Blog

  • PEMURTADAN MASSAL

    Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqoroh: 120)

    Sebagian manusia ada yang selalu benci kepada Nabi Muhammad saaw dan apa yang beliau bawa dari Allah SWT. Sebenarnya tidak ada alasan yang valid untuk membenci Nabi Muhammad saaw. Namun begitulah anak-anak Iblis dalam menghalangi da’wah Hamba Allah yang terpilih, Muhammad Al-Musthofa.More…

    POLYGAMI

    Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa`: 3)

    Saat ini ada gerakan untuk menentang polygami. Pada zahirnya, penentang polygami ini kebanyakan adalah dari kalangan Muslimah. Tetapi siapa gerangan yang telah menggerakkan Muslimah-Muslimah ini untuk menentang syariat Nabi mereka? Non-Muslim mungkin ada di belakang mereka. Non-Muslim merekayasa pemberitaan sedemikian rupa dan membuat penggerakkan massa melalui agen-agen mereka yang mengaku Muslim untuk menentang polygami. Polygami mereka jadikan suatu hal yang harus ditentang seperti mereka telah menentang Rancangan Undang-Undang Anti Phornographi dan Phornoaksi (RUU APP). Ketika syariat ditentang dan ma’siat di dukung, maka siapa lagi yang merekayasa semua itu kalau bukan anak-anak Iblis yang ingin membinasakan keturunan manusia?

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqoroh: 208)

    Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44)

    Apakah polygami merupakan alasan yang valid untuk membenci Muhammad Rasulullah saaw? Tentu saja tidak. Bukankah dalam Alkitab pun dikisahkan bahwa para Nabi sebelum Muhammad Rasulullah saaw juga berpolygami? Daud, Sulaiman, Ibrahim, Ya’qub. Bukankah mereka semua berpolygami? Beranikah Anda menyebut Sulaiman, Daud, Ya’qub, dan Ibrahim sebagai ‘maniak seks’ atau ‘tukang kawin’? Tidaklah membenci polygami kecuali orang-orang yang ditipu daya oleh Iblis.

    Apakah UU Polygami itu sesuai syariat Islam? Tentu saja tidak. Setiap laki-laki diperbolehkan berpolygami dan tidak masalah apakah ia seorang PNS, tokoh agama, atau apa pun. Kebanyakan wanita tidak siap dimadu karena mereka lebih melihat cinta manusia daripada cinta Ilahi. Seandainya semua manusia ini menjadikan cinta Ilahi di atas segala cinta dalam hatinya, maka polygami bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Ketahuilah, setulus apa pun seorang suami mencintai isterinya, suatu saat pasti keduanya akan berpisah. Tetapi jika yang diharapkan manusia itu adalah cinta Ilahi, maka ketahuilah bahwa Allah itu Kekal. Manusia di zaman ini lebih mementingkan cinta makhluq. Makhluq menjadi segala-galanya. Pernikahan hanya dihubungkan dengan seks dan cinta. Padahal pernikahan adalah suatu lembaga suci yang tujuannya adalah membentuk keluarga yang sakinah dan dicintai Allah. Jika seorang wanita menikah dengan seorang pria hanya dengan tujuan seks dan cinta, maka dia tidak akan pernah siap untuk dimadu. Tetapi kesiapan seorang wanita untuk dimadu adalah indikasi bahwa dia menikah dengan seorang pria adalah karena Allah SWT.

    Kemudian ketahuilah oleh kalian bahwa jumlah wanita di dunia saat ini adalah lebih banyak daripada kaum pria. Wahai kaum ibu, jika kamu tidak ingin puteri-puterimu terjerembab dalam lembah kenistaan, maka ajarilah mereka untuk siap dimadu. Karena menjadi madu seseorang lebih mulya daripada dia menjadi pelacur. Dan berbagi cinta dengan wanita lain adalah lebih mulya dari pada membiarkan wanita lain menjadi pelacur. Penolakan terhadap Syari’atul Muthohharoh hanya timbul dari hati egois yang telah dipengaruhi oleh syaithan. Maka berhati-hatilah, janganlah Anda jauh dari majelis ta’lim. Karena orang yang jauh dari majelis ta’lim itu seperti seekor domba yang jauh dari kawanannya, maka dia akan diterkam serigala buas.

    Ingatlah, tidak sempurna imanmu hingga kamu mencintai saudaramu seperti kamu mencintai dirimu sendiri. Pahamilah perasaan wanita lain yang tidak bersuami. Siapa yang melindungi mereka? Siapa yang mengasihi dan menyayangi mereka? Siapa yang memberi kehangatan dan kemesraan bagi mereka? Apakah Anda lebih senang jika saudari kandung Anda mendapatkan semua itu dengan jalan tidak halal? Apakah Anda lebih senang jika putri kandung Anda mendapatkan semua itu dengan jalan tidak halal?

