Kategori: Kenali Kitabmu

  • BAGIAN-BAGIAN AL-QUR`AN

    Menurut sudut pandang kami, Al-Qur`an sebagai player guide dibagi dalam 3 bagian, yaitu pembukaan, perincian, dan kesimpulan. Surah Al-Fatihah sebagai pembukaan berisi penjelasan global tentang The Big Game (lihat Gambaran Kehidupan). Surah-surah lain berisi perincian tentang game dan cara memainkannya. Kemudian Surah Al-‘Ashr sebagai kesimpulan berisi kunci-kunci sukses memainkan game kehidupan. Surah Al-‘Ashr merupakan ikhtisar dari The Rules of Game yang merupakan tujuan dari diturunkannya Al-Qur`an sebagai player guide. Dengan menjalankan The Rules of Game yang telah diringkas dalam surah Al-‘Ashr, manusia akan terhindar dari kegagalan dan berhasil meraih kebahagiaan (al falah). Itulah tujuan Allah menurunkan Al-Qur`an; agar manusia mendapat panduan untuk menjadi pemenang (muflihun).

    Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung/menang. (QS. Al-Baqarah: 1-5)

    AL-‘ASHR: KUNCI SUKSES

    Al-Qur`an sebagai Kalamullah merupakan petunjuk bagi manusia untuk meraih kebahagiaan. Dan RasulNya sebagai pemandu merupakan penuntun bagi manusia untuk menerapkan Al-Qur`an. Allah bermaksud untuk menyelamatkan manusia dengan menurunkan Al-Qur`an. Al-Qur`an menjelaskan bagaimana haqiqat kehidupan ini dan cara meraih kebahagiaan dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan ikhtisar dari cara meraih kebahagiaan itu terdapat pada surah Al-‘Ashr.

    Al-Ashr menyebutkan dua sumber daya manajemen terpenting, yaitu waktu dan manusia. Kemudian Al-Ashr menyebutkan kunci sukses, yaitu:

    1. Tazkiyah, membersihkan diri dari segala hal yang merugikan, membersihkan diri dari paham dan aqidah yang bathil, membersihkan diri dari penyembahan kepada ilah palsu, membersihkan diri dari metode bathil.

    2. Iman, meyaqini segala yang ghaib. Hal yang ghaib itu antara lain: Allah, akhirat, surga, cita-cita, impian. Kita harus meyaqini akan wujudnya segala yang ghaib itu. Dan kita juga harus yaqin bahwa ketika kita melakukan kesalahan, maka hal ghaib yang lain juga bisa menimpa kita. Termasuk hal yang ghaib juga adalah semangat, rencana, tekad, niat, dan ketulusan.

    3. Amal shalih, langkah nyata yang baik dan benar. Setelah kita yaqin kepada yang ghaib. Kita harus berusaha mengaktualisasi segala rencana yang telah kita buat untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan kita. Dan sebagai seorang hamba, tentu tujuan utama kita adalah bertemu dengan Allah yang telah menciptakan kita.

    4. Nasihat. Menasihati, mengingatkan, menyemangati, baik terhadap diri sendiri mau pun orang lain. Seperti halnya baterai handphone, semangat kita juga perlu diisi ulang. Kita juga perlu mengingat kembali tujuan hidup kita. Kita juga perlu mengingat segala konsekuensi dari perbuatan kita.

    Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr)

  • MEMBACA AL-QUR`AN

    Sesungguhnya ummat Islam memiliki sesuatu yang istimewa yang tidak dimiliki oleh ummat lain. Itulah Al-Qur`an. Di dalam Al-Qur`an itu terdapat segala petunjuk yang benar dan lurus, ilmu yang dahsyat, kejadian dan peristiwa. Al-Qur`an memuat alam semesta yang dipadatkan. Al-Qur`an adalah intisari. Al-Qur`an itu seperti benih; darinya tumbuh segala macam ilmu.

