Blog

  • Bintang Petunjuk

    Demi bintang ketika turun (di waktu fajar), kawanmu (yaitu Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) [QS. An-Najm: 1-4]

    Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia. [QS. Al-Waqi’ah: 75]

    Sebagian mufassir menafsirkan “An-Najm” (bintang) dalam ayat-ayat di atas sebagai Al-Qur`an. Dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Nabi Muhammad. “An-Najmu idzaa Hawaa” dapat bermakna “Demi Al-Qur`an ketika diturunkan,” atau “Demi Nabi Muhammad ketika diutus”. Kita semua tahu bahwa bintang itu ‘terbenam’ atau ‘turun’ ketika fajar. Dan Nabi Muhammad pun lahir ketika fajar.

    Adapun “Mawaqi’in Nujuum” dapat bermakna “Tempat diturunkannya ayat-ayat Al-Qur`an” atau tempat awal Nabi Muhammad mengajarkan risalah-risalahnya, yaitu Makkah dan Madinah. Kedua kota ini adalah kota suci yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal.

    Mengapa Al-Qur`an atau Nabi Muhammad dikiaskan dengan “Bintang”? Karena, jika kita tengah berjalan di malam yang gelap gulita, baik itu di darat mau pun di laut, dan kita tidak tahu arah selatan atau pun utara, tidak tahu barat mau pun timur, maka yang kita butuhkan adalah petunjuk dari letak bintang-bintang.

    Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl: 16]

    Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. [QS. Al-An’am: 97]

    Al-Qur`an dan Nabi Muhammad adalah bintang yang kita butuhkan ketika kita tengah berada dalam zhulumat, kegelapan hati, ketika kita tak tahu lagi mana jalan yang lurus. Ketika kita tengah diliputi oleh kezhaliman dan kegelapan dosa, yang kita butuhkan adalah petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur`an dan sunnah beliau SAW. Jalan beliau SAW adalah jalan yang lurus.

    Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus. [QS. Yaa Siin: 3-4]

    Maka barangsiapa mengikuti thoriqotun Nabi, jalannya sang Nabi, sunnah sang Nabi, maka dia berada pada jalan yang lurus, jalan yang selamat. Inilah jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Adapun mereka yang menolak dan menafi’kan sunnah sang Nabi, maka mereka adalah orang-orang yang tak ingin masuk ke dalam surga. Barangsiapa tak ingin masuk surga, maka dia tak dapat berjumpa dengan Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang dalam kelembutan-Nya yang agung. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mengikuti sunnah sang Nabi dan terhindar dari sunnah-sunnah ummat-ummat terdahulu yang dimurkai Allah dan sesat.

    Ya Allah, ya Rohman, ya Rohim, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orangtua kami. Aamiin.

  • Pilih yang Asli

    Semua orang Kristen percaya bahwa Alkitab memang karangan manusia. Tidak ada yang menyangkal ini. Namun tidak semua Kristiani rela untuk berkata bahwa Alkitab itu tidak otentik walau telah banyak pakar Alkitab menyatakan demikian.

    Pakar Alkitab dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, bahkan Lembaga Alkitab Indonesia, telah mengakui bahwa Alkitab yang ada saat ini pasti berbeda dengan Alkitab pada masa awal. Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Alkitab tidaklah otentik. Bahkan Alkitab pada masa awal juga dikarang oleh manusia yang bisa saja salah.

    Hal ini jauh berbeda dengan Al-Qur`an yang memang wahyu dari Allah dan terjaga keasliannya. Walau sebagian manusia mengatakan bahwa Al-Qur`an itu hanyalah karangan Nabi Muhammad, namun pernyataan itu tidak timbul kecuali dari rasa benci mereka dan bukan dari penelitian yang benar.

    Orang yang benar-benar meneliti Al-Qur`an akan melihat bahwa Al-Qur`an tidak mengalami pengeditan, pengubahan, pengurangan, penambahan, dan pengubahan lainnya. Al-Qur`an yang ada saat ini sama dengan Al-Qur`an yang diterima oleh Nabi Muhammad dari Allah SWT dan diajarkan kepada para shahabatnya. Orang yang jujur juga akan mengakui bahwa Al-Qur`an tidak memuat kontradiksi dan bahkan Al-Qur`an sangat sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.

    Sementara itu, Dr. Welter Lempp menyatakan, “Susunan semesta alam yang diuraikan dalam Kitab Kejadian pasal I tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern. Pandangan kitab Kejadian pasal I dan seluruh Alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan zaman.”

    Adapun Dr. R. Soedarmo menyatakan, “Dengan memandang bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47).
    Dr. R. Soedarmo juga menyatakan, “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49)

    Setelah melihat semua hasil penelitian para pakar, masihkah kita akan lebih mengunggulkan Alkitab dari Al-Qur`an? Mungkin Kristiani masih berkata bahwa Nabi Muhammad adalah pengarang Al-Qur`an. Tetapi Alkitab mereka juga karangan manusia. Namun keunggulan Al-Qur`an adalah keotentikannya dan kesesuaian ayat-ayatnya serta relevansinya dengan imu pengetahuan modern. Dengan menyatakan bahwa Al-Qur`an itu karangan Nabi Muhammad, berarti mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad lebih jenius daripada para pengarang Alkitab. Padahal para pengarang Alkitab itu jumlahnya banyak dan punya pengalaman ratusan tahun. Namun dapat dikalahkan oleh Nabi Muhammad yang tidak bisa baca-tulis, yang artinya beliau terputus dari informasi ratusan tahun itu.

    Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang (kualitasnya) semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [QS. Al-Baqoroh: 23-24]

    Peliharalah dirimu dengan beriman kepada Allah, kepada Al-Qur`an dan kepada Nabi Muhammad. Bersaksilah bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Akuilah bahwa Al-Qur`an itu memang firman Allah yang suci. Bersaksilah bahwa Nabi Muhammad memang utusan Allah. Maka bagimu surga yang mengalir sungai-sungai yang indah di dalamnya.

  • Menahan Marah

    Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Mrah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah bersandar (berbaring).”

    Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Awaslah kamu dari marah-marah, kerana marah itu bererti menyalakan api dalam kalbu anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-uarat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah.”

    Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat re;a. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya.”

    Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat.”

    Tercantum dalam Injil: “Hai anak Adam,ingatlah kepadaKu ketika kau marah, nescaya Aku ingat kepadamu diwaktu Aku marah (Yakni akan dirahmati oleh Allah s.w.t.) Dan relakan hatimu dengan pembelaanKu kepadamu, sebab pembelaanKu kepadamu lebih baik dari pembelaanmu terhadap dirimu sendiri.”

    Umar bin Abdul Aziz berkara kepada orang yang telah memarahkannya: “Andaikan engkau tidak membikin marahku, nescaya sudah saya beri hukuman.” Yakni Umar ingin menurut kepada unjuran Allah s.w.t. didalam ayat yang berbunyi: “Walkaa dziminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang dapat menahan marah.” kerana itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan maka langsung dipergunakan.

    Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk, maka ketika akan ditangkap untuk dihumkum dera, tiba-tiba dimaki oleh orang yang mabuk itu, maka Umar kembali tidak jadi menghukum dera, dan ketika ditanya: “Ya Amirul mukminin, mengapakah setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engkau tinggalkan?” Jawab Umar: “Kerana ia menjengkel aku maka andaikan aku hukum (pukul) mungkin kerana murka ku kepadanya, dan saya tidak suka memukul seorang hanya membela diriku (untuk kepentingan diriku).”

    Maimun bin Mahran ketika budaknya menghidangkan makanan dan membawa kuah, tiba-tiba tergelincir kakinya sehingga tertuang kuah itu kebadan Maimun dan ketika Maimun mahu memukul budak itu, tiba-tiba ia berkata: “Tuanku, laksanakanlah ajaran Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Walkadhiminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang menahan marah.” Maimun berkata: “Baiklah.” Maka budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wal afina aninnas.” (Yang bermaksud): “Dan engkau memaafkan orang.” Maimun berkata: “Saya maafkan engkau.” Budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wallahu yhibbul muhsinin.” (Yang bermaksud): “Dan Allah kasih kepada orang yang berbuat kebaikan.” Maimun berkata: “Saya berbuat baik kepadamu, maka engkau kini merdeka kerana Allah s.w.t.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman iaitu:
    + Kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh
    + Warak yang dapat mencegah dari yang haram
    + dan akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)

    Ada seorang yang mempunyai kuda yang sangat dibanggakan, tiba-tiba pada suatu hari ia melihat kudanya patah satu kakinya sehingga tinggal tiga kaki, lalu ia bertanya kepada budaknya: “Sipa yang berbuat itu?” Jawab budaknya: “Saya.” Ditanya lagi: “Mengapa?” jawab budaknya: “Supaya engkau risau.” Berkata orang itu: “Saya akan membalas menjengkelkan siapa yang menyuruh engkau berbuat itu (yakni syaitan laknatullah).” Maka ia berkata kepada budaknya: “Pergilah engkau, saya merdekakan dan itu kuda untukmu.”

    Abul Laits berkata: “Seharusnya seorang mukmin bersifat sabar, tenang sebab itu termasuk sifat orang muttaqin yang dipuji oleh Allah s.w.t.

    Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi: “Walaman shobara waghafara inna dzailika lamin azmilumur.” (Yang bermaksud): “Dan siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk seutama-utamanya sesuatu.”

    Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Wala tastawil hasanatu walas sayyi’atu idfa billati hiya ahsan fa idzalladzi bainaka wa bainahu adaa watun ka’annahu waliyyun hamim.” (Yang bermaksud): “Dan tidak dapat disamakan kebaikan dengan kejahatan, tolaklah segala sesuatu itu dengan cara yang baik, tiba-tiba seorang yang musuh denganmu dapat berubah menjadi kawan yang akrab.”

    Juga Allah s.w.t. memuji Nabi Ibrahim a.s. dialam ayat (Yang berbunyi): “Inna Ibrahim lahalimun awwahun mubin.” (Yang bermaksud): “Ssesungguhnya Ibrahim seorang yang sabar, selalu mengingati dosa dan kesalahan dirinya dan bertaubat.”

    Juga Allah s.w.t. berfirman didalam ayat (Yang berbunyi): “Fasbir kama shobaro ulul azmi minarrusuli.” (Yang bermaksud): “Maka sabarlah sebagaimana kesabaran orang-orang yang bersemangat besar dari para rasul sebelummu.”

    Alhasan ketika mengingati ayat (Yang berbunyi): “Wa idza khatobahumul jaa hiluuna qaalu: salaamaa.” (Yang bermaksud): “Dan bila dicaci maki oleh orang-orang yang bodoh-bodoh, mereka sabar tidak melayan.”