    Setiap wanita mempunyai hak untuk dikasihi, disayangi, dilindungi, dsb. Kewajiban seorang pria untuk memberikan semua hak wanita itu dengan jalan yang halal. Maka nikahilah dua, tiga, atau empat wanita. Tetapi jika Anda adalah orang yang TAKUT tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah satu wanita saja. Semoga Allah menjadikan aku dan kalian, wahai para pria sejati, sebagai pria-pria pemberani yang dapat berbuat adil kepada para isteri. Pria pemberani seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad saaw.

    Memang benar bahwa manusia tidak bisa adil seperti Tuhan, tetapi setidaknya manusia bisa mendekati keadilan. Sebagaimana hakim di dunia tidak mungkin bisa adil seperti Tuhan, tetapi setidaknya dengan mengikuti syariat Islam, seorang hakim bisa mendekati keadilan Tuhan. Tetapi sayangnya, di Indonesia, hukum yang di pakai bukanlah hukum yang bersumber dari Kitab Allah. Bangsa Indonesia di zaman ini lebih memilih peraturan buatan penjajah dan menentang peraturan buatan Tuhan. Padahal peraturan buatan manusia tentu bukan peraturan yang adil. Karena manusia memang tidak bisa adil seperti Tuhan. Jika manusia mau adil, maka ikutilah hukum Tuhan.

    Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir … maka mereka itulah orang-orang yang zhalim (aniaya dan tidak adil) … maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah: 44, 45, 47)

    JIHAD

    Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan (pencitraan) terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). (QS. Al-Isra`: 48)

    Salah satu pencitraan yang keji adalah ketika jihad dicitrakan sebagai terorisme dan mujahid adalah teroris. Padahal perang ala Amerika itulah yang merupakan terorisme hakiki. Jihad bukanlah terorisme. Karena jihad adalah membela kebenaran dan menghancurkan kebathilan. Dan salah satu tokoh kebathilan di dunia saat ini adalah George W. Bush.

    Jihad bukanlah alasan yang tepat untuk memusuhi Nabi Muhammad saaw. Karena para Nabi sebelum Muhammad Rasulullah saaw pun berjihad mengangkat pedang. Bacalah Al-Qur`an dan Alkitab, maka akan Anda dapati bahwa Daud pun berjihad mengangkat pedang. Musa pun berjihad mengangkat pedang. Menyebut Muhammad Rasulullah saaw sebagai teroris adalah pencitraan yang sangat keji. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa Muhammad Rasulullah saaw itu adalah teroris, kecuali orang-orang bodoh yang tidak memiliki ilmu tentang hal ini. Sungguh tolol orang yang menyebut Muhammad Rasulullah saaw sebagai teroris. Sungguh dungu dan idiot pemimpin agama yang menyebut Muhammad Rasulullah saaw sebagai teroris.

    Tahukah Anda, bahwa ketika Anda mengingkari salah satu syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saaw, ketika Anda menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, maka syahadat Anda perlu dipertanyakan kesahihannya? Sebab, salah satu hal yang membatalkan syahadat seseorang adalah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah serta menghalalkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dan berhati-hatilah terhadap anak-anak Iblis yang menghasut kita agar mengatur polygami dan jihad berdasar keinginan mereka dan bukan berdasar peraturan Allah. Dan berhati-hatilah terhadap anak-anak Iblis yang menganjurkan Anda untuk meminum khamr. Bahkan mereka menganjurkan untuk memakan roti yang telah dicelup ke dalam khamr di tempat ibadah mereka. Ketahuilah, Nabimu bersabda bahwa khamr itu bukanlah obat, bahkan khamr itu adalah penyakit.

    Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. (I Timotius 5:23)

    Mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. (QS. At-Taubah: 37)

    Dari Anas bin Malik ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, munculnya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan. (HR. Bukhori dan Muslim)

  • Tersenyumlah Padaku

    Setelah kudengar tentangmu
    ingin rasanya mata ini bertemu
    Kutanya mereka dimana istanamu
    Kutempuh jalan mendaki berbatu

    Di depan gerbang aku bersimpuh
    mengharap wajahmu menatap padaku

    Kudengar suara dari balik gerbang
    ‘pantaskah ia menatapmu’

    Lalu kulihat diriku penuh luka dan debu
    Rupanya aku ceroboh dalam berlaku

    Kuobati luka di tubuhku
    tepiskan debu dari pakaian dan jasadku

    Aku kembali ke istanamu
    Terbuka pintu kulihat wajahmu
    kau tatap wajahku dengan senyummu
    usailah sudah pencarianku

  • TUHAN YANG MATI DI TIANG SALIB

    Aneh sekali anggapan Nasrani terhadap Al-Masih

    Juga sangkaan mereka kepada Allah

    bahwa Dia adalah ayahnya

    Mereka serahkan Al-Masih

    kepada orang-orang Yahudi

    Lalu mereka berkata:

