Kategori: Menanggapi Kristen

  • Dibalik Sebuah Penantian

    Pekan lalu, Indonesia dihebohkan dengan Sebuah Penantian. Ada apa dengan Sebuah Penantian? Apakah Sebuah Penantian dapat membuat seseorang menjadi Protestan? Ataukah ia hanya film biasa seperti film-film lainnya?

    Menurut sebagian sumber, Sebuah Penantian merupakan film yang diprakarsai oleh Billy Graham yang merupakan penasihat spiritual Bush. Diduga, Billy merupaka seorang Zionis-Kristen. Apa itu Zionis-Kristen?

    Menurut Ridwan Saidi, banyak orang-orang Freemasonry dan orang-orang Yahudi Zionis lainnya yang menggunakan Kristen sebagai kedok untuk mempengaruhi dunia dan mengeliminasi paham-paham diluar Zionisme. Verenigde Oost Compagnie atau VOC merupakan organisasi Freemasonry yang juga berhasil menjajah Indonesia dan mengkristenkan sebagian penduduk Indonesia dengan iming-iming materi dan kedudukan. Kristen di sini tentunya adalah Yudeo-Kristen, sehingga terkenallah istilah Ziokindo (Zionis-Kristen Indonesia).

    Sebenarnya, tanpa ditambahi ‘Zionisme’, Kristen itu sendiri lahir dari seorang bapak yang merupakan agen Zionis purba, yaitu Saulus alias Paulus. Ajaran yang dibawa Paulus mempunyai akar hingga ke Mesir Kuno. Lambang dan konsep ketuhanan Kristen benar-benar diadopsi dari Mesir Kuno. Bahkan konsep kelahiran, masa muda, pertarungan melawan kegelapan, kematian dan kebangkitan Tuhan adalah ajaran yang berasal dari agama Mesir Kuno yang menyembah Horus anak Osiris.

    Sebuah Penantian adalah awal dari program missionaris Amerika yang tergabung dalam Gerakan My Hope. Sebagaimana VOC, mereka menginginkan terbentuknya negara Zionis-Kristen, yang akhirnya menjadi negara Zionis. Harapan-harapan seperti ini dapat Anda baca dalam Protocol of Zion.

    Program My Hope seperti ular yang sedang membentuk lingkaran. Program ini akan bergerak dari satu negara ke negara lain. Setelah kembali ke Amerika, program ini akan kembali berputar. Wallahu a’lam.

    Ular Simbolik1 Ular Simbolik2

    Baca juga:
    Ordo Rosicrucian (AMORC)
    Saul to Paul
    Paulus Nabi Palsu

  • Menanggapi Doktrin Kristen

    Doktrin Kristen Trinitarian memiliki perbedaan mencolok dengan ajaran Islam ketika berbicara mengenai siapa itu Pencipta alam semesta. Ajaran Islam mengatakan bahwa Pencipta adalah Allah Tunggal, tetapi Kristen Trinitarian mengatakan Pencipta adalah Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Dari sinilah berangkat perbedaan-perbedaan lain antara Kristen Trinitarian dengan ajaran tauhid, baik itu Kristen Unitarian, Saksi-Saksi Yahweh, dan Islam yang kita yakini.

    Dalam blog doktrinkristen.wordpress.com dibahas mengenai 10 ajaran dasar Kristen Trinitarian. Sepuluh ajaran itu adalah mengenai (1) penciptaan alam semesta, (2) penciptaan manusia, (3) setan, (4) kejatuhan manusia, (5) adam dan dosa waris, (6) Yesus sang Adam kedua, (7) kelahiran baru, (8) Yesus dan enam anugerah, (9) hubungan baru, dan (10) kemenangan atas daging.

    Sepuluh ajaran dasar itu dipaparkan sesuai yang diyakini Kristen Trinitarian, kemudian ditanggapi sesuai dengan pemahaman sang blogger atas ajaran Islam, Al-Qur`an, hadits, dan Alkitab. Dan kami harapkan kepada para pembaca agar membaca blog tersebut dengan aqal yang sehat dan hati yang jernih. Bacalah sebagai orang dewasa, dan bukan lagi sebagai anak kecil yang selalu dicekoki dengan doktrin-doktrin.

    Bagi ummat Islam, blog tersebut, insya Allah akan menambah keilmuan dan memperkuat benteng dari serangan-serangan ajaran Kristen Trinitarian. Dan bagi ummat Kristen, semoga blog tersebut menjadi perantara hidayah Allah sehingga dapat mengantarkan kepada jalan lurus yang telah ditapaki oleh para utusan Allah. Amin.

