Alang-alang, tumbuhan yang sering diabaikan, tetapi sangat berkhasiat untuk panas dalam, sariawan, bahkan asam urat. Alang-alang juga berguna untuk pelembut kulit; peluruh air seni, pembersih darah, penambah nafsu makan, penghenti perdarahan. Di samping itu dapat digunakan pula dalam upaya pengobatan penyakit kelamin (kencing nanah, kencing darah, raja singa), penyakit ginjal, luka, demam, tekanan darah tinggi dan penyakit syaraf. Semua bagian tumbuhan digunakan sebagai pakan hewan, bahan kertas, dan untuk pengobatan kurap. (lebih…)
Blog
-
Alang-Alang dan Sariawan
-
Kemunculan Dajjal
Sabda Rasulullah saw :
“Tiada akan datang hari kiamat hingga dimunculkan dajjjal-dajjal pendusta, sekitar tiga puluh jumlahnya, kesemuanya mengaku sebagai utusan Allah, dan hingga tercabutnya ilmu, dan kerap kalinya gempa bumi, dan semakin dekatnya waktu, dan munculnya fitnah-fitnah, dan banyaknya pembunuhan, dan kemudian berlimpahnya harta pada kalian.” (Shahih Bukhari)Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Limpahan puji kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur,Yang Maha Bercahaya Menerangi alam semesta dengan cahaya rahmat-Nya yang fana dan yang abadi. Cahaya rahmat-Nya yang fana menerangi seluruh alam semesta, cahaya rahmat-Nya yang kekal dan abadi menerangi wajah muslimin dan muslimat dengan kalimat tauhid. Menerangi jiwa mereka dengan ketaatan dan menerangi hari-hari mereka dengan pengampunan.
Maha suci Allah SWT Yang Maha Luhur, Maha Abadi, Maha Sempurna dan Maha Memiliki Kesempurnaan Maha Memiliki Kebahagiaan, Maha Memiliki Kesejahteraan, Maha Membagi-bagikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Beruntunglah mereka yang semakin dekat kepada Allah SWT, maka mereka semakin dekat kepada Sang Pemilik Kebahagiaan. Mereka semakin berhak mendapatkan kesejahteraan, mereka semakin berhak mendapatkan kemudahan, mereka selalu dimanjakan oleh Allah SWT di dunia, di barzakh dan di Yaumal Qiyamah.
Demikian keadaan hamba-hamba Allah SWT. Mereka melewati cobaan dan musibah. Maka setelah cobaan dan musibah, akan datang kebahagiaan berlipat ganda yang membuat mereka lupa akan musibahnya. Jika datang musibah lainnya, Allah SWT akan gantikan dengan kebahagiaan yang lebih besar yang membuat mereka lupa lagi dengan musibahnya yang lalu. Inilah kehidupan mereka di dunia dan lebih-lebih lagi kehidupan mereka di akhirat, yaitu kebahagiaan yang tiada akan pernah ada akhirnya.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah,
rahasia rahmat Ilahi ini tumpah ruah dengan kebangkitan Nabi kita, idola kita, kekasih kita Sayyidina Muhammad SAW yang mana bulan Sya’ban yang mulia ini merupakan salah satu daripada bentuk rahmat-Nya yang menuntun kita kepada cinta kita kepada Sayyidina Muhammad SAW. Karena di bulan inilah turunnya firman Allah SWT, “Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alan Nabiy.” Sungguh Allah dan para malaikat melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu Allah SWT menyeru kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk selalu bershalawat dan bersalam kepada Sang Nabi SAW.Adakah kebanggaan yang lebih besar daripada langsung disebut oleh Allah bahwa sungguh Allah dan para malaikat melimpahkan shalawat kepada beliau? Betapa bercahayanya wajah Sang Nabi SAW yang diterangi oleh cahaya shalawat dari Allah SWT dan para malaikat. Betapa terang-benderangnya jiwa beliau, betapa indah dan mulianya derajat beliau yang sedemikian dahsyatnya dimuliakan oleh Allah Swt dan “seseorang itu bersama dengan orang yang dia cintai.”
Sang Nabi SAW yang diberi kemuliaan oleh Allah SWT membukakan pintu-pintu bagi umat-Nya untuk ingin dekat dengan Allah SWT, ingin sampai kepada kemuliaan, ingin sampai kepada keluhuran, terbukalah bagi mereka pintu cinta, pintu ittiba dan bagi merekalah terbuka pintu rahasia untuk kedekatan ke hadirat Allah SWT dan Rasul SAW yaitu dengan mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Kekurangan-kekurangan yang muncul dari perbuatan mereka tidak menjadikan cinta dan rindu mereka kepada Allah SWT dan Rasul SAW itu tidak diakui atau tertolak.
Demikian indahnya cinta dan rindu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Berbeda dengan cinta dan rindu kepada sesama makhluk. Jika ada kekurangan dari cinta dan rindunya, sedemikian pula cinta dan rindunya akan sirna dan tertolak hanya gara-gara barangkali ada satu atau dua kesalahan. Namun cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, walau terdapat kekurangan dari yang mengaku cinta, tetap cintanya itu diterima.Dan berbeda pula dengan Sang Nabi untuk Rabbul alamin, Sayyidina Muhammad SAW, yang cinta dari batu sekalipun masih diterima oleh beliau. Cinta dari gunung pun masih diterima oleh beliau sebagaimana riwayat Shahih Bukhari bahwa Rasul SAW bersabda, “Ini gunung Uhud mencintaiku dan aku mencintai gunung Uhud.” Tentunya gunung pun diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mencintai Nabi Muhammad SAW, butiran-butiran kerikil dan batu itu pun diberi kesempatan oleh Allah untuk mencintai Sang Nabi. Demikian pula batang pohon kurma, demikian pula dengan kota di Madinah dan semua hewan dan makhluk-Nya diberi kesempatan untuk mengidolakan dan mencintai Sang Nabi dan Sang Nabi menjawab cinta mereka seraya bersabda “dan akupun mencintai gunung uhud”.
Ya Rasulullah, ini hanyalah gumpalan batu yang tidak bermakna untukmu. Tetapi ketika dia mencintai beliau SAW, seindah-indahnya makhluk Allah, makhluk yang paling ramah, makhluk yang paling indah budi pekertinya, makhluk yang tidak mau mengecewakan perasaan siapapun, maka gumpalan batu inipun diterima cintanya oleh Rasul SAW dan dijawab oleh Rasul Saw “dan kami pun mencintai gunung uhud”.
Diriwayatkan pula di dalam Shahih Bukhari yang sering kita dengar, ketika batang pohon kurma ditinggal oleh Sang Nabi yang biasa bersandar padanya disaat berkhutbah maka saat itu batang pohon kurma itu menjerit dengan jeritan yang menyayat hati. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari bahwa jeritan dan tangisan pohon kurma itu terdengar bagaikan jeritan sang bayi yang ditinggal oleh ibunya dan Sang Nabi turun dari mimbar, mendatangi pohon kurma itu dan memeluknya. Batang pohon itu dipeluk oleh semulya-mulya makhluq. Setelah itu tangisnya pun mereda bagaikan bayi ketika dipeluk oleh ibunya dan tersendat-sendat. Terisak-isak menahan tangis karena telah ditenangkan oleh Rasul sampai perlahan-lahan suara tangisnya semakin pelan dan terdiam. Bagaikan bayi yang kehilangan ibunya dan dipeluk dan didekap oleh ibunya sampai masih terisak-isak, sesaat kemudian tangisnya terdiam.
Demikian keadaan batang pohon kurma, cinta dan tangisnya karena Nabiyyuna Muhammad SAW berpisah dengannya. Biasanya Sang Nabi bersandar padanya setiap khutbah, sekali waktu beliau berpisah maka batang pohon kurma itu menangis. Dan Sang Nabi, wahai yang demikian indah dicipta oleh Allah sebagai raufurrahiim, tidak pula mengecewakan daripada batang pohon kurma yang mencintainya, beliau turun dan memeluk batang pohon kurma itu dan menenangkannya.
Al Imam Ibn Hajar meriwayatkan salah satu hadits shahih menukil di dalam Fathul Baari bahwa Rasul berkata, “Seandainya aku tidak menenangkannya, ia akan terus menjerit hingga yaumil qiyamah.” Tangisnya didengar oleh jumlah shahabat yang mutawatir, lebih dari 80 sahabat yang mendengar jerita dan tangis batang pohon kurma ini.
Demikian hadirin-hadirat, indahnya alam semesta mencintai Sayyidina Muhammad SAW. Demikian kemesraan mereka kepada Sang Nabi. Demikian pula seekor hewan besar di Madinah Al Munawwarah, sebagaimana diriwayatkan di dalam Sirah Ibn Hisyam ketika unta terbesar di Madinah mengamuk. Kita memahami, unta itu kalau berdiri perutnya lebih tinggi dari kepala kita, itu unta biasa. Bagaimana kalau unta besar? 1400 tahun yang silam di Madinah Al Munawwarah, unta ini mengamuk dan tidak diketahui sebabnya. Para sahabat menjebaknya di dalam salah satu kandang besar, lantas ketika Rasul SAW dikabari dan beliau mendatangi lalu berkata, “Bukakan pintu yang menjebaknya ini.” Lalu dikatakan kepada Rasul, “Ya Rasulullah dia ini sedang dalam keadaan mengamuk dan sedang marah, mulutnya yang berbusa dan matanya yang merah ini bias membunuh siapa saja dan jangan-jangan dia mencelakaiku.” Rasul SAW berkata, “Bukakan, bukakan. Biarkan ia mengetahui bahwa aku Rasulullah.” Maka ketika dibukakan pintu itu, unta melihat wajah Muhammad SAW. Maka unta itu berlari tertunduk-tunduk menciumi kaki Nabi Muhammad Saw. Yang demikian buas dan marahnya, ketika melihat wajah terindah ini, seindah-indahnya wajah yang paling berhak dicintai, ternyata unta ini memiliki kecintaan, kemuliaan dan kerinduan kepada Sang Nabi seraya berlari mendekat tertunduk-tunduk kepalanya dan mencium kaki Sang Nabi lantas ia mendekatkan wajah dan mulutnya ke telinga Sang Nabi, maka Rasul SAW mendekatkannya. Kemudian Rasul SAW berkata, “Siapa pemilik unta ini?” Salah seorang sahabat Anshar berkata, “Aku ya Rasulullah!” Lalu Rasul berkata kepada shahabat tersebut, “Ia mengadu kepadaku bahwa ia mengamuk karena terlalu banyak disuruh bekerja dan sedikit diberi makan.” Unta ini mengadu kepada Rasulullah SAW.
Inilah hewan dan tumbuhan yang sangat mencintai Sang Nabi. Lebih-lebih cintanya para sahabat Muhajirin dan Anshar ra kepada Sang Rasul SAW. Sebagaimana riwayat Sirah Ibn Hisyam ketika salah seorang wanita dari bani dinar, ketika kembali Sang Nabi dari perang uhud, mendengar kabar suaminya wafat, kakaknya wafat, anaknya wafat, ayahnya wafat, semua keluarga ibu ini wafat dalam syahid di perang uhud. Dikabarkan kepadanya, “Ayahmu wafat, anakmu wafat, kakakmu wafat, suamimu wafat.” Tinggallah ia sebatang kara. Ibu ini bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Dijawab, “Rasulullah sehat wal afiah.” Ibu ini datang melihat bagaimana keadaan Sang Nabi dan barangkali juga ingin mengadu kesedihannya, sebatang kara ditinggal semua keluarganya yang wafat di perang uhud. Namun ketika melihat wajah Sang Nabi, ibu itu mengangkat suara di tengah para sahabat, “Semua musibah, asalkan kau baik dan sehat wal afiah, semua musibah adalah kecil di hadapanku ya Rasulullah.” Biarpun ayah, suami, anak, kakak dan seluruh keluarga wafat, asalkan kau baik dan sehat wal afiah. Demikian cintanya seorang wanita Anshar kepada Nabi Muhammad SAW.
Juga diriwayatkan ketika seorang shahabat ditangkap dan ia sampai dibawa oleh Abu Sofyan sebelum Abu Sofyan masuk Islam maka berkata Abu Sofyan, “Wahai kamu, kini Muhammad sedang tenang-tenang di rumah bersama keluarganya, dan sebentar lagi istrimu jadi janda dan anakmu jadi yatim. Ayo, mau kau tukar posisimu dengan Muhammad saat ini?” Maka ia berkata, “Demi Allah, kalau seandainya aku harus wafat dan selesai seluruh permasalahanku ini, aku dibunuh dan dikuliti itu jauh lebih kupilih dari sebutir duri menusuk kaki Rasulullah Saw.” Demikian cintanya mereka kepada Nabiyyuna wa Syafiuna Muhammad SAW.
Hadirin-hadirat, keberkahan itu tidak sirna. Dan sampailh kita di bulan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Mengingat peristiwa-peristiwa agung di Madinah Al Munawwarah dan Rasul SAW menjadikan keberkahan berlanjut dan Allah memberi keberkahan pada Sang Nabi tidak hanya di saat beliau hidup, tetapi bekas-bekas peninggalan beliau diabadikan oleh Allah SWT keberkahannya.
Sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari ketika di Madinah Al Munawwarah, Rasulullah SAW bersabda, “Kelak di akhir zaman akan muncul dajjal yang akan terus menyerang semua pihak dan semua tempat sampai ia di Madinah Al Munawwah dan dajjal tidak bisa masuk ke Madinah Al Munawwarah.”Sampai di sini Rasul SAW berkata, “Maka akan berguncang Madinah dengan 3 kali gempa.” Madinah tidak pernah gempa. Sepanjang Rasul SAW masuk ke Madinah Al Munawwarah di hari hijrah sampai akhir zaman, Madinah tidak pernah gempa, terkecuali saat itu, saat datangnya dajjal ke depan Madinah Al Munawwarah. Disaat itu Madinah gempa dengan 3 kali guncangan, maka keluarlah semua orang kafir dan munafiq. Maka berkata Imam Ibn Hajar di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari bahwa di saat itu semua Rasul mengatakan munafik, fasiq, kafir, semua keluar dari Madinah kecuali orang-orang mukhlisin, orang-orang yang mencintai Rasul SAW tidak bergeming dari Madinah Al Munawwarah. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini banyak orang musyrik, fasiq, ada di Madinah dan mereka akan keluar di saat guncangan 3 kali sehingga mereka keluar diikuti dajjal, kata Sang Nabi SAW. Rasul Saw berkata, “Di saat itulah Dajjal membawa pasukannya mengepung Madinah Al Munawwarah.”