    Yahudi telah menyalibnya dan membunuhnya

    Andaikan betul yang mereka ucapkan

    cobalah tanya bagaimana sikap ayahnya

    Kiranya ayahnya rela anaknya disiksa

    maka ucapkanlah terimakasih kepada Yahudi

    atas perbuatan mereka

    Sekiranya ayahnya murka dan tidak rela

    maka sembahlah orang Yahudi

    yang telah mengalahkannya

  • Bulan Purnama

    Wahai bulan purnama
    Cahyamu memadamkan semua mentari
    Engkau petunjuk jalanku
    Kuikuti cahyamu menggapai tujuanku  Cahyamu menenangkan jiwa
    Senyummu menguatkan raga
    Kasih-sayangmu pengobat hati
    Berpisah denganmu pembinasa diri Engkaulah bulan purnama penuh cahaya
    Engkau menerangi alam semesta
    Engkaulah hujan penyubur bumi
    Engkau penumbuh tanaman penuh berkah

    Wahai bulan purnama
    Tetaplah bercahaya
    Terangilah bumi yang dilanda gelap gulita

  • Yatim Yang Agung

    Dia manusia
    Tetapi tak seperti manusia
    Sebagaimana intan berlian adalah batu
    Tetapi tak seperti batu Dia dilahirkan
    Tetapi dari dia semua diciptakan Dia berjalan
    Tetapi bumi merasa malu
    Kala disentuh oleh kakinya yang mulia Dia begitu bercahaya
    Sehingga bulan malu untuk bersinar
    Pohon-pohon merunduk
    Seakan malu berdiri lebih tinggi
    Dihadapan sang makhluq agung

    Batu pun berharap dapat menemani
    Rembulan turun untuk bersalam atasnya Lahirnya membawa rahmah
    Cahyanya memadamkan api biara majusi
    Tumbanglah berhala kesyirikan
    Tibalah masanya petunjuk Tuhan

    Mengingatnya adalah ketenangan
    Hadirnya adalah aman
    Mensyukurinya adalah kewajiban

  • Yang Terpilih

    Wahai yang terpilih
    denganmu terangkat segala bencana
    Kehadiranmu menerangi hatiku
    Engkaulah cahaya terpilih
    dari cahaya-cahaya pilihan

    Engkaulah jiwa ragaku
    Biarkan lisan ini bersatu dengan lisanmu
    Biarkan tanganku membelamu
    Biarkan kakiku mendekatimu
    Biarkan mataku menatap wajahmu
    Ulurkan tanganmu untuk ‘ku kecup
    Tunjukkan cahyamu agar kupeluk

    Obatilah kerinduan ini
    atau biarkan aku mati dalam kecintaan padamu
    Penuhi dadaku dengan dirimu
    biarkan hadir kekasihmu dalam hati

    Wahai kekasihku, maafkan aku
    tak dapat ‘ku balas pemberianmu
    bahkan kini aku mendatangimu
    untuk meminta cintamu bagiku

  • TASYABBUH (2)

    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.[QS. Ali Imran: 100]

    Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. [QS. Al-Ahzab: 59]

    Tasyabbuh adalah menyerupai gaya, sikap, cara atau kebiasaan suatu kaum. Dan tidak boleh kita bertasyabbuh terhadap non-muslim sebagaimana Abu Sa’id al-Khudry ra telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka.” Lalu para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?” Baginda bersabda, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad]

    Sebelum TV dan film Barat masuk ke Indonesia, kita masih mudah mengenali dan membedakan, mana yang muslimah dan mana yang bukan, mana “wanita baik-baik” dan mana yang “bukan wanita baik-baik”. Tetapi lihat sekarang, begitu banyak wanita mengaku sebagai muslimah dan wanita baik-baik berpakaian seperti wanita-wanita jahiliyah. Sehingga “mata yang khianat” mengganggu mereka di jalan-jalan, di pasar-pasar, dan tempat lainnya. Jika Anda mempunyai isteri yang “dipandangi” dengan sedemikian rupa oleh laki-laki lain, apakah Anda tidak merasa terganggu? Padahal laki-laki itu tidak mengucapkan sesuatu yang mengganggu, tidak pula menggodanya, hanya memandangnya saja. Tetapi Anda tentu merasa terganggu dengan pandangan laki-laki itu. Begitu pula jika Anda memiliki seorang puteri yang dipandangi laki-laki bermata khianat. Apakah Anda, para wanita yang masih “sehat aqal”, tidak terganggu oleh “pandangan” mata yang khianat? Maka julurkanlah jilbab Anda ke seluruh tubuh, wahai ukhti, wahai saudariku, agar engkau mudah dikenali dan tidak diganggu. Bagi Anda yang telah mengenakan “jilbab gaul”, hentikanlah keujuban Anda yang merasa lebih baik dari pada yang tidak berjilbab sama sekali, dan sempurnakanlah dengan memanjangkan jilbab Anda hingga ke dada dan kenakanlah baju kurung yang longgar dan rapat bahannya, bukan yang ketat dan tembus pandang.

