Blog

  • PEMBUAT UNDANG-UNDANG?

    Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu`jizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. [QS. 3:50]

    Orang Kristen berargumen bahwa jika Yesus dapat menghalalkan apa yang diharamkan, pastilah Yesus itu Tuhan. Padahal tidak demikian. Yesus bertindak sesuai kehendak Allah, bukan atas otoritasnya sendiri.

    Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi… Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. [Matius 5:38-48]

    Ayat ini tidak bisa diartikan menghalalkan, tetapi lebih tepat sebagai anjuran. Seseorang boleh menuntut balas, tetapi alangkah baiknya jika dia mau memaafkan.

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. [QS. 2:178]

    Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema`af lagi Maha Kuasa. [QS. An-Nisaa: 149]

    Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas sesuatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-Jaatsiyah: 14]

    Dan orang Kristen mengklaim bahwa tidak ada makanan yang dapat menajisi. Tapi bagaimana dengan tikus, cacing, anjing, babi? Adakah mereka mengatakan bahwa semua itu boleh dimakan? Betapa jorok dan tidak sehatnya kehidupan Kristen.

    Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. [QS. Al-Ma`idah: 47]

    Orang-orang Kristen yang anti Hukum Tuhan mengklaim bahwa Allah telah membebaskan orang Kristen dari Hukum Tuhan. Padahal ayat ini justeru mengukuhkan bahwa mereka haruslah menjalankan Hukum Taurat. Sebab ada dikatakan dalam Injil Matius:

    Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. [Matius 5:18]

    Maka jelaslah bahwa orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Injil tetapi mereka tidak memutuskan perkara menurut Hukum Taurat, maka mereka itulah orang-orang fasik. Memang benar bahwa Allah tidak menurunkan dalam Injil itu suatu syariat, sebab syariat yang dipakai Yesus adalah syariat Musa. Hanya saja Allah memperlunaknya dengan memberikan beberapa perubahan yang telah Allah wahyukan kepada Yesus. Sebagaimana keringanan itu pun ada dalam syariat Muhammad Rasulullah SAAW. Misalnya dalam hal hukum zina. Dalam syariat Musa dikatakan bahwa jika perawan dan perjaka yang berzina harus di rajam (dilempari batu hingga mati)*. Tetapi dalam syariat Muhammad Rasulullah SAAW, melempari batu itu hanya kepada pelaku zina yang sudah pernah menikah; adapaun terhadap pelaku zina yang belum menikah cukuplah dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Adapun dalam Injil dikatakan bahwa barangsiapa yang matanya melakukan zina mata, maka sebaiknya ia mencungkil matanya dan membuangnya. Kenapa? Sebab mata yang berzina akan membawa kepada kematian. Ternyata tidak ada penyelamatan dengan penyaliban.

    Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. [Yohanes 5:30]

    Maka jelaslah bahwa Yesus bukanlah pembuat undang-undang. Dia hanya memutuskan berdasarkan apa yang Allah Firmankan kepadanya.

    Karena itu bertaqwalah kepada Allah dan ta`atlah kepadaku. [QS. 3:50]

    Orang Kristen menjadikan ayat ini sebagai argumen dari Al-Qur`an bahwa Yesus adalah Tuhan Pembuat Undang-Undang. Padahal tidak demikian. Jika ayat ini telah menjadikan Yesus sebagai Tuhan, lalu bagaimana dengan ayat-ayat ini:

    Katakanlah (wahai Nabi Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. 3:31]

    Nuh berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:108,110]
    Hud berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:126,131]
    Shalih berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26 :144,150]
    Luth berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:163]
    Syu’aib berkata: “maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” [QS. 26:179]

    * Ulangan 22: 13-30

  • KESETARAAN DAN PERSAUDARAAN DALAM ISLAM

    Islam adalah agama yang mengajarkan kesetaraan. Bahkaan Nabi Muhammad saaw bersabda, “Bangsa Arab tidak lebih mulya dari bangsa non-Arab. Bangsa non-Arab tidak lebih mulya dari bangsa Arab.” Walau beliau saaw adalah seorang Arab, tetapi beliau saaw tidak menganggap bahwa bangsa Arab adalah bangsa pilihan Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur`an:

    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

    Tujuan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukanlah supaya kita berbangga-banggaan (ashobiyah/fanatik) dengan suku atau bangsa kita, melainkan supaya kita saling berkenalan satu sama lain, saling memperkenalkan adat kebiasaan yang luhur, dan bukan untuk merendahkan suku/bangsa lain. Karena kemulyaan itu bukan terletak pada kebangsaan seseorang. Melainkan terletak pada ketaqwaannya.

    Inilah salah satu kesempurnaan Islam. Hal ini mungkin tidak dapat dijumpai dalam agama-agama lain. Dalam Hindu, kita mengenal kasta. Dalam Alkitab, kita dapat melihat bagaimana Alkitab menyatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa terhormat dan bangsa lain adalah bangsa binatang.