Imam Ibn Hajar menukil salah satu hadits dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari dengan sanad yang shahih bahwa Rasul Saw menjelaskan dajjal itu berkata, “Itu Masjid Muhammad, itu Masjid Nabawiy yang harus kita kuasai. Itu masjid Muhammad.” Dari kejauhan Dajjal sudah menunjuknya. Kubah hijau Masjid Rasul SAW telah ditunjuk oleh Dajjal dan berkata, “Itu Masjid Muhammad, itu Masjid Muhammad, kita harus sampai kesana.”
Lantas Rasul Saw bersabda sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, “Disaat itu Madinah mempunyai 7 pintu.” Siapa yang memberi beliau pengetahuan Madinah modern seperti sekarang ini yang mempunyai 7 pintu. Beliau berkata 7 pintu Madinah Al Munawwarah dan disetiap pintunya dijaga oleh 2 malaikat sehingga Dajjal tidak bisa masuk ke dalamnya.Kita bisa lihat bagaimana keberkahan bekas tempat injakan Sayyidina Muhammad SAW menjadi benteng terkuat yang tidak bisa ditembus oleh Dajjal. Demikian hadirin-hadirat, Dajjal yang demikian hebat kekuatannya, bisa berbuat apa saja, menurunkan hujan, membawa kemiskinan, membawa kekayaan dan menguasai seluruh permukaan bumi, namun ia terbentur di Makkah, Madinah dan Masjid Al Aqso. Ketiga tempat ini tidak bisa disentuh oleh Dajjal. Dajjal tidak bisa masuk ke Masjidil Haram, tidak bisa masuk ke Masjidil Al Aqso dan tidak bisa masuk ke Madinah Al Munawwarah. Tempat-tempat bekas injakan kaki Muhammad Rasulullah SAW. Maka tempat lahir beliau di Makkah, tempat wafat beliau di Madinah, tempat beliau Isra’ Mi’raj di Masjid Al Aqso. Kalau seandainya bumi bekas pijakan beliau seperti ini, bagaimana jiwa yang mencintai Sayyidina Muhammad, umat Muhammad SAW. Sebagaimana aku dan kalian yang gembira di majelis ini dengan shalawat dan salam kepada Nabiyyuna Muhammad Saw dan tiada pernah bosan kita untuk selalu berdzikir dan bershalawat mendengarkan hadits-hadits Nabiyyuna wa Syafiuna Muhammad SAW.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari sebagimana hadits yang baru saja kita baca tadi, Rasul SAW berkata, “Tidak akan datang hari kiamat,” maksudnya salah satu tanda dari hari kiamat yaitu, “sampai munculnya 30 dajjal,” dajjal -dajjal pendusta, kira-kira jumlahnya 30. Maksudnya jumlahnya bisa lebih atau kurang dari 30. Disini menunjukkan ada ikhtilaf mengenai jumlah dajjal-dajjal yang akan datang ke muka bumi. Tadi apa ciri-ciri mereka? Semuanya itu mengaku Nabi, itu ciri dajjal-dajjal pendusta. Itu kalau kita hitung jumlahnya, kata Rasul SAW, kira-kira 30. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW. Kita sudah lihat sekarang, walaupun kita belum menghitungnya, di Indonesia sudah sedemikian banyaknya, ada juga di India, Pakistan, Yordan, Saudi dan dimanapun banyak yang mulai mengaku sebagai Nabi. Dan ini tanda-tanda hari kiamat, kata Sang Nabi. Dan mereka digelari dajjal-dajjal pendusta. Yang dimaksud bukanlah Dajjal yang paling besar yang kelak muncul di akhir zaman.
Mengawali kebangkitan Sayyidina ‘Isa bin Maryam as dan di saat itu mulai tercabutlah ilmu, di saat itu ilmu mulai sirna, ulama mulai wafat. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari yang sering kita dengar bahwa Allah itu akan menghilangkan ilmu tidak dengan mencabutnya dari hati para ulama akan tetapi Allah akan menghilangkan ilmu dengan mewafatkan ulama, peringatan bagi kita untuk membangkitkan generasi para ulama lagi. Agar apa? Agar Allah menjauhkan kita dari bala dan musibah dengan sirnanya ulama. Karena apa? Kalau ulama tidak ada, Rasul SAW berkata “sampai ulama tidak tersisa.” Lalu apa? Maka mereka mulai mengambil para imam, para guru yang tidak mengerti ilmu, mereka ditanya, ditanya tidak mampu menjawab melainkan berfatwa semaunya. Apa-apa yang sunnah dibilang bid’ah, yang baik dibilang musyrik, ibadah dibilang syirik, doa-doa dilarang, ziarah dilarang. Karena apa? Karena memang tidak memiliki ilmu. Bukan karena kesalahan mereka, karena kesempitan ilmu mengenai syariah dan hadits. Mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, ilmunya sedikit, maka tidak bisa memberikan fatwa yang benar, fatwanya salah. Mereka sesat dan menyesatkan. Demikian makna dalam kalimat ini.
Akan muncul waktu dimana kurangnya ulama, sedikitnya ulama. Ilmu mulai sirna, sirna, dan sirna.Minggu yang lalu kita berbicara tentang keutamaan para muhadditsin dan tentunya kita memahami tidak semua muhaddits itu menulis hadits-haditsnya, jadi yang tersisa sekarang ini tidak mencapai 10% dari hadits yang ada saat itu. Imam Ahmad bin Hanbal sudah kita kenal beliau hafal 1 juta hadits dengan sanad dan hukum matannya. Tetapi imam Ahmad hanya sempat menulis 20.000 hadits saja. 980.000 hadits itu sirna dengan wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal. Ada para murid-muridnya yang menghafal tentunya. Dimasa itu, menghafal lebih ditekankan daripada menulis hadits.
Kalau di masa sekarang, orang punya ilmu menulis buku, di zaman itu tidak menulis kecuali kalau ada permintaan. Ada permintaan orang dari jauh minta seratus sanad hadist. Ditulis, kirim kesana seratus sanad hadits. Ada lagi yang meminta fatwa seribu hadits tentang shalat. Tulis hadits dan sanadnya, lalu dikirim kesana. Tetapi mereka tidak menulis semua hadits yang mereka kumpulkan. Karena apa? Di masa itu hafalan yang diandalkan, karena belum ada percetakan. Kalau zaman sekarang, kita mau bawa ke seluruh dunia, cukup di internet sudah sampai ke seluruh dunia dakwahnya. Tulis semua yang kita ketahui, tulis hadits, AlQuran, ayat, fatwa semua akan bermanfaat.
Di masa itu tidak ada percetakan, ditulis apa gunanya? Siapa yang mau membaca 1 buku. Saat ini, kalau kita tulis maka dicetak 1 rim, 10 rim, yang baca banyak. Zaman itu lebih efektif mengajar dengan hafalan. Karena apa? Karena tidak ada percetakan. Siapa yang memperbanyak buku itu? Tidak ada foto copy, tidak ada koran, tidak ada telepon, tidak ada internet, yang ada murid datang pada guru, itu saja. Bisa begitu tadi adalah belajar dan mempelajari, yaitu murid mendatangi guru, diajarkan hadits, pulang dan kira-kira begitu. Datang lagi dan sampai munculnya masa di mana mulai sirna hadits.Sehingga kalau sekarang ini kita kumpulkan semua hadits, hanya mencapai kurang sedikit dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Kalau dikumpulkan kurang dari 100.000 hadits. Jadi kalau ada Al Hafidh di masa sekarang, seperti Guru Mulia kita Al Hafidh Al Musnid Al Habib Umar bin Hafidh, beliau itu hafal lebih dari 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, beliau mengambil juga bukan hanya dari musnid-musnid yang ada seperti Musnad Imam Ahmad bin Hambal, Musnad Imam Hakim, Imam Bukhari. Tetapi beliau juga mempunyai sanad-sanad hadits yang sampai kepada beliau riwayat sanad daripada yang diluar jumhur muhadditsin. Jadi bisa mencapai lebih dari 100.000 hadits dan beliau sampai ke derajat Al Hafidh. Dan tinggal beberapa orang saja di dunia ini yang sampai ke derajat Al Hafidh dalam ilmu hadits.
Sekarang Ma’had Darul Musthofa mempunyai peraturan baru. Pesantren beliau itu yang masuk kesana syaratnya hafal Alquran dan hafal 2.000 hadits. Demikian salah satu syarat bagi mereka yang mau belajar bersama beliau. Karena barangkali beliau sudah melihat dan sudah waktunya menumpahkan tugasnya ilmu hadits yang beliau miliki, yang selama ini barangkali terpendam karena keterbatasan kemampuan dari orang-orang yang belajar kepada beliau. Sekarang beliau sudah buka yaitu syarat masuk Darul Musthofa hafal 2.000 hadits dan hafal Alquranulkarim, baru bisa masuk menjadi murid beliau untuk diturunkan keluasan ilmu hadits yang beliau miliki. Semoga Allah memakmurkan pesantren ini dan Allah panjangkan usia beliau dan semoga Allah SWT memakmurkan dunia ini dengan para ahli hadits dan para ulama.
Tidak terjadi kiamat hingga muncul banyaknya gempa bumi, kata Rasul SAW. Sudah mulai sirna para ulama. Ini sudah kita lihat. Penghafal hadits kita tinggal sedikit. Jadi zaman sekarang, kalau ada orang yang berfatwa lalu dikatakanlah, “Ini haditsnya dhaif.” Sebentar-sebentar Anda katakan haditsnya Imam Syafii ini haditsnya dhaif. Anda tahu berapa hadits? Ini hadits kalau dikumpulkan sekarang tidak sampai 100.000 hadits. Zaman dahulu orang bicara tentang sholat, ia punya ribuan hadits. Imam Bukhari di dalam kitab Tadzkiratul Huffazh, didatangi oleh muridnya dan berkata, “Wahai imam aku menyusup ke satu wilayah. Di sana aku di uji tentang hadits-hadits sholat.” Ayo haditsnya wudhu apa, bagaimana haditsnya i’tidal, bagaimana haditsnya sujud, itu didaerah sana. Imam Bukhari berubah wajahnya, marah beliau. “Tidak pantas kau masuk Masjid di uji seperti itu. Kalau aku masuk ke situ, akan aku keluarkan 10.000 hadits shahih tentang sholat saja.” 10.000 hadits shahih tentang sholat saja beserta sanad dan hukum matannya. Ini keadaan mereka di masa itu. Imam Bukhari jauh setelah Imam Syafii.
Sebagaimana saya sampaikan minggu yang lalu Imam Syafii sudah jadi Imam, barulah Imam Bukhari lahir. Imam Syafii lahir tahun 150 H, usia 12 tahun sudah mencapai ke derajat Al Hafizh dan Imam Bukhari lahir tahun 194 H. Jadi Imam Syafii sudah 44 tahun, Imam Bukhari baru lahir. Ini Imam Bukhari seperti itu, bagaimana Imam Syafii? Jadi tentunya para ulama dan hujjatul Islam berhati-hati. Kalau Imam Syafi’i sudah bilang seperti ini, pasti dibelakangnya terhimpun sekian ribu hadits yang tidak sempat beliau sampaikan, diantaranya pembacaan doa nisfu Sya’ban. Pembacaan Yasin 3X itu yang menyarankan adalah Imam Syafi’i. Beliau tidak akan mengada-ada. Kalau beliau mengada-ada, sudah ratusan Al Hafizh dan pakar hadits yang menentang adat-istiadatnya ini di masa lalu. Niscaya mereka telah berkata, “Imam Syafi’i bikin hal yang bid’ah, ngapain baca Yasin 3X di malam nisfu Sya’ban?” Tetapi nyatanya mereka malah ikut baca. Kalau ikut baca berarti pasti ada riwayat tsiqahnya, akan tetapi mungkin dari sekian juta hadits hanya kurang dari 100.000 hadits yang ada di masa sekarang ini. Sudah terhapus haditsnya, tetapi cukup fatwa Imam Syafi’i sebagai hujjah untuk diikuti oleh para imam dan para hujjatul Islam yang lainnya. Ini mereka yang mengerti ilmu hadits dan mustholahul hadits. Yang tidak, maka berkata, “Ya… kalau tidak ada hadits shahihnya tidak usah diikuti.” Tentunya tidak demikian, lihat fatwa dan guru-guru yang bersanad sampai kepada para imam, sampai kepada Rasulullah SAW.
Kiamat tidak terjadi hingga muncul gempa di mana-mana. Imam Ibn Hajar Al Asqalani menjelaskan bahwa gempa ini sudah ada sejak dari zaman Nabi Adam as, tetapi yang dimaksud Rasul di sini, gempa itu makin banyak dan dahsyat. Di zaman sekarang ini banyak gempa yang dahsyat, muncul tsunami, gempa dahsyat di wilayah Muslimin. Salah satu bentuk dari tanda-tanda munculnya akhir zaman.
