Blog

  • Mustahil Itu Mengkuduskan

    Allah dapat dikenal oleh aqal, dan Alkitab setuju akan hal ini. Maka kasihilah Allah, tidak hanya dengan hati, tetapi juga dengan aqal budi. Sembahlah Ilah yang kau kenal sifat-Nya sehingga engkau tak terjebak pada Ilah palsu. Jangan kau menyembah sesuatu yang tidak kau kenal sifatnya.

    Dapat dikenal oleh aqal tak berarti dibatasi oleh aqal. ‘Mustahil’ tidak selalu berarti tidak sanggup. ‘Mustahil’ bisa berarti pembersihan dari sifat yg tidak pantas. Mustahil Allah memerlukan makhluq-Nya, Allah tak butuh makan untuk bertahan hidup, Allah Mahahidup tanpa membutuhkan makhluq-Nya.

    Mustahil Allah dibatasi, itu benar. Mustahil Allah dibatasi ruang dan waktu. Bukankah Nabi Sulaiman yang sangat mengenal Allah telah berkata, “Bahkan langit yang mengatasi langit tak dapat menampung engkau.”

    Mustahil Allah menciptakan batu yang sangat besar dan sangat berat hingga Dia sendiri tak dapat memindahkannya. Mustahil Allah mengantuk dan tidur. Mustahil Allah merasa lelah. Mustahil Allah ketakutan setengah mati. Mustahil Allah mengalami kematian.

    Mengapa Ibrahim tak mau menyembah matahari? Karena matahari dapat dihalangi oleh benda lain. Apakah engkau akan menyembah sesuatu yang dapat dikalahkan makhluq walau sesaat?

    Engkau akan menyembah sesuatu yang dapat dikalahkan rasa kantuk sehingga ia tertidur, atau yang dikalahkan rasa lapar sehingga membutuhkan makhluq untuk diambil manfaatnya? Itu bukanlah sifat Tuhan. Aku dapat mengenal Tuhan dari sifat-Nya.

    Aku menyembah Ilah yang aku kenal mempunyai sifat yang pantas bagi-Nya dan tidak melekat pada-Nya sifat yang mustahil ada pada-Nya. Aku menyembah Ilah yang aku kenal. Sedangkan Yesus bukanlah yang aku kenal sebagai Ilah.

    Ilah yang aku kenal tidaklah merasa lelah ataupun mengantuk. Ilahku tidak tidur dan tidak lapar. Ilahku tidak melahirkan tidak pula dilahirkan. Ilahku bukanlah manusia bukan pula anak manusia.

    Bacalah Al-Quran dan Alkitab, maka engkau akan temukan sifat-sifat Ilahnya Isa, Ilahnya Musa, dan Ilahnya Ibrahim. Kenalilah Ilahnya Yesus, yang kepada-Nya Yesus telah menyembah, bersujud dan berdoa.

    Sesungguhnya Allah Yang kaya dari pada alam semesta. [QS. Al-Ankabut: 6]

    Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluqnya, tidak membutuhkan alam semesta, tidak membutuhkan makanan, udara, air, atau apa pun.

    Allah berbuat seperti apa yang Dia Kehendaki. [QS. Al-Buruj: 16]

    Allah itu tidak membutuhkan petunjuk dari yang lainnya. Sedangkan Yesus memerlukan pengajaran dari Allah dan mengikuti Kehendak Allah.

    Yohanes 4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makananku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

    Yohanes 5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku.

    Yohanes 6:38 Sebab aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku.

    Baik Yahya, Isa, maupun para nabi Allah lainnya, mereka semua diutus dari sorga untuk melakukan kehendak Allah yang mengutus mereka.

    Yohanes 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

    Bangsa Yahudi di sini tentunya bangsa Yahudi yang monotheis yang masih menjunjung hukum Taurat yang murni.

    Mazmur 84:3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.

    Sifat Allah adalah “yang hidup”, Allah bukanlah “yang mati” dan tak mungkin mati. Mahasuci Allah dari mengalami kematian walau sesaat.

    1Raja-raja 8:27 Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.

    Bilangan 23:19 Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?

    Allah itu bukan manusia, mustahil Allah itu manusia, mustahil Allah itu berdusta, mustahil Allah itu menyesal. Ataukah Anda mau katakan bahwa Allah Mahakuasa untuk berdusta?

    Tiada yang serupa dengan Dia sesuatu pun. [QS. Asy-Syura: 11]

    Keluaran 9:14 tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.

    Yesaya 40:18 Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?

    Dan Allah terhadap tiap sesuatu adalah Mahamengetahui. [QS. Al-Hujurat: 16]

    Yesaya 40:14 Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

    Tuhan tidak meminta petunjuk dari yang selain Dia dan tidak pula ia belajar. Belajar adalah dari tidak tahu menjadi tahu, sedangkan Tuhan adalah yang Mahatahu tanpa belajar, bahkan Dialah yang memberi kita pengetahuan. Sedangkan Yesus itu menjalani proses belajar. Mustahil Allah itu pernah bodoh lalu belajar untuk menjadi Mahatahu.

    Masih banyak ayat-ayat Al-Qur`an dan Alkitab yang memberi kita pengenalan akan sifat-sifat Ilah yang sebenarnya. Mereka yang menyembah ilah-ilah selain Ilah yang diperkenalkan oleh para nabi Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang tertipu yang telah menyembah ilah yang tidak dikenal para Nabi.

  • Keturunan Sitti Fathimah

    Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra Al Hasan, Al Husin dan Muhsin serta dua orang putri Ummu Kalsum dan Zainab.

    Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdulloh bin Ja’far bin Abi Tholib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak).

    Adapun Al Hasan ra dan Al Husin ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rosululloh Saw

    Diantara keistimewaan atau fadhel Ikhtishos yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyahnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul.

    Hal mana sesuai dengan keterangan Rasulullah saw, bahwa anak-anak Fathimah ra itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya.

    Rasulullah Saw bersabda:
    “Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tobroni)

    Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
    “Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Tobroni dan Abu Ya’la)

    Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
    “Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”

    Itulah sebabnya, mengapa keturunan Siti Fathimah ra disebut Dzurriyyaturrasul atau keturunan Rasulullah SAW. Dan Dzurriyyaturrasul yang mayoritas masih lurus tentu lebih pantas diikuti dari pada Waladussyaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab.

    Keistimewaan yang lain dari keturunan Siti Fathimah ra adalah disamping mereka itu disebut sebagai Dzurriyyaturrasul, mereka itu menurut Rasulullah Saw akan terus bersambung sampai hari kiamat. Dimana semua keturunan menurut Rasulullah Saw akan putus.

    Dalam hal ini Rasulullah saw pernah bersabda:
    “ Semua sebab dan nasab putus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Tobroni, Al Hakim dan Al Baihaqi)

    Pada suatu ketika, Sayyidina Umar ra datang kepada Imam Ali kw dengan tujuan akan melamar putrinya yang bernama Ummu Kultsum ra.

    Setelah Sayyidina Umar ra menyampaikan maksudnya, Imam Ali kw menjawab bahwa anaknya itu masih kecil. Selanjutnya Imam Ali kw menyarankan agar Sayyidina Umar ra melamar putri saudaranya (Ja’far) yang sudah besar.