    (Yesus berkata:) “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. ” (Yohanes 4:22)

    Matius 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”

    Matius 15:26 Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
    Matius 15:27 Kata perempuan Kanaan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

    Kami ragu bahwa kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut mulia Nabi Isa as. Rasanya tidak mungkin seorang Nabi utusan Tuhan itu begitu rasis. Jika kita melihat rasisme bangsa Yahudi dalam Alkitab, itu dapat sangat dipahami. Mereka menjadi rasis disebabkan terlalu lama dijajah oleh berbagai bangsa. Rasa dendam yang mendalam ini menjadikan mereka menderita suatu penyakit kejiwaan seperti schizophrenia. Dengan penuh dendam itulah mereka telah mengubah Kitab suci. Sehingga Alkitab yang dipegang Kristiani saat ini sudah tercemar, tak lagi suci. Kitab suci macam apa yang menyebut bangsa Yahudi Zionis sebagai sumber keselamatan?

    Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. Al-Baqarah: 8-10)

    Schizophrenia type paranoid adalah penyakit yang sangat berbahaya. Penderita mempunyai kecerdasan yang bekerja dengan baik. Ia melihat dan mendengar segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, tetapi sayang benar, ia memiliki ‘perasaan teraniaya’ dan perasaan cemburu yang keras. Tepatlah jika Ahmad Dhani dan John Lennon menyebut diri mereka sebagai lelaki pencemburu (jealous guy). Penderita penyakit ini sangat mencurigai orang-orang lain di sekelilingnya. Mereka sering terlihat normal. Tetapi setiap perasaan sakit hati yang ditahan-tahan itu timbul, ia tidak ragu-ragu untuk melukai seseorang jika ia berpendapat bahwa orang itu ‘bermaksud jahat terhadapnya’. Bahkan mungkin ia dapat melakukan pembunuhan. Ia memiliki ingatan yang tajam mengenai nama-nama, tanggal-tanggal dan peristiwa-peristiwa. Ia menggunakan semua hal tersebut dalam usahanya untuk ‘membalas dendam’. (Modern Ways to Health oleh Clifford R. Anderson, M.D)

    Penderita schizophrenia cenderung perfeksionis. Dia merasa bahwa dirinya atau kelompoknya, sukunya, bangsanya, atau rasnya adalah yang terbaik. Dan dia merendahkan orang atau kelompok lain. Serta merasa bahwa dirinya adalah kebenaran. Sedangkan yang bertentangan dengan dirinya adalah salah. Nabi saaw bersabda, “Kesombongan adalah merasa diri paling baik, merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran.”

    Kita telah melihat bagaimana sombongnya bangsa Yahudi Zionis. Kita juga telah melihat bagaimana bangsa Mesir kuno di bawah pengaruh Firaun. Atau bangsa Jerman di bawah pengaruh Hitler. Hitler merasa bahwa rasnya adalah yang terbaik. Hitler memang salah satu manusia yang menderita schizophrenia. Maka, tidak mungkin Isa as telah membuat pernyataan rasis seperti itu. Dan tidak mungkin Alkitab itu dapat disebut kitab suci.

    Adapun Islam diturunkan untuk menghapuskan rasisme. Bahkan Nabi saaw begitu marah ketika ada seseorang yang mengejek Bilal bin Rabah karena Bilal adalah seorang Habsyi (Ethiopia). Bagi Nabi saaw, apa pun warna kulitnya, semua manusia itu sama. Yang membedakan kemulyaan seseorang dari yang lainnya adalah ketaqwaan mereka kepada Allah. Betapa indah ajaran Islam ini. Nabi saaw tidak menyebut bangsa Ajam (non-Arab) sebagai anjing atau babi. Justeru beliau bersabda, “Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas bangsa Ajam, dan tidak ada kelebihan bangsa Ajam atas bangsa Arab.” Maka pahamilah wahai ummat Islam, terutama ummat Islam di Indonesia, bahwa suku yang satu tidak lebih mulya dari suku yang lain! Suku Betawi, Jawa, Sunda, Ambon, Batak, Bugis, atau suku apa pun, selama dia Muslim, dia adalah saudara kita.

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena ni`mat Allah, sebagai orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

    Berhentilah dari menganggap sukumu sebagai suku terbaik! Dan berhentilah dari menganggap suku lain sebagai ‘pembawa kerusakan’! Jauhilah penyakit-penyakit tersebut! Sungguh, penyakit seperti itu adalah sangat mengerikan. Seorang penderita schizophrenia dapat membunuh seseorang yang dianggap sebagai ‘pendosa’ karena pemikiran orang itu berbeda dengan pemikirannya. Padahal, sesuatu yang menurut dia salah, belum tentu salah menurut Tuhan. Dan orang tersebut bukanlah Tuhan yang selalu benar. Bukan pula seorang Nabi yang maksum. Maka jauhilah penyakit tersebut. Dan jadilah kita sebagai orang-orang yang bersaudara!

