Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? [QS. Adz-Dzariyat: 20-21]Â Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi ini berthawaf mengelilingi pusat tata surya, yaitu matahari. Dan matahari berthawaf mengelilingi pusat galaksi di Bima Sakti. Begitu pula setiap neutron dan proton dari setiap zat. Begitu juga sel-sel pada setiap makhluq hidup, termasuk sel-sel pada tubuh kita, mereka beribadah kepada Pencipta mereka dengan cara yang telah Allah tentukan bagi mereka.
Tentu saja, keteraturan dan keberlangsungan hidup sel-sel itu juga dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan kita. Dengan beribadah kepada Allah, maka sel-sel itu akan mendapatkan energi positif untuk tetap hidup dan teratur. Namun perbuatan ma`siat akan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel kita sesuai dengan sistem yang telah Allah ciptakan pada alam semesta, yang kita sebut dengan Sunnatullah. Semakin sering kita berbuat ma`siat, semakin banyak kerusakan pada sel-sel di tubuh kita. Hingga akhirnya menimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan. Sungguh, pada tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Itulah qolbu. Qolbu manusia itu seperti cermin. Jika ia sering dibersihkan, maka ia akan cemerlang. Jika jarang dibersihkan, maka ia akan berkarat, hingga akhirnya rusak dan tak berguna. Dosa itulah yang akan menjadi titik hitam pada hati. Setiap berbuat dosa, maka timbullah titik hitam pada hati. Semakin sering berbuat dosa, dan tidak dibersihkan, maka hati akan tertutup oleh noda hitam yang pekat.
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menjadi karat yang menutupi hati mereka. [QS. Al-Muthaffifin: 14]
Namun demikian, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh ma`siat. Ada juga penyakit yang ditimbulkan oleh rusaknya sel-sel yang melakukan bunuh diri atas perintah Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya yang Dia sayangi. Sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi Muhammad saaw bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian para syuhada, dst. Perintah bunuh diri ini juga telah Allah perintahkan pada sebagian sel ketika kita masih dikandung oleh ibu kita. Dengan bunuh dirinya sel-sel itu dan kemudian mereka memisahkan dirinya, maka terbentuklah tubuh kita dengan sempurna. Contohnya, sel-sel yang terdapat antara jari-jari kita dahulu ketika dalam kandungan. Dengan membunuh dirinya dan memisahkan diri, terbentuklah jari-jari kita dengan sempurna. Maka tidaklah mengherankan jika Allah juga memerintahkan sel-sel kita untuk bunuh diri ketika kita telah lahir di dunia ini.
Bunuh dirinya sel-sel itu juga merupakan bentuk kasih-sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berdosa. Dengan demikian, maka hamba tersebut akan berguguran dosanya disebabkan rasa sakit yang dideritanya. Dan juga dapat menyebabkan keinsyafan pada hamba tersebut.
Dari Abu Said Al-Khudry ra katanya: Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap musibah yang di timpa ke atas orang-orang mu`min berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa dan kesedihan, maka hal yang demikian merupakan penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.†[HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad]
Dari Aisyah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: “Setiap muslim yang tersusuk duri atau lebih dari itu misalnya, maka karenanya dicatatkan satu derajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan.†[HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, Malik]
Dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Aku menemui Rasulullah saw ketika baginda dalam keadaan tidak sehat. Aku menggosok baginda dengan tanganku. Aku katakan kepada baginda: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar tidak sehat. Rasulullah saw bersabda: “Memanglah, apa yang aku alami sekarang ini adalah sama seperti yang di alami oleh dua orang di antara kamu.†Aku berkata: Kalau begitu engkau beroleh dua pahala sekaligus. Rasulullah saw bersabda: “Benar.†Kemudian Rasulullah saw bersabda lagi: “Setiap muslim yang ditimpa musibah atau sakit dan sebagainya, maka Allah akan mengampunkan kesalahan-kesalahan dari sakitnya, sebagaimana daun yang gugur dari pohonnya.†[HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Ad-Darimi]
Bahkan para ulama kita dulu malah bertanya-tanya memeriksa dirinya apabila dia tidak ditimpa suatu kesulitan selama empat puluh hari berturut-turut. Mereka khawatir kalau-kalau Allah sudah tidak lagi peduli dengan keadaan dan perbuatan mereka.
Sungguh berbeda dengan kita yang begitu gembira jika terus-menerus berada dalam kesenangan yang melalaikan, dan mengeluh ketika datang suatu musibah. Jarang kita insyaf akan kesalahan-kesalahan kita ketika musibah melanda. Jarang kita berfikir bahwa sakit yang kita alami sebenarnya adalah teguran dari Allah. Maka ketahuilah, bahwa sakit itu bisa disebabkan oleh adanya sel-sel kita yang rusak akibat kema`siatan kita. Wallahu a’lam.