    Mendengar jawaban dan saran tersebut Sayyidina Umar ra menjawab, bahwa dia melamar putrinya, karena dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:
    “ Semua sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At tobroni)

    Akhirnya lamaran Sayyidina Umar ra tersebut diterima oleh Imam Ali kw dan dari perkawinan mereka tersebut, lahirlah Zeid dan Ruqayyah.

    Perkawinan tersebut membuktikan bahwa antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra telah terjalin hubungan yang sangat baik. Sebab apabila ada permusuhan antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra, pasti lamaran tersebut akan ditolak.

    Dengan demikian apa yang sering diungkapkan oleh tokoh-tokoh Syi’ah, bahwa ada permusuhan antara Siti Fathimah ra / Imam Ali kw dengan Sayyidina Umar ra itu tidak benar.

    Bahkan dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa, Imam Ali kw dikenal sebagai penasehat Khalifah Umar Ibnul Khattab ra.

    Tapi peristiwa perkawinan tersebut, oleh ulama-ulama Syi’ah dibuatkan beberapa cerita diantaranya bahwa Ummu Kultsum ra yang dikawinkan dengan Sayyidina Umar ra tersebut, adalah bukan Ummu Kultsum ra yang asli, tapi dia adalah iblis (jin) yang menyerupai Ummu Kultsum ra.

    Dalam cerita yang lain, ulama-ulama Syi’ah itu mengatakan, bahwa Imam Ali kw mengawinakan Ummu Kultsum ra dengan Sayyidina Umar ra itu Taqiyyatan atau tidak kawin betulan.

    Bagaimana dikatakan Taqiyyatan, padahal mereka itu sampai mempunyai dua anak, Zeid dan Ruqayyah.

    Bahkan Sayyidina Umar ra ketika mengawini Ummu Kultsum ra itu berkata kepada orang banyak: “Tidakkah kalian mengucapkan selamat kepadaku, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:
    “Setiap sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Tobroni)

    Dengan demikian tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa keturunan Rasulullah Saw atau Dzurriyyaturrasul itu sudah putus atau tidak ada lagi. Karena pendapat tersebut sangat bertentangan dengan keterangan-keterangan Rasulullah saw, yang diakui kebenarannya oleh para ulama dan para Ahli sejarah.

    Sebenarnya kami tidak merasa heran dengan adanya orang-orang yang berfaham demikian itu, sebab di zaman Rasulullah Saw dulu, sudah ada orang-orang yang mengatakan semacam itu. Hal mana karena kebencian mereka kepada Rasulullah saw.

    Adapun orang-orang sekarang yang berpendapat semacam itu, kami rasa mereka itu tidak karena benci kepada Rasulullah Saw, tapi timbulnya faham tersebut karena minimnya pengetahuan mereka akan sejarah Ahlul Bait atau karena adanya rasa iri hati (hasad) kepada orang-orang yang mendapat nikmat yang tidak ternilai sebagai Dhuriyyaturrasul. Padahal Fadhel Ikhtishos tersebut datangnya dari Allah SWT.

    Allah berfirman:
    “Adakah mereka merasa iri hati terhadap orang-orang yang telah diberi karunia (fadhel) oleh Allah.” (QS.An Nisa:54)

    Mereka tidak sadar bahwa akibat dari faham yang demikian itu justru merugikan dirinya sendiri. Sebab faham tersebut apabila dijabarkan berarti menolak NASH yang disampaikan oleh Allah SWT.

    Dibawah ini kami nukilkan fatwa dari seorang ulama besar dan Mufti resmi kerajaan Saudi Arabia yang bermadzab Wahabi, yaitu Al Allamah Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, yang dimuat dalam majalah “AL MADINAH” halaman 9 Nomor 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H/ 24 Oktober 1982.

    Seorang dari Iraq menanyakan kepada beliau mengenai kebenaran golongan yang mengaku sebagai SAYYID atau sebagai anak cucu keturunan Rasulullah saw.

    Jawab Syeikh Abdul Aziz bin Baz : “Orang-orang seperti mereka itu terdapat diberbagai tempat dan negara. Mereka juga dikenal dengan gelar sebagai “SYARIF” . Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari keturunan Ahlu Baiti Rasulullah saw. Diantara mereka ada yang silsilahnya berasal dari Al Hasan ra dan ada yang berasal dari Al-Husin ra. Ada yang dikenal dengan gelar Sayyid dan ada juga yang dikenal dengan gelar Syarif.”

    Hal itu merupakan kenyataan yang diketahui umum di Yaman dan negeri-negeri lain.

    Adapun mengenai menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang telah menjadi hak mereka, maka semua itu adalah merupakan perbuatan yang baik.

    Dalam sebuah hadits Rosulullah saw berulang-ulang mewanti-wanti: “Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahli Baitku…Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahli Baitku…Kalian kuingatkan kepada Allah akan Ahli Baitku!”

    Demikian sebagian dari fatwa Syikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengenai masih adanya keturunan Rosulullah saw.

    Pembaca yang kami hormati, setelah kami sampaikan fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Baz, maka dibawah ini kami sampaikan keterangan Al Allamah DR. Muhammad Abdul Yamani, seorang ahli sejarah Ahlul Bait. Beliau adalah mantan menteri penerangan kerajaan Saudi Arabia. Karya-karya beliau sangat banyak dan dikenal didunia Islam.

    Dalam bukunya yang berjudul “Allimu Awladakum Mahabbata Ahlu Baitinnabi ” (Ajarkan Anak-Anakmu Agar Mencintai Ahli Bait Nabi), halaman 30, cetakan Ke 2, ketika beliau membahas mengenai Sayyid dan Syarif, beliau menulis sebagai berikut:

    Kesimpulannya ialah, Sayyid dan Syarif adalah keturunan Fathimah Az Zahra ra dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib karramallahu wajhah. Tidak ada beda antara kedua gelar dari segi nasab dan kemuliaan hubungan dengan Sayyidina Rosulullah saw. Mereka semua berasal dari keturunan Rasulullah saw dan patut dihargai, dihormati dan dicintai demi mematuhi perintah Allah Azza wa Jalla: “Katakanlah (hai Muhammad), Aku tidak minta upah kepada kalian atas seruanKu, kecuali mencintai kerabat(ku).” (QS. Asy-Syura: 23)

    Dalam kitab Hilyatul Awliya’, jilid 3 halaman 201 disebutkan:
    Jabir Al-Anshari berkata: Pada suatu hari orang badui datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata: Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam! Lalu Rasulullah saw bersabda: “Bersaksilah kamu sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Kemudian orang badui itu bertanya: Apakah dalam hal ini (dakwah ini) kamu meminta upah padaku? Rasulullah saw menjawab: “Tidak, kecuali kecintaan kepada keluargaku.” Selanjutnya orang badui itu berkata: Sekarang aku berbaiat kepadamu, dan semoga Allah melaknat orang yang tidak mencintaimu dan keluargamu. Rasulullah saw menjawab: “Amin.”

    Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur oleh Jalaluddin As-Suyuthi, tentang ayat ini:
    As-Suyuthi mengutip hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika ayat ini (Asy-Syura: 23) turun, para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, siapakah dari keluargamu yang wajib dicintai oleh kami? Rasulullah saw menjawab: “Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.”

    Ibnu Abbas berkata, ketika ayat ini turun Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya kalian menjagaku dengan menjaga Ahlul baitku dan mencintai mereka.”

