Blog

  • John 20:28

    And Thomas answered and said unto him, My Lord and my God. (KJV)

    1. Jesus never referred to himself as “God” in the absolute sense, so what precedent then did Thomas have for calling Jesus “my God”? The Greek language uses the word theos, (“God” or “god”) with a broader meaning than is customary today. In the Greek language and in the culture of the day, “GOD” (all early manuscripts of the Bible were written in all capital letters) was a descriptive title applied to a range of authorities, including the Roman governor (Acts 12:22), and even the Devil (2 Cor. 4:4). It was used of someone with divine authority. It was not limited to its absolute sense as a personal name for the supreme Deity as we use it today.

    2. Given the language of the time, and given that Jesus did represent the Father and have divine authority, the expression used by Thomas is certainly understandable. On the other hand, to make Thomas say that Jesus was “God,” and thus 1/3 of a triune God, seems incredible. In Concessions of Trinitarians, Michaelis, a Trinitarian, writes:

    I do not affirm that Thomas passed all at once from the extreme of doubt to the highest degree of faith, and acknowledged Christ to be the true God. This appears to me too much for the then existing knowledge of the disciples; and we have no intimation that they recognized the divine nature of Christ before the outpouring of the Holy Spirit. I am therefore inclined to understand this expression, which broke out in the height of his astonishment, in a figurative sense, denoting only “whom I shall ever reverence in the highest degree”…Or a person raised from the dead might be regarded as a divinity; for the word God is not always used in the strict doctrinal sense” [Michaelis is quoted by Dana, ref. below].

    Remember that it was common at that time to call God’s representatives “God,” and the Old Testament contains quite a few examples. When Jacob wrestled with “God,” it is clear that he was actually wrestling with an angel (Hosea 12:4—For more on that, see the note on Genesis 16:7-13).

    3. There are many Trinitarian authorities who admit that there was no knowledge of Trinitarian doctrine at the time Thomas spoke. For example, if the disciples believed that Jesus was “God” in the sense that many Christians do, they would not have “all fled” just a few days before when he was arrested. The confession of the two disciples walking along the road to Emmaus demonstrated the thoughts of Jesus’ followers at the time. Speaking to the resurrected Christ, whom they mistook as just a traveler, they talked about Jesus. They said Jesus “was a prophet, powerful in word and deed before God…and they crucified him; but we had hoped that he was the one who was going to redeem Israel” (Luke 24:19-21). The Bible is clear that these disciples thought Jesus was a “prophet.” Even though some of the apostles realized that Jesus was the Christ, they knew that according to the Old Testament prophecies, the Christ, the anointed of God, was to be a man. There is no evidence from the gospel accounts that Jesus’ disciples believed him to be God, and Thomas was not birthing a new theology.

    Buzzard, pp. 39-41,61 and 62,136 and 137

    Dana, pp. 23-25

    Farley, pp. 62-64

    Morgridge, pp. 109 and 110 Norton, pp. 299-304

    Snedeker, pp. 271 and 272, 426-430

    (Biblical Unitarian)
    Klik di sini untuk versi Indonesia

  • Tuhan Telah Menjadi Manusia

    Tuhan telah menjadi manusia
    Betapa dahsyat perkataan mereka
    (lebih…)

  • Pengarang Menjiplak, Rasul Menyampaikan

    Muhammad Ar-Rasul adalah utusan Allah, Nabi Isa adalah utusan Allah, Nabi Musa adalah utusan Allah. Jika mereka menyampaikan hal yang sama, itu karena mereka menyampaikan segala sesuatu dari Allah. Nabi Muhammad bukan menjiplak Nabi Isa, Nabi Isa bukan menjiplak Nabi Musa. Semua Nabi hanya ‘menjiplak’ apa yang Allah sampaikan kepada mereka. Jika adanya kesamaan itu mengindikasikan menjiplak, maka jelaslah bahwa semua pengarang Injil itu saling jiplak, karena adanya kemiripan dalam Injil-Injil karangan mereka. Ketahuilah bahwa semua nabi itu hanyalah manusia biasa, tetapi kepada mereka diturunkan wahyu.