    Cukuplah sekiranya seseorang menanam benih ini di dalam hatinya, menyiram dan merawatnya sehingga tumbuh segala macam ilmu pada dirinya. Tetapi Al-Qur`an bukanlah bacaan sembarangan. Ia lebih canggih dibandingkan buku rahasia agen CIA. Untuk bisa menggali ilmu dari Al-Qur`an, kita harus tahu dulu sandi/kode bahasa Al-Qur`an. Tidak akan dapat mengambil manfaat dari Al-Qur`an kecuali orang yang mensucikan hatinya, terutama suci dari prasangka buruk. Dan –sekali lagi– kita harus membaca bersama Allah dengan penuh penyerahan diri. Untuk bisa hidup bersama Allah, tentu kita harus mengikut kepada Rasulullah SAW (Ali Imran: 31). Berkata Sahal bin Abdullah, “Tanda mencintai Allah adalah cinta Al-Qur`an. Tanda mencintai Al-Qur`an adalah cinta Nabi. Tanda mencintai Nabi adalah cinta Sunnah. Tanda mencintai Sunnah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah menjauhi nafsu. Tanda menjauhi nafsu adalah menjauhi dunia. Tanda menjauhi dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sekedarnya saja.”

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran: 31)

    Dalam Al-Qur`an, Allah menceritakan tentang Nabi Sulaiman yang bertanya kepada para ningrat, “Siapa di antara kalian yang dapat mendatangkan singgasana Ratu Balqis kepadaku?” Jin Ifrit yang telah menimba ilmu dari alam dan melatih diri berkata, “Hamba dapat mendatangkannya sebelum baginda berdiri dari singgasana bahinda.” Kemudian seorang alim yang telah menimba ilmu dari Kitabullah pun berkata, “Hamba dapat mendatangkannya sebelum mata baginda berkedip.”

    Ternyata ilmu yang bersandar hanya pada penelitian kepada alam tidak dapat mencapai kesimpulan puncak dari ilmu tersebut. Kesimpulan puncak hanya dapat dijelaskan oleh Sang Pencipta alam itu sendiri. Maka, ketika kita telah memiliki, membaca, dan mengkaji Al-Qur`an dengan benar, itulah ilmu yang paling tepat yang mengalahkan dan mengungguli segala ilmu. Tidak pantas bagi seorang muslim untuk beranggapan bahwa ada kitab yang lebih dahsyat daripada Al-Qur`an.

    Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33)

  • MEMBACA BERSAMA ALLAH

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (Al-‘Alaq : 1 – 5)
     

    Wahyu pertama adalah tanda pelantikan seorang Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul  Allah. Sebagai pesan pelantikan, tentulah wahyu pertama itu bukan perkataan main-main atau sembarangan. Tetapi itulah pesan yang sangat perlu diperhatikan.
    Membaca adalah suatu hal yang selalu kita lakukan. Segala tindakan kita adalah hasil dari membaca; membaca pengalaman, keinginan, alam semesta, dll. Membaca adalah hal yang kompleks. Salah dalam membaca dapat berakibat fatal.
    Setelah diciptakan Allah, Nabi Adam diajarkan untuk ‘membaca’ benda-benda. Kemudian Allah menyuruh beliau a.s. untuk membacakannya di hadapan para malaikat, sehingga para malaikat kagum dan mengakui Kemahatahuan Allah dan mengakui kelayakan Nabi Adam sebagai khalifah. Kemudian Allah mendampingi Nabi Adam untuk membaca sebuah pohon yang harus dihindari. Nabi Adam pun menghindari pohon tersebut sesuai dengan yang ia baca bersama Allah. Tetapi kemudian Iblis mendampingi Nabi Adam untuk membaca kembali pohon tersebut; dan Nabi Adam mengikuti bacaan Iblis sehingga ia tergelincir.
    Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. (Q.S. Al-Baqarah: 35–36)
    Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-A’raf: 200)
    Agar sewaktu kita ‘membaca’ tidak didampingi oleh syaithan, Allah menyuruh kita untuk berta’awudz; memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian agar kita mendapat bimbingan dari Allah sewaktu membaca, kita diperintah untuk membaca basmallah (Al-‘Alaq: 1). ‘Bi’ pada kata ‘Bismillah’ atau ‘Bismirabbik’ mengandung pengertian dengan sebab, dengan pertolongan, dengan didampingi. Jadi sewaktu kita membaca basmallah, niatkan dalam hati kita bahwa kita memohon pertolongan dan ‘mengundang’ Allah untuk mendampingi kita; dan kita tanamkan pula dalam hati kita bahwa kita tidak dapat membaca kecuali dengan Allah, dengan pertolongan, Kasih-Sayang, dan idzin dari Allah.
    Hidup bersama Allah; itulah kunci kejayaan para pendahulu kita. Cara yang paling cepat dan tepat untuk meraih keberhasilan adalah dengan berserah diri (taslim) kepada Allah. Hanya Allah yang dapat kita andalkan. Cukuplah Allah bagi kita.
    Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah”, (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (Q.S. At Taubah: 59)
    Nabi Ibrahim a.s. dulu pernah menggunakan aqal dan tenaganya untuk mencari Tuhan. Tetapi setelah beliau a.s. gagal menemukan Tuhan yang hebat dan kekal, beliau pun putus asa. Beliau menyerah; menyerah kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Pada saat beliau a.s. menyerah (taslim) itulah Allah menunjukkan kepada Nabi Ibrahim a.s. bahwa Dialah Tuhan alam semesta.
    Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”.Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S. Al-An’am: 75–79)
     

