Kategori: Fikrah

  • Abtarkah Nabi Muhammad?

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Ahzab (33): 40]

    Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah SAW menikah dengan Zainab, banyak orang ribut memperbincangkannya: “Muhammad menikah dengan bekas isteri anaknya.” Maka turunlah ayat ini (QS. Al-Ahzab: 40) yang menegaskan bahwa Zaid itu bukan putera Rasulullah. [Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dari ‘Aisyah]

    Jadi yang dimaksud “seorang laki-laki di antara kamu” adalah seorang laki-laki di antara shahabat, yaitu Zaid bin Haritsah yang diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Nabi Muhammad itu abtar (terputus keturunannya).

    Bantahan Allah

    Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. [QS. Al-Kautsar (108): 3]

    Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa qaum Quraisy menganggap kematian anak laki-laki itu berarti putus keturunan (abtar). Ketika putera Rasulullah SAW meninggal, maka al-‘Ashi bin Wa`il mengatakan bahwa keturunan Muhammad telah terputus. Maka turunlah ayat “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” sebagai bantahan terhadap ucapannya itu. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari as-Suddi. Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dari Muhammad bin ‘Ali, dan disebutkan bahwa putera Rasulullah yang meninggal itu adalah al-Qasim]

    Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Ibrahim, putera Rasulullah SAW, wafat, maka orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang yang murtad itu telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” yang membantah ucapan mereka. [Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Abu Ayyub]

    Dalam riwayat lain dikemukakan, ketika Ibrahim, putera Rasulullah SAW, wafat, maka qaum Quraisy berkata: “Sekarang Muhammad menjadi abtar (terputus keturunannya).” Hal ini menyebabkan nabi SAW bersedih hati. Maka turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus,” sebagai penghibur baginya. [Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Juraij]

    Sungguh disayangkan jika ada orang-orang Islam yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah abtar. Betapa tega mereka membuat Nabi bersedih hati. Masihkah orang-orang yang membuat Nabi bersedih hati melalui perkataan jahat mereka bahwa Nabi telah abtar itu disebut sebagai pengikut salafush shalih? Sungguh mereka tak pantas menyandang gelar itu sama sekali. Mereka bukanlah pengikut salafush shalih. Salafush shalih yang mana yang telah tega menyebut Nabi sebagai al-Abtar?

  • Apa yang Diinginkan Zionist?

    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. [QS. Al-Baqarah: 79]

    Bani Israil bukan saja mengubah ayat-ayat Allah, tetapi juga terkadang menulis sesuatu yang bukan firman Allah lalu dikatakannya bahwa itu adalah dari Allah atau mereka katakan bahwa si pengarang mendapat ilham atau inspirasi dari Allah. Di antara ayat-ayat yang mencurigakan itu adalah yang terdapat pada kitab Amos.

    1:1 Perkataan yang dinyatakan kepada Amos, salah seorang peternak domba dari Tekoa, tentang Israel pada zaman Uzia, raja Yehuda, dan dalam zaman Yerobeam, anak Yoas, raja Israel, dua tahun sebelum gempa bumi.
    1:2 Berkatalah ia: “TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya; keringlah padang-padang penggembalaan dan layulah puncak gunung Karmel.”
    1:3 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Damsyik, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah mengirik Gilead dengan eretan pengirik dari besi,
    1:4 Aku akan melepas api ke dalam istana Hazael, sehingga puri Benhadad dimakan habis;
    1:5 Aku akan mematahkan palang pintu Damsyik dan melenyapkan penduduk dari Bikeat-Awen serta pemegang tongkat kerajaan dari Bet-Eden; dan rakyat Aram harus pergi sebagai orang buangan ke Kir,” firman TUHAN.
    1:6 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Gaza, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah mengangkut ke dalam pembuangan suatu bangsa seluruhnya, untuk diserahkan kepada Edom,
    1:7 Aku akan melepas api ke dalam tembok Gaza, sehingga purinya dimakan habis;
    1:8 Aku akan melenyapkan penduduk dari Asdod dan pemegang tongkat kerajaan dari Askelon; Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Ekron, sehingga binasalah sisa-sisa orang Filistin,” firman Tuhan ALLAH.
    1:9 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Tirus, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka telah menyerahkan tertawan suatu bangsa seluruhnya kepada Edom dan tidak mengingat perjanjian persaudaraan,
    1:10 Aku akan melepas api ke dalam tembok Tirus, sehingga purinya dimakan habis.”
    1:11 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Edom, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena ia mengejar saudaranya dengan pedang dan mengekang belas kasihannya, memendamkan amarahnya untuk selamanya dan menyimpan gemasnya untuk seterusnya,
    1:12 Aku akan melepas api ke dalam Téman, sehingga puri Bozra dimakan habis.”
    1:13 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat bani Amon, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead dengan maksud meluaskan daerah mereka sendiri,
    1:14 Aku akan menyalakan api di dalam tembok Raba, sehingga purinya dimakan habis, diiringi sorak-sorai pada waktu pertempuran, diiringi angin badai pada waktu puting beliung;
    1:15 dan raja mereka harus pergi sebagai orang buangan, ia bersama-sama dengan pembesar-pembesarnya,” firman TUHAN.

