Kategori: Menanggapi Kristen

  • YESUS TIDAK MENGANGKAT PEDANG

    Orang Kristen berkata bahwa Yesus tidak mengangkat pedang. Benarkah? Betapa dustanya.

    “Tetapi sekarang,” kata Yesus, “siapa mempunyai dompet atau kantong, harus membawanya; dan siapa tidak mempunyai pedang, harus menjual jubahnya untuk membeli pedang. [Lukas 22:36]

    “Tuhan,” kata pengikut-pengikut Yesus, “lihat, di sini ada dua pedang.” “Sudahlah!” *Sudahlah: atau Sudah cukup.* jawab Yesus. [Lukas 22:38]

    Apakah kalian sangka Aku datang untuk membawa perdamaian ke dunia? Tidak, bukan perdamaian, melainkan perlawanan. [Lukas 12:51]

    “Janganlah menyangka bahwa Aku membawa perdamaian ke dunia ini. Aku tidak membawa perdamaian, tetapi perlawanan. [Matius 10:34]

    JIHAD BUKANLAH BARBAR

    Apakah trinitarian sungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa jihad adalah barbar? Tidak, pernyataan itu hanya muncul dari kedengkian mereka terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAAW. Buktinya mereka tidak menyebut Raja Daud sebagai Raja barbar.

    Dalam Islam, peperangan itu memiliki aturan yang ketat, diantaranya tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia, tidak boleh merusak pohon, dsb. Tapi lihat bagaimana moral pasukan salib? Bagaimana moral tentara George W. Bush? Betapa barbarnya!

    Lihat pula bagaimana pemaafnya Rasulullah ketika dihadapkan dengan orang-orang Thaif. Silahkan Anda lihat artikel dalam kategori Sejarah.

  • YOHANES 20:28 (Ilahi Rabbi)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” [Yohanes 20:28]

    Yesus tidak pernah menunjuk dirinya sebagai “Allah” di dalam pengertian yang absolut, lalu apa yang dapat dijadikan pelajaran dari tindakan Tomas yang memanggil Yesus “Allahku”? Bahasa Yunani menggunakan kata theos, (“Allah” atau “allah”) dengan suatu maksud lebih luas dibanding saat ini. Di dalam bahasa dan budaya Yunani, “ALLAH” (semua naskah awal Alkitab telah ditulis dalam huruf kapital semua) adalah suatu sebutan deskriptif berlaku untuk bidang otoritas/kekuasaan, mencakup Gubernur Roma (Kis 12:22), dan bahkan Setan (2 Kor. 4:4), dan juga Musa (Keluaran 7:1). Kata itu telah digunakan seseorang dengan otoritas ilahi. Itu tidaklah terbatas pada pengertian kemutlakannya sebagai nama pribadi untuk Tuhan Yang Tertinggi seperti yang kita gunakan hari ini.

    Dan rakyatnya bersorak membalasnya: “Ini suara allah dan bukan suara manusia!” [Kis 12:22]

    yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. [2 Kor. 4:4]

    Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. [Keluaran 7:1]

    Dengan bahasa dimasanya, ungkapan yang digunakan oleh Tomas pasti dapat dimengerti. Pada sisi lain, untuk membuat Tomas mengatakan bahwa Yesus adalah “Allah,” sebagai 1/3 dari Tuhan tritunggal, nampak tidak masuk akal.

    Terlalu sulit untuk pengetahuan para murid; dan kita tidak punya pengetahuan bahwa mereka mengenali sifat Kristus yang ilahi sebelum pencurahan Roh Kudus. Ungkapan ini adalah suatu penandaan saja “seseorang yang aku hormati”; karena kata ‘Allah’ tidaklah selalu digunakan berkenaan dengan doktrin yang tegas.

    Ingat, adalah umum pada waktu itu untuk menyebut wakil Allah sebagai “Allah,” dan Perjanjian Lama punya banyak contoh untuk itu. Ketika Yakub berjuang dengan “Allah,” adalah jelas bahwa sebenarnya ia bergumul dengan seorang malaikat (Hosea 12:4).

    Ada banyak pakar Trinitas yang mengakui bahwa tidak ada pengetahuan tentang Doktrin Tritunggal ketika Tomas berbicara seperti itu. Sebagai contoh, jika para murid percaya bahwa Yesus adalah “Allah” di dalam pengertian yang banyak dilakukan Kristian, mereka tidak akan “melarikan diri” beberapa hari sebelum ia ditangkap. Pengakuan dua murid yang berjalan ke Emmaus mempertunjukkan pemikiran para pengikut Yesus pada saat itu. Mereka berkata Yesus “adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah…dan mereka menyalibkan dia; tetapi kita telah berharap agar ia adalah yang akan menebus Israel” (Lukas 24:19-21). Alkitab begitu jelas berkata bahwa para murid ini berpikir bahwa Yesus adalah seorang “nabi.” Sungguhpun Kristian berkata bahwa Yesus adalah Kristus, mereka mengetahui bahwa menurut Perjanjian Lama, Kristus, yang diurapi Tuhan, adalah seorang manusia. Tidak ada bukti menurut Injil di mana para murid Yesus percaya bahwa dia adalah Allah, dan Tomas, tidaklah memunculkan suatu theologi baru.

  • Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?

