Blog

  • MAKANAN YANG HARAM MENURUT TAURAT

    Betulkah binatang haram menjadi halal setelah Yesus dianggap disalib? Apa yang Alkitab ajarkan?

    Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (I Yohanes 2:3-4)
    Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah. (1 Yohanes 3:4)

    Milik Siapakah tubuh kita?

    Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. (I Korintus 3:16-17)

    Bagaimana tubuh kita harus dipersembahkan kepada Allah?

    Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

    Jadi, tubuh kita ini harus tetap kudus. Jangan sampai kemasukan sesuatu yang menjijikkan (rijsun/najis).

    “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi. Janganlah engkau memakan sesuatu yang merupakan kekejian.” (Ulangan 14:2-3)

    Maka segala makanan yang merupakan kekejian seperti babi (Ul. 14:8 TL), bangkai (Ul. 14:21), burung buas (14:12-14), kelelawar (Ul. 14:18), dan sebagainya itu tidaklah boleh dimakan orang-orang yang mengasihi Tuhan.

    Apakah Yesus membatalkan Hukum Torat?

    “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)

    Apakah setelah Yesus dianggap disalib, kemudian Hukum Torat menjadi batal? Atau justeru Hukum Torat itu akan tetap berlaku menurut Yesus?

    “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18)

    Lalu bagaimana dengan Paulus dan orang-orang Kristen yang menghapus Hukum Torat? Apa yang akan terjadi pada mereka?

    “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:19)

    Ingatlah bahwa Iblis dan tentaranya dapat menyamar sebagai malaikat terang.

    Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. (II Korintus 11:14-15)

    Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. (Matius 24:24)

  • Ordo Rosicrucian (AMORC)

    Anda mungkin telah pernah membaca tentang Baphomet, Gereja Setan, Knight Templar, dan Ordo Illuminati yang semuanya berkaitan dengan Freemasonry. Salah satu ordo yang berkaitan juga adalah ordo Rosicrucian.

    Ordo Rosicrucian, AMORC, dikenal secara internasional disebabkan tradisinya dan sebutan aslinya, Ancient Mystical Order Rosae Crucis (Ordo Kebatinan Purba Salib Mawar), yang disingkat “AMORC.”

    Tidak ada konotasi religius yang berhubungan dengan lambang salib mawar ini. Salib yang secara simbolis melambangkan badan manusia dan bunga mawar melambangkan kesadaran individual yang membentang. Bersama-sama, mawar dan salib melambangkan pengalaman dan tantangan hidup yang bijaksana, menurut Rosicrucian.

    Dengan lambang dan nama tersebut, AMORC menghadirkan kelompok persaudaraan purba Rosicrucians, mengabadikan tradisi sejati pergerakan Rosicrucian dari masa purba ke zaman ini.

    Sejarah Ordo Rosicrucian, AMORC, mungkin dibagi menjadi dua penggolongan: menurut urutan waktu dan tradisional. Sejarah tradisional terdiri dari alegori kebatinan dan legenda yang telah dijaga selama berabad-abad dari mulut ke mulut. Ordo Rosicrucian menurut urutan waktu didasarkan pada tanggal spesifik dan fakta.

    Akar Rosicrucian di Dunia Purba

    Pergerakan Rosicrucian, berakar dari tradisi misteri, filosofi, dan dongeng dari Mesir kuno (kira-kira 1500 SM). Di zaman dahulu kata “misteri” yang disebut suatu pengetahuan khusus (gnosis), suatu kebijaksanaan rahasia.

    Beribu-ribu tahun yang lalu di Mesir Kuno dipilih sekolah atau badan yang dibentuk untuk menyelidiki misteri hidup dan belajar rahasia kebijaksanaan tersembunyi ini. Hanya para siswa yang tekun, yang menunjukkan keinginan besar terhadap pengetahuan dan memenuhi test tertentu saja yang pantas dipertimbangkan untuk dilantik ke dalam misteri ini.

    Para anggota pelajar pertama ordo ini bertemu di dalam ruangan yang dikucilkan di dalam kuil tua yang megah, sebagai calon, mereka dibaiat/diinisiasi ke dalam misteri tersebut. Studi kebatinan mereka kemudian mengasumsikan karakter yang lebih tertutup dan dipegang secara eksklusif di dalam kuil yang telah dibangun untuk tujuan tersebut. Bertentangan dengan pernyataan sejarawan, tradisi Rosicrucian menceritakan bahwa piramida Giza tidaklah dibangun sebagai pusara firaun, tetapi benar-benar merupakan tempat studi dan inisiasi kebatinan. Sekolah misteri, setelah berabad-abad, secara berangsur-angsur ditingkatkan menjadi pusat pembelajaran, menarik para pelajar dari seluruh dunia.

    Firaun Thutmose III, yang memerintah Mesir dari 1500 hingga 1447 SM, mengatur sekolah esoterik pertama yang mula-mula sekali menemukan metoda dan prinsip yang mirip dengan prinsip dan metoda Ordo Rosi­Crucian zaman ini, AMORC. Dekade Firaun selanjutnya, AMENHOTEP IV dibaiat/diinisiasi ke dalam sekolah rahasia. Firaun ini yang paling mendapatkan pencerahan -menurut Rosicrucian- yang sangat diilhami oleh misteri yang mengajarkan bahwa ia memberi suatu arah baru bagi filosofi dan agama Mesir. Ia mendirikan suatu agama yang mengakui Aton, sang cakra matahari, sebagai lambang tapak kaki dewa, pondasi bagi hidup itu sendiri, lambang cahaya, kebenaran, dan kesenangan, dan mengubah namanya menjadi Akhnaton untuk mencerminkan gagasan baru ini. Dan walaupun agama yang lebih awal didirikan kembali kemudiannya, gagasan kebatinannya ditanamkan ke dalam kesadaran manusia, dan nyala apinya tak pernah padam.