    Hadad adalah putera Ismail. Ben Hadad adalah keturunan Hadad. Edom adalah Esau, saudara Yaqub.
    Téman adalah putera Elifas bin Esau bin Ishaq. Bani Amon adalah keturunan Luth. Jadi bisa disimpulkan bahwa semua itu adalah non-Yahudi. Betapa berambisinya Zionist ini untuk melibas bangsa-bangsa non-Yahudi (Ghoyim/Gentile). Dan untuk itu mereka mengarang dan berdusta dengan menggunakan Nama Tuhan.

    Termasuk yang ingin mereka habisi adalah Filistin (Palestina). Mereka, dengan didasari kitab palsu mereka, tak akan melepaskan Palestina begitu saja. Demi ambisi dan dendam kesumat mereka terhadap Filistin, mereka berani berdusta dan membuat ayat-ayat palsu dan berkata bahwa ayat-ayat itu merupakan inspirasi dari Tuhan, padahal bukan.

    Mereka adalah serigala-serigala yang siap menerkam siapa pun di luar kelompok mereka. Protocols of Zion telah membuka segala kebejatan mereka. Mereka juga yang telah menyusupkan agen mereka ke tengah-tengah pengikut Nabi Isa dan melahirkan ajaran Kristen. Lihatlah keberhasilan mereka. Dengan bangganya orang-orang Kristen menganggap bahwa Kitab Amos ini adalah firman Tuhan. Mereka telah dibohongi Yahudi dengan telak. Bahkan ketika agen Yahudi berkata bahwa rencana bejat Yahudi untuk membunuh Nabi Isa adalah untuk menyelamatkan mereka, mereka pun percaya. Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini inspirasi dari Allah” hanya untuk mendapatkan segala kekuasaan dan keni’matan duniawi semata. Celakalah mereka karena telah membeli dunia ini dengan akhirat!

    Jika Anda mempunyai segunung emas, lalu Anda menukar segunung emas itu dengan segenggam perak, apakah Anda beruntung ataukah Anda termasuk orang yang sangat-sangat merugi? Celakalah mereka karena ambisi mereka terhadap keuntungan yang sedikit berupa kehidupan duniawi yang sementara, hingga mereka tak memperdulikan keuntungan akhirat yang kekal selamanya. Demi keuntungan yang sedikit ini mereka telah berani berdusta dengan Nama Tuhan dan berbuat kejahatan yang nyata. Sungguh mereka telah sangat-sangat merugi dan celaka akibat perbuatan mereka sendiri.

  • Mematikan Sunnah Rasul

    Pada saat ini bertambah banyak golongan, yang sadar tidak sadar, telah mengajak ummat untuk mematikan sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ada dua cara mereka dalam mematikan sunnah-sunnah Rasulullah yang akan kami bahas sedikit di sini. (lebih…)

  • Firqah dalam Islam

    Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (faham/golongan) dalam lingkungan umat, dimana satu dengan lainnya bertentangan faham secara tajam dan sulit untuk didamaikan, apalagi disatukan.

    (lebih…)

  • Mematikan Sunnah Rasul

    Pada saat ini bertambah banyak golongan, yang sadar tidak sadar, telah mengajak ummat untuk mematikan sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ada dua cara mereka dalam mematikan sunnah-sunnah Rasulullah yang akan kami bahas sedikit di sini.