  • PENGUBAHAN TAURAT OLEH YAHUDI

    Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 78-79)

    Ada beberapa hal yang perlu dilihat dalam pengubahan Taurat oleh Yahudi. Di antaranya adalah bahwa kebanyakan Yahudi, di masa menjelang dan ketika Taurat diturunkan, adalah buta huruf. Mereka diperbudak oleh bangsa Mesir hingga tidak memiliki kesempatan untuk belajar baca-tulis. Mereka menjaga ajaran agama dengan tradisi lisan. Sayangnya, para pendeta Yahudi bukanlah orang-orang yang menjaga ajaran Tuhan yang haqiqi. Mereka lebih cenderung kepada ajaran pagan yang mereka tiru dari bangsa-bangsa non-Yahudi. Ketika Nabi Musa masih hidup saja, mereka sudah memperlihatkan kedurhakaannya, apalagi ketika Nabi Musa telah wafat. Sewaktu Nabi Musa meninggalkan mereka selama 40 hari 40 malam untuk beribadah di bukit Sinai, mereka malah membuat patung anak sapi dari emas.

    Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap meyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Al A’raaf: 138-139)

    Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (akan memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan (patung emas berbentuk) anak lembu (sebagai sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 51)

    Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?.” Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (QS. Thahaa: 86-88)

    Para pendeta yang lebih cenderung kepada agama pagan ini kemudian menyusupkan ajaran-ajaran berhala ke dalam Taurat setelah Nabi Musa wafat. Bani Israil yang tidak bisa baca-tulis percaya saja bahwa yang diajarkan para pendeta itu adalah berdasarkan Kitab Taurat yang asli. Padahal mereka belum pernah membaca Kitab Taurat yang asli. Sesungguhnya, apa yang mereka dengar dari para pendeta itu adalah Kitab Taurat yang telah dibumbui dengan dongeng dan mitos penyembah berhala. Lagi pula, bani Israil memang menyukai ajaran yang demikian. Ajaran para pendeta sangat sesuai dengan hawa nafsu mayoritas bani Israil.

    KABBALAH

    Arti kata Kaballah adalah “tradisi lisan”. Berbagai ensiklopedia dan kamus mendefinisikannya sebagai suatu cabang mistik agama Yahudi dan hanya dipahami sedikit orang. Menurut definisi ini, Kabbalah mempelajari arti tersembunyi dari Taurat dan naskah agama Yahudi. Tetapi, ketika kita mengkaji masalah ini lebih dekat, kita menemukan berbagai faktanya adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Fakta-fakta ini membawa kita kepada kesimpulan bahwa Kabbalah adalah suatu sistem yang berakar kepada penyembahan dan pemujaan berhala; bahwa ia ada sebelum Taurat, dan menjadi tersebar luas bersama agama Yahudi setelah Taurat diturunkan.

    Ahli sejarah Prancis, Gougenot des Mousseaux, menjelaskan bahwa Kabbalah memang jauh lebih tua daripada agama Yahudi. Ahli sejarah Yahudi Fabre d’Olivet menyebutkan bahwa Kabbalah berasal dari Mesir Kuno. Menurut penulis ini, Kabbalah mengakar hingga ke Mesir Kuno. Kabbalah merupakan suatu tradisi yang dipelajari oleh sebagian pemimpin Bani Israil di Mesir Kuno, dan diteruskan sebagai tradisi dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

    Mesir Kuno dengan para fir’aunnya adalah salah satu peradaban tertua di dunia; juga yang paling penindas. Monumen-monumen megah yang masih tersisa dari Mesir Kuno — berbagai piramid, sphinx, dan obelisk — dibangun oleh ratusan ribu budak, yang bekerja hingga hampir mati, di bawah lecutan cambuk dan ancaman kelaparan. Para Fir’aun, penguasa absolut di Mesir, ingin direpresentasikan sebagai dewa dan disembah oleh manusia.

    Di dalam Al-Qur`an, di dalam kisah Musa, kita memperoleh informasi penting tentang sistem di Mesir. Ayat-ayat tersebut mengungkapkan bahwa terdapat dua titik fokus kekuatan di Mesir: Fir’aun dan dewan pembesarnya. Dewan ini memiliki pengaruh penting terhadap Fir’aun. Fir’aun sering berkonsultasi dengan mereka dan senantiasa mengikuti anjuran mereka. Ayat yang dikutip di bawah menunjukkan pengaruh dewan ini terhadap Fir’aun:

    Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu”. (Fir’aun berkata): “Maka apakah yang kamu anjurkan?” Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai”. (QS. Al-A’raaf: 109-112)

    Patut diperhatikan bahwa perkataan tersebut diutarakan oleh suatu dewan yang menasihati Fir’aun, yang menghasutnya melawan Musa, dan merekomendasikan kepadanya metode-metode tertentu. Jika kita amati catatan sejarah Mesir, kita melihat bahwa dua komponen utama dewan ini adalah tentara dan pendeta.

    Tentara merupakan kekuatan militer utama dari rezim Fir’aun. Tetapi, kita mesti mengamati lebih dekat lagi peranan para pendeta. Para pendeta Mesir Kuno merupakan golongan yang disebutkan di dalam Al Quran sebagai ahli-ahli sihir. Mereka merepresentasikan sekte yang mendukung rezim. Mereka dipercayai memiliki kekuatan khusus dan menguasai pengetahuan rahasia. Dengan otoritas ini mereka mempengaruhi rakyat Mesir, dan mengukuhkan posisi mereka di dalam pemerintahan Fir’aun. Golongan ini, yang diketahui dari catatan sejarah Mesir sebagai “Para Pendeta Amon”, memusatkan perhatian mereka untuk mempraktikkan ilmu sihir dan memimpin sekte pagan mereka; selain itu, mereka juga mempelajari beragam ilmu pengetahuan seperti astronomi, matematika, dan geometri.