    Berabad-abad kemudian, ahli filsafat Yunani seperti Thales dan Pythagoras, ahli filsafat Roma Plotinus, dan yang lainnya, bepergian ke Mesir dan diinisiasi ke dalam sekolah misteri. Kemudian mereka membawa ajaran ini ke dunia barat. Pengalaman mereka adalah catatan pertama dari apa yang segera tumbuh dalam Ordo Rosicrucian. Nama Ordo, seperti yang sekarang dikenal, datang kemudian. Bagaimanapun, Ordo Rosicrucian selalu mengabadikan warisannya dari prinsip dan simbolisme masa lampau.

    Awal Permulaan Eropa

    Di masa Charlemagne (742-814), ahli filsafat Perancis Arnaud memperkenalkan pengajaran kebatinan ke Perancis, dan dari sana mereka menyebar ke Eropa Barat. Di seluruh Eropa pertengahan, pengetahuan kebatinan sering diletakkan di dalam simbolisme atau disembunyikan dan tersembunyi di dalam nyanyian cinta Troubadours, formula ahli alkimia, sistem simbolis yang dikenal sebagai Qabala, dan upacara Ordo Ksatriaan (Order of Knighthood).

    Ketika Renaissance muncul secara tiba-tiba di Eropa dengan suatu kilat dari minat baru di dalam ilmu pengetahuan, suatu penerbitan misterius dicetak pada abad ke-17 di Negara Jerman dan disebut Fama Fraternitatis, digembar-gemborkan suatu minat baru akan Rosicrucianism di seluruh Eropa. Fama memperkenalkan Kristen Rosenkreuz, suatu karakter dongengan yang dikatakan sudah menempuh perjalanan ke pusat pembelajaran di Timur Dekat dan yang mewujudkan penghidupan kembali minat akan studi rahasia dan pembelajaran kebatinan.

    Sebagai bagian dari pembaruan besar ini, Sir Francis Bacon (1561-1626), ahli filsafat Inggris, penulis esei, dan negarawan, mengarahkan Ordo Rosicrucian dan aktivitasnya baik di Inggris maupun Eropa.

    Menyebrangi Atlantik

    Di akhir abad 17, mengikuti suatu rencana yang diusulkan oleh Francis Bacon di dalam ‘The New Atlantis’, suatu koloni dari para pemimpin Rosicrucian yang diorganisir untuk menyebarkan ilmu pengetahuan Rosicrucian di Amerika. Di tahun 1694 mereka melakukan perjalanan yang membahayakan ke seberang Samudera Atlantik di dalam suatu kapal sewaan, Sarah Maria, di bawah pimpinan Johannes Kelpius, suhu agung dari suatu Lodge (Loji) Rosicrucian di Eropa. Berlabuh di Philadelphia, penduduk baru mendirikan perkampungan pertama mereka dan kemudian dipindahkan agak ke barat Pennsylvania ke Ephrata. Komunitas Rosicrucian mempunyai andil besar terhadap kultur Amerika di dalam bidang pencetakan, filosofi, ilmu pengetahuan dan seni. Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan Thomas Paine telah dengan intim dihubungkan dengan masyarakat Rosicrucian. Sesungguhnya, banyak para Rosicrucian memainkan suatu peran penting dalam alkimia yang besar dan proses sosial mendorong ke arah pendirian suatu bangsa baru.

    Di tahun 1909, pelaku bisnis dan ahli filsafat Amerika, H. Spencer Lewis, bepergian ke Perancis, di mana ia diinisiasi ke dalam Ordo Rosicrucian dan bertanggung jawab atas aktifitas Rosicrucian di Amerika. Dengan H. Spencer Lewis sebagai presidennya, Ordo Rosicrucian, AMORC, disatukan di tahun 1915 di New York. Di tahun 1927, markas ordo tersebut dipindahkan ke San Jose, California, lokasi Taman Rosicrucian sekarang ini.

    Sepanjang sejarah, menurut klaim Rosicrucian, sejumlah orang terkemuka di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi telah dihubungkan dengan pergerakan Rosicrucian, seperti Leonardo da Vinci (1452-1519), Cornelius Heinrich Agrippa (1486-1535), Paracelsus (1493-1541), François Rabelais (1494-1553), Theresa Avila (1515-1582), John of the Cross (1542-1591), Francis Bacon (1561-1626), Robert Fludd (1574-1637), Jacob Boehme (1575-1624), René Descartes (1596-1650), Blaise Pascal (1623-1662), Baruch Spinoza (1632-1677), Isaac Newton (1642-1727), Wilhelm Gottfried Leibnitz (1646-1716), Benjamin Franklin (1706-1790), Thomas Jefferson (1743-1826), Michael Faraday (1791-1867), Ella Wheeler Wilcox (1850-1919), Marie Corelli (1855-1924), Claude Debussy (1862-1918), Erik Satie (1866-1925), dan Edith Piaf (1916-1963).