    Issue Bid’ah Dholalah

    Salah satu cara yang mereka gunakan adalah dengan menebarkan syubhat (keraguan), yaitu dengan mengatakan bahwa tradisi Islam yang telah lama dijalankan ummat, seperti maulidan, tahlilan, yasinan, dan sebagainya itu merupakan perbuatan bid’ah dholalah. Padahal tradisi itu merupakan tradisi yang didukung oleh banyak hadits shahih dan hasan. Walaupun berbagai hadits yang mendukung perbuatan tersebut telah dikemukakan, tetapi tetap saja mereka berusaha agar tradisi-tradisi mulya yang Rasul ajarkan itu ditinggalkan. Karena mereka memang pengikut hawa nafsu. Mereka hanya taqlid kepada ustadz mereka yang sanad ilmunya terputus dari Rasulullah dan para salaful ummah. Paling jauh sanad mereka hanya sampai kepada seorang guru di abad keenam hijriyah yang oleh para ahli ilmu aqidah dianggap telah beraqidah menyimpang dari aqidah 4 imam madzhab Ahlus Sunnah. Kita semua tahu bahwa Imam Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad mengusung aqidah yang benar. Sedang sang guru dari abad keenam hijriyah itu telah mengusung aqidah berbeda dari yang diusung oleh 4 imam.

    Menghindari Ikhtilaf

    Cara lain untuk mematikan sunnah Rasul adalah dengan dalih menghindari ikhtilaf. Padahal dalam hal sampainya mengirim pahala bagi mayit, sunnahnya bertawassul dengan nabi, sunnahnya merayakan maulid dsb itu tidak terdapat ikhtilaf pada 4 madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    Jika dengan alasan menghindari ikhtilaf ini kemudian kita meninggalkan merayakan maulid Nabi dan tawassul dengan Nabi, maka lambat laun tradisi tersebut menjadi sirna. Maka janganlah terkecoh oleh propaganda busuk seperti ini.

    Hidupkan Sunnah Rasul

    Maka marilah kita hidupkan sunnah Rasul walau kita dicap sebagai ahlul bid’ah, tukang adu domba (namimah), tukang fitnah, pemecah belah ummat, dsb. Ketahuilah bahwa mereka yang mematikan sunnah Rasul itulah yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah. Jika mereka mematikan sunnah, lalu bagaimana mereka akan disebut sebagai Ahlus Sunnah?

    Hidupkanlah sunnah dan sadarkanlah mereka yang mematikan sunnah walau Anda dicap munafiq oleh mereka. Janganlah Anda lemah hanya karena celaan mereka. Sungguh, menghidupkan sunnah di zaman seperti ini akan dibalas dengan pahala syahid.

  • Firqah dalam Islam

    Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (faham/golongan) dalam lingkungan umat, dimana satu dengan lainnya bertentangan faham secara tajam dan sulit untuk didamaikan, apalagi disatukan.


    Hal ini telah menjadi fakta sejarah yang tidak dapat dirubah lagi dan sudah menjadi pengetahuan yang terdapat dalam buku-buku agama terutama buku-buku Ushuluddin.


    Dalam buku-buku Ushuluddin itu terdapat beberapa nama firqah, antara lain; Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni), Mujassimah, Bahaiyah, Ahmadiyah, Wahabiyah, Ibnu Taimiyah dan lain-lain.

    Hal ini tidak terlalu mengherankan karena Nabi Muhammad SAW semasa hidup telah mengabarkan hal ini.

    Hadits-hadits yang menerangkan tentang adanya firqah-firqah ini antara lain :

    1. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Bahwasanya siapa yang hidup (lama) di antara kamu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu” (HR Abu Daud)

    2. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Akan ada di lingkungan ummatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa dirinya adalah Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudahku” (HR Tarmidzi)

    3. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah” (maksudnya firman-firman Allah SWT yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka” (HR Bukhari)

    Jelas dalam hadits ini bahwa akan ada sekumpulan orang-orang muda yang sok aksi mengeluarkan fatwa-fatwa agama berdasarkan Al Quran dan hadits, tetapi keimanan mereka tipis sekali dan bahkan keimanan itu keluar dari dirinya secepat anak panah meninggalkan busurnya. Maksudnya adalah bahwa mereka banyak berbicara tentang Al-Quran dan hadits, tetapi mereka tidak melaksanakan tuntunan agama seperti shalat, puasa dll.