    Patut disebutkan bahwa keturunan yang suci dari Al Hasan dan Al Husin tersebar di sebagian besar Negara Arab. Ditempat mana mereka berada, merekapun mempunyai pemimpin yang menjadi panutan dalam perkara-perkara penting dan biasanya terdiri dari para ulama dan orang-orang terkemuka. Ia bergelar Naqiibul Asyraf dan memelihara silsilah nasab yang mulia demi menjaga kemurnian Ahlil Bait, baik dari jalur kakek mereka Al Hasan ra atau Al Husin ra. Kadang-kadang kita mendapati Ahlul Bait yang berhubungan nasab dengan Al Hasan dan Al Husin secara langsung, tetapi mereka memakai gelar-gelar lain yang disandarkan kepada kakek mereka.

    Pada awal abad keempat Hijriah, sebagian cucu-cucu Al Husin ra hijrah dari Basrah Ke Hijas . Kemudian mereka pergi ke Hadramaut, karena sebelah timur Jazirah Arab saat itu berada dibawah kekuasaan Khawarij dan pengaruh Syiah Qaramithah.

    Di Hadramaut Ahlul Bait giat berda’wah untuk membuang madzhab – madzhab perusak dan supaya mereka kembali kepada Islam yang benar serta menyebarkan madzhab Syafi’i (Ahlussunnah Waljama’ah).

    Di sana mereka mendapat dukungan besar yang tentunya juga terlihat dalam berbagai konflik. Merekapun menang, hingga banyak diantara orang-orang yang menyimpang itu bertobat dan kembali ke jalan lurus (benar).

    Dan sebagian dari mereka menempuh perjalanan laut menuju pantai-pantai Hindia dengan tujuan berdagang dan menyeru kepada Allah Azza wa Jalla. Ada yang hijrah dari Hindia menuju pulau-pulau di Laut Cina demi tujuan yang sama. Ada pula yang keluar dari Hadramaut secara langsung menuju pulau-pulau itu sambil membawa risalah Islamiah. Mereka ini telah mendapat sukses besar dalam berda’wah. Upaya seperti ini menyebabkan banyak orang masuk Islam dan sebagian menjadi menantu raja-raja dan pangeran-pangeran di pulau-pulau itu. Kemudian terbentuklah sebuah negara Islam.

    Bersama penduduk negeri, mereka giat berdakwah. Mereka mempunyai kapal-kapal khusus yang membawa mereka ke berbagai pulau yang berjumlah ribuan. Dengan demikian Islam tersebar di kepulauan Malaysia, Indonesia, Philipina, pulau Jawa dan Sumatra. Sebagian dari para dai ini ada yang turun didaratan Cina dan sampailah Islam ke Burma, Thailan, Kamboja dan banyak negri-negri yang bertetangga.

    Menetapnya kaum Muhajirin (imigran) dari Ahlul Bait di negri-negri itu setelah mengadakan hubungan yang baik dan menjalin hubungan yang baik dan menjalin ikatan-ikatan sosial dengan mereka serta bersama-sama menunaikan berbagai kepentingan keagamaan dan keduniaan. Mereka selalu menjaga garis keturunan dan selalu menunjukkan ketinggian akhlak serta kemuliaan sifat-sifatnya sampai hari-hari ini. Demikian pula keadaannya di Hindia, Pakistan dan negri-negri Islam lainnya.

    Hijrah Ahlul Bait tidak terbatas ke Hindia dan daratan Cina serta kepulauan-kepulauan di Asia Tenggara, bahkan sebagian dari mereka pergi ke Afrika.

    Demikian keterangan DR. Muhammad Abduh Yamani mengenai keberadaan keturunan Siti Fathimah di berbagai Negara .

    Di Indonesia keturunan Siti Fathimah atau Dzurriyyaturrosul tersebut banyak. Mereka dikenal dengan sebutan Habaib atau Habib.

    Delapan dari sembilan Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa adalah kaum Alawiyyin dari Ahlu Baiti Rasulillah atau Durriyyaturrosul. Karena jasa merekalah , sebagian besar dari rakyat Indonesia sekarang beragama Islam. Keberadaan mereka di Indonesia bagaikan penyelamat bangsa. Hal ini sesuai dengan keterangan Rasulullah saw, dimana beliau pernah bersabda:
    “Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan Ahlu Baitku diantara kalian adalah seperti kapal Nuh diantara kaumnya. Barangsiapa menaikinya , ia pun selamat dan siapa tertinggal olehnya, iapun tenggelam,” (HR. Al Hakim).

    Itulah keutamaan dan keistimewaan yang Allah berikan kepada keturunan Siti Fathimah ra.
    “Demikianlah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakinya dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Jumuah: 4)

    Yang disayangkan, apa yang sudah dicapai dan dihasilkan serta ditanam oleh para Salaf Alawiyyin tersebut, akhir-akhir ini telah dinodai oleh ulah oknum-oknum Alawiyyin. Penyebabnya tidak lain dikarenakan jauhnya mereka dari Salaf Alawiyyin, sehingga dengan dengan adanya faham yang bermacam-macam dengan mudah terombang-ambing, dan akibatnya mereka tanpa sadar terjerumus kedalam kesesatan.

    Berkembangnya aliran Syi’ah di Indonesia, adalah merupakan salah satu penyebab kerusakan aqidah dan akhlak Alawiyyin. Kerusakan akhlak yang bersumber dari kerusakan aqidah tersebut dapat dibuktikan dengan kenyataan yang sedang berkembang dimasyarakat sekarang ini. Dimana kalau dahulunya pemuda-pemuda Alawiyyin itu dikenal sangat hormat kepada orang-orang tua mereka, maka kini oknum-oknum Alawiyyin yang sudah teracuni oleh ajaran Syi’ah tersebut, mereka tidak lagi menghormati kepada Salaf mereka. Justru berani mengkritik, mencari-cari kesalahan, bahkan berani menyalahkan Salaf mereka.

    Padahal kesuksesan orang-orang tua mereka (Salaf mereka) sudah terbukti, dimana mereka dapat merubah bangsa yang tidak mengenal Islam, menjadi bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

    Walaupun para sesepuh Alawiyyin itu tidak diikat dengan satu organisasi yang khusus, persatuan mereka sudah berjalan sejak dahulu. Hal mana karena mereka terikat dalam satu aqidah Ahlussunah Waljama’ah.

    Tapi dengan adanya aliran Syi’ah, dimana ada oknum-oknum Alawiyyin yang terpengaruh, maka Alawiyyin kini terpecah, dan antara yang mayoritas yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran orang-oarng tuanya (Islam) dengan mereka yang sudah menyimpang (Syi’ah) saling bermusuhan. Bahkan kini oknum-oknum tersebut terisolir dari kehidupan Alawiyyin. Mereka bagaikan penyakit kanker yang sedang berkembang didalam tubuh yang sehat dan apabila dibiarkan akan merusak citra Alawiyyin dimata bangsa Indonesia yang mayoritas beraqidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

    Namun dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Litbang Al Bayyinaat, ternyata yang terpengauruh pada aliran Syi’ah adalah oknum-oknum Alawiyyin yang sebagian masih dipertanyakan. Disamping itu, oleh karena cara yang ditempuh oleh golongan Syi’ah itu sama seperti cara yang ditempuh oleh golongan Kristen dalam mempengaruhi umat Islam, yaitu dengan uang dan sebagainya, maka beberapa orang Islam juga terpengaruh pada Syi’ah. Dan akhirnya mereka keluar dari agama Islam yang dibawa oleh Wali Songo dan masuk Syi’ah Imamiyyah Itsna Asyaniyyah yang dibawa oleh oknum-oknum yang telah dikader di Iran tersebut.

