Blog

  • BERHARAP KEPADA ALLAH

    Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Maa`idah: 84)

     

    Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”. (QS. Al-Hijr: 56)

     

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

     

    (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az Zumar: 9)

     

    Berharap kepada Allah timbul disebabkan adanya keyaqinan akan Kasih-Sayang Allah dan PertolonganNya. Untuk memohon kepada Allah kita dapat melakukannya dengan berdo’a, bershabar, shalat, dan beramal shalih. Maka janganlah kita menyembah usaha kita yang sebenarnya hanyalah sarana untuk memohon kepada Allah. Tetapi sembahlah Allah yang telah menciptakan usaha kita sebagai pertolongan dariNya. Sesungguhnya Allah, apabila ingin menunjukkan karuniaNya kepada kita, maka Dia menciptakan amal itu seraya menanamkan (menasabkan) amal itu kepada kita.

     

     

    PANTANG MENGELUH ATAU MENYERAH

     

    Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Ali Imran: 146-147)

     

    Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa`: 104)

     

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (Q.S. Al-Anfal: 45)

     

    Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. (Q.S. Muhammad: 35)

     

    Sayyidina Umar bin Khoththob pernah berkata, “Jika kamu bershabar, tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapat pahala. Dan jika kamu mengeluh, juga tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapatkan dosa.”

     

    Musuh manusia yang nyata adalah syaithan. Maka janganlah berputus asa dalam memerangi kehendak syaithoniyah. Dan jangan pula berputus asa dalam menghadapi da’wah para pengikut syaithan. Sungguh, argumentasi para pengikut syaithan itu sangatlah lemah dan mudah dipatahkan. Kami telah sering mengikuti diskusi dengan para pengikut syaithan, dan alasan-alasan mereka lebih didasarkan kepada hawa nafsu, dan bukannya didasarkan kepada aqal sehat. Terkadang mereka akan tetap menyangkal Anda walau pun Anda telah mengemukakan dalil berdasar Kitab Suci mereka dan berdasarkan penafsiran yang benar, bukan berdasarkan penafsiran yang semaunya dan sepotong-sepotong yang sering menimbulkan kontradiksi. Begitulah mereka, mereka menafsirkan Kitab Suci semau hawa nafsu mereka saja. Sehingga sering menimbulkan kontradiksi dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci tersebut. Seandainya mereka mau berfikir secara menyeluruh, dan bukannya secara separuh-separuh (parsial), mungkin mereka akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Namun demikian, jangan berputus asa dalam menunjukkan mereka kepada kebenaran sejati. Karena mereka berhak untuk mendapatkan pengajaran dari kita tentang kebenaran sejati.

  • SAINT PETER SQUARE: KUIL MATAHARI

    “Since the Satanist worship the Sex Act, he must have a symbol of the female organ, to go along with the male organ, the Obelisk. And, indeed, Satanist do have a symbol of the female organ the Circle. And, when a point is added to the middle of the circle, you have the complete sex act, the male being the point and the female being the circle” [‘Point Within A Circle’, Masonic Short Talk Bulletin, August, 1931, Vol. 9, No. 8, Reprinted July, 1990, p. 4

    (lebih…)

  • AL-QUR`AN ITU ILMIAH DAN LOGIS

    Tidak layak seorang muslim beranggapan bahwa ada Kitab yang lebih baik daripada Al-Qur`an. Dengan beriman kepada Al-Qur`an, maka seorang muslim dituntut untuk menolak segala paham yang bertentangan dengan Al-Qur`an. Paham-paham tersebut antara lain adalah paham Darwinisme, komunisme, atheisme, liberalisme, sekulerisme, dan materialisme. Karena semua paham tersebut sama sekali tidak ilmiah. Tidak pernah ada bukti ilmiah bahwa manusia ini berasal dari kera. Tidak pernah ada bukti ilmiah bahwa dunia ini tercipta dengan sendirinya atau terjadi secara kebetulan. Sungguh tidak masuk di akal apabila desain yang demikian kompleks ini tercipta tanpa adanya Designer yang Mahabijaksana. Untuk membuat helikopter saja diperlukan rancangan cerdas dari para pakar yang cerdas. Apalagi untuk membuat seekor lalat atau seekor capung yang tentunya lebih canggih daripada helikopter.

    PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

    Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-An’am: 101)

    Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya. (Q.S. Adz-Dzariyat: 47)

    Pada tahun 1929, A.E. Hubble seorang astronom berkebangsaan Amerika menghadirkan sebuah penemuan besar. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia mendapati cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah. Hal ini berarti, bintang tersebut menjauh dari tempat observasi. Artinya bintang menjauhi bumi secara tetap. Sebelumnya ia juga mendapati bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu dengan yang lainnya. Ini menjelaskan bahwa ternyata alam semesta ternyata meluas –tidak statis sebagaimana diklaim oleh kaum atheis. Alam semesta yang meluas ini menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergeak mundur dalam hal waktu, maka didapati bahwa alam semesta berasal dari ‘titik tunggal’. Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini, mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta, mempunyai ‘volume nol’ dan ‘kerapatan tak terbatas. Alam semesta tercipta melalui ledakan titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat (Big Bang) ini menandai dimulainya alam semesta. Adapun yang dimaksud dengan ‘volume nol’ adalah ketiadaan.