    Wabh bin Munabbih berkata: “Ada seorang ahli ibadat Bani Israil akan disesatkan oleh syaitan laknatullah tetapi tidak dapat, maka pada suatu hari ia keluar untuk suatu hajat kepentingan, maka diikuti oelh syaitan laknatullah kalau-kalau ia mendapat kesempatan, maka syaitan laknatullah berusaha dari ayahwat dan marahnya juga tidak dapat, maka diusahakan dari ketakutannya, maka dibayangkan kepadanya seolah-olah akan dijatuhi batu bukit yang besar, tetapi ia selalu berdzikir kepada Allah s.w.t. sehingga terhindar, dan adakalanya semua itu tidak dihiraukan, dan adakalanya berupa ular yang melingkar dikakinya ketika sembahyang dan merambat kebadan sehingga keatas kepalanya, kemudian ditempat sujudnya, manakala akan sujud ular itu akan membuka mulutnya seakan-akan akan menelan kepalanya, maka ia hanya menyingkirkan dengan tangannya sampai dapat bersujud. Dan ketika selesai sembahyang, syaitan lakntullah datang kepadanya dan berkata: “Saya sudah untuk usaha untuk menyesatkan kamu tetapi tidak dapat, dan kini saya akan berkawan sahaj kepadamu.” Jawabnya: ” Sedang pada saat engkau menakuti aku, alhamdulillah saya tidak takut, demikian pula sekarang saya tidak ingin bersahabat dengan engkau.”. Lalu syaitan laknatullah itu berkata: “Apakah tidak tahu bagaimana keadaan keluargamu sepeninggalanmu?” jawabnya: “Saya telah mati sebelum mereka.” “Lalu pakah kamu tidak tanya kepadaku bagaimana aku dapat menyesatkan anak Adam?: Tanya syaitan laknatullah itu. Jawab orang alim itu: “Baiklah, bagaimana kamu menyesatkan anak Adam?” Syaitan laknatullah menjawab: “Dengan tiga macam iaitu:

    – Bakhil (kikir)
    – Marah
    – dan mabuk

    Sebab manusia jika bakhil kami bayangkan kepadanya bahawa hartanya sangat sedikit sehingga ia sayang untuk mengeluarkan untuk kewajipan-kewajipannya, dan bila ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagai anak kecil mempermainkan bola, meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tetap tidak patah harapan untuk dapat menyesatkannya, sebab ia membangun dan kami yang merobohkan dengan satu khalimat sahaja. Demikian pula jika seseorang telah mabuk, maka kami tuntun dengan mudah kepada segala kejahatan sebagaimana kambing dituntun sesuka kami.” Disini syaitan laknatullah telah menyatakan bahawa orang yang marah jatuh ketangan syaitan laknatullah bagaikan bola ditangan anak-anak kecil, kerana itu seseorang harus sabar supaya tidak jatuh dalam tawanan syaitan laknatullah dan tidak sampai gugur dalam perbuatannya.”

    Ibalis laknatullah datang kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Engkaulah yang dipilih Allah s.w.t. untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku.” Maka Nabi Musa a.s. merasa gembira lalu ia wuduk dan sembahyang kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan, iblis (laknatullah) seorang makhlukMu, ia akan bertaubat, maka terimalah taubatnya.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Ya Musa, dia tidak akan bertaubat.” jawab Nabi Musa a.s.: “Ya Tuhan, dia minta taubat.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud kepada kubur Adam, maka Aku akan menerima taubatnya.” Nabi Musa a.s.sangat gembira dan menyampaikan suara wahyu itu kepada Iblis laknatullah, tiba-tiba iblis laknatullah itu marah dan sombong serta berkata: “Saya tidak sujud kepadanya dimasa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?” Lalu iblis laknatullah berkata: “Hai Musa, kerana engkau telah menolong aku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah daripadaku, maka saya pesan kepadamu tiga macam iaitu:
    + Ingatlah kepadaku ketika marah, sebab aku didalam tubuhmu mengikuti saluran darah
    + Ingatlah kepadaku ketika menghadapi musuh didalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan isteri dan anak keluarganya dan hartanya sehingga ia lari kebelakang
    + Awas, jangan duduk sendirian dengan wanita yang bukan muhrim sebab aku sebagai utusannya kepadamu dan utusanku kepadanya

    Luqman Alhakiem berkata kepada anak lelakinya: “Hai anak, tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam iaitu:
    + Orang yang sabar tidak diketahui kecuali ketika marah
    + Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang
    + Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (berkepentingan)

    Seorang alim dari tabi’in dipuji orang, maka ia bertanya kepada orang yang memuji: “Apakah engkau pernah menguji aku ketika marah sehingga engkau ketahui kesabaranku?” Jawab orang itu: “Tidak.” Tanya orang alim itu lagi: “Apakah engkau pernah menguji aku didalam berpergian sehingga engkau mengtahui kebaikan akhlakku?” Jawab orang itu: “Tidak.” “Apakah engkau pernah menguji amanatku sehingga engkau ketahui benar-benar aku seorang yang amanat?” Jawab orang itu: “Tidak.” Berkata orang alim itu: “Celaka engkau, seorang tidak boleh memuji lain orang sebelum diuji dalam tiga macam itu.”

    Tiga macam dari akhlak orang syurga dan tidak dapat kecuali pada orang yang baik budi iaitu:
    + Memaafkan orang yang zalim kepadamu
    + Memberi kepada orang yang bakhil kepadamu
    + Membantu orang yang bersalah kepadamu

    Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada Jibril tentang tafsir ayat (Yang berbunyi): “Khudzil afwa wa’mur bil urfi wa’aridh anil jahilin?.” Jawab Jibril: “Aku akan bertanya kepada Allah s.w.t.” dan Jibril berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. menyuruhmu menghubungi kerabat yang memutuskan hubungan padamu dan memberi pada orang yang bakil kepadamu dan memaafkan orang yang aniaya kepadamu.”

    Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a. berkata: “Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad s.a.w. duduk, maka Nabi Muhammad s.a.w. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad s.a.w. bangun dari temaptnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: “Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ssesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syaitan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syaitan laknatullah.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiga macam semuanya hak iaitu:
    + Tiada seorang yang dianiaya lalu memaafkannya kerana mengharap keridhoan Allah s.w.t. melainkan pasti ditambah kemuliaan oleh Allah s.w.t.
    + Tiada seorang yang membuka jalan meminta-minta kerana ingin bertambah kekayaan melainkan ditambah kekurangannya (kemiskinan) oleh Allah s.w.t.
    + Tiada seorang yang memberi sesuatu ikhlas kerana Allah s.w.t. melainkan ditambah banyak oleh Allah s.w.t.

    Abul Laits dari ayahnya dengan sanadnya dari Muhammad bin Ka’ab Alqurandhi dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiap-tiap sesuatu ada kemuliaannya, semulia-mulia majlis yang menghadap khiblat. Dan majlis (duduk-duduk) diantara kamu itu berlaku amanat (segala yang terjadi dimajlis itu sebagai amanat dari yang hadir, tidak boleh dibuka segala yang terjadi dimajlis itu), dan jangan sembahyang dibelakang orang yang sedang tidur dan yang berhadas, dan bunuhlah ular dan kalajengking meskipun kamu sedang sembahyang, dan jangan menutup dinding dengan kain, dan siapa yang melihat surat saudaranya tanpa izin, maka bagaikan melihat api. Dan siapa yang ingin menjadi yang terkuat hendaklah berserah diri kepada Allah s.w.t. dan siapa yang ingin menjadi sekaya-kaya manusia hendaklah lebih percaya kepada jaminan Allah s.w.t. daripada apa yang ditangannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukah saya memberitahu orang yang sejahat-jahat kamu?” Jawab sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang makan sendiri dan tidak suka membantu, dan selalu kejam dan memukul hamba sahayanya.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Orang yang membenci dan dibenci orang-orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menerima permintaan maaf atau udzur orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak dapat diharap kebaikannya dan tidak aman dari gangguannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Nabi Isa a.s. bersabda: “Hai Bani Israil, kamu jangan membicarakan hikmat pada orang yang bodoh, bererti kamu telah aniaya pada hikmat itu, dan jangan kamu sembunyikan dari ahlinya, maka bererti kamu aniaya pada hikmat itu dan pada orang-orang yang berhak itu. Dan jangan kamu membalas orang jahat dengan kejahatan, maka hilang kebaikanmu disisi Tuhanmu. Hai Bani Israil, semua urusan itu hanya terbahagi tiga iaitu:
    + Urusan yang nyata baiknya maka ikutilah
    + Urusan yang nyata sesatnya maka tinggalkanlah
    + Urusan yang masih ragu kembalilah kepada Allah s.w.t. dan Rasulullah (Al-Quran dan sunnaturasul)

    Seorang cendikiawan berkata: “Zuhud (tidak rakus) didunia ini kerana empat iaitu:
    + Percaya benar pada janji Allah s.w.t. didunia dan diakhirat
    + Harus menganggap puji dan makian orang-orang itu sama sahaja (tidak merasa besar kerana dipuji dan tidak merasa rendah kerana dihina orang)
    + Ikhlas dalam amal perbuatanmu
    + Memaafkan orang yang aniaya padanya dan tidak marah-marah kepada budak sahayanya dan menjadi tenang sabar

    Abu Darda r.a. berkata: “Seorang berkata kepadanya: “Ajarkan kepadaku beberapa kalimah yang berguna bagiku.” Abu Darda berkata: “Saya berwasiat kepadamu beberapa kalimah, siapa yang mengamalkan maka ia mendapat darjat yang tinggi sebagai pahalanya iaitu:
    + Jangan makan kecuali yang halal
    + Anggaplah dirimu dari golongan yang mati
    + Serahkan dirimu kepada Allah s.w.t, maka siapa yang maki atau mengganggu kepadamu maka katakan: “Kehormatanku telah aku serahkan kepada Allah s.w.t.”
    + Jika engkau berbuat kesalahan atau dosa maka segera minta ampun kepada Allah s.w.t.

    Ketika Nabi Muhammad s.a.w. patah giginya dalam perang Uhud, maka para sahabat berkata kepadanya: “Ya Rasulullah, andaikan engkau berdoa kepada Allah s.w.t. terhadap orang yang telah berbuat kepadamu sedemikian itu.” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengutuk tetapi aku diutus untuk berdakwah dan rahmat, ya Allah, berilah hidayat kepada kaumku maka mereka benar-benar belum mengetahui.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang menahan dari kehormatan kaum muslimin, maka Allah s.w.t. memaafkan kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat, dan siapa yang menahan marahnya, maka Allah s.w.t. akan menghindarkan dari murkaNya pada hari kiamat.”