    Golongan pendeta ini adalah sebuah ordo tertutup yang memiliki (begitu yang mereka anggap) pengetahuan khusus. Ordo semacam ini biasanya dikenal sebagai organisasi esoterik. Di dalam majalah bernama Mason Dergisi (Jurnal Masonik), terbitan yang tersebar di antara pengikut, secara khusus disebutkan tentang pendeta-pendeta Mesir Kuno.

    Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). (QS. Al-Baqarah: 102)

    Dari ayat di atas kita dapat melihat bahwa bani Israil terus melakukan sihir hingga ke zaman setelah Nabi Sulaiman wafat. Mereka terus mempraktikkan ajaran Kabbalah dan terus-menerus menambahkan ayat-ayat setan ke dalamnya.

    Ajaran Kabbalah ini telah mempengaruhi ajaran Yahudi dan Taurat. Dan Taurat sebagai bagian dari Alkitab, tentunya juga telah menjerat pemeluknya ke dalam kesesatan. Maka tidak aneh jika Paus Benedict XVI justeru menghujat Nabi Muhammad saw, dan bukannya menghujat tentara Israel yang jelas-jelas penyembah Setan. Coba Anda lihat situs yang berisi simbol-simbol Masonic dengan mengklik ‘New World Order’ pada Blogroll. Ternyata, baik Masonic maupun Kristian, sesungguhnya mereka menyembah Dewa Matahari.

    Lihat juga artikel di bawah ini:
    Saint Peter Square: Kuil Dewa Matahari
    Yahudi dan Iblis

    (Dari buku ‘Ancaman Global Freemasonry’, karya Adnan Oktar yang lebih dikenal sebagai Harun Yahya)

  • Apakah mereka tidak memperhatikan unta?

    Lima puluh lima derajat celcius adalah suhu yang panas membakar. Itulah cuaca panas di gurun pasir, daerah yang tampak tak bertepi dan terhampar luas hingga di kejauhan. Di sini terdapat badai pasir yang menelan apa saja yang dilaluinya, dan yang sangat mengganggu pernafasan. Padang pasir berarti kematian yang tak terelakkan bagi seseorang tanpa pelindung yang terperangkap di dalamnya. Hanya kendaraan yang secara khusus dibuat untuk tujuan ini saja yang dapat bertahan dalam kondisi gurun ini.

    Kendaraan apapun yang berjalan di kondisi yang panas menyengat di gurun pasir, harus didisain untuk mampu menahan panas dan terpaan badai pasir. Selain itu, ia harus mampu berjalan jauh, dengan sedikit bahan bakar dan sedikit air. Mesin yang paling mampu menahan kondisi sulit ini bukanlah kendaraan bermesin, melainkan seekor binatang, yakni unta.

    Unta telah membantu manusia yang hidup di gurun pasir sepanjang sejarah, dan telah menjadi simbul bagi kehidupan di gurun pasir. Panas gurun pasir sungguh mematikan bagi makhluk lain. Selain sejumlah kecil serangga, reptil dan beberapa binatang kecil lainnya, tak ada binatang yang mampu hidup di sana. Unta adalah satu-satunya binatang besar yang dapat hidup di sana. Allah telah menciptakannya secara khusus untuk hidup di padang pasir, dan untuk melayani kehidupan manusia. Allah mengarahkan perhatian kita pada penciptaan unta dalam ayat berikut:

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan.” (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)

    Jika kita amati bagaimana unta diciptakan, kita akan menyaksikan bahwa setiap bagian terkecil darinya adalah keajaiban penciptaan. Yang sangat dibutuhkan pada kondisi panas membakar di gurun adalah minum, tapi sulit untuk menemukan air di sini. Menemukan sesuatu yang dapat dimakan di hamparan pasir tak bertepi juga tampak mustahil. Jadi, binatang yang hidup di sini harus mampu menahan lapar dan haus, dan unta telah diciptakan dengan kemampuan ini.

    Unta dapat bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum. Ketika unta yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, ia akan menyimpannya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk unta. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun.

    Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah.

    Perutnya memiliki disain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir. Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan nafas dan membutakan mata. Tapi, Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. Kelopak mata unta melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga unta tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata. Terdapat pula disain khusus pada hidung unta. Ketika badai pasir menerpa, ia menutup hidungnya dengan penutup khusus.

    Salah satu bahaya terbesar bagi kendaraan yang berjalan di gurun pasir adalah terperosok ke dalam pasir. Tapi ini tidak terjadi pada unta, sekalipun ia membawa muatan seberat ratusan kilogram, karena kakinya diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi oleh rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian. Disain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan unta.