    Jika benar bahwa Anda mencintai Allah, maka ikutilah syariat yang dibawa oleh Sang Nabi (saaw). Berhentilah dari mengikuti syariat kafirin yang menyesatkan! Berhentilah dari menteladani gaya kafirin yang tidak beradab! Apakah tidak ada sesuatu yang harus Anda ikuti dalam Islam? Apakah tidak ada yang harus Anda teladani dalam Islam? Tidakkah Anda mengetahui bahwa Nabi telah memerintahkan isteri-isteri dan puteri-puteri beliau untuk menutup aurat? Lalu mengapa Anda tidak mengikuti beliau untuk memerintahkan yang demikian? Apakah Anda takut dihina oleh dunia karena Anda tidak mengikuti trend dunia? Dan Anda tidak takut dihina Allah karena tidak mengikuti syariat Sang Nabi (saaw)?

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Ali Imran: 31]

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. [QS. Al-Ahzab: 21]

    Orang yang meyakini akan datangnya hari akhir akan mempertimbangkan hal ini. Karena mereka sadar bahwa dunia ini tak lebih dari tiga jam. Setelah itu ia akan hidup selamanya di akhirat. Jika satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia, bukankah itu berarti 100 tahun di dunia sama dengan 2 jam 24 menit di akhirat?

    1000 tahun dunia = 1 hari akhirat = 24 jam akhirat

    100 tahun dunia = 24 jam akhirat : 10 = 2,4 jam akhirat = 2 jam 24 menit

    Dan pada saat ini jarang manusia yang hidup hingga seratus tahun. Ada yang hidup 90 tahun kemudian selesai. Hidup 80 tahun atau 70 tahun, kemudian selesai. Bahkan ada yang hidup 20 tahun, kemudian selesai. Tidakkah datang kepadamu berita bahwa ada seorang bayi yang baru lahir dan satu menit kemudian hidupnya berakhir?

    Sekarang, mungkin Anda dapat tertawa terbahak-bahak. Tetapi tidak ada jaminan bahwa esok Anda masih bisa tertawa terbahak-bahak di atas tumpukan dosa Anda yang menyeret Anda ke dalam siksaan beribu-ribu tahun lamanya. Sudahkah datang janji Allah kepada Anda bahwa Anda telah dijamin masuk sorga tanpa mampir ke neraka? Bahkan seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq, salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga tanpa dihisab telah berkata, “Seandainya aku hidup sebagai rumput ini. Dia hidup, dimakan ternak, mati, dan selesai. Sedangkan aku… Aku hidup, mati, kemudian dihidupkan lagi untuk menghadapi hari berbangkit.”

    Apakah Abu Bakar tidak percaya akan janji Tuhannya? Bukan, melainkan ia percaya bahwa hari berbangkit itu adalah memang hari yang sangat berat sebagaimana yang diberitakan Tuhan. Pada hari itu matahari didekatkan ke atas kepala kita. Dan kita harus menunggu bersama trilyunan manusia yang berdesak-desakkan dengan peluh mereka yang membanjir. Dan tidak tahu kita, apakah kita akan masuk surga langsung, ataukah harus mampir ke neraka, ataukah akan masuk neraka selama-lamanya karena kita telah murtad tanpa kita sadari? Namun bukan soal surga dan neraka yang digelisahkan Abu Bakar, melainkan ia malu menghadap Tuhannya sedangkan dia sebelumnya tentu telah pernah berbuat dosa. Dosa-dosanya yang menururt kita tak seberapa telah membuat dia lupa kepada segala amal shalihnya yang begitu banyak. Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah menganggap besar segala amal shalihnya. Dia hanya memandang kepada Kasih-Sayang Tuhannya dan bersyukur atas segala anugerah dari Tuhannya. Abu Bakar Ash-Shiddiq baru merasa tenang ketika beliau mengingat dan mengharap Kasih-Sayang Allah. Coba Anda bayangkan, orang yang pernah berbuat dosa ini, yang dosanya kemudian telah diampuni Tuhan sebelum dia wafat, dia masih malu dan gelisah memikirkan pertemuan dengan Tuhannya. Tetapi kita masih bisa tertawa seakan dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk itu telah diampuni Tuhan. Padahal tidak ada pada kita amal-amal shalih seperti amal-amal yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ingatlah bahwa amal shalih itu adalah salah satu tanda dari Kasih Sayang Allah. Tidaklah kita dapat beramal shalih, kecuali dengan adanya Kasih-Sayang Allah. Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang itulah yang telah menggerakkan Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk beramal shalih dan kemudian memasukkan beliau ke dalam surga-Nya. Maka berlomba-lombalah kita dalam meraih tanda-tanda Kasih-Sayang Allah ini.