    Habib AhmadAlhamdulillah seluruh agama yang mau melihat dan mempelajari Islam dari sumbernya maka sungguh pasti akan mendapatkan bahwa Islam adalah agama yang menyebar kasih sayang dan agama yang mengajarkan keteraturan serta kedisiplinan. Apa yang dimaksud dengan sumbernya? sumber agama Islam adalah AlQur’an dan Sunnah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam. Bahkan para pemeluk islampun apabila kita perhatikan, maka kita akan dapati mereka adalah cermin AlQur’an dan Sunnah, mereka adalah manusia-manusia yang mengenal kasih dan sayang, manusia-manusia yang mengenal keteraturan dan kedisiplinan, mereka adalah orang yang terbaik dari segala suku bangsa dan agama. (lebih…)

  • Saul to Paul

    Dalam banyak hal diri Paulus memang misterius. Tapi dari hasil penelitian serius, Paulus ternyata adalah manusia rekayasa Romawi yang seluruh hidupnya dipakai untuk menghadapi kedatangan raja Israel yang dinubuatkan oleh nas-nas kitab suci itu (Mesias Yesus).  Dusta apapun menurut kata orang yang dia lakukan melalui pengajarannya, dia hanya mau menjadi apa adanya dirinya sesuai dengan kelahirannya yang direkayasa oleh para konspirator Romawi. Untuk konspirasinya itu Romawi melakukan 2 rencana besar: Rencana I, membunuh anak-anak 2 tahun ke bawah semacam yang dilakukan Firaun Mesir. Rencana II, antisipasi kalau-kalau Rencana I gagal seperti kejadian Musa (lolos), yaitu dengan merekayasa mesias tandingan untuk menghadapi secara pribadi mesias yang asli nantinya. Romawi juga memanfaatkan ini untuk melunakkan hati sebagian imam Israel, seolah-olah mereka akan mempersiapkan kebebasan untuk Israel.
    Tentunya mesias tandingan inilah yang dikondisikan sebagai mesias yang asli oleh konspiratornya, diterima seperti itu oleh mereka yang merasa dipersiapkan kebebasannya. Tampaknya pandangan itu terbentuk dengan baik karena tidak ada berita apapun tentang Yesus selama kurang lebih tiga puluh tahun. Apalagi perkembangan otak Paulus yang begitu luar biasa. Orang-orang yang mengetahui keadaan Paulus tidak akan ragu-ragu  mengatakan ‘orang ini pasti akan menjadi orang besar’.
    Nama lahir Paulus adalah Saulus. Paulus itu nama baptisnya. Ibunya suku Binyamin kalangan Farisi, kelompok yahudi yang terkenal ketat tradisi keyahudiannya tapi disebut oleh Yesus sendiri keturunan ular beludak, bapaknya seorang penguasa Romawi yang namanya dirahasiakan, sangat mungkin itu Raja Herodes yang pernah didatangi oleh orang-orang majusi itu.
    Romawi secara licik berpura-pura menjanjikan kebebasan bagi Israel. Mengajak para imam untuk mempersiapkan mesias yang dinubuatkan itu bersama-sama dengan Romawi sendiri.  Tapi menggunakan anak yang akan dilahirkan dari suatu ‘sandiwara’ yang diatur dengan sangat rapi oleh Romawi.
    Tampaknya bagi para konspiratornya, nama yang paling cocok untuk anak ini adalah Saulus (nama raja black list dalam sejarah Israel), supaya mentalitas yang dihasilkan nantinya tidak merugikan pihak Romawi. Akal-akalan ini tidak disadari oleh para imam. Maka dalam sandiwara itu mereka mendatangkan seorang wanita suku Binyamin (suku raja black list itu) untuk mengandung benih yang telah direncanakan, mungkin dengan ‘kecelakaan’ yang diatur sedemikian rupa. Maka ketika waktunya tiba, lahirlah anak rekayasa, ‘calon’ mesias Israel – Saulus! seperti nama raja yang kacau dalam sejarah Israel.
    Gombal itu pada akhirnya sedikit-banyak menyenangkan hati sebagian imam Israel karena merasa dipersiapkan kebebasan mereka (tentunya hanya imam-imam tertentu yang tahu akan persiapan tersebut). Siapa tahu yang terjadi nanti benar-benar seperti yang dijanjikan Romawi, yaitu Israel mendapatkan mesias seperti yang mereka harapkan. Imam-imam Israel itu betul-betul dikibuli habis-habisan oleh Romawi, itulah yang mereka tidak sadari.
    Sang ‘calon’ mesias diserahkan untuk dididik secara ketat dalam hal keagamaan dibawah pengawasan salah seorang imam terpandang bernama Gamaliel, tidak diserahkan kepada ibunya di Tarsus makanya ia tidak banyak dikenal, namun di belakang punggung Gamaliel, Romawi juga mempunyai planning sendiri tentang pendidikan Paulus, yaitu didoktrin secara halus agar suka membela Romawi dan senang pada kekuasaan. Tidak mungkin Romawi membiarkan Paulus berkembang tak terkontrol yang dapat merugikan mereka sendiri. Sangat kuat dugaan Paulus juga mendapat teman dekat, bahkan seorang saudara romawi sedarah, yaitu anak Raja Herodes sendiri yang diberi nama Herodes juga yang kemudian menjadi raja pengganti untuk Wilayah Galilea. Hal ini adalah untuk menciptakan ikatan batin sedemikian rupa kepada Romawi. Jika bapak asli Paulus adalah Raja Herodes yang pernah didatangi oleh orang-orang majusi itu, berarti Paulus memang mempunyai saudara romawi sedarah, yang juga bernama Herodes. Tapi hal ini tidak banyak diketahui orang untuk menjaga hal-hal tertentu.
    Pemberian nama Herodes terhadap anak raja Herodes berkaitan erat dengan konspirasi yang dibuat atas diri Paulus yang diberi nama lahir Saulus ini. Herodes adalah nama raja, Saulus juga nama raja, mesias itu juga adalah raja. Suatu perencanaan yang sangat nyata.