  • Paraclete Bukanlah Roh Kudus

    Saya dapat memahami dan menerima dengan baik julukan Yesus Ruhullah (Ruh Allah), Muhammad Rosululloh (Muhammad Rasul Allah). Tetapi saya tidak dapat pernah memahami ataupun menerima bahwa roh atau rasul adalah oknum Tuhan.

    Sekarang kita akan melanjutkan dengan membuktikan dan membantah kekeliruan umat Kristen tentang Paraclete.

    Dalam artikel ini saya akan mencoba membuktikan bahwa Paraclete itu bukan Holy Ghost (Roh Kudus) sebagaimana diyakini Gereja Kristen, juga sama sekali tidak berarti “penghibur” atau “perantara”. Dalam artikel berikut, insya Allah, saya akan menunjukkan bahwa bukan “Paraclete” melainkan yang benar adalah “Periclyte” yang secara persis berarti “Ahmad” yang artinya adalah “yang paling terkenal, terpuji, dan termasyur”.

    Roh Kudus Digambarkan dalam Perjanjian Baru Sebagai suatu Kepribadian Yang Lain

    Suatu pemeriksaan yang seksama mengenai pasal-pasal berikut dalam Perjanjian Baru akan meyakinkan para pembaca bahwa Roh Kudus bukanlah oknum Tuhan dari Trinitas.

    Dalam Lukas 11:13 Roh Kudus dinyatakan sebagai “pemberian” Tuhan. Kontras antara “pemberian yang baik” yang diberikan oleh orang tua yang jahat dan Roh Kudus yang diberikan kepada orang beriman oleh Tuhan sama sekali meniadakan gagasan tentang suatu kepribadian dari Roh itu. Dapatkah kita secara sungguh-sungguh dan nyata-nyata menegaskan bahwa Yesus ketika ia membuat hal yang berlawanan diatas, bermaksud mengajarkan kepada pendengarnya bahwa “Tuhan Bapa” menghadiahkan “Tuhan Roh Kudus” kepada “anak-anak” duniawi-Nya ? Pernahkah ia menyinggung secara tidak langsung bahwa ia mempercayai oknum Tuhan ketiga Trinitas sebagai pemberian dari oknum Tuhan yang pertama Trinitas? Dapatkah kita percaya bahwa rasul mempercayai “pemberian” ini sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada makhluk hidup? Gagasan keyakinan itu membuat seorang muslim merasa ngeri!

    Dalam 1 Korintus 2:12 (Injil karangan Paulus), Roh Kudus digambarkan dalam jenis netral “Roh dari Tuhan”. Paulus dengan jelas menyatakan bahwa sebagaimana Roh yang berada dalam diri manusia membuat manusia tahu hal-hal yang ada didalam dirinya, begitu pula Roh Tuhan membuat seorang manusia tahu hal-hal yang bersifat Ilahiah (1 Korintus 2:11). Konsekuensinya, Roh Kudus disini bukanlah Tuhan melainkan suatu hasil, saluran, atau medium melalui mana Tuhan mengajarkan, dan mengilhami orang. Jadi itu semata-mata perbuatan Tuhan pada manusia. Pemberi ilham tidaklah langsung sang Roh melainkan Tuhan sendiri. Paulus jelas-jelas mengemukakan dalam ayat diatas bahwa jiwa manusia tidak dapat melihat kebenaran-kebenaran tentang Tuhan tetapi hanya melalui Roh, ilham, dan petunjuk-Nya.

    Dalam 1 Korintus 6:19 (Injil karangan Paulus)kita membaca bahwa hamba-hamba Tuhan yang shaleh disebut “Bait Roh Kudus yang mereka terima dari Tuhan”. Disini lagi-lagi Roh Tuhan tidak ditunjukkan sebagai suatu oknum (pribadi), melainkan kebajikan atau kuasa Tuhan. Tubuh dan jiwa seorang beriman dipersamakan dengan Bait yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan.

    Dalam Epistel kepada bangsa Romawi (karangan Paulus, kitab Roma 8:9), Roh ini yang “hidup” didalam orang beriman disebut secara bergantian “Roh Allah” dan “Roh Kristus”. Dalam ayat ini “Roh” berarti keyakinan dan agama Tuhan yang dibawakan oleh Yesus. Tentu saja, Roh ini tidak dapat diartikan sebagai Roh Kudus idaman umat Kristen, yakni yang ketiga dari tiga tuhan.