    Marilah kita renungkan semua ciri unta yang telah kita saksikan. Sistem khusus yang memungkinkannya menahan haus, punuk yang memungkinkannya bepergian tanpa makan, struktur kaki yang menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, kelopak mata yang tembus cahaya, bulu mata yang melindungi matanya dari pasir, hidung yang dilengkapi disain khusus anti badai pasir, struktur mulut, bibir dan gigi yang memungkinkannya memakan duri dan tumbuhan gurun pasir, sistem pencernaan yang dapat mencerna hampir semua benda apapun, lapisan tebal khusus yang melindungi kulitnya dari pasir panas membakar, serta rambut permukaan kulit yang khusus dirancang untuk melindunginya dari panas dan dingin.

    Tak satupun dari ini semua dapat dijelaskan oleh logika teori evolusi, dan kesemuanya ini menyatakan satu kebenaran yang nyata: Unta telah diciptakan secara khusus oleh Allah untuk hidup di padang pasir, dan untuk membantu kehidupan manusia di tempat ini.
    Begitulah, kebesaran Allah dan keagungan ciptaan-Nya tampak nyata di segenap penjuru alam ini, dan Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Allah menyatakan hal ini dalam ayat Alquran:

    “Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan – Nya meliputi segala sesuatu”. (QS. Thaahaa, 20:98)

  • “HAMAN” DAN BANGUNAN MESIR KUNO

    Al Qur’an mengisahkan kehidupan Nabi Musa AS dengan sangat jelas. Tatkala memaparkan perselisihan dengan Fir’aun dan urusannya dengan Bani Israil, Al Qur’an menyingkap berlimpah keterangan tentang Mesir kuno. Pentingnya banyak babak bersejarah ini hanya baru-baru ini menjadi perhatian para pakar dunia. Ketika seseorang memperhatikan babak-babak bersejarah ini dengan pertimbangan, seketika akan menjadi jelas bahwa Al Qur’an, dan sumber pengetahuan yang dikandungnya, telah diwahyukan oleh Allah Yang Mahatahu dikarenakan Al Qur’an bersesuaian langsung dengan seluruh penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan, sejarah dan kepurbakalaan di masa kini.

    Ketika hiroglif terpecahkan, diketahui bahwa Haman adalah seorang pembantu dekat Fir’aun, dan “pemimpin pekerja batu pahat”. (Gambar ini memperlihatkan para pekerja bangunan Mesir kuno). Hal teramat penting di sini adalah bahwa Haman disebut dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengarahkan pendirian bangunan atas perintah Fir’aun. Ini berarti bahwa keterangan yang tidak bisa diketahui oleh siapa pun di masa itu telah diberikan oleh Al Qur’an, satu hal yang paling patut dicermati.

    Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan dalam paparan Al Qur’an tentang Haman: seorang pelaku yang namanya disebut di dalam Al Qur’an, bersama dengan Fir’aun. Ia disebut di enam tempat berbeda dalam Al Qur’an, di mana Al Qur’an memberitahu kita bahwa ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Fir’aun.

    Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur’an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.

    Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif dipecahkan, sekitar 200 tahun silam, dan nama “Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu. Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini, yang memaparkan kisah dan membukukan catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir pada batu dan banyak contoh masih terawetkan berabad-abad. Dengan tersebarnya agama Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak berubah hingga sekitar 2 abad silam.

    Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.

    Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir’aun. 1

    Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”.

    Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur’an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir’aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an.

    Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS. Al Qashas, 28:38)

    Ayat dalam Al Qur’an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir’aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur’an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.

    Secara menakjubkan, Al Qur’an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.

    (Dari situs Harun Yahya http://www.pesanharunyahya.com/news/latest/haman-dan-bangunan-mesir-kuno-423-302.html)

  • YESUS TIDAK MENGANGKAT PEDANG

    Orang Kristen berkata bahwa Yesus tidak mengangkat pedang. Benarkah? Betapa dustanya.

    “Tetapi sekarang,” kata Yesus, “siapa mempunyai dompet atau kantong, harus membawanya; dan siapa tidak mempunyai pedang, harus menjual jubahnya untuk membeli pedang. [Lukas 22:36]

    “Tuhan,” kata pengikut-pengikut Yesus, “lihat, di sini ada dua pedang.” “Sudahlah!” *Sudahlah: atau Sudah cukup.* jawab Yesus. [Lukas 22:38]

    Apakah kalian sangka Aku datang untuk membawa perdamaian ke dunia? Tidak, bukan perdamaian, melainkan perlawanan. [Lukas 12:51]

    “Janganlah menyangka bahwa Aku membawa perdamaian ke dunia ini. Aku tidak membawa perdamaian, tetapi perlawanan. [Matius 10:34]

    JIHAD BUKANLAH BARBAR

    Apakah trinitarian sungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa jihad adalah barbar? Tidak, pernyataan itu hanya muncul dari kedengkian mereka terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAAW. Buktinya mereka tidak menyebut Raja Daud sebagai Raja barbar.

    Dalam Islam, peperangan itu memiliki aturan yang ketat, diantaranya tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia, tidak boleh merusak pohon, dsb. Tapi lihat bagaimana moral pasukan salib? Bagaimana moral tentara George W. Bush? Betapa barbarnya!

    Lihat pula bagaimana pemaafnya Rasulullah ketika dihadapkan dengan orang-orang Thaif. Silahkan Anda lihat artikel dalam kategori Sejarah.