    Ini adalah bukti bahwa agama Islam bukanlah takhyul. Sebab keyaqinan bahwa alam semesta itu diciptakan oleh Allah dapat dijelaskan secara ilmiah. Justeru teori yang mengatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan itulah yang merupakan kepercayaan takhyul yang tidak logis, tidak masuk aqal, tidak ilmiah, jahil, sesat. Jika tidak diatur oleh Allah, mana mungkin sebuah ledakan dahsyat dapat menghasilkan tatanan yang teratur seperti yang kita lihat pada alam semesta. Sebagaimana kita ketahui, setiap ledakan itu hanya menghasilkan kekacau-balauan. Tidak mungkin ledakan dinamit menghasilkan bangunan megah yang kokoh dan indah. Tanpa Kekuasaan Allah, tentu zat-zat itu akan berhamburan tanpa kontrol. Tetapi pada kenyataannya, setelah peristiwa Big Bang, zat-zat itu bergerak dengan kecepatan dan arah yang sangat terkendali. Tentu saja Allah Yang telah menahan zat-zat tersebut agar tidak berhamburan tanpa kendali.

    ORBIT

    Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Al Anbiya: 33)

    dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.(Yaa Siin: 38)

    Demi langit yang mempunyai jalan-jalan (orbit-orbit). (Q.S. Adz-Dzariyat: 7)

    Matahari berputar mengelilingi suatu titik bersama bintang-bintang di galaksi Bima Sakti, Matahari bergerak 17.280.000 km/hari dalam sebuah garis edar (orbit) ‘menuju’ bintang vega.

    Banyak orbit di langit tetapi tidak ada yang bertabrakan. Semua benda langit beredar sesuai garis edarnya dengan teratur di dalam pengaturan Allah Yang Mahasempurna.

    ATAP PELINDUNG

    Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (Q.S. Al-Anbiya: 32)

    Atmosfir dan sabuk van Allen melindungi bumi dari bahaya luar angkasa berupa meteor, radiasi, dsb.

    Demi langit yang mengandung hujan (raj’i). (Q.S. Ath-Thariq: 11)

    Raj’i artinya kembali. Hujan disebut dengan raj’i dalam ayat ini, sebab hujan itu adalah uap air yang berasal dari bumi. Pada titik jenuh, uap air itu akan kembali ke bumi dalam bentuk titis-titis air (hujan). Selain itu langit juga memiliki kemampuan mengembalikan yang lain. Misalnya:

    v Troposphere (13-15 km dari bumi) mengembalikan uap air dalam bentuk hujan

    v Ozonosphere (25 km dari bumi) mengembalikan ultraviolet dan radiasi dari matahari

    v Ionosphere mengembalikan pancaran gelombang dari bumi sehingga kita dapat berkomunikasi (melalui radio, tv, dsb) tanpa kabel.

    LAPISAN LANGIT

    Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah: 29)

    Kemudian Dia menuju langit (tata surya kita) dan langit itu masih merupakan asap (kabut/gas), lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 11-12)

    Atmosphere ada 7 lapisan yang dibedakan menurut ciri fisik dan fungsi-fungsinya. Lapisan-lapisan itu adalah:

    1. Troposfer mengembalikan uap air.
    2.
    Stratosfer.
    3.
    Ozonosfer bagian dari Stratosfer yang mengembalikan ultraviolet.
    4.
    Mesosfere.
    5.
    Termosfer.
    6.
    Ionosfer bagian dari Termosfer yang mengionisasi gas-gas dan mengembalikan gelombang dari bumi.
    7.
    Eksosfer 480-960 km di atas bumi.

    FUNGSI GUNUNG

    Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu tidak goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (Al Anbiya: 31)

    Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan,dan gunung-gunung sebagai pasak? (An Naba`: 6-7)

    Gunung itu muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya. Sementara yang diatas melipat dan membentuk gunung-gunung. Lapisan yang bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti, gunung memiliki bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tidak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan. Sehingga gunung memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau diantara lempengan-lempengannya. Fungsi gunung yang seperti ini mirip dengan pasak atau paku yang menahan sambungan lempengan kayu. Dalam istilah ilmiah kita menyebut fungsi gunung seperti ini dengan proses isostasi. Isostasi adalah kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi.

    PERJALANAN GUNUNG

    Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An Naml: 88)

    Pada tahun 1980, teori Alfred Wegner tentang pergerakan benua (continental drift) dibenarkan para ilmuwan. Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempengan tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1-5 cm per tahun. Lempengan-lempengan itu terus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun misalnya, Samudera Atlantik menjadi sedikit lebih lebar.

    BESI (BATU BINTANG)

    Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Q.S. Al-Hadid: 25)

    Logam besi yang kita temukan di bumi berasal dari bintang-bintang raksasa di luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya bisa dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa nova atau super nova. Akibatnya meteor-meteor yang mengandung besi bertebaran di alam semesta dan bergerak melalui ruang hampa udara hingga ditarik oleh gravitasi planet (benda angkasa)

    PEMBENTUKAN HUJAN

    Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (Q.S. Al-Hijr: 22)

    Ternyata angin tidak hanya mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Tetapi juga membantu proses terjadinya hujan.

    Di atas permukaan laut dan samudera gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil (aerosol) dengan diameter 1/100 milimeter. Aeroso bercampur dengan debu-debu daratan yang terbawa oleh angin. Selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun disekeliling partikel-partikel ini dan berubah jadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air berkumpul membentuk awan dan jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Angin mengawinkan uap air dengan partikel-partikel aeoroso yang dibawanya.

    PEMBAGIAN HUJAN

    Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). (Az Zukhruf:11)

    Setiap detik 16 juta ton air menguap dari bumi atau 513 trilyun air per tahun. Angka ini sesuai dengan jumlah air yang jatuh ke bumi tiap tahun. Dan hal ini terus terjadi tanpa berubah. Jika setiap tahun terjadi perubahan 0,1% saja, maka kehidupan di bumi akan berakhir.

    PEMBATAS DUA LAUTAN

    Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (Ar Rahman: 19-20)

    Ahli kelautan telah menemukan bahwa dua luatan yang berbeda tidak akan menyatu disebabkan adanya perbedaan masa jenis air.

