Kategori: Mari Raih Kesuksesan

  • JIHAD HARTA

    Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.  (Q.S. An-Nisaa`: 95)

    Pada saat ini keadaan ummat Islam sangatlah memprihatinkan. Secara fisik, mereka ada yang ditindas oleh Israel dan Amerika. Secara moral mereka dihajar oleh narkoba, tontonan seronok, trend pakaian yang menampakkan aurat, dll.

    Israel dan Amerika mampu berbuat biadab terhadap muslim disebabkan dana yang kuat. Dana itu didapat dari penjualan produk-produk mereka. Pengusaha-pengusaha mereka memiliki andil besar dalam tindakan-tindakan biadab tersebut. Ternyata para pengusaha itu memberi sumbangan dana yang besar kepada pemerintahan Israel dan Amerika guna mendukung kegiatan penyerangan ke negeri-negeri muslim.

    Jika Anda melihat banyak remaja putri saat ini yang memperlihatkan aurat mereka; maka salah satu penyebab fenomena ini adalah televisi. Tontonan tv pada saat ini banyak yang destruktif, merusak moral pemuda bangsa. Padahal generasi muda adalah gambaran masa depan bangsa. Kita harus bertanggung-jawab atas rusaknya moral bangsa.

    Televisi dapat menayangkan tontonan destruktif disebabkan mereka memiliki dana dari para pengusaha yang memasang iklan di stasiun tv mereka. Anda tahu dari mana biaya iklan itu berasal? Ya! Dari para konsumen yang membeli produk tersebut. Sekitar 20% dari uang yang didapat produsen tersebut digunakan untuk biaya iklan.

    Sekarang coba bayangkan jika Anda ditawari barang oleh tetangga Anda yang berkata, “Pak, tolong beli barang ini. Saya sedang butuh uang untuk membeli VCD phorno.” Anda mungkin membutuhkan barang tersebut. Tetapi Anda tentu tidak akan membeli barang tersebut. Sebab Anda tahu akan diapakan uang hasil jual-beli tersebut. Artinya jika Anda tidak mau Amerika dan Israel menyerang negeri-negeri muslim; jika Anda tidak mau generasi ini dirusak tontonan seronok; maka semestinya Anda mau memboikot produk-produk tersebut. Bukan berarti Anda berhenti menggunakan produk sejenis. Tetapi cukuplah Anda ‘hijrah produk’ dari produk tersebut kepada produk muslim yang tidak diiklankan di tv. Dengan melakukan hal ini dapatlah Anda dikatakan berjihad dan berhijrah. Maka marilah kita berjihad dan berhijrah sambil terus meluruskan hati kita kepada Allah.

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 218)

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At Tahrim:6)

    Survey di Cianjur menyatakan bahwa 60% remaja di sana telah berhubungan seks diluar nikah. Ini adalah salah satu akibat dari ummat Islam yang tidak lagi mengindahkan jihad, amar ma’ruf nahi munkar. Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar malah dimusuhi dan dianggap radikal atau pun anarkis. Hal seperti ini tidak hanya diketemukan di Cianjur. Bangsa Indonesia memang sedang berjalan mengikuti jejak kaum terdahulu, kecuali jika kita mau berjihad.

    Abu Sa’id berkata bahwa Muhammad Rasulullah saaw bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya (kuasanya). Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmdzi, Nasa`I, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

    Abu Sa’id al-Khudry ra telah meriwayatkan bahwa Rasulullah saaw bersabda, “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka.” Lalu para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?” Baginda bersabda, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

  • EVALUASI DIRI

    Sebagai muslim kita harus melakukan muhasabah (evaluasi diri) sebagaimana diajarkan Sayyidina Umar bin Khaththab, “Hisablah diri kamu, sebelum kamu dihisab.” Jika kita telah selesai melakukan sesuatu, cobalah periksa diri kita, apakah niatnya sudah benar? Apakah caranya sudah benar dan efektif?

    Dengan bermuhasabah, kita akan segera mengetahui kesalahan kita, dan dapat segera mengoreksinya.

    Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135)

    Jika kita mengalami kegagalan, ambillah hikmahnya. Terkadang Allah memberi kita kegagalan disebabkan hati kita masih kotor. Terkadang kesuksesan lahiriah dapat memperbesar kekotoran itu. Allah tidak ingin kita sukses di dunia, tetapi gagal di akhirat. Allah ingin kita sukses hari ini dan sukses di kemudian hari –di dunia maupun di akhirat. Sebab kesuksesan itu bertingkat-tingkat. Semakin tinggi kesuksesan, semakin berat pula tantangan. Dengan mental yang siap, kita akan dapat sukses dengan langgeng. Bukan kesuksesan sesaat. Oleh sebab itu, kita perlu digembleng dahulu. Kita perlu membersihkan diri kita dari syirik, sombong, dsb. Kita perlu memperbaiki ikhtiar dan memperluas ilmu kita. Mari kita bersihkan kaca jendela rumah kita, agar sewaktu mentari bersinar, cahayanya dapat masuk ke dalam rumah kita dengan terang-benderang.

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

    Beberapa hal yang perlu kita evaluasi::

    1.        Kuantitas/jumlah amal shalih/langkah nyata.

    2.        Kualitas/mutu amal shalih.

    3.        Biaya yang dikeluarkan untuk amal shalih.

    4.        Waktu yang digunakan untuk amal shalih.


    Sudah berapa banyak langkah nyata yang kita perbuat untuk menggapai kesuksesan dunia/akhirat? Sudah baguskah langkah nyata kita tersebut, atau justeru hanya sekedarnya saja? Sudah berapa banyak biaya yang kita keluarkan? Apakah lebih banyak untuk hal yang produktif dan manfaat, atau justeru lebih banyak untuk konsumtif dan sia-sia belaka? Berapa banyak waktu dan kesempatan yang kita manfaatkan, dan berapa banyak waktu yang telah kita sia-siakan? Jika keempat hal ini sudah cukup proporsional, maka rencana kerja sudah bisa dikatakan terlaksana dengan baik. Bagaimanapun juga memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tetapi kita memang harus tetap terus meningkatkan kualitas amal kita. Di bawah ini ada tiga point yang perlu kita perhatikan.