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. (QS. Al-Kahfi: 110)

    Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. [Yohanes 17: 7,8]

    Perhatikanlah ayat di atas! Itu menunjukkan bahwa Nabi Isa itu adalah utusan Allah. Jadi yang dimaksud “datang dari Allah” itu adalah bahwa Nabi Isa itu datang sebagai utusan dari Allah. Misalnya ada seorang Jenderal datang ke rumah Anda, lalu ia berkata kepada Anda, “Saya datang atas nama Presiden, bukan atas nama pribadi.” Tentu Anda berfikir bahwa orang ini bukanlah Presiden, tetapi utusan Presiden untuk menyampaikan pesan dari Presiden, tetapi orang ini bukanlah Presiden itu sendiri, tetapi mempunyai mandat (authority) dari presiden. Begitu pula setiap Nabi, mereka datang dari Allah, datang atas nama Allah, untuk menyampaikan pesan dari Allah, tetapi mereka bukanlah Allah itu sendiri, tetapi mereka mempunya mandat dari Allah.

    Kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [QS. An-Najm: 2-4]

    Jika ada perbedaan antara Al-Qur`an dan Alkitab yang Anda pegang, itu disebabkan Alkitab memang telah diubah. Jangankan Al-Qur`an dengan Alkitab, kitab-kitab dalam Alkitab pun terlihat ada perbedaan. Itu menunjukkan bahwa Alkitab memang bukanlah asli firman Allah, tetapi telah mengalami pengubahan.

    Dr.G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland berkata: “Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam Alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-kekhilafan itu pada caranya, isi Alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita akan dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi Alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).

    Dikatakan bahwa dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi pada Alkitab yang Anda pegang sekarang terdapat kesalahan-kesalahan. Bukankah ini menunjukkan bahwa Alkitab Anda telah mengalami pengubahan? Dan pengubahan yang terparah adalah pengubahan fakta.

    Pengarang yang satu mungkin menjiplak pengarang yang lain. Tetapi para utusan Allah hanya menyampaikan wahyu dari Allah kepada manusia. Para utusan Allah tidaklah mengarang, tetapi menyampaikan wahyu dari Allah.

  • Syahadat dan Hajji

    Saya sudah sering melihat blog-blog yang menyudutkan ajaran Islam. Itu membuktikan bahwa orang Kristen itu ada juga yang membuat blog untuk menyudutkan Islam. Mereka membuat tulisan-tulisan berdasarkan kebencian dan tanpa dasar yang valid. Banyak informasi-informasi keliru yang mereka terima, lalu mereka gunakan untuk membuat artikel. Atau mereka karang sekenanya. Contohnya mengenai syahadat.

    Syahadat itu memang telah dikenal sejak zaman Nabi Adam. Itu bukan kebiasaan pagan. Jika mereka katakan itu kebiasaan pagan, coba lihat bagaimana ketika Yesus mengajarkan syahadat/kesaksian:

    Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

    Adapun ibadah hajji itu merupakan ibadah yang Allah ajarkan. Ritual-ritualnya Allah ajarkan melalui sejarah keluarga Nabi Ibrahim, bapak para utusan. Nabi Ibrahim, Sayyidah Hajar, dan Nabi Ismail telah memperlihatkan betapa mereka mencintai ALLOH. Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail pergi dari negerinya ke negeri yang ALLOH pilih. Dengan bekal seadanya. Ketika air mereka habis, dan Sayyidah Hajar mulai mencari air, ALLOH perlihatkan keajaiban kepada hamba-hamba-Nya. ALLOH telah mendengar tangisan Ismail, dan memberi mereka air. Lalu Sayyidah Hajar berkata, “Zam, zam, kumpullah, kumpullah.” Maka mata air itu pun masih ada hingga saat ini dan dikenal dengan mata air Zamzam. Peristiwa Sayyidah Hajar ketika mencari air itulah yang kemudian dijadikan ritual sa’i. Begitu juga ritual-ritual lainnya.