    JENIS KELAMIN BAYI

    Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani, apabila dipancarkan. (An Najm:45-46)

    Cabang ilmu genetika dan biologi molekuler membenarkan hal ini. Kromosom menentukan jenis kelamin bayi. 2 Dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia, diketahui sebagai kromosom jenis kelamin. Dua kromosom ini adalah XY pada laki-laki dan XX pada wanita. Kromosom Y membawa gen yang mengkode sifat laki-laki, dan kromosom X membawa gen yang mengkode sifat perempuan. Pada perempuan kedua komponen sel kelamin yang terbelah menjadi dua selama ovulasi membawa kromosom X. Sebaliknya sel kelamin laki-laki menghasilkan dua sperma yang berbeda. Satu mengandung kromosom X dan yang lain mengandung kromosom Y. Jika semua kromosom X dari wanita bergabung dengan sebuah sperma yang mengandung kromosom X, maka bayi tersebut adalah perempuan. Jika bertemu dengan sperma yang mengandung kromosom Y, maka bayi tersebut adalah laki-laki. Jadi jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom laki-laki yang bergabung dengan sel telur perempuan.

    Hal-hal ini mungkin tidak diketemukan pada kitab-kitab lain. Galileo Galilei dan Copernicus adalah dua contoh korban dari kebodohan Gereja. Maka para ilmuwan berpendapat bahwa dengan mendekati ‘agama’, manusia akan mengalami kegelapan. Padahal bukan agama yang perlu dijauhi, tetapi agama yang bathil itulah yang perlu dijauhi. Sedangkan dengan mendekati agama yang shahih, maka kita akan mendapatkan pencerahan di dunia dan di akhirat. Hanya dengan mendekati Islam dan mengkaji Al-Qur`an serta menerapkan ajaran dari agama yang shahih inilah, ummat manusia akan berjalan menuju kejayaan (al-falah).

  • SEGERAKANLAH

    Manusia sering menunda untuk berbuat kebajikan. Terkadang dengan alasan waktu yang sempit, terkadang dengan alasan harta yang sedikit, atau lucunya lagi dengan alasan hati yang masih kotor. Itu semua hanyalah alasan yang dihembuskan oleh syaithan untuk menipu daya manusia agar semakin jauh dari Allah.

    Kesibukan, kemiskinan, kekotoran hati bukanlah alasan untuk meninggalkan atau ‘menunda’ kebaikan. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan sibuk berarti ia telah memupuk kemalasan. Sehingga sewaktu datang masa luang ia pun tidak mau berbuat baik, sebab kemalasan telah tumbuh subur di dalam hatinya. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan kemiskinan, berarti telah memupuk kebakhilan. Sehingga sewaktu datang harta yang berlimpah ia pun enggan bersedekah, sebab kebakhilan terlanjur tumbuh subur di dalam hatinya. Orang yang menunda kebaikan dengan alasan hatinya yang kotor, berarti telah menambahkan kekotoran hatinya. Sehingga ia semakin jauh dari Allah, dan kejahatan menjadi bagian utama dari hidupnya.

    Oleh sebab itu, pupuklah kesemangatan, kedermawanan, dan keimanan kita mulai dari sekarang juga. Mulailah kerjakan segala yang wajib (terutama sholat lima waktu dan zakat). Jika yang wajib telah dikerjakan, silahkan ditambah dengan yang sunnah. Semoga kebahagiaan lahir bathin akan menyelimuti Anda di dunia, juga di akhirat kelak.

    Suatu hari Rasulullah SAW memegang pundak Ibnu Umar kemudian bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang lewat di jalan.” Demikianlah pesan Rasulullah terhadap ibnu Umar, juga kepada kita ummatnya. Hidup di dunia hanyalah sebentar. Jika 1000 tahun di dunia =1 hari di akhirat, berarti 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit di akhirat. Maka jika kita berada di pagi hari janganlah kita menunggu datangnya sore untuk berbuat kebajikan. Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara. Gunakan kesehatan sebelum datang sakit, masa muda sebelum datang masa tua, kaya sebelum miskin, masa luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum datang ajal.

    Dari Jabir bin Abdillah ra. Berkata: berkhuthbah Rasulullah SAW, “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah sebelum kamu disibukkan oleh pekerjaan. Dan sambunglah dirimu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak dzikir, perbanyaklah shodaqoh dengan secara rahasia dan terang-terangan, niscaya kamu akan diberi rizqi, ditolong dan diberi ganjaran yang baik.” (Al Hadits)

    Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan (kebahagiaan) baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu`min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (Q.S. Al-Isra`: 18-19)

    Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akan akibat perbuatan itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yaqin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahannam. Dan sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (mata kepala sendiri) kemudian kamu pasti ditanya pada hari itu tentang keni;matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (Q.S. At Takatsur)

    Syaikh Ibnu ‘Atho`illah berkata, “Penundaanmu akan semua amal (kebaikan) karena menunggu adanya waktu luang itu termasuk sangat bodohnya jiwa. Tidaklah ada satu jiwa (nafsu) yang kamu tampakkan, melainkan bagi setiap jiwa itu ada ketentuan Allah yang akan melestarikannya padamu. Jangan menunggu hilangnya penghalang untuk melaksanakan perjalananmu menuju Allah Yang Maha Tinggi. Sesungguhnya yang demikian itu akan memutuskan kamu dari kewajibanmu menuju Allah di dalam segala yang Allah tempatkan kamu di dalamnya.”

    Sudah sifat dunia ini penuh ujian dan cobaan. Kekayaan dan kemiskinan adalah cobaan, kelapangan dan kesibukan adalah cobaan, kecerdasan dan kebodohan adalah ujian. Maka janganlah menunggu hilangnya ujian, sebab ujian tidak akan pernah hilang dari manusia yang hidup di dunia ini.

    Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan. (Q.S. Al-Anbiya`: 35)

  • KEYAQINAN UNTUK SUKSES

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,… Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 2,5)

    Tidak ada kesuksesan bagi orang yang ragu. Untuk itu, kita harus mencari tahu tentang apa yang akan kita perbuat, sehingga kita yaqin bahwa perbuatan kita itu adalah diridhoi Allah. Jangan sampai amal kita tertolak disebabkan tidak adanya ilmu pada kita tentang amal tersebut. Beberapa hal yang perlu kita cari ilmunya dan kita yaqini adalah:

     

    TUJUAN DAN DAMPAK

    Kita harus luruskan tujuan dari amal kita. Kita juga harus tahu dan yaqin dengan hasil atau dampaknya. Kita harus yaqin bahwa amal kita itu diridhoi Allah. Jika kita tidak yaqin, lebih baik kita tinggalkan. Tetapi jika ketidak-yaqinan kita timbul disebabkan ragunya kita dengan keikhlashan hati kita, maka jangan langsung meninggalkannya. Melainkan kita teruskan, baik secara bertahap ataupun tetap total seperti biasa, sambil memperbaiki dan meluruskan niat kita.

    Kita harus memiliki visi, cita-cita, dan orientasi yang mulia. Kita harus yaqin akan adanya balasan yang agung dari Allah, yaitu Kasih-Sayang dan MaghfirahNya serta Ridha`Nya. Kita harus yaqin akan adanya hari akhir.(1)

    Tujuan itu ada yang jangka panjang dan global (tujuan strategis); ada pula yang jangka pendek dan khusus (tujuan teknis). Tujuan teknis merupakan tahapan dalam pencapaian tujuan strategis. Misalnya sebagai hamba Allah kita mengharapkan Wajjah Allah, maka inilah tujuan strategis kita. Adapun tujuan tekhnisnya antara lain shalat yang khusyu, yaitu guna mengingat Allah, memohon pertolongan kepada Allah, membersihkan diri dan membentengi diri dari hawa nafsu, dsb; yang semua itu bertujuan juga untuk mencapai tujuan jangka panjang. Maka kita juga harus berusaha untuk bisa meraih shalat khusyu tersebut.

     

    KONSEP DAN KAIFIAT

    Konsep dan kaifiatnya (tata-caranya) harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits jika berhubungan dengan yang wajib. Jika amalan itu adalah sunnah, maka harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Hadits atau tidak bertentangan dengan keduanya serta diniatkan karena Allah(1). Adapun soal muammalah segalanya boleh kecuali yang dilarang Al-Islam seperti mengandung spekulasi (judi), penipuan, zat yang haram, riba, atau bathil. Kita harus yaqin dengan kebersihan konsep kaifiatnya.

    Sesungguhnya apa yang ada di alam semesta telah dijelaskan dalam Al-Qur`an dan telah ditulis dalam Lauhil Mahfuzh. Segala sesuatu Allah jadikan menurut ketentuan. Maka sudah sepantasnya jika kita merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi kita harus tetap percaya akan taqdir, dan rencana yang kita buat hendaknya tidak bertentangan dengan Al-Qur`an. Jika rencana kita bertentangan dengan Al-Qur`an, maka hal itu akan menjadi sia-sia di akhirat (bahkan di dunia).

     

    POTENSI DIRI

    Kita harus yaqin dengan potensi diri yang Allah berikan kepada kita. Jika kita belum memiliki keyaqinan akan potensi diri kita, cobalah untuk menggalinya agar ia muncul ke permukaan. Berikan sugesti dan motivasi kepada diri kita. Jika orang lain bisa, seharusnya kita juga bisa. Jika para Nabi sebagai tauladan kita bisa, maka berarti kita juga bisa. Tidak mungkin Allah memberikan tauladan yang tidak bisa dicontoh oleh manusia. Dan kita juga harus memiliki semangat bekerja yang tinggi sebagaimana para malaikat selalu tha’at kepada Allah.

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

    Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (Q.S. An-Nahl: 50)

    Sebenarnya semua manusia, baik Nabi, ulama atau pun orang pada umumnya seperti kita, memiliki 100 miliar neuron (sel saraf aktif) di kepalanya sejak lahir. Masing-masing neuron itu memiliki 20.000 dendrit (cabang) yang dapat menghubungkan neuron yang satu dengan neuron-neuron yang lain. Semakin banyak dendrit yang terhubung, semakin besar kapasitas otak untuk menyimpan informasi. Koneksi dendritas ini dapat dirangsang melalui banyak hal, misalnya dengan musik berketukan 60-70 per menit, gerakan fisik, olahraga, sugesti positif, melatih pernafasan, shalat yang khusyu, dzikir yang khusyu, gizi yang cukup (buah dan sayuran segar, ikan, kacang-kacangan, dan air putih), dsb.

    Lalu apa yang membuat para shahabat dapat menjadi generasi terbaik sepanjang masa? Karena mereka telah mengikuti seorang manusia sempurna pilihan Tuhan. Dengan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan manusia terbaik, para shahabat memiliki kualitas yang tidak akan dapat dicapai oleh generasi setelahnya.

    Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

     

     

     

    (1) Lihat surah Al-Baqarah ayat 1-5

    (2) Segala yang mubah dan diniatkan karena Allah atau menghindari ma’siat, itu adalah sunnah.

    (3) Lihat surah Ath Thalaq ayat 3, Al-Qamar ayat 12, Al-A’la ayat 3.