    Warisan Rosicrucian saat ini terdiri dari suatu koleksi pengetahuan yang telah diwariskan dari Mesir Kuno ditambah filsafat Yunani Kuno, dan India. Apa yang mereka sebut sebagai ‘ilmu pengetahuan’, sebenarnya lebih cocok jika disebut mitos dan takhyul, atau mungkin mistik.
    Di dalam peradaban Yunani, Mesir, dan Romawi Kuno memang terdapat aliran misteri (école de mysterés) yang bertemu pada konteks suatu ilmu tertentu, gnosis, atau pengetahuan rahasia. Anggota dari aliran misteri ini diterima hanya setelah suatu periode kajian yang panjang dan berbagai upacara inisiasi. Di antara aneka aliran ini, yang dianggap paling awal adalah aliran “Osiris” yang didasarkan pada peristiwa seperti kelahiran, masa muda, pertarungan melawan kegelapan, kematian dan kebangkitan dari dewa ini. Tema-tema ini didramatisasi secara ritual di dalam berbagai upacara yang diselenggarakan oleh pendeta. Dengan cara ini berbagai ritual dan simbol yang ditampilkan jauh lebih efektif karena partisipasi aktual. Gnostikisme semacam ini diteruskan oleh Kristen dengan menganggap Yesus sebagai Putera Tuhan yang lahir, bertarung melawan kegelapan dan maut, dan mengalami kebangkitan, layaknya Horus putera Osiris. Bahkan Kristian merayakan hari-hari upacara pagan yang memperingati lahirnya Sol Invictus si dewa matahari pada tanggal 25 Desember.

    Di Indonesia, AMORC sempat membuat beberapa Lodge. Setelah diketahui kesesatannya, Presiden Sukarno melarang organisasi tersebut dan menutup semua lodge AMORC dan Vrimetselarij (Freemasonry). Tetapi kabarnya, saat ini masih ada bangunan-bangunan di Indonesia yang sering digunakan sebagai lodge secara sembunyi-sembunyi oleh para penyembah setan ini.

    Apakah AMORC ini masih ada?
    Silahkan cek di http://www.rosicrucian.org/about/mastery/mastery08history.html 
    https://rosicrucian.org/history

  • Memaafkan dan Kesehatan

    Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

    Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

    Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

    Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

    … dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

    Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)

    Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
    Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur’an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.

    Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.

    Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang
    Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa:

    Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.

    Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

    Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.

    (pesanharunyahya.com)

  • Doa Mempercepat Kesembuhan

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al Mu’min, 40:60)

    Menurut Al Qur’an, doa, yang berarti “seruan, menyampaikan ungkapan, permintaan, permohonan pertolongan,” adalah berpalingnya seseorang dengan tulus ikhlas kepada Allah, dan memohon pertolongan dari-Nya, Yang Mahakuasa, Maha Pengasih dan Penyayang, dengan kesadaran bahwa dirinya adalah wujud yang memiliki kebergantungan. Penyakit adalah salah satu dari contoh tersebut yang dengannya manusia paling merasakan kebergantungan ini dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Tambahan lagi, penyakit adalah sebuah ujian, yang direncanakan menurut Hikmah Allah, yang terjadi dengan Kehendak-Nya, dan sebagai peringatan bagi manusia akan kefanaan dan ketidaksempurnaan kehidupan ini, dan juga sebagai sumber pahala di Akhirat atas kesabaran dan ketaatan karenanya.

    Sebaliknya mereka yang tidak memiliki iman, meyakini bahwa jalan kesembuhan adalah melalui dokter, obat atau kemampuan teknologi mutakhir dari ilmu pengetahuan modern. Mereka tidak pernah berhenti untuk merenung bahwa Allah-lah yang menyebabkan keseluruhan perangkat tubuh mereka untuk bekerja di saat mereka sedang sehat, atau Dialah yang menciptakan obat yang membantu penyembuhan dan para dokter ketika mereka sakit. Banyak orang hanya kembali menghadap kepada Allah di saat mereka sadar bahwa para dokter dan obat-obatan tidak memiliki kesanggupan. Orang-orang yang berada pada keadaan tersebut memohon pertolongan hanya kepada Allah, setelah menyadari bahwa hanya Dialah yang dapat membebaskan mereka dari kesulitan. Allah telah menyatakan pola pikir ini dalam sebuah ayat:
    Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS, Yunus, 10:12)

    Padahal sesungguhnya, sekalipun dalam keadaan sehat, atau tanpa cobaan atau kesulitan lain, seseorang wajib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan, kesehatan dan seluruh karunia yang telah Dia berikan.

    Inilah satu sisi paling penting dari doa: Di samping berdoa dengan lisan menggunakan suara, penting pula bagi seseorang melakukan segala upaya untuk berdoa melalui perilakunya. Berdoa dengan perilaku bermakna melakukan segala sesuatu yang mungkin untuk mencapai harapan tertentu. Misalnya, di samping berdoa, seseorang yang sakit sepatutnya juga pergi ke dokter ahli, menggunakan obat-obatan yang berkhasiat, dan menjalani perawatan rumah sakit jika perlu, atau perawatan khusus dalam bentuk lain. Sebab, Allah mengaitkan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pada sebab-sebab tertentu. Segala sesuatu di dunia dan di alam semesta terjadi mengikuti sebab-sebab ini. Oleh karena itu, seseorang haruslah melakukan segala hal yang diperlukan dalam kerangka sebab-sebab ini, sembari berharap hasilnya dari Allah, dengan kerendahan diri, berserah diri dan bersabar, dengan menyadari bahwa Dialah yang menentukan hasilnya.