    Semoga mereka diberi hidayah oleh Allah sehingga kembali kejalan yang benar, jalan yang telah ditempuh oleh para Salaf Alawiyyin.

    Demikian apa yang dapat kami sampaikan mengenai keturunan Siti Fathimah ra, serta keberadaan mereka sekarang, yang didukung oleh keterangan keterangan dari beberapa Ulama.

    (albayyinat.net)

  • Dari Tunggal Menjadi Tritunggal

    Pada dasarnya Kekristenan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dengan perjalanan bangsa Israel (Yahudi). Yesus sendiri menyatakan :

    Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Yohanes 4:22)

    Maka ketika menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat, Yesus menyatakan konsep keimanan yang sangat monotheis :

    Jawab Yesus : “Hukum yang terutama ialah : dengarlah hai orang Israel, Tuhan (TUHAN, YHWH) adalah Ilah kita, Tuhan (TUHAN, YHWH) itu esa” (Markus 12:29)

    Inilah konsep keimanan yang diajarkan kepada orang Israel sejak semula dan dituliskan oleh Musa sebagai hukum yang utama : “Shema” (Dengarlah). “Dengarlah hai orang Israel : YHWH itu Ilah kita, YHWH itu esa” (Ulangan 6:4).

    Dalam upaya untuk melindungi konsep Allah yang satu dari segala jenis penggandaan (multiplication), penurunan nilai (watering down), atau pencampur-adukan (amalgamation) dengan ibadah-ibadah lain diseluruh dunia, orang Israel memilih bagi dirinya sendiri ayat Kitab Suci (Ulangan 6:4) untuk menjadi pernyataan iman (credo) yang sampai hari ini menjadi bagian liturgi harian di sinagog-sinagog yang juga ditanamkan sebagai kalimat pertama yang harus dihafal oleh anak sekolah berusia lima tahun. Inilah pengakuan yang oleh Yesus dianggap sebagai “yang paling utama dari semua perintah” (Pinchas Lapide, Jewish Monotheism and Christian Trinitarian Doctrine, 1981:27)

    Konsep keimanan ini pulalah yang dipahami oleh murid-murid Yesus :

    Namun bagi kita hanya ada satu Ilah saja, yaitu Bapa … dan satu tuan saja yaitu Yesus Kristus …. (1Korintus 8:6)

    Oleh sebab itu, pada dasarnya Kekristenan adalah agama monoteis yang sama seperti agama Yahudi, sebab Kekristenan mengakui Bapa, yaitu yang disebut Allah oleh orang Yahudi (Yohanes 8:54).

    Yudaisme, lingkungan di mana orang-orang Kristen purba hidup dan berasal, senantiasa merupakan agama monotheisme yang kuat. Dari Yudaisme inilah Kekristenan mewarisi monotheisme (Lohse, 1994:47)

    Apa yang disebut sebagai doktrin Trinitas hingga hari ini, merupakan satu doktrin yang peristilahannya tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab. Bahkan perdebatan awal yang sangat panas antara kaum Athanasius dan Arius (Konsili Nicea, 325) tidaklah menyinggung mengenai ketritunggalan melainkan hanya mendebatkan tentang posisi Yesus terhadap Bapa. Doktrin Trinitas sendiri belum menemukan bentuknya yang utuh hingga abad ke-5 setelah disusunnya Kredo Athanasius di Perancis Selatan (bukan disusun oleh Athanasius dari Alexandria, hanya diambil dari nama yang sama).

    Tidak ada indikasi dalam Perjanjian Lama tentang pemisahan keilahan. Ini merupakan salah tempat untuk menemukan doktrin Inkarnasi Allah atau tentang hal-hal Trinitas dalam halaman-halamannya (Encyclopedia of Religion and Ethics, Clark, 1913, jilid 6:254).

    Kaum theolog hari ini telah setuju bahwa kitab-kitab orang Ibrani tidak berisikan doktrin Trinitas (The Encyclopedia of Religion, Eliade, 1987, 15:54).

    Doktrin trinitas tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama (New Catholic Encyclopedia, Pub. Guild, 1967:306)

    Kita harus jujur mengakui bahwa doktrin Trinitas tidak terbentuk sebagai bagian dari orang-orang Kristen mula-mula yang menuliskan Perjanjian Baru. Tidak ada jejak dari ide seperti ini dalam Perjanjian Baru. “Mysterium logicum” (pemikiran yang misterius) ini, bahwa Ilah itu tiga tetapi satu, berada sepenuhnya diluar pesan dari Alkitab. Ini adalah misteri yang Gereja letakkan dalam keimanan, tetapi tidak ada hubungan dengan ajaran Yesus dan murid-muridnya. Tidak ada satupun murid Yesus yang pernah bermimpi memikirkan bahwa ada tiga pribadi ilahi yang hubungan mutualnya dan kesatuannya menciptakan paradoks (pertentangan) yang di luar pengertian kita (Emil Brunner, Christian Doctrine of God, Dogmatics, 1950:205,226,238)

    Menuju ke Doktrin Trinitas

    Kekristenan mengalami penganiayaan yang hebat oleh para penguasa Romawi. Penganiayaan hebat terjadi pada zaman Kaisar Nero sampai Kaisar Diocletian. Tetapi setelah Kaisar Diocletian, muncul seorang Kaisar baru yaitu Kaisar Konstantin Agung yang menyadari bahwa Kekristenan telah merasuk masuk ke dalam kerajaannya dan akan sangat berbahaya untuk bermusuhan dengan Kekristenan. Maka pada tahun 314, Kaisar mengeluarkan Dekrit Toleransi Milan yang mengatur tentang agama Kristen sebagai agama resmi negara. Konstantin ingin menggunakan kekuatan agama Kristen untuk secara politis menyatukan Romawi. Pengaruh budaya Yunani (Helenisme) sangat kuat masuk ke dalam dunia Kekristenan.

    Maka refleksi dua tiga generasi Kristen pertama atas “fenomena” Yesus dan pengalaman umat Kristen sendiri terjadi dalam rangka alam pikir dan tradisi religius Yahudi, yang hanya sedikit terpengaruh oleh alam pikiran Yunani. Tetapi lama-kelamaan pengaruh alam pikiran Yunani bertambah besar. Sarana pemikiran yang awalnya Yahudi semakin menjadi Yunani. Maka iman kepercayaan Kristen yang mula-mula ditampung dalam gagasan dan istilah Yahudi lama-kelamaan dipindahkan kepada gagasan Yunani. Ada bentrokan antara alam pikiran Yahudi Kristen semula dengan alam pikiran Yunani Kristen kemudian, dan antara iman kepercayaan Kristen dan alam pikiran Yahudi dan Yunani (Groenen, 1987:36-37)

    Meski demikian, Kekristenan saat itu masih sangat didominasi oleh kaum Kristen unitarian yang “sampai awal abad ketiga masih merupakan mayoritas yang besar” (Encylopedia Britannica, Edisi 11, Vol 23, Hal 963).