Dan selanjutnya adalah semakin terasa dekatnya waktu. Baru kemarin Idul Fitri sekarang sudah mendekat malam 1 Ramadhan. Demikian cepatnya waktu berputar. Rasanya baru kemarin selesai sekolah, sekarang sudah mau menikah. Demikian cepatnya, waktu tidak terasa di akhir zaman. Imam Ibn Hajar juga menukil bahwa yang dimaksud diantaranya adalah usia yang semakin singkat. Dimasa Rasul, umur 60 tahunan sekarang hanya 30 tahunan saja usia manusia. Dan muncul fitnah-fitnah, hal yang kecil jadi fitnah, hal yang tidak berarti jadi fitnah, hanya masalah gerakan jari sedikit saja (sms) ribuan orang yang memusuhinya. Hanya karena jari kecil saja bisa menyebabkan fitnah yang besar. Membuat orang bunuh satu sama lain, saling pecah silaturahmi. Demikian hadirin-hadirat, hanya masalah kecil bisa menjadi fitnah yang besar.
Dan juga mulai banyak terjadi pembunuhan, di sini pembunuhan di sana pembunuhan. Anak membunuh ayahnya, ayah membunuh anaknya. Terus terjadi pembunuhan. Hal yang mustahil terjadi puluhan tahun yang lalu, sekarang terjadi. Belum pernah ada yang namanya anak mau menyiksa dan membunuh ibunya. Sekarang mulai muncul seperti itu dan semakin banyak.
Dan setelah semua itu terjadi, Rasul Saw berkata, “dan akan datang waktunya nanti Allah munculkan kemakmuran.” Maka kalian lihat nantinya di akhir zaman setelah ini muncul, gempa bumi dan lain sebagainya, muncullah keluasan dan kemakmuran. Ini sabda Nabiyyuna Muhammad SAW. Ini sudah muncul pada kita, kekurangan ulama sudah mulai muncul, gempa bumi, fitnah dan zaman yang semakin cepat, muncul orang yang mengaku Nabi. Ini semua sudah muncul, tinggal menagih janji Sang Nabi akan muncul segala kemakmuran pada Muslimin. Maka kalian ini akan dilimpahi kemakmuran, kata Rasul SAW. Ini terusan haditsnya riwayat Shahih Bukhari, sampai nanti tidak ada lagi orang yang menerima sedekah, semua orang cukup, semua orang kaya-raya.
Mustahilkah? Kalau sekarang mustahil, tapi di masa itu, tidaklah mustahil. Di zaman Nabiyullah Adam as ada orang usianya mencapai ribuan tahun. Barangkali mustahil ada orang usia 63 tahun sudah lanjut usia. Tetapi sekarang, usia 63 tahun sudah lanjut usia. Di masa yang dijanjikan itu Allah bukakan harta yang luas dan kemakmuran bagi Muslimin.
Guru kita Al Hafizh Al Musnid Al Habib Umar bin Hafizh menjelaskan makna hadits ini bahwa Allah akan membuat orang-orang yang baik jadi kaya-raya, orang-orang yang mencintai da’wah menjadi kaya-raya, dengan cara seperti itu orang-orang susah akan kembali kepada mereka, orang-orang non-Muslim akan diberikan kemiskinan oleh Allah, hancur usahanya, rusak dari apa-apa yang menjadi perdagangannya. Allah berikan keberkahan kepada apa yang diusahakan Muslim yang baik, dan juga keberhasilan. Perdagangannya maju terus dibantu oleh Allah SWT dan di saat itulah harta dan kekayaan dipegang oleh orang-orang yang baik. Orang-orang yang sholeh diberi kekayaan oleh Allah SWT. Maka tentunya di saat seperti itu kaum Muslimin yang susah akan dimodali, mereka dibantu karena orang baik akan mereka bantu. Kalau orang kaya tapi kikir, ia mau kaya sendiri tidak mau berbagi dengan orang lain maka Allah jadikan saat itu adalah orang yang baik yang kaya-raya. Orang yang baik yang kaya-raya membantu yang lain yang di luar Islam yang perdagangannya jatuh. Non-Muslim itu akan ikut bisnis dengan dia, datang pada dia, ikut dengan dia jadi maju. Dan usaha orang-orang non-muslim yang hancur, mereka akan kembali kepada Islam.
Demikianlah keadaan Muslimin di masa itu dan tidak ada orang-orang yang susah. Pertama-pertama kecukupan, yang kedua sudah cukup, diriwayatkan dari hadits yang tsiqah oleh Imam Tirmidzi ada 1 orang membawa kantung besar berisi dinar dan berkata, “Kau mau menerima sedekah? Tidak adakah satupun yang mau terima?” Ada 1 orang mau terima dan berkata, “Sini aku terima.” Setelah ia terima, ia berkata, “Subhanallah, orang lain tidak ada yang mau terima, tetapi aku menerimanya, ini aku kembalikan.” Orang itu tidak mau, kemudian ia menaruh harta emas dan 1000 dinar dalam kantung yang besar meninggalkannya di jalan, dan ia pun pergi. Demikian luasnya keadaan orang-orang saat itu. Riwayat Shahih Bukhari. Rasul SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian! Akan datang satu masa dimana sedekah tidak akan lagi diterima oleh semua orang karena semua orang sudah berkecukupan.”
Demikian dahsyatnya. Kita berfikir, tampaknya ini mustahil. Namun tentunya kita ingat bahwa beliau ini adalah waliyullah, tidak berbicara dari hawa nafsunya; dan hal itu akan datang. Bencana itu akan datang, fitnah akan datang, yang mengaku Nabi telah datang, gempa bumi telah datang. Maka ini tanda-tanda akan segera munculnya kemakmuran pada Muslimin-Muslimat.
Kita bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah memakmurkan dan menyegerakan kedatangan kemakmuran Muslimin-Muslimat. Ya Rahman Ya Rahim, bukakan keberkahan bagi kami. Limpahkan cahaya keluasan bagi kami, zhahiran wa bathinan, dunia dan akhirat, majukan da’wah Muslimin. Ramaikan panggung-panggung dzikir dan shalawat. Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah kami ini orang-orang yang pertama membenahi keadaan masyarakat kami. Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah harta dan kekuasaan pada orang-orang yang baik dan kaum Muslimin, dan jadikanlah kehancuran dan kesempitan bagi mereka-mereka yang memusuhi Muslimin. Ya Rahman Ya Rahim, kami mengadukan keadaan hati kami ini. Rabbiy, benahi keadaan diri kami hingga kami bermanfaat bagi masyarakat kami. Ya Rahman Ya Rahim.
Faqulu jami’an: Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah Ya Allah.
Majelis kita semakin luas dan malam selasa semakin besar. Insya Allah semakin makmur dan semakin banyak Muslimin-Muslimat yang mengambil faedah. Dan ternyata tidak cukup sampai di sini, Allah makmurkan lagi majelis-majelis lainnya. Majelis tahunan kini sudah semakin dekat dan semakin banyak. Dan di bulan Ramadhan, kita tidak akan berhenti memakmurkan wilayah Jakarta ini dengan majelis-majelis dzikir. Insya Allah di malam 17 Ramadhan akan mengadakan Tabligh Akbar dan peringatan Badr Kubro sekaligus malam Nuzulul Qur’an yang Insya Allah bertempat di Monumen Nasional (Monas). Kemarin ada sedikit kendala. Sudah ada perizinan di Monas. Ternyata Monas dipenuhi oleh kemah-kemah para tentara dan juga persenjataan untuk peringatan acara 17 Agustus. Jadi tidak etis kalau seandainya jamaah kumpul jadi satu dengan kemah-kemah para tentara. Tentunya kita tidak nyaman. Maka kita dipindahkan ke Lapangan Banteng. Tapi untuk malam 17 Ramadhan telah disepakati, Insya Allah. Dan juga di bulan Ramadhan kita akan mengadakan acara besar-besaran di wilayah Ancol, tempat-tempat maksiat akan kita terangi dengan Nama Allah.
Wa shallallahu wa sallam wa barik ‘ala Nabiyina Muhammadin wa ‘ala alihi washohbihi wassallam.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Wassalamu ’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
(majelisrasulullah.org)
-
Membangun Generasi Ulama
Maha Suci Allah Jalla Wa Alla Yang Maha Membuka segenap kebahagiaan dunia dan akhirat, Yang didambakan dari segala apa-apa yang diinginkan berupa anugerah. Maha Memiliki segala apa-apa yang didambakan oleh hamba hamba-Nya. Maha Menyimpan segala hal yang indah yang disiapkan bagi hamba-hamba-Nya. Matahari Kebahagiaan Yang tiada pernah terbenam. Matahari Pengampunan Yang tiada pernah padam pengampunan-Nya. Kasih-Sayang Yang kekal dan abadi melebihi segenap kasih-sayang makhlup-Nya. Maha Membuka segenap rahmat dan kesejahteraan dengan doa dan munajat. Maha Mengundang hamba-hamba-Nya kepada kebahagiaan, pengampunan, kemuliaan, keluhuran dengan doa-doa dan pendekatan ke hadirat-Nya.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Allah SWT telah menyampaikan kepada kita rahasia kebahagiaan yaitu dengan doa-doa dan munajat kita serta pengikutan (ittiba) kita kepada Sayyidina Muhammad SAW. Allah SWT mengajarkan doa, mengajarkan munajat, doa dan munajat yang tiada taranya. Doa dan permintaan yang tidak akan bisa dikabulkan terkecuali oleh Allah SWT. Allah SWT mengajarkan doa-doa yang mengenalkan kita betapa kasih-sayang dan indahnya Allah.
Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa. Wahai Allah jangan Engkau murka dan jangan Engkau tulis jika kami lupa dan kami berbuat salah. Demikian indahnya doa dan keindahan bagi yang dikabulkannya. Betapa mudahnya cobaan ini, betapa indahnya, laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, jangan Kau tulis, jangan Kau perberat, jangan Kau bebani dan maafkanlah jika kami lupa dan kami salah. Ini doa yang mengajarkan adalah Allah. Allah Swt ingin memberimu maaf dari dosa yang kau lupa dan yang kau tidak lupa. Maka diajarkan-Nya doa-doa kepada kita agar Allah tidak lagi mempermasalahkan dosa-dosa kita. Allah SWT mengajarkan gemuruh munajat di dalam jiwa ini untuk membuka kebahagiaan.
Robbanaa laa tuaakhidznaa innasiinaa aw akhtho’naa, robbanaa wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa.
Kulihat si fulan musibahnya berat. Kulihat si fulan cobaannya dahsyat. Wa laa tahmil a’lainaa ishron kamaa hamaltahuu a’lalladziina min qoblinaa. Jangan bebani kami dengan beban yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa waghfirlanaa, maafkanlah kami, ampunilah kami. Fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin, tolonglah kami untuk menghadapi orang-orang yang kuffar, dari kejahatan mereka, dari tipuan mereka.Demikian indahnya seorang mu’min diajarkan oleh Allah SWT untuk selalu mengadukan keadaannya bahkan dosa-dosanya kepada Allah SWT. Seindah-indah tempat pengaduan segala hal dan tidak akan bisa menghapus dosa kecuali Allah SWT. Allah SWT mengundang kita dan mengenalkan Dzat-Nya dan mengenalkan betapa lemahnya kita di hadapan Allah SWT. Manusia itu tidak tahu apa yang akan dikerjakannya esok hari, apa yang akan datang padanya esok dan bagaimana keadaan esok harinya, apa yang akan ia perbuat esok, ia tidak tahu. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah SWT.
Seandainya kita melihat, ini manusia esok akan begini atau akan begitu. Orang itu melihat betapa lemahnya dia. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak tahu akan wafat dimana. Entah di barat, entah di timur , entah di darat, entah di laut.
Demikian hadirin-hadirat. Allah mengingatkan betapa lemahnya kita di hadirat-Nya. Maha Suci Allah SWT Yang Maha Luhur, Yang Membukakan kepada kita gerbang-gerbang doa dan munajat untuk mencapai keluhuran, untuk mencapai kebahagiaan, untuk mencapai kemuliaan, untuk mencapai keindahan, untuk mencapai keridhoan dan kedekatan ke hadirat-Nya.
Dan itulah seindah-indahnya anugerah, itulah semulia-mulia anugerah setelah seluruh kenikmatan dunia akan berakhir dan setelah itulah, hadirin-hadirat, kita memahami betapa agungnya sujud, betapa berharganya kalimat “Subhaana rabbiyal a’laa wa bihamdih”. Betapa mulianya langkah langkah menuju Masjid dan majelis dzikir. Setelah kita selesai hidup di muka bumi dan diturunkan tubuh kita ke dalam qubur dan ditinggalkan oleh semua kekasih dan teman, baru kita memahami, ternyata kekasih yang haqiqi adalah Allah SWT. Allah Yang Maha Tidak Meninggalkan semua yang mencintai-Nya. Semua kekasih meninggalkan kekasihnya di qubur dan tiada mau menemani kekasihnya di alam qubur.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah. Semakin dalam ilmu dan pemahaman kita tentang Allah Swt dan agama ini, semakin indah dan sempurna hari-hari kita. Sebaliknya, semakin sirna hal-hal ini dari kita, semakin hancur kehidupan kita. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dekat waktunya nanti, waktunya hari kiamat, jika sudah dekat akan datang masa munculnya kejahilan”. Apa ini kejahilan? Kejahilan bukan hanya ketidak-tahuan tapi yang tidak tahu merasa tahu, yang tidak tahu tapi tidak mau diberi tahu. Ini yang disebut “jahl”.
Kalau seandainya tidak paham saja, tidak sampai ke derajat jahl. Tetapi jahl adalah yang tidak tahu namun tidak mau diberi tahu . Jika seandainya ia diberi pengetahuan ia tetap menolak. Ini yang akan muncul nanti kata Rasulullah SAW di akhir zaman. Dan ilmu semakin sirna, syari’atul muthahharoh (syariat yang suci) semakin sirna. Dan di saat itulah, hadirin hadirat, banyak terjadi permusuhan, peperangan, pembunuhan.
Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan makna dari hadits ini adalah tandzir (peringatan) dari Rasul SAW untuk menjaga generasi ulama. Yang dimaksud munculnya kejahilan dan maksud terhapusnya ilmu adalah wafatnya para ulama. Ketika para ulama diwafatkan oleh Allah SWT dan generasi muda tidak ada yang meneruskan perjuangannya maka terjadilah hal-hal seperti ini.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh kebahagiaan bagi satu lingkungan masyarakat adalah yang masih mempunyai ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi dan penuntun mereka kepada keluhuran. Sebagaimana Rasul SAW bersabda, “Allah tidak mencabut ilmu dari dada yang memiliki ilmu itu, tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama”, ini diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari. Kenapa? Karena Muslimin Muslimat tidak lagi menginginkan munculnya generasi ulama. Dengan wafatnya ulama, sirnalah ilmu sampai tidak lagi tersisa seorang ulama dalam satu lingkungan masyarakat. Maka mereka mengambil guru-guru berupa orang yang tidak mengerti syariah, lantas mereka itu ditanya lalu menjawab dan berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. (HR Shahih Bukhari)
Hadirin-hadirat, hadits ini adalah tandzir (peringatan) untuk membangkitkan generasi ulama. Sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi, Rasul Saw bersabda “Sungguh orang yang paling mulia menginjak permukaan bumi adalah para ulama, mereka itu jika agama ini terkotori dan tercela, mereka itulah yang membenahinya”. Bahwa ketika seorang mu’allim, seorang guru mengajarkan kepada seorang anak mengucap “Bismillahirrahmanirrahim” saja sampai anak itu bisa mengucapkannya, maka Allah Swt mencatatkan bagi sang pengajar pengampunan, bagi sang anak pengampunan dan bagi ayah-ibunya pengampunan. Demikian rahasia pengampunan dan rahmat ilahi yang dimunculkan dengan keberadaan ulama.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah. Hingga semakin sirnanya ulama ini, mulailah muncul kegelapan dan ketidakpahaman dan muncullah aliran-aliran yang sesat, muncullah tuntunan-tuntunan yang keluar dari syari’atul muthahharoh (syariah yang suci).
Demikianlah kerusakan ummat semakin terjadi dan sampailah pada puncak kerusakan ummat dengan terbitnya matahari dari barat. Sebagaimana sabda Nabiyyuna Muhammad SAW di dalam riwayat Shahih Bukhari “Seburuk-buruk dan sejahat-jahat manusia adalah mereka yang masih hidup sampai saat merasakan terbitnya matahari dari barat.” Karena di saat itu tidak tersisa lagi seorang Muslim pun di muka bumi. Kesemuanya adalah mereka yang menyembah selain Allah SWT sehingga Rasul SAW bersabda yang diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, beliau terbangun di tengah malam seraya berseru dengan keras “Subhanallah, betapa banyaknya anugerah yang Allah turunkan di malam ini dan juga betapa banyaknya fitnah akan segera turun. Siapa yang bisa membangunkan keluargaku kesemuanya dan orang-orang dari tetanggaku untuk melakukan shalat malam. Bisa saja orang-orang yang berkecukupan di muka bumi akan terbuka dan terhinakan dari kecukupannya di yaumal qiyamah. Orang-orang yang berkecukupan di dunia akan merasakan kekurangan di yaumul qiyamah,” beliau SAW berkata demikian seraya mengalirkan airmata yang mengundang para tetangganya untuk melakukan qiyamullail.
Demikian hadirin-hadirat, yang dimuliakan Allah. Maka dalam kesempatan ini, saya akan kembali mengulas lagi sedikit tentang bagaimana sejarah pejuang para ahlul hadits yang meneruskan hadits-hadits Rasul SAW dari para ulama. Karena hal ini telah disampaikan tetapi banyaknya sebagian hadirin masih ada yang belum mendengarnya dan sebagian saudara kita memintanya maka saya kembali memperjelaskannya. Bahwa kita semua Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mengambil dalam satu sanad walaupun dalam madzhab yang berbeda. Madzhab yang ada pada Ahlussunnah wal Jama’ah yang masih ada hingga saat ini adalah 4 Madzhab besar, yaitu Madzhab Imam Malik, Madzhab Imam Hanafi, Madzhab Imam Syafi’i dan Madzhab Imam Hambali.
Dan keempatnya ini bukan terpecah – belah sanadnya tapi merupakan satu sanad. Sanad adalah mata rantai guru atau rantai periwayat. Al Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik dan Imam Malik hidup satu zaman dengan Imam Hanafi. Dan Imam Hanafi ini adalah tabi’in bersama Imam Malik yang berguru kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Jadi keempat Imam Madzhab ini adalah satu rumpun bukannya berpecah pecah dari sanad yang berbeda. Sama rumpunnya walaupun fatwa mereka berbeda.
Oleh sebab itu hadirin-hadirat, berbeda dengan mereka yang diluar Ahlussunnah wal Jamaah, karena rumpunnya berbeda. Entah mengambil jalur guru dari mana. Karena keempat madzhab ini berasal dari satu rumpun. Karena mengambil dari satu rumpun dari tabi’in, dari sahabat Rasul, dari Rasulullah Muhammad SAW. Dan di dalam ilmu hadits kita mengenal derajat ahli hadits yang diantaranya di sebut Al Hafidh, Hujjatul Islam, Al Hakim. Dan kita perlu menjabarkan sebagaimana diperjelas oleh Al Imam Ibn Hajar Asqalani di dalam kitabnya Nukhfathul Fiikar bi Syarah Nukhfathul Fiikar beliau menjelaskan bahwa derajat para pakar hadits terendah adalah Al Hafizh.
Al Hafizh adalah orang yang telah menghafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya. Mereka yang sudah hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya maka mereka sudah mencapai gelar Al Hafizh. Al Hafizh di dalam ilmu hadits bukan seorang yang hafal Alqur’an. Al Hafizh di dalam ilmu hadits adalah yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Padahal kalau panjang haditnya 1 baris, kalau disertakan dengan sanad dan hukum matannya bisa menjadi 2 halaman panjangnya. Mereka inilah orang-orang jenius yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjaga syari’atul muthahharoh (syari’ah yang suci). Dahulu orang tidak bisa percaya kalau ada jutaan hadits atau jutaan kalimat masuk ke dalam microchip yang kecil seperti ujung ibu jari. Di masa sekarang kita sulit percaya kalau ada orang yang hafal 100.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. (Padahal banyak profesor yang mengatakan bahwa manusia dapat menampung data dari seluruh alam semesta ini dalam otaknya.)
Allah SWT menjaga syariah ini dengan keberadaan mereka. Jumlah mereka bukan hanya 1 atau 2, tetapi ribuan huffazh dimasa itu, masa kejayaan para tabi’in, para tabiut tabi’in dan orang sesudahnya. Dan kita mengenal 7 nama dari periwayat hadits terbesar. Muhaddits itu banyak orangnya. Banyak ahli hadits yang mengumpulkan hadits dan mencatatnya, tetapi diantaranya terdapat 7 Imam Besar yang terkuat riwayatnya, antara lain Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Imam Nasa’i, Al-Imam Tirmidzi, Al-Imam Ibn Majah, Al-Imam Abi Dawud, Al-Imam Muslim dan Al-Imam Bukhari. Ketujuh imam ini lebih kuat riwayatnya daripada yang lainnya. Yang lainnya masih banyak, ada Imam Daruquthni, Imam Hakim dan lainnya. Yang ketujuh ini diklasifikasikan lagi yaitu menjadi “Imam Kutubussittah” yaitu 6 Imam Besar yang tadi disebutkan terkecuali Imam Ahmad bin Hanbal.
Imam Ahmad bin Hanbal peringkat yang nomor 7 dan yang terakhir. Ia pun tidak termasuk dalam klasifikasi 6 imam besar. Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya. Dan Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan gelar “Sayyidul Huffazh”, salah seorang dari yang paling banyak hafalan haditsnya. Ini derajat yang ketujuh, bagaimana dengan imam-imam besar yang diatas beliau?
Dan Imam Ahmad bin Hanbal ini adalah murid Imam Syafi’i. Oleh sebab itu, hadirin – hadirat, jika masa sekarang muncul orang yang menghina, meremehkan fatwa Imam Syafi’i, hal itu semata-mata karena ia tidak mengerti siapa Imam Syafi’i. Imam Syafi’i mempunyai murid yang banyak, diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal dan beliau hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya.
Ketika salah seorang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ia ingin menjadi muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal memberikan 1 tumpukan hadits seraya berkata, “Ini ada 10.000 hadits. Kau hafalkan dulu. Kalau sudah hafal, baru bisa jadi muridku.” Demikian syaratnya menjadi murid seorang imam besar. Seorang muhaddits besar dan orang semacam Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan menerima seorang murid terkecuali ia telah menghafal lebih dari 10.00 hadits. Maka orang tersebut menghafal hadits-hadits tersebut. Ketika ia telah mampu, ia datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal seraya berkata “Aku sudah hafal wahai imam, 10.000 hadits yang kau berikan.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Itu 10.000 hadits adalah hadits palsu, bukan hadits yang shahih, bukan pula hadits hasan bukan pula hadits dhaif derajatnya. Tettapi itu adalah hadits palsu.” Maka berkata muridnya, “Wahai imam, kau beri aku 10.000 hadits palsu?” Dan Imam Ahmad menjawab, “Itu untuk memperkuat hafalanmu”.
Demikian hadirin hadirat cara mereka menjaga ilmu hadits, kenapa? Jika kau menghafal hadits shahih dan salah, maka kau berdosa. Kau akan menipu umat hingga akhir zaman dengan mengatakan hadits yang salah sebagai hadits shahih. Oleh sebab itu, diberi hadits palsu, kalau salah tidak berdosa. Jika kuat hafalannya, baru diberikan hadits-hadits shahih dan dimasa itu hadits tidak ditulis, tetapi dihafal. Berbeda dengan masa sekarang, di masa itu sangat sedikit sekali hadits yang ditulis. Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1 juta hadits beserta sanad dan hukum matannya, beliau hanya sempat menuliskan 20.000 hadits saja di dalam Musnadnya. Dan 980.000 hadits itu sirna dengan wafatnya beliau dan wafatnya murid-muridnya. Ada yang terjaga pada murid-muridnya. Jika murid-muridnya tiada menulisnya, maka akan sirna 980.000 hadits dari sanubari Imam Ahmad bin Hanbal (hanya 20.000 hadits yang tertulis).
Hadirin-hadirat inilah derajat yang ketujuh, diatasnya ada lagi derajat klasifikasi 6 imam besar. Dari 6 imam besar ini diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu “Shahihain”, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim”. Dan sisanya yang 4 adalah imam lainnya yaitu Imam Nasa’i, Imam Tirmidzi, Imam Abi Dawud dan Imam Ibn Majah. 4 imam besar ini dikalahkan oleh mereka tertinggi yaitu Imam Muslim dan Imam Bukhari. Dan daripada yang tertinggi dari 7 periwayat hadits adalah Imam Bukhari dan kedua adalah Imam Muslim.
Oleh sebab itu Imam Bukhari paling dipegang riwayat haditsnya, kalau sudah diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak ada lagi ahli hadits yang mempermasalahkannya. Hadits riwayat Imam Muslim masih banyak dipermasalahkan. Kalau Imam Bukhari tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Beliau adalah seorang pemuda jenius. Beliau itu bernama Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari, beliau adalah seorang yang sangat mencintai Sayyidina Muhammad SAW.
Imam Bukhari di dalam Tadzkiratul Huffazh dan Siyar A’lamun Nubala dijelaskan saat usianya 17 tahun beliau sudah hafal 200.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya. Di usia 17 tahun, seorang yang sangat jenius yaitu Imam Bukhari. Sehingga imam-imam lainnya di masa itu melihat bocah kecil ini sudah hafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits, mengungguli mereka. Diantara (yang mengaguminya) adalah Imam Muhammad bin Salam, salah seorang senior ahli hadits di masa itu. Ia berkata, “Kalau aku meriwayatkan hadits, aku tidak pernah gemetar, kecuali jika ada bocah ini,” yaitu Imam Bukhari. “Kalau ia ada disini, aku gemetar. Karena ia lebih tinggi hafalannya dariku”. Demikianlah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari.
Derajat yang kedua adalah Imam Muslim. Al Imam Muslim suatu waktu mendapatkan permasalahan dalam hadits dan ia tidak mampu menjawabnya. Mencari jawaban tidak jumpa dan tidak ketemu. Akhirnya ia mendatangi Imam Bukhari. Dan ketika ia menyampaikan permasalah haditsnya, maka Imam Bukhari menjawabnya seperti membaca surat Al-Ikhlas, dengan gampang dan mudahnya Imam Bukahri menjawab. Demikian diriwayatkan di dalam Tadzkiratul Huffazh. Maka berkata Imam Muslim, “Ijinkan aku mencium kedua kakimu wahai raja ahli hadits!”
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari. Beliau lahir tahun 194 H, jauh setelah lahirnya Imam Syafi’i. Setelah Imam Syafi’i jadi Imam, barulah lahir Imam Bukhari. Oleh sebab itu, bukan levelnya kalau Imam Bukhari dibandingkan dengan Imam Syafi’i. Karena jauh sebelum Imam Bukhari lahir, Imam Syafi’i sudah jadi imam besar. Akan tetapi Imam Bukhari adalah orang tertinggi yang diakui ilmunya di dalam hadits.
Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, Imam Bukhari adalah orang yang sangat mencintai Rasul SAW seraya menulis Shahih Bukhari sebanyak kurang lebih 7000 hadits, yang beliau tulis diantara makam Rasulullah SAW dan mimbar Rasulullah SAW di Masjid Nabawiy. Beliau berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat kemudian menulis 1 hadits, dan kembali berwudhu lalu shalat sunnah 2 rakaat dan kembali menulis hadits sampai mencapai lebih dari 7000 hadits yang sampai saat ini dikenal dengan “Shahih Bukhari”. Dan inilah Ash-hahul Kitab, kitab yang paling shahih dari semua hadits-hadits yang shahih.