    Pengaruh menguntungkan dari keimanan dan doa bagi orang sakit, dan bagaimana hal ini dapat mempercepat penyembuhan adalah sesuatu yang telah menarik perhatian dari dan dianjurkan oleh para dokter. Dengan judul “God and Health: Is Religion Good Medicine? Why Science Is Starting to Believe” [Tuhan dan Kesehatan: Apakah Agama Adalah Obat Yang Baik? Mengapa Ilmu Pengetahuan Mulai Percaya], majalah terkenal Newsweek terbitan tanggal 10 November 2003 mengangkat pengaruh agama dalam penyembuhan penyakit sebagai bahasan utamanya. Majalah tersebut melaporkan bahwa keimanan kepada Tuhan meningkatkan harapan pasien dan membantu pemulihan mereka dengan mudah, dan bahwa ilmu pengetahuan mulai meyakini bahwa pasien dengan keimanan agama akan pulih lebih cepat dan lebih mudah. Menurut pendataan oleh Newsweek, 72% masyarakat Amerika mengatakan mereka percaya bahwa berdoa dapat menyembuhkan seseorang dan berdoa membantu kesembuhan. Penelitian di Inggris dan Amerika Serikat juga telah menyimpulkan bahwa doa dapat mengurangi gejala-gejala penyakit pada pasien dan mempercepat proses penyembuhannya.

    Menurut penelitian yang dilakukan di Universitas Michigan, depresi dan stres teramati pada orang-orang yang taat beragama dengan tingkat rendah. Dan, menurut penemuan di Universitas Rush di Chicago, tingkat kematian dini di kalangan orang-orang yang beribadah dan berdoa secara teratur adalah sekitar 25% lebih rendah dibandingkan pada mereka yang tidak memiliki keyakinan agama. Penelitian lain yang dilakukan terhadap 750 orang, yang menjalani pemeriksaan angiocardiography [jantung dan pembuluh darah], membuktikan secara ilmiah “kekuatan penyembuhan dari doa.” Telah diakui bahwa tingkat kematian di kalangan pasien penyakit jantung yang berdoa menurun 30% dalam satu tahun pasca operasi yang mereka jalani.

    Sejumlah contoh doa yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah:

    Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS. Al Anbiyaa’, 21:83-84)

    Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al Anbiyaa’, 21:87-88)

    Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. Al Anbiyaa’, 21:89-90)

    Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami). (QS. Ash Shaaffaat, 37:75)

    Sebagaimana telah disebutkan, doa tidak semestinya hanya dilakukan untuk menghilangkan penyakit, atau kesulitan-kesulitan duniawi lainnya. Orang beriman yang sejati haruslah senantiasa berdoa kepada Allah dan menerima apa pun yang datang dari-Nya. Kenyataan bahwa sejumlah manfaat doa yang diwahyukan di dalam banyak ayat Al Qur’an kini sedang diakui kebenarannya secara ilmiah, sekali lagi mengungkapkan keajaiban yang dimiliki Al Qur’an.

    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqarah, 2:186)

    (Harun Yahya)

  • INTRODUCING ISLAM

    I. ISLAM AND MUSLIMS

    The name of this religion is Islam, the root of which is Silm and Salam which means peace. Salam may also mean greeting one another with peace. One of the beautiful names of God is that He is the Peace. It means more than that: submission to the One God, and to live in peace with the Creator, within one’s self, with other people and with the environment. Thus, Islam is a total system of living. A Muslim is supposed to live in peace and harmony with all these segments; hence, a Muslim is any person anywhere in the world whose obedience, allegiance, and loyalty are to God, the Lord of the Universe.

    II. MUSLIMS AND ARABS

    The followers of Islam are called Muslims. Muslims are not to be confused with Arabs. Muslims may be Arabs, Turks, Persians, Indians, Pakistanis, Malaysians, Indonesians, Europeans, Africans, Americans, Chinese, or other nationalities.

    An Arab could be a Muslim, a Christian, a Jew or an atheist. Any person who adopts the Arabic language is called an Arab. However, the language of the Qur’an (the Holy Book of Islam) is Arabic. Muslims all over the world try to learn Arabic so that they may be able to read the Qur’an and understand its meaning. They pray in the language of the Qur’an, namely Arabic. Supplications to God could be in any language.

    While there are one billion Muslims in the world there are about 200 million Arabs. Among them, approximately ten percent are not Muslims. Thus Arab Muslims constitute only about twenty percent of the Muslim population of the world.

    III. ALLAH THE ONE AND THE ONLY GOD

    Allah is the name of the One and Only God. Allah has ninety-nine beautiful names, such as: The Gracious, The Merciful, The Beneficent, The Creator, The All-Knowing, The All-Wise, The Lord of the Universe, The First, The Last, and others.

    He is the Creator of all human beings. He is the God for the Christians, the Jews, the Muslims, the Buddhists, the Hindus, the atheists, and others. Muslims worship God whose name is Allah. They put their trust in Him and they seek His help and His guidance.

    IV. MUHAMMAD

    Muhammad was chosen by God to deliver His Message of Peace, namely Islam. He was born in 570 C.E. (Common Era) in Makkah, Arabia. He was entrusted with the Message of Islam when he was at the age of forty years. The revelation that he received is called the Qur’an, while the message is called Islam.

    Muhammad is the very last Prophet of God to mankind. He is the final Messenger of God. His message was and is still to the Christians, the Jews and the rest of mankind. He was sent to those religious people to inform them about the true mission of Jesus, Moses, Jacob, Isaac, and Abraham.