    Mujahid berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. berjalan melalui kaum yang sedang mengangkat batu dan melihat siapakah yang lebih kuat diantara mereka, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah batu itu?” Jawab mereka: “Ini batu kekerasan.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sukakah saya beritahu kepada kamu yang lebih keras daripada itu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang bentrol dengan saudaranya sehingga mendongkol, kemudian dapat mengalahkan syaitan laknatullah dan datang kepada saudaranya itu lalu mengajak damai dan baik kepadanya.” Dilain riwayat pula dikatakan: “Nabi Muhammad s.a.w. melihat kaum melatih kekuatan itu dengan mengangkat batu, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kamu mengukur kekuatan dengan mengangkat batu? Sukakah saya beritahu kepadamu yang lebuh kuat dari kamu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Iaitu orang yang penuh marah lalu menahan marahnya dan sabar.”

    Yahya bin Mu’adz berkata: “Siapa yang mendoakan orang yang menganiaya kepadanya, maka ia telah menyusahkan Nabi Muhammad s.a.w ditengah-tengah para Nabi-nabi yang lain, dan menyenangkan orang mal’un iaitu iblis laknatullah ditengah-tengah syaitan laknatullah dan orang-orang kafir. Dan siapa yang memaafkan orang yang zakim, maka ia telah menyedihkan kepada iblis laknatullah ditengah-tengah orang kafir dan syaitan laknatullah dan menyenangkan Nabi Muhammad s.a.w. ditengah-tengah para Nabi dan orang-orang solihin.”

    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan ada seruan: “Dimanakah orang-orang yang pahala mereka dijamin oleh Allah s.w.t, maka bangkitlah orang yang telah memaafkan pada manusia lalu masuk syurga.”

    Al-Ahnaf bin Qays ditanya: “Apajah kemanusiaan itu? Jawabnya:
    + Merendahkan diri didalam kekuasaan kerajaan
    + Memaafkan ketika berkuasa dan
    + Memberi tanpa menyebut-nyebut

    Athiyah berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang mukmin itu lunak-lunak, baik-baik bagaikan unta yang terkendali hidungnya, jika dituntun menurut dan jika dihentikan dibukit juga berhenti.”

    Abul Laits berkata: “Pergunakanlah sabar ketika merah dan awaslah kamu dari keburuan ketika marah kerana keburuan dalam marah itu mengakibatkan tiga macam iaitu:

    + Menyesal diri
    + Tercela oleh orang-orang
    + Siksa dari Allah s.w.t.

    Sebab sabar itu memang pahit pada mulanya tetapi manis pada akhirnya, sebagaimana kata pujangga: “Alhilmu awwalahu murrun madzaqatuhu, laakin akhiruhu ahla minal asali ashshabru kashshabiri murrun fi madzaqatihi laakin awaqibuhu ahla minal asali.” (Yang bermaksud): “Sabar itu pada mulanya pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Sabar itu bagaikan jadam pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

    (tanbihul_ghafilin)

  • Keikhlasan

    Alfaqieh Abul-Laits berkata: “Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin Alfadhel bin Ahnaf berkata: “Telah menerang kepada kami Muhammad bin Ja’far Alkaraabisi ia berkata : “Telah menerang kepada kami Ibrahim bin Yusuf ia berkata: “telah menerang kepada kami Ismail bin Ja’far, dari Amr Maula Almuththalib dari Ashim dan Muhammad bin Labied berkata: Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Yang sangat saya kuatirkan atas kamu ialah syirik yang terkecil.” Sahabat bertanya: “Ya Rasullullah, apakah syirik yang kecil itu?” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Riyaa. Pada hari pembalasan kelak Allah s.w.t. berkata kepada mereka : “Pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kerana mereka didunia, lihatlah disana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka.”

    Riyaa ialah beramal untuk dilihat orang, dipuji dilihat orang, Abul Laits berkata: “Dikatakan pada mereka sedemikian itu kerana amal perbuatan mereka ketika didunia secara tipuan, maka dibalas demikian.”

    Firman Allah s.w.t.: Yukhaa di’unnallah wahuwa khaa di’uhum.
    Allah s.w.t. membalas cara tipuan mereka itu dan membatalkan semua amal perbuatan mereka itu, kerana kamu dahulu tidak beramal untukKu maka pembalasan amalmu itu tidak ada padaKu, sebab tiap amal yang tidak ikhlas kepada Allah s.w.t., maka tidak sampai kepadaNya, kerana itu tiap amal yang dikerjakan tidak kerana Allah s.w.t. dan kerana lainnya, maka Allah s.w.t. lepas tangan daripadanya.

    Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata, dari Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda yang bermaksud: “Allah s.w.t. telah berfirman: ‘ Akulah yang terkaya dari semua sekutu, Aku tidak berhajat kepada amal yang dipersekutukan yang lain-lain, maka siapa beramal lalu mempersekutukan kepada lain-lainKu, maka Aku lepas bebas dari amal itu.”

    Hadis ini sebagai dalil bahawa Allah s.w.t. tidak menerima amal kecuali yang ikhlas kepada Allah s.w.t., maka jika tidak ikhlas, tidak diterima dan tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya tetap dalam neraka jahannam, sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surah Al-Israa:

    Man kana yuriidul aa-jilat ajjalna lahu fiha maa nasyaa’u liman nuridu, tsumma ja’alna lahu jahannam yash laaha madzmuman mad-hura (18). Wa man aradal akhirota wa sa’a laha sa’yaha wa huwa mu’minun, fa ulaa’ika kaana sa’yuhum masy-kuura. (19). Kullan numiddu haa ulaa’i, wahaa ulaa’i athaa’i robbika, wama kaana athaa’u robbika mah-dzuura (20).

    Bermaksud: Siapa yang menginginkan dunia dengan amalnya, Kami berikan kepadanya dari kekayaan dunia bagi siapa Kami kehendaki kebinasaannya, kemudia Kami masukkan ia kedalam neraka jahannam sebagai orang terhina dan terusir jauh dari rahmat Allah (18). Dan siapa yang menginginkan akhirat dan berusaha dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas, dan disertai iman, maka usaha amal mereka itulah yang terpuji (diterima) (19). Masing-masing dari dua golongan Kami beri rezki, dan pemberian Tuhanmu tidak terhalang, baik terhadap mukmin, kafir, berbakti maupun lacur (20).

    Dari ayat keterangan ini nyatalah bahawa yang beramal kerana Allah s.w.t. maka akan diterima sedang yang beramal tidak kerana Allah s.w.t. tidak akan diterima dan hanya lelah dan susah semata-mata, sebagimana dinyatakan dalam hadis: Abu Hurairah r.a berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: “Rubba sha’imin laisa lahu hadhdhun min shaumihi illal ju’a wal athsy wa rubba qaai’min laisa lahu hadhdhun min qiyamihi illal-sahar wannashabu. Maksudnya: Adakalanya orang puasa dan tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, dan ada kalanya orang bangun malam dan tidak mendapat apa-apa dari bangunnya kecuali tidak tidur semata-mata, yakni tidak mendapat pahala dari amalnya.

    Seorang ahli hikmah berkata: “Contoh orang yang beramal dengan riyaa’ atau sum’ah itu bagaikan orang yang keluar kepasar dan mengisi poketnya dengan batu, sehinggakan orang melihat poketnya semua berasa kagum dan berkata: “Alangkah penuhnya poket wang orang itu.”, tetapi sebenarnya dia sama sekali tidak berguna sebab tidak dapat dibeli apa-apa tetapi hanya sekadar mendapat pujian orang sahaja. Demikianlah pula orang yang beramal dengan riyaa’ sum’ah, tidak ada pahalanya diakirat kelak.”

    Sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Wa qadimna ila amilu min faja’alnahu habaa’an mantsuura.” yang bermaksud: “Dan Kami periksa semua amal perbuatan mereka, lalu Kami jadikan debu yang berhamburan.”

    Waki’ meriwayatkan dari Sufyan Atstsauri dari orang yang mendengar Mujahid berkata: “Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: Ya Rasullullah, saya bersedekah mengharapkan kerihdaan Allah s.w.t. dan ingin juga disebut dengan baik.” Maka turunlah ayat 111 surah al-Kahfi: “Faman kaana yarju liqaa’a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha, walaa yusyrik bi ibadati rabbihi ahada. yang bermaksud: “Maka siapa yang benar-benar mengharap akan bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah berbuat amal yang baik, dan jangan mempersekutukan Allah dalam semua ibadatnya dengan sesiapa.”

    Seorang pujangga berkata: “Siapa yang berbuat tuju tanpa tuju tidak berguna perbuatannya. Siapa yang takut tanpa hati-hati, maka tidak berguna takut itu, seperti berkata: “Saya takut kepada siksaan Allah s.w.t. tetapi tidak berhati-hati dari dosa, maka tidak berguna takutnya itu. Siapa yang mengharapkan tanpa amal seperti mengharapkan pahala dari Allah s.w.t. tetapi tidak beramal, maka tidak berguna harapannya itu. Siapa yang niat tanpa perlaksanaan, niat yang berbuat kebaikan tetapi tidak melaksanakan akan tidak berguna niatnya itu. Siaoa berdoa tanpa usaha, seperti berdoa semoga mendapat taufiq untuk kebaikan, tetapi tidak berusaha untuk kebaikan. Siapa yang beristigfar tanpa penyesalan, maka tidak akan berguna istigfarnya itu. Siapa yang tidak menyesuaikan lahir dengan batiniahnya, seperti lahirnya untuk berbuat kebaikan tetapi hati tidak ikhlas. Siapa yang amal tanpa ikhlas maka tidak akan berguna amal perbuatannya.

    Abu Hurairah berkata: Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum (golongan) yang mencari dunia dengan menjual agama, memakai pakaian bulu domba, lidah mereka lebih manis dari madu sedang hati mereka bagaikan serigala. Allah akan berfirman kepada mereka: Apakah terhadapKu mereka bermain-main dan melawan, dengan kebesaran-Ku, Aku bersumpah akan menurunkan kepada mereka futnah ujian bala sehingga seorang yang berakal tenang akan bingung.”

    Waki’ meriwayatkan dari Sufyan dari Habib dari Abi Salih berkata: Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: “Ya, Rasullullah, saya berbuat suatu amal yang saya sembunyikan kemudian diketahui orang, maka saya merasa senang, apakah masih mendapat pahala? Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya. bagimu pahala rahasia dan terang.”

    Abul-Laits berkata: “Diketahui orang sehingga ditiru, maka ia mendapat pahala kerana beramal dan mendapat pahala kerana ditiru orang.” Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: “Siapa yang memberi contoh kebaikan, maka ia mendapat pahala dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiamat, dan siapa yang memberi contoh kejahatan maka ia mendapat dosa dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiamat.”