    Ucapan salam Injil, “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, seandainya asli dan benar-benar ditetapkan oleh Yesus, bisa saja secara sah diterima sebagai ungkapan keimanan sebelum berdirinya Islam secara resmi. Tuhan sebagai Pencipta adalah Bapak (dalam artian bukan biologis). Kaum Orientalis Kristen tahu bahwa kata Semit “Abb” atau “Abba” yang diterjemahkan sebagai “bapa”, berarti “orang yang melahirkan atau berbuah” (“ibba” =buah). Pengertian ini kata ini sudah cukup masuk akal dan penggunaannya cukup sah. Alkitab seringkali menggunakan sebutan “Bapa”. Tuhan dimanapun dalam alkitab, mengatakan “Israel adalah anakku yang pertama lahir”; dan ditempat lain dalam kitab Ayub, Tuhan dipanggil dengan sebutan “Bapak Hujan”. Namun dalam perkembangannya, istilah ini disalahgunakan oleh Paulus dan Gereja Trinitas. Namun tidak demikian dengan AL-Qur’an yang tidak menggunakan istilah ini.

    seorang Monoteisme Sejati akan memandang bahwa dogma Trinitas yang menyatakan bahwa Tuhan melahirkan anak, adalah suatu penghinaan besar. Lantas apakah ucapan salam pembaptisan Kristen ini adalah asli ataukah palsu? Saya percaya bahwa para penginjil tidak pernah mengesahkan penggunaannya dalam ritual, doa, atau ibadah lain apapun, selain dalam pembaptisan. Poin ini sangatlah penting.

    Yohanes telah meramalkan pembaptisan dengan Roh Kudus dan Api oleh nabi Muhammad, sebagaimana yang telah kita buktikan dalam pembahasan sebelumnya. Sang Pembaptisnya adalah Tuhan sendiri, dan perantaranya adalah Anak Manusia atau Barnasha menurut penglihatan Daniel, maka sangatlah benar dan sah menyebut dua nama itu sebagai sebab pertama dan kedua yang tepat guna, dan nama Roh Kudus pun, sebagai causa materialis dari Sibhghatullah. Sehingga kalau memang demikian halnya, maka sebutan Ilahiah “Bapa” sebelum disalahgunakan oleh Gereja, sudah tepat.

    Sebenarnya Sibghatullah adalah suatu kelahiran dari Kerajaan Tuhan, yakni Islam. Sang Pembaptis yang menyebabkan kelahiran kembali (regenerasi) ini adalah Tuhan. Mengenai nama kedua dalam ucapan salam Kristen, “Anak”, kita tidak mengetahui siapa atau apa “anak” ini? Anak siapa? Jika Tuhan dengan tepat disebut “Bapa”, maka kita heran dan penasaran, yang mana saja “anak-anak”-Nya yang banyak sekali (dalam banyak ayat alkitab) itu yang dimaksud dalam salam pembaptisan.
    Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “Bapa kami yang ada di Surga”. Jika kita semua adalah anak-Nya dalam artian makhluk ciptaan-Nya, maka penyebutan kata “anak” dalam ucapan salam menjadi agak tidak berarti dan bahkan menggelikan. Kita tahu bahwa “Anak Manusia” atau Barnasha disebut sebanyak 83 kali dalam khotbah-khotbahnya Yesus.

    Al-Qur’an tidak pernah menyebut Yesus sebagai Anak Manusia, melainkan “Anak Maria (Maryam)”. Ia tidak bisa menyebut dirinya “Anak Manusia” karena ia adalah hanya “anak seorang perawan”. Tidak mungkin melepaskan diri dari kenyataan itu. Anda bisa menjadikan “anak Tuhan” sebagaimana dengan kebodohan yang Anda lakukan, tetapi Anda tidak bisa menjadikannya “Anak Manusia” kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan Yusuf Si Tukang Kayu (yang menurut Bible adalah suami Maria), kalau Anda tidak mempercayainya sebagai keturunan biologis Yusuf Si Tukang Kayu.

    Saya tidak tahu persis bagaimana, apakah melalui intuisi, ilham, atau mimpi, saya diajari dan diyakinkan bahwa nama kedua dalam ucapan salam itu adalh suatu interpolasi dari “Anak Manusia”, yang adalah Ahmad.

    Adapun mengenai Roh Kudus dalam ucapan salam, ia bukanlah roh oknum atau individu, melainkan wakil, kekuatan energi Tuhan dengan mana seorang manusia dilahirkan atau masuk kedalam agama yang benar dan pengetahuan yang benar tentang Tuhan.

    Sumber:
    “Menguak Misteri Muhammad SAW”, Benjamin Keldani, Sahara Publisher, Edisi Khusus Cetakan kesebelas Mei 2006.