     

  • KEKUATAN MENTAL DAN AKHLAQ

    Di lihat dari akhlaq dan mental, manusia digolongkan menjadi 4 macam, yaitu:

    1.       Bermental kuat, berakhlaq baik.
    2.      
    Bermental lemah, berakhlaq baik.
    3.      
    Bermental lemah, berakhlaq buruk.
    4.      
    Bermental kuat, berakhlaq buruk.

     

    BERMENTAL LEMAH, BERAKHLAQ BURUK (1)

    Ini adalah penjahat yang perlu ‘dikasihani’. Orang ini punya kelakuan yang buruk, tetapi ia begitu mudah menyerah dalam melakukan aksi kejahatannya. Orang seperti ini tidak terlalu berbahaya. Dia biasanya hanya orang suruhan yang tidak professional. Dia tidak memiliki loyalitas di dalam menyebarkan kejahatan. Dia sering mengalami kegagalan dalam kejahatan.

    BERMENTAL LEMAH, BERAKHLAQ BAIK (2)

    Ini adalah orang sholih yang tidak bermanfaat bagi ummat. Ia mudah menyerah dalam berjihad dan berda’wah. Pesimis akan kemampuan diri. Jangankan mengajak tetangganya untuk berbuat kebajikan, mengajak keluarganya saja ia gagal. Dan sewaktu gagala ia tidak mencobanya lagi dengan cara lain. Bahkan malah membiarkan mereka di dalam keadaan tersebut.

    BERMENTAL KUAT, BERAKHLAQ BURUK (3)

    Manusia semacam ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Inilah manusia yang akan ‘memangsa’ golongan 1 dan 2. Manusia golongan inilah yang dengan segala cara akan berusaha agar manusia mengikuti dan membantu jalannya yang sesat. Pada saat ini, manusia golongan ini diperankan oleh Yahudi dan sekutu mereka. Mereka dengan segala cara berusaha menguasai dunia.

    BERMENTAL KUAT, BERAKHLAQ BAIK (4)

    Manusia-manusia semacam inilah yang dibutuhkan ummat manusia untuk menandingi ulah golongan 3. Mereka inilah orang-orang yang memiliki komitmen yang kuat terhadap kebenaran. Mereka tidak pernah berputus asa dalam berjuang. Mereka rela mengorbankan apa saja demi kebenaran. Mereka selalu berusaha untuk berkreasi dan berinovasi dalam da’wah bil haqq. Dan kunci kemenangan tetap berada pada sinergi (jama’ah). Jika mereka berda’wah sendiri, maka hasilnya hanya χ. Tetapi jika orang-orang ini bersinergi/berjama’ah dalam da’wah, maka hasilnya adalah 27χ dikali jumlah anggota jama’ah. Maka jika mereka membuat kelompok yang terdiri dari 10 orang saja, hasilnya sudah 270χ.

     

  • SHODAQOH PENYUBUR BUMI

    Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Q.S. Al-Baqarah: 276)

    Tasbih itu shadaqoh, senyum itu shodaqoh, membantu orang itu shadaqoh, menunjuki jalan itu shadaqoh, mengajarkan kebaikan itu shadaqoh, membuat pakaian itu shadaqoh, membuat makanan itu shadaqoh, menanam tumbuhan itu shadaqoh, mendamaikan itu shadaqoh, silaturahim itu shadaqoh, berda’wah itu shadaqoh, memberi itu shadaqoh, mendistribusikan itu shadaqoh, merawat itu shadaqoh, membersihkan itu shadaqoh, asal semua itu diniatkan karena Allah.

    Dalam shadaqoh itu ada karunia Allah bagi yang bershadaqoh dan yang menerima shadaqoh. Shodaqoh itu menerima karunia Allah dan membagi-bagikannya. Bagi yang menyalurkan/membagi-bagikan akan mendapat karunia yang lebih besar lagi.

    Allah menjadikan makanan, minuman, emas, perhiasan dan segalanya untuk diolah dan diatur oleh manusia agar bumi menjadi subur dan damai. Asalkan ada yang menyembah Allah dan kedamaian terwujud, maka bumi akan menjadi subur. Bumi adalah planet yang paling beruntung. Di planet lain mungkin ada malaikat yang bertasbih. Tetapi di bumi ada makhluq yang sebaik-baik makhluq yang bertasbih. Jika sebaik-baik makhluq ini beribadah kepada Allah dan mewujudkan kedamaian serta menjalin kasih-sayang di bumi, maka suburlah bumi. Itulah tugas manusia sebagai khalifah, menyuburkan bumi, mengaturnya, mengurusnya, mengurus alam semesta.

    Allah tidak pernah menyuruh kita mencari rizqi. Tetapi yang Allah perintahkan adalah mencari karuniaNya. Untuk mencari karuniaNya kita perlu bershodaqoh. Allah menyuburkan (menganjurkan/menyebarkan perintah agar) bershadaqoh. Dan Allah melarang manusia melakukan riba. Sebab riba itu menolak karunia Allah dan mengambil yang bukan haqnya.

    Jika kita bekerja di sebuah kantor, atau pabrik, atau di mana saja, maka niatkanlah bahwa kita bekerja dalam rangka menolong makhluq Allah, dalam rangka bershadaqoh, dalam rangka menyuburkan bumi Allah, dalam rangka mencari ridho dan karunia Allah. Jika itu yang kita niatkan, maka yang kita dapatkan adalah ridho dan karuniaNya.