    Selain itu Paulus juga diberi kawan yang lain, yang kemudian menjadi guru agama yang dipandang aman oleh Romawi. Mungkin yang satu ini disetting untuk menjadi penengah antara Herodes dan Paulus apabila suatu hari nanti mereka sama-sama menjadi raja di tanah Yehuda, terlepas dari soal mesias yang asli. Betul-betul terapi psikologis yang luar biasa. Darah romawi dalam dirinya, adanya saudara romawi sedarahnya, didoktrin suka kekuasaan dengan dipahamkan sebagai mesias untuk Israel, diberi nama Saulus, – benar-benar suatu strategi yang luar biasa untuk menghadapi kedatangan ancaman terhadap Romawi – raja Israel – sekaligus untuk mengikat sang mesias rekayasa ini, supaya nantinya ia menjadi mesias yang tetap loyal kepada Romawi.
    Melalui perilaku teman setia dan saudara romawi sedarahnya, Herodes, yang tercatat membunuh bapaknya sendiri untuk mengambil-alih kekuasaan, sedikit banyak Paulus juga pasti mempunyai emosi yang tidak jauh, karena seseorang bisa dinilai dari kawan dekatnya! Bedanya, Paulus lebih mampu menahan diri, kelihatan lebih sabar dan bijaksana, karena ia mendapat pendidikan agama yang sangat ketat. Tetapi akhirnya nafsu kekuasaan itu tampak juga dengan jelas ketika ia begitu bernafsu memberantas pengikut-pengikut Yesus sampai keluar Yerusalem. Jelas sekali Paulus merasa amat terserang dengan munculnya mesias lain yang mendapat dukungan dari banyak orang Israel itu, baik di Yerusalem maupun di luar Yerusalem. Rencana Romawi dalam diri Paulus benar-benar berjalan sesuai harapan.
    Ia tidak rela membuang nama Saulusnya itu secara total disaat ia harus memilih nama baptis ketika ditarik kedalam jemaat. Padahal seharusnya dia tahu nama itu atau bunyi yang serupa dengan itu tidak etis dipakai oleh seorang Ibrani yang relijius, seorang yang calon Mesias Israel pula. Semua orang tahu Raja Saulus black list itu musuh Raja Daud, sedangkan mesias yang akan bangkit itu semua orang juga tahu akan disebut Anak Daud. Kombinasi settingan ibu dari Suku Benyamin, nama Saulus dari Suku Benyamin yang tercatat sebagai raja dalam sejarah, bentukan emosi yang dijejalkan kepadanya sejak kecil melalui nama itu, membuat Paulus tidak sanggup merubah total nama itu. Rencana Romawi berjalan mulus. Mungkin Paulus menghibur dirinya dengan bertekad mau memperbaiki nama baik Suku Benyamin dengan berjanji kecil-kecilan pada dirinya sendiri untuk tidak mengikuti langkah-langkah Raja Saulus black list itu, jika nanti ia benar-benar menjadi Mesias Israel.
    Settingan mentalitas dan struktur emosi yang sedemikian rupa itu membuat Paulus tidak sanggup untuk menjadi sekedar sebagai bawahan saja ketika dia ditarik ke dalam jemaat, apalagi levelnya secara hirarkis dalam jemaat hanyalah dibawah murid-murid. Ditambah dengan nalar mereka yang jauh ketinggalan dibandingkan Paulus. Untuk hal nalar Paulus memang ada diatas, tapi untuk masalah kerendahan hati murid-muridlah yang diatas.
    Walaupun Yesus sudah pergi meninggalkan Yerusalem saat dia masuk jemaat, tidak ada jalan buat Paulus menempati posisi yang lebih tinggi dari yang dia dapatkan saat itu, sangat berbeda dari apa yang selalu dikondisikan oleh para pendidiknya dan yang dia kira tentang dirinya selama ini. Ternyata, pengetahuan dan pengalaman Paulus tidak berlaku dalam jemaat Yesus. Ini membuat Paulus sesak dada, seolah-olah mendapat nasib yang tidak adil dari Tuhan. Berada dalam jemaat Tuhan yang sesungguhnya tentunya adalah segalanya bagi Paulus, tetapi berada disitu untuk menjadi ‘kambing congek’ nanti dulu bagi Paulus. Ternyata menjadi bagian dari jemaat Tuhan yang sesungguhnya tidak seseru yang dia bayangkan. Membosankan!
    Yesus sendiri membuat antisipasi yang cemerlang dengan tidak membaptisnya sendiri, dia hanya menyuruh orang yang levelnya bahkan dibawah murid-murid, supaya di masa mendatang dia nggak menyerobot tempat murid-murid yang sudah disetting oleh Yesus sendiri, dengan berkat dan pengesahan darinya yang diakui dan disaksikan oleh yang lain. Kalau memang Paulus bagi Yesus itu sepenting anggapan orang-orang Kristen, tidak mungkin Yesus tidak membaptisnya sendiri. Dan tidak benar itu tidak dilakukan oleh Yesus karena ia sudah  menjadi arwah.
    Ingat, Yesus pernah makan ikan goreng di hadapan Thomas sambil mengatakan dirinya bukan arwah tapi masih daging dan tulang. Tidak mungkin hadir hanya untuk makan ikan goreng di depan Thomas yang dikenal sebagai the doubting Thomas itu lebih urgen dari hadir untuk membaptis Saulus yang menurut pengakuan orang-orang Kristen akan menjadi andalan Yesus, melebihi dari murid-murid. Kalau Yesus yang membaptiskan, itu bukan hanya soal mengesahkan seseorang menjadi anggota jemaat, tetapi juga merupakan suatu pernyataan tentang nilai orang yang bersangkutan bagi Yesus, tapi jika ia berkhianat seperti Yudas Eskariot, maka semua nilai itu gugur. Ketika Yesus mengatakan yang dibawah ini, waktu itu Yudas Eskariot masih termasuk jemaat murid-murid Yesus