    Prof. David Benjamin Keldani adalah seorang mantan pastur Katholik Roma sekte Uniate-Chaldean. Ujarnya: “Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad SAW pun menjadi pola sikap dan perilaku saya.

    http://menguakmisterimuhammad.blogspot.com/2006/11/paraclete-bukanlah-roh-kudus.html

    Lihat juga:
    Telah Datang Roh Kebenaran

  • MANUSIA YANG TIDAK BERDOSA SELAIN YESUS

    Di dalam ajaran Kristen, akidah ini sangat penting. Kepercayaan penebusan dosa mereka bentuk begitu rupa, seolah-olah semua manusia berdosa. Oleh karena semuanya berdosa dan seorang pun tidak ada yang bebas dari dosa, maka sangat diperlukan seorang penebus dosa dan juru selamat. Dia harus bersih dari dosa itu.

    Karena semua manusia secara turun menurun sudah bergelimang dalam dosa, maka di antara mereka tak ada seorang pun yang dapat menjadi penebus dosa. Namun, Yesus adalah Tuhan. Dia menjelma dalam bentuk jasad seorang manusia. Karenanya, dia tidak punya dosa. Selanjutnya hanya dialah yang dapat mengganti kerugian manusia dan menawarkan jadi penebus dosa.
    Sekarang, kalau kita dapat membuktikan bahwa manusia atau manusia-manusia telah menjalani hidup yang bersih dan bebas dari dosa, maka pandangan agama Kristen itu berarti gugur. Ajaran penebusan dosa akan menjadi berantakan.

    Orang-orang Kristen yang menganut akidah penebusan dosa, tak seorang pun yang percaya bahwa para nabi itu adalah orang-orang bersih dari perbuatan dosa. Dr. Philips sendiri bersikeras mengatakan bahwa tak ada kemungkinan ada manusia yang tidak berdosa.

    Dari Perjanjian Baru secara jelas dapat kita ketahui bahwa hamba-hamba Tuhan itu terbagi ke dalam dua macam yang jahat dan ada yang baik. Orang yang mengatakan semua manusia itu berdosa, berarti dia mendustakan keterangan-keterangan Perjanjian Baru yang jelas tersebut. Injil mengatakan:

    “Sebab aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Matius 13:17).

    “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45).

    “Seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus” (Lukas 1:70).

    “Sebab tidak pernah nubuwat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (Surat Petrus Yang Kedua 1:21).

    “Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar” (Lukas 13:28).

    “Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (Surat Yohanes Yang Pertama 5:18).

    “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga ………. Sebab demikian juga yang teraniaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).

    Pertama:
    Ayat-ayat di atas secara gamblang mengungkapkan bahwa para nabi itu suci, tak berdosa. Mereka telah diciptakan oleh Allah dan adalah penghuni KerajaanNya. Syaitan tidak pernah menyentuh mereka. Mereka dianiaya demi mempertahankan ketakwaan mereka. Adalah jelas, orang yang mencapai martabat rohani seperti itu tidak mungkin berbuat dosa. Syaitan juga tak pernah mampu mengungguli mereka. Bagaimanapun juga, orang yang suka bertengkar sekalipun, dengan adanya keterangan ayat-ayat ini, akan mengakui bahwa di kalangan Bani Adam (manusia keturunan Adam) terdapat orang-orang yang berdosa dan jahat dan ada pula orang-orang yang saleh. Tidak seluruhnya jahat dan berbuat dosa. Sekalinya kita menerima kebenaran ini, maka akidah Kristen menjadi batal dan bangunan anggun Penebusan Dosa menjadi berantakan.

    Kedua:
    Allah Swt. menjadikan dan mengutuskan para nabi sebagai teladan dan panutan yang terbaik. Mereka datang memberi pelajaran kepada manusia lewat imbauan. Dikatakan;….Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabarMu terhadap mereka. Dengan RohMu Engkau memperingatkan mereka” (Nehemia 9:30).
    Sekarang, sekiranya nabi sendiri terlibat dalam perbuatan jahat, bagaimana mungkin mereka dapat menjadi teladan dan contoh untuk orang-orang lain dan menjadi pengawas mereka? Jelas, apabila para nabi dikatakan berdosa, hal demikian berarti nubuwatan-nubuwatan mereka dusta; dan ini jelas tidak benar dan akidah bahwa semua nabi berdosa juga batal (gugur).