    IKHTIAR DAN ILMU

    Kesuksesan kita tertunda mungkin disebabkan ikhtiar yang kita lakukan tidak/kurang cocok dengan situasi yang ada. Untuk itu kita perlu melakukan trobosan-trobosan, kita perlu melakukan inovasi. Untuk dapat melahirkan inovasi kita perlu memperkaya khazanah keilmuwan kita. Dengan ilmu yang cukup, kita akan siap menggapai sukses dan mempertahankannya; bahkan meningkatkannya.

     

    Allah menangguhkan kesuksesan kita bukan disebabkan Allah tidak sayang kepada kita. Justeru sebaliknya Allah sangat sayang kepada kita, itulah sebabnya Allah menangguhkan kesuksesan kita. Sebab Allah yang lebih mengetahui tentang kesiapan kita dalam menghadapi kesuksesan, mempertahankan dan mengisinya. Mempertahankan dan mengisi kesuksesan dengan hal-hal positif itu lebih berat ketimbang menggapai target yang kita rencanakan. Untuk sukses dan mempertahankannya kita perlu kesiapan, baik mental, ilmu, tenaga dan waktu. Jangan pernah berhenti untuk menuntut ilmu, teruslah berikhtiar dengan profesional. Apa pun yang Allah lakukan terhadap kita, yaqinlah bahwa itu adalah pelatihan untuk kita agar kita benar-benar siap untuk sukses.

     

    Jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah. Sebab Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dia Menciptakan kita untuk menyembahNya. Dia pula yang mengatur rizqi kita. Dia tidak akan berbuat zhalim kepada makhluqNya. Bahkan Allah memperhatikan rizqi para bakteri. Allah pula yang memberi rizqi kepada paus yang paling besar sekalipun.

     

     

    DZIKIR DAN DOA

     

    Penangguhan kesuksesan mungkin juga adalah undangan dari Allah untuk kita, agar kita mau datang ke istanaNya. Maka penuhilah undangan Allah yang sangat berharga itu dengan senang hati. Dekatkan diri kita kepadaNya dengan memperbaiki ibadah kita. Tingkatkan kualitas/kuantitas ibadah kita. Perbaiki dzikir dan do’a kita. Sehingga bathin kita menjadi bening dan tenang. Kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati. Dengan hati yang kaya, kita akan dapat mensyukuri setiap perbuatan Allah terhadap kita, sehingga kita dapat menyauk hikmah dari setiap peristiwa dengan lebih arif dan tenang. Harta, pangkat dan jabatan yang tidak diiringi dengan kekayaan hati, tidak akan membuat kita menjadi bahagia. Maka penuhilah undangan Allah, dekatkan diri kita kepadaNya, sehingga kesuksesan yang kita gapai akan lebih bermakna dan membawa kita kepada kesuksesan sejati.

     

    Allah menangguhkan kesuksesan kita –padahal kita sudah bersungguh-sungguh dalam berdo’a– mungkin juga disebabkan Allah senang dengan perbuatan kita itu. Allah tidak segera memberikan apa yang kita inginkan mungkin juga disebabkan Allah masih ingin kita mendekatiNya melalui do’a, dan Allah senang dengan kedekatan kita itu. Allah Mahatahu. Mungkin jika kita cepat-cepat diberikan apa yang kita minta, bisa jadi kita malah menjadi jauh dari Allah, ikhtiar jadi kendur, ibadah jadi jarang. Allah Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dia ingin kita selalu dekat denganNya. Dengan dekat kepada Allah itulah hati kita akan menjadi tenang. Allah tidak ingin kita sukses di dunia tetapi hancur binasa di akhirat. Allah memang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Tetapi hamba jarang memahami keinginan Allah yang sebenarnya baik untuk hamba itu sendiri.

     

    Orang-orang yang beruntung itu adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling menasehati di dalam kebenaran dan keshabaran. Dan keadaannya setiap hari semakin membaik. Adapun orang yang merugi adalah keadaannya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Sedangkan orang yang hancur binasa adalah orang yang keadaannya hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin.

     

    Persiapkanlah diri kita untuk menyambut sukses, sebab kesuksesan itu sudah dekat. Beningkan hati kita, sebab kebeningan hati adalah kesuksesan yang lebih utama daripada kesuksesan lahiriah. Teruslah memperbaiki diri dan ikhtiar. Jangan bosan untuk berdo’a. Sesungguhnya Allah dan RasulNya melihat apa yang kita kerjakan. Andalkan Allah, sebab kesuksesan itu berada di GenggamanNya. Allah yang memberi tanpa diminta, tidak akan mengecewakan orang-orang yang meminta kepadaNya. PintuNya selalu terbuka sebelum kita mengetuknya. Hanya Allah yang dapat memenuhi keinginan kita. Selain Allah, tidak ada yang dapat diandalkan. Maka mintalah AmpunanNya bagi dosa kita dan dosa kedua orangtua kita, serta dosa orang-orang mu`min dan mu`minat (Muhammad: 19). Dan serahkan segala urusan hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamelihat terhadap hamba-hambaNya (Al-Mu`min: 44). Mendekatlah kepadaNya, Dia mengundang kita dengan Kasih-SayangNya. Wallahu a’lam.

