Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • MANIS BUKAN BERARTI MADU

    Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehinggakan mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang kamu maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad)
    Yahudi dan Nashrani selalu berusaha meracuni kita hingga kita mengikuti langkah-langkah mereka. Mereka mengemas kesesatan dengan sesuatu yang indah, sehingga kita merasa malu untuk menolak kesesatan itu.
    Mereka mengemas rencana busuk untuk menjauhkan para ibu dari anak-anak mereka dengan kata ‘Emansipasi Wanita’. Padahal kita tahu, nasib suatu bangsa berada di tangan para ibu. Ibulah yang mendidik putra bangsa menjadi seseorang. Jika anak sudah dititipkan kepada orang lain yang berpendidikan rendah, apa jadinya anak itu. Wanita juga digenjot untuk mempelajari apa yang dipelajari kaum pria untuk berkarir. Tetapi mereka dibuat lalai untuk mempelajari apa yang harus dipelajari seorang ibu untuk mendidik dan memperhatikan serta menyayangi anak-anak mereka.
    Mereka juga berusaha untuk membuat kaum pria menjadi impoten. Kalau pun mereka memiliki anak, anak mereka tidak sesehat bayi seharusnya. Mereka mengatakan bahwa seorang pria baru dikatakan pria, jika ia merokok. Padahal para banci pun banyak yang merokok, tetapi mereka tetap saja seperti wanita.
    Jargon Hak Asasi Manusia juga telah membuat banyak negara menjadi kacau balau. Mereka membiaskan pemahaman Hak Azasi Manusia kepada kebebasan tanpa tanggung-jawab. Manusia memang memiliki hak azasi. Tetapi hak azasi manusia bukan hak azasi binatang yang tanpa tanggung-jawab. Manusia harus mempertanggung-jawabkan segala amalnya. Kalaupun ia dapat lolos dari pengadilan manusia, ia tidak akan dapat lolos dari pengadilan Allah. Allah menguasai manusia, baik sewaktu mereka di dunia mau pun di akhirat. Allah dapat menghukum manusia kapan saja Dia Kehendaki. Hak Azasi Manusia hanyalah jargon untuk membuat manusia lupa akan eksistensi Allah. Mereka yang terkena pemikiran sesat ini bisa berubah menjadi kaum atheis. Na’udzubillahi min dzalik.
    Mereka juga berusaha membuat image, bahwa mengikuti gaya barat sudah pasti mengikuti kemajuan. Padahal gaya bukanlah ukuran kemajuan suatu bangsa. Kalau soal buka aurat, suku terbelakang juga buka aurat. Kalau soal gonta-ganti pasangan, binatang juga demikian.
    Mereka merubah sistem Khalifah dengan Demokrasi yang mendorong rakyat untuk berdemo-crazy. Mereka senang jika suatu bangsa melakukan huru-hara. Reformasi bukanlah suatu pembentukan kembali ke arah kebaikan. Sebab reformasi di Indonesia itu dikemudikan oleh Yahudi dalam rangka merusak segala tatanan –yang baik maupun yang buruk. Kita sudah melihat bagaimana keberhasilan mereka terhadap Uni Soviet dan Yugoslavia yang kini terpecah belah dan lemah. Mengapa Indonesia menjadi sasaran mereka? Sebab Indonesia tidak kalah ‘berbahaya’ jika dibandingkan Uni Soviet dan Yugoslavia. Indonesia sangat mengancam keberadaan Israel. Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar keempat. Letaknya strategis dan kaya akan sumber daya alam. Mayoritas penduduknya beragama Islam. Memiliki peran besar di organisasi Gerakan Non-Blok. Oleh sebab itu, mereka berusaha dengan keras selama puluhan tahun untuk menghancurkan bangsa ini. Dan mereka hampir berhasil. Hanya tinggal menunggu waktu. Kecuali jika kita mau merubah segala sikap mental kita ke arah kebenaran. Sebagian ummat Islam telah berhasil mereka jadikan binatang ternak. Ummat Islam, terutama pemudanya, banyak yang mudah disetir oleh pemikiran-pemikiran sesat. Hanya binatang ternak yang mau disetir oleh tuannya.
    Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Q.S. Al Baqarah: 120)
    Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S. Al-A’raf: 179)
    Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Ra’d: 11)
     

  • SU`UZH-ZHON

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat: 12)

    Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk berprasangka kepada siapa pun. Karena kebanyakan prasangka itu adalah dosa. Kalau pun harus berprasangka, Islam mengajarkan kita agar berprasangka baik (husnuzh-zhon) dan bukannya berburuk sangka (su’uzhon). Tetapi sayangnya, sebagian manusia berprasangka terhadap seseorang itu berdasarkan tampilan luarnya yang mana persangkaan demikian itu sering keliru.