    Wahai akhi, wahai ukhti, tidak adakah seseorang yang harus kita teladani sehingga kita mesti meneladani orang-orang kafir? Pergilah ke pusat-pusat perbelanjaan! Perhatikanlah! Maka kamu temukan, seakan tidak tersisa satu pun dari pengikut Muhammad Rasulullah saaw di sana. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lalai. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang ittiba’ (mengikut) kepada kafirin. Ketahuilah wahai ukhti wa akhi, ketahuilah wahai saudara dan saudariku, bahwa seseorang yang mengikuti gaya suatu golongan, maka dia termasuk ke dalam golongan tersebut! Apakah kita akan tetap mengikuti gaya dari golongan kafir dan termasuk ke dalam golongan mereka serta keluar dari golongan Muhammad Rasulullah saaw? Ataukah semestinya kita ittiba’ kepada Rasulullah saaw sang suri tauladan yang baik dan sempurna? Sungguh, jika kita mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah semestinya kita ittiba’ kepada Rasulullah saaw dan menundukkan hawa nafsu kita di bawah syariat yang di bawa oleh Sang Pesuruh Allah saaw. Tidak ada golongan yang pantas kita serupai selain golongan yang ittiba’ kepada Muhammad Rasulullah saaw.

    Dari Anas ra katanya: Nabi saaw bersabda: “Barangsiapa yang tidak suka sunnahku, dia bukanlah termasuk golonganku.” [HR. Bukhori]

    Shalawat serta salam tercurah atas Tuan kami Muhammad dan atas keluarga beliau dan para shahabat beliau dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Keberkahan Allah atas Partai Muhammad saaw.

  • SUBUH KEMENANGAN

    Sholat-sholat yang ada, secara umum memiliki banyak peran dalam mendatangkan kemenangan dalam menghadapi musuh. Dahulu, Nabi saaw mengumandangkan seruan jihad setelah dilaksanakannya sholat. Beliau memberangkatkan pasukan dan sariyah-sariyahnya dari Masjid. Dan menyerahkan bendera kepada mereka, juga di Masjid. Maka batalyon-batalyon –di mana tidak seorang pun yang tidak ikut dalam shalat berjamaah- itu pun berangkat dalam kondisi yaqin terhadap janji Robbnya.

    Imam Bukhori meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa apabila Rasulullah saaw hendak menghadapi suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu Shubuh, jika beliau tidak memerangi di pagi hari, beliau tunggu hingga matahari tergelincir dari tengah-tengah (masuk waktu Zhuhur). (Dalam hadits no.2965 Kitabul Jihad).

    An-Nu’man bin Muqrin ra berkata, “Aku ikut berperang bersama Rasulullah saaw, biasanya kalau beliau saaw tidak memulai perang di pagi hari, beliau menunggu sampai jiwa-jiwa siap dan menunggu waktu shalat tiba.” (HR. Bukhori no. 3160 Kitabul Jizyah wal Muwada’ah)

    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahmatullah ‘alayh berkata, “Dari sini nampak bahwa faedah di akhirkannya perng karena waktu shalat adalah saat kemungkinan besar doa akan dikabulkan.”

    Barangkali, di antara kemenangan paling populer yang ada kaitannya dengan sholat Shubuh adalah kemenangan atas kaum Yahudi Khaibar. Di mana ketika itu Nabi saaw bersabda, “Hancurlah khaibar… Sesungguhnya jika kita telah menempati halaman rumah suatu kaum, maka itulah seburuk-buruk pagi hari bagi orang-orang yang telah diberi peringatan (namun tidak mau mendengarkan peringatan tersebut).”

    Sesungguhnya generasi yang mampu meraih kemenangan –dengan izin Allah- tentunya adalah generasi yang giat memakmurkan Masjid-Masjid ketika shalat Subuh seperti ketika mereka meramaikan Masjid dalam shalat Zhuhur dan Ashar. Mereka adalah generasi yang paham bahwa perintah agar barisan shalat dirapatkan dan diluruskan itu merupakan awal mula lurusnya barisan mujahidin yang akan meraih kemeangan atas musuh.

    Sedangkan generasi kita sekarang ini, boleh dibilang cukup mengherankan. Shalat Subuh seolah-olah shalat yang khusus bagi orang-orang yang telah lanjut usia. Lantas kemanakah para pemuda?

    Para pemuda –selain yang dirahmati Allah- tidak mampu bershabar mendengarkan petuah-petuah imam sholat yang memerintahkan agar meluruskan dan merapatkan barisan shalat dan sebagainya.