    Abdullah bin Almubarak meriwayatkan dari Abubakar bin Maryam dari Dhomiroh dari Abu Habib berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Adakalanya para Malaikat membawa amal seorang hamda dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai kehadrat Allah, maka Allah berfirman kepada mereka: Kamu hanya mencatat amal hambuku, sedang Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hambaku ii tidak ikhlas kepadaKu dan amalnya, maka catatlah dalam sijjin, dan ada kalanya membawa naik amal hamba lalu mereka menganggap sedikit dan kecil sehingga sampai kehadapan Allah, maka Allah berfirman kepada para Malaikat: Kamu mencatat amal perbuatan hambaKu dan Aku mengawasi isi hati dan niatnya, orang ini benar-benar ikhlas dalam amal perbuatannya kepadaKu, catatlah amalnya itu dalam illiyin.”

    Dengan ini nyatalah bahawa amal yang sedikit dengan ikhlas lebih baik daripada yang banyak jika tidak ikhlas, sebab amal yang diterima oleh Allah s.w.t. dilipat gandakan pahalanya. Adapun yang tidak ikhlas maka tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya dalam neraka jahannam.

    Abu-Laits berkata: Saya telah diceritakan oleh beberapa ulama dengan sanad mereka yang langsung dari Uqbah bin Muslim dari Samir Al-ash-bahi berkata: “Bahawa ia ketika masuk kekota Madinah melihat seorang yang dikerumuni oleh orang ramai, lalu saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Jawab orang-orang: “Itu Abu Hurairah r.a.”. Maka saya mendekati kepadanyadan ketika tiada lagio orang ramai disitu, saya pun bertanya kepadanya: “Saya tuntut engkau demi Allah, ceritakan kepadaku satu hadis yang telah kau dengar dan kau ingat langsung daripada Rasullullah s.a.w.” Abu Hurairah r.a. berkata: “Duduklah, akan saya ceritakan kepadamu hadis yang saya sendiri mendengar dari Rasullullah s.a.w. yang waktu itu tiada orang lain bersama kami.” Kemudian Abu Hurairah r.a. pun menarik nafas yang berat lalu pingsan, kemudian setelah sedar dari pingsan itu dia pun mengusapkan mukanya sambil berkata: “Akan aku ceritakan hadis Rasullullah s.a.w. .”, kemudian dia menarik safas yang berat lagi dan pingsan semula. Agak lama kemudian dia sedar dan mengusapkan mukanya lalu berkata : Rasullullah s.a.w. telah bersabda: “Apabila hari kiamat kelak maka Allah s.w.t. akan menghukum diantara semua makhluk dan semua ummat bertekuk lutut, dan pertama yang dipanggil ialah orang yang menerti al-Quran, dan orang yang mati fisabilillah, dan orang kaya. Maka Allah s.w.t. menanyakan kepada orang yang pandai al-Quran: Tidakkah Aku telah mengajar kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusanKu? Jawab orang itu: Benar, ya Tuhanku. lalu kau berbuat apa terhadap apa yang telah engkau ketahui itu? Jawabnya: Saya telah mempelajarinya diwaktu malam dan mengerjakannya diwaktu siang. Firman Allah s.w.t. : Dusta kau. Lalu malaikat juga berkata: Dusta kau, sebaliknya kau hanya ingin disebut qari, ahli dalam al-Quran, dan sudah disebut yang demikian itu. Lalu dipanggil orang kaya dan ditanya: Engkau berbuat apa terhadap harta yang Aku berikan kepada kamu? Jawabnya: Saya telah menggunakan untuk membantu kaum keluarga dan bersedekah. Dijawab Allah s.w.t. :Dusta kau. Para malaikat pun berkata: Dusta kau, kau berbuat begitu hanya kerana ingin disebut sebagai seorang dermawan, dan sudah terkenal sedemikian. Lalu dihadapkan orang yang mati berhijad fisabilillah lalu ditanya: Kenapa kau terbunuh? Jawabnya: Saya telah berperang untuk menegakkan agamaMu sehingga terbunuh. Allah s.w.t. berfirman: Dusta engkau. Dan malaikat juga berkata: Dusta engkau, kau hanya ingin disebut sebagai seorang pahlawan yang gagah berani dan sudah disebut sedemikian.

    Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. memukul lututku (pahaku) sambil bersabda yang bermaksud: “Hai Abu Hurairah, ketiga orang itulah yang pertama-tama yang dibakar dalam api neraka pada hari kiamat.” Kemudian berita itu sampai kepada Mu’awiyah maka ia menangis dan berkata: “Benar sabda Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w.”. Kemudian ia membaca ayat 15-16 surah Hud yang berbunyi: Man kana yuridul haya wazinataha nuwaffi ilaihim a’maalahum fiha wahum fiha la yub khosun.(15) Ulaa’ikal ladzina laisa lahum fil aakhiroti illannar wa habitha maa shona’u fiha wabaa thiun maa kaanuu ya’malun. (16). Yang bermaksud: Siapa yang niat dengan amalnya hanya semata-mata keduniaan dan keindahannya maka Kami akan memberi kepada mereka semua amalnya dan mereka didunia tidak akan dikurangi (dirugikan).(15). Mereka itulah yang tidak mendapat diakirat kecuali api neraka, dan gugur semua amal mereka itu, bahkan palsu semua perbuatan mereka itu.(16).

    Abdullah bin Haanif Al-inthoki berkata: Pada hari kiamat bila seseorang mengharap amalnya kepada Allah s.w.t. maka dijawab: Tidakkah Kami telah membayar kotan pahalamu, tidakkah Kami telah memberi tempat padamu dalam tiap majlis. tidakkah Kami telah terangkat sebagai pimpinan/ketua, tidakkah telah Kami murah (mudah)kan jualbelimu (yakni selalu dapat potongan harga jika membeli sesuatu) dan seterusnya.

    Seorang hakim telah berkata: Orang yang ikhlas ialah orang yang menyembunyikan perbuatan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan kejahtannya. Pendapat yang lain pula berbunyi: Puncak ikhlas itu ialah tidak ingin pujian orang. Dzinnun Almishri ketika ditanya: “Bilakah orang diketahui bahawa ia termasuk pilihan Allah s.w.t.”? Jawabnya: “Jika tidak meninggalkan istirehat dan dapat memberikan apa yang ada, dan tidak menginginkan kedudukan dan tidak mengharapkan pujian tau celaan orang. (Yakni dipuji tidak merasa besar dan dicela tidak merasa kecil)

    Ady bin Hatim Aththa’i berkata Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Pada hari kiamat beberapa orang yang diperintahkan untuk membawa kesyurga dan setelah melihat segala keindahannya serta merasakan bau harumnya maka diperintahkan untuk dijauhkan daripadanya kerana mereka tidak ada bagian didalamnya, maka kembali mereka dengan penjelasan yang tidak ada tara bandingnya, sehingga mereka berkata: Ya Tuhan, andaikan Kau masukkan kami kedalam neraka sebelum Kau perlihatkan kami pahala yang Kau sediakan bagi para waliMu. Jawab Allah: Sengaja Aku berbuat itu kepada kamu, kamu dahulu bila bersendirian berbuat dosa-dosa besar, dan bila dimuka orang-orang berlagak alim sopan dan taat, kamu hanya riya’, memperlihatkan kebaikan kepada manusia, dan tidak takut kepadaKu, kamu mengagungkan orang dan tidak mengagungkan Aku, maka kini Aku merasakan kepada kamu kepedihan siksaKu, disamping Aku haramkan atas kamu kebesaran pahalaKu.

    Abdullah bin Abbas r.a. berkata Rasullullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Ketika Allah telah melengkapi jannahtu aden dengan segala keindahan yang belum dilihat oleh mata, dan terdengar oleh telinga dan tergerak dalam hati (khayal) manusia, maka Allah menyuruhnya supaya berkata-kata, maka syurga itu berkata : Qad aflahai mu’minum (3x) (Sungguh untung orang yang beriman/percaya) Inni haram ala kulli bakhil wa munafiq wa muraa’i (3x) (Saya diharam untuk dimasuki oleh tiap orang yang bakhil dan orang munafiq dan orang yang berbuat riyaa).

    Ali bin Abi Thaalib r.a. berkata: “Tanda orang yang riyaa’ itu ada empat yakni malas jika bersendirian, dan tangkas jika dimuka orang, dan menambah amalnya jika dipuji, dan mengurangi jika dicela. Syaqiq bin Ibrahim berkata: “Benteng amal itu ada tiga iaitu Harus merasa bahawa itu hidayat dan taufiq dari Allah s.w.t., Harus niat untuk mendapat ridha Allah s.w.t. untuk mematahkan hawa nafsu dan Harus mengharap pahala dari Allah s.w.t. untuk menghilangkan rasa tamak, rakus riyaa’ dan dengan ketiga ini amal dapat ikhlas kepada Allah s.w.t. Mengharap ridha Allah s.w.t. supaya tiap amal hanya untuk yang diridha Allah s.w.t. supaya tidak beramal terdorong oleh hawa nafsu, dan apabila amal itu kerana mengharap pahala dari Allah s.w.t. maka tidak hirau terhadap pujian atau celaan orang.

    Seorang hakim berkata: “Seharusnya seorang yang beramal itu belajar adab dari pengembala kambing.” Ketika ditanya bagaimanakah? Jawabnya: “Pengembala itu jika sembahyang ditengah-tengah kambingnya, sekali-kali tidak mengharap pujian dari kambing-kambingnya, demikianlah seorang yang beramal harus tidak menghiraukan apakah dilihat orang atau tidak.”

    Seorang hakim berkata: “Untuk keselamatan suatu amal berhajat pada empat macam iaitu pertamanya: Ilmu pengetahuan, sebab amal tanpa ilmu lebih banyak salah daripada benarnya (tepatnya),keduanya Niat, sebab tiap amal amat terpenting pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. : “Sesungguhnya semua amal tergantung pada niat dan yang dianggap bagi tiap orang apa yang ia niatkan.” dan ketiga Sabar, supaya dapat melaksanakan amal itu dengan baik dan sempurna, thuma’ninah dan tidak keburu , keempatnya ialah Tulus ikhlas, sebab amal tidak akan diterima tanpa keikhlasan.

    Haram bin Hayyan berkata: “Tiada seorang yang menghadap kepada Allah s.w.t. akan menghadapkan hati orang-orang yang beriman sehingga kasih dan sayang kepadanya.” Suhail bin Shalib dari ayahnya Abu Hurairah r.a. berkata, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah s.w.t. bila cinta pada seseorang hamba berkata kepada Jibril: Sesungguhnya Aku kasih kepada fulan, maka kau kasih kepadanya, lalu Jibril berkata kepada semua penduduk langit: Sesungguhnya Tuhanmu kasih kepada fulan, maka kamu harus kasih kepadanya, setelah dikasihi oleh ahli langit, maka disebarkan rasa kasih diatas bumi, dan sebaliknya jika Allah s.w.t. murka (benci) pada seorang hamba, demikian juga adanya.”