    Semua ritual hajji itu, jika dikerjakan dengan penuh kekhusyuan, kepahaman sejarah, dan kesadaran spiritual yang tinggi, maka akan membawa jiwa ini bersatu dengan makhluq-makhluq mulya di alam ini. Jiwa kita seakan bersatu dengan para hamba Allah yang sejati. Di situlah muncul rasa kehambaan sesungguhnya. Jiwa ini juga bersatu dengan segala makhluq tak bernyawa yang ada di alam ini. Walau mereka tak bernyawa, tetapi mereka memiliki kesadaran spiritual. Dari mulai atom hingga kumpulan galaksi, semua memperlihatkan gerakan thawaf. Thawaf mengajarkan kita bahwa seluruh alam semesta ini telah tunduk patuh kepada Ar-Rahman. Lalu mengapa kita, manusia yang diberi nyawa dan aqal tak mau tunduk patuh kepada-Nya? Bukankah dengan aqal ini seharusnya kita memiliki kesadaran lebih bahwa Allah itu memang pantas disembah? Kita menyembah Allah bukan karena paksaan, karena Allah memang tidak membutuhkan ibadah kita. Tetapi kita menyembah Allah karena kita punya aqal yang dapat mengetahui dan mengenal bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah yang benar.

    Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya). [QS. Ibrahim: 33]

    Jika makhluq-makhluq dahsyat seperti matahari saja tunduk patuh dan berthawaf mengelilingi pusat bimasakti karena perintah Allah, lalu mengapa kita yang kecil ini sombong dari beribadah kepada Allah? Lihatlah bagaimana keislaman Nabi Ibrahim ketika Allah berfirman kepada beliau, “Aslim! Tunduk-patuhlah wahai Ibrahim!” Maka nabi Ibrahim menjawab, “Aslamtu li Robbil ‘alamin. Aku tunduk-patuh kepada Tuhan alam semesta.” Jika alam semesta raya telah Islam kepada Allah, jika bapak para utusan telah Islam kepada Allah, maka mengapa kita enggan Islam kepada Allah, Robbul ‘alamin? Siapalah kita ini jika dibandingkan nabi Ibrahim? Lalu mengapa kita sombong dan tak mau mengakui bahwa ALLOH itu satu-satunya Ilah yang benar? Lalu mengapa kita tak mau Islam kepada Allah, Rabbul ‘alamin?

    Aku datang memenuhi panggilan-Mu, wahai Allah! Aku datang dengan tunduk dan patuh! Tidak ada sekutu bagi-Mu! Sesungguhnya segala puji, segala ni’mat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu! Sungguh tidak ada sekutu bagi-Mu!

  • Pengemis Yahudi Tua yang Buta

    Setelah Rasulullah wafat, Sayyidina Abu Bakr menanyakan kepada puterinya, Sayyidah Aisyah, “Anakku adakah sunnah (kebiasaan) kekasihku yang belum aku kerjakan?” Kemudian Sayyidah Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja. Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.”

    Keesokan harinya Sayyidina Abu Bakr pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Beliau bertanya kepada seseorang, kiranya dimana dia dapat menemui pengemis Yahudi yang buta itu. Lalu dikatakan kepadanya bahwa untuk mengenalinya mudah saja. Jika ada seorang tua yang buta dan dari mulutnya selalu keluar kata-kata umpatan bagi Nabi Muhammad, maka itulah orangnya. Bayangkan, di kota yang dipimpinnya, ada orang yang setiap hari kerjanya mencaci-maki beliau, tetapi Nabi Muhammad membiarkan orang tersebut. Beliau tidak menangkapnya, tidak menghukumnya, bahkan menyantuninya.