    Ketiga:
    Kitab Suci Bibel menjadi saksi bahwa banyak sekali orang saleh dan suci telah berlalu. Mereka sepanjang hidupnya tunduk kepada Allah dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Mereka tidak pernah membangkang. Saya akan menyebutkan beberapa di antara orang-orang suci itu:

    1. Yohanes (Yahya) Pembaptis dikatakan oleh Bibel sebagai orang suci dan berakhlak yang tak bernoda. Coba baca ayat-ayat berikut:
    “Sebelum ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).
    “Tangan Tuhan menyertai dia” (Lukas 1:66).
    “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel” (Lukas 1: 80).
    “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melingunginya” (Markus 6:20).
    “Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis’” (Markus1:4).
    “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripadanya’” ( Matius 11:11)
    “Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: ‘Ia kerasukan setan’. Kemudian anak mereka berkata: ‘Manusia datang. Ia makan dan minum, dan mereka berkata: ‘Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum. Sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya’” (Matius 11: 18).
    “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakaria, di padang gurun” (Lukas 3:2).
    Dari ayat-ayat ini terbukti bahwa Yohanes (Yahya) adalah seorang suci dan bersih dari dosa. Ia seorang yang menerima wahyu Tuhan. Tangan Tuhan di atas tangannya dan dia sejak di dalam rahim ibunya sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Lagi pula dia pembaptis orang-orang yang berdosa untuk bertobat dan untuk menyelamatkan manusia yang penuh dosa. Dia terbesar dari antara orang-orang yang dilahirkan dari rahim perempuan. Mungkinkah insan seperti ini orang berdosa? Saya berpendapat tak akan ada orang Kristen yang berakal akan menetapkan Yohanes atau Yahya orang berdosa, terutama setelah terbukti bahwa Isa Almasih dibaptis secara khusus oleh Yohanes sendiri. Saya menyampaikan tantangan kepada semua orang Kristen untuk membuktikan berdasarkan Bibel bahwa Yohanes itu berdosa.

    2. Habel anak Adam. Habel juga seorang suci dan benar dalam tiap perbuatannya. Tidak pernah melakukan perbuatan dosa. Dalam Perjanjian Baru dikatakan:
    “Supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakaria anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah” (Matius 23:55).
    “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik itu dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibrani 11:4).
    “Bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya dia membunuh? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar” (Yohanes 3:12).

  • MAKANAN YANG HARAM MENURUT TAURAT

    Betulkah binatang haram menjadi halal setelah Yesus dianggap disalib? Apa yang Alkitab ajarkan?

    Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (I Yohanes 2:3-4)
    Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. (1 Yohanes 3:4)

    Milik Siapakah tubuh kita?

    Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. (I Korintus 3:16-17)

    Bagaimana tubuh kita harus dipersembahkan kepada Allah?

    Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

    Jadi, tubuh kita ini harus tetap kudus. Jangan sampai kemasukan sesuatu yang menjijikkan (rijsun/najis).

    “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi. Janganlah engkau memakan sesuatu yang merupakan kekejian.” (Ulangan 14:2-3)

    Maka segala makanan yang merupakan kekejian seperti babi (Ul. 14:8 TL), bangkai (Ul. 14:21), burung buas (14:12-14), kelelawar (Ul. 14:18), dan sebagainya itu tidaklah boleh dimakan orang-orang yang mengasihi Tuhan.

    Apakah Yesus membatalkan Hukum Torat?

    “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)

    Apakah setelah Yesus dianggap disalib, kemudian Hukum Torat menjadi batal? Atau justeru Hukum Torat itu akan tetap berlaku menurut Yesus?

    “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18)

    Lalu bagaimana dengan Paulus dan orang-orang Kristen yang menghapus Hukum Torat? Apa yang akan terjadi pada mereka?

    “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:19)

    Ingatlah bahwa Iblis dan tentaranya dapat menyamar sebagai malaikat terang.

    Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. (II Korintus 11:14-15)

    Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (Matius 24:24)

  • Anak Allah

    Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:3-4)

    Jika kita membuka kamus Alkitab dan mencari kata ‘Anak Allah’, akan kita dapati penjelasan: “Israel disebut anak Allah atau anak sulung Allah (Kej. 4:22-23; Hos. 11: 1). Demikian juga raja Israel, keturunan Daud (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7). Tetapi kemudian terutama gelar untuk Yesus Kristus yang menyatakan bahwa Ia berasal dari Allah dan melakukan kehendak Bapa-Nya, sehingga Ia adalah orang kesayangan Allah.”

    Maka jelaslah bahwa Anak Allah adalah istilah yang berarti ‘orang kesayangan Allah’. Maka Yesus tidak bisa disebut sebagai Tuhan hanya karena dia digelari Anak Allah. Allah tidak beristeri, tidak berputera, dan tidak pula diperanakkan. Karena Yesus diperanakkan, maka jelaslah bahwa Yesus bukanlah Allah.