  • IBADAH: DZIKIR DAN PERMOHONAN

    Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah: 5)

    Sesunguhnya, segala macam ibadah itu adalah merupakan bentuk dzikir kita kepada Allah dan juga merupakan permohonan kita kepada Allah. Allah menyuruh kita untuk memohon kepada-Nya. Bahkan Dia mengancam orang-orang yang tidak mau berdoa kepadanya. Pernahkah Anda bertemu dengan penodong yang berkata kepada Anda, “Hai, mintalah kepadaku atau kamu ku tusuk!”? Tentu Anda belum pernah. Tetapi Allah berkata kepada Anda, “Mintalah kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika kamu tidak mau meminta kepada-Ku, niscaya Aku masukkan kamu ke dalam neraka.” Mana yang Anda pilih ketika Anda diancam dengan ancaman demikian. Apakah Anda memilih untuk tidak meminta dan masuk ke dalam neraka, ataukah Anda memilih meminta dan dikabulkan? Jika saya, tentu saya memilih untuk meminta kepada Allah SWT. Sedangkan Anda, terserah, Anda mau pilih yang mana.

    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. Al-Mu`minun: 60)

    SHABAR DAN SHOLAT

    Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 45)

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha: 14)

    Ibadah adalah sarana yang Allah ajarkan kepada kita untuk mengingat Allah dan mengadukan keperluan kita kepadaNya. Doa merupakan inti ibadah, sebab pada doa terdapat permohonan yang merupakan pengakuan kita akan kelemahan diri, pengakuan akan kekuasaan Allah, penyerahan diri kita kepada Allah. Tetapi janganlah permohonan itu kita jadikan sebab datangnya pemberian Allah. Hendaklah permohonan itu dijadikan sebagai perwujudan sifat ubudiyah (penghambaan) dan menegakkan hak-hak ketuhanan. Sayid Abu Hasan ra. pernah berkata, “Janganlah tujuanmu berdoa itu untuk mendapatkan apa yang menjadi hajatmu. Kalau tujuanmu demikian, maka jadilah doamu itu terhalang. Hendaklah kamu bertujuan dalam doamu itu hanya sebagai munajat kepada Tuhanmu.” Anggaplah doa dan usaha itu sebagai tanda atau alamat dari Allah akan datangnya karunia Allah; bahkan doa dan usaha itu sendiri adalah karunia dari Allah. Tidaklah kita dapat berdoa dan berusaha kecuali dengan Allah. Untuk memohon kepada Allah -selain dengan berdoa- juga dapat dilakukan dengan bershabar dan juga shalat.

    Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Semasa salah seorang daripada kamu sembahyang, sesungguhnya dia sedang memohon pertolongan dari Tuhannya. Janganlah dia meludah ke depan atau ke kanannya. Tetapi hendaklah dia meludah ke bawah telapak kaki kirinya. (HR. bukhori, Muslim, Ahmad bin Hanbal)

    Shalat adalah do’a (permohonan, permintaan) dan dzikir. Barangsiapa yang sholat berarti ia sedang bermunajat kepada Allah. Semakin sering ia bermunajat, tentu semakin banyak dan berkah ni’mat yang Allah beri, semakin mantap iman dan Islamnya, semakin ia merasa tentram dan tenang, semakin dekat pertolongan Allah padanya. Sesungguhnya sholat itu adalah mi’rajnya orang mu`min. Memang dengan sholat manusia tidak dapat mencapai kebahagiaan, sebab sholat bukanlah tuhan. Tetapi kita dapat mencapai kebahagiaan di dalam shalat, sebab di dalam shalat, kita dapat bertemu dengan Allah. Allah itulah yang dapat memberi kebahagiaan. Mahasuci Allah Yang mengangkat (memi’rajkan) hamba-hambaNya yang hina ke istanaNya yang suci.

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al-Israa`: 1)

    Sholat adalah mi’rajnya (tangganya) orang Mu`min (Al-Hadits)

    SERUAN SUCI

    Wahai sekalian manusia, apa yang kalian cari selain Allah adalah kecil. Adapun Allah, Dia Mahabesar. Maka Dia lebih pantas untuk dicari. Maka bersaksilah bahwa tidak ada yang pantas disembah dan dicintai kecuali Allah. Sebab yang selain Allah itu sesungguhnya tidak maujud secara haqiqi. Sesuatu yang tidak maujud, tidak dapat memberi dampak pada dirimu. Dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Manusia yang mengajak kita kepada kebenaran dan kebahagiaan. Maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah tangga untuk naik ke hadirat Allah Yang Mahasuci. Shalat akan membersihkan hati, fikiran dan perbuatan kita. Dengan kebersihan hati, fikiran, dan perbuatan, marilah kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang abadi. Ingatlah wahai manusia, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, Allah Mahabesar, tiada Yang pantas disembah selain Allah.

  • HIKMAH BEBERAPA IBADAH

    SHOLAT

    Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S. Thaha: 14)

    Amal shalih yang kita lakukan hendaknya dalam rangka mengingat Allah. Bukan untuk pamer, menzhalimi, dll. Sesungguhnya Allah telah memberikan kita banyak ni’mat. Jika kita bersyukur kepada Allah dengan sholat seribu raka’at setiap hari, belum tentu dapat mengimbangi ni’mat Allah itu. Maka tidak pantas jika kita menyombongkan diri. Sholat mengajarkan kita untuk selalu mengagungkan Allah, mensucikanNya, tawakkal, tawadhu, khusyu, serta mendekat kepadaNya. Shalat juga mengajarkan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan urutan atau tahapan yang baik, tidak menunda kebaikan, sesuai dengan jadwal yang sudah diatur.

    Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisaa`: 103)

    Shalat berjama’ah mengajarkan kita tentang pentingnya sinergi. Sebab dengan berjama’ah kita akan membuat suatu amalan menjadi sempurna dengan adanya penggabungan potensi dari masing-masing pribadi. Jika kita bekerja sendiri, mungkin ada suatu hal yang kita tidak dapat melakukannya. Tetapi dengan berjama’ah, apa yang tidak dapat kita lakukan, dapat ditangani oleh orang lain.
    ZAKAT

    Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. (Q.S. Ar Ruum: 38)

    Zakat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Allah yang telah menyerahkan kepada kita harta untuk kita atur pendistribusiannya, maka sudah sepantasnya kita melaksanakan amanah dari Allah itu. Allah juga melarang kita menjadi orang yang merugikan. Kita tidak boleh berbuat bathil dan zhalim.

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya orang-orang miskin dari golongan muhajirin telah datang menemui Rasulullah s.a.w dan berkata: “Orang-orang kaya mendapat kedudukan yang tinggi dan nikmat-nikmat yang kekal. Rasulullah bertanya: “Apa itu?” Mereka menjawab: “Mereka bersembahyang sebagaimana kami sembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak dapat bersedekah, mereka memerdekakan hamba sementara kami tidak mampu memerdekakannya.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Mahukah kamu sekiranya aku ajarkan kepada kamu satu amalan yang akan dapat menyamai orang-orang yang sebelum kamu dan dapat mengatasi orang-orang yang sebelum kamu? Tiada seorang pun yang lebih baik daripada kamu melainkan mereka yang melakukan amalan sebagaimana yang kamu lakukan itu.” Mereka menjawab: “Tentu saja, wahai Rasulullah!” Rasulullah s.a.w bersabda: “Kamu bertasbih bertakbir dan bertahmid setiap kali setelah selesai dari sembahyang sebanyak tiga puluh tiga kali.” Setelah itu orang-orang miskin dari golongan muhajirin itu pun kembali menemui Rasulullah SAW kata mereka, “Orang-orang kaya itu telah mendengar apa yang kami lakukan hingga mereka pun melakukannya pula.” Ujar Nabi SAW, “Itu adalah karunia Allah yang diberikanNya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi)

    Mahasuci Allah Yang mengangkat sebagian manusia dengan memberinya percikan sifat Al-Ghoniy, Al-Halim, dan Al-Wahhab. Sewaktu kecil, Anda sering mendapat uang untuk jajan. Tetapi adakalanya Anda diberikan uang Rp. 500,- oleh orangtua Anda sebelum sama-sama pergi ke masjid. Tujuan orangtua Anda tentu agar Anda memasukkan uang itu ke kotak amal. Atau Anda pernah mendapat tugas untuk membagikan sejumlah uang beliau kepada adik-adik Anda. Orangtua Anda telah mempercayakan Anda untuk mendistribusikan uangnya kepada yang beliau maksud. Anda sedang dididik untuk menjadi orang yang amanah. Anda sedang dididik bahwa apa yang Allah berikan kepada Anda tidak selalu untuk Anda ‘makan’; tetapi ada kalanya Allah berikan untuk dibagi-bagikan. Adapun rizqi yang memang untuk dibagi-bagikan, maka itu adalah bukan milik Anda. Tetapi Anda dipercaya untuk mendistribusikannya.
    PUASA

    Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Yusuf: 53)

    Puasa mengajarkan kita untuk dapat menahan nafsu. Nafsu adalah api dari segala macam ma’siat. Ia selalu menyuruh kita kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat Allah. Dalam beramal sholih hendaknya kita tidak mengikuti nafsu kita, tetapi hendaklah disebabkan dorongan Kasih-Sayang Allah. Jika kita mengikuti hawa nafsu kita, maka akal kita akan menjadi mati. Akibatnya kita tidak lagi dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Jangan sampai hawa nafsu membutakan mata hati kita. Barangsiapa yang di dunia ini buta, maka di akhirat pun akan buta. Dengan puasa kita telah mengurangi diri kita dari ‘memakan’ dunia. Terlalu sering memakan dunia, kita akan akrab dengan dunia. Terlalu akrab dengan dunia, kita akan cinta kepadanya. Terlalu cinta dengan dunia kita akan takut kehilangannya dan jauh dari Allah. Orang yang jauh dari Allah berarti ia tersesat.

    Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Q.S. Al-Isra`: 72)

    Puasa merupakan training bagi kita yang ingin sukses. Orang yang ingin sukses, maka pertama ia harus dapat menang atas dirinya sendiri. Puasa melatih kita untuk mengolah perasaan dan nafsu kita. Dengan kemampuan mengolah nafsu dan perasaan, maka kita akan dapat mengendalikan diri kita. Sehingga kita tidak dipengaruhi oleh orang lain, tidak dipengaruhi oleh syaithan, tidak dipengaruhi oleh pihak luar. Kitalah yang mempengaruhi dan mengendalikan diri kita sendiri. Kita menjadi apa yang sebenarnya kita inginkan. Bukan menjadi apa yang diinginkan pihak lain. Kita ingin sukses, kita ingin tenang, kita ingin bahagia, kita ingin gembira; kita yang menentukan. Orang lain tidak dapat membuat kita sedih, marah, jengkel, tegang; jika kita dapat mengendalikan diri kita untuk selalu tersenyum dan tenang. Cobalah lebarkan bibir Anda untuk tersenyum, tahan senyuman Anda. Dalam keadaan seperti itu cobalah untuk merasa sedih. Anda akan sulit untuk merasa sedih dalam keadaan seperti itu. Memang keadaan lahir dapat mempengaruhi keadaan bathin, walau tidak selamanya. Dengan kemenangan pribadi kita dapat mempengaruhi dan mengendalikan diri sendiri. Masalah sesungguhnya bukan berada di luar sana, tetapi di dalam diri kita sendiri. Mulailah untuk memperbaiki diri kita sendiri dan kendalikanlah diri sendiri. Andalah yang menentukan, ingin jadi apa Anda nantinya. Puasa juga mengajari kita untuk memahami keadaan orang lain (empatik). Dengan memahami keadaan orang lain, kita akan dapat memberikan solusi yang benar baginya. Solusi yang memberi keuntungan bagi Anda dan dia, setidaknya tidak ada yang kalah atau rugi. Dan berjama’ah dalam menyelesaikan sesuatu akan menambah kekuatan bagi semua orang dalam jama’ah. Dengan berjama’ah, kita akan dapat menyelesaikan banyak hal. Berjama’ah dan kebersamaan adalah cara untuk menyatukan potensi dan menutupi kekurangan. Dengan potensi di berbagai bidang, kita akan dapat menyelesaikan berbagai hal. Wallahu a’lam.