    Sayyidina Abu Bakr mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Sayyidina Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?” Sayyidina Abu Bakr menjawab, “Aku orang yang biasa.”

    “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku,” jawab si pengemis buta itu. “Apabila orang yang sering menyuapiku datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu ia menghaluskan makanannya sehingga aku tidak susah mengunyahnya,” kata pengemis buta itu.

    Sayyidina Abu Bakr tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

    Mendengar penjelasan Sayyidina Abu Bakr, Yahudi tua itu begitu terharu hingga meneteskan air mata, kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, namun ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Sungguh ia begitu mulia.” Pengemis Yahudi buta itu pun akhirnya bersyahadat di hadapan Sayyidina Abu Bakr.

  • Kelembutan Sang Rasul

    Nabi Muhammad, sosok manusia yang penuh kelembutan. Beliau sering diludahi, dikatakan gila, dilempari kotoran hewan, dan lain sebagainya. Pernah ada seorang laki-laki yang apabila Nabi lewat depan rumahnya, ia selalu meludahi Nabi. Terus begitu setiap hari. Suatu hari, Nabi lewat depan rumahnya seperti biasa. Namun beliau heran, karena beliau tidak mendapati laki-laki tersebut meludahinya. Maka bertanyalah beliau kepada tetangga laki-laki tersebut. Rupanya laki-laki itu sedang sakit. Apakah nabi Muhammad merasa senang? Nabi Muhammad justeru bertamu ke rumah laki-laki itu untuk menjenguk dan menghibur laki-laki itu. Maka kagumlah laki-laki itu akan akhlaq beliau. Nabi Muhammad bukanlah sosok yang mudah marah jika dihina. Beliau hanya marah jika seseorang menghina Allah.

    Muhammad Ar-Rasul di Tha’if

    Sepeninggal Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy terhadap Rasulullah saaw semakin bertambah ganas. Ketika beliau merasakan gangguan kaum musyrikin Quraisy bertambah hebat dan tetap menolak serta menjauhi agama Islam, beliau berpikir untuk meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if. Beliau berharap akan memperoleh dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk agama Islam. Dengan harapan itu, Muhammad saaw sang Rasul bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau saaw, pergi ke Tha’if.

    Banyak tokoh Quraisy membangun tempat peristirahatan di sana. Kabilah terbesar di Tha’if adalah Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa serta mempunyai kekuatan fisik dan ekonomi yang cukup memadai. Mengetahui akan hal ini, Rasulullah saaw menemui pemimpin Bani Tsaqif yang terdiri dari tiga bersaudara.

    Rasulullah saaw menyampaikan maksud kedatangan beliau dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah selain Allah SWT. Namun jawaban dari mereka sungguh di luar harapan Nabi Muhammad saaw.

    Salah satu dari mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”

    Yang lainnya berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini. Tiada kesusahan atau pun penderitaan. Hidup kami makmur, serba berkecukupan, dan kami merasa senang dan bahagia. Oleh sebab itu, kami tak perlu agamamu. Juga tidak perlu dengan segala ajaranmu. Kami pun punya Tuhan yang bernama Al-Latta, yang memiliki kekuatan melebihi berhala Hubal di Ka’bah. Buktiny dia telah memberikan kesenangan di sini dengan segala kemewahan dan kekayaan yang kami miliki.”

    Yang lainnya lagi berkata, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kalian tawarkan. Penuh siksaan dan daerah yang selalu penuh dengan derita. Jels kami menolak ajaran kalian. Bila tidak, akan menimbulkan malapetaka bagi penduduk kami di sini.”

    Mendengar jawaban mereka, berkata Muhammad Rasulullah saaw, “Bila memang demikian, kami pun tidak memaksa. Maaf kalau telah mengganggu kalian. Kami mohon diri.”
    Berkata mereka, “Pergilah kalian cepat-cepat dari sini! Sebelum kau sebarkan bencana besar bagi penduduk di sini. Oh ya, kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja. Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini kepada pemimpin Bani Quraisy di Makkah sebagai mitra kami. Kami tidak ingin berkhianat kepada mereka.”