    Dalam Matius 4:3-4 juga dijelaskan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang hidup dengan bergantung pada firman Allah, yaitu firman yang berbunyi: “Jadilah!”. Hal ini menjelaskan juga istilah dari gelar Yesus sebagai ‘Firman Tuhan’ atau ‘Kalimatullah’, yaitu bahwa Yesus diciptakan oleh Allah dengan firman-Nya: “Jadilah!” maka jadilah Yesus lahir tanpa ayah. Dan Allah bukanlah ayah Yesus. Dengan menyebut Allah sebagai ayah dari Yesus, itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah itulah yang telah menyetubuhi Maria hingga hamil. Ini adalah tuduhan yang sangat keji.

  • Immanuel

    Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka menamakan dia Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. [Matius 1:23]

    Imanuel dapat diartikan sebagai ‘Allah bersama kita’ atau ‘Allah menyertai kita’. Kita tahu bahwa Allah menyertai manusia melalui Yesus, dan Yesus sendiri berkata bahwa siapa yang melihat dia, berarti ia telah melihat Allah. Ini tidak bisa diterima secara harfiah. Akan tetapi siapa yang melihat Yesus dan perbuatannya, maka seseorang akan melihat betapa Allah itu Mahakuasa memberi Yesus segala mukjizat dan tingkah laku yang beradab lagi penuh kasih. Jika kita ingin mengenal bagaimana kasih Allah, maka lihatlah bagaimana kasih Yesus, maka kita akan mengetahui bahwa Allah Mahakasih, sebab Yesus, hamba-Nya saja begitu kasih, apalagi Allah. Begitu juga untuk mengenal sifat Allah yang lainnya, perhatikanlah bagaimana sifat kemulyaan Yesus. Adapun sifat kelemahan Yesus, maka itu bukanlah menggambarkan sifat dan citra Allah, tetapi itu adalah sifat manusiawi Yesus.
    Intinya, nama tersebut adalah simbolis. Allah bersama kita, bukan secara harfiah, tetapi melalui hamba-Nya, seperti dalam 2 Kor. 5:19 yang menyatakan: “Bahwa Allah mendamaikan dunia dengan DiriNya melalui Kristus.” Simbolisme seperti ini tidak khusus bagi Yesus. Banyak orang yang diberi nama-nama yang akan menimbulkan masalah besar jika diimani secara harfiah. Apakah kita meyakini bahwa Eliyah adalah “Allah Yahweh” atau bahwa Bithiah, puteri Firaun, adalah saudari Yesus karena namanya adalah ‘puteri Yahweh’? Apakah kita percaya bahwa Dibri, bukannya Yesus, adalah ‘Janji Yahweh’, atau bahwa Eliab adalah Messiah sesungguhnya karena namanya berarti ‘Allahku [adalah] bapa[ku]?” Tentu saja tidak. Adalah kesalahan besar untuk mengakui bahwa arti nama membuktikan kebenaran harfiah. Kita tahu bahwa nama Yesus sangat berarti, yaitu menyampaikan pesan bahwa -sebagai anak Allah dan sebagai citra Allah- Allah menyertai kita melalui Yesus, tetapi nama tersebut tidak menjadikan Yesus sebagai Allah.

