Dari Asma’ binti Abu Bakr (semoga Allah meridhai keduanya) bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah bin Zubair di Makkah mengatakan, “Aku keluar dan aku sempurna hamil 9 bulan, lalu aku datang ke Madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shallalloohu ‘alayhi wasallam, maka beliau SAW menaruh Abdullah bin Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau SAW meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau SAW memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah bin Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalui Rasulullah SAW, lalu beliau SAW pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.” [HR. Bukhori] (lebih…)
Blog
-
Bagaimana Kita Bermadzhab?
Madzhab bermakna tempat orang pergi bertanya. Dulu, jika orang menemui suatu perkara agama yang belum diketahui hukumnya, mereka pergi kepada ulama mujtahid seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan imam-imam lainnya yang telah mencapai derajat mujtahid muthlaq. Namun mereka saat ini telah meninggalkan dunia, lalu ke mana kita bertanya? (lebih…)
-
Mari Bermadzhab
Empat madzhab itu seperti Operating System. Windows, Macintosh, dan Linux mempunyai system yang berbeda. Walau pun berasal dari bahasa yang sama, yaitu bahasa mesin, dan dijalankan di perangkat yang sama, yaitu computer. Satu computer tidak bisa mrnjalankan dua OS yang berbeda secara bersamaan. Ketika menggunakan Windows, Anda tidak bisa menjalankan program-program yang hanya bisa dijalankan di Linux, begitu pula sebaliknya. Anda harus memboot dulu lalu mengganti OS Anda dengan Linux, jika ingin menjalankan program-program untuk Linux. (lebih…)
-
Iman kepada Malaikat
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”. (Mereka berdo`a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. [QS. Al-Baqarah: 285] (lebih…)
-
Yesus Digantung Di Pohon?
Dalam Kristen, masih agak rancu, apakah iman melahirkan kitab suci, atau kitab suci melahirkan iman? Perjanjian baru jelas tidak dikarang pada masa Yesus. Perjanjian Baru dan Injil-Injil yang terdapat di dalamnya bukanlah Injil yang Allah turunkan kepada Nabi Isa. Sedangkan Injil yang wajib kita imani adalah Injil yang Allah turunkan kepada nabi Isa as, dan bukan Injil-Injil yang dikarang setelah beliau diangkat ke langit. (lebih…)
-
Shodaqolloohul ‘Azhiim
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Ali Imran: 95]
Maksud dari ayat di atas adalah agar Nabi Muhammad dan ummatnya berkata: “Benarlah Allah akan segala yang Dia beritakan dan Dia syari’atkan dalam Al-Qur`an,” dan agar Nabi Muhammad dan ummatnya mengikuti millah Nabi Ibrahim yang Allah syari’atkan di dalam Al-Qur`an melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya apa yang diberitakan dan disyari’atkan dalam Al-Qur`an itu adalah haqq (benar), tidak ada syak di dalamnya. (lebih…)
-
Ulama’ yang Menyesatkan Ummat
“Aku heran dari (perbuatan) orang yang menjual kesesatan dengan petunjuk!
Dan aku lebih heran dari orang yang membeli dunia dengan Agama”Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau da’wah dan perusuh di kalangan umat.
Mereka tiada lain adalah para bandit-bandit da’wah, yang zhahirnya berbicara tentang agama tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo da’wah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia. (lebih…)
-
Shodaqolloohul ‘Azhiim
Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. [QS. Ali Imran: 95]
Maksud dari ayat di atas adalah agar Nabi Muhammad dan ummatnya berkata: “Benarlah Allah akan segala yang Dia beritakan dan Dia syari’atkan dalam Al-Qur`an,” dan agar Nabi Muhammad dan ummatnya mengikuti millah Nabi Ibrahim yang Allah syari’atkan di dalam Al-Qur`an melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya apa yang diberitakan dan disyari’atkan dalam Al-Qur`an itu adalah haqq (benar), tidak ada syak di dalamnya.
Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” (Benarlah Allah Yang Mahaagung) setelah membaca ayat Al-Qur`an adalah boleh, bahkan dianjurkan. Karena lafazh tersebut adalah suatu pengakuan akan benarnya Allah atas segala yang difirmankan-Nya, atas segala yang diberitakan-Nya dan atas segala yang disyari’atkan-Nya dalam Al-Qur`an.
Jadi tidak benar sangkaan sebagian orang yang berkata bahwa mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah bid’ah. Pembid’ahan terhadap hal ini hanyalah terbit dari hati-hati yang keruh yang kurang mengenal syari’at Islam. Pembid’ahan terhadap hal ini hanya terbit dari hati-hati yang tertipu oleh hawa nafsunya yang terus membisikkan dia agar mengikuti segala fatwa keliru guru-gurunya secara buta.
