Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. [QS. 3:50]
Orang Kristen berargumen bahwa jika Yesus dapat menghalalkan apa yang diharamkan, pastilah Yesus itu Tuhan. Padahal tidak demikian. Yesus bertindak sesuai kehendak Allah, bukan atas otoritasnya sendiri.
Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi… Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. [Matius 5:38-48]
Ayat ini tidak bisa diartikan menghalalkan, tetapi lebih tepat sebagai anjuran. Seseorang boleh menuntut balas, tetapi alangkah baiknya jika dia mau memaafkan.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. [QS. 2:178]
Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Kuasa. [QS. An-Nisaa: 149]
Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-Jaatsiyah: 14]
Dan orang Kristen mengklaim bahwa tidak ada makanan yang dapat menajisi. Tapi bagaimana dengan tikus, cacing, anjing, babi? Adakah mereka mengatakan bahwa semua itu boleh dimakan? Betapa jorok dan tidak sehatnya kehidupan Kristen.
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. [QS. Al-Ma`idah: 47]
Orang-orang Kristen yang anti Hukum Tuhan mengklaim bahwa Allah telah membebaskan orang Kristen dari Hukum Tuhan. Padahal ayat ini justeru mengukuhkan bahwa mereka haruslah menjalankan Hukum Taurat. Sebab ada dikatakan dalam Injil Matius:
Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. [Matius 5:18]
Maka jelaslah bahwa orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Injil tetapi mereka tidak memutuskan perkara menurut Hukum Taurat, maka mereka itulah orang-orang fasik. Memang benar bahwa Allah tidak menurunkan dalam Injil itu suatu syariat, sebab syariat yang dipakai Yesus adalah syariat Musa. Hanya saja Allah memperlunaknya dengan memberikan beberapa perubahan yang telah Allah wahyukan kepada Yesus. Sebagaimana keringanan itu pun ada dalam syariat Muhammad Rasulullah SAAW. Misalnya dalam hal hukum zina. Dalam syariat Musa dikatakan bahwa jika perawan dan perjaka yang berzina harus di rajam (dilempari batu hingga mati)*. Tetapi dalam syariat Muhammad Rasulullah SAAW, melempari batu itu hanya kepada pelaku zina yang sudah pernah menikah; adapaun terhadap pelaku zina yang belum menikah cukuplah dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Adapun dalam Injil dikatakan bahwa barangsiapa yang matanya melakukan zina mata, maka sebaiknya ia mencungkil matanya dan membuangnya. Kenapa? Sebab mata yang berzina akan membawa kepada kematian. Ternyata tidak ada penyelamatan dengan penyaliban.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. [Yohanes 5:30]
Maka jelaslah bahwa Yesus bukanlah pembuat undang-undang. Dia hanya memutuskan berdasarkan apa yang Allah Firmankan kepadanya.
Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. [QS. 3:50]
Orang Kristen menjadikan ayat ini sebagai argumen dari Al-Qur`an bahwa Yesus adalah Tuhan Pembuat Undang-Undang. Padahal tidak demikian. Jika ayat ini telah menjadikan Yesus sebagai Tuhan, lalu bagaimana dengan ayat-ayat ini:
Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. 3:31]
Nuh berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:108,110]
Hud berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:126,131]
Shalih berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26 :144,150]
Luth berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:163]
Syu’aib berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:179]
* Ulangan 22: 13-30