    Musuh-musuh Islam tahu betul pengaruh lemahnya kaum Muslimin dalam menghadiri sholat Subuh dalam kekalahan kaum Muslimin. Dikisahkan, pasca perang pada tahun 1973 antara Mesir dan Israel, ada salah seorang tentara Mesir mengajak bicara salah seorang tentara Yahudi yang bisa berbahasa Arab. Tentara Mesir itu berkata, “Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian sampai ada di antara kalian yang bersembunyi di balik pohon atau batu, kemudian pohon atau batu itu berkata, ‘Hai Muslim, hai hamba Allah, ini ada Yahudi di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!’ Tentara Mesir ini memaksudkan nubuwah Nabi saaw Al-Ma’shum dalam sebuah hadits.

    Apa jawab Yahudi itu? Ia berkata, “Semua itu tidak akan terjadi hingga sholat Subuh kalian sama dengan sholat Jum’at kalian.”

    Maksudnya kemenangan Muslimin akan terwujud ketika kaum Muslimin menghadiri shalat Shubuh seperti mereka menghadhiri sholat Jum’at, di mana jama’ahnya membludak sampai ke jalan-jalan.

    Dari sini, tidakkah Anda melihat bagaimana pandangan orang Yahudi yang menohok leher orang-orang yang terbuai oleh angan-angannya? Dan mereka hanya bisa mengandalkan semua kabar gembira dari Nabi saaw tanpa mau melakukan usaha untuk merealisasikannya melalui tangan-tangan mereka.

    Si Yahudi tadi memberi tahu bahwa kemenangan akhir memang ada di pihak Muslim, namun hal itu baru terjadi ketika Masjid-Masjid kaum Muslimin telah penuh sesak oleh jama’ah sholat Shubuh, sama penuh sesaknya seperti mereka melaksanakan shalat Jum’at.

    Saat ini, sebagian ulama memfokuskan untuk mengajak kaum Muslimin agar melaksanakan sholat Subuh berjama’ah. Bahkan ada suatu program yang bernama sholat Subuh Berjama’ah Gabungan. Hal ini dimaksudkan agar kaum Muslimin semakin giat melaksanakan sholat Subuh berjama’ah. Dan sebagian ulama menganggap makruh begadang dan ‘mengobrol’ setelah shalat Isya berjama’ah. Sebab dapat menyebabkan sulit bangun untuk melaksanakan sholat Subuh berjama’ah.

    Ya Allah, anugerahkanlah kami sholat Subuh yang setelahnya kami menyerang kaum Yahudi di pagi harinya, sebagaimana kekasih-Mu, Muhammad saaw, telah mengusir mereka.

  • KEDAHSYATAN DZIKRULLAH

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45)

    Sebagian orang kafir ada yang membiasakan dirinya untuk berkata, “Aku bisa!” sebanyak 100 kali di pagi hari dengan suara yang dapat ia dengar. Hal ini mereka lakukan untuk menseting otak bawah sadar mereka agar menjadi otak yang sukses. Mereka yakin bahwa kesuksesan itu berawal pada otak yang sukses. Dan mereka menjadikan rasa percaya diri sebagai sesuatu hal yang harus ada dalam otak mereka. Mereka berpijak pada rasa percaya diri. Banyak orang percaya akan hal ini. Bahkan kaum muslimin juga ikut-ikutan melakukannya, bahkan banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa rasa percaya diri adalah sesuatu yang diajarkan oleh agama.

    Sebelum menjelaskan hal ini, saya ingin sedikit mengingatkan Anda tentang kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur`an yang bertanya kepada para ningrat di kerajaannya, siapa di antara mereka yang sanggup membawa singgasana Ratu Balqis kepadanya. Maka tampillah Jin Ifrit yang cerdas dan telah meneliti ayat-ayat kauniyah di alam semesta ini yang menyatakan kesanggupannya dan berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

    Pada saat itu, berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitabullah, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

    Dari sini kita dapat memahami bahwa ayat-ayat Allah dalam Kitab-Nya itu lebih dahsyat dan akurat dalam memberikan data dan kesimpulan kepada para peneliti. Sedangkan ayat-ayat-Nya yang berupa alam semesta, jika tidak dikaji secara seksama, hanya akan menghasilkan kesimpulan parsial.

    Konsep kesuksesan orang kafir sangat mirip dengan konsep kesuksesan Qarun yang berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Qarun beranggapan bahwa harta dan kesuksesan itu datang dengan kehebatan dirinya sendiri. Dia hanya melihat apa yang ada pada dirinya dan tidak melihat apa yang ada pada Allah. Dia berfikir bahwa dengan rasa percaya diri, dia dapat melanggengkan hartanya. Dia lupa bahwa ada Allah Yang Mahasanggup membuatnya binasa sebagaimana Dia telah membinasakan ummat sebelumnya yang lebih kuat darinya dan lebih banyak hartanya.

    Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 96)

    Sekarang kita telah paham bahwa pemikiran tentang percaya diri ini adalah sesuatu yang tidak kuat dasar-dasarnya dalam agama. Bahkan Al-Qur`an mengajarkan kepada kita, bahwa ketika kita merasa gentar dalam menghadapi tantangan hidup, pada saat itulah kita harus meneguhkan keyakinan kita kepada Allah dan berdzikir kepada Allah Yang Mahabesar, Allahu Akbar. Uang 1 milyar, kesembuhan dari penyakit, dan segala hal itu adalah kecil di hadapan Allah Yang Mahabesar. Allah Mahasanggup untuk menyembuhkan kita dan menjadikan kita kaya.

    Saya pernah mengikuti pelatihan di mana sang presenter menanyai orang di sebelah saya, “Apakah Anda sanggup menjadi orang yang berpenghasilan 7 juta rupiah per bulan pada 7 bulan yang akan datang?” Sang presenter mencoba untuk membangun rasa percaya diri dan menseting otak orang ini. Namun tampaknya belum berhasil. Orang di sebelah saya masih ragu-ragu dan berfikir agak lebih lama. Karena ini baru latihan menseting otak sukses, maka sang presenter menurunkan angka nominalnya hingga orang di sebelah saya berkata, “Ya, 3 juta per bulan.”

    Lalu saya berkata kepadanya, “Apa masalah Anda? Ketahuilah, Allah Yang sanggup membuat Anda mendapatkan 3 juta rupiah per bulan juga sanggup untuk membuat Anda mendapatkan 7 juta rupiah per bulan.” Tidak semestinya kita melihat apa yang ada pada kita, tetapi pada apa yang ada di sisi Allah.

    Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang hal ini. Yang penting kita telah mendapatkan kesimpulan bahwa kesuksesan itu diawali dengan hati yang yakin kepada Allah, kemudian menseting otak kita dengan berdzikir mengucapkan “Allahu Akbar” 33 kali setiap selesai shalat agar otak kita menjadi otak yang percaya kepada Kemahakuasaan Allah, kemudian kita menjadikan ikhtiar kita sebagai bukti kefakiran kita di hadapan Allah, bukan sebagai penyebab datangnya kesuksesan seperti yang dianut orang kafir dan Qarun. Sungguh, kita tidak dapat meraih sukses dan surga-Nya tanpa Kasih-Sayang dari Dia Yang membimbing kita di jalan-Nya yang lurus. Jalan Lurus akan dapat ditempuh oleh orang yang berhati lurus, berakal lurus, berlisan lurus, beramal lurus, dan berketeguhan yang lurus. Teguh dan pantang menyerah, shabar dan istiqomah, jiwa yang tegak lurus dalam menanti janji Allah dalam setiap langkahnya akan menemukan kesuksesan demi kesuksesan. Dan di ujung jalan itu akan dia temui kesuksesan besar, surga dan Wajah Tuhan-Nya.

    Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah: 6-7)

    Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa: 69)

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

  • TRITUNGGAL, Aqidah Pagan

    Aqidah atau kepercayaan yang dianut oleh kaum Nasrani adalah berasal atau berdasar pada Tritunggal Suci. Tri berarti tiga, Tunggal berarti satu. Jadi tiga unsur yang menjadi satu dalam kesatuan.

    Ringkasnya ialah bahwa Tritunggal itu terdiri dari tiga macam unsur atau oknum, yaitu:

    1. Allah Bapa.

    2. Anak.

    3. Roh Kudus.

    Ketiganya merupakan tiga macam jauhar (unsur) dan masing-masing unsur itu berdiri sendiri. Tetapi kesatuan dari ketiga-tiganya itulah yang merupakan Tuhan Yang Mahaesa.

    Kaum Nasrani mengatakan: “Tuhan adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Ketiga-tiganya menjadi satu yang tidak terbagi (tunggal).”

    Sebenarnya faham adanya tritunggal dalam ketuhanan itu tidaklah merupakan faham yang khusus bagi pemeluk agama Nasrani belaka. Baiklah kiranya di sini kami kutipkan secara singkat sekedarnya apa yang ditulis dalam Dairah Ma’arif Abad ke-19 (Perancis) dalam memberikan definisi kata ‘Tritunggal Ketuhanan’. Di antaranya ditulis demikian:

    “Tritunggal adalah kesatuan dari tiga tubuh yang berbeda-beda yang menjelmakan sebutan Tuhan Yang Esa. Faham demikian ini terdapat dalam kepercayaan agama Kristen dan sebagian agama-agama lain. Oleh sebab itu seringkali dikatakan: Tritunggal dalam agama Kristen, Tritunggal dalam agama Hindu, dsb.”