    4. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    Ada dua firqah dari ummatku yang pada hakekatnya mereka tidak bersangkut paut dengan Islam, yaitu kaum Murjiah dan kaum Qadariyah” (HR Tarmidzi)

    Firqah Murjiah dan Qadariyah tak ada hubungannya dengan Islam, kata Nabi Muhammad SAW. Na’udzubillah!

    5. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    Dari Hudzaifah Rda., beliau berkata, Bersabda Rasulullah SAW : “Bagi tiap-tiap ummat ada majusinya, dan majusi ummatku adalah orang yang mengingkari takdir. Kalau mereka mati jangan dihadiri pemakamannya dan kalau mereka sakit jangan dijenguk. Mereka adalah kelompok dajjal. Memang Tuhan berhak memasukkan mereka ke dalam kelompok dajjal” (HR Abu Daud)

    6. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    Dari Abi Hurairah Rda., beliau berkata, Bersabda Rasulullah SAW : “Telah berfirqah-firqah orang Yahudi atas 71 firqah dan orang Nashara seperti itu pula dan akan berfirqah ummatku atas 73 firqah” (HR Tarmidzi)

    7. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu”. Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya, “siapakah yang satu itu, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Yang satu itu adalah orang yang berpegang (ber-i’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqad-ku) dan pegangan sahabat-sahabatku” (HR Tarmidzi)

    8. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk surga dan yang lain masuk neraka”. Bertanya para sahabat, “siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu, Ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ahlussunnah wal Jama’ah” (HR Thabrani)

    Hadits yang mengandung arti dan maksud seperti ini juga terdapat dalam buku Al Milal wan Nihal karangan Syahrastani (wafat 1127M/548H)

    9. Bersabda Nabi Muhammad SAW :

    “Akan ada segolongan ummatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu” (HR Bukhari)

    Melihat hadits-hadits yang sahih ini dapat diambil kesimpulan :

    1. Nabi Muhammad SAW mengabarkan sesuatu yang akan terjadi dalam lingkungan ummat Islam secara mu’jizat, yaitu mengabarkan hal-hal yang akan terjadi. Kabar ini tentu Beliau terima dari Allah SWT.

    2. Sesudah Nabi wafat akan ada perselisihan faham yang banyak, sampai 73 faham (i’tiqad/firqah).

    3. Ada segolongan orang-orang muda pada akhir zaman yang sok aksi mengeluarkan dalil-dalil dari Al-Quran, tetapi keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya.

    4. Ada dua golongan yang tidak bersangkut paut dengan Islam, yaitu faham Murjiah dan Qadariyah.

    5. Ada 30 orang pembohong yang akan mendakwakan bahwa dirinya adalah Nabi, padahal tidak ada lagi Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Dan ada orang-orang Khawarij yang paling jahat.

    6. Di antara 73 golongan itu ada satu yang benar yaitu golongan Ahlussunnah wal Jama’ah yang selalu berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah Rasyidin.

    7. Mereka ini akan selalu mempertahankan kebenaran i’tiqad-nya sampai hari kiamat.

    Melihat kenyataan sekarang, dan dengan meneliti sejarah perkembangan Islam sejak abad pertama Hijriyah hingga sekarang, apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW telah terjadi dengan nyata.

    Di dalam buku Bugyatul Mustarsyidin karangan Mufti Sheikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, yang terkenal dengan gelar Ba’Alawi, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Kairo (Mesir) tahun 1960M/1381H, halaman 398, bahwa 72 firqah yang sesat itu bertumpu pada 7 firqah yaitu :

    1. Faham Syi’ah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina Ali bin Abi Thalib. Mereka tidak mengakui Khalifah Rasyidin yang lain seperti Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, Khalifah Umar Ibnu Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan. Kaum Syi’ah terpecah menjadi 22 aliran, termasuk di antaranya adalah Kaum Bahaiyah dan Kaum Ahmadiyah Qad-yan.
    2. Faham Khawarij, yaitu kaum kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina Ali bin Abi Thalib, bahkan di antaranya ada yang mengkafirkan Saidina Ali. Firqah ini berfatwa bahwa orang-orang yang membuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij terpecah menjadi 20 aliran.
    3. Faham Mu’tazilah, yaitu kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata dalam surga, orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan mi’raj Nabi Muhammad SAW hanya dengan roh saja, dll. Kaum Mu’tazilah terpecah menjadi 20 aliran, termasuk di antaranya adalah Kaum Qadariyah.
    4. Faham Murjiah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa membuat maksiat (kedurhakaan) tidak memberi mudharat jika sudah beriman, sebaliknya membuat kebaikan dan kebajikan tidak bermanfaat jika kafir. Kaum ini terpecah menjadi 5 aliran.
    5. Faham Najariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yaitu dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah terpecah menjadi 3 aliran.
    6. Faham Jabariyah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa manusia “majbur”, artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
    7. Faham Musyabbihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, misal bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik dan turun tangga dll. Kaum ini hanya 1 aliran saja. Kaum Ibnu Taimiyah termasuk dalam golongan ini, dan Kaum Wahabi adalah termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.