    Kaisar Konstantin yang ingin menggunakan Kekristenan sebagai pemersatu politis Romawi merasa resah melihat perdebatan teologis yang telah mencapai rakyat jelata. Perdebatan besar terutama terjadi di gereja-gereja Mesir yang berpusat di kota Alexandria yaitu antara Uskup Agung Alexander dari Alexandria dan penerusnya Uskup Athanasius melawan Uskup Arius dari Alexandria yang didukung oleh Uskup Agung Eusebius dari Nicomedia. Maka Kaisar memutuskan diadakannya satu Konsili besar untuk memutuskan masalah-masalah teologis ini.

    Pada saat itu terdapat setidaknya 1800 orang Uskup Kristen, 1000 orang di wilayah Romawi Timur dan 800 orang di wilayah Romawi Barat. Tetapi apa yang dikatakan sebagai Konsili Ekumene Pertama di Nicea tahun 325 itu hanya dihadiri oleh 250 – 318 orang Uskup saja. Eusebius mencatat 250 Uskup, Athanasius mencatat 318 Uskup, dan Eusthatius dari Antiokia mencatat kehadiran 270 Uskup. Artinya jumlah yang sama sekali jauh dari jumlah keseluruhan Uskup yang ada.

    Uskup-uskup yang hadir terpecah dalam tiga golongan pemikiran yaitu kelompok homoousian yang menyatakan bahwa Yesus memiliki substansi yang sama (the same substance) dengan Bapa yang dipimpin oleh Uskup Alexander dari Alexandria, kelompok Arian yang menyatakan bahwa Yesus tidak mungkin sama substansinya, sekalipun sangat mulia, tetapi tetap adalah ciptaan Bapa dipimpin oleh Arius, dan kelompok yang ingin mencapai kompromi dengan menyatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah berbeda tetapi mirip (similar) disebut kelompok homoiousians.

    Pertemuan yang berlangsung sejak 20 Mei 325 itu baru dapat menghasilkan kesimpulan pada tanggal 19 Juni 325 setelah Kaisar Konstantin sendiri datang pada tanggal 14 Juni 325. Kaisar datang dengan membawa satu cohort (setara brigade) tentara Romawi. Konstantin kemudian menangkap Arius, dan kedua sahabatnya Theonas dan Secundus, para Uskup dari Libya dan mengasingkan mereka. Semua tulisan Arius dikabarkan dibakar, sekalipun tidak ada catatan resmi tentang pembakaran ini. Kesimpulan yang diambil pada tanggal 19 Juni 325 diikuti dengan kutukan (anatema) terhadap Arius dan para pendukungnya.

    Kaisar nekad. Rapat itu mesti meredakan ketegangan dan menghentikan pertikaian serta menghasilkan semacam asas tunggal yang harus diterima semua pihak berselisih …. Keputusan Konsili menjadi hukum negara. Arius dan uskup-uskup pembangkang dipecat dan dibuang ke pedalaman. Tulisan-tulisan Arius dibakar dan siapa yang mempunyai tetapi tidak menyerahkan terancam hukuman mati (Groenen, 1992:131)

    Kesimpulan konsili dibacakan oleh Hosius dari Cordoba yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah “Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah sebenarnya dari yang sebenarnya”. Bahwa Yesus Kristus bukan diciptakan tetapi sama kekalnya dengan bapa (co-substantial) dan berasal dari substansi yang sama (homoousius). Konsili juga memutuskan untuk mengganti perayaan Paskah dari Passover Yahudi kepada Easter. Motivasinya menurut catatan Theodoret adalah pendapat Kaisar untuk menjauhkan perayaan dari tradisi Paskah Yahudi yang telah menyalibkan Yesus Kristus pada hari raya mereka itu. Hal tentang Roh Kudus sama sekali tidak dibicarakan oleh Konsili.

    Konsili diakhiri dengan “pesta” bersama Kaisar Konstantin pada tanggal 25 Agustus 325. Tiga bulan kemudian dua uskup yang menyampaikan ide kompromi dan tidak sepenuh hati mendukung kredo Nicea yaitu Eusebius dari Nicomedia dan Theognius dari Nicea diasingkan juga.

    Tetapi Kaisar rupanya menyadari bahwa kaum Athanasian tidak mendapat simpatik penuh. Maka pada tahun 328, Kaisar mengijinkan pulang para uskup Unitarian (Arian dan Eusebian) yang diasingkan. Tahun 336 di kota Konstantinopel diadakan pertemuan Uskup se Romawi Timur yang memutuskan bahwa ajaran Arius benar dan ortodoks. Tahun 337, Kaisar Konstantin yang banyak bermain dalam penentuan keputusan di Konsili Nicea baru dibaptis menjelang ajalnya, bahkan Kaisar dibaptis oleh seorang uskup Unitarian yaitu Eusebius dari Nicomedia. Sungguh ironi.

    Athanasius yang menyadari bahwa sekarang dirinya berposisi kalah, melarikan diri dari Alexandria, Mesir ke Roma di kawasan Barat yang cenderung lebih mendukung konsep homoousius pada tahun 339. Tahun 341 di Antiokia disusunlah dokumen kredo Arian untuk menangkal kredo Nicea. Pada pertemuan tahun 343 di Sardica, uskup-uskup gereja di Romawi Timur menghendaki penyingkiran selamanya Athanasius dari kedudukan Uskup Alexandria. Tetapi Athanasius justru berhasil memainkan peran politisnya dan kembali menguasai Keuskupan Alexandria tahun 346. Keadaan belumlah tenang bagi kaum Athanasian ketika dalam pertemuan di Sirmium (357) dihasilkan kesimpulan bahwa Bapa lebih besar daripada Anak, dan dalam pertemuan di Antiokia (361) kesimpulan Arian dianggap benar.

    Keadaan baru benar-benar mantap bagi kaum pendukung ide homoousius ketika Kaisar Theodius I naik tahta dan mengadakan Konsili Konstantinopel tahun 381. Di bawah pengaruh Basil dari Kapadokia, Gregory dari Nissa, dan Gregory dari Naziansus maka Konsili memutuskan untuk merevisi kredo Nicea. Mereka memasukkan Roh Kudus sebagai “sang Tuhan, Pemberi Hidup, Yang ada dari Bapa, dan bersama dengan Bapa dan Anak, Dia harus disembah dan dimuliakan”. Kaisar kemudian mengeluarkan dekrit bahwa doktrin Trinitas ini adalah doktrin sah dari agama resmi Kekaisaran dan semua penjelasan harus mengacu daripadanya. Dekrit ini diikuti dengan kutukan terhadap semua penganut Arian dan penentang kepribadian Roh Kudus.

    Kenyataannya suku-suku di perbatasan wilayah Romawi masih menganut paham Unitarian. Orang-orang Gothic yang telah mencetak Alkitab mereka tahun 351, bersama dengan suku Heruli, Vandal, Suevi (Swiss) demikian juga dengan suku-suku Teutonic dan Jerman. Inilah yang akan memicu perang penyerbuan suku-suku “barbar” ke wilayah-wilayah Romawi.

    Doktrin trinitas belum benar-benar diterima secara luas, hingga akhirnya diadakan Konsili Kalkedon (451) untuk menekankan kembali keimanan kepada Trinitas dan dalam Konsili inilah ditetapkan bahwa Yesus adalah “impersonal human nature”. Yesus adalah Allah yang tinggal dalam tubuh manusia. Maka Trinitas menjadi iman sah agama negara Romawi, yaitu Kekristenan.