    PEDULI DAN BERTANGGUNG-JAWAB

    Salah satu ciri orang sukses adalah memiliki rasa kepedulian dan tanggung-jawab yang tinggi. Jika Anda bertubuh besar dan kuat sedang berjalan dengan teman Anda yang bertubuh kurus dan lemah. Di jalan Anda berdua bertemu dengan seorang kuli yang sedang membawa barang dengan menggunakan gerobak. Di saat ia berjalan di jalan yang cukup menanjak, Anda melihat kuli itu cukup kesulitan untuk menarik gerobaknya. Siapakah yang seharusnya membantu kuli tersebut, Anda atau teman Anda?

    Jika Anda adalah orang yang cukup memiliki ilmu agama. Anda tinggal di lingkungan yang kurang memahami aturan agama. Siapakah yang bertanggung-jawab untuk membimbing mereka?

    Jika Anda adalah orang yang cukup kuat di bidang ekonomi. Sedangkan para tetangga Anda adalah orang-orang yang lemah ekonomi. Siapakah yang bertanggung-jawab untuk membantu meningkatkan derajat ekonomi mereka?

    Sudahkah Anda memiliki rasa kepedulian dan tanggung-jawab yang tinggi? Pupuklah terus! Pada setiap anugerah dan keni’matan itu terdapat tanggung jawab. Gunakanlah karunia Allah berupa kekuatan di segala bidang untuk mema’murkan bumi ini.

     

  • BERSABAR

    BERSABAR DALAM MENGERJAKAN KETHA’ATAN

    Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Anfal: 46)

    Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. (Q.S. Al-Balad: 11-18)

    BERSABAR DALAM MUSIBAH, BERDA’AWAH, DAN BERJIHAD

    Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Q.S. Luqman: 17)

    Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. An-Nahl: 127)

    Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). (QS. Shaad: 17)

    Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (QS. Al-Ahqaf: 35)

    Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

    BERSHABAR DALAM MENGHADAPI MARAH

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kekuatan itu tidak dibuktikan dengan kemenangan bertumbuk. Tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengawal dirinya ketika sedang marah. (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Malik)

    Shabar merupakan bentuk ibadah hati. Pada shabar terdapat penerimaan akan ketentuan Allah. Dengan shabar, segala cobaan akan menjadi ringan. Sesungguhnya cobaan itu pasti berlalu, baik kita bershabar atau pun tidak. Tetapi jika kita bershabar maka itu adalah baik untuk kita. Jika kita menghadapinya dengan marah, maka itu dapat berakibat buruk dan mendatangkan masalah baru. Orang yang marah mungkin dapat menahan dirinya dan mungkin juga tidak. Orang yang tidak dapat menahan dirinya di saat marah mungkin menggunakan lisannya, mungkin menggunakan tangannya. Orang yang menggunakan tangannya saat marah mungkin hanya sekedar menyakiti, mungkin juga membunuh. Maka janganlah kita menyengaja memancing kemarahan orang. Sebab yang demikian adalah sangat berbahaya.

    Abu Thurab pernah berkata, “Wahai manusia, kalian mencintai tiga perkara, sedangkan tiga perkara itu bukan milik kalian. Kalian mencintai jiwa, padahal jiwa milik hawa nafsunya. Kalian mencintai ruh, padahal ruh itu milik Allah. Kalian mencintai harta, padahal harta itu milik ahli waris. Ketahuilah bahwa kalian mencari dan membutuhkan dua perkara, sedangkan dua perkara itu tidaklah kalian temukan di dunia ini, melainkan kalian temukan di akhirat; yaitu kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat abadi.”

  • BERPESAN DALAM KEBENARAN

    Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Ali Imran 110)

    Ummat Islam pada masa Rasul adalah ummat terbaik, disebabkan mereka mengajak kepada fitrah dan mencegah dari kekotoran fitrah. Merekalah sebaik-baik manusia sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Tidak ada orang yang lebih bermanfaat daripada orang yang mengajak kepada iman dan Islam serta mencegah dari kekafiran dan kesyirikan.

    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Q.S. Ali Imran: 64)

    Ummat Islam pada saat itu juga siap untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka bila diperlukan. Sebab berjihad adalah bagian dari usaha mencegah kemungkaran (kekafiran dan kesyirikan). Rasulullah SAAW pernah bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya (kuasanya). Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”

    Jihad adalah salah satu sifat orang yang mencintai dan dicintai Allah. Dalam berjihad, kita tidak boleh terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela. Walaupun orang-orang kafir dan musyrik tidak senang dengan amar ma’ruf nahi munkar yang kita lakukan dan menyebut kita sebagai teroris, fundamentalis, kelompok radikal, dsb; kita harus tetap melakukan hal ini demi kebaikan ummat manusia.

    Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Maaidah:54)

    Berpesan dalam kebenaran adalah untuk mengagungkan Allah, memberi peringatan dan membersihkan jiwa dari kesyirikan dan kekafiran.

    Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Q.S. Al-Muddatstsir: 1-6)

     

  • BERHARAP KEPADA ALLAH

    Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Maa`idah: 84)

     

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS. Al-Hijr: 56)

     

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

     

    (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az Zumar: 9)

     

    Berharap kepada Allah timbul disebabkan adanya keyaqinan akan Kasih-Sayang Allah dan PertolonganNya. Untuk memohon kepada Allah kita dapat melakukannya dengan berdo’a, bershabar, shalat, dan beramal shalih. Maka janganlah kita menyembah usaha kita yang sebenarnya hanyalah sarana untuk memohon kepada Allah. Tetapi sembahlah Allah yang telah menciptakan usaha kita sebagai pertolongan dariNya. Sesungguhnya Allah, apabila ingin menunjukkan karuniaNya kepada kita, maka Dia menciptakan amal itu seraya menanamkan (menasabkan) amal itu kepada kita.

     

     

    PANTANG MENGELUH ATAU MENYERAH

     

    Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran: 146-147)

     

    Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa`: 104)

     

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Anfal: 45)

     

    Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. (Q.S. Muhammad: 35)

     

    Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Jika kamu bershabar, tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapat pahala. Dan jika kamu mengeluh, juga tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapatkan dosa.”