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S. Ash-Shaff: 4)

    HAJJI

    Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S. Ali Imran: 97)

    Hajji mengajarkan kita untuk melakukan amal sholih secara total dengan segenap potensi dan kemampuan yang kita miliki. Selalu berusaha dengan optimal, walau amal itu berat sekalipun.
    DZIKIR

    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku. (QS. Al-Baqoroh: 152)

    Dzikir (ingat) kepada Allah merupakan jalan terdekat untuk menuju Allah. Dengan dzikir, kita akan selalu berhati-hati dalam berbuat. Kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Kita akan merasa malu untuk berbuat keburukan. Orang yang berdzikir akan bimbang untuk melakukan ma’siat. Bisa dikatakan dzikir itu adalah rem untuk mengurangi kualitas kejahatan. Jika setelah berdzikir atau di dalam dzikir kita tetap melakukan ma’siat, janganlah kita berhenti dari dzikir. Sebab ma’siat yang dilakukan tanpa adanya dzikir sedikit pun kepada Allah adalah sangat berbahaya sekali.

    Syaikh Ibnu ‘Athoi`llah pernah berkata, “Janganlah kau tinggalkan dzikir disebabkan hatimu tidak hadir bersama-sama Allah di dalam dzikir. Sesungguhnya kelalaianmu kepada Allah tanpa adanya dzikir lebih berbahaya dari pada kelalaianmu di dalam adanya dzikir kepada-Nya. Semoga Allah mengangkatmu dari dzikir yang disertai kelalaian menuju pada dzikir yang disertai dengan kesadaran(1). Dan dari dzikir yang disertai kesadaran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran menuju pada dzikir yang disertai kehadiran hati. Dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju pada dzikir yang disertai adanya keghoiban dari selain yang didzikir (Allah). Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.”

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, niscaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, niscaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari kecil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sebaik-baik gubahan sesebuah syair iaitu puisi yang dibawa oleh orang-orang Arab ialah syair atau puisi Labid yang artinya: Tidakkah mengingati sesuatu selain dari Allah adalah batil. (HR. Bukhari, Muslim, At-Tarmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Q.S. An-Nisa`:43)

    Mabuk tidak hanya disebabkan oleh khamr, dunia juga bisa menyebabkan manusia menjadi mabuk. Dan kenyataannya, banyak manusia sholat, tetapi tidak sadar apa yang ia katakan. Sebab pada saat ia sholat, ia sedang mabuk oleh dunia.

  • RUKUN IMAN

    Termasuk kunci sukses dunia-akhirat adalah beriman. Sebagai mu`min kita harus beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir, dan taqdir. Sebagaimana difirmankan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 177:

    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.( Q.S. Al-Baqarah ayat 177)

    Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).( Q.S. Ar Ra’du: 39)

    Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w berada bersama kaum muslimin, datang seorang lelaki kemudian bertanya kepada baginda: Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksudkan dengan Iman? Lalu baginda bersabda: Kamu hendaklah percaya iaitu beriman kepada Allah, para Malaikat, semua Kitab yang diturunkan, hari pertemuan denganNya, para Rasul dan percaya kepada Hari Kebangkitan. (HR. Bukhori, Muslim, An-Nasa`i, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal)

    Berdasarkan dalil-dalil di atas, seorang mu`min harus beriman akan 6 perkara, yaitu:

    1. Allah.
    2.
    Para Malaikat Allah.
    3.
    Semua Kitab yang Allah turunkan.
    4.
    Para Rasul
    5.
    Hari Kebangkitan.
    6.
    Taqdir baik dan buruk

    ORIENTASI DAN KEYAKINAN

    Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Q.S. Al-Baqarah: 207)

    Iman adalah orientasi. Orang yang beriman memiliki orientasi atau tujuan yang jelas. Orang yang beriman kepada Allah akan memiliki sandaran/pegangan yang jelas, kokoh, dan kekal. Adapun orang-orang kafir atau musyrik, maka mereka berpegang kepada yang selain Allah. Padahal yang selain Allah itu adalah fana. Di saat yang selain Allah itu rusak, mereka pun kehilangan pegangan. Tetapi jika kita berpegang hanya kepada Allah, maka hati kita akan mantap.

    Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

    Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Q.S. Ibrahim: 24-27)

    Iman adalah keyaqinan dan motivasi. Orang yang beriman memiliki keyaqinan dan motivasi serta semangat yang kuat, pantang menyerah. Tidak akan sukses orang yang di dalam hatinya ada keraguan dan mudah menyerah.

    Orang yang beriman benar melakukan segala sesuatu dengan orientasi dan motivasi yang disandarkan kepada Allah. Motivasi dan orientasi orang beriman hanyalah Allah. Orang yang beriman benar akan memiliki mental yang kuat. Ia tidak takut kepada kepada apa pun kecuali Allah. Orang yang beriman memiliki semangat baja disebabkan mereka yaqin akan adanya Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Tidak ada yang mereka cari, kecuali Allah. Dan mereka sadar bahwa dengan Allah itulah mereka bisa hidup dan berbuat segala sesuatu.