    Jika ditambah dengan 1 aliran lagi yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah maka menjadi 73 firqah, seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits Imam Tarmidzi.

    (aswaja.net)

  • Ekstrimisme Meracuni Pelajar

    Amrozi Cs telah dihukum mati. Namun jaringan orang-orang yang teracuni ajaran ekstrim masih berkeliaran. Mereka terus menebarkan ajaran ekstrim gaya khawarij dan salafy-wahhabi. Bahkan ketika saya masih di SLTA, saya melihat bahwa ajaran ekstrim ini diajarkan pula oleh para aktivis Partai Keadilan. Entah mereka menyadarinya atau tidak.

    Film Propaganda

    Salah satu tehnik pencucian otak yang dilakukan kelompok ekstrim tersebut terhadap para calon anggotanya adalah dengan memutar film rekaman atas kebiadaban tentara Israel terhadap Muslimin. (lebih…)

  • JalanKu

    QS. 6:151. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[1]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (lebih…)

  • Muhammad Abduh Sang Mujaddid?

    Taqlid merupakan tindakan mengikuti pendapat dan metode yang digunakan oleh para salafush shalih dalam agama. Sedangkan tajdid merupakan kebalikan dari taqlid. Tajdid atau pembaharuan adalah istilah yang digunakan bagi mereka yang tidak mengikat diri kepada salah satu madzhab.

    Orang yang melakukan tajdid itu umumnya lebih mendahulukan aqal dari pada wahyu. Mereka memberikan porsi peranan yang lebih besar kepada aqal daripada kepada wahyu. Mereka sering disebut juga sebagai kaum rasionalis. Mereka tidak mengenal sistem madzhab. Mereka merasa bahwa aqal mereka cukup cerdas untuk mentarjih pendapat para Imam terdahulu dan ilmu mereka cukup luas untuk memilih dalil mana yang lebih shahih dan kuat.

    Sementara orang yang bertaqlid biasanya disebut sebagai tradisionalis, karena mereka memang menjaga tradisi para ulama terdahulu yang mengenal sistem madzhab yang mempersilahkan orang kebanyakan untuk taqlid kepada ulama yang memang layak berijtihad.

    Rasionalisme dalam Islam semakin berkembang melalui Muhammad Abduh yang mengagumi Syaikh Hasan ath-Thawil yang mengajarkan kitab filsafat karangan Ibnu Sinna, logika karangan Aristoteles dan lain sebagainya.

    Muhammad Abduh sangat membenci sikap taqlid, hal ini sebenarnya mulai dia rasakan sejak menginjak al-Azhar, dimana dia mendapati terpolanya 2 pemahaman, yaitu kaum mayoritas yang penuh taqlid dan hanya mengajarkan kepada siswa-siswanya tentang pendapat-pendapat ulama terdahulu, sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaruan Islam (pola Tajdid) yang mengarah pada penalaran dan pengembangan rasa.

    Salah satu pemikiran dan keinginan dari Muhammad Abduh adalah membebaskan akal pikiran dari belenggu taqlid dengan cara memahami langsung dari sumber pokoknya : al-Qur’an. Abduh menilai bahwa kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda dan pada akhirnya malah menjauh dari tujuan diturunkannya al-Qur’an.