    Syaqiq bin Ibrahim ditanya: “Bagaimana dapat mengetahui bahawa seorang yang soleh, sebab orang mengatakan bahawa saya orang solihin?” Jawab Syaqiq: “Tunjukkan rahsiamu pada orang-orang soleh, maka bila mereka rela pada itu itu bererti kau soleh. Kedua, tawarkan dunia ini pada hatimu, maka bila ia menolak, itulah tandanya kau soleh dan ketiga, tawarkan maut kepada dirimu, maka jika ia berani dan mnegharap tanda bahawa kau orang yang soleh, bila tidak maka bukan soleh, dan bila ada ketiga-tiganya padamu, maka mintalah selalu kepada Allah s.w.t. jangan sampai memasukkan riyaa’ dalam semua amalmu supaya tidak rosak amalmu.”

    Tsabit Albunani dari Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Tahukah kamu siapakah orang mukmin? Jawab sahabat: “Allah s.w.t. dan Rasullullah lah yang lebih mengetahui.” Baginda s.a.w. bersabda: “Seorang mukmin iaitu orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang ia suka dan andaikan seorang berbuat taat didalam rumah yang berlapistujuh puluh dan pada tiap rumah ada pintu besi, niscaya Allah akan menampakkan amal itu sehingga dibicarakan orang dan dilebih-lebihkan.” Ditanya oleh para sahabat: “Ya Rasulullah, bagaimana dilebih-lebihkan?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w. : Seorang mukmin suka bila amalnya bertambah.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. pula bertanya: Tahukah kamu siapa pula yang fajir (derhaka)?”. Jawab sahabat: “Allah s.w.t. dan Rasullullah lah yang lebih mengetahui.” Bersabda Nabi Muhammad s.a.w. : “Yalah orang yang tidak mati sehingga Allah s.w.t. memenuhi pendengarannya dengan apa yang tidak disukai, dan andaikan seorang berbuat maksiat didalam rumah yang berlapis tujuh puluh rumah dan masing-masing berpintu besi, niscaya Allah s.w.t. akan memperlihatkan pakaian amal itu sehingga dibicarakan orang dan ditambah-tambahi.” Ketika ditanya: “Bagaimana ditambah, ya Rasullullah?’ Jawab Rasullullah s.a.w : “Seorang fajir suka apa yang menambah durhakanya.”

    Auf bin Abdullah berkata: “Orang-orang ahlil khoir satu sama lain berpesan tiga kalimah: Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah s.w.t. akan mencukupi urusan dunianya, dan siapa yang memperbaiki hubugannya dengan Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. akan memperbaiki hubugannya dengan sesama manusia, dan siapa yang memperbaiki hatinya maka Allah s.w.t. akan memperbaiki lahirnya.”

    Hamid Allafaf berkata: “Jika Allah s.w.t. akan membinasakan seseorang, maka dihukum dengan tiga macam: Diberi ilmu tanpa amal, Diberi bersahabat dengan orang-orang yang soleh tetapi tidak mengikuti jejak mereka dan tidak beradap terhadap mereka serta ketiga diberi jalan untuk berbuat taat tetapi tidak ikhlas.”

    Abul-Laits berkata: “Itu semua kerana jelek niatnya dan busuk hatinya, sebab sekiranya niatnya baik nescaya diberi manfaat dalam ilmunya dan ikhlas dalam amalnya, dan menghargai kedudukan orang-orang soleh.” Tambahnya lagi: “Saya telah diberitahu oleh orang yang dapat dipercayai dengan sanadnya dari jaballah Alyahshubi berkata: “Ketika kami bersama Abdul Malik bin Marwan dalam suatu peperangan, tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang selalu bangun malam, bahkan tidak tidur malam kecuali sebentar, selama itu kami belum kenal padanya, kemudian kami ketahui bahawa ia adalah sahabat Rasullullah lalu ia bercerita kepada kami bahawa ada seorang bertanya: “Ya Rasullullah, dengan apakah mencapai keselamatan kelak?” Jawab Rasullullah s.a.w, “Jangan menipu Allah s.w.t.” Orang bertanya lagi: “Bagaimana menipu Allah s.w.t.?” Rasullullah s.a.w menjawab: “Yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t., tidak kerana Allah s.w.t. dan berhati-hatilah kamu dari riyaa kerana ia syirik terhadap Allah s.w.t. Orang yang berbuat riyaa pada hari kiamat akan dipanggil dimuka umum dengan empat nama: Hai kafir, hari orang lancung, hai penipu, hai orang yang rugi, hilang semua amalmu dan batal pahalamu, maka tidak ada bagian bagimu kini, dan mintalah pahalamu dari orang yang kamu berbuat untuk mereka wahai penipu.” Saya bertanya lagi: “Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, apakah benar kau mendengar sendiri hadis ini dari Rasullullah s.a.w.?” Jawabnya: “Demi Allah s.w.t. yang tiada Tuhan kecuali Dia, sesungguhnya saya telah mendengar sendiri dari Rasullullah s.a.w kecuali jika saya keliru sedikit yang tidak saya sengajakan.” Kemudian ia membaca ayat: Innal munafaiqiina yukhadi ‘unallah wa huwa khaa di’uhum. Yang bermaksud: Seseungguhnya orang munafiq itu akan menipu Allah padahal Allah telah membalas tipu daya mereka.

    Abul-Laits berkata: “Siapa yang ingin mendapat pahala amalnya diakhirat, maka harus beramal dengan ikhlas kerana Allah s.w.t. tanpa riyaa’, kemudian melupakan amal itu supaya tidak dirosak oleh rasa ujub (bangga diri) sebab memang menjaga taat itu lebih berat daripada mengerjakannya.”

    Abu Bakar Alwaasithi berkata: “Menejaga kebaikan taat itu lebih berat daripada mengerjakannya sebab ia bagaikan kaca yang cepat (mudah) pecah dan tidak dapat ditampal atau dipatri, maka tiap amal yang dihinggapi riyaa’ rosak dan tiap amal yang dihinggapi ujub (bangga diri) rosak. Maka apabila seorang dapat menghilangkan rasa riyaa’ dalam amalnya harus berbuat yang demikian, tetapi bila tidak dapat menghilangkan maka jangan sampai tidak beramal kerana belum dapat menghilangkan riyaa’ sebaiknya ia harus tetap beramal kemudian membaca istigfar dari pada rayaanya itu, kemudian dilain hari Allah s.w.t. memberinya taufiq untuk ikhlas dalam amal-amal yang lain.”

    Salman Alfarisi r.a. berkata: “Allah s.w.t. menambah kekuatan orang mukmin dengan bantuan orang-orang munafiqin dan menolong orang munafiqin dengan doa orang-orang mukmin.”

    Abu-Laits berkata: “Orang-orang berpendapat bahawa didalam fardhu tidak dapat dimasuki riyaa’, sebab melakukan kewajipan, tetapi sebenarnya dapat saja riyaa’ itu masuk kedalamnya.” Tambahnya lagi: “Disini ada dua macam: Jika ia melakukan fardhu itu semata-mata kerana riyaa’ sehingga sekiranya tidak riyaa’ tidak melakukannya maka itu munafiq sepenuhnya, termasuk dalam golongan Innal munaafiqiina faddarkil asfali minannaar.

    Orang-orang munafiq itu dalam tingkat terbawah dalam api neraka, sebab sekiranya tauhidnya benar-benar, tentu ia selalu melakukan fardhu yang dirasa sebagai kewajipan atas dirinya. Dan jika tetap melakukan kewajipan hanya jika didepan orang lebih baik dan sempurna sedang jika sendirian agak sumbang, maka ia mendapat pahala yang kurang sesuai dengan kelakuannya yang kurang, sedang kelebihan yang dilakukan dimuka orang ramai maka ia tidak ada pahalanya bahkan akan dituntut atasnya.

  • Penghinaan Mereka Terhadap Islam

    Sebagian manusia telah menghina Islam dan Nabi Muhammad serta para pengikutnya sejak dahulu kala. Inilah di antara penghinaan mereka.

    Nabi Dianggap Tukang Sihir

    Ada saja manusia yang menganggap Nabi sebagai tukang sihir, dukun, orang gila, pengidap epilepsi, dan lain-lain hujatan mereka yang keji terhadap Nabi Muhammad. Namun anehnya, banyak diantara mereka yang menitipkan barang-barang mereka kepada orang gila ini. Banyak juga di antara mereka, pada saat ini yang kemudian lebih mengakui ketangguhan sistem perbankan syari’ah yang dibawa oleh orang gila ini. Bahkan banyak di antara mereka yang berobat dengan berbekam dan dengan mengkonsumsi habbatus sauda (nigella sativa). Bahkan di Jerman, minyak habbatus sauda telah dikenal sebagai obat yang mujarab.

    Nabi Dianggap Abtar

    Kita tahu bahwa semua putera Nabi Muhammad SAW meninggal saat masih balita. Lalu ramailah orang-orang sejak dahulu hingga saat ini yang berkata bahwa Nabi Muhammad telah abtar. Namun Nabi telah berwasiat bahwa beliau tidaklah abtar. Suatu kekhususan bagi beliau bahwa nasab beliau diteruskan oleh Sayyidah Fathimah dan Sadatina Hasan dan Husain. Kelak, dari keturunan beliau akan muncul seorang Imam yang memimpin ummat dalam menghadapi kezhaliman besar yang dilakukan oleh Dajjal dan para pengikutnya.

    Islam Dianggap Terorisme

    Islam hanya memerangi kezhaliman. Islam tidak mengajarkan ummatnya untuk memerangi kebenaran. Nabi Muhammad mengajarkan kita untuk menerima perjnjian damai. Namun jika perjanjian itu telah mereka rusak, tak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri terhadap kemungkaran.

    Dalam 100 tahun terakhir, ketika ummat Islam terus dihujat, siapakah sesungguhnya yang terus mengobarkan perang dan banyak menumpahkan darah?

    Ummat Islamkah yang mengobarkan perang dunia pertama dan kedua? Ummat Islamkah yang mengobarkan perang di Palestina dan Vietnam? Siapa yang telah mombombardir Afghanistan dan Iraq? Bahkan WTC tidak diserang kecuali oleh persekutuan zionis.