    Muhammad is considered to be the summation and the culmination of all the prophets and messengers that came before him. He purified the previous messages from adulteration and completed the Message of God for all humanity. He was entrusted with the power of explaining, interpreting and living the teaching of the Qur’an.

    V. SOURCE OF ISLAM

    The legal sources of Islam are the Qur’an and the Hadith. The Qur’an is the exact word of God; its authenticity, originality and totality are intact. The Hadith is the report of the sayings, deeds and approvals of the Prophet Muhammad. The Prophet’s sayings and deeds are called Sunnah. The Seerah is the writings of followers of Muhammad about the life of the Prophet. Hence, it is the life history of the Prophet Muhammad which provides examples of daily living for Muslims.

    VI. SOME ISLAMIC PRINCIPLES

    A. Oneness of God:
    He is One and the Only One. He is not two in one or three in one. This means that Islam rejects the idea of trinity or such a unity of God which implies more than one God in one.

    B. Oneness of mankind:
    People are created equal in front of the Law of God. There is no superiority for one race over another. God made us of different colors, nationalities, languages and beliefs so as to test who is going to be better than others. No one can claim that he is better than others. It is only God Who knows who is better. It depends on piety and righteousness.

    C. Oneness of Messengers and the Message:
    Muslims believe that God sent different messengers throughout the history of mankind. All came with the same message and the same teachings. It was the people who misunderstood and misinterpreted them.
    Muslims believe in Noah, Abraham, Isaac, Ismail, Jacob, Moses, David, Jesus, and Muhammad. The Prophets of Christianity and Judaism are indeed the Prophets of Islam.

    D. Angels and the Day of Judgment:
    Muslims believe that there are unseen creatures such as angels created by God in the universe for special missions.
    Muslims believe that there is a Day of Judgment when all people of the world throughout the history of mankind till the last day of life on earth, are to be brought for accounting, reward and punishment.

    E. Innocence of Man at Birth:
    Muslim believe that people are born free of sin. It is only after they reach the age of puberty and it is only after they commit sins that they are to be charged for their mistakes. No one is responsible for or can take the responsibility for the sins of others. However, the door of forgiveness through true repentance is always open.

    F. State and Religion:
    Muslims believe that Islam is a total and a complete way of life. It encompasses all aspects of life. As such, the teachings of Islam do not separate religion from politics. As a matter of fact, state and religion are under the obedience of Allah through the teachings of Islam. Hence, economic and social transactions, as well as educational and political systems are also part of the teachings of Islam.

    VII. PRACTICES OF ISLAM

    God instructed the Muslims to practice what they believe in. In Islam there are five pillars, namely:

    1. Creed (Shahada): The verbal commitment and pledge that there is only One God and that Muhammad is the Messenger of God, is considered to be the Creed of Islam.

    2. Prayers (Salat): The performance of the five daily prayers is required of Muslims.

    3. Fasting (Saum): Fasting is total abstinence from food, liquids and intimate intercourse (between married couples) from dawn to sunset during the entire month of Ramadan.

    4. Purifying Tax (Zakat): This is an annual payment of a certain percentage of a Muslim’s property which is distributed among the poor or other rightful beneficiaries.

    5. Pilgrimage (Hajj): The performance of pilgrimage to Makkah is required once in a life time if means are available. Hajj is in part in memory of the trials and tribulations of Prophet Abraham, his wife Hagar and his eldest son Prophet Ishmael.

    VIII. OTHER RELATED ASPECTS

    A. Calendar:
    Islamic practices are based on the lunar calendar. However, Muslims also use the Gregorian calendar in their daily religious lives. Hence, the Islamic calendar includes both the common era and the migration (Higra) year of the Prophet of Islam from Makkah to Madinah in the year of 623 C.E.

    B. Celebrations (Eid):
    Muslims have two celebrations (Eid); namely, Eid of Sacrifice and Eid of Fast-Breaking. The Eid of Sacrifice is in remembrance of the sacrifice to be by Prophet Abraham of his son. The Eid of Fast-Breaking comes at the end of the month of fasting, Ramadan.

    C. Diets:
    Islam allows Muslims to eat everything which is good for the health. It restricts certain items such as pork and its by-products, alcohol and any narcotic or addictive drugs.

    D. Place of Worship:
    The place of worship is called Mosque or Masjid. There are three holy places of worship for the Muslims in the world. These are: Mosque of Kaaba in Makkah, Mosque of the Prophet Muhammad in Madinah, and Masjid Aqsa, adjacent to the Dome of the Rock in Jerusalem.

    A Muslim may pray any where in the world whether in a Mosque, a house, an office, or outside. The whole world is a place of worship. It is preferable that Muslims pray in a congregation, however, he/she may pray individually anywhere.

    E. Holidays:
    The holy day of the Muslims is Friday. It is considered to be sacred and the Day of Judgment will take place on Friday. Muslims join together shortly after noon on Friday for the Friday congregational prayer in a Mosque. A leader (Imam) gives a sermon (Khutba) and leads the congregational prayer.

    F. Distribution of Muslims in North America:
    There are approximately five million Muslims in North America and are distributed in its major cities such as New York, Detroit, Boston, Toledo, Chicago, Los Angeles, San Francisco, Houston, Cedar Rapids (Iowa), Toronto, Montreal, Ottawa, Edmonton, Vancouver, Windsor, Winnipeg, Calgary, and others.