Dan hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, ketika Imam Bukhari ditimpa banyak fitnah, maka murid-muridnya berkata, “Wahai imam, kenapa tidak kau jawab mereka yang memfitnahmu dengan fatwa-fatwamu?” Imam Bukhari menjawab, “Aku teringat hadits Rasul SAW, akan kalian lihat hal-hal yang tidak kalian sukai berupa fitnah dan permasalahan, maka bersabarlah kalian sampai kalian berjumpa dengan aku di telaga haud.” Jika aku mendengar dan teringat hadits ini, aku tenang dan tidak perduli dengan fitnah yang datang menimpaku.
Demikian Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari dan juga imam-imam besar lainnya. Mereka para pecinta Rasulullah SAW dan sangat memuliakan Rasul SAW. Imam Ahmad bin Hanbal diriwayatkan di dalam Tadzkiratul huffazh dan Siyar A’lamun Nubala, ketika Imam Ahmad bin Hanbal ini wafat maka jenazahnya dishalatkan lebih dari 800.000 Muslimin-Muslimat dan ia pun berwasiat pada putranya, “Jika aku wafat, aku menyimpan 3 helai rambut Rasulullah SAW. Letakkan 1 helai rambut dibibirku, yang 2 helai taruh di kedua mataku dan makamkan aku dengan itu.” Demikian cintanya Imam Ahmad bin Hanbal sehingga ia tidak ingin dikebumikan kecuali dengan terus mencium rambutnya Rasulullah SAW. Demikianlah Mahabbah, demikianlah cinta sang Imam kepada Nabi Muhammad SAW.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, demikian pula Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas bin Malik, seorang yang sangat mencintai Rasul SAW (Anas bin Malik adalah khadam Rasulullah SAW). Imam Malik ini kalau ditanya, maka ia berkata, “Kau mau tanya soal hadits atau soal hukum. Kalau bicara hukum, aku jawab langsung. Kalau tanya soal hadits, tunggu dulu.” Jika orang bertanya hadits, beliau berwudhu, setelah berwudhu lalu memakai minyak wangi, memakai siwaknya, memakai sipat matanya lantas memakai jubahnya baru berkata “Qaala Rasulullah Saw”. Demikian Imam Malik bin Anas bin Malik alaihi rahmatullah. Beliau adalah seorang imam di Madinah Al Munawarrah dan menjadi pemimpin para ahli hadits di zamannya seraya menulis kitab hadits yang dinamakan : Almuwaththa’ (yang menginjak). Kenapa kitab haditnya ini dinamakan kitab yang menginjak? Karena menundukkan seluruh kitab hadits di masanya, demikian Imam Malik bin Anas bin Malik.
Hadirin – hadirat ketika generasi mereka semakin sirna, Al Imam Ibn Hajar mengklasifikasikan bahwa derajat ahli hadits yang pertama Al Hafidh yaitu yang hafal 100.000 hadits beserta sanad dan hukum matannya dan diatasnya terdapat lagi Hujjatul Islam yaitu yang hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Maka kita mengenal Hujjatul Islam Al Imam Ghazali, beliau ini telah sampai derajat haditsnya melebihi 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Jika orang di masa sekarang meremehkan fatwa Imam Ghazali, hati – hati beliau itu hafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya. Demikian juga Hujjatul Islam Al Imam Nawawi dan masih banyak lagi para perawi hadits dan para muhadditsin dari masa ke masa. Tinggallah kita di masa kini yang mesti harus terus membangun generasi para ulama.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Allah Swt terus memuliakan umat ini dari zaman ke zaman, walaupun mereka sudah semakin hari semakin kekurangan ilmu tapi mereka masih mempunyai sanad, mereka masih mempunyai pertalian guru, mereka berguru pada gurunya, gurunya berguru pada gurunya sampai kepada ahli hadits sampai kepada Rasulullah Saw.
Demikian hadirin – hadirat hingga masa kini sangat berharga kita mencari guru yang mempunyai sanad, yang mempunyai hubungan pertalian dengan guru – guru para ahli hadits, para ahli alqur’an, para ahli fiqh dan para ahli syariatul muthaharoh sehingga ilmu kita jelas mengikuti guru yang mempunyai guru yang jelas sanadnya. Berbeda dengan orang yang sembarang m engambil guru, tidak mengetahui gurunya hanya mempunyai buku dan setelah itu fatwanya hanyalah terikat pada huruf – huruf di bukunya. Ketika dimintai pertanggungjawaban di yaumal qiyamah, ia tidak bisa membawa pertanggungjawabnnya karena sanadnya bersambung kepada hal yang terputus.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Di malam hari yang diberkahi Allah Swt ini, kita telah mendengar bagaimana Rasul Saw memberi semangat kepada kita untuk membangkitkan kembali generasi ulama, membangkitkan kembali generasi sunnah Nabi kita Muhammad Saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Oleh sebab itu mari kita benahi umat, kita benahi diri kita kalau seandainya kita sibuk dengan pekerjaan, niatkan keturunan kita kelak menjadi ulama, menjadi pewaris para Nabi, menjadi pejuang syariatul muthaharoh.
-
Beberapa Masalah Zakat Tijaroh
1.a. Dalam berniaga, tempat berniaga yg bagaimanakah yg harus ikut dihitung dalam penghitungan zakat tijaroh?
Jawab: Tempat berniaga yang dihitung dalam zakat tijaroh adalah tempat yang dimiliki sendiri, atau yang disewa. Tempat yang dimiliki adalah tempat yang berhak dia jual.
1.b. Apakah jika seseorang berniaga di tempat yg dia sewa juga harus dihitung? Jika ya, yg dihitung itu biaya sewa 1 bulan atau 1 tahun?
Jawab: Ya, tempat yang disewa harus dihitung biaya sewanya selama setahun. Karena yang demikian itu termasuk pada modal tijaroh.
1.c. Apakah jika seseorang berniaga di tempat yg dipinjamkan kepadanya juga harus dihitung, sedangkan orang yg meminjamkan itu tidak menarik sewa, tidak pula meminta bagi hasil? (Misalkan tempatnya adalah milik orangtuanya artinya yg berhak menjual tempat itu adalah orangtuanya sbg pemilik, sedangkan orang tsb tdk berhak menjualnya dan itulah bukti bahwa tempat tsb bukanlah miliknya, tetapi milik orangtuanya. Atau mungkin di tempat umum seperti di trotoar yg tdk dipungut sewa, kecuali mungkin ‘uang retribusi’.)
Jawab: Tempat yang dipinjamkan tidak dihitung dalam penghitungan zakat tijaroh. Karena bernilai nol dalam modal tijaroh. Adapun tempat yang diberikan kepadanya dan menjadi haknya untuk menggunakannya dan bahkan menjualnya serta tidak dapat ditarik kembali oleh orang yang memberikannya, maka tempat itu harus dihitung. Adapun di tempat umum yang ditarik uang retribuso, maka uang retribusi selama setahun harus dihitung.
2. Apakah uang yang saya investasikan juga dihitung dalam penghitungan zakat tijaroh?
Jawab: Ya, uang yang diinvestasikan juga harus dihitung baik diinvestasikan dalam usaha sendiri maupun investasi dalam usaha yang dikelola oleh orang lain. Jika Anda menginvestasikan ke beberapa pihak pengusaha, maka semua uang atau barang yang Anda investasikan itu harus Anda hitung. Adapaun sesuatu yang tidak bisa dihitung seperti jasa, maka hal itu tidaklah dihitung dalam zakat tijaroh.
3. Apakah uang/barang yang dititipkan kpd saya utk dijual juga dihitung dalam penghitungan zakat tijaroh?
Jawab: Tidak, uang/barang yang dititipkan dihitung dalam zakat tijaroh yang menitipkan (investor).
4. Apakah barang yang belum dilunasi pembeli juga dihitung sisa pembayarannya dalam penghitungan zakat tijaroh?
Jawab: Ridak, sisa pembayaran belum dihitung jika belum masuk. Adapun pembayaran yang sudah masuk, maka itulah harus dihitung.
5. Apakah HP yg digunakan untuk transaksi pulsa juga dihitung?
Jawab: Jika hanya digunakan untuk transaksi pulsa saja, maka ikut dihitung. Jika digunakan juga untuk keperluan sehari-hari seperti komunikasi non-bisnis, maka ditaksir berapa presentasenya. Deposit pulsa juga dihitung dalam zakat tijaroh.
6. Ada pendapat yg mengatakan bahwa aktiva tetap seperti tempat usaha, kendaraan dinas, etalase dsb tidak dihitung dalam penghitungan zakat tijaroh, benarkah? Saya dapat info ini di sini:
http://nunihon.org/mimbar/?p=17
Dan apakah nishobnya itu dengan nishob emas, ataukah perak?Jawab: Semua harta sendiri (yang dimiliki) yang dipakai untuk tijaroh itu terkena zakat, demikian dalam madzhab Syafi’i. Nishob yang dipakai adalah nishob emas, yaitu 84 gram emas murni.
7. Ada anak remaja yg mengajar di TPA dekat rumah. Pendapatannya sekitar 100rb per bulan. Ayahnya seorang kuli pasar. Ibunya seorang tukang pijat. Kakaknya bekerja di taylor. Mereka mengontrak di rumah kecil. Ibunya masih mempunyai hutang kepada saya. Tetapi katanya, keluarganya punya rumah di kampung. Dia ini drop out sejak kelas 4 SD, entah apa alasannya. Ibadahnya cukup rajin, dan sangat semangat dlm menuntut ilmu agama. Apakah dia ini berhaq untuk menerima zakat?
Jawab: Mengenai mereka yg masih punya hutang, maka berhak menerima zakat. Dan juga fuqara masakin. Fuqara adalah yang pendapatan perbulannya kurang dari 50% kebutuhan hidup primernya, dan masakin adalah yang pendapatannya lebih dari 50% kebutuhan primernya tetapi kurang dari 100% kebutuhan primernya. Zakat boleh diberikan pada mustahiq (yang berhak menrimanya)> Jika pembantu anda termasuk fuqara, maka ia berhaq. Jika tersisa, maka diteruskan pada orang miskin, lalu ibnu sabiil, yaitu orang rantau yang tak punya ongkos pulang ke kampungnya. Lalu amil zakat, yaitu orang yang membantu pembagian zakat. Lalu Gharimin, yaitu orang yang belum mampu melunasi hutangnya. Jika orang yang Anda ceritakan itu termasuk pada golongan yang boleh diberikan zakat, maka ia berhaq menerimanya sendiri atau bersama-sama. Zakat boleh diberikan pada perorangan sekaligus atau dibagi-bagi kepada beberapa orang dan golongan. Sebagian ulama mengatakan tak mesti berurutan.
-
The Creator (MP3)
Tiada yang pantas disembah kecuali Allah
Ia menciptakan pohon dan tumbuhan
Ia menciptakan lebah dan burung-burung
Ia menciptakan laut dan samudra
Sebagian dari kemurahan-Nya
Ia menjadikan kita khalifah di atas bumi
Untuk mematuhi segala keputusan-Nya
Yaa Allah kasihanilah kami,
Bersihkanlah penyakit hati kamiDimuliakanlah Allah di dalam kewibawaan-Nya
Tiada bagi kita Tuhan selain Dia
Dialah Yang Awal sebelum keberadaan
Dialah Yang Akhir setelah keabadian
Kemutlakan-Nya di atas segala batas
Wajib kepada-Nya kita bersujud
Tuhan yang menganugerahkan kehidupan
Dia menjadikan angin dan gelombang air
Berkat-Nya sungguh melimpah
Jayalah yang Ia panduIa memberikan kita siang dan malam
Ia memberikan kita indera penglihatan
Ia menciptakan matahari yang begitu terang
Dan bulan yang begitu putih dan murniIa menyelamatkan kita dari keadaan kita
Ia memimpin kita ke arah cahaya
Ia memimpin kita ke jalan lurus
Melalui kemurahan–Nya dan kuasa-NyaTuhan bumi dan langit
Tuhan pegunungan yang begitu tinggi
Tuhan yang menguasai siang dan malam
Tuhan dari kegembiraan dan kesenanganLaa ilaaha illallaah
-
Siapakah Dzul Qornain?
Konon, sebuah kisah mengenai Dzul Qornain, seorang Raja Diraja berhasrat mencari Maa’ul-Hayah (air kehidupan). Kabar bin kabar menyebutkan bahwa siapa yang dapat meni’mati air kehidupan itu, dia akan dikaruniai Allah masa hidup yang panjang sampai Hari Kiamat.
Beliau bermufakat dengan Perdana Menterinya, Balya ibnu Mulkan (Nabi Khaydir sebelum diangkat menjadi Nabi) agar bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan sumur air kehidupan itu. Segala sesuatu dipersiapkan, perjalanan dilakukan berdua-duaan tanpa diikuti oleh siapa pun. Balya ibnu Mulkan menjadi penunjuk jalan. Sebelum perjalanan itu dilakukan, Perdana Menteri berpesan kepada Rajanya, “Tuanku, apa pun yang kita temui dalam perjalanan ini janganlah dihiraukan karena hal itu akan menghambat perjalanan kita menuju apa yang kita cari.” Perjalanan ternyata cukup panjang dan memakan waktu cukup lama. Bermacam halangan dan rintangan yang dilewati, tidaklah mereka hiraukan. Dari kejauhan, tampaklah jalan lurus gemerlapan, penuh cahaya yang amat indah. Serasa hilang segala penat dan letih setelah menyaksikan keindahan jalanan itu, namun tujuan belum juga kelihatan.
Ternyata jalanan itu dihiasi permata-permata indah sejauh mata memandang. Dzulqornain serta merta mengambil permata-permata itu dengan penuh nafsu. Beliau masukkan ke dalam karung yang beliau panggul sendiri. Balya ibnu Mulkan berkata, “Tuanku, perjalanan kita masih jauh. Lebih baik tinggalkan saja semua itu.” Dzulqornain menjawab, “Tak apalah, permata-permata ini tidak seberapa beratnya.”