    Mat 19:28  >> Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.  

    Satu-satunya cara buat Paulus memuaskan kecenderungan hatinya itu adalah memisahkan diri dari jemaat. Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain dari ia harus membuat ajaran lain!! Ketika dia mempunyai ajaran sendiri, tentu dia akan menjadi tuan dari semua orang yang bergabung kedalam ajaran tersebut (Ga 1:15-17). Dengan begitu dia bisa melejit melebihi posisi Petrus, bahkan bisa menempati posisi Yesus dan menuai hak-hak seorang mesias. Caranya? Merombak kembali perjanjian Yesus, atau membuat perjanjian lebih baru lagi  diatas perjanjian baru Yesus (Ga 2:9). Perjanjian Yesus itu justeru harus dianggap masih termasuk dalam Perjanjian Lama.
    Dalam rombak-konstruksi yang akan dia lakukan itu, tentu saja dia tidak boleh melupakan kejadian dirinya yang lahir diluar prosedur hukum yang wajar, diluar garis tradisi yang baik, kelahiran yang tidak mengenal hukum. Ingat ibunya orang Farisi Tarsus dari suku Benyamin dan ia mengakui mempunyai darah romawi (dari bapak yang tidak pernah jelas). Berkaitan dengan itu, maka ajaran itu adalah MEMBATALKAN HUKUM.
    Dengan pertimbangan kejadian dirinya sendiri itu, tidak mungkin ia menjadi mesias yang mengajarkan untuk menggenapkan hukum seperti yang dilakukan oleh Yesus. Hanya saja supaya mudah dalam menawan pengikut, nama Yesus harus tetap dibawa-bawa. Namun sebenarnya ketika dia menyebut nama Yesus, bukanlah Yesus yang dia maksudkan, tetapi pikiran terkutuknya sendiri yang telah meninggalkan jemaat Yesus (Roma 9:3). Di depan layar ia menampakkan membatalkan hukum itu hanya berkaitan dengan kegagalan Israel menerima rekonstruksi hukum Musa dan pengajaran para nabi melalui Yesus.
    Di kemudian hari ia membuat keputusan yang tampak sangat licik dan penuh putus asa, yaitu  mengambil-alih kemesiasan Yesus dengan memanfaatkan isu kematian Yesus di tiang yang menjadi persengketaan sepanjang sejarah itu. Ia mengatakan Yesus mati di tiang lalu bangkit hidup dalam dirinya. Kenapa dia harus menyatakan itu? Logikanya sederhana, harus ada kematian yang mematikan hukum dan penggenapannya untuk membenarkan kelahiran atau kejadian dirinya yang tidak mengenal hukum itu, dengan itu menjadi pengajar yang membatalkan hukum. Tapi dengan demikian secara otomatis ia menghapuskan segala sesuatu tentang Yesus dalam ingatannya, kecuali ‘kematian’ di tiang salib yang amat penting baginya.
    Terpaksa harus ada yesus-imajiner sebagai pelaku ‘yesus-setelah- kematian’ , yang mana tidak lain dan tidak bukan adalah pikirannya sendiri. Tentu tidaklah sulit untuk mengadakan imajiner. Dengan semua itu, maka terwujudlah cita-citanya menjadi mesias seperti yang ketahuinya pantas dia dapatkan selama ini!, padahal dia termasuk orang yang mengetahui dengan nyata bahwa Yesus tidak mati di tiang.
    Haruslah diketahui bahwa pertemuan di gurun itu adalah pertemuan langsung dengan Yesus dalam keadaan masih hidup, bukan pertemuan dengan arwah dalam wujud cahaya yang menyilaukan. Untuk melindungi ajaran kematian-kebangkita nnya yang secara dusta telah membebaskannya dari kepemimpinan Kefas itu, dan yang telah memungkinkan ia mengangkat dirinya menjadi rasul itu, maka ia harus menceritakan pertemuan di gurun itu dalam bahasa mitos supaya terkesan pertemuan itu pertemuan dengan Yesus arwah.