    Siapa sekarang yang lebih keji? Pernahkah kita menghina Nabi Isa dan Nabi-Nabi bani Israil? Bukankah kita mengimani para nabi Allah? Mengapa mereka memusuhi kita dan begitu benci kepada Nabi Muhammad? Apakah karena beliau SAW adalah keturunan Ismail? Mereka dengki kepada keturunan Ismail? Karena mereka tahu bahwa pada keturunan Ismail itulah diberikan janji Allah? Mengapa mereka menolak keputusan Allah yang menjadikan dari bani Ismail itu nabi pamungkas? Karena mereka merasa lebih baik dan lebih berhak dari bani Ismail? Bani Israil, dari zaman ke zaman telah dikenal akan kelicikan, kesombongan, dan kedurhakaan mereka. Wajar jika Allah menyerahkan kerajaan-Nya kepada bani Ismail. Maka janganlah sekali-kali manusia mengikuti kedengkian dan keangkuhan bani Israil. Berimanlah, sesungguhnya Nabi Muhammad telah datang sebagai Nabi terakhir, Nabi yang dijanjikan. Kepada beliau diserahkan kerajaan Sorga. Batu yang dibuang olah para mason telah menjadi batu penjuru. Dan itu merupakan keputusan dari sisi Allah. Maka terimalah keputusan Allah itu. Walau keputusan itu membuatmu heran dan bertanya-tanya, namun itulah keputusan Allah Robb alam semesta.

  • Kemulyaan Kebaikan

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, Semakin kita mendekat dan memahami kemuliaan tuntunan Sang Nabi saw akan semakin indah hari – hari kita. Dan Allah Swt menjadikan pada setiap perbuatan baik kemuliaannya. Allah jadikan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Dan semakin seseorang itu berbuat baik kepada makhluknya Allah maka semakin ia dimuliakan di dunia dan akhirat. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika orang yang banyak membantu kepada saudara muslimnya, saudara – saudaranya maupun ia dari kelompok muslim ataupun diluar Islam bahkan hewan. Berbuat baik kepada semua yang hidup dari makhluknya Allah, ada pahalanya.

    Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari, ketika salah seorang sampai kepada Allah kehabisan amal pahala. Ia banyak berbuat pahala tapi banyak juga berbuat dosa maka ketika ia sudah diperintahkan masuk kedalam neraka karena amalnya sedikit, habis tergadaikan oleh dosa – dosanya. Allah ditanya oleh hamba itu “Rabbiy, aku dimasa hidupku banyak membantu orang yang susah”. wahai Allah aku dulu sering membantu orang yang susah sedangkan Kau lebih berhak untuk membantu dan melimpahkan kemudahan atas kesusahan. Maka sekarang shadaqahlah padaku, maka Allah berkata “beri kemudahan kepada hamba-Ku karena ia sering membantu orang yang susah”. Demikian Allah menghargai perbuatan baik itu, padahal perbuatan baik itu sudah dicatat dalam pahala, padahal pahalanya sudah tergadai oleh dosa. Namun sifat baik tidak dilupakan oleh Allah Swt. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari, ketika seorang yang menjebak seekor kucing dalam sebuah kamar, tidak diberi makan dan minum sampai mati kehausan dan lapar. Allah masukkan ia ke dalam neraka. Allah tidak mengasihani hamba yang sulit mengasihani makhluk-Nya. Semakin besar seseorang mengasihani makhluk-Nya walaupun hewan maka Allah Swt mengasihaninya.

    Hadirin, sebagaimana riwayat Shahih Bukhari ketika seorang wanita yang banyak berbuat dosa melihat seekor anjing yang kehausan sampai menjilat tanah karena hausnya. Wanita itu mengambilkan air dengan sepatunya, karena di sumur anjing tidak bisa mencapai air di sumur. Ia memberinya minum maka Allah Swt berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Hewan tidak bisa berterimakasih kepada manusia tapi Allah berterimakasih untuknya.

    Hadirin, terjadi beberapa waktu yang silam saat itu saya masih di Tarim, Hadramaut. Tinggal beberapa lama di kota syihir, wilayah.. Mukalla disitu ada seorang wanita tua wafat, suatu hari saya melihat jenazah diusung. Tapi ada 1 hal yang ganjil. Apa yang ganjil? Ketika jenazahnya diusung, banyak orang yang mengusungnya dan ratusan ekor kucing ikut mengantarkan jenazah. Ini ganjil, saya fikir ada jenazah diikuti ratusan ekor kucing dan baru ini saya melihatnya. Ketika saya bertanya – tanya, kenapa ini? Mereka memuji wanita tua yang wafat itu alaiha rahmatullah. Di masa hidupnya nafkahnya dicukupi oleh anak – anaknya, kerjanya tiap pagi masuk ke pasar mengambil bekas kepala – kepala ikan yang terbuang dan ditaruh di sebuah gerobak dan ia melemparnya kepada semua kucing yang ada di jalanan. Bertahun – tahun itu terjadi sampai setiap pagi, ratusan kucing sudah berjajar di jalanan menunggu bagian yang diberikan dari wanita tua itu. Ketika ia wafat, ratusan ekor kucing itu mengantarkan jenazahnya. Berhari – hari puluhan ekor kucing tidak meninggalkan kuburnya.

    Demikian hadirin – hadirat, Allah jadikan Ibrah (contoh) bahwa setiap hewan itu mempunyai perasaan terimakasih kepada yang memberinya. Bagaimana aku dan kalian yang selalu diberi oleh Allah, adakah perasaan terimakasih terlintas untuk selalu berbakti kepada Allah.

    Semoga Allah menghiasi jiwa kita dengan keindahan, mewarisi jiwa kita dengan sifat syukur. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Wahai Yang Maha Menerbitkan matahari kebahagiaan, terbitkan matahari kebahagiaan dalam hari – hari kami di dunia dan di akhirat, dhahiran wa bathinan. Jadikan jiwa kami selalu terang – benderang dengan cahaya kesejukan Nama-Mu, jadikan jiwa kami selalu tenang dalam cahaya kenikmatan dan kesejukan Nama-Mu, jadikan hari – hari kami selalu dalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Ya Rahman Ya Rahim pada-Mu kami bermunajat atas segala doa dan harapan, dari segala hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, jauhkan kami dari segala musibah dan kesulitan yang kami ketahui dan tidak kami ketahui. Limpahkan untuk kami segala kemudahan dan anugerah yang kami ketahui dan belum kami ketahui.

    Hadirin – hadirat, hari ini adalah hari jadinya kota Jakarta hampir mencapai abad yang ke 5. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan keadaan Jakarta dengan yang sebaik – baiknya. Kota yang penuh kedamaian, kota yang penuh keluhuran, kota yang penuh iman. Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzaljalali Wal Ikram Ya Dzaththauli wal In’am. Kita lanjutkan dengan doa bersama kita mendoakan seluruh muslimin – muslimat dan semoga Allah memunculkan pemimpin yang terbaik bagi kita bangsa Indonesia ini diberikan pemimpin yang membawa Rahmat dan Kedamaian Allah Swt.

    (<a href=”http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=220&amp;Itemid=1″ target=”_blank”>Majelis Rasulullah</a>)

  • Pembahasan Surat Al-Lail

    Allah Swt berfirman “wallaili idza yaghsyaa” Demi malam ketika telah gelap gulita; QS. Al-Lail : 1. Malam yang dhahir dan malam yang bathin. Malam yang dhahir adalah gelapnya sebagian permukaan bumi dan mereka di dalam kesibukan yang berbeda dari siang harinya. Namun malam yang bathin adalah kegelapan jiwa dari gelapnya kesedihan, dari gelapnya kegundahan dan kerisauan membuat cahaya yang terang – benderang pun seakan tiada karena jiwanya penuh kerisauan dan kegundahan.

    “Wannahaari idza tajallaa” Demi siang hari apabila telah terang – benderang; QS. Al-Lail : 2. Siang yang dhahir dan siang yang bathin. Siang yang dhahir adalah saat siang dimana aktifitas pada puncaknya. Masing – masing di waktu siang dan malam itu ada takdir dan khodrat Illahi yang selalu terjadi. Sedemikian banyak kenikmatan yang terjadi dan sedemikian banyak musibah terjadi. Dalam setiap musibah tersimpan penghapusan dosa dan pengangkatan derajat. Dalam kenikmatan terdapat tawaran untuk mendapat lebih lagi jika ia bersyukur dan terdapat teguran akan berubah kenikmatan itu menjadi kesusahan jika ia tidak bersyukur kepada Allah. Maha Suci Allah yang membimbing dengan kenikmatan untuk mencapai kenikmatan. Dengan kenikmatan, ia bisa menggapai kenikmatan yang lebih.

    “La insyakartum la aziidannakum wa la inkafartum inna a’dzabii lasyadiid” Maha Suci Allah yang menjadikan perbuatan syukur dalam kenikmatan membuat kenikmatan bertambah lagi, bukan berkurang. Hadirin – hadirat, demikian Allah membimbing kita untuk selalu berbuat luhur dan bersyukur. Bersyukurlah atas kenikmatanmu saat ini maka Allah akan menambahnya. Jika kita merasa banyak dari kesusahan yang menimpa kita, ingatlah dalam kesusahan kita itu masih ada banyak kenikmatan. Masih ada kenikmatan melihat, mendengar, bicara, bergerak dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal itu semua yang jika kita syukuri akan memupus dan menghapus musibah yang muncul pada kehidupan kita. Kita merasa kenikmatan kita sudah 80%, 20% kesusahan misalnya. Bagaimana supaya kesusahan ini sirna? Banyak bersyukur, maka Allah akan memupus dan mengikis kesusahan itu. Inilah janji Rabbul Alamin.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Wamaa khalaqadzdzakara wal untsa” Dan demi penciptaan pria dan wanita; QS. Al-Lail : 3. Bahwa pada setiap pria dan wanita itu kelak Allah tentukan bentuk jasadnya dan Allah tentukan ketentuan-Nya akan muncul dari pria dan wanita ketika berpasang – pasangan. Akan muncul keturunan dan keturunan. Barangkali dari 1 nama akan muncul beribu – ribu nama dari keturunannya. Dan keturunannya itu tergantung pula kepada doa ayah dan bundanya. Jika ia menaungi anak – anaknya dengan doa dan munajat maka Allah pula yang melindungi anak – anaknya dengan Kasih Sayang-Nya. Apakah ia ada di dunia atau meninggalkannya karena wafat.

    Dialah Allah Yang Maha Memelihara dan Maha Mengayomi alam semesta, Maha Mengayomi hamba –hambaNya dengan doa dan munajat mereka. Ketika mereka meminta kepada Allah penjagaan atas dirinya, penjagaan atas hartanya, penjagaan atas keluarganya, penjagaan Allah atas keturunannya, Sang Maha Mengayomi akan mengayomi berkat doa dan munajat kita. Demikian indahnya Allah, Maha Raja yang paling berhak untuk dimuliakan dan diagungkan. Namun seakan – akan Allah berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berkhidmah kepada kita. Sungguh Allah Maha Mulia. Namun Kasih Sayang dan Kelembutan-Nya seakan Allah Swt itu yang paling berkhidmah kepada kita lebih dari semua yang berbakti kepada kita. Karena jawabnya adalah samudera Kasih Sayang Rabbul Alamin.