     

    Musuh manusia yang nyata adalah syaithan. Maka janganlah berputus asa dalam memerangi kehendak syaithoniyah. Dan jangan pula berputus asa dalam menghadapi da’wah para pengikut syaithan. Sungguh, argumentasi para pengikut syaithan itu sangatlah lemah dan mudah dipatahkan. Kami telah sering mengikuti diskusi dengan para pengikut syaithan, dan alasan-alasan mereka lebih didasarkan kepada hawa nafsu, dan bukannya didasarkan kepada aqal sehat. Terkadang mereka akan tetap menyangkal Anda walau pun Anda telah mengemukakan dalil berdasar Kitab Suci mereka dan berdasarkan penafsiran yang benar, bukan berdasarkan penafsiran yang semaunya dan sepotong-sepotong yang sering menimbulkan kontradiksi. Begitulah mereka, mereka menafsirkan Kitab Suci semau hawa nafsu mereka saja. Sehingga sering menimbulkan kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci tersebut. Seandainya mereka mau berfikir secara menyeluruh, dan bukannya secara separuh-separuh (parsial), mungkin mereka akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Namun demikian, jangan berputus asa dalam menunjukkan mereka kepada kebenaran sejati. Karena mereka berhak untuk mendapatkan pengajaran dari kita tentang kebenaran sejati.

  • SEGERAKANLAH

    Manusia sering menunda untuk berbuat kebajikan. Terkadang dengan alasan waktu yang sempit, terkadang dengan alasan harta yang sedikit, atau lucunya lagi dengan alasan hati yang masih kotor. Itu semua hanyalah alasan yang dihembuskan oleh syaithan untuk menipu daya manusia agar semakin jauh dari Allah.

    Kesibukan, kemiskinan, kekotoran hati bukanlah alasan untuk meninggalkan atau ‘menunda’ kebaikan. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan sibuk berarti ia telah memupuk kemalasan. Sehingga sewaktu datang masa luang ia pun tidak mau berbuat baik, sebab kemalasan telah tumbuh subur di dalam hatinya. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan kemiskinan, berarti telah memupuk kebakhilan. Sehingga sewaktu datang harta yang berlimpah ia pun enggan bersedekah, sebab kebakhilan terlanjur tumbuh subur di dalam hatinya. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan hatinya yang kotor, berarti telah menambahkan kekotoran hatinya. Sehingga ia semakin jauh dari Allah, dan kejahatan menjadi bagian utama dari hidupnya.

    Oleh sebab itu, pupuklah kesemangatan, kedermawanan, dan keimanan kita mulai dari sekarang juga. Mulailah kerjakan segala yang wajib (terutama sholat lima waktu dan zakat). Jika yang wajib telah dikerjakan, silahkan ditambah dengan yang sunnah. Semoga kebahagiaan lahir bathin akan menyelimuti Anda di dunia, juga di akhirat kelak.

    Suatu hari Rasulullah SAW memegang pundak Ibnu Umar kemudian bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang lewat di jalan.” Demikianlah pesan Rasulullah terhadap ibnu Umar, juga kepada kita ummatnya. Hidup di dunia hanyalah sebentar. Jika 1000 tahun di dunia =1 hari di akhirat, berarti 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit di akhirat. Maka jika kita berada di pagi hari janganlah kita menunggu datangnya sore untuk berbuat kebajikan. Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara. Gunakan kesehatan sebelum datang sakit, masa muda sebelum datang masa tua, kaya sebelum miskin, masa luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum datang ajal.

    Dari Jabir bin Abdillah ra. Berkata: berkhuthbah Rasulullah SAW, “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah sebelum kamu disibukkan oleh pekerjaan. Dan sambunglah dirimu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak dzikir, perbanyaklah shodaqoh dengan secara rahasia dan terang-terangan, niscaya kamu akan diberi rizqi, ditolong dan diberi ganjaran yang baik.” (Al Hadits)

    Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan (kebahagiaan) baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu`min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (Q.S. Al-Isra`: 18-19)

    Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akan akibat perbuatan itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yaqin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahannam. Dan sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (mata kepala sendiri) kemudian kamu pasti ditanya pada hari itu tentang keni;matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Q.S. At Takatsur)

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah berkata, “Penundaanmu akan semua amal (kebaikan) karena menunggu adanya waktu luang itu termasuk sangat bodohnya jiwa. Tidaklah ada satu jiwa (nafsu) yang kamu tampakkan, melainkan bagi setiap jiwa itu ada ketentuan Allah yang akan melestarikannya padamu. Jangan menunggu hilangnya penghalang untuk melaksanakan perjalananmu menuju Allah Yang Maha Tinggi. Sesungguhnya yang demikian itu akan memutuskan kamu dari kewajibanmu menuju Allah di dalam segala yang Allah tempatkan kamu di dalamnya.”

    Sudah sifat dunia ini penuh ujian dan cobaan. Kekayaan dan kemiskinan adalah cobaan, kelapangan dan kesibukan adalah cobaan, kecerdasan dan kebodohan adalah ujian. Maka janganlah menunggu hilangnya ujian, sebab ujian tidak akan pernah hilang dari manusia yang hidup di dunia ini.

    Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan. (Q.S. Al-Anbiya`: 35)

  • KEYAQINAN UNTUK SUKSES

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,… Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 2,5)

    Tidak ada kesuksesan bagi orang yang ragu. Untuk itu, kita harus mencari tahu tentang apa yang akan kita perbuat, sehingga kita yaqin bahwa perbuatan kita itu adalah diridhoi Allah. Jangan sampai amal kita tertolak disebabkan tidak adanya ilmu pada kita tentang amal tersebut. Beberapa hal yang perlu kita cari ilmunya dan kita yaqini adalah:

     

    TUJUAN DAN DAMPAK

    Kita harus luruskan tujuan dari amal kita. Kita juga harus tahu dan yaqin dengan hasil atau dampaknya. Kita harus yaqin bahwa amal kita itu diridhoi Allah. Jika kita tidak yaqin, lebih baik kita tinggalkan. Tetapi jika ketidak-yaqinan kita timbul disebabkan ragunya kita dengan keikhlashan hati kita, maka jangan langsung meninggalkannya. Melainkan kita teruskan, baik secara bertahap ataupun tetap total seperti biasa, sambil memperbaiki dan meluruskan niat kita.