    Menurutnya, sebagian kitab-kitab tafsir itu sedemikian kering dan kaku karena penafsirnya hanya mengarahkan perhatian kepada pengertian kata-kata atau kedudukan kalimatnya dari segi i’rab dan penjelasan lain menyangkut segi teknis kebahasaan yang dikandung oleh redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Oleh karena itu, kitab-kitab tafsir tersebut cenderung menjadi semacam latihan praktis dalam bidang bahasa dan bukan kitab tafsir yang sesungguhnya. Muhammad Abduh berpendapat bahwa wahyu al-Qur’an menuntut pembuktian secara akal mengenai klaim-klaim yang disampaikannya. Hal ini dilatari kegemarannya pada filsafat Yunani yang menuntut kebenaran ilmiah. Sehingga banyak hadits dan peristiwa dalam Islam, yang menurutnya bertentangan dengan aqal, kemudian diingkari atau ditafsiri sesuai dengan aqalnya semata. Diantara hal yang dipersoalkan Muhammad Abduh adalah keshahihan peristiwa Isra` Mi’raj dengan ruh dan jasad. Menurutnya, hal ini tidak masuk aqal.

    Muhammad Abduh tidak menghiraukan segi-segi ma’tsur, tidak pula memperhatikan cara pentakhrijan serta sejarah yang menyangkut ayat-ayat al-Qur’an. Karenanya tidak heran bila banyak hadits-hadits yang dianggap shahih sejumlah ulama malah ditolak dan diabaikan olehnya hanya karena dianggap tidak sesuai dengan pemikiran logis atau tidak sejalan dengan redaksi ayat-ayat al-Qur’an. Sebaliknya ada juga hadits atau riwayat yang oleh ulama dinilai lemah justru dikukuhkan oleh Muhammad Abduh karena kandungannya sejalan dengan pemikiran logis.

    Begitulah kaum rasionalis yang menganggap diri mereka sebagai mujaddid. Mereka mengedepankan aqal dan menjadikan Al-Qur`an sebagai mu`in (penolong) di belakang aqal mereka. Maka bohonglah mereka jika mereka berkata bahwa tidak ada Imam selain Al-Qur`an. Justeru mereka telah menjadikan aqal sebagai Imam.

    Pola rasionalisme ini kemudian dianut pula oleh Hassan Al-Banna dan kemudian oleh para pemuda yang lemah aqal namun merasa bahwa dirinya cukup cerdas untuk mentarjih dan berijtihad. Bukan hanya Hassan Al-Banna dan aktivis Ikhwanul Muslimin yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh, bahkan para pemuda Salafy pun melakukan apa yang dilakukan Muhammad Abduh. Mereka menolak untuk bertaqlid dan lebih memilih untuk berijtihad layaknya seorang ulama besar. Bahkan rasionalisme semacam inilah yang melahirkan liberalis-pluralis seperti Nur Cholis Majid (Cak Nur) dan Ulil Abshar Abdalla. Maka muncullah pertanyaan di benak kita. Benarkah gerakan mereka ini dalam rangka memurnikan agama, ataukah justeru mengotorinya? Benarkah mereka melakukan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama Islam ini kembali seperti baru munculnya dahulu seperti jika Anda membeli suatu barang, kemudian rusak, lalu Anda memperbaiknya sehingga kembali seperti baru Anda beli dahulu? Atau justeru merupakan gerakan pembaruan dalam artian membuat agama baru yang agak berbeda dengan agama sebelumnya yang jika menggunakan istilah Ulil adalah re-embodiment?Jika Anda memang orang yang cerdas, harusnya Anda sadar betul akan kemana arah Muhammad Abduh dan para pengikutnya.

  • Menanti Sanad Sang Ustadz

    Dalam Bible dikatakan bahwa Petrus dan Barnabas yang merupakan murid langsung dari Yesus telah mengajarkan unitas (Tauhid). Lalu datanglah Paulus yang mengaku sebagai murid Yesus. Padahal dia tidak pernah bertemu dengan Yesus secara langsung. Dia hanya mengaku-ngaku saja bahwa ia telah melihat Yesus dalam ‘penampakan’. Lalu Paulus mengajarkan trinitas. Sebagai orang yang cerdas dan ilmiah, semestinya Kristiani lebih memilih Petrus dan Barnabas daripada Paulus. Sanad menjadi penting, karena ia menentukan siapa yang lebih punya otoritas dan layak sebagai pewaris da’wah para Nabi.