    Mencari Kembali Akar Iman Kristen

    Dengan melihat bahwa untuk menjadikan Yesus sebagai Ilah yang setara dengan Bapa dibutuhkan waktu hingga tahun 325 di bawah kekuatan cohort Romawi yang dipimpin Kaisar Konstantin; dan bahwa untuk menjadikan Roh Kudus, Ilah ketiga yang setara dengan Bapa dan Anak dibutuhkan waktu hingga tahun 381 di bawah ancaman Dekrit Kaisar Theodius I; dan bahkan untuk memantapkan Trinitas diperlukan waktu hingga tahun 451, yang itupun masih disertai dengan gempuran suku-suku barbar Unitarian yang memberontak terhadap Romawi; Maka perlu dilacak akar iman Kekristenan yang sesungguhnya.

    Ketika pikiran Yunani dan Romawi, bukannya alam pikir Yahudi, yang mendominasi Gereja, maka terjadilah bencana yang oleh karenanya Gereja tidak pernah pulih baik dalam pengajaran maupun praktek-prakteknya (H.L. Goudge, Judaism and Christianity)

    Seorang penulis yang lain Macculay menyatakan : “Di abad kelima masehi, Kekristenan telah menaklukkan kekafiran, dan kekafiran meracuni (menginfeksi) Kekristenan”.

    Sungguh merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi kita untuk menemukan kembali apa yang Yesus maksudkan dengan menyatakan : “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Ini adalah pernyataan iman yang murni dari Sang Mesias, dan bukan pernyataan iman yang dituliskan oleh para Teolog ratusan tahun setelah Yesus, yang sebenarnya mereka tidak pernah melihat Allah (Yohanes 1:18).

    Alkitab dan sejarah telah membuktikan kebohongan Trinitas dan mendukung Tauhid.

    (unitarian)

  • How the Gospel of Barnabas Survived?

    The Gospel of Barnabas was accepted as a Canonical Gospel in the Churches of Alexandria till 325 C.E. Iranaeus (130-200) wrote in support of pure monotheism and opposed Paul for injecting into Christianity doctrines of the pagan Roman religion and Platonic philosophy. He had quoted extensively from the Gospel of Barnabas in support of his views. This shows that the Gospel of Barnabas was in circulation in the first and second centuries of Christianity.
    In 325 C.E., the Nicene Council was held, where it was ordered that all original Gospels in Hebrew script should be destroyed. An Edict was issued that any one in possession of these Gospels will be put to death.

    In 383 C.E., the Pope secured a copy of the Gospel of Barnabas and kept it in his private library.

    In the fourth year of Emperor Zeno (478 C.E. ), the remains of Barnabas were discovered and there was found on his breast a copy of the Gospel of Barnabas written by his own hand. (Acia Sanctorum Boland Junii Tom II, Pages 422 and 450. Antwerp 1698) . The famous Vulgate Bible appears to be based on this Gospel.

    Pope Sixtus (1585-90) had a friend, Fra Marino. He found the Gospel of Barnabas in the private library of the Pope. Fra Marino was interested because he had read the writings of Iranaeus where Barnabas had been profusely quoted. The Italian manuscript passed through different hands till it reached “a person of great name and authority” in Amsterdam, “who during his life time was often heard to put a high value to this piece”. After his death it came in the possession of J. E. Cramer, a Councillor of the King of Prussia. In 1713 Cramer presented this manuscript to the famous connoisseur of books, Prince Eugene of Savoy. In 1738 along with the library of the Prince it found its way into Hofbibliothek in Vienna. There it now rests.

    Toland, in his “Miscellaneous Works” (published posthumously in 1747), in Vol. I, page 380, mentions that the Gospel of Barnabas was still extant. In Chapter XV he refers to the Glasian Decree of 496 C.E. where “Evangelium Barnabe” is included in the list of forbidden books. Prior to that it had been forbidden by Pope Innocent in 465 C.E. and by the Decree of the Western Churches in 382 C.E.

    Barnabas is also mentioned in the Stichometry of Nicephorus Serial No. 3, Epistle of Barnabas . . . Lines 1, 300.
    Then again in the list of Sixty Books
    Serial No. 17. Travels and teaching of the Apostles.
    Serial No. 18. Epistle of Barnabas.
    Serial No. 24. Gospel According to Barnabas.
    A Greek version of the Gospel of Barnabas is also found in a solitary fragment. The rest is burnt.

    The Latin text was translated into English by Mr. and Mrs. Ragg and was printed at the Clarendon Press in Oxford. It was published by the Oxford University Press in 1907. This English translation mysteriously disappeared from the market. Two copies of this translation are known to exist, one in the British Museum and the other in the Library of the Congress, Washington, DC. The first edition was from a micro-film copy of the book in the Library of the Congress, Washington, DC.

    (barnabas.net)

  • Abtarkah Nabi Muhammad?

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Ahzab (33): 40]

    Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah SAW menikah dengan Zainab, banyak orang ribut memperbincangkannya: “Muhammad menikah dengan bekas isteri anaknya.” Maka turunlah ayat ini (QS. Al-Ahzab: 40) yang menegaskan bahwa Zaid itu bukan putera Rasulullah. [Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dari ‘Aisyah]

    Jadi yang dimaksud “seorang laki-laki di antara kamu” adalah seorang laki-laki di antara shahabat, yaitu Zaid bin Haritsah yang diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Nabi Muhammad itu abtar (terputus keturunannya).

    Bantahan Allah

    Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. [QS. Al-Kautsar (108): 3]

    Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa qaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki itu berarti putus keturunan (abtar). Ketika putera Rasulullah SAW meninggal, maka al-‘Ashi bin Wa`il mengatakan bahwa keturunan Muhammad telah terputus. Maka turunlah ayat “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” sebagai bantahan terhadap ucapannya itu. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari as-Suddi. Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa putera Rasulullah yang meninggal itu adalah al-Qasim]

    Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Ibrahim, putera Rasulullah SAW, wafat, maka orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang yang murtad itu telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” yang membantah ucapan mereka. [Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Abu Ayyub]

    Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Ibrahim, putera Rasulullah SAW, wafat, maka qaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” Hal ini menyebabkan nabi SAW bersedih hati. Maka turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” sebagai penghibur baginya. [Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Juraij]

    Sungguh disayangkan jika ada orang-orang Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah abtar. Betapa tega mereka membuat Nabi bersedih hati. Masihkah orang-orang yang membuat Nabi bersedih hati melalui perkataan jahat mereka bahwa Nabi telah abtar itu disebut sebagai pengikut salafush shalih? Sungguh mereka tak pantas menyandang gelar itu sama sekali. Mereka bukanlah pengikut salafush shalih. Salafush shalih yang mana yang telah tega menyebut Nabi sebagai al-Abtar?

  • Liem Tjeng Lie Ikut Tahlilan

    Berikut ini adalah pengakuan seorang muallaf yang kami ambil dari salah satu mailing list di yahoo!groups.

    Assalammualaikum wr wb

    Selamat pagi Mas Dianda, saya adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga
    seorang muallaf, sebelum kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama
    Islam kami adalah seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah
    Ketua Mudika (Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami
    dipertemukan disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di
    Gereja
    Pergantian agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui
    pertimbangan yang cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998.