    Sering seseorang memandang dengan penuh hormat kepada orang yang datang ke rumahnya dengan pakaian yang rapih apalagi jika dengan mengenakan jas. Tetapi tidak demikian jika yang datang itu adalah seseorang dengan rambut gondrong dan acak-acakan serta mengenakan kaus oblong. Maka dengan segera dia memandang orang tersebut sebagai orang yang tidak pantas didengar arahan dan nasihatnya. Akan tetapi sikapnya akan berubah ketika tahu bahwa si gondrong berkaus oblong itu ternyata adalah seorang pengusaha sukses.

    Itulah sebabnya Islam berpesan kepada kita agar kita melihat kepada apa yang dikatakan dan jangan melihat kepada siapa yang mengatakan. Maksudnya agar kita mengambil pelajaran dengan menggunakan aqal kita dan bukannya dengan prasangka kita. Dan supaya kita menilai orang dari apa yang dia katakan. Sering hati dan fikiran seseorang dapat tercermin dari kata-kata yang keluar dari lisannya. Dan terkadang kita harus mengambil kebenaran dengan cara yang agak menyakitkan kita. Terimalah nasihat yang benar, walau cara menyampaikan nasihat itu tidak baik. Apakah kita ingin menyusahkan orang yang ingin menasihati kita dengan menyuruhnya memikirkan cara yang baik dalam mengingatkan kita? Sudah bagus orang itu mau memperhatikan kita.

    Adapun mengenai perkataan ‘Allah melihat yang bathin, manusia melihat yang zhahir’, perkataan itu adalah diterapkan dalam bidang hukum dengan pengertian bahwa hakim itu memutuskan berdasarkan saksi dan bukti yang dapat diterima secara kaidah hukum. Jika hakim itu ternyata menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah, maka hal itu bukanlah suatu dosa, karena hakim itu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan keadilan berdasarkan bukti dan saksi yang sah berdasarkan kaidah hukum. Sedangkan mengenai kebenaran yang sesungguhnya yang mungkin tersembunyi dari hakim, maka Allah adalah Mahamelihat kepada yang bathin. Perkataan ini tidak bisa digunakan untuk membenarkan kita dalam berprasangka buruk kepada orang yang berpenampilan buruk.

    PENGAMATAN PARSIAL

    Pengamatan parsial sering menghasilkan kesimpulan parsial yang tidak akurat dan cenderung invalid, kecuali jika sang pengamat mau membandingkan hasil pengamatannya dengan orang lain yang juga mengamati objek yang sama.

    Ada seorang murid yang setiap kali melewati kelas salah seorang guru, dia selalu melihat guru itu sedang mengomel kepada murid-muridnya. Lalu akhirnya ia berkesimpulan bahwa guru tersebut adalah guru yang galak. Sebagian orang lebih suka untuk berprasangka daripada tabayun (mengklarifikasi). Seandainya murid tersebut mau membandingkan hasil pengamatannya dengan murid-murid guru tersebut, mungkin dia akan mendapatkan jawaban yang mengherankan. Sebab bisa jadi murid-murid dari guru tersebut akan berkata, “Tidak, dia adalah guru yang baik. Mengapa Anda bertanya seperti itu?” Ternyata sang guru ini adalah guru yang baik. Kebetulan saja ketika sang ‘observator’ melihat guru ini adalah sewaktu para murid melakukan hal yang melampaui batas, dan sang guru sudah tidak bisa lagi bersikap lunak. Ternyata sang observator menyimpulkan hanya berdasarkan observasinya yang tidak terus-menerus. Observator tadi melihat sang guru marah hanya ketika dia melewati kelas guru tersebut, dan itu dia lakukan dengan interval 3 bulan, dan dia hanya ‘mengamati’ sebanyak 3 kali. Intinya, dia tidak melakukan observasi yang terus-menerus dan tidak pula membandingkan dengan pengamatan orang lain. Ketika dia membandingkan dengan pengamatan orang lain, dia menemukan kesimpulan yang sungguh berbeda. Karena pengamat lainnya mengamati dengan terus-menerus dan lebih utuh datanya.

    Mungkin Anda teringat dengan kisah tiga orang buta yang mencoba menggambarkan bagaimana rupa gajah itu. Tidak satu pun penjelasan mereka tentang bentuk gajah dapat diterima sebagai penggambaran yang tepat, karena mereka hanya menggambarkan secara parsial. Ketika penjelasan mereka digabungkan, barulah kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang bentuk gajah.