    “Inna sa’yakum lasyattaa” Sungguh perbuatan kalian itu berbeda – beda; QS. Al- Lail : 4. Ada maksiat dan ada taat, ada dosa ada pahala. Setiap manusia selain Nabi dan Rasul melewati hari – harinya dalam pahala dan dosa. Mereka lepas dari sifat ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa) maka hari – harinya dilewati dengan pahala dan dosa. Dan setiap dosa itu akan pupus dengan istighfar dan taubat. Beruntunglah mereka yang banyak bertaubat dalam hari – harinya dari segala dosa – dosanya. Semoga aku dan kalian diberi kelezatan taubat hingga selalu asyik bertaubat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    “Fa amma man a’thaa wattaqaa; wa shaddaqa bil husnaa; fasanuyassiruhu lil yusraa; wa amma mam bakhila wastaghnaa; wakadzdzaba bil husna; fasanuyassiruhu lil ‘usra; wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” QS. Al-Lail : 5-11. Allah meneruskan firman-Nya ketika seseorang itu beriman dan bertaqwa dalam memperbanyak amalnya kepada Allah, mengikuti dosa – dosanya dengan penyesalan dan istighfar, memohon maaf kepada Rabbul Alamin. Melewati hari – harinya dengan penuh harapan kepada Allah untuk membenahi harinya lebih baik dari hari yang lalu, penuh harapan dan munajat serta memperbanyak shadaqah kepada para fuqara. Shadaqah yang ketahuan dan shadaqah yang tidak ketahuan. Shadaqah yang ketahuan sunnah dan shadaqah yang diam – diam juga sunnah

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wa shaddaqa bil husnaa” dan membenarkan semua apa yang baik yaitu yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw; QS. Al-Lail : 6. “Fasanuyassiruhu lil yusraa” perbuatan baik itu, ketaqwaannya itu, ketaatannya itu dan shadaqahnya itu adalah perbuatan baik semua; QS. Al-Lail : 7. Allah berkata “Aku akan memudahkannya kepadanya jalan yang lebih mudah”. Jalan kemudahan itu di dunia dan akhirat akan terbuka dengan semakin banyak kita beramal dan taat kepada Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita perjuangkan akan dilimpahi kemudahan jika diwarnai dengan ketaatan kepada Allah. Ketaatan seakan membenarkan apa – apa yang dibawa oleh Nabiyyuna Muhammad Saw. Dan beramal menurut kadar kemampuannya.

    “Wa amma mam bakhila wastaghnaa” Mereka yang kikir dan menahan diri dari banyak beramal, apakah berupa shadaqah atau berupa ibadah; QS. Al-Lail : 8. “Wakadzdzaba bil husna” Ia mendustakan apa yang dibawa oleh Sang Nabi Saw; QS. Al-Lail : 9. “Fasanuyassiruhu lil ‘usra” Kami akan mudahkan ia ke jalan yang lebih sulit; QS. Al-Lail : 10. Semakin kita berpaling dari hal – hal yang luhur maka kehidupan kita akan semakin sulit, jika sulit itu niat. Jika ia tidak dapat kesulitan di dunia maka ia dapat kesulitan di yaumul qiyamah. Hadirin – hadirat, perbuatan taat, perbuatan baik, perbuatan mulia membawa kemudahan di dunia dan puncaknya di akhirat. Dan perbuatan yang buruk akan membawa kesusahan di dunia dan puncaknya d akhirat.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, “Wamaa yughni ‘anhu maluhu idza taraddaa” Apalagi gunanya hartanya apabila ia sudah sampai ke tempat orang – orang yang dimurkai Allah; QS. Al-Lail : 11. “Inna a’laina lal hudaa; wa inna lanaa lal aakhirata wal u’laa” bahwa segala jalan petunjuk itu, adalah milik Allah dan dari Allah; QS. Al-Lail : 12-13. Sungguh milik-Ku lah semua kehidupan di dunia dan akhirat. Demikian firman Allah, milik Allah semua kehidupan dunia dan akhirat. Maka perbanyaklah doa dan munajat kepada Sang Pemilik dunia dan akhirat agar keadaanmu diperindah di dunia dan akhirat karena Dialah pemiliknya.

    “Fa andzartukum naaran taladhdhaa; layashlaahaa ilal asyqa; alladzi kaddzaba watawallaa” Maka berhati – hatilah, Ku-nasehati kalian daripada api neraka yang mengerikan dan tidak akan masuk kedalamnya kecuali orang – orang yang jahat; QS. Al-Lail : 14-16. Hadirin – hadirat, demikian indahnya Rabbul Alamin yang selalu menyampaikan ayat – ayatNya dan seruan Kelembutan-Nya kepada kita dan hindarilah perbuatan yang bukan semampunya karena Dia (Allah) Maha Indah dan selalu ingin menerima yang indah – indah. Bila kita terjebak dalam hal yang hina disisi Allah, perindahlah dengan taubat dan istighfar, niscaya Allah mengganti itu semua menjadi pahala dan keluhuran.

    Mereka yang bertaubat, beriman, beramal shaleh, Ku-perbaiki dirinya dengan hal yang mulia semampunya. Allah gantikan dosa – dosa mereka menjadi pahala. Wahai Yang Maha Baik dan Maha Indah melebihi segenap kebaikan dan keindahan, terimalah segala kekurangan kami dan ketidaktaatan kami, gantikan dengan ketaatan dan keindahan kehadirat-Mu Ya Rabb.

    (Majelis Rasulullah)

  • Pertanyaan yang Harus Dihindari

    “Sungguh sebesar-besar kejahatan muslimin adalah yg bertanya tentang sesuatu yg tidak diharamkan, menjadi diharamkannya hal itu sebab pertanyaannya” (Shahih Bukhari)

    Rasul saw bersabda memberikan peringatan kepada kita untuk tidak memperbesar dan mempertanyakan hal – hal yang sudah dihalalkan. Sebagaimana sabda beliau, riwayat Shahih Bukhari yang baru saja kita baca bersama tadi.

    “Inna a’dzamalmuslimin jurman man sa-ala’an syai-in lam yuharram fahurrima min ajli mas’alatihi” sungguh dosa terbesar diantara muslim pd muslim lainnya mereka yang bertanya orang yang paling besar dosa muslim terhadap muslim lainnya yaitu yang paling jahat. Siapa? mereka adalah yang mempertanyakan sesuatu yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab ia mempertanyakannya.

    Bagaimana contohnya? Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan makna hadits ini adalah orang – orang yang terus menggali dan terus mencari tahu pertanyaan – pertanyaan mengenai hal – hal yang sudah dihalalkan oleh Allah. Muncul dari kedangkalan pemikiran, dari kesombongan terhadap dirinya dan terhadap saudara – saudaranya yang lain. Sebagaimana mempertanyakan hal – hal yang telah diperbolehkan oleh Allah.

    Contohnya: beberapa hari lagi kita memasuki bulan Rajab, ada 1 Rajab, 2 Rajab, 3 Rajab. Bagaimana hukumnya puasa di bulan Rajab?. Puasa di semua hari sunnah kecuali puasa di hari Idul Fitri dan Idul Adha. Di bulan ramadhan hukumnya fardhu selain itu sunnah. Mau bulan Syawal, Jumadil Akhir, Jumadil Awwal, Rajab, kapanpun puasa itu sunnah. Muncul orang – orang di masa sekarang yang mengharamkan puasa Rajab. Lalu bagaimana dengan puasa di hari lain? Hari lain diperbolehkan sedangkan Rajab tidak boleh puasa. Hujjatul Islam wa barakatul anam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim mensyarhkan bahwa memang tidak pernah ada satu dalil yang shahih tentang puasa di bulan Rajab. Akan tetapi diriwayatkan oleh Abi Daud didalam Sunannya didalam riwayat yang shahih bahwa Rasul saw suka berpuasa di bulan haram. Bulan haram itu ada 4 yaitu Muharram, Dzulqaidah, Djulhijjah, dan Rajab. Al Imam Nawawi mengatakan, bulan Rajab salah satu dari bulan haram. Jadi puasa di bulan Rajab itu sunnah dengan dalil yang shahih. Puasa di bulan Rajab adalah hal yang sunnah yang sangat kuat dalilnya karena dijelaskan Rasul saw berpuasa di bulan haram. Maka mengingkari puasa bulan Rajab, terkena kepada hadits yang kita sebut tadi yaitu orang yang mempertanyakan dalil tentang berpuasa di bulan Rajab. Akhirnya muncul fatwa pengharaman puasa di bulan Rajab, padahal hal itu yang sunnah. Mereka itu mencari – cari hadits yang mengatakan sunnah puasa di bulan Rajab tidak ditemukan, maka mereka langsung mengharamkannya dan mengatakan puasa di bulan Rajab adalah bid’ah. Padahal Rasul saw berpuasa di bulan Rajab. Mereka tidak menemukan puasa di bulan Rajab, ada dalil shahihnya. Ternyata ada dalil shahihnya yang lebih umum dari bulan Rajab. Hadirin – hadirat, Al Imam Nawawi mengatakan hadits itu menjadi dalil sunnahnya puasa di bualn Rajab, karena tidak ada larangan puasa di bulan Rajab.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Inilah salah satu makna daripada hadits mengenai orang yang mempertanyakan suatu masalah yang tidak diharamkan menjadi diharamkan sebab pertanyaannya itu. Hadirin – hadirat, ketika mempermasalahkan 1 masalah dari kedangkalannya memahami syari’ah membuat munculnya fatwa – fatwa baru yang keluar dari ajaran yang benar. Seperti membid’ahkan maulid, mengatakan istighatsah syirik. Hal – hal seperti ini adalah mempertanyakan dan mempermasalahkan hal yang sudah dibolehkan sampai diharamkan karena ucapannya. Hati – hati dari hal yang seperti ini. Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarh Shahih Bukhari mensyarhkan bahwa bukan berarti orang tidak boleh bertanya. Karena banyak bertanya adalah hal yang sangat dilimpahi pahala yang banyak. Demi kejelasan agamanya, demi kejelasan pemahamannya terhadap ilmu, tapi memperjuangkan hal yang halal agar menjadi haram adalah terkena hadits ini.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Ketika kita tidak tahu hukum suatu hal, jangan sesekali menghukuminya apalagi mengharamkannya. Kalau belum tahu dalilnya, ya sudah saya tidak tahu dalilnya entah itu sunnah atau bid’ah. Tapi jangan segera cepat – cepat diharamkan apalagi dikatakan bid’ah dan syirik. Ternyata hal itu adalah sunnah dan diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Saw, hanya mungkin tidak sampai ilmunya kepada kita. Muncul sebagian saudara – saudara kita yang berbuat demikian. Semoga Allah membenahi aqidah kita dengan melimpahi kemuliaan aqidah.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Muslim “Barangsiapa yang mengajarkan 1 hal yang baru selama itu berupa kebaikan didalam Islam maka baginya pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya, barangsiapa yang mengajarkan hal – hal yang baru berupa keburukan didalam Islam maka baginya dosa dan dosa bagi orang yang mengikutinya tanpa dikurangkan sedikit pun”.