    Yang dia maksudkan dengan CAHAYA dalam pengakuannya tentang pertemuan itu  (Kis 9:3) tidak secara langsung ia maksudkan pada wujud fisik Yesus, tetapi lebih pada perkataan-perkataan Yesus yang bagaikan cahaya menyialaukan, karena dengan tangkas membuktikan dengan nas-nas kitab suci, bahwa orang yang diserahkan untuk dibunuh itu sama sekali tidak palsu seperti anggapan mereka semua, karena orang itu tidak mati di tiang salib seperti janji nas kitab suci. Jadi orang yang diserahkan itu benar-benar mesias yang asli yang ditunggu Israel. Disitu Paulus yang luas ilmu dan pengalaman itu tidak bisa berkutik.

    Menyamar sambil menjelaskan ketidakmatiannya seperti kepada Paulus itu, bukan hal yang pertama kali dilakukan oleh Yesus. Yang seperti itu pernah dilakukannya juga terhadap dua muridnya sendiri dalam perjalanan menuju Emaus, sebagai awal dari rangkaian misi-40-harinya membuat klarifikasi banwa dirinya tidak palsu, karena ia tidak mati di tiang. Dalam rangka menyatakan kepada semua murid-muridnya yang sempat terpengaruh oleh isu dan tidak mengerti rencana Tuhan itu, bahwa, sekali lagi, dirinya tidak palsu, karena ia tidak mati di tiang!! Itu aja pokoknya yang perlu mereka ketahui dan ingat-ingat, sebelum dia tarik dari tugas olehNya.
    Terhadap Paulus Yesus juga menyampaikan itu dalam penyamaran yang hati-hati, hingga kemudian dibukanyalah penyamarannya itu di hadapan Paulus setelah semuanya jelas, seperti yang juga ia lakukan kepada murid-muridnya sebelum itu.
    Hal itu membuat Paulus jatuh tersungkur gemetar, dan buta selama 3 hari. Itu bukan matanya yang buta, tapi ia kehilangan pengangan untuk sementara waktu. Dibahasakan secara mitos juga. Maksudnya ia tidak tahu harus meyakini yang mana. Tidak mudah untuk meyakini sesuatu dalam waktu sesingkat itu, sementara mengingkarinya tidaklah mungkin mengingat bukti-buktinya yang demikian nyata. Apa yang diketahuinya selama ini, bahwa orang yang dianggap palsu itu ternyata benar-benar utusan Allah, dan bahwa dirinya yang calon mesias untuk Israel, juga ternyata palsu belaka. Tentang Romawi, tentang imammat Israel, tentang kondisi keagamaan yang ada saat itu, semuanya palsu, jauh dari kebenaran yang didengarnya sendiri melalui mesias yang asli sepanjang perjalanan menuju Damsyik itu!!
    Mungkin juga saat itu ia sudah menangkap sekilas bahwa bisa jadi dirinya anti-kristus yang sudah diramalkan itu. Disamping itu, sebagai orang yang mendapat pengajaran agama yang teliti, ia dihajar habis-habisan oleh perasaan bersalah yang amat mendalam karena ia juga bertanggungjawab terhadap pemberantasan atas umat Allah termasuk atas tewasnya Stefanus, yaitu umat dari Tuhan yang selama ini ia sendiri amat agung-agungkan, Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub. Siapa yang tidak akan jatuh tersungkur dalam kondisi seperti itu?

    Di kala Paulus sudah masuk jemaat, walaupun ia ikut serta mendukung pemberitaan yang dilakukan oleh murid-murid, terapi psikologi yang diterapkan oleh Romawi atas dirinya sejak kecil tetap bekerja dengan sangat baik sesuai harapan Romawi. Yaitu, ia relijius tapi haus kekuasaan, nggak jauh lah dari saudaranya Herodes yang membunuh bapaknya sendiri itu. Akibatnya ia juga tidak pernah bisa berlaku setia kepada Kefas dan murid-murid yang menjadi soko guru jemaat, sehingga ia dirasuki oleh pikiran-pikiran yang dari sudut pandang tertentu merupakan pikiran terkutuk, yaitu ingin memisahkan diri dari kebenaran. Itu ia akui sendiri dengan seolah-olah menunjukkan rasa prihatin atas terusirnya bangsanya dari Kerajaan Allah, yang mana akan digantikan oleh bangsa lain yang akan memetik buah dari kerajaan itu (Roma 9:3, Matius 21:43)