    Pengamatan yang kurang lengkap ini juga saya lihat pada sebagian motivator yang pernah saya baca atau saya dengar motivasinya. Mereka sering memberikan ‘motivasi positif’ kepada para peserta. Jarang di antara mereka memberikan ‘ancaman’ kepada para peserta. Mereka beranggapan bahwa kata-kata negatif tidak perlu ada pada otak bawah sadar. Padahal sebagian kata-kata negatif, yang saya sebut dengan ‘ancaman’, juga dibutuhkan oleh jiwa. Karena tidak semua jiwa berfikir tentang ‘apa manfaatnya bagi saya?’, tetapi ada juga jiwa yang berfikir, ‘apa ruginya bagi saya?’. Bagi sebagian orang yang tidak suka ‘ngoyo’, penjelasan tentang ‘apa ruginya bagi saya’ akan lebih menggerakkan dia untuk bertindak positif bila dibandingkan dengan iming-iming dalam ‘apa manfaatnya bagi saya’. Kata-kata larangan akan membuat pagar pembatas agar seseorang tidak memasuki daerah berbahaya yang membinasakan, seperti anti-virus yang melindungi computer dari virus-virus yang merusak. Kesimpulan yang di dasari data yang kurang lengkap hanya menghasilkan persangkaan, bukan teori yang sah. Sedangkan kebanyakan persangkaan adalah keliru. Saya tidak yakin bahwa orang yang membuat persangkaan seperti itu adalah orang yang dekat dengan agama. Karena agama apa pun akan berisi perintah dan larangan. Bahkan dalam Alkitab, kita akan menemukan ‘Sepuluh Perintah’ yang sesungguhnya berisi sepuluh larangan yang diawali dengan kata ‘jangan’. Adapun di dalam Islam, begitu banyak kita dapati dalam Al-Qur`an, ketika ayat mengenai surga yang merupakan balasan bagi orang beriman dan beramal shalih disebutkan, pasti setelahnya atau sebelumnya kita menemukan ayat tentang neraka yang merupakan balasan bagi orang yang ingkar. Wallahu a’lam.

  • KUSEBUT NAMAMU

    Dari Abu Hurairah ra ia berkata, “Jibril mendatangi Nabi saaw lalu berkata, ‘Ya Rasulullah! Sebentar lagi Khadijah datang kepdamu membawa bejana berisi makanan atau minuman. Apabila dia datang, maka sampaikanlah salam untuknya dari Tuhannya dan dariku! Kabarkanlah kepadanya berita gembira tentang rumah yang berhiaskan permata untuknya di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan.’” (HR. Bukhari)

     

    Lihatlah bagaimana Allah memberi salam kepada Khadijah. Allah tidak hanya menyebut nama Khadijah, tetapi juga memberinya salam, keselamatan, kesejahteraan. Allah menyapa Khadijah dengan berkirim salam melalui Jibril dan Rasulullah saaw. Begitu mulya Sayyidah Khadijah ra. Dan Allah berkirim pesan bahwa Dia telah menyediakan rumah yang berhiaskan permata baginya di durga. (lebih…)

  • KEDAHSYATAN DOA

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu`min: 60)

    Berdoa merupakan suatu ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Nabi bersabda bahwa doa adalah inti ibadah. Doa merupakan ibadah yang dahsyat. Dalam segala ibadah yang Allah perintahkan, tentu ada hikmah dibaliknya yang begitu dahsyat. (lebih…)

  • KEDAHSYATAN DZIKRULLAH

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. Al-Anfal: 45)

    Sebagian orang kafir ada yang membiasakan dirinya untuk berkata, “Aku bisa!” sebanyak 100 kali di pagi hari dengan suara yang dapat ia dengar. Hal ini mereka lakukan untuk menseting otak bawah sadar mereka agar menjadi otak yang sukses. Mereka yakin bahwa kesuksesan itu berawal pada otak yang sukses. Dan mereka menjadikan rasa percaya diri sebagai sesuatu hal yang harus ada dalam otak mereka. Mereka berpijak pada rasa percaya diri. Banyak orang percaya akan hal ini. Bahkan kaum muslimin juga ikut-ikutan melakukannya, bahkan banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa rasa percaya diri adalah sesuatu yang diajarkan oleh agama. (lebih…)

  • ADA APA DENGAN AIR?

    Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah `Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”. (QS. Huud: 7)

    Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS. Al-Mu`minun: 18)

    Dalam Al-Qur`an, Allah menyebut kata “air” sebanyak 51 kali. Dan tidak satu ayat pun yang menyatakan bahwa Allah “menciptakan air”, justeru sebanyak 25 ayat menyebutkan bahwa Allah “menurunkan air dari langit”. Ini menunjukkan bahwa air itu tidak diciptakan di bumi. Bahkan ada 4 ayat yang secara tegas menjelaskan bahwa Allah “menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan bumi setelah bumi itu mati sebelumnya” dan beberapa ayat lainnya menyatakan bahwa Allah “menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghijaukan bumi dengan sebab air itu”. Hal ini menunjukkan bahwa dahulunya, bumi tidak mengandung air dan kehidupan. Tetapi kemudian Allah menurunkan air dari langit dan menghidupkan bumi.

    Saat ini kita telah mengenal suatu teori yang menyatakan bahwa bumi tidak mengandung air pada awalnya. Kemudian ada komet-komet yang mengandung es yang jatuh ke bumi. Komet-komet tersebut bergesekan dengan atmosfer dan menguap menjadi awan. Kemudian dari awan itu turunlah air hujan yang memiliki kemampuan “menghidupkan”. Hingga saat ini, air itu menetap di bumi. Prof. Higa telah meneliti mengenai Effective Micro-organism (EM), suatu mikro-organisme yang mampu “menghidupkan”. Selain air itu memiliki keberkahan, hado positif, energi positif, dan apa pun istilahnya, mungkin EM ini juga salah satu faktor yang menyuburkan atau menghidupkan bumi, yang mana EM ini juga terkandung dalam air yang Allah turunkan dari langit.

    Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan eksistensi Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (QS. An-Nahl: 65)

    Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Hajj: 63)

    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An-Nur: 45)

    Ayat di atas sama sekali tidak mendukung teori evolusi yang bersandar pada atheisme dan “peristiwa kebetulan”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala macam hewan dijadikan oleh Allah dari unsur air. Bahkan manusia, selain ia diciptakan dari air sperma, manusia juga Allah ciptakan dengan 2/3 tubuhnya adalah air. Kita tahu, Al-Qur`an menjelaskan bahwa unsur pembentuk tubuh Adam adalah tanah liat yang tentunya mengandung air, lumpur hitam seperti yang saat ini keluar di Sidoarjo yang juga mengandung air, dan tanah-tanah lainnya yang mengandung air dan mineral lainnya. Dari campuran-campuran tersebut, maka jadilah tubuh Adam yang 2/3-nya adalah air. Kemudian Allah tiupkan roh dari-Nya, maka hiduplah Adam.

    Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar. (QS. Ath-Thariq: 6)
    Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (QS. Al-Mursalat: 20)

    KEBERKAHAN AIR

    Dari Anas ra berkata: Kami bersama Rasulullah saaw terperangkap hujan. Tiba-tiba Rasulullah saaw melepas bajunya, sampai-sampai beliau basah terkena hujan. Lantas kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau berbuat begitu?” Rasulullah saaw menjawab, “Karena hujan ini baru saja datang dari Tuhannya.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

    Lihatlah bagaimana Rasulullah saaw memandang hujan itu sebagai sesuatu yang mengandung rahmat dan keberkahan dari Allah, sesuatu yang oleh Masaru Emoto dikenal sebagai hado positif. Hado positif ini, selain dapat mempengaruhi kesehatan fisik, juga dapat mempengaruhi kesehatan jiwa seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, dimana air hujan dapat mensucikan hati dan jiwa dari segala penyakit hati dan juga membersihkan diri dari kotoran syaithon.

    (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu kotoran-kotoran syaithan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (QS. Al-Anfal: 11)

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah: 6)

    Allah mengajarkan bagi kita yang berhadas agar bersuci dengan air sebelum mendirikan shalat. Karena orang yang berhadas itu sedang dalam keadaan dimana ia kekurangan hado positif. Dengan hado positif dari air wudhu, diharapkan bahwa kita bisa mendapatkan keni’matan ketika sholat berupa akses langsung kepada sumber energi alam semesta, yaitu Allah. Melalui sholat yang khusyu, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat. Satu lagi rahasia Ilahi telah terungkap. Maka bersyukurlah wahai Anda yang telah memeluk Islam, karena Anda telah berada di Jalan Lurus.

    Sumber:
    Al-Qur`an (2:22,74,164; 4:43; 5:6; 6:99; 7:57; 8:11; 11:7; 13:17; 14:32; 15:22; 16:10,65; 20:53; 21:30; 22:5,63; 23:18; 23:45; 25:48,54; 27:60; 28:23; 29:63; 30:24; 31:10; 30:8; 32:27; 35:27; 39:21; 41:39; 43:11; 47:15; 50:9; 54:12; 56:68,69; 77:20,27; 78:14; 80:25; 86:6)

    The Secret Life of Water, Masaru Emoto

  • MENGAJAK KEPADA TAUHID

    “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3) : 110)

    Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, dengan jiwa-raga kalian, dan dengan ucapan-ucapan kalian. [HR. Ahmad]
    Ayat di atas adalah salah satu ayat kitab suci Al-Qur’an yang paling sering dipakai untuk menerangkan beberapa hal. Saya telah mendengar lusinan ceramah yang membawakan setengah pertama dari ayat tersebut, berhenti pada kata “Allah” diikuti dengan penjelasan yang berbeda.