Perjalanan diteruskan, terlihat Raja Dzul Qornain sudah agak letih. Tambah jauh perjalanan, tambah pula rasa beratnya bawaan. Sering sudah perjalanan terhenti untuk menghilangkan penat. Sedikit demi sedikit, bawaan berupa permata itu terpaksa dilemparkan. Namun apa yang terjadi, belum juga sampai ke tujuan, beliau sudah tidak mampu lagi meneruskan perjalanan itu. Raja Dzul Qornain terpaksa kembali ke kerajaan, sedang Balya ibnu Mulkan meneruskan perjalanan beliau untuk menemukan maa’ul hayah. Beberapa lama kemudian setelah peristiwa itu, Raja Dzul Qornain meninggal dunia. Sebelum wafatnya, beliau pernah berpesan, “Bila sampai akhir hayatku, tolong keluarkan kedua tanganku dari peti mati. Agar rakyatku mengetahui bahwa si Dzul Qornain yang mempunyai kerajaan di Timur dan di Barat, yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, ternyata bila sampai ajalnya, hanya dengan tangan kosong melompong, tak ada satu pun yang dapat aku bawa.”
Siapakah Dzul Qornain?
Jika hikayat ini benar, maka kelirulah anggapan yang mengatakan bahwa Alexander the Great (Alexander III dari Makedonia) adalah Dzul Qornain yang dimaksud Al-Qur`an. Karena menurut hikayat ini, Balya ibnu Mulkan baru menjadi abadi setelah meminum Air Kehidupan pada masa Dzul Qornain. Sedangkan Balya ibnu Mulkan atau Nabi Khaydir pernah bertemu dengan Nabi Musa. Ini menunjukkan bahwa Dzul Qornain haruslah hidup sebelum atau semasa dengan Nabi Musa. Nabi Musa, menurut suatu sumber dikatakan lahir pada 1393 SM. Sedangkan Alexander the Great hidup jauh setelah Nabi Musa as. Alexander dilahirkan pada 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia.
Hikayat ini memang mirip dengan hikayat tentang Qin Shi Huang, kaisar yang meneruskan pembangunan tembok besar Cina dan memerintahkan Xu Fu untuk mencari pil abadi. Tetapi lagi-lagi Qin Shi Huang hidup setelah Nabi Musa, yaitu 260 SM sampai 210 SM.
Ada juga yang mengatakan bahwa Dzul Qornain adalah Kores, atau Kurush, atau Cyrus, pendiri kekaisaran Persia. Kerajaannya terbentang dari Asia Barat Selatan (Libanon, Israel) hingga Pakistan (sekarang), dari Timur Tengah hingga Armenia. Kekuasaannya meliputi Timur Barat Utara Selatan. Kerajaan Persia terkenal dengan logo domba dengan 2 tanduk yang melingkar. Al Maududi mengenai tembok besi untuk menghalang Yajuj dan Majuj berpendapat bahwa Yajuj dan Majuj adalah bangsa barbar yang tinggal di daerah Asia Tengah (seperti Mongol, Tartar, Hun, Scythian) dan, menurut Maududi, Cyrus telah membangun dinding untuk membatasi bangsa yang lebih beradab dari bangsa2 barbar tersebut. Selain itu Cyrus terkenal sebagai raja yang adil dan bijaksana. Bahkan dikabarkan dia melepaskan Bani Israel karena Bani Israel adalah kaum monoteistik dan memerintahkan pembangunan Kuil Sulaiman sebagai tempat penyembahan kepada Tuhan. Pendapat ini dikuatkan oleh Abul Kalam Azad. Namun Kores dilahirkan pada 576 SM.
Lalu salah seorang penulis bermanhaj salafy-wahabbi berpendapat bahwa Dzul Qornain adalah Akhnaton atau Akhenaten atau Amenhotep IV atau Amenophis IV. Ini sungguh teory yang aneh dan mencurigakan. Memang benar bahwa Akhnaton menyembah satu tuhan, tetapi yang disembahnya adalah dewa Aton, dewa matahari. Akhnaton bermakna hamba Aton. Aton merupakan dewa matahari yang digambarkan dengan cakra matahari. Akhnaton diklaim sebagai salah satu anggota perkumpulan rahasia yang menjadi cikal bakal perkumpulan Rosicrucian saat ini. Bahkan Akhnaton dianggap sebagai firaun yang paling berjasa bagi Rosicrucian dan paling mendapat pencerahan. Tidak mengherankan jika salafy-wahhabi menganggap Akhnaton sebagai Dzul Qornain mereka dan berusaha meyakinkan ummat Islam akan teory ini. Juga tidak mengherankan jika salafy-wahhabi merusak makam Nabi dan membiarkan Pyramid berdiri dan menjadi tempat studi. Mengingat sejarah salafy-wahhabi dan juga lambang dari salah satu penerbit salafy, maka semua itu tidaklah mengherankan. Lucunya, mereka beranggapan bahwa Akhnaton itulah yang membangun tembok besar di Cina. Setelah menganut geosentris, sekarang mereka mencoba berkata bahwa tembok besar china didirikan pada masa Akhnaton yang wafat sekitar tahun 1336 atau 1334 SM.Lalu siapakah Dzul Qornain sesungguhnya? Wallahu a’lam. Hingga saat ini, siapa Dzul Qornain sesungguhnya masih belum dapat dipastikan dan masih menjadi rahasia Ilahi. Jika kita mengenyampingkan hikayat di atas dan tidak menjadikan Nabi Khaydir sebagai penasehat Dzul Qarnain, maka Kurusy atau Cyrus mempunyai ciri paling dekat dengan Dzul Qornain. Namun bukan berarti pasti Kurusy itulah sang Dzul Qornain yang dimaksud Al-Qur`an. Sekali lagi, wallahu a’lam.
-
Proaktif dan Reaktif
Sikap proaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang tidak dipengaruhi oleh sikap orang lain terhadap dirinya, atau tidak dalam mencari keadilan atas sikap orang lain terhadap dirinya. Adapun sikap reaktif adalah sikap seseorang terhadap orang lain yang merupakan aksi balasan atas aksi orang lain kepadanya.
Sikap reaktif, selama tidak melampaui batas keadilan yang Allah tentukan adalah dibolehkan. Namun seorang mu’min akan lebih memilih sikap proaktif. Misalnya ada seseorang memukul orang lain tanpa alasan yang dibenarkan. Adalah dibolehkan bagi orang yang dipukul untuk membalas dengan balasan yang kurang lebih sama. Selama tidak melampaui batas keadilan. Namun ketika seorang mu’min dipukul, ia akan lebih memilih untuk memaafkan dari pada membalas pukulan itu.
Sayangnya, ada sebagian orang yang ketika direndahkan dan ditekan, ia melakukan tindakan reaktif bagaikan pegas yang ditekan ke bawah. Ketika pegas ditekan ke bawah, maka ia akan melompat ke atas sehingga melampaui tingginya sebelum ia ditekan.
Misalkan ada seseorang berkulit hitam bagaikan Sayyidina Bilal bin Rabah. Lalu temannya berkata kepadanya seraya mengejek dan merendahkan, “Hai hitam!” Lalu orang yang berkulit hitam itu berkata dalam hatinya seraya menghibur diri, “Aku memang hitam, tetapi hatiku lebih baik darimu,” atau, “Kulitku memang hitam. Tetapi kemulyaan seseorang terletak pada ketaqwaannya,” atau yang semisalnya. Maka hal ini termasuk reaksi berlebihan. Karena ia membalas kesombongan dengan kesombongan. Ia merasa bahwa hatinya lebih baik dari orang yang menghinanya, atau merasa lebih bertaqwa.
Adapun orang mu’min itu sadar, bahwa mungkin saja orang itu adalah orang yang dipilih Allah untuk mengingatkan dirinya bahwa dia hanyalah hamba, hamba yang lemah dan rendah. Jika dihina manusia saja kita menjadi sedih, lalu bagaimana pula kesedihan dan penyesalan kita ketika menghadap Allah dengan segala amal kita yang hina, dengan ketaqwaan yang rendah, dan ruh yang kotor? Inilah yang mungkin muncul dalam alam pemikiran seorang mu’min. Sehingga timbullah rasa kehambaan, tawadhu, dan kekhusyuan. Yang dia fikirkan bukanlah penilaian manusia, tetapi bagaimana keadaannya di akhirat kelak.
Seorang mu’min yang proaktif akan menyikapi perlakuan yang sama dengan cara yang berbeda. Dia tidak membalas suatu aksi dengan aksi yang sama. Dia dapat memaafkan kesalahan orang lain yang menyakitinya. Terhadap orang seperti ini, Allah malu jika tidak memaafkan kesalahan-kesalahannya. Barangsiapa suka memaafkan hamba, maka Allah lebih suka untuk memaafkan orang itu. Barangsiapa suka menolong sesamanya, maka Allah lebih suka menolongnya. Barangsiapa menyayangi yang di bumi, maka ia akan disayangi Yang di langit.
Ketika Nabi berda’wah ke Tha’if dan mendapat penolakan serta perlakuan zhalim dari penduduk Tha’if, apakah Nabi membalas mereka? Tidak, beliau tidak membalas mereka. Padahal jika beliau mau, maka para malaikat siap membinasakan penduduk Tha’if. Namun Nabi malah mendo’akan mereka dan keturunan mereka. Suatu sikap proaktif dari Sang Nabiyur Rohmah.
Menjelang wafatnya, Nabi mengumpulkan para shahabat dan bertanya kepada mereka, “Adakah diantara kalian yang pernah aku sakiti? Jika ada, majulah dan balaslah sekarang!” Bahkan seorang penghulu para Nabi masih memikirkan hari pembalasan. Betapa tinggi rasa kehambaan beliau. Lalu berdirilah seorang shahabat dan mengatakan bahwa cambuk Nabi SAW pernah mengenai tubuhnya, mungkin tidak sengaja. Dia ingin membalas hal itu. Lalu ramailah para shahabat yang lain melihat sikap shahabat yang satu ini. Di antara para shahabat ada yang meminta shahabat tersebut untuk mengurungkan niatnya, dan yang lainnya bersedia menggantikan Rasul untuk dicambuk. Namun shahabat tersebut bersikukuh, dan Nabi SAW pun tidak mau digantikan oleh shahabat lainnya.
Lalu Nabi SAW menyuruh shahabat lain untuk meminta cambuk beliau kepada Sayyidah Fathimah. Setelah cambuk diberikan, shahabat tersebut meminta agar Nabi SAW membuka bajunya, karena saat terkena cambuk, shahabat tersebut dalam keadaan telanjang dada. Maka Nabi SAW pun membuka bajunya. Shahabat itu pun mendekat. Setelah cukup dekat, shahabat tadi malah menjatuhkan cambuk itu dan mencium perut Nabi SAW. Ternyata dia menggunakan peristiwa tersebut hanya sebagai alasan agar dia mendapat perhatian dari Nabi dan agar Nabi mau membuka bajunya dan mengizinkan dia mendekat dengan leluasa. Maka nyatalah kecintaan shahabat itu. Lalu Nabi bersabda bahwa shahabat tersebut telah dijamin masuk surga.
Ternyata rasa cinta dapat membuat seseorang bersikap berbeda terhadap perkakuan yang sama. Cinta dapat menimbulkan sikap proaktif. Cinta tidak membutuhkan inputan baik untuk menghasilkan output yang baik. Cinta tidaklah pasif, tetapi aktif. Mu’min yang sejati memiliki hati yang penuh cinta kepada Allah dan Rasulnya, rasa sayang kepada sesama muslim, dan rasa kasih kepada sesama manusia dan makhluq Allah. Itulah sebabnya seorang mu’min memiliki sikap proaktif, sesuai dengan kadar iman di dadanya.
-
Taushiah Habib Munzir, 28 Juli 2008
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh,
Limpahan puji kehadirat Allah Swt Yang Maha Luhur, Maha Menguasai jiwa dan Maha Menguasai alam yang terlihat dan yang tidak terlihat, alam yang dirasakan dan alam yang tidak dirasakan. Maha Menguasai seluruh apa yang ada di alam semesta sebelum kita tercipta, setelah kita ada dan setelah kita tiada. Dia Allah tetap Maha Tunggal dan Maha Abadi dan Maha Ada, menguasai seluruh kehidupan, Maha Melimpahkan Rahmat dan Pengampunan yang tiada henti-hentinya ditumpahkan pada hamba-hamba-Nya, Jalla wa alla.Maha Suci Allah Swt, yang barangsiapa mengingatnya maka terang benderanglah jiwanya dengan cahaya Allah, yang dengan itu ia akan terbimbing selalu kepada keluhuran, kepada kemuliaan, kepada kesucian dan tercabut dari segala sifat-sifat yang hina, sifat-sifat yang tidak baik akan tersingkir dengan terang-benderang cahaya keindahan Allah di dalam jiwanya.Semakin ia terangi jiwanya dengan iman dan dengan istighfar dan dengan kerinduan dan cinta kepada Allah, semakin jauh perbuatan buruk dari hari-harinya, semakin jauh musibah darinya, semakin jauh kesulitan darinya.
Hadirin – hadirat Sang Pembawa Rahmatan Lil Alamin membawakan kepada kita semulia-mulia anugerah, seindah-indah derajat berupa kedudukan yang abadi, semulia-mulia tingkatan yaitu kedekatan kepada Yang Maha Mencipta alam semesta. Dan jabatan ini jabatan yang kekal dan abadi, inilah jabatan yang paling mulia dari semua jabatan sepanjang alam semesta dicipta, jabatan para muqorrobin, para shiddiqin dan semua orang-orang yang dekat kepada Allah, jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, jiwa yang terang-benderang dengan khusyu, jiwa yang merindukan Allah. Manusia hamba-hamba seperti inilah yang menjadi mercusuar dari rahmat illahi bagi alam sekitar.