    G. Contributions in North America:
    Muslims are established in North America. The Sears Tower and the John Hancock buildings in Chicago were designed by a Muslim chief architect, originally from Bangladesh. Muslims have established academic institutions, community centers and organizations, schools and places of worship. They live in peace and harmony among themselves and among other groups of people in the society. The rate of crime among Muslims is very minimal. Muslims in North America are highly educated and they have added to the success of American scientific and technological fields.
    The Muslims of the early period of the Islamic era were pioneers in medicine, chemistry, physics, geography, navigation, arts, poetry, mathematics, algebra, logarithms, calculus, etc. They contributed to the Renaissance of Europe and world civilization.

    IX. NON-MUSLIMS

    Muslims are required to respect all those who are faithful and God conscious people, namely those who received messages. Christians and Jews are called People of the Book. Muslims are asked to call upon the People of the Book for common terms, namely, to worship One God, and to work together for the solutions of the many problems in the society.

    Christians and Jews lived peacefully with Muslims throughout centuries in the Middle East and other Asian and African countries. The second Caliph Umar, did not pray in the church in Jerusalem so as not to give the Muslims an excuse to take it over. Christians entrusted the
    Muslims, and as such the key of the Church in Jerusalem is still in the hands of the Muslims.

    Jews fled from Spain during the Inquisition, and they were welcomed by the Muslims. They settled in the heart of the Islamic Caliphate. They enjoyed positions of power and authority.

    Throughout the Muslim world, churches, synagogues and missionary schools were built within the Muslim neighborhoods. These places were protected by Muslims even during the contemporary crises in the Middle East.

    — Ahmad H. Sakr, Ph.D.

    For more information please contact:
    The Institute of Islamic Information and Education

    Welcome to III&E


    P.O. Box 41129
    Chicago, IL 60641-0129 U.S.A.

    INTRODUCTION OF III&E

    The Institute of Islamic Information and Education (III&E) is dedicated to the cause of Islam in North America through striving to elevate the image of Islam in North America through striving to elevate the image of Islam and Muslims by providing the correct information about Islamic beliefs, history and civilization from the authentic sources. Enquiries are welcome.

    Welcome to III&E

  • Yesus Inkarnasi Tuhan?

    Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya (ruuhum minhu) . Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. [QS. An-Nisa`:171]

    Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami (mir ruuhinaa) dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. [QS. 21:91]

    dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. [QS. 66:12]

    Orang-orang Kristen Trinitarian menjadikan ayat-ayat di atas sebagai dalil bahwa Yesus adalah:
    1. Roh Tuhan.
    2. Kalimat/Logos Tuhan.
    3. Inkarnasi dari Tuhan.

    Tetapi muslim tidak menafsirkan Al-Qur`an dengan prasangka seperti itu, melainkan dengan ilmiah. Lihatlah baik-baik ayat-ayat tersebut, maka Anda akan berkesimpulan bahwa:
    1. Yesus adalah putera Maria, bukan putera Allah. Lihatlah silsilah Yesus dalam Alkitab, maka akan Anda dapati bahwa dia bukanlah putera Allah.
    2. Yesus adalah utusan Allah. Alkitab juga menyebut bahwa Yesus adalah utusan Allah. Yesus berkata bahwa hidup bahagia itu hanya dapat diraih oleh orang yang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah yang benar, dan bahwa Yesus adalah utusan Allah. (Lihat Yohanes 17:3)
    3. Yesus diciptakan dengan Firman Allah: “Jadilah” sebagaimana alam semesta ini dijadikan dengan Firman Allah: “Jadilah”. (Lihat Kitab Kejadian pasal 1)
    Dalam Al-Qur`an Allah Berfirman:
    Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. [QS. 3:59]
    4. Roh Yesus adalah roh dari Tuhan sebagaimana semua roh adalah dari Tuhan.
    Allah Berfirman:
    Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (kejadian Adam), dan telah meniupkan ke dalamnya ruh dari-Ku (mir ruuhii), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. [QS. 15:29]
    5. Allah melarang kita berfaham Trinitas, tiga dalam satu, dsb.
    6. Allah itu Tuhan Yang Esa.
    7. Allah itu tidak beranak.

    Logos/Kalimat adalah ungkapan Tuhan, dan adalah Komunikasi Dirinya, sama halnya sebuah “kata” adalah suatu ungkapan yang keluar dari pemikiran seseorang.  Yesus adalah salah satu ungkapan yang keluar dari kebijaksanaan, tujuan dan rencana Allah.  Karena alasan yang sama, kita menyebut wahyu sebagai “suatu kata dari Tuhan” dan Al-Qur`an adalah “Firman Allah.” Yesus adalah salah satu tanda kekuasaan Allah, yang dengan itu manusia dapat mengenal Allah Yang Mahakuasa Menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Allah Menciptakan Adam dari ketiadaan, maka apa sulitnya menciptakan Yesus dari seorang Maryam binti Imran?

    Jika Anda seorang pelukis, pematung, atau pujangga, Anda akan mengekspresikan / mengungkapkan diri Anda melalui lukisan, patung, atau syair. Melalui lukisan, patung, atau syair, orang lain akan dapat mengenal siapa diri Anda sebenarnya. Begitulah Allah, melalui kalimah-Nya berupa alam semesta, para Nabi, juga kitab-kitab-Nya telah memperkenalkan Diri-Nya kepada kita.