    Berdasarkan pengalaman, belum pernah saya mendengar sebuah penjelasan dari setengah berikutnya ayat ini, dan juga tidak seorang komentator Qur’an pun telah berkata sesuatu tentangnya. Setengah pertama dari ayat tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan atau memperingatkan penyimpangan sesuai dengan penyimpangan yang dilakukan. Mereka tampaknya terlalu puas hanya dengan setengah pertama ayat tersebut.

    Jawaban untuk pertanyaan, “Mengapa kita perlu ‘mengusik’ orang-orang Yahudi dan Kristen?” dapat ditemukan dalam setengah yang berikutnya dari kutipan Al-Qur’an di atas,

    “Sekiranya Ahli Kitab (maksudnya Yahudi dan Kristen) beriman (terhadap kitab suci Al-Qur’an) tentulah itu lebih baik bagi mereka (dengan kata lain, juga baik untuk kamu, umat Islam) di antara mereka (yaitu Yahudi dan Kristen) ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran (3): 110)

    Pada awalnya, dalam ayat yang memperkenalkan risalah ini, Allah menganugerahkan kepada umat kemuliaan, hak-hak istimewa dan status yang tinggi, menjadi “Orang-orang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia”. Kemuliaan dan status yang tinggi ini berarti membebankan kepada kita tugas dan tanggung jawab agar tidak mementingkan diri sendiri serta membagi status yang mulia ini dengan umat manusia lainnya.

    Ahli kitab -Yahudi dan Kristen- adalah sasaran pertama kita, karena mereka telah dipersiapkan untuk menerima pesan ini. Selain itu, banyak Nabi telah menyampaikan pesan ini kepada mereka. Mereka tidak mengingkari kitab suci yang dibawa oleh nabi-nabi tersebut dan membanggakan wahyu Taurat, Zabur dan Injil dari masing-masing Nabinya. Karena itu mereka adalah umat yang paling tepat dan paling siap menerima Islam. Mereka seharusnya yang paling utama menyampaikan keinginan mereka terhadap keinginan Allah dalam Islam -sebuah wahyu yang terakhir telah ada dan dikonfirmasikan kepada mereka: Tetapi mereka jugalah yang pertama menolaknya: mengapa menolak? Apa pertimbangan mereka?

    Namun demikian, tidak semua mereka telah sesat, Allah meyakinkan kita bahwa di antara kaum Yahudi dan Kristen terdapat sebagian yang beriman dengan tulus, “Tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

    Dan sebenarnya pada awal ayat telah dijelaskan bahwa ummat ini menjadi ummat terbaik hanya kalau mereka mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah. Apa yang lebih ma’ruf daripada mengajak kepada kalimat Tauhid? Apa yang lebih munkar daripada perkataan kekafiran dan kesyirikan? Bahkan segala kebaikan ini terdapat pada satu kalimat, yaitu Laa ilaaha illallaah. Tidak ada ilah haqiqi yang pantas disembah kecuali Allah.

    Sungguh, semua manusia akan binasa disebabkan kekafiran mereka, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, kemudian mereka beristiqomah di Jalan Lurus. Jalan Lurus adalah jalan yang ditapaki oleh para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, para shalihin (QS. An-Nisa: 69). Mereka itulah orang-orang yang mendapat keni’matan dari Allah (QS. Al-Fatihah: 7). Mereka itulah yang berada dalam bimbingan Tuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah: 1-5).

  • PERTUMBUHAN ISLAM

    “Dialah yang mengutus Rasul- Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan, cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28).

    Adalah janji Allah untuk memenangkan agama Islam atas seluruh agama. Dan janji itu telah menjadi nyata. Tujuan dari Islam disebutkan di dalam ayat ini. Islam adalah pemimpin, penguasa dan pengganti semua agama dan kepercayaan.

    Dalam bahasa Arab, kata Dien (secara harfiah berarti “Cara hidup”) untuk menggantikan semua agama, yaitu Hindu, Buddha, Kristen, Yahudi, Komunis dan isme-isme (paham-paham) lainnya. Inilah tujuan dari ‘Dien Allah’.