    Maka Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah keluar dari rumah para pemimpin Bani Tsaqif itu. Akan tetapi, para pemimpin Bani Tsaqif tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. Di luar rumah para pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dihadang oleh sekelompok penduduk kota Tha’if yang tampaknya tidak ramah. Bahkan di antara kelompok itu ada beberapa anak kecil. Dengan satu aba-aba dari seseorang, sekelompok penduduk itu pun melempari Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi Rasulullah saaw sambil pergi dari tempat itu. Mereka berdua terluka akibat lemparan-lemparan itu.

    Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.

    Sesudah agak tenang, Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang berisi pengaduan yang sangat mengharukan:
    “Allahumma ya Allah, kepadaMu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang. Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Kauserahkan daku? Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat. Janganlah Engkau timpakan kemurkaanMu kepadaku. Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu. Dan tiada daya upaya kecuali dengan Engkau.”

    Allah mengutus Jibril untuk menghampiri beliau saaw. Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi di antara kamu dan penduduk kota Tha’if. Dia telah menyediakan malaikat di gunung-gunung di sini untuk menjalankan perintahmu. Jika engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu hingga penduduk kota itu akan binasa. Atau engkau sebutkan saja suatu hukuman bagi penduduk kota itu.”

    Rasulullah saaw terkejut dengan hal ini, lalu bersabda, “Walau pun orang-orang ini tidak menerima ajaran Islam, aku harap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.” Demikianlah kelembutan hati Rasulullah saaw. Dia manusia, tapi tak seperti manusia. Begitu mulya pengorbanan beliau. Walaupun halangan menimpa, namun hatinya tetap tabah dan penuh kelembutan dan kasih-sayang. Maka betapa kejinya orang-orang yang menghina manusia mulya ini. Betapa jahatnya orang-orang yang menyakiti beliau. Akan tetapi manusia di zaman ini begitu mudah menyakiti perasaan beliau dengan meninggalkan ajaran beliau saaw. Tidak tahukah mereka, bahwa setiap hari amal-amal mereka dihadapkan kepada Rasulullah? Jika amal itu baik, maka beliau pun bergembira dan bersyukur. Jika amal itu buruk, maka beliau dengan kelembutannya memohonkan ampunan kepada Allah bagi orang itu. Adakah pemimpin yang selalu memikirkan ummatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain beliau saaw?

    Tak jauh dari tempat istirahat Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah, terdapat sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah. Kebetulan dua orang anak ‘Utbah berada di situ. Melihat keadaan Rasulullah saaw dan Zaid, mereka menyuruh budak mereka, ‘Addas, yang beragama Nashrani untuk membawakan buah anggur dari kebun itu.

    Pelayan itu segera menghampiri Rasulullah saaw dan berkata, “Makanlah anggur ini wahai tuan-tuan. Semoga dapat melepaskan dahaga kalian.” Kemudian Rasulullah saaw mengambil anggur itu sambil mengucapkan, “Bismillah.”

    Addas, demi mendengar ucapan Rasulullah saaw, merasa kagum dan berkata, “Sungguh, kata-kata itu tidak pernah diucapkan penduduk daerah ini.”

    Rasulullah saaw bertanya, “Dari negara mana engkau dan apa agamamu?” ‘Addas menjawab, “Aku seorang penganut Nashrani, aku berasal dari Niniwe.”

    Rasulullah saaw berkata, “Oh, dusun tempat seorang hamba Allah yang shalih, Yunus bin Matta.”

    Addas bertanya penuh kekaguman, “Dari manakah Anda mengenal Yunus bin Matta?” Rasulullah saaw menjawab, “Dia saudaraku. Dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi.”

    Dengan perasaan gembira bercampur haru, Addas memeluk Rasulullah dan menciumi kening, tangan dan kaki Rasulullah saaw.