  • YOHANES 20:28 (Ilahi Rabbi)

    Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” [Yohanes 20:28]

    Yesus tidak pernah menunjuk dirinya sebagai “Allah” di dalam pengertian yang absolut, lalu apa yang dapat dijadikan pelajaran dari tindakan Tomas yang memanggil Yesus “Allahku”? Bahasa Yunani menggunakan kata theos, (“Allah” atau “allah”) dengan suatu maksud lebih luas dibanding saat ini. Di dalam bahasa dan budaya Yunani, “ALLAH” (semua naskah awal Alkitab telah ditulis dalam huruf kapital semua) adalah suatu sebutan deskriptif berlaku untuk bidang otoritas/kekuasaan, mencakup Gubernur Roma (Kis 12:22), dan bahkan Setan (2 Kor. 4:4), dan juga Musa (Keluaran 7:1). Kata itu telah digunakan seseorang dengan otoritas ilahi. Itu tidaklah terbatas pada pengertian kemutlakannya sebagai nama pribadi untuk Tuhan Yang Tertinggi seperti yang kita gunakan hari ini.

    Dan rakyatnya bersorak membalasnya: “Ini suara allah dan bukan suara manusia!” [Kis 12:22]

    yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. [2 Kor. 4:4]

    Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. [Keluaran 7:1]

    Dengan bahasa dimasanya, ungkapan yang digunakan oleh Tomas pasti dapat dimengerti. Pada sisi lain, untuk membuat Tomas mengatakan bahwa Yesus adalah “Allah,” sebagai 1/3 dari Tuhan tritunggal, nampak tidak masuk akal.

    Terlalu sulit untuk pengetahuan para murid; dan kita tidak punya pengetahuan bahwa mereka mengenali sifat Kristus yang ilahi sebelum pencurahan Roh Kudus. Ungkapan ini adalah suatu penandaan saja “seseorang yang aku hormati”; karena kata ‘Allah’ tidaklah selalu digunakan berkenaan dengan doktrin yang tegas.

    Ingat, adalah umum pada waktu itu untuk menyebut wakil Allah sebagai “Allah,” dan Perjanjian Lama punya banyak contoh untuk itu. Ketika Yakub berjuang dengan “Allah,” adalah jelas bahwa sebenarnya ia bergumul dengan seorang malaikat (Hosea 12:4).

    Ada banyak pakar Trinitas yang mengakui bahwa tidak ada pengetahuan tentang Doktrin Tritunggal ketika Tomas berbicara seperti itu. Sebagai contoh, jika para murid percaya bahwa Yesus adalah “Allah” di dalam pengertian yang banyak dilakukan Kristian, mereka tidak akan “melarikan diri” beberapa hari sebelum ia ditangkap. Pengakuan dua murid yang berjalan ke Emmaus mempertunjukkan pemikiran para pengikut Yesus pada saat itu. Mereka berkata Yesus “adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah…dan mereka menyalibkan dia; tetapi kita telah berharap agar ia adalah yang akan menebus Israel” (Lukas 24:19-21). Alkitab begitu jelas berkata bahwa para murid ini berpikir bahwa Yesus adalah seorang “nabi.” Sungguhpun Kristian berkata bahwa Yesus adalah Kristus, mereka mengetahui bahwa menurut Perjanjian Lama, Kristus, yang diurapi Tuhan, adalah seorang manusia. Tidak ada bukti menurut Injil di mana para murid Yesus percaya bahwa dia adalah Allah, dan Tomas, tidaklah memunculkan suatu theologi baru.

  • YOHANES 8:58 (PRE-EKSISTENSI)

    Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” [Yohanes 8:58]

    Ummat Kristen menggunakan ayat ini untuk menunjukkan pre-eksistensi Yesus. Dan ketika Yesus berkata ‘Ego Eimi’ (Aku ini, akulah dia, I am, I am he), ummat Kristen yakin bahwa Yesus adalah Tuhan.

    (lebih…)

  • ASH-SHIRATH AL-MUSTAQIM

    Bagaimanakah Ash-Shirathal Mustaqim (jalan lurus) dalam pandangan Muslim dan Kristian? Bagaimanakah pandangan Al-Qur`an dan Alkitab terhadap jalan lurus? Kami akan coba untuk membahasnya secara singkat dengan mengemukakan ayat dari kedua kitab tersebut, dengan izin ALLAH.

    JALAN LURUS DALAM ISLAM

    Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah: 6)

    Muslim tidak pernah menganggap ‘jalan yang lurus’ atau ‘jalan lurus’ sebagai Tuhan. Karena Tuhan bukanlah jalan, Tuhan adalah tujuan. Ketika seorang muslim meminta kepada ALLAH agar ditunjuki jalan yang lurus, mereka sedang meminta agar ditunjuki kepada jalan yang menyampaikan mereka kepada ALLAH. Jalan Tuhan adalah suatu jalan yang harus ditempuh bagi mereka yang ingin bertemu dengan ALLAH. Lalu apakah ‘jalan lurus’ atau ‘jalan Tuhan’ itu? Jalan lurus yang harus ditempuh orang-orang yang ingin bertemu dengan ALLAH adalah mengesakan ALLAH dan menyembah-Nya dengan ikhlash.