    Ayat yang sama juga diulang pada Surat Ash-Shaff ayat 9 dengan tambahan dibelakangnya: “… meskipun orang-orang musyrik benci. ”

    Kejayaan Islam

    Islam akan menang. Ini adalah janji Allah dan janji-Nya selalu benar. Tetapi bagaimana? Dengan pedang? Tidak, bahkan apabila kita mempunyai senjata laser! Bisakah kita menggunakannya? Dalam Al-Qur’ an disebutkan bahwa kita dilarang menggunakan kekerasan dalam mengajak orang lain untuk masuk Islam. Namun ayat-ayat Kitab Suci meramalkan bahwa Islam akan menjadi ajaran yang paling dominan dari semua agama.

    Kejayaan dari ajaran Islam ini sudah dimulai dan diperoleh dengan mengajarkan ideologi melalui sekolah-sekolah agama di seluruh dunia. Meskipun tidak dengan nama Islam, tetapi atas nama reformasi dan amandemen, Islam tetap bercabang menjadi berbagai aliran. Banyak hal-hal yang bersifat Islami tetapi bentuknya tidak diketahui atau sesuatu yang dulunya dilarang bahkan meskipun hanya diucapkan, kini mulai timbul di berbagai tempat.

    Perbankan syari’ah telah terbukti dapat menghadapi krisis moneter dengan mudahnya. Maka muncullah bank-bank syari’ah di Indonesia. Apakah ummat Islam yang memaksa bank konvensional untuk membuka bank syari’ah? Tidak, melainkan akal sehat merekalah yang memutuskan untuk mengikuti syariat Islam. Mereka telah melihat keunggulan system Islam dibandingkan system liberal, system kapital, system komunis. Adakah Injil mengajarkan suatu system perbankan yang dapat mengungguli system perbankan Islam?

    Penyebaran Islam di Tanah Air

    Adakah Islam masuk ke Indonesia dengan kekerasan? Tidak. Justeru Kristen itulah yang masuk ke Indonesia bersama para penjajah. Dan Nabi Muhammad tidak menyebarkan Islam melalui kekerasan. Bagaimana beliau bisa menyebarkan Islam dengan pedang? Sedangkan beliau dan pengikutnya adalah kaum minoritas yang tertindas di Makkah.

    “Beliau memilih untuk hijrah daripada harus berperang melawan rakyatnya sendiri; tetapi ketika penindasan mereka sudah di luar batas toleransi barulah beliau mengangkat pedang untuk membela diri. Mereka yang percaya bahwa suatu agama bisa disebarkan dengan kekerasan adalah orang yang bodoh yang tidak tahu jalannya suatu agama ataupun jalannya dunia. Mereka bangga dengan kepercayaannya karena mereka berada di suatu jalan, jalan yang jauh dari kebenaran” (Seorang jurnalis Sikh dalam Nawan Hindustan, New Delhi, 17 November 1947).

    Begitu juga penyebaran Islam di Indonesia saat ini. Kita dapat mendengar bahwa ada begitu banyak Pendeta dan biarawati yang masuk Islam dan kemudian menyebarkan Islam kepada jemaat Kristen dan berhasil. Padahal jemaat yang di Islamkan itu adalah kaum itelektual, rajin ke Gereja dan tidak miskin. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang haq (benar) dan dapat diterima oleh jiwa yang bersih yang rindu kepada kebenaran. Tetapi kita belum pernah mendengar bahwa ada seorang ustadz sholih lagi alim yang masuk Kristen kemudian menyebarkan Kristen tanpa iming-iming harta dunia dan berhasil. Tidak. Justeru yang sering terjadi adalah begitu banyak kaum pendosa yang lemah imannya, mereka masuk Kristen hanya karena iming-iming harta dunia semata. Ini menunjukkan bahwa Kristen hanya bisa diterima oleh orang-orang yang lemah jiwanya dan mudah menjual jiwanya kepada kesesatan.

    Manusia Pilihan Tuhan

    “Jika kebesaran tujuan, keterbatasan peralatan dan hasil-hasil yang mencengangkan adalah tiga kriteria kebesaran manusia, siapa yang bisa mempertaruhkannya di jaman modern ini dengan sejarah Muhammad? (Lamartine mengakhiri buku karyanya yang panjang ini dengan kata–kata): …. Ahli filsafat, ahli pidato, rasul, pemimpin negara, pejuang, pencetus ide-ide, penemu keyakinan yang rasional, penemu 20 kekaisaran di bumi dan menjadikannya menjadi satu kekaisaran spiritual, dia adalah Muhammad. Berdasarkan semua standar kebesaran dan kejayaan yang bisa diukur, kita bisa bertanya, apakah ada orang lain yang lebih besar dari beliau?” {Lamartine dalam Historie de la Turquie (Sejarah Turki), Paris 1854}.