    Mengetahui kejadian dan kelahiran dirinya yang tidak sesuai prosedu hukum itu, Paulus menyadari dirinya memang dibangkitkan sebagai anti-kristus sejak dalam rahim ibunya, namun semuanya dia sampaikan dengan pernyataan yang harus diputar-balik sedemikian rupa supaya terlihat sebagai malaikat Kristus yang asli, untuk bisa menawan orang-orang ke dalam jemaat kematian-kebangkita nnya yang harus membatalkan hukum. Tidak ada istilah dusta bagi anti-kristus yang membatalkan hukum, dan memisahkan diri dari tubuh Kristus itu.
    Ga 1:15-17 >> 15  Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya,  16  berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;  17  juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.  
    Yang bersemayam dalam dirinya itu bukanlah Yesus seperti yang ia propagandakan, melainkan roh Iblis yang dinyatakan kedalam dirinya lantaran ia tidak pernah bisa berlaku setia. Jemaat yang dibangunnya bukan kasih karunia untuk kemuliaan Tuhan seperti yang ia propagandakan, melainkan wujud ia menarik orang secara licik kedalam keterkutukan yang sama seperti dirinya dalam dusta yang tak perlu disesalkannya (Roma 7:3). Dia mengaku sebagai rasul untuk bukan-yahudi bukan karena ia dipilih untuk itu, tapi karena ia sudah putus asa mengharapkan karunia Allah melalui menghormati hukum Allah seperti yang diajarkan Yesus dan para nabi dengan beralasankan kelahirannya yang diluar prosedur hukum. Ia tidak sanggup melawan bentukannya.
    Tidaklah mungkin Tuhan mengajarkan menggenapkan hukum dan membatalkan hukum sekaligus. Dalam keadaan seperti itu, hanya mungkin apabila yang satu dari Tuhan sedangkan yang lainnya dari Iblis.
    Apakah yang menggenapkan hukum ataukah yang membatalkan hukum yang berasal dari Tuhan? Itu tidaklah terlalu sulit melacaknya, jika kita berlaku jujur ketika membuka Alkitab. 
    2 Petrus 3: 17 >> Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.  
    Terbukti akhirnya pengajaran Paulus yang ia propagandakan sebagai ajaran Yesus Nazareth itu tidak berpusat di Yerusalem – tempat di mana Yesus Nazareth masuk disertai pengikut-pengikutny a sambil mengendarai anak keledai, dimana ia disambut dengan pekikan “Hosana Anak Daud!!”, melainkan di Romawi, jauuuuhhh dari Yerusalem. Namun sebelum ia sempat menjadi Imam Besar dalam Kerajaan Romawi yang menjadi sasarannya, ia dibunuh oleh Romawi sendiri. Paulus diciptakan oleh Romawi, dan akhirnya dihancurkan kembali oleh Romawi.
    Ia sebenarnya tidak bekerja untuk Israel, sekalipun secara lisan ia mengaku begitu, jadi dusta apapun yang dilakukannya melalui membangun apa yang ia akui sebagai Kerajaan Israel itu tetap mempersembahkan kemuliaan kepada tuannya, yaitu Romawi dan tuhan orang Romawi. Orang-orang Israel yang dia maksudkan bukan lagi orang-orang Israel sendiri, melainkan orang-orang Romawi. Mereka itulah yang dia pandang sebagai anak-anak Abraham saat itu, yaitu anak-anak Abraham karena iman. Jadi Paulus hanyalah sesuatu yang memikat yang dipasang di tempat umum untuk menggoda orang-orang yang liwat.
  • PAULUS NABI PALSU

    Menurut Yesus, Nabi palsu itu ialah orang yang mengajarkan bahwa Yesus itu Tuhan, tetapi orang itu tidak pernah bertemu Yesus dan tidak dikenal oleh Yesus. Menurut Prof. Dr. C. Groenen OFM dan Harold Coward, orang yang mengajarkan bahwa Yesus itu Tuhan, tetapi orang itu tidak pernah bertemu Yesus dan tidak dikenal oleh Yesus ialah Saul atau Paulus si Farisi.

    Matius 7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

    Matius 7:21-23 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

    Lihatlah ayat ini wahai orang-orang Kristen yang sok ngaku-ngaku bisa membuat keajaiban dengan nama Yesus. Ternyata Yesus berkata bahwa kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Ajaranmu adalah ajaran orang Farisi, ajaran orang munafiq, ajaran Paulus si nabi palsu, Paulus si agen Farisi.

    Matius

    15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:

    15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

    15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

    15:10 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka:

    15:11 “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

    15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?”

    15:13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.

    15:14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”

    Paulus telah menghalangi orang dari Kerajaan Sorga dengan mengajak manusia untuk masuk ke dalam Kristen, suatu ajaran yang dia ciptakan di tahun 42 Masehi.

    Matius

    23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

    23:14 [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.]

    23:15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

    Paulus telah mengarungi lautan untuk mengajarkan ajaran sesatnya. Bahkan Paulus telah menentang pewaris da’wah Yesus. Pewaris da’wah Yesus itu antara lain adalah Petrus.

    Kisah Para Rasul

    20:29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.

    20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.

    20:31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.

    20:32 Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.

    Matius

    16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

    16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

    Galatia 2:11 Tetapi waktu Kefas (Petrus) datang ke Antiokhia, aku (Paulus) berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.

  • TAMU ABRAHAM

    Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah. [Kejadian 18:1-2]

    Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, hal ini tidak bisa dipahami secara harfiah. Tuhan memperlihatkan bukti-bukti eksistensi-Nya, ini baru bisa dimengerti. Siapakah tiga orang itu? Tentu saja malaikat yang datang untuk mengabarkan berita gembira dan berita menakutkan. Apakah tiga orang itu Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus? Itu adalah konyol. Jika ketiganya dapat dilihat Abraham, lalu mengapa dikatakan bahwa Tuhan itu tidak dikenal dan belum pernah ada yang melihatnya, dan agar dikenal, maka Dia mengirim Yesus untuk memperkenalkan Tuhan kepada dunia? Bukankah Abraham telah melihat dan mengenal Tuhan? Jelaslah bahwa Tuhan itu dapat ‘dikenal’ dan ‘dilihat’ dengan melihat dan memikirkan ciptaan-Nya.