    (Isa adalah utusan kepada bani Israil yang berkata:) “Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 51)

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

    JALAN LURUS DALAM KRISTEN

    Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

    Kristian yang sudah terbius akan ‘keilahian’ Yesus, beranggapan bahwa pada ayat itu Yesus menunjukkan bahwa dirinya adalah jalan, dan dirinya adalah Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah menyebut dirinya sebagai jalan, karena Tuhan bukanlah jalan, melainkan tujuan. Sedangkan Yesus hanyalah mengajak manusia kepada jalan Tuhan, jalan yang harus ditempuh oleh semua orang yang ingin bertemu Tuhan. Bahkan Yesus dan para nabi harus melalui jalan tersebut jika mereka ingin bertemu dengan Tuhan, jalan itu adalah mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh para nabi. Ummat Nuh harus mengikuti jalan yang ditempuh Nuh, ummat Musa harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Musa, ummat Isa harus mengikuti jalan yang ditempuh oleh Isa, dan ummat Muhammad Rasulullah saaw harus mengikuti syariat yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saaw yang mana syariat itu beliau bawa dari Tuhannya. Oleh sebab itu ummat Nabi Muhammad harus mengakui bahwa tidak ada yang berhaq disembah kecuali ALLAH dan mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul ALLAH. Begitu juga ummat Nabi Isa as, mereka harus mengakui keesaan ALLAH dan mengakui Isa sebagai orang yang diutus oleh ALLAH.

    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

    Yesus bukanlah Tuhan, karena Yesus bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah ALLAH. Yesus hanyalah utusan ALLAH yang mengajak kepada bani Israil agar mengakui ALLAH sebagai Ilah mereka. Sedangkan Nabi Muhammad saaw diutus bukan hanya untuk bangsa Arab, bukan hanya untuk bangsa Israil, tetapi untuk semua ummat manusia. Nabi Muhammad saaw diutus untuk mengajak manusia agar mengakui ALLAH sebagai satu-satunya Ilah yang benar.

    SEMBAHLAH DIA

    Aku mengajak kepada kalian semua agar kembali kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi oleh ALLAH. Sebagaimana yang diserukan Isa kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan para nabi kepada kaumnya, sebagaimana yang diserukan Muhamamd Rasulullah saaw kepada seluruh ummat manusia, aku menyeru kepada kalian, ‘Sesungguhnya ALLAH, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus’.

    ALLAH, Dialah yang menciptakan aku dan kalian, yang harus aku sembah dan yang harus kalian sembah. ALLAH, Dialah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia, Ilah yang esa.

    Kata Yesus kepadanya: “…Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yohanes 20:17)
    Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (Markus 12:29)

    Yesus menyebut Tuhan sebagai ‘Ilah kita’, Ilahnya dan Ilah bani Israil. Yesus menyebut Tuhan sebagai Ilahnya, sebagai sesembahannya. Bahkan Yesus menyembah Tuhan. Tuhankah dia yang menyembah Tuhan? Tuhankah dia yang mengaku sebagai jalan menuju Tuhan? Pahamilah! Tuhan adalah tujuan, Tuhan bukanlah jalan. Tuhan adalah ALLAH, maka sembahlah Dia. ALLAH adalah Ilah yang benar, Ilah yang haq. Dialah ALLAH yang esa. HUWA ALLAHU AHAD!

  • Religious Journey to Denpasar, Bali May 2007

    Saturday noon at 13.00 WITA (Central part of Indonesia’s time), 26 May 2007 we arrived at Ngurah Rai Airport, Denpasar. The Dakwah coordinators in Denpasar area, Ustaz H Badrudin, Hb Talib Assegaf, H. Kholid and others greeted us warmly. Two cars filled with dakwah activists had been parked at the airport to welcome us, and when we arrived, we shared greetings and warm hugs, expressing our longing for not meeting each others for more than 3 years, while before we used to visit Bali monthly.

    We were headed for the residence of Ustaz H Badrudin to attend the opening of the Majelis, continued by reciting the Maulid Simtudduror together with tens of dakwah activists in the vicinity, ended by religious speech delivery, and lunch. After sitting for awhile in the gathering, we prayed Ashar together and went to Kampung Jawa Mosque. The people there had been waiting for us because they had been informed about our arrival a week before. After a short recitation on Maulid, I delivered a religious speech, attended by the associate of local Hindu priests.

    It is long known that Bali region is the biggest non-Moslem region in Indonesia, where the number of Moslem people is only 2,5% out of total citizens in Bali. Therefore it is a high time to form a close relationship with the Hindu priests, considering that the anxiety towards the pressure from Hindu people to Moslem people will be less and less. In several places, the pressure is still high, for example when the minaret of the mosque is higher than the tower of “Temple” then the mosque would be pulled down and destroyed. Also in many places there is a prohibition of adzan (summons to prayer) with a loud speaker, or the obligation to turn off the lights on Nyepi day (quiet day), and if there is a Moslem house which lit only a candle, the house will be thrown by stones until it is destroyed.