    Lamartine rupanya sedang berkata, “Tidak ada orang lain yang lebih besar dari Muhammad (saaw).”

    Islam di Dunia Internasional

    “Di dunia ini, ada lebih banyak yang mengaku sebagai Kristen daripada mengaku Muslim, tetapi lebih banyak yang berlaku sebagai Muslim daripada berlaku sebagai Kristen. ” {R.VC. Bodley (orang Amerika) dalam The Messenger: The life of Muhammad (Rasul: Kehidupan Muhammad), USA, 1969}.

    Saya mengerti bahwa Mr. Bodley mencoba mengatakan pada kita bahwa di dunia ini ada orang-orang yang ketika diadakan sensus, mereka mengaku bahwa agama mereka adalah Kristen. Ini tidak berarti mereka menganut kepercayaan Kristen. Walau berasal dari Kristen, mereka tidak mau mengaku dirinya Kristen. Dari segi pandang bahwa seseorang yang melaksanakan apa yang mereka percayai, maka lebih banyak Islam di dunia ini dibandingkan Kristen.

    Berdasarkan urutan waktu, Islam berada 600 tahun di belakang Kristen, tetapi secara mengagumkan, Islam berkembang dengan cepat. “Satu Milyard”. Ini gambaran tentang keunggulan dan kesungguhan penganut Islam.

    (Ahmed Deedat dalam The Choice)

  • INSYA ALLAH

    INSYA ALLAH secara harfiah berarti jika Allah Menghendaki. Ketika manusia berjanji, maka ada dua bagian dalam pemenuhan janji itu, 90% kehendak manusia itu dan 10% kehendak Allah. Mengapa manusia hanya memiliki 90%, bukannya 100%? Karena kehendak manusia belum tentu terjadi, sedangkan kehendak Allah pasti terjadi. Lalu mengapa dikatakan bahwa kehendak manusia itu 90%, yang berarti lebih besar porsinya daripada porsi Allah? Karena untuk membayar janjinya, manusia harus bersungguh-sungguh untuk menunaikannya, tidak boleh ia asal berjanji tetapi padahal ia tidak benar-benar berkehendak untuk memenuhinya.

    Namun berbeda jika Allah yang berjanji. Ketika Allah berjanji, maka hanya ada satu bagian (100%) dalam pemenuhan janji itu, yaitu 100% kehendak Allah. Maka jika Dia berkata, “Aku akan memasukkan hamba-Ku yang bertaqwa ke dalam Jannah, dengan kehendak-Ku.” Maka ini adalah janji yang 100% pasti dipenuhi. Karena jika Allah telah berkehendak, maka kehendak siapa pula yang dapat menghalangi-Nya? Tidak ada seorang pun yang punya bagian, walau hanya 1%, dalam pemenuhan janji Allah ketika Dia berjanji. Jika ada, maka si pemilik bagian 1% itulah yang kemudian menentukan apakah ia berkehendak ataukah tidak. Dan itu berarti bahwa Allah bergantung pada kehendak sesuatu yang lain. Akan tetapi tidak demikian. Tidak ada seorang pun yang punya bagian, walau hanya 1%, dalam pemenuhan janji Allah ketika Dia berjanji.

    Lalu bagaimana dengan manusia yang berjanji tanpa berkata, “Insya Allah.”? Manusia itu adalah manusia yang lalai atau mungkin sombong. Dia lalai bahwa kehendak manusia itu belum tentu terjadi, sedangkan kehendak Allah itu pasti terjadi. Dia sombong apabila dia meyakini bahwa kehendaknya pasti terjadi dan tidak ada yang bisa menghalangi terwujudnya kehendaknya, bahkan Tuhan pun tidak.

    Yasin: 82.

    Yesus menyadari hal ini, bahwa kehendaknya belum tentu terjadi, tetapi kehendak Tuhan pasti terjadi. Dan ini menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang kehendaknya pasti terjadi. Yesus hanyalah manusia yang kehendaknya itu tergantung pada kehendak Tuhan.

  • SEL YANG PATUH

    Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? [QS. Adz-Dzariyat: 20-21]  Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi ini berthawaf mengelilingi pusat tata surya, yaitu matahari. Dan matahari berthawaf mengelilingi pusat galaksi di Bima Sakti. Begitu pula setiap neutron dan proton dari setiap zat. Begitu juga sel-sel pada setiap makhluq hidup, termasuk sel-sel pada tubuh kita, mereka beribadah kepada Pencipta mereka dengan cara yang telah Allah tentukan bagi mereka.