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. [QS. Ali Imran (3): 190-191]

    Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Salaman” (Selamat). Ibrahim menjawab: “Salamun” (Selamatlah), maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut.” Dan istrinya (Sarah) berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum (karena gembira). Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir putranya) Yakub. [QS. Hud (11): 69-71]

    Jadi jelaslah bahwa yang menemui Abraham itu adalah malaikat-malaikat utusan Tuhan, dan bukanlah mereka itu Tuhan.

    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-An’am (6): 103]

    * Bandingkan dengan Kejadian 18: 6-15. Di situ dikatakan bahwa Sarai tertawa. Betapa tidak sopannya.

  • Malaikat TUHAN

    Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. [Kejadian 16:7]
    Orang Kristen percaya bahwa yang menjumpai Hajar, isteri Nabi Ibrahim as, adalah Tuhan. Maka mereka menulis kata ‘malaikat’ dengan mengkapitalisasi huruf ‘m’ menjadi ‘Malaikat’. Dan ini mereka jadikan dalil bahwa Tuhan itu dapat dilihat manusia di dunia ini jika berbentuk malaikat. Padahal yang datang menemui Hajar itu bukanlah Tuhan, tetapi malaikat Tuhan, dengan huruf ‘m’ kecil. Kapitalisasi adalah berdasarkan asumsi bahwa yang dilihat Hajar itu adalah Tuhan. Mengapa mereka berasumsi bahwa yang dilihat itu adalah Tuhan? Sebab dalam Kej. 16:13 ditulis: Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?”Tetapi dalam Terjemahan Lama ayat itu ditulis: Maka dipanggil Hagar akan nama Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu: Allah Penilik; karena kata Hagar: Sungguhkah aku melihat Tuhan di sini, yang telah menilik akan daku?Ayat ini tidak bisa dijadikan dasar trinitas begitu saja. Sebab kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain.

    1. Yang menemui Hajar adalah malaikat Tuhan yang menyampaikan firman Tuhan. Maka Hajar tidak peduli kepada yang menyampaikan firman itu. Tetapi dia ‘memandang’ kepada Tuhan yang telah berfirman kepadanya melalui malaikat-Nya.

    2. Melihat Tuhan di dunia tidak bisa diartikan secara harfiah begitu saja. Ketika Anda melihat rumah ibadah yang sedang dibangun oleh para tukang bangunan, lalu Anda berkata, “Tuhan sedang membangun rumah-Nya.” Apakah ini berarti bahwa para tukang bangunan itu adalah Tuhan? Apakah Tuhan memang membutuhkan rumah untuk tinggal? Tentu saja tidak. Tetapi Anda yakin bahwa Tuhan telah membangun bait-Nya melalui para tukang bangunan, dimana dalam bait itulah kelak Tuhan diagungkan. Ketika Anda melihat suatu keajaiban alam, misalnya ketika Anda melihat ada seorang dokter telah berhasil menyembuhkan orang yang sakit kanker kronis. Lalu Anda berkata, “Aku telah melihat Tuhan.” Apakah dokter itu adalah Tuhan? Tidak yang Anda lihat di sini bukanlah Tuhan, tetapi Anda telah ‘melihat’ Kekuasaan Tuhan.

    3. Tuhan tidak mungkin dilihat di dunia ini dalam pengertian umum. Sebab alam dunia ini memang diciptakan Tuhan dalam keadaan fana. Mana mungkin dunia yang fana ini dapat menampung Dia Yang Kekal.

    Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. [1 Raj. 8:27]

    Maka jelaslah bahwa Tuhan tidak mungkin dpat ditampung dunia, baik berupa malaikat ataupun berupa anak manusia.

    Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? [Bilangan 23:19]

  • KESAKSIAN TUHAN

    Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. [1Yoh.5:7-8]

    Ayat ini adalah ayat kebanggan ummat Kristen Tritunggal. Akan tetapi, justeru ayat ini adalah yang paling lemah. Jika Anda mau memperhatikan tanda kurung [ ] yang terdapat dalam ayat itu, maka Anda akan mengerti bahwa kata-kata dalam kurung itu adalah kata-kata yang diragukan keotentikannya. Dan jika Anda mau memperhatikan kata ‘satu’ yang ada dalam ayat itu, maka Anda akan bertanya-tanya, apa maksud dari kata ‘satu’? Apakah satu substansi, satu tujuan, atau satu kesaksian? Sebab ayat ini berbicara tentang kesaksian. Jadi satu kesaksian adalah lebih tepat. Coba bandingkan ayat dalam Terjemahan Baru itu dengan versi-versi lainnya di bawah ini:

    Terjemahan Lama (TL): Karena tiga yang menjadi saksi di surga, yaitu Bapa dan Firman dan Rohulkudus, maka ketiga-Nya itu menjadi satu; dan ada tiga menjadi saksi di bumi, yaitu Roh dan air dan darah, maka ketiganya itu menjadi satu tujuan.

    Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): Ada tiga saksi: *Ada tiga saksi: Dalam beberapa naskah ada tambahan: Saksi-saksi yang di surga ialah Bapa, Sabda dan Roh Allah –ketiga-tiganya merupakan satu. Saksi-saksi yang di bumi ialah: …* Roh Allah, air dan darah– ketiga-tiganya memberikan kesaksian yang sama.

    King James Version (KJV): For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one. And there are three that bear witness in earth, the Spirit, and the water, and the blood: and these three agree in one.

    Today’s English Version (TEV): There are three witnesses: the Spirit, the water, and the blood; and all three give the same testimony.