  • AKU DAN BAPA ADALAH SATU

    “Aku dan Bapa adalah satu.” [Yohanes 10:30]
    I and my Father are one. [Yohanes 10:30 KJV]
    Tidak ada alasan untuk mengambil ayat ini untuk memahami bahwa Kristus sedang berkata bahwa ia dan Bapa menyusun “satu Tuhan.” Ungkapan yang umum, dan bahkan hari ini jika seseorang menggunakan itu, orang-orang akan mengetahui persisnya apa yang ia maksudkan —dia dan bapaknya sangat banyak kemiripan. Ketika Paulus menulis kepada Jemaat Korintus tentang kependetaannya di sana, ia berkata bahwa ia telah menanam benih itu dan Apolos yang mengairi. Kemudian ia berkata, “Now he that planteth and he that watereth are one” (Dia yang menanam dan yang mengairi adalah satu) [1 Kor. 3:8 – KJV]. Di dalam Teks Yunani, susunan kata Paulus adalah sama seperti yang di dalam Yohanes 10:30, namun tak seorangpun mengakui bahwa Paulus dan Apollos menyusun “satu eksistensi.” Lagipula, NIV menterjemahkan 1 Kor. 3:8 sebagai “ia yang menanam dan ia yang mengairi mempunyai satu tujuan.” Mengapa menterjemahkan ungkapan itu sebagai “adalah satu” di dalam satu tempat, tetapi sebagai “mempunyai satu tujuan” di dalam tempat lain? Dalam hal ini, menterjemahkan ungkapan yang sama di dalam dua jalan berbeda mengaburkan maksud yang jelas dari statemen Yesus di dalam Yohanes 10:30. Yesus selalu melakukan kehendak Bapa; dia dan Tuhan mempunyai “satu tujuan.”
    Kristus menggunakan konsep “menjadi satu” di dalam tempat lain, dan dari situ seseorang dapat melihat bahwa “satu tujuan” adalah apa yang dimaksud. Yohanes 11:52 mengatakan Yesus mati untuk membuat semua anak-anak Tuhan menjadi “satu.” Di dalam Yohanes 17:11,21 dan 22, Yesus berdoa kepada Tuhan agar para pengikutnya akan menjadi “satu” seperti dia dan Tuhan adalah “satu.” Kita berkesimpulan bahwa Yesus tidaklah berdoa agar semua para pengikutnya akan menjadi satu eksistensi atau “unsur” sama halnya ia dan Bapa adalah satu eksistensi atau “unsur.” Kita percaya maksudnya adalah Yesus sedang berdoa agar semua para pengikutnya menjadi satu tujuan sama halnya ia dan Tuhan adalah satu tujuan, suatu doa yang belum dikabulkan.
    Konteks Yohanes 10:30 menunjukan dengan meyakinkan bahwa Yesus sedang mengacu pada fakta bahwa ia mempunyai tujuan yang sama dengan Tuhan. Yesus sedang membicarakan kemampuannya untuk memelihara “domba-domba,” yang percaya, yang datang kepadanya. Ia berkata bahwa tak seorangpun bisa mengambil mereka ke luar dari tangannya dan bahwa tak seorangpun bisa mengambil mereka ke luar dari tangan Bapa. Kemudian ia berkata bahwa ia dan Bapa adalah “satu,” -yaitu tujuan- untuk memelihara dan melindungi domba-domba itu.

    (Sumber: biblicalunitarian.com)

  • MA`SUMNYA PARA NABI

    Ummat Islam meyakini bahwa para Nabi itu adalah ma’sum, tidak berdosa. Kalau pun mereka banyak beristighfar, banyak bersujud, dan banyak beribadah, itu adalah sebagai tanda syukur mereka kepada Allah.

    Mungkin ummat Kristen menyangka bahwa Yesus tidak pernah memohon pengampunan kepada Allah, karena hal itu memang jarang diceritakan dalam Injil. Tetapi bukan berarti Yesus jarang beristighfar. Sebagai hamba yang taat dan tawadhu, pastilah Yesus banyak beristighfar, banyak berdoa, dan banyak beribadah. Dan jika Anda jeli, maka Anda akan menemukan ayat ini:

    demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” [Markus 1:4]

    Adakah Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis? Ya, Yesus minta dibaptis. Dan Yesus, dibanyak kesempatan, memanjatkan doa dengan penuh khusyu kepada Allah. Ini menunjukkan lemahnya Yesus. Yesus tidak memiliki kuasa, kuasa Yesus berasal dari Allah, bukan dari dirinya sendiri. Yesus berbeda dengan Allah, Yesus bukanlah Allah.

    Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. [Matius 14:23]

    Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Matius 26:39]

    Jika Yesus itu Allah, untuk apa ia berdoa, beribadah, sujud, ruku, shalat menyembah Allah? Jelaslah bahwa Yesus bukanlah Allah.

  • KESETARAAN DAN PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

    Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan. Bahkaan Nabi Muhammad saaw bersabda, “Bangsa Arab tidak lebih mulya dari bangsa non-Arab. Bangsa non-Arab tidak lebih mulya dari bangsa Arab.” Walau beliau saaw adalah seorang Arab, tetapi beliau saaw tidak menganggap bahwa bangsa Arab adalah bangsa pilihan Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur`an:

    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

    Tujuan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukanlah supaya kita berbangga-banggaan (ashobiyah/fanatik) dengan suku atau bangsa kita, melainkan supaya kita saling berkenalan satu sama lain, saling memperkenalkan adat kebiasaan yang luhur, dan bukan untuk merendahkan suku/bangsa lain. Karena kemulyaan itu bukan terletak pada kebangsaan seseorang. Melainkan terletak pada ketaqwaannya.

    Inilah salah satu kesempurnaan Islam. Hal ini mungkin tidak dapat dijumpai dalam agama-agama lain. Dalam Hindu, kita mengenal kasta. Dalam Alkitab, kita dapat melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terhormat dan bangsa lain adalah bangsa binatang.