    Jadi hal yang baru selama baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah telah ada dalilnya riwayat Shahih Muslim. Sebagaimana hal – hal yang baru dilakukan setelah wafatnya Sang Nabi saw dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Namun selama itu baik, hal itu telah diperintah oleh Allah sebagaimana Al Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa berkata Al Hasan pada ayat “innallah ya’murukum bil adli wal ihsan, …..(hingga akhir ayat) (QS Annahl 90)”. Al Imam Ibn Rajab menjelaskan ayat itu tidak menyisakan suatu perbuatan baik kecuali sudah diperintah oleh Allah dan tidak menyisakan satu perbuatan buruk kecuali sudah diperintah oleh Allah. Apakah sudah ada di masa Nabi atau belum ada di masa Nabi? Zaman sekarang hadirin – hadirat, tentunya kita memakai lampu, memakai karpet di masjid. Zaman dulu tidak dipakai, tapi selama itu bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syari’ah boleh – boleh saja. Namun menambah syari’ah hukum yang fardhu, itulah yang dinamakan kemungkaran dan bid’ah dhalalah (bid’ah yang sesat).

    Mengenai hadits Rasul saw yang ada “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Telah dijelaskan oleh Hujjatul Islam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah didalam kitabnya Syarh Nawawi ala Shahih Muslim bahwa makna hadits ini aamuun makhshush (umum tapi ada kekhususannya). Sebagaimana firman Allah Swt “akan Ku-penuhi neraka jahannam itu dengan seluruh jin dan manusia kesemuanya”. Buktinya tidak semua yang masuk ke dalam neraka jahannam, ada yang masuk ke dalam surga. Namun Allah berkata “kesemuanya”, maksudnya ke semua yang bathil, ke semua yang dhalim, ke semua yang jahat. Demikian hadirin makna hadits tersebut juga. Dikatakan oleh Imam Nawawi “kullu bid’ah dhalalah wa kullu dhalalah finnaar” Semua bid’ah itu sesat dan semua yang sesat itu di neraka. Hal ini adalah umum tapi ada pengecualiannya, tidak semua bid’ah itu sesat. Bid’ah yang …. adalah bid’ah yang sesat karena diperjelas oleh hadits tadi. Barangsiapa yang mengajarkan hal yang baru, yang baik dan tidak bertentangan dengan syari’ah Islam kita maka akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya.

    Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhu sebagaimana riwayat Shahih Bukhari bahwa di masa ia menjabat sebagai khalifah. Ia didatangi oleh Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhum. Sayyidina Umar ra mengadukan pembunuhan banyak para sahabat pada kejadian ahlul yamamah (yg terbunuh banyak para penghafal Alqur’an). Banyak sahabat yang hafal Alqur’an dibunuh, maka berkata Sayyidina Umar ra “wahai Amirul Mukminin, wahai khalifah sebaiknya Alqur’an ini kita tuliskan (jilidkan dalam satu buku)”. Karena sebelumnya belum dibukukan. Ada yang menulisnya beberapa halaman, ada yang menghafalnya. Ini kalau tidak dikumpulkan dalam 1 buku, nanti generasi setelah kita tidak bisa mengenal Alqur’an lagi karena banyak para sahabat yanghafal Alqur’an dibunuh maka segera kita bukukan sebelum lupa dari hafalan Alqur’an. Nanti orang – orang yang hafal Alqur’an wafat, habis sudah. Mumpung yang hafal Alqur’an masih banyak di masa itu. Abu Bakar Ashshiddiq berkata “kaifa af’al syaiy’ lam yaf’aluhu Rasulullah?” bagaimana aku berbuat yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?. Rasul saw tidak memerintahkan untuk membukukan Alqur’an, bagaimana aku membukukannya? Sayyidina Umar berkata “Lakinna wallahi fiihi khair” tapi dalam perbuatan itu ada kebaikan dan kebaikan sudah diperintah oleh Nabi saw. Maka Abu Bakar Asshiddiq setuju dan Alqur’an dibukukan. Selesai pada masa khalifah Sayyidina Utsman bin Affan radiyallahu anhu hingga saat ini disebut dengan “Mushaf Utsmani” dan disetujui oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw hingga diteruskan oleh beliau karamallahu wajhah hingga saat ini.

    Itu bid’ah hasanah, hal yang tidak pernah diperintah oleh Rasul saw. Maka jika hal yang baru tidak diperbolehkan maka jangan sentuh Alqur’anulkarim karena hal itu dibukukan setelah wafatnya Sang Nabi saw.

    Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
    Demikian makna dari hal – hal yang baik. Jika diadakan selama tidak bertentangan dengan syari’ah maka hal itu merupakan kebaikan. Dan kebaikan itu mendapatkan pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya. Namun jika hal itu buruk maka hal itu akan membawa dosa baginya dan dosa bagi orang yang mengikutinya.

    (majelisrasulullah)

  • Mencium Isteri Membatalkan Wudhu

    Dari ‘A-isyah, bahwasanya Nabi SAW mencium sebagian isterinya, kemudian keluar mengerjakan shalat dan tidak berwudhu. (HR. Ahmad dan didha’ifkan oleh Bukhori)

    Berdasarkan hadits ini, menyentuh perempuan lain (yang boleh dinikah) tidak membatalkan wudhu. Tetapi menurut Imam Syafi’i, persentuhan tersebut membatalkan wudhu berdasarkan surat An-Nisa` ayat 43 dan Al-Maidah ayat 6.

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. [QS. An-Nisa`: 43]

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [QS. Al-Ma`idah: 6]

    Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’iy dan lainnya, dari Aisyah ra, bahwa sungguh Nabi saw mencium di antara istri-istrinya dan shalat tanpa berwudhu.
    Maka dijelaskan oleh Imam Tirmidziy dari ucapan Imam Bukhari bahwa hadits ini tidak shahih, (berkata Imam Bukhari) bahwa kami tidak menemukan bahwa Ibrahim Attaymiy mendengarnya dari Aisyah ra, maka tidaklah shahih hadits ini kepada Nabi saw dalam pembahasan ini.

    Dan diriwayatkan pula hadits ini dari Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi dan lainnya, dari A’masy, dari Hubaib bin Abi Tsabit, dari Urwah, dari Aisyah ra, dan dihikayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ali bin Almadaniy, didho’ifkan oleh Yahya Al Qattan akan hadits ini, ia berkata hadits ini seakan tiada (tidak menjadikan suatu patokan hukum karena dho’if). Dan berkata Imam Tirmidzi : “Kudengar Imam Bukhari mendhoifkan hadits ini, Imam Bukhari berkata bahwa Hubaib bin Tsabit tidak mendengarnya dari Urwah.”

    Dan berkata Imam Ibn Abi Hatim dalam kitabnya Al-Ilal : “Kudengar ayahku berkata bahwa tidaklah shahih hadits Aisyah ra dalam meninggalkan wudhu saat mencium, yaitu hadits Al-A’masy dari Hubaib, dari Urwah, dari Aisyah.”

    Demikian pula (hadits ini) dipungkiri oleh Imam Ibn Mu’in sebagaimana dijelaskan pada Taarikh Addauriy 2925.

    Pendapat lain tentang hadits dho’if itu bahwa ia hadis mansukh, karena menurut Imam Syafi’i, hadits itu adalah sebelum turunnya ayat “Aw Lamastumunnisa” (QS. An-Nisa: 43 dan QS. Al-Maidah: 6).

    Maka walau pun seandainya hadits itu shahih, maka ia digantikan hukumnya (mansukh) jika kemudian turun ayat yang merubahnya, sebagaimana ayat Al-Qur`an pun ada yang mansukh dengan ayat yang turun kemudian. Apalagi jika hadits itu sudah didho’ifkan oleh imamnya para ahli hadits, yaitu Imam Bukhari, lalu mansukh pula dengan ayat Al-Qur`an.

    Pendapat lain mengatakan hadits itu adalah kekhususan bagi Nabi saw dan tidak untuk ummatnya, sebagaimana beliau SAW menikahi lebih dari 4 isteri.

    Dari ‘A-isyah radhiyallohu ‘anha, katanya, “Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah dari tempat tidur, (tatkala meraba-raba mencarinya) maka aku menyentuhnya, aku letakan tanganku pada telapak kakinya yang ketika itu beliau berada di masjid dalam posisi sujud dengan menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi telah menshahihkan)

    Berkata Hujjatul Islam Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya syarah Nawawi ‘ala Shahih Muslim: “Berdalilkan orang yang berkata bahwa menyentuh wanita tidak batal wudhu, dan ia adalah madzhab Abu Hanifah (Imam Hanafi). Dan berkata Imam Malik, dan Imam Syafii, dan Imam Ahmad dan kebanyakan lainnya bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu.”

    Dan beliau juga menjelaskan pada halaman yang sama bahwa yang dimaksud hadits itu adalah bersentuhan dengan dibatasi kain, sehingga tidak membatalkan.

    Mengenai ayat tersebut, sangatlah jelas bahwa “menyentuh wanita” telah dijelaskan pada bagian awal dengan kata “junub”. Dan cara mengangkat hadats besar adalah dengan mandi. Adapun pada bagian akhir menjelaskan hadats kecil berupa buang air dan bersentuhan kulit dengan lain jenis yang bukan muhrim. Dan cara mengangkat hadats kecil adalah dengan berwudhu. Jika tak mendapati air, maka boleh dengan bertayamum. Jadi yang dimaksud pada bagian akhir itu bukanlah majaz tetapi harfiah.

  • Air Dua Qullah

    Dari Abu Umamah Al-Bahili ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya air itu tidak dapat dinajiskan oleh sesuatupun kecuali apabila berubah baunya, rasanya, atau warnanya.” (HR. lbnu Majah dan didha’ifkan oleh Abu Hatim)

    Dan diriwayatkan Baihaqi: “Air itu suci mensucikan kecuali bila berubah baunya, rasanya atau warnanya karena najis yang menimpanya.”

    (lebih…)