    Awal perkenalan saya dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda
    Kakak ipar saya ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk
    mendoakan almarhum kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf,
    satu-satunya anggota keluarga istri saya yang masuk Islam karena
    pernikahannya dengan seorang gadis Minang)
    Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz yang memimpin doa saat itu
    menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan agar suatu saat kelak ada
    keluarga dari almarhum yang akan mengikuti jejak almarhum untuk menjadi
    muslim, untuk membantu mendoakan almarhum. Kata-kata yang diucapkan oleh
    Pak ustadz, menggetarkan hati saya seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke
    saya, walaupun saat itu hadir anggota keluarga lain yang non muslim.

    Singkat cerita, ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama
    Islam semakin hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang
    Islam dan menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang
    muslim walaupun hanya dalam mimpi. Suatu hari saya utarakan keinginan saya
    untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya ” kamu
    mau menikah lagi apa ? “, saya jelaskan bahwa keinginan saya untuk masuk
    islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak hati yang terus
    mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama katholik yang saya
    yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa saya.
    Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan akhirnya ia berkata ” ok
    kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu anak-anak sudah besar jadi tunggu
    pensiun dan tinggal di kampung, kalau dikucilkan keluarga sudah tidak
    masalah lagi “.

    Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan
    hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam
    agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT,
    Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa
    saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan
    berbunyi “Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun”
    jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil
    di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti
    harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )

    Maksudnya, “Innamaa amruhuu idzaa arooda syay`an ayyaquula lahuu kun fa yakuun”, yaitu YaaSiin ayat 82.

    Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan “Bintang”, di salah satu
    cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke
    dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud.
    Istri saya lalu menyampaikan kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan
    : ” Coba kamu puasa Nabi Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga
    menjadi muslimah”, lalu saya tanya: “Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?”
    istri lalu menerangkan bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan
    secara berselang, sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.
    Dan karena tekad saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena
    saya pernah membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman,
    maka bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad
    yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.

    Alhamdulillah 1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya
    pun tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah
    pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika
    istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak terlintas
    dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara Islam dengan
    menggunakan mukenah.
    Dan keesokan paginya istri saya langsung menceritakan kejadian malam itu
    dan mengatakan kepada saya untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi
    warga keturunan Cina yang ingin masuk Islam.
    Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga keturunan yang ingin masuk
    Islam. Akhirnya saya dan istri berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl
    Lautze Pasar Baru. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif
    Tanudjaya (sekarang Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA). Ada satu
    statemen dari Bp Syarif yang semakin menggugah hati istri saya untuk segera
    bersahadat, yaitu ketika istri saya mengatakan ” saya mau masuk islam tapi
    saya mau belajar dulu” dengan bijaksana Pak Syarif mengatakan ” Proses
    belajar di Islam itu tidak pernah akan habis, bahkan kita berkewajiban
    untuk terus belajar hingga kita ke liang lahat, kalau diwaktu anda belajar
    dan anda belum menjadi Islam, alangkah sayangnya jika kita meninggal dalam
    keadaan belum memeluk agama Islam” .
    Alhamdulillah, satu minggu setelah pertemuan itu (1 April 1998) akhirnya
    kamipun bersahadat di Masjid Lautze.

    Betapa besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami
    sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah yang
    telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin sekali
    mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang agama Islam
    yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang sangat lengkap bagi
    kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di akhirat.

    Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti saya menghapus
    seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik), tetapi kepindahan ini
    merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama yang lalu, dan merupakan
    penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa yang telah di putar balikan
    oleh pengikutNya.

    Semoga kisah singkat saya ini dapat membuka mata hati kekasih Mas Dianda
    untuk menerima Hidayah Allah SWT.

    Wassalammualaikum wr wb
    Moh Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie)

  • Apa yang Diinginkan Zionist?

    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah: 79]

    Bani Israil bukan saja mengubah ayat-ayat Allah, tetapi juga terkadang menulis sesuatu yang bukan firman Allah lalu dikatakannya bahwa itu adalah dari Allah atau mereka katakan bahwa si pengarang mendapat ilham atau inspirasi dari Allah. Di antara ayat-ayat yang mencurigakan itu adalah yang terdapat pada kitab Amos.

    1:1 Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa, tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, raja Israel, dua tahun sebelum gempa bumi.
    1:2 Berkatalah ia: “TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel.”
    1:3 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Damsyik, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah mengirik Gilead dengan eretan pengirik dari besi,
    1:4 Aku akan melepas api ke dalam istana Hazael, sehingga puri Benhadad dimakan habis;
    1:5 Aku akan mematahkan palang pintu Damsyik dan melenyapkan penduduk dari Bikeat-Awen serta pemegang tongkat kerajaan dari Bet-Eden; dan rakyat Aram harus pergi sebagai orang buangan ke Kir,” firman TUHAN.
    1:6 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Gaza, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah mengangkut ke dalam pembuangan suatu bangsa seluruhnya, untuk diserahkan kepada Edom,
    1:7 Aku akan melepas api ke dalam tembok Gaza, sehingga purinya dimakan habis;
    1:8 Aku akan melenyapkan penduduk dari Asdod dan pemegang tongkat kerajaan dari Askelon; Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Ekron, sehingga binasalah sisa-sisa orang Filistin,” firman Tuhan ALLAH.
    1:9 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Tirus, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah menyerahkan tertawan suatu bangsa seluruhnya kepada Edom dan tidak mengingat perjanjian persaudaraan,
    1:10 Aku akan melepas api ke dalam tembok Tirus, sehingga purinya dimakan habis.”
    1:11 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Edom, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena ia mengejar saudaranya dengan pedang dan mengekang belas kasihannya, memendamkan amarahnya untuk selamanya dan menyimpan gemasnya untuk seterusnya,
    1:12 Aku akan melepas api ke dalam Téman, sehingga puri Bozra dimakan habis.”
    1:13 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat bani Amon, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri,
    1:14 Aku akan menyalakan api di dalam tembok Raba, sehingga purinya dimakan habis, diiringi sorak-sorai pada waktu pertempuran, diiringi angin badai pada waktu puting beliung;
    1:15 dan raja mereka harus pergi sebagai orang buangan, ia bersama-sama dengan pembesar-pembesarnya,” firman TUHAN.

    Hadad adalah putera Ismail. Ben Hadad adalah keturunan Hadad. Edom adalah Esau, saudara Yaqub.
    Téman adalah putera Elifas bin Esau bin Ishaq. Bani Amon adalah keturunan Luth. Jadi bisa disimpulkan bahwa semua itu adalah non-Yahudi. Betapa berambisinya Zionist ini untuk melibas bangsa-bangsa non-Yahudi (Ghoyim/Gentile). Dan untuk itu mereka mengarang dan berdusta dengan menggunakan Nama Tuhan.

    Termasuk yang ingin mereka habisi adalah Filistin (Palestina). Mereka, dengan didasari kitab palsu mereka, tak akan melepaskan Palestina begitu saja. Demi ambisi dan dendam kesumat mereka terhadap Filistin, mereka berani berdusta dan membuat ayat-ayat palsu dan berkata bahwa ayat-ayat itu merupakan inspirasi dari Tuhan, padahal bukan.