    Kita harus memiliki visi, cita-cita, dan orientasi yang mulia. Kita harus yaqin akan adanya balasan yang agung dari Allah, yaitu Kasih-Sayang dan MaghfirahNya serta Ridha`Nya. Kita harus yaqin akan adanya hari akhir.(1)

    Tujuan itu ada yang jangka panjang dan global (tujuan strategis); ada pula yang jangka pendek dan khusus (tujuan teknis). Tujuan teknis merupakan tahapan dalam pencapaian tujuan strategis. Misalnya sebagai hamba Allah kita mengharapkan Wajjah Allah, maka inilah tujuan strategis kita. Adapun tujuan tekhnisnya antara lain shalat yang khusyu, yaitu guna mengingat Allah, memohon pertolongan kepada Allah, membersihkan diri dan membentengi diri dari hawa nafsu, dsb; yang semua itu bertujuan juga untuk mencapai tujuan jangka panjang. Maka kita juga harus berusaha untuk bisa meraih shalat khusyu tersebut.

     

    KONSEP DAN KAIFIAT

    Konsep dan kaifiatnya (tata-caranya) harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits jika berhubungan dengan yang wajib. Jika amalan itu adalah sunnah, maka harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits atau tidak bertentangan dengan keduanya serta diniatkan karena Allah(1). Adapun soal muammalah segalanya boleh kecuali yang dilarang Al-Islam seperti mengandung spekulasi (judi), penipuan, zat yang haram, riba, atau bathil. Kita harus yaqin dengan kebersihan konsep kaifiatnya.

    Sesungguhnya apa yang ada di alam semesta telah dijelaskan dalam Al-Qur`an dan telah ditulis dalam Lauhil Mahfuzh. Segala sesuatu Allah jadikan menurut ketentuan. Maka sudah sepantasnya jika kita merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi kita harus tetap percaya akan taqdir, dan rencana yang kita buat hendaknya tidak bertentangan dengan Al-Qur`an. Jika rencana kita bertentangan dengan Al-Qur`an, maka hal itu akan menjadi sia-sia di akhirat (bahkan di dunia).

     

    POTENSI DIRI

    Kita harus yaqin dengan potensi diri yang Allah berikan kepada kita. Jika kita belum memiliki keyaqinan akan potensi diri kita, cobalah untuk menggalinya agar ia muncul ke permukaan. Berikan sugesti dan motivasi kepada diri kita. Jika orang lain bisa, seharusnya kita juga bisa. Jika para Nabi sebagai tauladan kita bisa, maka berarti kita juga bisa. Tidak mungkin Allah memberikan tauladan yang tidak bisa dicontoh oleh manusia. Dan kita juga harus memiliki semangat bekerja yang tinggi sebagaimana para malaikat selalu tha’at kepada Allah.

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

    Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (Q.S. An-Nahl: 50)

    Sebenarnya semua manusia, baik Nabi, ulama atau pun orang pada umumnya seperti kita, memiliki 100 miliar neuron (sel saraf aktif) di kepalanya sejak lahir. Masing-masing neuron itu memiliki 20.000 dendrit (cabang) yang dapat menghubungkan neuron yang satu dengan neuron-neuron yang lain. Semakin banyak dendrit yang terhubung, semakin besar kapasitas otak untuk menyimpan informasi. Koneksi dendritas ini dapat dirangsang melalui banyak hal, misalnya dengan musik berketukan 60-70 per menit, gerakan fisik, olahraga, sugesti positif, melatih pernafasan, shalat yang khusyu, dzikir yang khusyu, gizi yang cukup (buah dan sayuran segar, ikan, kacang-kacangan, dan air putih), dsb.

    Lalu apa yang membuat para shahabat dapat menjadi generasi terbaik sepanjang masa? Karena mereka telah mengikuti seorang manusia sempurna pilihan Tuhan. Dengan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan manusia terbaik, para shahabat memiliki kualitas yang tidak akan dapat dicapai oleh generasi setelahnya.

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

     

     

     

    (1) Lihat surah Al-Baqarah ayat 1-5

    (2) Segala yang mubah dan diniatkan karena Allah atau menghindari ma’siat, itu adalah sunnah.

    (3) Lihat surah Ath Thalaq ayat 3, Al-Qamar ayat 12, Al-A’la ayat 3.

     

  • KEKUATAN MENTAL DAN AKHLAQ

    Di lihat dari akhlaq dan mental, manusia digolongkan menjadi 4 macam, yaitu:

    1.       Bermental kuat, berakhlaq baik.
    2.      
    Bermental lemah, berakhlaq baik.
    3.      
    Bermental lemah, berakhlaq buruk.
    4.      
    Bermental kuat, berakhlaq buruk.

     

    BERMENTAL LEMAH, BERAKHLAQ BURUK (1)

    Ini adalah penjahat yang perlu ‘dikasihani’. Orang ini punya kelakuan yang buruk, tetapi ia begitu mudah menyerah dalam melakukan aksi kejahatannya. Orang seperti ini tidak terlalu berbahaya. Dia biasanya hanya orang suruhan yang tidak professional. Dia tidak memiliki loyalitas di dalam menyebarkan kejahatan. Dia sering mengalami kegagalan dalam kejahatan.