     

  • AL-QUR`AN: THE GUIDE

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 2)

    Semua manusia menginginkan kesuksesan. Kesuksesan yang diinginkan manusia bukan kesuksesan sesaat di satu sisi. Tetapi kesuksesan abadi, selama-lamanya di berbagai sisi; kesuksesan yang sempurna. Maka diperlukan cara yang sempurna untuk dapat meraih kesuksesan seperti ini. Sebuah metode sempurna yang tidak bercacat. Maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti metode dari yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Dia Yang tahu dengan pasti bagaimana sifat-sifat kehidupan dan cara menjalani kehidupan ini. Pembuat game pasti tahu bagaimana cara mudah dan jitu untuk menyelesaikan game dengan sempurna. Begitu juga Sang Pembuat game kehidupan. Tentu Dia tahu bagaimana cara menyelesaikan game ini dengan mudah dan selamat. Orang-orang yang tidak mengikuti metode ini, tentu akan mengalami kegagalan.
    Mahasuci Allah Yang mencipta game kehidupan dan memberikan buku panduan (player guide) untuk memainkan game ini dengan ni’mat dan selamat. Buku panduan itu adalah Al-Qur`an yang berisi informasi tentang peraturan ‘permainan’ dan cara ‘memainkannya’. Dan Allah juga mengutus seorang pemandu game yang handal untuk memandu kita dalam membaca buku panduan dan dalam menjalankan game sesuai buku panduan ini. Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAAW, manusia yang paling pandai membaca, memahami dan menerapkan game guide ini. Beliau telah menguasai buku panduan itu dalam dadanya. Beliau adalah game master. Beliau (SAAW) adalah Al-Qur`an Berjalan. Dengan begitu, setiap player (pemain) yang menemukan masalah dalam memainkan game ini dapat bertanya kepada beliau. Beliau akan menjawab sesuai dengan buku panduan yang telah diajarkan kepada beliau dari Sang Pembuat game. Tidak semua orang dapat memahami atau menerapkan panduan tersebut. Tetapi dengan adanya The Game Master, kita dapat lebih mudah memahami bagaimana menerapkan instruksi-instruksi dalam buku panduan. Siapa yang mengikuti beliau, pasti akan dapat menyelesaikan game dengan lebih cepat.
    Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. (QS. An-Nuur: 35)

    Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imran: 31]

    Tetapi tidak semua manusia mengindahkan atau pun percaya dengan player guide (panduan pemain) yang telah Allah turunkan. Orang yang percaya pun belum tentu mau memainkan game sesuai aturan tersebut. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang berusaha untuk memainkan game ini sesuai panduan dari Allah secara total dengan penuh keimanan. Aamiin.
    Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Q.S. Ali Imran: 3-4)
    Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Q.S. Ali Imran: 83)
    Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. (Q.S. An-Naml: 1-3)
     

  • ISLAM AGAMA FITRAH

    Segala puji bagi Allah Yang telah mengutus pemandu yang membawa Kitab Panduan untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan mengarahkan manusia kepada kemenangan. 

    Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At Taubah: 33) 

    Sholawat serta salam semoga tercurah atas Pemandu kita juga keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. 