    Murid-murid Yesus pernah bertanya kepada Yesus, Bagaimana Allah itu?” Yesus menjawab, “Jika kamu telah melihat aku, berarti kamu telah melihat Allah.”

    Para shahabat Nabi Muhammad SAAW juga pernah bertanya, “Bagaimana Allah itu?” Nabi Muhammad SAAW pun menjawab, “Jika kamu telah melihat aku, maka kamu telah melihat Allah.” Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi bersabda, “Janganlah kamu memikirkan Allah, karena kamu tidak akan sanggup, akan tetapi fikirkanlah ciptaan-Nya.” Ya, ciptaan-Nya, kalimah-Nya yang tidak tertulis dalam Kitab, tetapi dapat kita saksikan sebagai ayat-ayat Allah. Lihatlah alam semesta, lihatlah kehidupan Muhammad SAAW, maka Anda akan mengerti betapa Allah itu Mahapengasih lagi Mahapenyayang.

    Konsep bahwa Tuhan berinkarnasi tidak dikenal dalam agama yang dibawa oleh para Nabi utusan Tuhan. Konsep semacam itu hanya ada dalam agama berhala. Dan agama berhala itu masuk ke dalam agama yang dibawa para Nabi utusan Tuhan, sepeninggal para Nabi itu. Setiap terjadi penyimpangan dalam agama yang dibawa para Nabi utusan Tuhan, maka Tuhan mengutus lagi seorang Nabi untuk meluruskan. Dan Nabi terakhir yang Allah utus adalah Muhammad SAAW, Nabi terbesar. Dialah yang meluruskan agama-agama langit yang telah disimpangkan.

  • Anak Allah

    Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:3-4)

    Jika kita membuka kamus Alkitab dan mencari kata ‘Anak Allah’, akan kita dapati penjelasan: “Israel disebut anak Allah atau anak sulung Allah (Kej. 4:22-23; Hos. 11: 1). Demikian juga raja Israel, keturunan Daud (2Sam. 7:14; Mzm. 2:7). Tetapi kemudian terutama gelar untuk Yesus Kristus yang menyatakan bahwa Ia berasal dari Allah dan melakukan kehendak Bapa-Nya, sehingga Ia adalah orang kesayangan Allah.”

    Maka jelaslah bahwa Anak Allah adalah istilah yang berarti ‘orang kesayangan Allah’. Maka Yesus tidak bisa disebut sebagai Tuhan hanya karena dia digelari Anak Allah. Allah tidak beristeri, tidak berputera, dan tidak pula diperanakkan. Karena Yesus diperanakkan, maka jelaslah bahwa Yesus bukanlah Allah.

    Dalam Matius 4:3-4 juga dijelaskan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang hidup dengan bergantung pada firman Allah, yaitu firman yang berbunyi: “Jadilah!”. Hal ini menjelaskan juga istilah dari gelar Yesus sebagai ‘Firman Tuhan’ atau ‘Kalimatullah’, yaitu bahwa Yesus diciptakan oleh Allah dengan firman-Nya: “Jadilah!” maka jadilah Yesus lahir tanpa ayah. Dan Allah bukanlah ayah Yesus. Dengan menyebut Allah sebagai ayah dari Yesus, itu sama saja dengan mengatakan bahwa Allah itulah yang telah menyetubuhi Maria hingga hamil. Ini adalah tuduhan yang sangat keji.

  • Immanuel

    Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka menamakan dia Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. [Matius 1:23]

    Imanuel dapat diartikan sebagai ‘Allah bersama kita’ atau ‘Allah menyertai kita’. Kita tahu bahwa Allah menyertai manusia melalui Yesus, dan Yesus sendiri berkata bahwa siapa yang melihat dia, berarti ia telah melihat Allah. Ini tidak bisa diterima secara harfiah. Akan tetapi siapa yang melihat Yesus dan perbuatannya, maka seseorang akan melihat betapa Allah itu Mahakuasa memberi Yesus segala mukjizat dan tingkah laku yang beradab lagi penuh kasih. Jika kita ingin mengenal bagaimana kasih Allah, maka lihatlah bagaimana kasih Yesus, maka kita akan mengetahui bahwa Allah Mahakasih, sebab Yesus, hamba-Nya saja begitu kasih, apalagi Allah. Begitu juga untuk mengenal sifat Allah yang lainnya, perhatikanlah bagaimana sifat kemulyaan Yesus. Adapun sifat kelemahan Yesus, maka itu bukanlah menggambarkan sifat dan citra Allah, tetapi itu adalah sifat manusiawi Yesus.
    Intinya, nama tersebut adalah simbolis. Allah bersama kita, bukan secara harfiah, tetapi melalui hamba-Nya, seperti dalam 2 Kor. 5:19 yang menyatakan: “Bahwa Allah mendamaikan dunia dengan DiriNya melalui Kristus.” Simbolisme seperti ini tidak khusus bagi Yesus. Banyak orang yang diberi nama-nama yang akan menimbulkan masalah besar jika diimani secara harfiah. Apakah kita meyakini bahwa Eliyah adalah “Allah Yahweh” atau bahwa Bithiah, puteri Firaun, adalah saudari Yesus karena namanya adalah ‘puteri Yahweh’? Apakah kita percaya bahwa Dibri, bukannya Yesus, adalah ‘Janji Yahweh’, atau bahwa Eliab adalah Messiah sesungguhnya karena namanya berarti ‘Allahku [adalah] bapa[ku]?” Tentu saja tidak. Adalah kesalahan besar untuk mengakui bahwa arti nama membuktikan kebenaran harfiah. Kita tahu bahwa nama Yesus sangat berarti, yaitu menyampaikan pesan bahwa -sebagai anak Allah dan sebagai citra Allah- Allah menyertai kita melalui Yesus, tetapi nama tersebut tidak menjadikan Yesus sebagai Allah.