Sesungguhnya mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an itu adalah perihal yang baik. Dan Allah memerintahkan kita agar berbuat yang baik. Maka segala yang baik itu adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… [QS. An-Nahl: 90]
Bahkan mereka yang membid’ahkan hal ini, anehnya, tidak membid’ahkan ucapan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Padahal tak ada perintah untuk mengucapkan itu. Yang ada hanyalah berita dari Allah akan kedudukan mereka melalui firman-Nya seperti:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [QS. At-Taubah: 100]
Namun tak ada perintah atau pun contoh dari Rasulullah untuk mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat. Nabi hanya berkata: “Yaa Mu’adz!” atau “Yaa ‘Umar!” atau “Yaa ‘A-isyah!”. Namun ihsannya mengucapkan “rodhiyalloohu ‘anhu/’anhaa/’anhum” setelah menyebut nama shahabat memang tak ada yang menyangkal. Karena Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan. Termasuk perkara yang ihsan adalah mengucapkan “Shodaqolloohul ‘azhiim” setelah membaca ayat Al-Qur`an. Termasuk perkara yang ihsan juga adalah melepaskan alas kaki sebelum masuk ke dalam Masjid walau hal ini tak dicontohkan oleh Nabi, bahkan hal itu merupakan kebiasaan Nabi Musa dan ummatnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Al-Qur`an, walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Termasuk perkara yang ihsan adalah membukukan Hadits walau Nabi tak pernah menyuruhnya. Namun semua itu adalah ihsan menurut shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan para ulama shalih yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Dan segala yang ihsan seperti itu cukup didasari ayat, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan… “
-
Ulama’ yang Menyesatkan Ummat
“Aku heran dari (perbuatan) orang yang menjual kesesatan dengan petunjuk!
Dan aku lebih heran dari orang yang membeli dunia dengan Agama”Itulah kurang lebih ungkapan dua bait syair yang menggambarkan tentang keberadaan dua golongan pengacau da’wah dan perusuh di kalangan umat.
Mereka tiada lain adalah para bandit-bandit da’wah, yang zhahirnya berbicara tentang agama tetapi kenyataannya justru jauh memalingkan umat dari agama, mereka tiada lain adalah para calo-calo da’wah yang senantiasa mengabaikan dan menjual prinsip-prinsip agama demi untuk menggapai kelezatan dunia.
Sungguh mereka adalah orang-orang yang telah dinyatakan dalam sabda Rasulullah saw, “Di malam hari saat aku isro’, aku melihat suatu kaum di mana lidah-lidah mereka dipotong dengan guntingan dari api” – atau ia (Rasulullah) berkata, “dari besi. Aku bertanya siapa mereka wahai Jibril? Mereka adalah para khatib-khatib dari umatmu!” (H.R. Abu Ya’la dari sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhuma).
Mereka adalah para da’i dan ulama-ulama su’ yang telah Allah beberkan keberadaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka mengatakan ia (yang dibacanya itu datang) dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imron: 78).
Dan Allah juga berfirman, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaithon (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Q.S. Al A’raf: 175-176).
Rasulullah saw mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya, “… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban ra).
Adapun sahabat Umar ibnul Khaththab beliau mengistilahkan mereka dengan sebutan “al munafiq al alim”, ketika ditanya maksudnya, beliau menjawab “aliimul lisaan jaahilul qolbi!” (pandai berbicara tetapi bodoh hatinya).
Allah swt dan rasul-Nya tetap akan menjaga agama ini dari upaya penyesatan yang dilakukan oleh para ulama dan dai-dai sesat, sehingga kita dibimbing oleh Allah untuk senantiasa bersikap antipati dari seruan dan fatwa-fatwa mereka. Perhatikanlah peringatan-peringatan Allah berikut ini agar menjauh dan tidak mengikuti fatwa-fatwa mereka:
Pertama: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim yahudi dan rahib-rahib nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang bathil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.” (Q.S. At Taubah: 34).
Kedua: “Hai orang-orang yang beriman jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imron: 100).
Ketiga: “… Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 49).
Keempat: “Dan demikianlah kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan yang benar dalam bahasa Arab dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap siksa Allah.” (Q.S. Ar Ra’d: 37).
Kelima: “Kemudian kami jadikanlah kamu berada suatu syari’at dan urusan agama, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Q.S. Al Jaatsiyah: 18).