    They have traditional troops known as Hindu troops. They are more respected than military troops, and are entitled to rule and manage things above the military because they are the troops of the tribe. And many other complaints from the Moslem living there, but now these problems can be overcome by building good relationship with the “Pedande” (Hindu priests). This representative of the Head priest in Bali was very friendly and nice, he often attended the Majelis to accompany many Ulama coming from outside Bali, he even knew the word ‘Insya Allah’, Alaikumsalam, Bismillah, and other Islamic words, may Allah gives him hidayah.

    After the Majelis, we had the get together at the residence of Haji Khalid who was the dakwah activist in the region. We stayed there until Magrib time and we prayed Magrib and Isya together, before heading for Masjid Agung Sudirman (Sudirman Great Mosque). This was the peak of the program, where the tens of Majelis taklim which had been invited to attend the silaturahmi akbar were united. The majelis was led by Hb Fahmi Alkhanaiman, the only Habib who was persistent in upholding dakwah in Denpasar and its surroundings. The program ended at 23.00WITA.

    We went for rest at a big Villa completed with a swimming pool and a garden. Rumor has it that the villa belongs to a Pakistani who always rented his villa for guests from outside Bali. We sat together and had warm conversation with the Kyai, Ustaz, Moslem leaders and the prominent figures in the society who came one by one. Some asked questions, while others reported the problems of delivering Dakwah in their areas and we discussed about it. Around 02.00 at dawn, I went to my room for a little rest while waiting for Subuh prayer.

    Early morning, Sunday 27th May 2007 we prayed Subuh together at Musholla Annikmah, continued by Subuh lectures until near Isyraq. We went back to the Villa and were headed to the residence of Hb Talib Assegaf in Klungkung, he was the dakwah activist in his region who loved to invite many da’i (dakwah experts) from outside Bali. We attended the breakfast reception together with the groups from 3 other cars, making the house filled with the jamaah. Then we continued our journey by performing religious visit (Ziarah) to the Grave of Assayyid Alhabib Ali Alhamid in Kusambe, around 30km from Denpasar. In this place we met with a group led by Hb Fahmi Khanaiman, making the ziarah more pleasant. Then together we went to Ma’had in Kusambe, and this relatively new Islamic boarding school had been filled with the religious students. We were greeted with maulid Dhiya’ullami performed by those students, then I delivered Mau’idhah hasanah and ended by Ijazah Sanad Shahih Bukhari, Hadits Rahmah and Hadits mahabbah.

    The journey continued to the residence of Hb Segaf Asegaf which was also in Klungkung, and we were treated lunch there. The very hot and sunny weather was somehow invited us to take rest in Padang Bay area, the port in Bali. We rested there for about 60 minutes, such a short time! I just took a quick bath and lied on bed, Masya Allah.. it was really a tiring journey and there was no time for rest for a couple of days before, because I was in Kuala Lumpur on Thursday and Friday, with also tight schedules, Friday in Jakarta and Saturday flew to Denpasar, oh.. I really felt exhausted…the event would be started after Asar prayer, I only had 40 minutes.

    I lied down and slept soundly….Subhanallah, I woke up and suddenly feeling terrified, because I felt like sleeping for long, as if I slept for 5 or 6 hours, but when I checked the watch it was only 20 minutes, Subhanallah.. what a sound sleep, Allah gave me the strength although only 20 minutes I felt like sleeping for long. Then I took a bath and rushed to go back to Klungkung, but we had a chance to pray Asar before rushing back to Klungkung to attend the majelis taklim Khairunnisa.

    Majelis for women was held at the residence of Hb Segaf, and near magrib prayer, we rushed to Denpasar to attend the last majelis after Isya, at Musholla Nurul Iman. The event was ended at 21.00 WITA, and we went to Ngurah Rai Airport for boarding, there we had little time to our last get together, hugs and sad farewell couldn’t be avoided, I speed my steps to the plane because I couldn’t hold my tears and couldn’t bear the sadness farewell with them. The Lion Air flight was postponed quite long, but at 23.30 WITA we finally could fly back to Jakarta.

    The twinkling lights on the land of Denpasar that I saw from the window pane as the plane took off were so beautiful, like the words of sad farewell. And within few seconds the twinkling lights changed into the horrifying darkness of Balinese ocean, I had no idea how many souls of dakwah leaders who have visited this island to introduce Tauhid, I never know whether they came back or stayed there, who knows if they survived or had an accident and syahid (died as a martyr for God)..

    But there was one munajat (silent prayer) that I breathed out over this Balinese ocean… Rabbiy… make this island an island of tauhid, the Moslem island, please destroy those worshipped statues of those worshipping other than You in this world of Yours…make this island the bowed-down island …make the people always recite dzikir, please help the Moslems there…Rabbiy… they have been patient living in midst of atheism for the sake of Dakwah, they have been patient from the pigs that wander around making their house veranda and their children dirty, they have been patient and have tried hard to find halal foods (permitted food according to Islam) for the sake of Your blessings, and they have tried to avoid anything haram (forbidden)…Rabbiy…please help them, pour Your Inayah towards them, make sure they die in husnul khatimah, make each second as blessing and taufiq towards those who worship other than You out there…, make every second existing for those who recite syahadat and convert to Islam.. our silent prayer days and nights towards this area to be soon poured by rains of blessings and Tauhid, amiin.. amiin..

    (Munzir Al Musawa www.majelisrasulullah.org)