  • AKU DAN BAPA ADALAH SATU

    “Aku dan Bapa adalah satu.” [Yohanes 10:30]
    I and my Father are one. [Yohanes 10:30 KJV]
    Tidak ada alasan untuk mengambil ayat ini untuk memahami bahwa Kristus sedang berkata bahwa ia dan Bapa menyusun “satu Tuhan.” Ungkapan yang umum, dan bahkan hari ini jika seseorang menggunakan itu, orang-orang akan mengetahui persisnya apa yang ia maksudkan —dia dan bapaknya sangat banyak kemiripan. Ketika Paulus menulis kepada Jemaat Korintus tentang kependetaannya di sana, ia berkata bahwa ia telah menanam benih itu dan Apolos yang mengairi. Kemudian ia berkata, “Now he that planteth and he that watereth are one” (Dia yang menanam dan yang mengairi adalah satu) [1 Kor. 3:8 – KJV]. Di dalam Teks Yunani, susunan kata Paulus adalah sama seperti yang di dalam Yohanes 10:30, namun tak seorangpun mengakui bahwa Paulus dan Apollos menyusun “satu eksistensi.” Lagipula, NIV menterjemahkan 1 Kor. 3:8 sebagai “ia yang menanam dan ia yang mengairi mempunyai satu tujuan.” Mengapa menterjemahkan ungkapan itu sebagai “adalah satu” di dalam satu tempat, tetapi sebagai “mempunyai satu tujuan” di dalam tempat lain? Dalam hal ini, menterjemahkan ungkapan yang sama di dalam dua jalan berbeda mengaburkan maksud yang jelas dari statemen Yesus di dalam Yohanes 10:30. Yesus selalu melakukan kehendak Bapa; dia dan Tuhan mempunyai “satu tujuan.”
    Kristus menggunakan konsep “menjadi satu” di dalam tempat lain, dan dari situ seseorang dapat melihat bahwa “satu tujuan” adalah apa yang dimaksud. Yohanes 11:52 mengatakan Yesus mati untuk membuat semua anak-anak Tuhan menjadi “satu.” Di dalam Yohanes 17:11,21 dan 22, Yesus berdoa kepada Tuhan agar para pengikutnya akan menjadi “satu” seperti dia dan Tuhan adalah “satu.” Kita berkesimpulan bahwa Yesus tidaklah berdoa agar semua para pengikutnya akan menjadi satu eksistensi atau “unsur” sama halnya ia dan Bapa adalah satu eksistensi atau “unsur.” Kita percaya maksudnya adalah Yesus sedang berdoa agar semua para pengikutnya menjadi satu tujuan sama halnya ia dan Tuhan adalah satu tujuan, suatu doa yang belum dikabulkan.
    Konteks Yohanes 10:30 menunjukan dengan meyakinkan bahwa Yesus sedang mengacu pada fakta bahwa ia mempunyai tujuan yang sama dengan Tuhan. Yesus sedang membicarakan kemampuannya untuk memelihara “domba-domba,” yang percaya, yang datang kepadanya. Ia berkata bahwa tak seorangpun bisa mengambil mereka ke luar dari tangannya dan bahwa tak seorangpun bisa mengambil mereka ke luar dari tangan Bapa. Kemudian ia berkata bahwa ia dan Bapa adalah “satu,” -yaitu tujuan- untuk memelihara dan melindungi domba-domba itu.

    (Sumber: biblicalunitarian.com)

  • Allah Merindukanmu

    Anda mungkin berfkir bahwa rasanya tidak mungkin Allah merindukan Anda. Anda merasa bahwa Anda terlalu kotor untuk dirindukan. Maka ketahuilah, justeru Allah sangat merindukan hamba-hamba-Nya dan memanggil mereka untuk kembali kepada-Nya. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang melampaui batas agar kembali kepada Kasih-Sayang-Nya. Jika Anda berfikir bahwa Anda tidak akan diampuni, maka Anda keliru. Memangnya ampunan Allah itu untuk para malaikat yang tidak pernah berdosa? Atau untuk mereka yang Anda anggap sholih? Justeru ampunan Allah itu untuk kita, hamba-hamba-Nya yang telah melampau batas dalam kedurhakaan. Maka ambillah ampunan Allah itu dengan bertaubat dan beristighfar, karena ampunan Allah memang untuk kita. Dia selalu merindukan Anda.

    Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” [QS. Az-Zumar: 53-55]

    Lihatlah betapa Allah merindukanmu dan menghiburmu dengan rahmat dan ampunan-Nya. Jika Dia merindukan Anda, lalu bagaimana Anda tidak merindukannya? Bukankah sebenarnya Anda juga rindu untuk merasakan ni’matnya ibadah, ni’matnya munajat, ni’matnya berdialog dengan Allah? Maka rasakanlah kelezatan ini. Rasakanlah manisnya lisan yang menyebut Asma-Nya. Ni’matilah keindahan mata yang dibasahi air mata kerinduan pada-Nya. Rasakanlah dahsyatnya goncangan hati yang bergetar dalam khusyu.

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, [QS. Al-Anfal: 2]