    BERMENTAL LEMAH, BERAKHLAQ BAIK (2)

    Ini adalah orang sholih yang tidak bermanfaat bagi ummat. Ia mudah menyerah dalam berjihad dan berda’wah. Pesimis akan kemampuan diri. Jangankan mengajak tetangganya untuk berbuat kebajikan, mengajak keluarganya saja ia gagal. Dan sewaktu gagala ia tidak mencobanya lagi dengan cara lain. Bahkan malah membiarkan mereka di dalam keadaan tersebut.

    BERMENTAL KUAT, BERAKHLAQ BURUK (3)

    Manusia semacam ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Inilah manusia yang akan ‘memangsa’ golongan 1 dan 2. Manusia golongan inilah yang dengan segala cara akan berusaha agar manusia mengikuti dan membantu jalannya yang sesat. Pada saat ini, manusia golongan ini diperankan oleh Yahudi dan sekutu mereka. Mereka dengan segala cara berusaha menguasai dunia.

    BERMENTAL KUAT, BERAKHLAQ BAIK (4)

    Manusia-manusia semacam inilah yang dibutuhkan ummat manusia untuk menandingi ulah golongan 3. Mereka inilah orang-orang yang memiliki komitmen yang kuat terhadap kebenaran. Mereka tidak pernah berputus asa dalam berjuang. Mereka rela mengorbankan apa saja demi kebenaran. Mereka selalu berusaha untuk berkreasi dan berinovasi dalam da’wah bil haqq. Dan kunci kemenangan tetap berada pada sinergi (jama’ah). Jika mereka berda’wah sendiri, maka hasilnya hanya χ. Tetapi jika orang-orang ini bersinergi/berjama’ah dalam da’wah, maka hasilnya adalah 27χ dikali jumlah anggota jama’ah. Maka jika mereka membuat kelompok yang terdiri dari 10 orang saja, hasilnya sudah 270χ.

     