Kalau bukan karena pria-pria mukminin dan wanita-wanita mukminat yang kalian tidak ketahui kemuliaan mereka di sisi Allah, seandainya mereka itu tiada, akan tumpah ruah musibah dan bala di atas permukaan bumi, keberadaan jiwa yang bercahaya dengan cahaya Allah, keberadaan muslimin – muslimat pria dan wanita yang khusyu, yang menjaga turunnya bala dan musibah di permukaan bumi. Demikian indahnya Allah memperindah keadaan alam dengan keberadaan mereka, matahari tiada akan mampu menahan musibah, tidak pula bulan, tidak pula seluruh bintang di langit, tapi keberadaan ahlul khusyu menahan musibah bagi alam sekitar. Demikian cahaya-cahaya Rabbul Alamin yang berpijar di dalam jiwa mereka.
Para pewaris Sayyidina Muhammad, mereka yang mewarisi kemuliaan dari matahari keridhoan Allah, Nabiyyuna Muhammad Saw. Ada matahari dunia, ada matahari keridhoan Allah, semuanya ciptaan Allah, semuanya tidak tercipta sendiri, semuanya ada dengan kehendak illahi. Demikian Allah menerangi sanubari mereka dan menggiringnya kepada keluhuran dan dengan keberadaan merekalah Allah membimbing ribuan dan banyak jiwa untuk kembali kepada rahmatNya dan kepada taubat.
Demikian hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
sampailah kita kepada seruan tertinggi dari Rabbul Alamin lewat NabiNya Muhammad Saw hingga beliau bersabda “barangsiapa yang mempunyai tiga sifat mulia ini, maka ia akan merasakan lezatnya iman”, apa itu lezatnya iman? tenangnya jiwa dalam segala keadaan, tenangnya alam semesta dengan ketenangan-Nya, tenangnya saudara dan temannya dengan keberadaan-Nya. Siapa mereka? yang mempunyai salah satu dari tiga sifat ini. Jiwanya akan merasakan lezatnya kebersamaan dengan Allah, ketika ia merasakan satu kelezatan yang membuatnya terlupa dari segala kelezatan dan kenikmatan, satu kelezatan dan keindahan dan kemanisan yang melebihi seluruh apa yang ada dari kemanisan dan keindahan itu, membuatnya lupa dari segala-galanya. Apa itu? Halawatul iman (kemanisan iman), bagaimana cara mencapainya?Ada 3 kelompok orang diantaranya adalah yang pertama ialah orang yang mencintai Allah dan Rasul melebihi daripada segala-galanya, cintanya Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada yang lain, orang yang seperti ini akan merasakan lezatnya iman, akan merasakan lezatnya dekat dengan Allah, akan merasakan betapa tiada berartinya seluruh warna seluruh bentuk dan sifatnya dibanding Yang Maha Agung Yang Maha Indah, Allah Swt yang tidak tercapai dengan penglihatan, tidak pula terjangkau dengan pendengaran, tidak pula tersentuh dengan sentuhan, jauh tanpa jarak dan dekat tanpa jarak, dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak yaitu Allah Swt.
Seindah-indah Dzat yang menciptakan seluruh keindahan dan memberikan butir-butir kelezatan di dalam jiwa hamba-hamba-Nya, yang mencintai Allah melebihi segala – galanya. Allah dan Rasul, tidak ada yang lain yang lebih mereka cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.
Sebenarnya kalau kita memahami dan mendalami rahasia kelembutan Allah, sudah pasti kita tidak akan mencintai sesuatu lebih dari Allah dan Rasul, karena Allah dan Rasul lah yang paling baik kepada kita melebihi semua yang baik kepada kita. Allah Swt sudah memberi kita segala – gala anugerah dan kita masih terus bersabar dan Dia Allah masih terus memberi, diatas itu masih tawarkan pengampunan atas dosa dan kesalahan. Inilah yang terbaik dari semua yang baik.
“Wahai hamba-hambaKu, kau itu berbuat dosa siang dan malam dan Aku menghapus dosa. Wahai hamba-hambaKu beristighfarlah mohon pengampunan padaKu, Kuampuni dosa-dosa kalian”. Lebih dari itu Allah bukan menjanjikan pengampunan saja bagi mereka yang telah bertaubat kepadaNya, tapi Allah mengatakan, “orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu setelah mereka bertaubat dari dosa-dosanya”, apa yang Allah berikan jika mereka mau bertaubat kepada Allah? Ini anugerah yang sangat luar biasa, jarang diketahui orang. Bukan dihapus dosanya, tapi dosanya dibalik menjadi pahala, kalau ia mempunyai 10 gunung dosa maka 10 gunung dosa itu dirubah oleh Allah menjadi 10 gunung pahala. Untuk siapa? Orang yang bertaubat kepada Allah, tidak cukup minta pengampunan saja tapi ia berjanji pada Allah untuk tidak ingin kembali melakukan dosa yang pernah ia perbuat. Orang yang seperti itu, Allah ganti semua tumpukkan dosanya menjadi tumpukkan pahala seakan-akan tumpukkan gunung bara api yang akan membakarnya diganti oleh Allah menjadi gunung-gunung emas yang akan menyertainya kelak.
Demikian Yang Maha Lembut dan Maha Baik kepada kita, berkata Allah “wahai hamba-hambaKu kalian semua ini tidak akan bisa membawa manfaat kepadaKu dan tidak akan pernah pula bisa membawa mudharat kepadaKu”. Wahai hamba-hamba Ku, jika berkumpul jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya mempunyai hati yang baik dan taqwa, tidak bertambah kerajaanKu sedikit pun. Wahai hamba-hambaKu, jika berkumpul kalian seluruh jin dan manusia diantara kalian seluruhnya yang pertama hingga yang terakhir, semuanya berada di dalam hati yang jahat dan perbuatan yang buruk, tidak berkurang kerajaan-Ku sedikit pun.
Demikian MahaRaja alam semesta Allah Swt yang dengan itu Ia menawarkan pengampunanNya atas setiap kesalahan, ditawarkan pengampunan sebelum hambaNya meminta, sebelum hambaNya tahu bahwa dirinya mempunyai kesalahan dan butuh minta maaf, Dia sudah kenalkan maafNya sebelum kita minta maaf.
Dan Dia Allah Swt tidak cukup kita taat dan kita diberi apa-apa di dunia saja disiapkan pula kebahagiaan di yaumal qiyamah. Inilah Yang Maha Baik dan tidak akan pernah ada yang bisa memberi kita surga selain Allah. Dan Allah Swt menjadikan kebaikan pada diri makhluk-Nya satu sama lain, hewan punya kebaikan, ibunya hewan punya kebaikan pada anaknya, ayahnya hewan demikian pula manusia satu sama lain saling berkasih satu sama sama lain. Tapi Allah ciptakan yang paling baik dari semua makhluk-Nya adalah Sayyidina Muhammad Saw, karena tidak ada orang yang paling baik yang mau menolong pendosa di hari kiamat.
Semua orang baik undur diri dari dosa, mau jadi teman, mau jadi kawan, mau jadi saudara, mau kenal asal jangan bicara dosa di dunia. Kita bisa kenal dan dekat dengan orang yang banyak dosa tapi di akhirat setelah melihat kobaran api neraka. Jika turun hamba-hamba yang dimasukkan ke dalam api neraka itu terdengar jeritan dan lolongan mereka dan api itu bergemuruh. Disaat itu hadirin – hadirat semuanya mundur untuk kenal dengan pendosa, “kau kenal dengan temanmu ini?”, “tidak kenal”, “ini Ayahmu?”, “tidak tahu”, ini Ibumu?”, “tidak tahu”, selama ia pendosa kecuali Nabi kita Muhammad Saw berkata “engkau-engkau adalah orang dari umatku, engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku”. Demikian riwayat Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari, Rasul Saw mengenali seluruh umatnya dan berkata pada umatnya, “engkau umatku, engkau umatku, engkau-engkau umatku Saw”. Maka memang yang pantas dicintai adalah Allah dan Rasul, maka Rasul Saw bersabda “orang yang mempunyai kecintaan, cintanya pada Allah dan Rasul lebih dari segala-galanya,kalau ia sudah memiliki ini, ia akan merasakan kelezatan iman”.
Yang kedua ia mencintai orang karena cintanya pada Allah, bukan karena hartanya, bukan karena syahwatnya, bukan karena keahliannya, bukan karena jabatannya, bukan karena tetangganya, tapi karena Allah. Berat sekali kalau kita fikir ini, cinta pada semua orang tidak ada tapi karena cintanya pada Allah baru bisa cinta pada semua orang. Kalau tidak ia tidak cinta, bagaimana ini penjelasannya? Penjelasannya adalah ketika orang yang ia cintai berbuat dosa, ia tidak senang dengan perbuatan itu, bukan dimusuhi tapi tidak senang dengan perbuatan itu.
Jika seseorang tidak cinta karena Allah, maka saudaranya atau temannya atau kekasihnya atau orang yang ia cintai berbuat dosa, ya biarkan saja. Kalau orang lain yang berbuat dosa, ia protes dan kalau orang yang ia cintai, biar..biar. Nah, hal seperti ini, ia mencintainya tidak karena Allah, kalau karena Allah, ia tidak suka. Aku ingin memperbaiki orang yang aku cintai, harus kuperbaiki semampuku supaya ia tidak bertentangan dengan Allah, karena aku memilih Allah dari dia. Sekuat apapun cintaku kepadanya, aku lebih memilih Allah daripada dia. Orang yang mempunyai sifat seperti ini, ia akan merasakan lezatnya iman, lezat dan asyiknya dalam berdzikir, bermunajat memanggil nama Allah Swt.
Yang ketiga ia tidak mau kembali kepada kesesatan sebagaimana ia sangat tidak mau masuk kedalam api neraka, jadi takutnya daripada kembali kepada kesesatan bagaikan takutnya ia masuk kedalam neraka. Beda punya perasaan takut ini, takut dihina ada batasnya, takut dipukul ada batasnya, takut dicurigai ada batasnya, takut disiksa ada batasnya tapi tidak sampai takutnya dari masuk kedalam api. Dari semua ketakutan dan kerisauannya, tentu yang paling besar adalah dimasukkan kedalam api karena sakit dan pedihnya.
Demikian besarnya ketakutan dan kerisauannya untuk kembali kepada kesesatan, ia tidak mau kembali kepada kesesatan dalam keadaan apapun sebagaimana ia tidak mau masuk kedalam api. Orang yang mempunyai sifat ini maka ia akan merasakan lezatnya iman. Kita sekarang merenung, bagaimana dengan diriku? Rasanya dari 3 sifat ini aku sangat jauh daripadanya. Hadirin – hadirat, ada beberapa hal yang sangat memudahkan kita untuk menyampaikan kita kepada lezatnya iman. Diantaranya adalah niat yang kuat untuk mendapatkan sifat itu, mau walau belum mampu. Niat yang kuat sudah mendapatkan satu pahalaNya, walaupun belum mampu kesana, niat yang kuat membuat ia sampai kepada pahalaNya, ia akan merasakan lezatnya iman dan manisnya iman.
Belum sampai bisa mencintai Allah dan Rasul melebihi segala-galanya, bisa mencintai manusia hanya karena Allah, bisa menghindari kesesatan lebih daripada takutnya masuk kedalam api, belum mampu tapi kuatnya niat, karena didalam riwayat Shahih Bukhari Rasul Saw bersabda, “barangsiapa yang berniat berbuat baik, Allah tuliskan satu pahalaNya, ia sudah melakukan satu pahala jika ia sudah memperbuatnya kalikan 10 kali hingga 700 kali lipat”. Keinginan besar untuk mencapai itu, walau ia belum mampu sudah memasukkannya dalam kelompok mereka, sudah lalu bagi mereka kelezatan iman. Hadirin – hadirat ini salah satunya.
Cara yang lainnya adalah mencintai orang-orang yang sudah sampai ke derajat itu, karena apa? Karena kecintaan itu dijanjikan oleh sang Nabi Saw “seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”. Makin besar cintanya kepada orang yang sudah mencapai derajat itu, maka makin ia akan rasakan lezatnya iman dari rahasia cintanya kepada orang itu, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Sebagaimana ucapan Abu Dzar Ra riwayat Shahih Bukhari, “ya Rasulullah, seseorang kelompok mencintai orang lainnya tapi tidak bisa menyusul dengan hebatnya ibadah mereka, tidak mampu seperti mereka, cuma cinta kepada mereka”, Rasul Saw menjawab,“seseorang bersama dengan orang yang ia cintai”.
Alangkah indahnya hadirin – hadirat, masukki samudera kelezatan iman, masukki samudera asyiknya didalam kehidupan karena kenikmatan ini akan kita rasakan melebihi dari seluruh kenikmatan yang ada. Paling tidak kita kalau tidak bisa didawamkan sepanjang usia, Rabbiy beri kami kesempatan satu dua menit kami merasakan lezatnya iman. Dalam kehidupan kami ini paling tidak satu dua sujud kami merasakan, kami sangat dekat dengan kasih sayang dan kelembutanMu.
Demikian hadirin – hadirat indahnya doa dan munajat, seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Beruntung orang yang mencintai Sayyidina Muhammad Saw. Manusia yang paling indah budi pekertinya, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bagaimana Rasul Saw selalu mencari cara yang paling indah dalam bermuammalah. Ketika bertamu kepada beliau Saw beberapa orang yahudi, yahudi datang kepada Rasul, kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah “Assamu’alaikum”, kecelakaan untukmu wahai Muhammad. Beda Assalam dengan Assam, kalau tidak pakai (lam), Assam itu artinya kehinaan dan kecelakaan. Orang-orang yahudi bertamu kepada Rasul Saw, kalimatnya bukan Assalamu’alaikum tapi Assamu’alaik, kecelakaan dan kehinaan semoga terlimpah untukmu hai Muhammad.