    Contemporary English Version (CEV): In fact, there are three who tell about it. They are the Spirit, the water, and the blood, and they all agree.

    Jadi, tiga di dalam satu di sini bukanlah tiga oknum dalam satu Ketuhanan, melainkan tiga pribadi yang berbeda dalam satu kesaksian yang sama, dalam satu kesepakatan, seiya-sekata; bukan satu substansi, bukan satu ketuhanan, atau apa pun berkenaan doktrin trinitas. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan doktrin trinitas. Tetapi bagaikan Darwin, mereka memanipulasi ayat ini untuk mendukung konsep Trinitas. Bahkan dalam TEV dan CEV kita tidak menemukan oknum-oknum Tritunggal (Bapa, Firman, dan Roh Kudus)

    Coba bandingkan dengan ayat Al-Qur`an berikut ini: “Allah menyatakan kesaksian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran: 18]

    Bahkan Dr. C.I. Scofield, D.D. dengan didukung oleh delapan orang D. D. (Doktor Ilmu Teologi) lainnya memberikan opini dalam bentuk catatan kaki tentang ayat ini: “Secara umum disetujui bahwa ayat ini telah disisipi dan bukanlah naskah yang sah.”

  • Bapa Di Dalam Aku

    Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. [Yohanes 17:21-22]

    Ayat ini juga menggambarkan seakan-akan Yesus dan Allah adalah satu substansi. Tetapi coba perhatikan lagi kata-kata yang kami garis bawahi. Adakah orang-orang Israel itu diharapkan menjadi satu substansi? Tidak, akan tetapi supaya mereka menjadi satu ‘ikatan’, seiya-sekata, saling menjaga, satu tujuan, satu kesaksian bahwa Allah itulah yang telah mengutus Yesus. Jika satu di sini diartikan satu substansi, maka bukan tritunggal lagi namanya, tetapi ‘banyak di dalam satu’. Sebab murid-murid Yesus juga ikut ambil bagian dalam persekutuan tersebut. Lalu apa sebenarnya arti dari A di dalam B, dan B di dalam A? Ini adalah suatu kiasan yang mempunyai beberapa makna.

    1. Ketika seseorang berkata, “Aku di dalam kamu dan kamu di dalam aku.” Ini bisa berarti bahwa aku adalah kamu, dan kamu adalah aku; siapa yang menyakiti kamu berarti telah menyakiti aku, siapa yang telah menghina aku berarti telah menghina kamu; penderitaanmu adalah penderitaanku, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Dari Nu’man bin Basyir ra katanya: Rasulullah saaw bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih-sayang dan saling cinta-mencintai adalah seperti satu tubuh. Bila salah satu anggotanya kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit.” [HR. Bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal] Rasulullah pernah berkata dalam Baiat Aqabah kedua: “Darahku adalah darah kalian. Dan darah kalian adalah darahku. Aku dari kalian, dan kalian dariku. Akan kuperangi orang yang kalian perangi. Dan aku akan berdamai dengan orang yang kalian ajak berdamai.” Apakah hal ini berarti bahwa Rasulullah satu substansi dengan para shahabat dari kabilah khazraj? Tentu saja tidak, akan tetapi ‘senasib dan sepenanggungan’.

    2. Ketika Yesus berkata, “Agar mereka juga di dalam kita.” Ini dapat berarti bahwa Yesus berharap agar mereka bersaksi bahwa Allah itu adalah Esa, dan bahwa Yesus adalah hamba dan utusan Allah. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” [Yohanes 17:3] Lihatlah bagaimana Allah itu bukan Yesus. Allah adalah Ilah Yang Esa, dan Isa al-Masih adalah utusan-Nya. Tiada Ilah yang benar kecuali Allah, dan Isa al-Masih adalah utusan Allah. Itu adalah kalimat syahadah (kalimat kesaksian) pada saat itu. Dan jika kita lihat ayat selanjutnya, yaitu:

    Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. [Yoh. 17:23]

    Maka di sini dapat terlihat bahwa Yesus berharap agar Allah mengasihi mereka seperti Allah mengasihi Yesus. Lalu bagaimana Kasih Allah terhadap Yesus? Kasih-Nya terhadap Yesus adalah seperti kasih seorang bapak kepada anaknya yang semata wayang. Dalam Yoh. 1:14 Alkitab Terjemahan Lama tertulis:

    Maka Firman itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita (dan kami sudah memandang kemuliaan-Nya, seperti kemuliaan anak tunggal seorang bapak), penuh dengan anugerah dan kebenaran.

    Jadi kata-kata dalam ayat-ayat seperti ini adalah penuh dengan kiasan. Untuk dapat memahaminya, kita perlu memahami budaya, gaya bahasa, dan ilmu-ilmu yang berkembang pada masa itu.

  • ALLAH JAMAK?

    Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” [Kejadian 1:26]

    Allah menyebut Diri-Nya dengan Kita/Kami dalam banyak ayat di dalam Alkitab dan juga dalam Al-Qur`an. Akan tetapi, tidak seorang pun berkata bahwa Al-Qur`an mengajarkan trinitas. Justeru Al-Qur`an mengatakan bahwa Allah itu Esa, Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Menggunakan ayat-ayat seperti ini sebagai dasar trinitas adalah tidak dapat diterima sama sekali.

    (lebih…)