  • SOMBONG

    Sombong adalah kita merasa diri kita baik, memandang rendah orang lain, dan menolak kebenaran.
    Ibnul Qayyum Al-Jauzi pernah berkata tentang lima kekayaan sebagai berikut:
    1.       Sesungguhnya semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakannya.
    Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu supaya bisa berbangga dengan ilmu itu terhadap ulama, atau supaya dengan ilmu itu ia dapat menyanggah orang-orang bodoh, atau supaya dengan ilmu itu orang memandang          kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (Al-Hadits)
    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan jiran tetangganya. Begitu juga barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. [HR. Bukhori (Etika: 5559), Muslim (Iman: 67), Tirmidzi (Suasana Hari Kiamat: 2424), Abu Dawud (Etika: 4487), Ibnu Majah (Fitnah: 3691), Ahmad bin Hanbal]
    Ilmu merupakan salah satu syarat diterimanya suatu amal. Ilmu lebih berharga dari dunia seisinya. Jika manusia memandang ilmu tanpa kacamata iman dan tawadhu`, maka manusia bisa terperosok ke dalam kesombongan. Berapa banyak orang yang berilmu sedikit, menganggap bahwa dirinya telah mendapatkan ilmu seluruhnya.
    Rasulullah SAW bersabda, “Ketika aku mi’raj, aku diperlihatkan neraka, lalu aku melihat sebagian penduduk neraka adalah orang-orang miskin.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah miskin dari harta?” Rasulullah   SAW   menjawab,   “Tidak, melainkan miskin ilmu.” (Al-Hadits)
    2.      Setiap bertambah amalnya, semakin bertambah kebanggaannya dan semakin memandang rendah orang lain, serta semakin bertambah prasanggka baik terhadap diri sendiri. Berkata Syeikh Ibnu ‘Athoillah As Sukandari, “Engkau terhadap Shifat PenyantunNya ketika melakukan ketha’atan kepadaNya adalah lebih membutuhkan daripada engkau terhadap PenyantunNya ketika berbuat ma’siat kepadaNya.” Beliau juga berkata, “Sebagian dari tanda-tanda orang yang membanggakan amal perbuatannya ialah kurang berharap akan Rahmatullah ketika terjadi kekhilafan pada dirinya.”
    Di dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman, ”Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang benar (shiddiq), janganlah kalian tertipu (atas amal perbuatan kalian). Karena sesungguhnya Aku jika Aku tegakkan KeadilanKu, pasti Aku siksa mereka tanpa merupakan kezhaliman terhadap mereka. Dan katakanlah kepada orang-orang yang berbuat salah (dosa), janganlah kalian berputus asa dari (mengharap) RahmatKu. Karena sesungguhnya Aku tidak menganggap besar dosa yang telah Aku ampuni.”
    Di saat kita berbuat ketha’atan bahkan setelah kita berbuat ketha’atan banyak sekali godaan-godaan yang berusaha mengotori ketha’atan kita tersebut, seperti ujub, riya`, sombong, dsb. Kita berfikir telah melakukan ketha’atan, padahal belum tentu amal kita itu bersih dan diterima. Kita tidak berfikir akan kemungkinan-kemungkinan bahwa kita telah melakukan suatu ma’siat dengan amal tersebut Berbeda dengan ketika kita berbuat ma’siat. Kita justeru tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dapat menyadari kesalahan kita tersebut, sehingga kta dapat dengan segera memohon ampunan dan rahmatullah. Maka termasuk kesombongan adalah jika kita tidak mengharapkan ampunan Allah dan Rahmatullah setelah kita berbuat ketha’atan dan kema’siatan. Tanpa ampunan dan rahmah dari Allah, manusia tidak akan masuk ke dalam surga. Tidak ada manusia yang masuk ke dalam surga dengan amalnya, tetapi dengan Rahmatullah itulah manusia dan jin dapat selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga dan mendapat RidhaNya.
    Sesungguhnya semua amal kebajikan kita adalah anugerah dari Allah. Tidak pantas kita menyombongkan amal kita yang belum tentu diterima Allah. Tidak pantas kita membanggakan amal perbuatan kita, padahal kita tidak memiliki kekuatan untuk berbuat kebajikan kecuali dengan KekuasaanNya. Dosa-dosa kita tidak akan terhapus dengan amal shalih kita. Hanya Allah yang dapat menghapus dosa-dosa kita seluruhnya. Maka mohonlah Rahmat Allah dan AmpunanNya. Mohonlah dengan amal shalih. Dan ketahuilah bahwa amal shalih itu adalah tanda bahwa Allah sudah mau mengampuni dan menyayangi kita. Jika Allah masih marah, tentu Ia akan membiarkan kita dalam ma’siat. Rahmat Allah itu sangat dekat* dengan orang-orang yang berbuat amal shalih. Maka marilah kita beramal shalih karena ridho Allah.
    Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-A’raf: 56)
    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)
    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi: 110)
    3.      Semakin bertambah usianya, semakin bertambah rakus dan serakahnya.
    Terkadang orang yang lebih tua merasa lebih hebat dari orang yang muda. Ia merasa lebih berhak mendapatkan keutamaan, penghormatan, dan dinomor satukan. Dia haus akan kehormatan dan serakah akan dunia. Begitulah anugerah tanpa syukur. Tidak bermanfaat tetapi justeru membawa mudharat. Terkadang kita juga sungkan untuk menerima nasihat dari orang yang lebih muda. Kita merasa lebih bijak dari orang yang lebih muda. Padahal kebijakan seseorang tidak ditentukan oleh usia melainkan oleh cara berfikir.
    4.      Semakin menumpuk hartanya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya.
    Jika manusia memiliki dua gunung emas, maka ia akan mencari gunung emas yang ketiga. Banyak manusia yang telah dilalaikan oleh harta. Dia membelanjakan hartanya hanya untuk kepentingan duniawi belaka. Padahal harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah. Dia lupa bahwa di dalam hartanya ada haq orang lain yang harus dikembalikan. Dia seakan tidak percaya akan kebenaran firman Allah bahwa zakat dan shadaqah itu mendatangkan kekayaan haqiqi. Sedangkan bakhil dan kikir mendatangkan kemiskinan. Jika kita berfikir harta yang kita miliki akan membuat kita bahagia, padahal kita kikir, berarti kita telah tertipu. Allah memperingatkan kepada kita bahwa bagi orang bakhil ada neraka huthamah (QS. Al-Humazah). Dalam surah Al-Lahab Allah juga memperingatkan kepada kita bagaimana harta menjadi tidak berguna jika tidak digunakan di jalan Allah, apalagi bila digunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Maka kecelakaanlah bagi orang yang menggunakan hartanya untuk mengeluarkan orang dari agama Islam. Hartanya itu tidak akan dapat menyelamatkan dia dari api neraka. Bukan kekayaan dan kebahagiaan yang dia dapat, melainkan kepailitan dan kesedihan tiada akhir.
    5.      Semakin meningkat derajat/ kedudukannya, semakin meningkat pula kesombongan dan keangkuhannya.
    Pada zaman N. Musa ada seseorang yang sangat rajin beribadah dan ilmu agamanya juga dalam. Hanya saja ia memiliki  potensi sombong  seperti  ‘Azazil (Iblis). Dia tinggal di antara kaum yang durhaka kepada Allah yang mana Nabi Musa bersama tentaranya akan menyerang mereka bila tetap durhaka. Maka kaum tersebut meminta pertolongan kepada sang ulama agar dapat menghalangi Nabi Musa dan tentaranya. Setelah dipuji-puji sebagai orang yang dekat dengan Allah, ia pun berjanji untuk berdoa agar rencana Nabi Musa digagalkan. Namun Allah memberi tanda bahwa Dia tidak suka akan perbuatan ulama tersebut. Untuk menjaga reputasinya di mata manusia, ia pun membuat rencana jahat sehingga tentara Nabi Musa mengalami kekalahan. Tetapi ulama tersebut berhasil dibunuh dan mati di dalam kemurkaan dan la’nat Allah. Na’udzubillahi min dzalik.
    Demikianlah manusia dibutakan oleh ilmunya, amalnya, jabatannya, hartanya, keelokan rupanya, dan segala kekayaannya; sehingga tidak dapat melihat Kasih-Sayang Allah. Bukan kekayaannya yang salah, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah. Bila hatinya hidup dengan dzikrullah, maka segala kekayaan itu akan ia pandang sebagai karunia dari Allah. Demikianlah hati, memerlukan dzikir, ilmu dan yaqin. Sebagaimana tubuh perlu untuk makan, minum, mandi, olahraga, dsb. Mari kita mengolah jiwa dan hati kita, membersihkannya, serta memberinya makan dan minum.

     

     

    * Jika dikatakan Allah atau RahmatNya dekat dengan manusia, bukan berarti Allah itu bersatu dengan manusia. Tetapi coba fikir, siapakah yang menggerakkan kita untuk makan, minum, shalat dan sebaginya? Siapakah yang menopang kaki kita, mengangkat tangan kita, menggerakkan lisan kita? Allah yang melakukan ini semua. Inilah bukti bahwa Allah itu dekat.
     