Rasul menjawab “Wa’alaikum”, Sayyidatina Aisyah Ra, istri Rasul Saw, Ummul Mukminin mendengar dari belakang, ini orang mendoakan kehinaan dan kecelakaan bagi Nabi, tamu datang, bukan Rasul yang datang tapi datang pada Rasul dengan ucapan seperti itu, dijawab oleh Sayyidatuna Aisyah Ra “Assamu’alaikum wa’alaikumul laknat”, kehinaan dan kecelakaan untuk kalian dan laknat untuk kalian. Rasul Saw menjawab, “ya Aisyah Allah itu lebih senang kasih sayang dalam segala hal”. Aisyah Ra berkata, “ya Rasulullah kau tidak dengar ucapan mereka?”, Rasul menjawab, “aku sudah jawab wa’alaik, juga untuk kalian, kalian mendoakan kebaikan balik kepada kalian, kalian mendoakan kejahatan balik kepada kalian sendiri”. Demikian kalimat ini, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal.
Disinilah hadirin – hadirat, kita lihat tuntunan Nabi kita Muhammad Saw selalu di dalam kelembutan dan kasih sayang dalam segala hal bahkan dalam peperangan. Di dalam jihad fisabilillah kelembutan dijalankan oleh sang Nabi Saw, belum pernah ada peperangan selembut cara peperangan muslimin, tidak boleh memukul wajah, tidak boleh menyerang orang yang tidak bersenjata, tidak boleh memukul wanita dan anak-anak. Demikian banyaknya peraturan-peraturan di dalam islam ini disaat berperang.
Perang itu ternyata bukanlah luapan emosi, tetapi juga menahan diri dari kemarahan dan juga berkasih sayang, sehingga Rasul Saw melarang memukul wajah, kalau senjata musuh sudah jatuh tidak boleh diserang lagi, kalau musuh mengucap syahadat tidak boleh diteruskan sampai ketika Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw telah mengangkat pedangnya ketika musuhnya telah berhasil dirobohkan dan ia diludahi wajahnya.
Maksudnya adalah didalam hatinya sebelum aku mati dibunuh Ali bin Abi Tholib Kw, biar aku ludahi dulu wajahnya, lalu Sayyidina Ali Kw mundur dan meninggalkan orang itu. Sahabat berkata “wahai Ali sudah tinggal satu pukulan lagi”, Sayyidina Ali Kw berkata, “aku risau nanti ada tercampur emosi di dalam perbuatanku”. Ini hadirin bukan kita, tapi kalau kita barangkali bisa ada emosi tapi kalau orang semacam Sayyidina Ali bin Abi Tholib Kw, tarbiyah Nabi Saw dan beliau adalah babul ‘ilm, masih risau ada sebutir emosi merusak pahala jihadnya, sehingga meninggalkan orang yang meludahi wajahnya dan beliau mundur takut tercampur sedikit niat yang kurang baik yaitu emosi disaat ia melawan musuhnya.
Ini hadirin – hadirat jelas-jelas sudah sabda Nabiyyuna Muhammad Saw, Allah menyukai kasih sayang dalam segala hal maka dengan itulah dakwah sang Nabi Saw berhasil dan maju sampai ke Barat dan Timur. Jika engkau itu bengis dan kasar maka orang akan pergi meninggalkanmu wahai Muhammad Saw.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, ketika Rasul Saw bercerita diriwayatkan oleh Abdullah Ra, “aku mendengar Nabi Saw bercerita bahwa ada Nabi dari diantara para Nabi, ketika ia di dalam peperangan ia diserang sampai luka wajahnya”. Rasul Saw menceritakan ada diantara para Nabi, ketika sedang diserang oleh musuh-musuhnya terluka wajah Nabi tersebut, ia mengusap darah dari wajahnya dan berkata “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka tidak tahu”.Al Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dinukil oleh Al Imam Ibn Hajar di dalam kitabnya Fathul Baari bi Syarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa Nabi diantara para Nabi-Nya yang diceritakan oleh Nabi Muhammad Saw itu adalah Nabi Muhammad Saw sendiri, karena apa? karena belum pernah terlukis dan teriwayatkan ada Nabi yang berbuat seperti itu terkecuali Nabi Muhammad Saw, cuma beliau tidak mau menyebutkan dirinya, disebutkan ada diantara para Nabi, padahal beliau Saw sendiri.
Imam Ibn Hajar menukil ucapan Imam Qurthubi bahwa kejadian itu adalah disaat perang uhud, diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa saat itu Rasul Saw terkena panah besi sampai menembus rahangnya dan darah mengalir, Nabi Saw menadahi darah itu jangan sampai menetes ke bumi. Para sahabat berkata, “ya Rasulullah, kita obati dulu ini yang diwajahmu, jangan fikirkan darah yang menetes”.
Diriwayatkan oleh Imam Ibn Hajar mensyarah hadits ini, Rasul Saw berkata, “ kalau ada setetes darahku yang jatuh ke bumi, Allah akan melimpahkan bala pada mereka”. Orang yang memerangi Sang Nabi Saw, kalau sampai darah beliau Saw tumpah dari wajah ini dan menetes ke bumi, Allah turunkan bala. Nabi Saw lebih memikirkan jangan bala turun pada kaumnya dengan menjaga darah yang menetes, jangan sampai ke bumi. Lupa dengan darah dan luka yang melebar di wajahnya. Terfikir ini musuhnya nanti kena musibah oleh Allah, dijaga jangan sampai ada tetes darah yang turun, jangan sampai menyentuh bumi, jangan celaka mereka dan didoakan, “wahai Allah ampuni kaumku, sungguh mereka itu tidak tahu”. Tentu wahai Rasul, kalau mereka tahu, mereka akan menciumi kakimu dan tidak akan memerangimu.
Demikian hadirin – hadirat indahnya budi pekerti Nabi Muhammad Saw dan perjuangan dan niat beliau. Untuk membenahi permukaan Barat dan Timur ini, tidak wafat dengan wafatnya beliau tapi terwariskan dari zaman ke zaman. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, Rasul Saw, “orang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan sampai ia menyerahkan saudaranya kepada musuh atau berkhianat kepada saudara muslimnya, jangan pula mendholiminya”. Barangsiapa yang ia perduli kepada kebutuhan saudaranya, Allah perduli kepada kebutuhannya kata Rasul Saw. Demikian indahnya hadirin – hadirat iman kita dan tuntutan Sang Nabi, selama kita memikirkan kebutuhan orang lain, Allah akan membantu kebutuhan kita.
Disini hadirin kita terpanggil untuk membela orang-orang yang membutuhkan dari saudara kita dan tentunya yang paling berhak dibela adalah Sayyidina Muhammad Saw. Bela dakwah beliau, benahi umat ini, bisa dengan telepon, bisa dengan sms, bisa dengan ucapan, bisa dengan harta, bisa dengan apapun agar kita mengajak teman-teman, saudara-saudara kita kembali kepada taubat, kembali kepada hidayah, meninggalkan kemungkaran. Selama engkau memikirkan ini, Allah akan mementingkan hajat dan kebutuhanmu. Inilah janji Allah dan Rasul, maka barangsiapa yang perduli kepada kebutuhan dan kesulitan temannya, Allah akan perduli kepada kesulitannya dunia sampai di akhirat.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, seseorang ketika sudah habis pahalanya, ia sudah diberdirikan di atas jurang neraka, maka Allah Swt berkata kepada para malaikat, “bebaskan ia”, malaikat bertanya, “kenapa wahai Allah?, sudah tidak punya amal, dosanya banyak”, Allah menjawab, “ia dahulu ketika di muka dunia sering menolong masalah orang lain, Aku malu untuk menjatuhkannya ke dalam kehinaan karena ia selalu menolong orang lain, Aku lebih berhak menolong orang lain dan Aku menolongnya”. Ia tidak punya pahala lagi, habis oleh dosa-dosanya akan tetapi jiwa kasih sayang seperti ini, maka barangsiapa yang perduli tentang keperluan saudaranya maka Allah akan memperdulikan kebutuhannya di dunia dan di akhirat. Rasul Saw bersabda, “tolong teman-temanmu yang dholim dan teman-temanmu yang didholimi”.
Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari para sahabat bertanya, “ya Rasulullah kami tau kalau menolong orang yang didholomi, kalau menolong orang yang dholim apa maksudnya ya Rasulullah?, ia sudah dholim lalu kami tolong dia”. Rasul Saw menjawab, “selamatkan orang-orang yang dholim agar jangan lagi berbuat dholim, tuntun mereka pada kemuliaan, tuntun mereka kepada kesucian hidup, tuntun mereka kepada kelembutan Allah Swt, selamatkan mereka orang-orang yang dholim dan orang-orang yang didholimi”. Demikian indahnya tuntunan Nabi kita Muhammad Saw.
Hadirin – hadirat semakin kita dalami hari-hari mulia bersama tuntunan Sang Nabi, semakin indah hidup kita. Kita bermunajat kepada Allah Swt semoga Allah menerangi jiwa kita dengan kelezatan iman, dengan manisnya iman, Ya Rahman Ya Rahiim tangan – tangan penuh dosa ini terangkat kehadirat-Mu meminta dan mengemis kepada-Mu Yang Maha Luhur, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim jadikan kami orang – orang yang mencintai-Mu dan mencintai Nabi-Mu melebihi dari segala-galanya.
Rabbiy paling tidak satu kejab dua kejab Kau rasakan pada kami kelezatan iman, Kau rasakan pada kami lezatnya menyebut Nama-Mu, Kau rasakan pada kami lezatnya kebersamaan denganMu hingga kami terlupakan dari seluruh kenikmatan dan seluruh masalah ketika kami menyebut Nama-Mu, ketika bibir ini bergetar memanggil Nama-Mu.
Rabbiy Ya Rahman Ya Rahim inilah dosa – dosa dan Kaulah Yang Maha Mengampuni, tiada yang mengampuni terkecuali Engkau dan Engkau telah berlemah lembut kepada kami, menghadirkan kami di majelis dan perkumpulan mulia ini dan siap melimpahi rahmat dan inayah kepada kami setelah kami selesai dari majelis ini ya Rabb, Wahai Nama Yang Maha Dermawan, Wahai Nama Yang Maha Pemurah, Wahai Nama Yang Maha Baik, Wahai Nama Yang Maha Menyejukkan Semua Jiwa, tenangkan jiwa kami dalam kehidupan yang sementara ini dan tenangkan hari – hari kami dan tenangkan juga malam kami sampai kami wafat, jadikan selalu ketenangan dan kesejukkan iman bersama kami.
Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
Fakullu jami’an Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahiim, tidak Kau biarkan Rabbiy setiap kali kami menyebut Nama-Mu terkecuali Kau semakin dekatkan kami kehadirat-Mu, kecuali Kau makin jatuhkan dosa – dosa kami, kecuali Kau perbanyak Kedermawanan Rahmat dan Anugerah.Fakullu Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman..Ya Rahiim..dosa – dosa kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kami mengaku bersalah, Ya Rahman..Ya Rahiim.. kesalahan kami, Ya Rahman..Ya Rahiim.. api neraka, Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah.. Ya Allah..Ya Allah..
Ya Rahman Ya Rahiim Ya Dzal Jalali Wal Ikram Ya Dzatauhid Wal In’am,
Fakullu jami’an Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Laaillahaillallah Muhammadurrasulullah. Insya Allah ta’ala minal aminin. Allah Swt berfirman, “orang – orang yang beriman akan tenang jiwa mereka dengan menyebut Nama Allah”. Dengan menyebut Nama Allah akan tenanglah jiwa.Hadirin – hadirat esok malam Insya Allah kita berkumpul lagi di masjid ini , di dalam isra wal mi’raj Nabiyyuna Muhammad Saw dan akan membaca Allah sebanyak 1000X dan Insya Allah persiapkan malam ini hingga esok perbanyak dzikir dan doa hingga esok malam jiwa kita benar – benar terang benderang dengan cahaya keberkahan di dalam dzikrullah. Wassalallahu wassallam wabarik ‘ala Nabina Muhammadin wa’ala alihi washohbihi wassallam. Walhamdulillahirabbil’alamin.wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
-
Hadits dan Atsar Mengenai Surah Yasin
oleh: Moulana Muhammad ibn Moulana Haroon Abbassommar, ulama spesialis dalam Hadits di Afrika Selatan
Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar (radiyAllau ‘anhu) meriwayatkan bahwa Rasulullah (sallAllahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Yasin adalah qalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imaam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Sahiih (Autentik), di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376.
-
Mana Dalilnya?
Kaum sempalan sering menebarkan syubhat-syubhat kepada ummat dengan menggunakan kata-kata seperti, “Mana dalilnya?” atau “Itu bid’ah.” atau “Itu hadits palsu.” dan sebagainya. Ketahuilah, perbuatan mereka itu sangat disenangi oleh para missionaris. Karena perbuatan seperti itu akan memecah-belah ummat. Kita semua tahu bahwa ummat telah berjalan dalam sunnah-sunnah yang baik, dalam kebiasaan-kebiasaan yang baik. Namun kaum sempalan ini datang untuk menebarkan keraguan atas kebiasaan-kebiasaan yang baik ini. Mereka mengajak ummat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang baik ini. Padahal kebiasaan-kebiasaan baik ini sangat bermanfaat untuk syiar. Betapa senangnya missionaris Kristen ketika melihat syiar Islam menjadi padam dan ummatnya terpecah-belah. Siapa penyebab semua itu? Kaum sempalan yang fanatik kepada ustadz-ustadz mereka. Jika kita tanyakan kepada mereka mana dalilnya, niscaya mereka tidak menemukan dalil kecuali dalil yang telah dipelintir tafsirannya. Atau mereka dasarkan pemikiran mereka itu kepada kata-kata ustadz mereka yang sanad ilmu dari ustadz-uztadz mereka tidak bersambung kepada salaful ummah, sehingga sering salah dalam menafsirkan ayat dan hadits. Sekarang, inilah dalil kami. (lebih…)