    (Yesus berkata:) “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. ” (Yohanes 4:22)

    Matius 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

    Matius 15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
    Matius 15:27 Kata perempuan Kanaan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

    Kami ragu bahwa kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut mulia Nabi Isa as. Rasanya tidak mungkin seorang Nabi utusan Tuhan itu begitu rasis. Jika kita melihat rasisme bangsa Yahudi dalam Alkitab, itu dapat sangat dipahami. Mereka menjadi rasis disebabkan terlalu lama dijajah oleh berbagai bangsa. Rasa dendam yang mendalam ini menjadikan mereka menderita suatu penyakit kejiwaan seperti schizophrenia. Dengan penuh dendam itulah mereka telah mengubah Kitab suci. Sehingga Alkitab yang dipegang Kristiani saat ini sudah tercemar, tak lagi suci. Kitab suci macam apa yang menyebut bangsa Yahudi Zionis sebagai sumber keselamatan?

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah: 8-10)

    Schizophrenia type paranoid adalah penyakit yang sangat berbahaya. Penderita mempunyai kecerdasan yang bekerja dengan baik. Ia melihat dan mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, tetapi sayang benar, ia memiliki ‘perasaan teraniaya’ dan perasaan cemburu yang keras. Tepatlah jika Ahmad Dhani dan John Lennon menyebut diri mereka sebagai lelaki pencemburu (jealous guy). Penderita penyakit ini sangat mencurigai orang-orang lain di sekelilingnya. Mereka sering terlihat normal. Tetapi setiap perasaan sakit hati yang ditahan-tahan itu timbul, ia tidak ragu-ragu untuk melukai seseorang jika ia berpendapat bahwa orang itu ‘bermaksud jahat terhadapnya’. Bahkan mungkin ia dapat melakukan pembunuhan. Ia memiliki ingatan yang tajam mengenai nama-nama, tanggal-tanggal dan peristiwa-peristiwa. Ia menggunakan semua hal tersebut dalam usahanya untuk ‘membalas dendam’. (Modern Ways to Health oleh Clifford R. Anderson, M.D)

    Penderita schizophrenia cenderung perfeksionis. Dia merasa bahwa dirinya atau kelompoknya, sukunya, bangsanya, atau rasnya adalah yang terbaik. Dan dia merendahkan orang atau kelompok lain. Serta merasa bahwa dirinya adalah kebenaran. Sedangkan yang bertentangan dengan dirinya adalah salah. Nabi saaw bersabda, “Kesombongan adalah merasa diri paling baik, merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran.”

    Kita telah melihat bagaimana sombongnya bangsa Yahudi Zionis. Kita juga telah melihat bagaimana bangsa Mesir kuno di bawah pengaruh Firaun. Atau bangsa Jerman di bawah pengaruh Hitler. Hitler merasa bahwa rasnya adalah yang terbaik. Hitler memang salah satu manusia yang menderita schizophrenia. Maka, tidak mungkin Isa as telah membuat pernyataan rasis seperti itu. Dan tidak mungkin Alkitab itu dapat disebut kitab suci.

    Adapun Islam diturunkan untuk menghapuskan rasisme. Bahkan Nabi saaw begitu marah ketika ada seseorang yang mengejek Bilal bin Rabah karena Bilal adalah seorang Habsyi (Ethiopia). Bagi Nabi saaw, apa pun warna kulitnya, semua manusia itu sama. Yang membedakan kemulyaan seseorang dari yang lainnya adalah ketaqwaan mereka kepada Allah. Betapa indah ajaran Islam ini. Nabi saaw tidak menyebut bangsa Ajam (non-Arab) sebagai anjing atau babi. Justeru beliau bersabda, “Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa Ajam, dan tidak ada kelebihan bangsa Ajam atas bangsa Arab.” Maka pahamilah wahai ummat Islam, terutama ummat Islam di Indonesia, bahwa suku yang satu tidak lebih mulya dari suku yang lain! Suku Betawi, Jawa, Sunda, Ambon, Batak, Bugis, atau suku apa pun, selama dia Muslim, dia adalah saudara kita.

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena ni`mat Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

    Berhentilah dari menganggap sukumu sebagai suku terbaik! Dan berhentilah dari menganggap suku lain sebagai ‘pembawa kerusakan’! Jauhilah penyakit-penyakit tersebut! Sungguh, penyakit seperti itu adalah sangat mengerikan. Seorang penderita schizophrenia dapat membunuh seseorang yang dianggap sebagai ‘pendosa’ karena pemikiran orang itu berbeda dengan pemikirannya. Padahal, sesuatu yang menurut dia salah, belum tentu salah menurut Tuhan. Dan orang tersebut bukanlah Tuhan yang selalu benar. Bukan pula seorang Nabi yang maksum. Maka jauhilah penyakit tersebut. Dan jadilah kita sebagai orang-orang yang bersaudara!