    Al-Islam adalah ajaran fitrah dan mengajak manusia kepada keselamatan, rasa aman, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Al-Islam adalah ajaran yang berlandaskan kepada Kalamullah dan Sunnah RasulNya. 

    Sudah fitrah manusia ingin selamat. Coba bayangkan jika Anda memasuki suatu area, di depannya ada tulisan ‘Area Beranjau’. Anda mungkin setengah percaya. Tetapi disebabkan Anda ingin selamat, Anda berjalan dengan hati-hati. Di saat kaki Anda menyentuh sesuatu yang Anda sadari bahwa itu adalah ranjau, barulah Anda yaqin bahwa daerah itu memang beranjau. Akhirnya Anda lebih hati-hati lagi. 

    Islam datang bukan untuk mengekang manusia, tetapi disebabkan Allah sayang kepada manusia. Islam datang agar manusia berhati-hati. Sudah banyak bukti, bahwa orang yang tidak mengindahkan ajaran Islam –sehingga tidak berhati-hati- akhirnya tertipu, gelisah, berpenyakit kronis, stres, gila, hancur masa depannya, sengsara, dsb. Islam adalah agama yang sempurna, agama yang sesuai dengan fitrah, agama yang membawa keselamatan, keadilan, kedamaian, kesejahteraan, kebenaran, dan segala kebaikan. 

    Syariat Islam dengan pedoman berupa Al-Qur`an dan Hadits, apabila diamalkan tanpa iman, ia akan menjadi penerang di dunia; apabila diamalkan dengan iman dan keyaqinan akan menjadi penerang di dunia dan petunjuk di akhirat. 

    (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran: 138) 

    Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Q.S. Al-Jatsiyah: 20) 

    Jika Anda berkunjung ke singapore, dan kebetulan Anda melihat seseorang membuang sampah sembarangan dan diketahui petugas, maka Anda akan melihat orang itu akan dicambuk oleh petugas tersebut. Kejamkah? Jika orang yang membuang sampah sembarangan saja dicambuk, maka orang yang berzina lebih pantas untuk dicambuk. Orang yang melakukan pencurian dan korupsi lebih pantas untuk dipotong tangannya. Ini semua adalah untuk kebaikan masyarakat juga. Kita tentu membenci perbuatan korupsi dan prostitusi. Sebab keduanya sangat merusak sendi-sendi kehidupan yang beradab. Begitu pula dengan minuman keras dan narkotika. Semua kejahatan berat memang harus ditindak dengan tegas, agar ketentraman hidup tetap terjaga. Amputasi, terkadang diperlukan untuk mencegah menjalarnya penyakit. 

    Anda mungkin pernah mendengar bagaimana sistem zakat yang tertib telah mema’murkan masyarakat pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Umar bin Khaththab. Jika kita berusaha untuk mencari agama yang lebih baik dari Islam, maka pastilah kita tidak menemukannya. Dengan menjalankan syari’at Islam di berbagai bidang kehidupan itulah kita dapat meraih kejayaan. Jika ada yang sudah jelas, kenapa harus cari yang remang-remang? 

     

    Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Q.S. Ali Imran: 85) 

     

  • WAHYU

    Dikatakan wahaytu dan awhaytu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
    Wahyu dalam arti bahasa meliputi:
    1.       Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu kepada ibu Nabi Musa dalam QS. Al-Qoshosh [28]: 7.
    2.       Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah dalam QS. An-Nahl [16]: 68.
    3.       Isyarat yang cepat melalui rumusan dan kode, seperti Zakaria dalam QS. Maryam [19]: 11.
    4.       Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. Lihat QS. Al-An’am [6]: 112,121.
    5.       Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. Lihat QS. Al-Anfal [8]: 12.
    Adapun wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syara’ didefinisikan sebagai “kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi”.
     

