupun kecil, memberitakan acara pelantikan Barrack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-44. Change, We Believe merupakan semboyan mistis yang diteriakkan Obama ketika berkampanye. Dan dunia kini menantikan, perubahan apa yang akan dibawanya.

    Namun ada banyak hal yang luput dari sorotan kebanyakan media seluruh dunia seputar inaugurasi Presiden Obama. Inilah sebagian kecil di antaranya:

    Masonic Bible

    Ketika mengucap sumpah menjadi Presiden AS, Obama memilih Injil yang sama yang digunakan oleh pendahulunya, Presiden Abraham Lincoln, saat dilantik pada tahun 1861 dan 1865. Padahal ketika Abraham Lincoln dilantik menjadi Presiden AS, dia menggunakan Masonic Bible. Ini berarti Obama juga mengucapkan sumpahnya di bawah naungan Masonic Bible (Injil Masonik). Injil Mason merupakan sebuah Injil yang telah diberi catatan kaki di sana-sini, bahkan melebihi ayat-ayat aslinya, yang keseluruhan catatan kakinya tersebut berpandangan Zionistik. Injil jenis ini juga memuat sejumlah ilustrasi berupa fragment sejarah kaum Yahudi, tentunya yang mendukung klaim Zionis-Yahudi atas Tanah Palestina.

    Obelisk Fir’aun

    Saat diambil sumpahnya, Obama—seperti semua Presiden AS ketika dilantik—berdiri di sebuah podium yang menghadap lurus ke sebuah obelisk yang menjulang tinggi. Obelisk tersebut bernama The Washington Monument.

    Obelisk sendiri merupakan simbolisasi nyala api yang mengarah ke atas, ke arah pemujaan terhadap Dewa Matahari (Helios atau Ra Goddes). Matahari merupakan tuhan tertinggi kaum pagan yang tetap lestari hingga kini. Sunday merupakan hari penyembahan terhadap Dewa Matahari, di mana sekarang diwarisi oleh kalangan Kristen di dalam menunaikan kebaktiannya. Padahal Nabi Isa a.s. selalu beribadah setiap hari dan tidak mengistimewakan hari Minggu. Sebab itu, Obelisk juga dimaksudkan sebagai penyembahan terhadap Dewa Matahari.

    Inaugurasi Presiden AS

    Seluruh Presiden AS dilantik dan menjalankan roda pemerintahan dari Washington DC, yang ditetapkan sebagai Ibukota AS pada tahun 1790. Peletakan batu pertama Gedung Capitol dilakukan tiga tahun setelahnya. Seorang arsitek Perancis yang juga mantan tentara yang membantu Amerika menghadapi kolonialis Inggris bernama Pierre Charles L’Enfant merancang arsitektur kota ini pada 1791. L’Enfant merupakan seorang Mason seperti juga George Washington.

    Struktur federal paling tua di Washington DC adalah batu pertama yang ditanam di pondasi White House pada tanggal 13 Oktober 1792. Tanggal 13 Oktober merupakan tanggal dimulainya penumpasan Templar di Perancis. Adakah peletakan batu pertama pada pondasi White House merupakan sebuah memorial bagi Templar? Wallahu’alam.

    Yang jelas, setiap inaugurasi Presiden AS selalu saja dikelilingi simbol-simbol Masonik yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Obama merupakan Presiden AS ke-44 yang mewarisi ritual inaugurasi paganis seperti ini. Dan hal tersebut menandakan jika semboyan perubahan yang diusungnya sesungguhnya hanya merupakan slogan kosong, sama seperti ketika para tokoh Masonik Perancis meletuskan Revolusi Perancis di abad ke-18 dengan slogan-slogannya. Amerika di bawah Obama akan tetap menjadi Amerika yang Zionistik.

  • Masonic Rituals Live On

    President-elect Barack Obama’s swearing-in Tuesday will incorporate several elements out of America’s Masonic past.

    One-third of the signers of the Constitution, many of the Bill of Rights signers and America’s first few presidents (except for Thomas Jefferson) were Freemasons, a fraternal organization that became public in early 18th-century England.

    Although it became fabulously popular in America, at one time encompassing 10 percent of the population, Pope Clement XII condemned Freemasonry in 1738 as heretical. The latest pronouncement was issued in 1983 by then-Cardinal Joseph Ratzinger – now Pope Benedict XVI – who called Masonic practices “irreconcilable” with Catholic doctrine.

    Still, as the first president, George Washington had to come up with appropriate rituals for the new country. He borrowed many of them from Masonic rites he knew as “worshipful leader” of a lodge in Alexandria.

    His Masonic gavel is on display at the Capitol Visitor Center. Until this inauguration, Washington’s Masonic Bible – on which he swore his obligations as a Freemason – was used for the presidential oath of office. President-elect Barack Obama will use Abraham Lincoln’s Bible.

    The worshipful master administered the Masonic oaths. This was adapted to the president vowing to serve his country in an oath administered by the top justice of the Supreme Court.

    I learned all this from Garrison Courtney, a 30-something government worker who gives Masonic tours of the District in his spare time. He is worshipful master at the Cincinnatus Lodge in Georgetown. Contrary to public perceptions of Masons being older white guys, current local membership is a racially and religiously mixed group of Gen-X men, he says.

    They have, he adds, gotten a bad rap as a secretive organization.

    “If people have questions, we will tell them,” he says. “We’re pretty open as an organization.”

    Calling themselves a “spiritual organization,” Masons need only believe in a Supreme Being. Masons have grown nationally in recent years, he said, with 38 lodges in the District alone.

    The late President Gerald R. Ford was the last presidential Mason.

    “We actually had a Masonic procession to his casket while he was lying in state at the Capitol,” Mr. Courtney said.

    The inaugural parade, he tells me, began as a Masonic procession [a parade of Masonic notables] from the still-unfinished White House to Capitol Hill, where Washington traveled on Sept. 18, 1793, to lay the cornerstone for the Capitol. Lafayette Park was the site of a makeshift Masonic lodge, in which the Scottish stonemasons – then working on the executive mansion – lived.

    Washington also ensured the boundaries of the District – each 10 miles along – formed a perfect square, which symbolizes ultimate virtue in Masonry.

    “The whole idea behind the building of Washington was to convey the message about the new experiment, a new way of thinking the Founding Fathers had in mind,” said Akram Elias, past grandmaster of all the District’s lodges.

    Whole books have been written about the Masonic imagery on buildings around the District. Many of their cornerstones were laid with Masonic ceremonies involving oil, wine and corn.

    “All five statues in front of the White House are Freemasons,” Mr. Courtney said. “Every single one of the statues on Virginia Avenue are as well. Masonry is ingrained in the city and in the American culture.”

    (Julia Duin, email: jduin@washingtontimes.com)