    Setelah merasa cukup beristirahat, Rasulullah saaw dan Zaid bin Haritsah beranjak pulang ke Makkah.

    Yunus bin Matta adalah seorang Nabi dari Niniwe, terkadang disebut juga sebagai Dzun Nun. Penduduk Niniwe begitu ingkar dan menolak ajaran yang dibawa beliau as. Lalu beliau pergi dari negeri itu dengan menggunakan perahu. Akan tetapi di tengah laut beliau terpaksa di buang ke laut dan kemudian di makan ikan. Beliau tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Kemudian beliau dimuntahkan ikan itu ke tepi pantai dekat Niniwe. Penduduk Niniwe menyambut kedatangan beliau yang ternyata penduduk Niniwe telah bertobat dan menerima ajaran yang beliau bawa. Kisah ini dapat dilihat dalam Al-Qur`an surat Al-Anbiya` ayat 87-88 dan Ash-Shaffat ayat 139-148, dan dalam Alkitab injil Matius 12:38-41.

  • Tujuan dan Keselamatan

    Dalam Islam, tujuan akhir ummat Islam adalah Allah. Mengapa ummat Islam beramal shalih? Tujuannya adalah agar dapat berjumpa dengan Allah.

    Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

    Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [QS. As-Sajdah: 19]

    Jadi, orang yang beriman, yaitu yang mengakui bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah, dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka mereka masuk surga. Namun surga itu ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatan surga yang didapatnya itu tergantung dari amal shalih yang dikerjakannya. Semakin banyak amal shalihnya, semakin tinggi tingkatan surga yang didapatnya, dan semakin sering dan jelas ia memandang Allah. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang dapat masuk surga itu karena amalnya. Yang benar itu bahwa seseorang itu masuk surga karena kasih-sayang Allah yang telah menjadikan dia Muslim dan Mu`min. Amal shalih itu untuk menentukan derajat surganya. Dan tidaklah seorang Muslim dan Mu`min itu dapat beribadah kecuali dengan kasih-sayang Allah yang telah memberinya taufiq dan hidayah serta kemudahan dalam beribadah.

    Sedangkan Nabi Muhammad adalah teladan bagi ummat Islam. Dengan mengikuti jejak beliau itulah kita bisa sampai kepada Allah.

    Katakanlah (wahai Muhammad) : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31)

    Sedangkan Al-Qur’an merupakan pedoman, di dalamnya terdapat perintah dan larangan bagi mereka yang ingin berjumpa dengan Allah.

    Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. Al-Baqoroh: 2)

    Jika Anda benar-benar membaca Yohanes 14:6, maka jelaslah bahwa Yesus ingin agar Anda menjadikan dirinya sebagai teladan, bukan sebagai Tuhan. Nabi Isa tidak berkata dari dirinya sendiri, dia hanyalah menyampaikan wahyu dari Allah, sama seperti Nabi Muhammad, hanya menyampaikan wahyu.

    Kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). [QS. An-Najm: 2-4]

    Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus … Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. [Yohanes 17:3,7,8]

    Nabi Isa adalah utusan (rasul) Allah, sebagaimana Nabi Muhammad juga utusan Allah. Semua Rasul Allah mempunyai misi yang sama, yaitu mengajak manusia untuk mengesakan Allah dan membimbing manusia untuk menapaki jalan yang lurus. Segala wahyu yang Allah sampaikan kepada para Rasul adalah untuk menunjuki manusia akan jalan lurus itu. Dan Rasul terakhir yang membawa syariat yang final adalah Nabi Muhammad. Syari’at yang lebih tegas dari apa yang dibawa Nabi Isa, namun lebih lunak dari apa yang dibawa oleh Nabi Musa, syari’at pertengahan. Inilah syari’at yang akan digunakan oleh Nabi Isa untuk menghukum manusia pada kedatangannya yang kedua. Katakan kepadaku, jika Nabi Isa menggunakan Injil untuk menghukum manusia, lalu apa yang akan ia lakukan kepada orang yang berzina? Apa yang akan dilakukannya terhadap orang yang membunuh? Apa yang akan dilakukannya terhadap orang yang merampok? Nabi Isa akan menghukum manusia dengan Al-Qur`an. Karena itulah dia menjadi hakim yang adil, dengan menjalankan hukum yang adil, yaitu Al-Qur`an.