    CARA WAHYU ALLAH TURUN KEPADA MALAIKAT
    Di dalam Al-Qur`an terdapat nas mengenai kalam Allah kepada para malaikat-Nya. Lihat QS. 2:30. Juga terdapat nas tentang wahyu Allah kepada mereka (QS.8:12). Juga nas tentang para malaikat yang mengurus urusan dunia menurut perintah-Nya (QS. 51:4; 79:5). Nas-nas itu dengan tegas menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantaraan dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu.
    Kemudian juga terdapat nas bahwa Al-Qur`an telah dituliskan di Lauhil Mahfuzh. [Lihat QS. 85: 21-22]. Demikian pula bahwa Al-Qur`an diturunkan sekaligus ke baitul ‘izzah yang berada di langit dunia pada Lailatul Qadr. [Lihat QS. 97:1; 44:3; 2:185].
    Dari Ibnu Abbas dalam suatu hadits mauquf, “Al-Qur`an itu diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia pada Lailatul Qadr. Kemudian diturunkan secara bertahap selama 20 tahun.” [HR. Hakim, Baihaqi, Nasai] [Lihat QS. 25:33; 17:106] Dan pada tahap pertama, Al-Qur`an turun pada 17 Ramadhan.
    “Telah dipisahkan Al-Qur`an dari Adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘izzah di langit dunia; kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi saaw.” [HR. Hakim]
    Tetapi berdasarkan hadits dari Nawas bin Sam’an, Jibril menerima Al-Qur`an secara pendengaran dari Allah dengan lafalnya yang khusus.
    “Apabila Allah hendak memberikan wahyu mengenai suatu urusan, Dia berbicara melalui wahyu; maka langit pun bergetarlah dengan dahsyat karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika penghuni langit mendengar hal itu, maka pingsan dan jatuh bersujudlah mereka itu kepada Allah. Yang pertama kali mengangkat muka di antara mereka itu adalah Jibril, maka Allah membicarakan wahyu itu kepada Jibril menurut apa yang Dia kehendaki. Kemudian Jibril berjalan melintasi para malaikat. Setiap kali dia melalui satu langit, maka bertanyalah para malaikat langit kepadanya: Apakah yang telah dikatakan Tuhan kita wahai Jibril? Jibril menjawab: Dia mengatakan yang haq dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Para malaikat itu semuanya pun mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu itu seperti diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla. [HR. Thabrani dari Nawas bin Sam’an]
    Lihat juga QS. 27:6; 9:6; 10:15. Jadi Al-Qur`an adalah Kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad.
     

  • DEFINISI AL-QUR`AN

    Qoro`a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun; dan qiro`ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Qur`an pada mulanya seperti qiro`ah, yaitu masdar (infinitif) dari kata qoro`a, qiro`atan, qur`anan. Qur`anah dalam QS. Al-Qiyamah: 17-18 berarti qiro`atuhu (bacaannya / cara membacanya).
    Qur`an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saaw. Dan secara gabungan kata itu dipakai untuk nama Qur`an secara keseluruhan, begitu juga untuk penamaan ayat-ayatnya. Maka jika kita mendengar orang membacaayat Qur`an, kita bisa mengatakan bahwa ia sedang membaca Qur`an. (Lihat QS. 7:24)
    Para ulama mendefinisikan: “Qur`an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saaw yang pembacaannya merupakan suatu ibadah.”
    Dengan demikian Al-Qur`an itu bukan kalam makhluq, bukan firman yang diturunkan kepada nabi-nabi lain, bukan pula hadits qudsi, bukan pula hadits ahad, bukan pula Kalam yang khusus menjadi milik-Nya yang tetap menjadi rahasia-Nya. (Lihat QS. 18: 109)
     

    NAMA DAN SIFATNYA

    1. Qur`an (QS. 17: 19)
    2. Kitab (QS. 21:10; 2:2)
    3. Furqan (QS. 25: 1)
    4. Dzikir (QS. 15:9)
    5. Tanzil (QS. 26: 192)

    Qur`an dan Al-Kitab lebih populer dari nama-nama yang lain. Dalam hal ini Dr. Muhammad Abdullah Daraz berkata, “Ia dinamakan Qur`an karena ia ‘dibaca’ dengan lisan, dan dinamakan Al-Kitab karena ia ‘ditulis’ dengan pena. Kedua nama ini menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya.” Maka hendaknya ia dipelihara dalam bentuk bacaan/hafalan dan tulisan.
    Allah telah melukiskan Qur`an dengan beberapa sifat, antara lain:
    1.      Nur (Cahaya) [QS. 4:174].
    2.      Huda (Petunjuk), Syifa (obat/penawar), Rahmah, Mau’izhoh (nasihat) [QS. 10:57]
    3.      Mubin (yang menerangkan) [QS. 5:15]
    4.      Mubarok (yang diberkahi) [QS. 6:92]
    5.      Busyro (khabar gembira) [QS. 2:97]
    6.      ‘Aziz (yang mulia) [QS. 41:41]
    7.      Majid (yang dihormati) [QS. 85:21]
    8.      Basyir (pembawa khabar gembira), Nadzir (pembawa peringatan) [QS.41:3-4]
    HADITS NABAWI
     