     

  • MEMBERSIHKAN DIRI

    Untuk sukses di dunia dan di akhirat, pertama sekali kita harus membersihkan diri kita dari syirik, sombong, riya`, curang, dusta, dan sifat-sifat buruk lainnya. Marilah kita tampil di hadapan Allah sebagai pribadi yang bersih. Sesungguhnya perbuatan dosa itu hanyalah asap yang timbul dari api sifat yang buruk.
    Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita agar kita berlindung dari hati yang tidak khusyu, dari hawa nafsu yang tidak pernah kenyang, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari do’a yang tidak dikabulkan.
    Jika Anda belum berhasil dalam suatu hal, maka cobalah lihat hati dan diri Anda. Sudahkah terbebas dari syirik dan sombong? Jika belum, bisa jadi itulah penyebabnya. Allah sayang kepada kita semua. Allah tidak ingin kita bertambah sombong disebabkan kesuksesan yang kita dapat. Allah tidak ingin kesuksesan kita hanya memperlebar pintu hawa nafsu.
    Kesombongan itu timbul disebabkan kurang kenalnya kita dengan Allah. Dengan mengenal Allah, kita akan sadar bahwa diri dan perbuatan kita hanyalah ciptaan Allah. Jika Anda pernah memuji keindahan sebuah lukisan, tentu Anda tidak bermaksud mengatakan bahwa lukisan itu hebat. Tetapi yang Anda maksudkan adalah orang yang membuat lukisan itu hebat, sebab ia dapat membuat lukisan yang indah itu. Maka segala puji hanya milik Allah saja. Tidak ada daya untuk menghindari ma’siat dan tidak ada kekuasaan untuk berbuat tha’at, kecuali dengan (daya, kekuatan, dan kasih-sayang) Allah. Segala ketha’atan kita adalah karunia dari Allah untuk kita syukuri.
    Mari kita bersihkan kaca jendela rumah kita, agar sewaktu mentari bersinar, cahayanya dapat menerangi rumah kita. Kesuksesan bukanlah hasil perbuatan kita. Tetapi kebiasaan baik dapat mengantarkan kita ke gerbang kesuksesan.
    Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (Q.S. Al-Muddatstsir: 1-6)
    Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S. Huud: 114)
    Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Seorang lelaki berjumpa Nabi s.a.w lalu berkata: Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud, oleh itu hukumlah aku. Anas berkata: Sebaik sahaja tiba waktu sembahyang lelaki tersebut turut mendirikan sembahyang bersama-sama Rasulullah s.a.w. Setelah selesai sembahyang lelaki tadi berkata: Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sesuatu yang boleh dikenakan hukum hudud. Oleh itu hukumlah aku sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Quran. Baginda bersabda: Adakah kamu mendirikan sembahyang bersama-sama kami? Lelaki tersebut menjawab: Ya. Baginda bersabda: Kamu telah diampunkan oleh Allah s.w.t. (HR. Bukhori dalam Kitab Hudud hadits nomor 6323; HR. Muslim dalam Kitab Taubat hadits nomor 4965)
    Membersihkan diri dari dosa adalah hal yang mudah. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghapus dosa sebagaimana telah disebutkan dalam banyak hadits, antara lain:
    Ø       Membaca Subhaanallaahi wa bi hamdih 100x
    Ø       Membaca Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir 100x
    Ø       Sholat wajib 5 waktu
    Ø       Membaca sayyidul istighfar 3x
    Ø       Membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir
    Ø       Bershodaqoh jariyah, dan masih banyak lagi
    Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud r.a katanya: Aku menemui Rasulullah s.a.w ketika baginda dalam keadaan tidak sihat. Aku menggosok baginda dengan tanganku. Aku katakan kepada baginda: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau benar-benar tidak sihat. Rasulullah s.a.w bersabda: Memanglah, apa yang aku alami sekarang ini adalah sama seperti yang di alami oleh dua orang di antara kamu. Aku berkata: Kalau begitu engkau beroleh dua pahala sekaligus. Rasulullah s.a.w bersabda: Benar. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda lagi: Setiap orang muslim yang ditimpa musibah atau sakit dan sebagainya, maka Allah akan mengampunkan kesalahan-kesalahan dari sakitnya, sebagaimana daun yang gugur dari pokoknya. [HR. Bukhori (Kitab Pesakit), Muslim (Kitab Kebaikan, Kitab hubungan Keluarga dan Etika), Ahmad bin Hanbal,  Ad-Darimi, (Kitab Lemah Lembut)]
    Membersihkan diri dari dosa mirip seperti menggugurkan daun dari pohon di musim gugur. Hal itu adalah mudah, Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. Tetapi mudahkah mencabut pohon tersebut hingga ke akar-akarnya?
    Ada yang lebih penting dari membersihkan dosa, yaitu membersihkan diri dari hawa nafsu, syirik, sombong, dan sifat buruk lainnya. Sifat-sifat ini adalah akar dari dosa-dosa yang timbul pada diri kita. Untuk membersihkan diri dari hawa nafsu dan syirik diperlukan latihan dan perjuangan panjang tiada henti hingga akhir hayat. Pelatihan yang dapat kita lakukan adalah dengan dzikrullah yang khusyu, shalat yang khusyu, dan puasa yang berkualitas dan shodaqoh. Dan ingatlah bahwa setiap kebaikan itu adalah shodaqoh.
    Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-‘Ankabut: 45)
    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)
    Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Q.S. An-Nazi’at: 40-41)
    (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar Ra’d: 28)
    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Q.S. Ali ‘Imran: 133-136)
    Kegelisahan itu datangnya dari hawa nafsu, hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), dan syaithan. Dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah hati akan menjadi tenang dan mantap. Syaikh Ibnu ‘Atho`illah pernah berkata, “Bagaimana hati itu dapat memancarkan cahaya, padahal dalam hatinya terlukis semua gambar-gambar kepada selain Allah. Bagaimana orang dapat berangkat menghadap Allah, padahal ia selalu terikat oleh syahwat (keinginan). Bagaimana orang dapat mempunyai keinginan kuat agar dapat masuk ke hadirat Allah, padahal hatinya belum suci dari janabah kelalaiannya. Bagaimana bisa berharap agar mengerti terhadap rahasia-rahasia yang halus, padahal ia belum bertaubat untuk menebus kesalahan-kesalahannya.” (Syaikh Ibnu ‘Atho`illah, Matnul Hikam, point kedua belas)
    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jatsiyah: 23)
    Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (Q.S. An-Najm: 23)
    Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya. (Q.S. Al-Qamar: 3)
    Â