    Khawarij

    Ketika Ali dan Muawiyah setuju untuk bertahkim, sekelompok kaum kecewa dam berkata, “Mengapa kalian berhukum kepada manusia? Tidak ada hukum selain hukum yang ada di sisi Allah.” Sayyidina Ali berkata, “Itu adalah ungkapan yang benar, tetapi mereka artikan dengan keliru.” Lahirlah kaum Khawarij yang terkenal ghuluw (ekstrim) dan mudah menganggap kafir orang-orang di luar kelompoknya. Mereka membaca Al-Qur’an dan Hadits yang sama, tetapi mereka menafsirkannya secara berbeda. Karena guru mereka bukanlah guru yang bersambung sanad ilmunya kepada Rasulullah SAW. Penafsiran mereka didasarkan kepada penafsiran guru-guru mereka, yang penafsiran seperti itu tidak diajarkan Rasul dan ulama-ulama yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah SAW. Maka penafsiran dan ajaran siapa yang lebih layak kita ambil? Ajaran khawarij ataukah ajaran para pewaris Nabi? Ajaran mereka yang terputus sanadnya ataukah ajaran mereka yang bersambung sanadnya?

    Mu’tazilah

    Ketika Wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Al-Basri di Masjid Bashrah, datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Bashri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al-Bashri masih berfikir, Wasil bin Atho mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan, “Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah mu’min dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi di antara keduanya, tidak mu’min dan tidak kafir.” Kemudian Wasil menjauh memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri dan pergi ke tempat lain di lingkungan Masjid. Di sana Wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Hasan Al-Bashri berkata, “Wasil memisahkan diri (i’tazaala) dari kita.”

    Wasil mengajarkan apa-apa yang tidak diajarkan Rasul dan para pewarisnya SAW. Wasil memisahkan diri dari Hasan Al-Bashri yang sanad ilmunya bersambung. Dan sebagian orang di zaman ini telah mengikutinya. Maka terputuslah sanad Wasil dan para pengikutnya dari Rasulullah SAW.

    Mana Sanadmu?

    Saat ini, banyak pemuda mengikuti ustadz-ustadz yang sanadnya tidak jelas dan pendapatnya bertentangan dengan para pewaris Nabi. Sedangkan para pewaris Nabi memahami Al-Qur’an dan Hadits sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul dari generasi ke generasi secara benar dan konsisten. Namun anehnya, para pemuda ini lebih percaya kepada ustadz-ustadz yang sanad gurunya tidak jelas daripada kepada para pewaris Nabi. Terkadang para pemuda ini merasa bahwa mereka orang yang cerdas yang dapat memfilter perkataan keliru sang ustadz dha’if. Jika ada ulama shahih, mengapa kita harus belajar kepada ustadz dha’if? Dengan apa kita memfilter? Dengan Al-Qur’an dan Hadits yang ditafsiri sesuai aqal manusia sok cerdas? Para pemuda ini merasa bahwa mereka telah pantas mentarjih, berijtihad, dsb. Ilmu apa yang telah mereka miliki hingga merasa pantas menjadi mujtahid? Dari mana mereka mendapat ilmu seperti itu? Dari para pewaris Nabi? Dari ulama shahih? Atau justeru dari buku-buku karangan ustadz-ustadz dha’if yang tidak jelas sanadnya? Mereka ini, jika dimintai untuk menjelaskan sanad ilmu mereka, mereka tak dapat menyebutkannya. Tetapi dengan seenaknya mereka mendha’ifkan hadits hasan. Tanpa sanad mereka bicara semaunya. Berlagak seperti mujtahid, padahal ilmunya tak seberapa.

    Salah satu di antara mereka ada yang meminta saya untuk menyebutkan sanad guru saya. Insya Allah itu mudah bagi saya. Maka saya katakan padanya bahwa jika saya bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia tidak bisa, maka dia harus bertaubat dari mengikuti Abdul Aziz bin Baz, al-Utsaimin dan kelompoknya dan ikut kepada guru kami. Jika saya tidak bisa menyebutkan sanad guru saya dan dia bisa menyebutkan sanad ustadz-ustadznya yang salafy, maka saya akan ikut salafy dan meninggalkan guru saya. Tetapi jika kami sama bisa menyebutkan sanad kami masing-masing, maka silahkan masing-masing dari kami mengikuti guru-guru kami seperti semula.

    Namun hingga saat ini, dia belum muncul lagi untuk menanggapi. Jika ada temannya yang sanggup, silahkan saja. Kami nantikan sanad ustadz Anda. 🙂