    Kristiani sering berkata, “Bagaimana Anda dan ummat Islam percaya bahwa Muhammad itu mengajak kepada keselamatan sedang dia sendiri minta didoakan?” Ketahuilah jika Anda mengucapkan shalawat dengan iman dan Islam, maka syafaat itu akan diberikan kepada Anda. Jadi, manfaatnya untuk Anda sendiri, bukan untuk Nabi Muhammad. Nabi Muhammad itu sudah dijamin untuk masuk surga. Anda dan kawan-kawan Anda telah dicekoki informasi yang salah tentang Islam.

    Sekarang, bagaimana jika perkataan serupa diterapkan kepada Yesus? Bagaimana Yesus akan menyelamatkan Anda, sedangkan dia sendiri telah sujud dan berdoa untuk diselamatkan dari penyaliban? Juruselamat yang memohon untuk diselamatkan? Jika ia memang ingin menyelamatkan Anda melalui penyaliban, mengapa ia meminta agar diselamatkan dari penyaliban? Ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin Yesus memang bukan Juruselamat. Kedua, mungkin karena penyaliban memang bukan untuk menyelamatkan manusia. Jika benar bahwa Yesus adalah juruselamat dan penyaliban adalah untuk menebus dosa manusia, lalu mengapa ia tidak mau disalib dan malah meminta agar terhindar dari penyaliban?

    Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

    Yesus sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar dapat menyelamatkan dirinya dari tentara Roma dan para imam Yahudi. Namun Allah Yang Mahatahu lagi Mahakuasa telah mengangkat Nabi Isa ke langit dan mengubah seseorang menjadi serupa dengan Nabi Isa dalam hal rupa dan suara. Maka orang itulah yang telah disalib. Begitulah cara yang Allah kehendaki untuk menyelamatkan Nabi Isa. Sungguh, Allah tidak tuli terhadap doa orang-orang yang shalih.

    (hotarticle.org)

  • Mematikan Sunnah Rasul

    Pada saat ini bertambah banyak golongan, yang sadar tidak sadar, telah mengajak ummat untuk mematikan sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ada dua cara mereka dalam mematikan sunnah-sunnah Rasulullah yang akan kami bahas sedikit di sini. (lebih…)

  • Binahong

    binahongBinahong (Boussingaultia cordifolia, Boussingaultia basselloides) adalah tanaman obat dari daratan Tiongkok yang dikenal dengan nama asli Dheng San Chi. Tumbuhan ini telah dikenal memiliki kasiat penyembuhan yang luar biasa dan telah ribuan tahun dikonsumsi oleh bangsa Tiongkok, Korea, Taiwan dll. Di kawasan Asia Tenggara, tumbuhan ini merupakan konsumsi wajib penduduk Vietnam ketika melawan invansi Amerika, namun sayangnya tanaman ini masih asing untuk daerah Indonesia. Tumbuhan merambat ini misterius karena belum banyak literatur maupun penelitian ilmiah yang mengungkapkan khasiatnya. Namun, secara empiris, masyarakat memanfaatkannya untuk membantu proses penyembuhan beragam penyakit. (lebih…)

  • Islam Agama yang Mudah

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sungguh islam itu mudah, tiadalah yang memaksakan dirinya maka ia akan kalah, maka berbuatlah sewajarnya, dan mendekatlah pada perbuatan baik, dan ketahuilah kabar gembira pada amal amal, dan mohonlah (berdoalah) pada pagi hari, sore hari dan sebagian waktu akhir malam” (Shahih Bukhari) (lebih…)