    Hadits (baru/terkemudian) dalam bahasa merupakan lawan dari Qadim (lama/ terdahulu). Hadits adalah setiap kata-kata yang diucapkan dan dinukil serta disampaikan oleh manusia, baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengarannya atau wahyu, baik dalam keadaan jaga ataupun dalam keadaan tidur. Dalam pengertian ini, Qur`an juga dinamai hadits (lihat QS. 4:87). Begitu pula apa yang terjadi pada manusia di waktu tidurnya juga dinamakan hadits (lihat QS. 12:10).
    Sedang menurut istilah, pengertian hadits ialah apa saja yang disandarkan kepada Nabi saaw, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat.
    Yang berupa perkataan misalnya perkataan Nabi saaw: “Sesungguhnya segala amal itu dengan niat…”
    Yang berupa perbuatan ialah seperti ajarannya saaw kepada para shahabat mengenai bagaimana cara mengerjakan shalat, kemudian beliau bersabda: “Sholatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat.”
    Yang berupa persetujuan ialah seperti ia menyetujui suatu perkara yang dilakukan salah seorang shahabat, baik perkataan atau pun perbuatan, dilakukan di hadapannya atau pun sampai berita kepada beliau mengenai perbuatan shahabat itu. Misalnya mengenai makanan berupa biawak yang dihidangkan kepadanya.
    Yang berupa sifat adalah riwayat seperti, “bahwa Nabi saaw itu selalu bermuka cerah, berperangai halus dan lembut, tidak keras dan tidak pula kasar, tidak suka berteriak keras, tidak pula berbicara kotor, dan tidak juga suka mencela…”
     

    HADITS QUDSI
    Hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Nabi saaw disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka Rasul menjadi perawi kalam Allah itu dengan lafal dari Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi, maka dia meriwayatkan dari Rasulullah dengan disandarkan kepada Allah, dengan mengatakan, “Rasulullah saaw mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya”; atau ia mengatakan, “Rasulullah saaw berkata: Allah Ta’ala berfirman”; atau, “Rasulullah saaw berkata: berfirman Allah Ta’ala”.
     

    PERBEDAAN QUR`AN DENGAN HADITS QUDSI
    1.       Al-Qur`anul Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafal dari Allah, dan dengan itu pula orang Arab ditantang. Sedang Hadits Qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mu’jizat.
    2.       Al-Qur`anul Karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan: “Allah Ta’ala telah berfirman.” Sedangkan Hadits Qudsi terkadang diriwayatkan disanadkan kepada Rasulullah yang mengatakan mengenai apa yang difirmankan Allah kepadanya.
    3.       Seluruh isi Qur`an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah muthlaq. Sedangkan Hadits Qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Adakalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang dha’if (lemah).
    4.       Al-Qur`anul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka ia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedangkan hadits qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah saaw. Hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebb itu, menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja.
    5.       Membaca Al-Qur`anul Karim merupakan ibadah; karena itu ia dibaca di dalam shalat. (Lihat QS. 73:20) Sedangkan hadits qudsi tidak disuruh membacanya di dalam shalat. Allah memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al-Qur`an bahwa pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.
     

     

    PERBEDAAN HADITS QUDSI DENGAN HADITS NABAWI
     

    Hadits Nabawi ada dua macam sifatnya:
    1.       Tauqifi, kandungannya diterima dari wahyu, redaksinya dari Rasulullah.
    2.       Taufiqi, disimpulkan oleh Rasulullah menurut pemahamannya terhadap Al-Qur`an. (Semacam ijtihad).
    Hadits Qudsi itu maknanya dari Allah, redaksinya dari Rasulullah, tetapi beliau bersabda, “Allah berfirman,” sedangkan dalam hadits tauqifi tidak dikatakan bahwa Allah berfirman.
    Â