    Tentu saja, keteraturan dan keberlangsungan hidup sel-sel itu juga dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan kita. Dengan beribadah kepada Allah, maka sel-sel itu akan mendapatkan energi positif untuk tetap hidup dan teratur. Namun perbuatan ma`siat akan dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel kita sesuai dengan sistem yang telah Allah ciptakan pada alam semesta, yang kita sebut dengan Sunnatullah. Semakin sering kita berbuat ma`siat, semakin banyak kerusakan pada sel-sel di tubuh kita. Hingga akhirnya menimbulkan penyakit yang sulit disembuhkan. Sungguh, pada tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. Jika ia baik, maka baiklah jasad seluruhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Itulah qolbu. Qolbu manusia itu seperti cermin. Jika ia sering dibersihkan, maka ia akan cemerlang. Jika jarang dibersihkan, maka ia akan berkarat, hingga akhirnya rusak dan tak berguna. Dosa itulah yang akan menjadi titik hitam pada hati. Setiap berbuat dosa, maka timbullah titik hitam pada hati. Semakin sering berbuat dosa, dan tidak dibersihkan, maka hati akan tertutup oleh noda hitam yang pekat.

    Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menjadi karat yang menutupi hati mereka. [QS. Al-Muthaffifin: 14]

    Namun demikian, tidak semua penyakit itu disebabkan oleh ma`siat. Ada juga penyakit yang ditimbulkan oleh rusaknya sel-sel yang melakukan bunuh diri atas perintah Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya yang Dia sayangi. Sebagaimana telah diberitakan oleh Nabi Muhammad saaw bahwa manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian para syuhada, dst. Perintah bunuh diri ini juga telah Allah perintahkan pada sebagian sel ketika kita masih dikandung oleh ibu kita. Dengan bunuh dirinya sel-sel itu dan kemudian mereka memisahkan dirinya, maka terbentuklah tubuh kita dengan sempurna. Contohnya, sel-sel yang terdapat antara jari-jari kita dahulu ketika dalam kandungan. Dengan membunuh dirinya dan memisahkan diri, terbentuklah jari-jari kita dengan sempurna. Maka tidaklah mengherankan jika Allah juga memerintahkan sel-sel kita untuk bunuh diri ketika kita telah lahir di dunia ini.

    Bunuh dirinya sel-sel itu juga merupakan bentuk kasih-sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang berdosa. Dengan demikian, maka hamba tersebut akan berguguran dosanya disebabkan rasa sakit yang dideritanya. Dan juga dapat menyebabkan keinsyafan pada hamba tersebut.

    Dari Abu Said Al-Khudry ra katanya: Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Setiap musibah yang di timpa ke atas orang-orang mu`min berupa sakit yang berterusan, sakit yang biasa dan kesedihan, maka hal yang demikian merupakan penghapus bagi kesalahan-kesalahannya.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad]

    Dari Aisyah ra katanya: Rasulullah saw bersabda: “Setiap muslim yang tersusuk duri atau lebih dari itu misalnya, maka karenanya dicatatkan satu derajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan.” [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad, Malik]

    Dari Abdullah bin Mas’ud ra katanya: Aku menemui Rasulullah saw ketika baginda dalam keadaan tidak sehat. Aku menggosok baginda dengan tanganku. Aku katakan kepada baginda: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar tidak sehat. Rasulullah saw bersabda: “Memanglah, apa yang aku alami sekarang ini adalah sama seperti yang di alami oleh dua orang di antara kamu.” Aku berkata: Kalau begitu engkau beroleh dua pahala sekaligus. Rasulullah saw bersabda: “Benar.” Kemudian Rasulullah saw bersabda lagi: “Setiap muslim yang ditimpa musibah atau sakit dan sebagainya, maka Allah akan mengampunkan kesalahan-kesalahan dari sakitnya, sebagaimana daun yang gugur dari pohonnya.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Ad-Darimi]

    Bahkan para ulama kita dulu malah bertanya-tanya memeriksa dirinya apabila dia tidak ditimpa suatu kesulitan selama empat puluh hari berturut-turut. Mereka khawatir kalau-kalau Allah sudah tidak lagi peduli dengan keadaan dan perbuatan mereka.

    Sungguh berbeda dengan kita yang begitu gembira jika terus-menerus berada dalam kesenangan yang melalaikan, dan mengeluh ketika datang suatu musibah. Jarang kita insyaf akan kesalahan-kesalahan kita ketika musibah melanda. Jarang kita berfikir bahwa sakit yang kita alami sebenarnya adalah teguran dari Allah. Maka ketahuilah, bahwa sakit itu bisa disebabkan oleh adanya sel-sel kita yang rusak akibat kema`siatan kita. Wallahu a’lam.