Keenam: “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” (Q.S. Al Baqoroh: 145)
-
Agen Barat dan Kaum Penyempal
Bayangkan bahwa Anda adalah agen CIA bernama Michael yang ditugaskan untuk menyusup ke KGB. Namun Anda tidak ditugaskan untuk menyusup langsung, melainkan Anda ditugaskan merekerut seorang agen KGB yang bisa disetir demi kepentingan CIA dan Amerika.
Michael berhasil merekerut Abramovic, seorang agen KGB. Tugas Abramovic adalah membentuk kelompok di dalam KGB yang bekerja mengkritik prosedur-prosedur KGB yang telah baku agar diubah sesuai keinginan CIA.
Abramovic berhasil mendapatkan pengikut yang mendukung pemikirannya. Mengenai kevokalannya dalam menghina Amerika, jangan ditanya. Itu bagian dari instruksi yang diberikan Michael. Sebagai kaki-tangan CIA di KGB, adalah bodoh jika Abramovic membela Amerika. Jika demikian, mudahlah kedok Abramovic terbongkar. Menghina Amerika tak selalu menunjukkan bahwa seseorang itu adalah musuh Amerika.
Michael juga merekerut agen KGB lainnya untuk menguatkan kedudukan Abramovic. Agen tersebut direkerut untuk dijadikan tumbal. Agen yang bodoh. Dia mati demi uang.
Sergei, direkerut untuk mengajarkan hal yang lebih liberal dalam tubuh KGB. Sasaran empuk bagi kelompok Abramovic untuk dieliminasi. Setelah mengeliminasi kelompok Sergei, kelompok Abramovic semakin dikenal sebagai pembenci Amerika sejati. Padahal yang dibunuhnya adalah orang-orang KGB juga. Tidak ada kerugian yang ditanggung Amerika atau pun CIA.
Sukses membuat kelompok Abramovic di KGB, Michael ditugaskan merekerut agen di Timur Tengah. Direkerutlah pemuda bernama Ibnu Kirdun. Tugasnya mengubah tatanan syari’at Islam yang telah mapan.
Mulailah Ibnu Kirdun membuat kelompok gerakan yang mengkafirkan dan memvonis musyrik kepada mereka yang berziaroh ke makam Rasul SAW dan bertawassul di sana. Mulailah kelompok yang disebut Kirduniyah ini menjauhkan ummat Islam dari mencintai Rasul. Mencintai Rasul menjadi sekedar hiasan bibir semata tanpa boleh memuji Rasul. Memuji Rasul dianggapnya syirik. Bahkan kelompok ini telah menumpahkan banyak darah dari kaum Muslimin.
Disaat kedok Kirduniyah ini hampir terkuak, mulailah mereka memperlihatkan kebencian mereka kepada Amerika. Tetapi tak pernah mereka digerakkan untuk menumpahkan darah tentara Amerika.
Kelompok seperti Kirduniyah ini, memang ada pada kehidupan nyata. Kita tahu bahwa Ahmedi Nejad terlihat begitu vokal terhadap zionisme. Namun sejarah membuktikan bahwa Syi’ah itu hasil kerja agen zionis kuno, Abdullah bin Saba’.
Adapun kelompok-kelompok lain juga telah terkuak kedok mereka. Bukan hanya dari sejarah, tetapi juga dari agenda-agenda mereka yang terus merongrong kemapanan syari’at Islam yang telah berlaku sejak masa salafush shalih. Namun para agen ini menggunakan istilah salafush shalih untuk agenda-agenda licik mereka. Mereka menghapus sistem bermadzhab yang benar. Ketika surat-surat yang menunjukkan persekongkolan antara pemimpin mereka dengan para agen Eropa terkuak, para pakar barat pun berusaha keras untuk menutup-nutupi dengan mengatakan bahwa surat-surat itu palsu.
Di antara kelompok-kelompok itu ada yang sangat kelihatan wajah aslinya, ada pula yang tersamar dengan baik oleh kedok yang terlihat indah. Maka hindarilah mereka yang telah jelas wajah aslinya. Dan waspadalah terhadap mereka yang tersamar. Adapun mereka yang jelas wajah aslinya, sangat mudah bagi kita untuk memperingatkan masyarakat dari kelompok tersebut. Tidak sesulit memperingatkan masyarakat dari kelompok yang pandai menyamarkan diri. Mengaku ahlus sunnah, padahal mu’tazilah, khawarij, wahhabiyah. Maka dalam hal yang terakhir inilah kerja keras kami lebih ditujukan. Menguak kedok mereka hingga ke akar-akarnya itu penting, di samping menguak kekeliruan mereka dalam aqidah dan syari’ah. Namun ingat, mereka hanyalah boneka. Dalang sesungguhnya adalah Yahudi dan Nashoro. Maka penting pula menanggapi dan membuka kedok dan kekeliruan zionis dan missionaris.