    Almarhum Prof. Ust. Farid Wajdi berkata:

    “Memang benar bahwa faham Tritunggal itu sudah ada sejak dahulu dalam keagamaan bangsa Mesir kuno untuk menyebutkan ‘Tuhan-Tuhan’ kebangsaan mereka. Kini agama itu telah sirna dari permukaan bumi.

    Adapun faham tritunggal bagi pemeluk agama Hindu, maka sampai sekarang inipun masih ada, yaitu yang dianut oleh berjuta-juta manusia dari bangsa India dan China. Golongan kasta Brahmana meyakini bahwa Mahapencipta itu mula-mula menjelmakan dirinya dalam bentuk yang disebut dewa ‘Brahma’, kemudian dalam dewa ‘Wisnu’, dan akhirnya dalam dewa ‘Syiwa’. Mereka menggambarkan ketiganya itu bergandengan antara yang satu dengan yang lainnya dan ini memberikan pengertian sebagai lambang adanya perangkaian tiga tubuh menjadi satu.

    Sementara itu pemeluk agama Budha meyaqini bahwa dewa Wisnu yang merupakan salah satu bagian dari tritunggal yang dipercayai oleh agama Hindu itu sering menjelmakan dirinya dalam tubuh kasar untuk menyelamatkan alam dunia ini dari berbagai keburukan, kejahatan dan dosa. Penjelmaan dirinya dalam tubuh kasar yang akhirnya menjadi pujaan pemeluk agama Budha itu adalah untuk kesembilan kalinya.”

    Jadi kepercayaan adanya tritunggal ini pada hakikatnya adalah ‘aqidah keberhalaan, kemudian menyelinap secara aneh sekali ke dalam agama Allah Ta’ala setelah Isa Al-Masih (as) diangkat ke langit. Padahal Allah Ta’ala adalah Mahasuci dari penyerupaan atau persamaan dengan sesuatu apa pun. Dia tidak akan menyamai atau menyerupai benda yang selain-Nya.

    Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. (QS. Asy-Syura: 11)

    Tidak ada Ilah selain daripada-Ku. Siapakah seperti Aku? (Yesaya 44: 6-7)

    Akulah Ilah, dan tidak ada yang lain, Akulah Ilah, dan tidak ada yang seperti Aku. (Yesaya 46: 9)

    Dalam halaman lain Dairah Ma’arif Abad XIX itu tertulis:

    “Aqidah atau kepercayaan tritunggal tidak ada uraiannya dalam Kitab Perjanjian Baru atau Injil, dan tidak terdapat pula dalam Kisah Para Rasul, bahkan tidak pula dalam ajaran para murid mereka yang terdekat…Para murid Al-Masih yang pertama-tama dahulu yang mengenal betul pribadi Al-Masih dan mendengar sendiri ucapan-ucapannya adalah yang paling menjauhi adanya kepercayaan bahwa Al-Masih itu sebagai salah satu kesatuan dari tiga unsur yang menjelmakan Dzat Mahapencipta.

    Petrus, salah seorang pengikut Al-Masih yang dianggap sebagai pembelanya yang sejati, menganggap Al-Masih tidak lain hanyalah sebagai orang yang diberi wahyu dari sisi Allah.

    Adapun Paulus, maka orang inilah yang sangat berbeda ajaran-ajarannya dari apa yang dianut oleh murid-murid Al-Masih yang terdekat pada Isa (as). Paulus berkata: “Al-Masih adalah lebih luhur kedudukannya dari manusia, ia sebagai lambang manusia baru, yakni akal yang tinggi, diperanakkan dari Allah. Ia ada sebelum wujudnya alam semesta ini. Al-Masih telah menjelmakan dirinya dalam tubuh kasar itu adalah untuk menyelamatkan seluruh ummat manusia, tetapi sekalipun demikian ia tetap mengikuti kepada Tuhan Allah.”

    Dari uraian di atas, dapatlah kita ketahui bahwa kekeliruan dari kepercayaan tritunggal itu sangat jelas sekali sebgaimana terang benderangnya matahari di siang hari. Namun demikian, kita tetap tidak mengerti dan sangat heran sekali, mengapa pemeluk-pemeluk agama Nasrani masih gigih benar mempertahankan faham tritunggal yang sudah jelas salah itu. Mereka sangat fanatik dengan cara yang membuta (fanatik buta), tanpa landasan sejarah atau pun hujjah (argumen) yang layak diterima oleh aqal fikiran.

    Maka sesungguhnya yang buta bukanlah penglihatan-penglihatan itu, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)

    Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-barang kesayangan mereka itu tidak memberi faedah. Penyembah-penyembah patung itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan mendapat malu. (Yesaya 44: 9)

    (Sumber: Sayyid Sabiq dalam Kitab “Aqidah Islam, Pola Hidup Manusia Beriman”)