    Mereka adalah serigala-serigala yang siap menerkam siapa pun di luar kelompok mereka. Protocols of Zion telah membuka segala kebejatan mereka. Mereka juga yang telah menyusupkan agen mereka ke tengah-tengah pengikut Nabi Isa dan melahirkan ajaran Kristen. Lihatlah keberhasilan mereka. Dengan bangganya orang-orang Kristen menganggap bahwa Kitab Amos ini adalah firman Tuhan. Mereka telah dibohongi Yahudi dengan telak. Bahkan ketika agen Yahudi berkata bahwa rencana bejat Yahudi untuk membunuh Nabi Isa adalah untuk menyelamatkan mereka, mereka pun percaya. Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini inspirasi dari Allah” hanya untuk mendapatkan segala kekuasaan dan keni’matan duniawi semata. Celakalah mereka karena telah membeli dunia ini dengan akhirat!

    Jika Anda mempunyai segunung emas, lalu Anda menukar segunung emas itu dengan segenggam perak, apakah Anda beruntung ataukah Anda termasuk orang yang sangat-sangat merugi? Celakalah mereka karena ambisi mereka terhadap keuntungan yang sedikit berupa kehidupan duniawi yang sementara, hingga mereka tak memperdulikan keuntungan akhirat yang kekal selamanya. Demi keuntungan yang sedikit ini mereka telah berani berdusta dengan Nama Tuhan dan berbuat kejahatan yang nyata. Sungguh mereka telah sangat-sangat merugi dan celaka akibat perbuatan mereka sendiri.

  • Ya Habibi Ya Sayyidi

    Ya habibi, ya sayyidi
    Wahai kekasihku, wahai tuanku
    Nasabmu dibuang oleh Yahudi
    Namun engkaulah batu penjuru

    Wahai Nabi yang tinggi derajat
    Cahayamu berkelana berabad-abad
    Dari sulbi suci ke sulbi suci
    Dari rahim suci ke rahim suci

    Cahayamu menghias wajah Adam yang mulya
    Juga pada Abdullah putera Shoyba
    Terkandung dalam rahim Hawa
    hingga lahir dari rahim Aminah
    ketika ada kilauan seperti cahaya
    nur dari sisi-Nya

    Habibana wa Sayyidina
    Dialah penakluk segala bangsa
    Padamlah api majusi di hari lahirnya
    Tanda runtuhnya Kisra Persia

    Awan bergerak menaunginya
    Pohon merunduk menghormatinya
    Kagumlah Bukhaira pada Ahmada
    Nabi yang mulya dari Arabia

    Mereka meminta sebuah tanda
    maka matahari dan bulan datang kepadanya
    Terbelah pula bulan purnama
    Bekasnya masih terlihat nyata

    Syariatnya berlaku hingga akhir dunia
    Mengajak ummat agar bertaqwa
    Keselamatan dan kesejahteran dari Tuhannya
    tercurah berlimpah bagi Ahmada

    Tak malu duduk berama masakin
    Dialah kekasihku Muhammadin
    Sayyidul Anbiya’i wal Mursalin
    Orang terpercaya berjuluk Al-Amin

    Adam Ibrahim berkata, “Anakku”
    Musa dan Harun berkata, “Saudaraku”
    Daud Sulaiman berkata, “Tuanku”
    Allah Ar-Rahman berfirman, “Rasul-Ku”

    Wajahnya bagai bulan purnama
    Bundar bercahaya sungguh mempesona
    Giginya putih bagai mutiara
    Keringatnya wangi tiada duanya

    Putih bersih dan merah cerah kekasihku
    menyolok mata di antara selaksa orang

    Hitam bagai gagak rambut kekasihku
    bagai kawanan domba yang turun bergelombang

    Dia berhijrah bersama shahabatnya
    Menuju negeri Bani Taima
    seorang pangeran Ismail yang perkasa

    Penduduk Taima menanti kedatangannya
    Kapankah dia tiba?
    Mereka menanti dengan setia
    Berharap dan mengawasi dengan seksama

    Hai penduduk tanah Taima, keluarlah
    bawalah air kepada orang yang haus
    berikan roti kepada orang pelarian dan sambutlah
    Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang yang terhunus

    Setelah satu periode masa kerja prajurit upahan
    Tuan manusia bersama sepuluh ribu orang kudus
    pergi menuju tanah kelahiran
    Tunduk kepadanya kaum Quraisy
    Tanpa darah, tanpa perlawanan
    Tak ada dendam yang ingin ia tebus

    Dengarlah hai manusia
    Tuanmu telah berbicara
    Diwariskannya Al-Qur`an dan Sunnah
    Maka bergabunglah engkau bersama jama’ah

  • WE WILL NOT GO DOWN

    (Song for Gaza)
    Composed by Michael Heart
    Copyright 2009

    A blinding flash of white light
    (Cahaya putih yang membutakan mata)
    Lit up the sky over Gaza tonight
    (Menyala terang di langit Gaza malam ini)
    People running for cover
    (Orang-orang berlarian untuk berlindung)
    Not knowing whether they’re dead or alive
    (Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati)

    They came with their tanks and their planes
    (Mereka datang dengan tank dan pesawat)
    With ravaging fiery flames
    (Dengan berkobaran api yang merusak)
    And nothing remains
    (Dan tak ada yang tersisa)
    Just a voice rising up in the smoky haze
    (Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Women and children alike
    (Wanita dan anak-anak)
    Murdered and massacred night after night
    (Dibunuh dan dibantai tiap malam)
    While the so-called leaders of countries afar
    (Sementara para pemimpin nun jauh di sana)
    Debated on who’s wrong or right
    (Berdebat tentang siapa yg salah & benar)

    But their powerless words were in vain
    (Tapi kata2 tak berdaya mereka sedang dalam kesakitan)
    And the bombs fell down like acid rain
    (Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam)
    But through the tears and the blood and the pain
    (Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit)
    You can still hear that voice through the smoky haze
    (Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Listen the song

  • WE WILL NOT GO DOWN

    (Song for Gaza)
    Composed by Michael Heart
    Copyright 2009

    A blinding flash of white light
    (Cahaya putih yang membutakan mata)
    Lit up the sky over Gaza tonight
    (Menyala terang di langit Gaza malam ini)
    People running for cover
    (Orang-orang berlarian untuk berlindung)
    Not knowing whether they’re dead or alive
    (Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati)

    They came with their tanks and their planes
    (Mereka datang dengan tank dan pesawat)
    With ravaging fiery flames
    (Dengan berkobaran api yang merusak)
    And nothing remains
    (Dan tak ada yang tersisa)
    Just a voice rising up in the smoky haze
    (Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Women and children alike
    (Wanita dan anak-anak)
    Murdered and massacred night after night
    (Dibunuh dan dibantai tiap malam)
    While the so-called leaders of countries afar
    (Sementara para pemimpin nun jauh di sana)
    Debated on who’s wrong or right
    (Berdebat tentang siapa yg salah & benar)

    But their powerless words were in vain
    (Tapi kata2 tak berdaya mereka sedang dalam kesakitan)
    And the bombs fell down like acid rain
    (Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam)
    But through the tears and the blood and the pain
    (Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit)
    You can still hear that voice through the smoky haze
    (Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal)

    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In the night, without a fight
    (Di malam hari, tanpa perlawanan)
    You can burn up our mosques and our homes and our schools
    (Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami)
    But our spirit will never die
    (Tapi semangat kami tidak akan pernah mati)
    We will not go down
    (Kami tidak akan menyerah)
    In Gaza tonight
    (Di Gaza malam ini)

    Listen the song